cover
Contact Name
Eko Pramudya Laksana
Contact Email
publisher@um.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
historiography.journal@um.ac.id
Editorial Address
Gedung A6, Jurusan Sejarah Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang Jalan Semarang No. 5, Malang Indonesia
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Historiography
ISSN : -     EISSN : 27984907     DOI : 10.17977
Core Subject : Humanities, Social,
Historiography: Journal of Indonesian History and Education publish original research papers, conceptual articles, review articles and case studies. The whole spectrum of Indonesian history, historical learning and history education, which includes, but is not limited to education systems, institutions, theories, themes, curriculum, educational values, historical heritage, media and sources of historical learning, and other related topics.
Articles 185 Documents
Perkembangan sentra industri opak gambir di Kelurahan Plosokerep, Kecamatan Sananwetan dan pengaruhnya terhadap kondisi sosial-ekonomi masyarakat tahun 1987-2019 Wahyu Rosa Ningtias
Historiography: Journal of Indonesian History and Education Vol 3, No 3 (2023)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um081v3i32023p364-378

Abstract

The development of micro, small, and medium enterprises (UMKM) have an important role in the economic sector for employment creation and also as sources of economic growth. Geographical grouping of at least twenty enterprises in the  industrial manufacturing sector producing more or less the same products is called industrial cluster. According to official data of the Department of Industry and Commerce, Blitar City has at least fourteen industrial clusters, one of them is "opak gambir” industrial cluster located in Plosokerep village. This research aims to explain the history of the opak gambir industrial cluster in Plosokerep from 1987 to 2019 and how the development of this industrial cluster affects the society of Plosokerep in the economic sector. As a historical research, this study uses historical study methods as research tools by doing topic selection, heuristic, source criticism, interpretation, and historiography. This study shows that the industrial cluster of opak gambir in Plosokerep village started to emerge in the 1980s. The emerging of this industrial cluster began when a few people of Plosokerep sold their product in famous tourist objects in Blitar city such as Istana Gebang and Makam Bung Karno and it made opak gambir known as one of the traditional snacks from Blitar. The main contribution of this industrial cluster in the economic sector is to decrease unemployment and generally to increase the income of Plosokerep residents.Pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) memiliki peran penting dalam sektor ekonomi untuk penciptaan lapangan kerja dan juga sumber pertumbuhan ekonomi. Pengelompokan geografis dari sekurang-kurangnya dua puluh perusahaan di sektor industri manufaktur yang menghasilkan produk yang kurang lebih sama disebut klaster industri. Menurut data resmi Dinas Perindustrian dan Perdagangan, Kota Blitar memiliki sedikitnya empat belas klaster industri, salah satunya klaster industri "'opak gambir" yang terletak di Desa Plosokerep. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan sejarah klaster industri opak gambir di Plosokerep sejak tahun 1987 hingga 2019 dan bagaimana perkembangan klaster industri ini mempengaruhi masyarakat Plosokerep di bidang ekonomi. Sebagai penelitian sejarah, penelitian ini menggunakan metode penelitian sejarah sebagai alat penelitian dengan melakukan pemilihan topik, heuristik, kritik sumber, interpretasi, dan historiografi. Kajian ini menunjukkan bahwa klaster industri opak gambir di Desa Plosokerep mulai bermunculan pada tahun 1980-an. Munculnya klaster industri ini bermula dari segelintir warga Plosokerep menjual produknya di objek wisata terkenal di kota Blitar seperti Istana Gebang dan Makam Bung Karno sehingga opak gambir dikenal sebagai salah satu jajanan tradisional dari Blitar. Kontribusi utama dari klaster industri ini di bidang ekonomi adalah mengurangi pengangguran dan secara umum meningkatkan pendapatan penduduk Plosokerep.
Sejarah desa: Transformasi Desa Pendung Talang Genting dari perkebunan ke kampung santri (1920-2022) Budi Darmawan; Nuranisa Fitri
Historiography: Journal of Indonesian History and Education Vol 3, No 4 (2023)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um081v3i42023p476-490

Abstract

This research aims to describe the development of Pendung Talang Genting from pre-colonial times to the independence era focus on geographical, cultural, economic and religious aspects. The method is historical with four main steps: data collection, data testing, data interpretation, and history writing. The community maintains the cultural heritage and customs of their ancestors, maintains local wisdom and Islamic values in various cultural and religious activities. Its economy depends on rice farming and fishing. This village has existed since before Dutch colonialism in Kerinci, and separated from Kemendapoan Seleman in Dutch colonial era, and experienced economic and political interference from the colonials because of its Coffee comodity. With economic development and the influence of Islam, people increased their understanding of religion, which continued until Indonesian independence. In 2009, the Islamic boarding school in Pendung Talang Genting was reopened to strengthen Islamic education and life. Village regulations were also adopted to regulate the community's religious and cultural activities, including rules relating to the wearing of the hijab, participation in Al-Qur'an recitations, and the prohibition of alcohol and drugs. For decades, Pendung Talang Genting Village has maintained its identity as a "Kampung Santri," emphasizing Islamic values, and caring for local cultural heritage.Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan perkembangan Desa Pendung Talang Genting dari masa pra-kolonial hingga era kemerdekaan dengan fokus pada aspek geografis, budaya, ekonomi, dan agama. Metodenya adalah sejarah dengan empat langkah utama: pengumpulan data, pengujian data, interpretasi data, dan penulisan sejarah. Masyarakatnya mempertahankan warisan budaya dan adat istiadat dari leluhur, menjaga kearifan lokal dan nilai-nilai Islam dalam berbagai aktivitas budaya dan keagamaan. Ekonominya bergantung pada pertanian padi dan perikanan desa ini telah ada sejak sebelum penjajahan Belanda di Kerinci, dan memisahkan diri dari Kemendapoan Seleman selama masa kolonial Belanda dan mengalami campur tangan ekonomi dan politik dari kolonial karena pertanian kopi. Dengan perkembangan ekonomi dan pengaruh agama Islam, masyarakat meningkatkan pemahaman agama mereka, yang berlanjut hingga kemerdekaan Indonesia. Pada 2009, pesantren di Desa Pendung Talang Genting dibuka kembali untuk memperkuat pendidikan dan kehidupan Islam. Peraturan Desa juga diadopsi untuk mengatur aktivitas keagamaan dan budaya masyarakat, mencakup aturan berkaitan dengan pemakaian jilbab, partisipasi dalam pengajian Al-Qur'an, serta larangan minuman keras dan narkoba. Selama beberapa dekade, Desa Pendung Talang Genting mempertahankan identitasnya sebagai "Kampung Santri", dengan menekankan nilai-nilai Islam dalam kehidupan dan merawat warisan budaya lokal. 
Dinamika ekonomi Tulungagung pasca kemerdekaan Indonesia 1945-1965 Ilya Humairo; Hendra Afiyanto
Historiography: Journal of Indonesian History and Education Vol 3, No 4 (2023)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um081v3i42023p554-569

Abstract

Hyperinflation occurs and the flood disaster that occurred in Tulungagung paralyzed the community's economy and community activities. This study uses historical theory that focuses on the economic activities of the Tulungagung community in 1945-1965. From this problem, two problem formulations emerged. First, what factors hampered economic growth in the post-independence Tulungagung area. Second, how did the people of Tulungagung survive amidst hyperinflation and flooding in the 1960s. The research method used is historical research with four stages, namely: heuristics, verification, interpretation, and historiography. The temporal boundaries were taken between 1945-1965 because Indonesia had just proclaimed independence. This research was taken in Tulungagung Regency, especially the Besole, Campurdarat, Ngunut, and Ngantru areas. This research yielded two findings, first, the prominent economic sector in Tulungagung in 1945-1965 was sugar cane plantations in the Ngunut and Ngantru areas as sugarcane suppliers for sugar factories. Modjopanggung, the marble industry which is the hallmark of Tulungagung so that its products can be exported abroad, and the Modjopanggung sugar factory which has been established since the Dutch colonial era are also influential sectors in the community's economic development. The two were the condition of the people when the flood occurred which caused the people's assets to be washed away and plantations to sink causing crop failures, and the condition of hyperinflation in Indonesia which caused food prices to soar up which affected the economic system of the people of Tulungagung.Adanya hiperinflasi dan bencana banjir yang terjadi di Tulungagung melumpuhkan perekonomian masyarakat dan kegiatan masyarakat. Penelitian ini menggunakan teori historis yang berfokus pada kegiatan ekonomi masyarakat Tulungagung pada tahun 1945-1965. Dari permasalahan tersebut, muncul dua rumusan masalah. Pertama, faktor apa yang menghambat pertumbuhan ekonomi di daerah Tulungagung pasca kemerdekaan. Kedua, bagaimana masyarakat Tulungagung bertahan hidup di tengah hiperinflasi dan banjir pada tahun 1960-an. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian sejarah dengan empat tahapan, yaitu: heuristik, verifikasi, interpretasi, dan historiografi. Batasan temporal yang diambil antara tahun 1945-1965 karena Indonesia baru memproklamasikan kemerdekaan. Penelitian ini daimbil di Kabupaten Tulungagung khususnya daerah Besole, Campurdarat, Ngunut, dan Ngantru, Penelitian ini menghasilkan dua temuan,  pertama, penyebab ekonomi Tulungagung tidak stabil pada masa pasca kemerdekaan adalah akibat dari banjir yang terjadi setiap tahun di Tulungagung membuat rawa-rawa tidak bisa menampung air jika memasuki musim hujan. Sawah dan rumah warga terendam hingga atap rumah. Akibat banjir, masyarakat hanya berpindah ke tempat yang lebih tinggi dengan menggunakan perahu kecil.  Banjir yang merendam wilayah pertanian sebagai sektor utama perekonomian. Untuk mengatasi banjir, maka dibangunlah proyek drainase berupa reklamasi dan merupakan proyek besar yang dilakukan Jepang ketika di Indonesia. Kedua Ketahanan ekonomi masyarakat Tulungagung masa hiperinflasi dan banjir, kondisi masyarakat saat terjadi bencana banjir yang menyebabkan harta masyarakat habis terbawa arus dan perkebunan tenggelam hingga menyebabkan gagal panen, dan kondisi hiperinflasi di Indonesia yang menyebabkan harga pangan melonjak naik yang mempengaruhi sistem ekonomi masyarakat Tulungagung. 
Dari tegalan hingga pusat perekonomian industri: desa seduri, 1975-2019 Ananda Surya Salsabila
Historiography: Journal of Indonesian History and Education Vol 3, No 4 (2023)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um081v3i42023p411-425

Abstract

Seduri Village itself was recorded in colonial government reports since the early 20th century as a village area dominated by moor areas, until 2018 it was noted that Seduri Village had 5 major industries and had the highest tax contribution out of 19 villages in Mojosari District. This paper attempts to narrate the development of one of the villages in Mojosari District, Mojokerto Regency, namely Seduri Village in the 1975-2019 period. The method used is the historical method by collecting literature from sources in the form of books, articles, archives of government reports and newspapers. This study shows that geographical conditions with sufficient land availability, strategic village location, population growth and the determination of Mojosari as the capital of Mojokerto Regency are the main factors in village development. These four things encouraged the development of the village, which was originally a moor area that developed into the economic center of Mojosari City.Desa Seduri sendiri tercatat dalam laporan-laporan pemerintah kolonial sejak awal abad ke-20 sebagai wilayah desa yang didominasi oleh kawasan tegalan, hingga tahun 2018 tercatat Desa Seduri memiliki 5 industri besar dan memiliki kontribusi pajak paling tinggi dari 19 desa di Kecamatan Mojosari. Tulisan ini berusaha menarasikan perkembangan salah satu desa di Kecamatan Mojosari Kabupaten Mojokerto yaitu Desa Seduri pada periode 1975-2019. Metode yang digunakan adalah metode sejarah dengan melakukan pengumpulan dan literatur pada sumber-sumber berupa buku, artikel, arsip laporan pemerintahan dan koran. Penelitian ini menunjukkan bahwa keadaan geografis dengan ketersediaan lahan yang cukup, lokasi desa yang strategis, pertumbuhan penduduk dan penentuan Mojosari sebagai ibukota Kabupaten Mojokerto menjadi faktor utama dalam perkembangan desa. Keempat hal tersebut mendorong perkembangan desa yang awalnya berupa wilayah tegalan berkembanag menjadi pusat perekonomian Kota Mojosari.
Potensi pemanfaatan situs-situs air di Singosari Kabupaten Malang sebagai sumber belajar sejarah Mohammad Zurais Ainu; Wahyu Djoko Sulistyo
Historiography: Journal of Indonesian History and Education Vol 3, No 4 (2023)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um081v3i42023p491-502

Abstract

This research aims to assess the potential utilization of water sites in Singosari, Malang Regency as a source of learning history, then narrate the history of these sites and their current appearance. Furthermore, this research identifies the theoretical suitability of water sites in Singosari as learning resources so that they can be utilized for local history learning materials. The research method used is qualitative research method with literature study and field study. The results showed that the water site of the Singhasari Kingdom in Singosari has potential as a source of learning history and can be utilized in real terms as a contextual learning resource. In addition, it can be utilized as Outdoor Learning to provide a stimulus for students to learn and build students' interest in learning history.Penelitian ini memiliki tujuan untuk mengkaji potensi pemanfaatan situs air yang ada di Singosari, Kabupaten Malang sebagai sumber belajar sejarah, kemudian menarasikan kesejarahan situs-situs tersebut dan kenampakannya saat ini. Selanjutnya penelitian ini mengidentifikasi kesesuaian teoritik situs air di Singosari sebagai sumber belajar sehingga dapat dimanfaatkan untuk materi pembelajaran sejarah lokal. Metode penelitian yang digunakan yaitu metode penelitian kualitatif dengan studi pustaka dan studi lapangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa situs air peninggalan Kerajaan Singhasari yang berada di Singosari memiliki potensi sebagai sumber pembelajaran sejarah dan dapat dimanfaatkan secara riil sebagai sumber belajar yang kontekstual. Selain itu, dapat dimanfaatkan sebagai Outdoor Learning untuk memberikan stimulus siswa dalam belajar dan membangun minat belajar siswa terhadap belajar sejarah.
Migrasi orang-orang Madura ke dusun sendang biru, 1980-1994 Rikat L Sofyan
Historiography: Journal of Indonesian History and Education Vol 3, No 4 (2023)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um081v3i42023p426-440

Abstract

Madurese are one of the tribes in Indonesia that have high mobility. They migrate from their home areas to other areas in search of a more decent livelihood. Of the various Madurese migration destinations in the archipelago, Malang is one of them. Malang is an area with various aspects in it, such as education, culinary, tourism, and fisheries. This paper aims to narrate how the arrival of Madurese immigrants to South Malang, precisely to Sendang Biru in the period 1980 – 1994. The author uses the historical method by conducting in-depth readings of informal archival sources (newspapers), books, articles, and direct tracing through the process of interviews and field observations. In accordance with the Migration Theory, this paper shows that the potential for fishery resources in Sendang Biru can attract immigrants from Madura, especially fishermen and traders. From the process of in-migration of Madurese to Sendang Biru, various impacts arise, in which Sendang Biru Hamlet has a heterogeneous population that lives side by side, because of this, various social, cultural and economic impacts arise. Even though they live side by side with different cultural backgrounds, they show tolerance for one another and do not highlight their respective ethnic identities.Suku Madura merupakan salah satu suku di Indonesia yang mempunyai mobilitas cukup tinggi. Mereka bermigrasi dari daerah asal ke daerah lainnya untuk mencari penghidupan yang lebih layak. Dari berbagai daerah tujuan migrasi orang Madura yang ada di Nusantara ini, Malang merupakan salah satunya. Malang merupakan daerah dengan berbagai aspek di dalamnya, seperti pendidikan, kuliner, pariwisata, hingga perikanan. Tulisan ini bertujuan menarasikan bagaimana kedatangan para imigran Madura ke Malang Selatan, tepatnya ke Sendang Biru pada periode 1980 – 1994. Penulis menggunakan metode sejarah dengan melakukan pembacaan mendalam terhadap sumber-sumber arsip informal (surat kabar), buku, artikel, dan penelusuran langsung melalui proses wawancara dan observasi lapangan. Sesuai dengan Teori Migrasi, dalam tulisan ini menunjukkan bahwa adanya potensi sumber daya perikanan di Sendang Biru dapat menarik kedatangan para imigran dari Madura, khususnya para nelayan dan pedagang. Dari proses migrasi masuk orang Madura ke Sendang Biru menimbulkan berbagai dampak, di mana Dusun Sendang Biru memiliki penduduk heterogen yang hidup saling berdampingan, karena hal tersebutlah timbul berbagai dampak sosial, budaya, dan ekonomi. Meski saling hidup berdampingan dengan latar budaya yang berbeda, mereka saling menunjukkan sikap toleransi satu sama lain serta tidak menonjolkan identitas kesukuan masing-masing.
Penanganan pandemi influenza di Jawa Timur tahun 1918-1920 Annisa Amalia; Dewa Agung Gede Agung
Historiography: Journal of Indonesian History and Education Vol 3, No 4 (2023)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um081v3i42023p503-521

Abstract

This article discusses the handling of the influenza pandemic in East Java in 1918-1920. Like Covid-19, the nature of influenza is rapidly contagious so that in a short time it can infect the population until it is fatal, namely death. This raises questions about how the historical background and development of the influenza pandemic in East Java in 1918-1920, how the response of the community, doctors, health services, government and education agencies to the emergence of the influenza pandemic in East Java in 1918-1920, and how the form of handling the influenza pandemic in East Java in 1918-1920. The method used in this research uses the historical method, by searching and reading in-depth sources in archives, theses, books, and journals. This writing shows that the development of the influenza pandemic in East Java can be seen from the number of infected patients, and the death rate caused by the influenza pandemic. The influenza pandemic attack in East Java then led to responses from various parties including the health department which had denied that influenza was not dangerous, doctors and the public who experienced misinformation in their treatment, and the Surabaya government which denied the occurrence of influenza in several places. The form of handling the influenza pandemic in East Java is divided into two, namely medical and non-medical treatments.Artikel ini membahas mengenai penanganan pandemi influenza di Jawa Timur tahun 1918-1920. Seperti Covid-19 sifat penyakit influenza ini cepat menular sehingga dalam waktu singkat mampu menginfeksi penduduk hingga berakibat fatal yakni kematian. Dengan adanya hal tersebut memunculkan pertanyaan mengenai bagaimana latar sejarah dan perkembangan pandemi influenza di Jawa Timur tahun 1918-1920?, bagaimana respon dari masyarakat, dokter, dinas kesehatan, pemerintah dan dinas pendidikan terhadap munculnya pandemi influenza di Jawa Timur tahun 1918-1920?, dan bagaimana bentuk penanganan pandemi influenza di Jawa Timur tahun 1918-1920. Metode yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan metode sejarah, dengan melakukan penelusuran dan pembacaan sumber yang mendalam dalam arsip, skripsi, buku, dan jurnal. Penulisan ini menunjukkan bahwa perkembangan pandemi influenza di Jawa Timur dapat dilihat dari jumlah pasien terinfeksi, dan angka kematian yang disebabkan oleh pandemi influenza. Adanya serangan pandemi influenza di Jawa Timur ini kemudian memunculkan respon dari berbagai pihak diantaranya dinas kesehatan yang sempat membantah bahwa influenza ini tidak berbahaya, dokter dan masyarakat yang mengalami misinformasi dalam pengobatannya, dan pemerintah Surabaja yang membantah terjadinya influenza di beberapa tempat. Bentuk penanganan pandemi influenza di Jawa Timur dibagi menjadi dua yakni penanganan secara medis dan nonmedis.
Implementasi kebijakan Autarki pendudukan Jepang dalam produksi pangan dan sandang di Pulau Jawa tahun 1944 Khanifatul Hidayahti Khasanah; Grace Tjandra Leksana
Historiography: Journal of Indonesian History and Education Vol 3, No 4 (2023)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um081v3i42023p441-455

Abstract

One of the factors that supported the success of the Asia Pacific War was the implementation of the right war strategy. The Japanese government then took political steps to implement an autarky policy to bind and control society to continue to comply with the rules and regulations implemented by the Japanese government in order to achieve victory in the war. For this reason, this research aims to explain the form of implementation of the autarky policy used by the Japanese government as a political tool to mobilize wealth and resources which are especially available on the island of Java to be directed towards supporting interests in the war. The method used is the historical method which consists of five stages, in the form of topic selection, heuristics (source collection), source criticism (verification), interpretation (source analysis) and historiography (writing). Through this research, it can be seen that the autarky policy implemented by the Japanese government was able to freely control food and clothing production to meet logistical needs during the war by using newspapers as a medium for preaching. Various forms of calls and appeals from the government are channeled through newspapers, such as calls to increase food production, land management and maximize the textile industry sector.Salah satu faktor yang menunjang dalam keberhasilan Perang Asia Pasifik ialah dengan menerapkan strategi perang yang tepat. Pemerintah Jepang kemudian mengambil langkah politik untuk menerapkan kebijakan autarki guna mengikat dan mengontrol masyarakat untuk tetap tunduk pada peraturan dan ketetapan yang dijalankan oleh  Pemerintah Jepang guna mencapai kemenangan dalam perang. Untuk itu dalam penelitian ini bertujuan untuk memaparkan mengenai bentuk implementasi dari penerapan kebijakan autarki yang digunakan pemerintah jepang sebagai alat politik untuk memobilisasi kekayaan dan sumber daya yang khususnya tersedia di Pulau Jawa untuk diarahkan dalam menopang kepentingan dalam perang. Adapun metode yang digunakan ialah metode sejarah yang terdiri dari lima tahap, berupa pemilihan topik, heuristik (pengumpulan sumber), kritik sumber (verifikasi), interpretasi (analisis sumber) dan historiografi (penulisan). Melalui penelitian tersebut dapat diketahui bahwasannya kebijakan autarki yang diterapkan oleh pemerintah Jepang dapat dengan leluasa mengontrol produksi pangan dan sandang guna mencukupi kebutuhan logistik selama perang berlangsung dengan memanfaatkan media koran sebagai media propaganda. Berbagai bentuk seruan dan himbauan dari pemerintah disalurkan melalui media koran seperti halnya seruan untuk meningkatkan produksi pangan, pengelolaan lahan, dan memaksimalkan sektor industri tekstil.
Perkembangan kawasan hijau transmigran Gedong Tataan, Pesaweran Lampung 1988-2020 Ainun Maulana Ilham; Ronal Ridho'i
Historiography: Journal of Indonesian History and Education Vol 3, No 4 (2023)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um081v3i42023p522-534

Abstract

This study examines transmigration and the development of transmigrant areas. The study focuses on transmigration organized by the government and self-help as well as the development of transmigrant areas. The purpose of this study is to see how much influence and impact transmigration has on regional developments in transmigrant areas. This research uses historical method consisting of source collection, source criticism, interpretation and writing of historiography. The results of this study indicate that transmigration affects the development of migrant areas such as land conversion, deforestation, infrastructure development, employment, agriculture. As for other influences in the form of flood disasters that occur due to drainage reservoirs not being able to accommodate properly and the loss of green areas.Penelitian ini mengkaji tentang transmigrasi dan perkembangan kawasan transmigran. Fokus dalam pengkajian ini ialah transmigrasi yang diselenggarakan pemerintah dan swakarsa serta perkembangan kawasan transmigran. Tujuan dari penelitian ini ialah melihat seberapa besar pengaruh dan dampak transmigrasi terhadap perkembangan kawasan di wilayah transmigran. Metode yang digunakan ialah metode penelitan sejarah yang terdiri dari pengumpulan sumber, kritik sumber, intepretasi dan penulisanhistoriografi. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa transmigrasi mempengaruhi perkembangan kawasan migran seperti deforestasi, penjualan satwa, pembangunan infrastruktur, fluktuasi curah hujan, pertanian dan pergantian lapangan pekerjaan. Adapun pengaruh lain berupa terjadinya bencana banjir yang terjadi akibat tampungan drainase tidak dapat menampung dengan baik dan hilangnya area hijau. 
Trem di Pasuruan akhir abad XIX dan potensinya sebagai media pembelajaran sejarah Davia Faringggasari; Daya Negri Wijaya
Historiography: Journal of Indonesian History and Education Vol 3, No 4 (2023)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um081v3i42023p456-475

Abstract

This study aims to describe the tram in Pasuruan in the late 19th century and its potential as a media for learning history. The authors use historical research methods which are divided into five stages, namely topic selection, source collection, historical criticism, interpretation and historiography. The results of this study show that the construction and operation of trams was one of the solutions of the Dutch government to transportation problems related to the transportation and distribution of plantation products in the Pasuruan region at the end of the 19th century.  The existence of trams in Pasuruan was considered to be able to solve the deadlock of mass transportation in Pasuruan. As an effort to attract students' interest in learning, the historical content of trams in Pasuruan at the end of the 19th century was able to be packaged using a variety of interesting technology-based learning media including Infographics, documentaries, animated videos, Comics, Educational Ladder Snakes. Researchers also offer other learning media, namely LEACO (Qr-Code-based Leaflet). Kajian ini bertujuan untuk mendeskripsikan trem di Pasuruan akhir abad XIX dan potensinya sebagai media pembelajaran sejarah. Penulis menggunakan metode penelitian sejarah yang dibagi menjadi lima tahapan yakni pemilihan topik, pengumpulan sumber, kritik sejarah, interprestasi dan historiografi. Hasil dari kajian ini menunjukan bahwa pembangunan dan pengoperasian trem merupakan salah satu solusi dari pemerintah Belanda terhadap permasalahan transportasi terkait pengangkutan dan pendistribusian barang hasil perkebunan di wilayah Pasuruan pada akhir abad XIX.  Keberadaan trem di Pasuruan dianggap mampu memecahkan terkait kebuntuan angkutan massal di Pasuruan. Sebagai upaya untuk menarik minat belajar siswa, konten sejarah trem di Pasuruan akhir abad XIX dapat dikemas menggunakan berbagai media pembelajaran yang menarik berbasis teknologi meliputi Infografis, film dokumenter, video animasi, Komik, Ular Tangga Edukatif. Peneliti juga menawarkan media pembelajaran lainnya yaitu LEACO (Leaflet berbasis Qr-Code).