cover
Contact Name
Eko Pramudya Laksana
Contact Email
publisher@um.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
historiography.journal@um.ac.id
Editorial Address
Gedung A6, Jurusan Sejarah Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang Jalan Semarang No. 5, Malang Indonesia
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Historiography
ISSN : -     EISSN : 27984907     DOI : 10.17977
Core Subject : Humanities, Social,
Historiography: Journal of Indonesian History and Education publish original research papers, conceptual articles, review articles and case studies. The whole spectrum of Indonesian history, historical learning and history education, which includes, but is not limited to education systems, institutions, theories, themes, curriculum, educational values, historical heritage, media and sources of historical learning, and other related topics.
Articles 185 Documents
Diplomasi kesehatan: kerjasama indonesia dan amerika serikat dalam menangani wabah pes di boyolali 1968 Iin Zubaidah; Refanda Pratiwi; Muhammad Hilmi Fauzi
Historiography: Journal of Indonesian History and Education Vol 1, No 3 (2021)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1048.231 KB) | DOI: 10.17977/um081v1i32021p352-360

Abstract

This paper aims to determine the relationship of 'health diplomacy' between Indonesia and United States when dealing with the bubonic plague in Boyolali 1968. This study used historical research methods consisting of heuristic, source criticism, interpretation and historiography. The data were obtained through literature study of sources in the form of books, archives, and other literatures that are still relevant to the theme raised. The result of this study indicates that the steps taken by the New Order government in dealing with the plague were very different from what has been conducted by Soekarno. If Soekarno insisted on standing on his own feet in overcoming the epidemic and endemic that was happening in Indonesia, Soeharto opened a wide door for US to contribute in handling the bubonic plague in Boyolali 1968. The United States provided helps in the form of medical personnel, vaccines procurement and health equipments. It has concluded that the leadership change from Soekarno to Soeharto showed an own dynamic on the handling system of plague in Indonesia. Health diplomacy between Indonesia and the United States became a milestone in the return of harmony diplomatic relations between the two countries after it got deteriorated in the Old Order era.Tulisan ini bertujuan untuk mengetahui hubungan “diplomasi kesehatan” antara Indonesia dan Amerika Serikat ketika menangani wabah Pes di Boyolali pada 1968. Penelitian ini menggunakan metode penelitian sejarah yang terdiri dari heuristik, kritik sumber, interpretasi dan historiografi. Data-data diperoleh melalui studi pustaka terhadap sumber berupa buku-buku, arsip, dan literatur-literatur lain yang masih relevan dengan tema yang diangkat. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa langkah yang diambil pemerintahan Orde Baru dalam menangani wabah amat berbeda dengan apa yang dilakukan oleh Soekarno. Jika Soekarno bersikeras untuk berdiri di atas kaki sendiri dalam mengatasi epidemi dan endemi yang tengah terjadi di Indonesia, Soeharto malah membuka pintu lebar bagi Amerika Serikat untuk ikut andil dalam menagani wabah Pes di Boyolali pada 1968. Amerika Serikat memberikan bantuan berupa tenaga medis, pengadaan vaksin, dan alat-alat kesehatan. Dapat disimpulkan bahwa pergantian kepemimpinan dari Soekarno ke Soeharto memperlihatkan dinamika tersendiri pada sistem penanganan wabah penyakit di Indonesia. Diplomasi kesehatan antara Indonesia dan Amerika Serikat menjadi tonggak kembali harmonisnya hubungan diplomatik kedua negara setelah sempat memburuk di era Orde Lama.
Sejarah pabrik gula Buduran sebagai objek pembelajaran kolonial di Museum Mpu Tantular Alfin Ganendra Albar; Eldin Warsito Suhantyo
Historiography: Journal of Indonesian History and Education Vol 2, No 2 (2022)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1250.746 KB) | DOI: 10.17977/um081v2i22022p172-180

Abstract

This study tries to describe the history of the development of the Buduran sugar factory from 1835 to 1930 which will be useful for the Mpu Tantular Museum. This writing uses historical research methods which consist of several stages, namely topic selection, heuristics, criticism, interpretation, and historiography. Sidoarjo during the Dutch colonial period became a sugar industry area, this was because the area was suitable for planting sugar cane, so the colonial government exploited it by building a sugar factory there. One of the sugar factories in Sidoarjo that was established during the colonial period was the Buduran sugar factory, at this time the Buduran sugar factory has changed its function into a warehouse for engineers. Looking at the past, the Buduran sugar factory in its time continued to develop well and became a sugar contributor in Karesidan Surabaya. This Buduran sugar factory became one of the most successful factories of its time, with its production and area of sugar cane continuously growing. It is important to write the history of the Buduran sugar factory because it is only very small and can also contribute to the archives of the Mpu Tantular Museum as a place for learning from all walks of life. Penelitian ini mencoba menguraikan sejarah perkembangan pabrik gula Buduran pada tahun 1835 hingga 1930 yang akan bermanfaat bagi Museum Mpu Tantular. Penulisan ini menggunakan metode penelitian sejarah yang terdiri atas beberapa tahap yaitu pemilihan topik, heuristik, kritik, interpretasi dan historiografi. Sidoarjo pada masa kolonial Belanda menjadi wilayah areal industri gula, hal tersebut disebabkan karena wilayahnya yang cocok untuk ditanami tebu, maka pemerintah kolonial mengeksploitasi dengan membangun pabrik gula disana. Salah satu pabrik gula di Sidoarjo yang pernah berdiri pada masa kolonial adalah pabrik gula Buduran, pada masa kini pabrik gula Buduran sudah beralih fungsi menjadi tempat gudang penyimpanan zeni. Melihat masa lalu, bahwa pabrik gula Buduran ini pada masanya terus berkembang dengan baik dan menjadi penyumbang gula di Karesidenan Surabaya. Pabrik gula Buduran ini menjadi salah satu pabrik yang sukses pada masanya, dengan terus berkembang hasil produksi dan luas lahan tebunya. Pentingnya menulis sejarah dari pabrik gula Buduran, karena hanya sedikit sekali dan juga dapat memberi sumbangsi arsip terhadap Museum Mpu Tantular sebagai tempat pembelajaran dari semua kalangan. 
Dari Besuki ke Bondowoso: Perkembangan kawasan frontier terakhir di Jawa 1800-1930 Jati Saputra Nuriansyah; Intan Aninditya; Moh. Yopi Putra Ramadhani; Hastrida Firdaus Iva; Rizqy Syahrul Romadhon
Historiography: Journal of Indonesian History and Education Vol 2, No 4 (2022)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1000.52 KB) | DOI: 10.17977/um081v2i42022p472-486

Abstract

This article describes the development of the Besuki residency as the last frontier area on the island of Java for the period 1800-1930. This writing is motivated by the development of government and the socio-economic life of the people in the Besuki Residency area. The methods used in this study include heuristics, verification, interpretation, and historiography. The purposes of writing this article are 1) To find out the development of government in Besuki Residency; 2) To describe the economic development in Besuki Residency; and 3) To describe the social conditions of the Besuki Residency community.Dalam artikel ini memuat tentang perkembangan Karesidenan Besuki sebagai wilayah frontier terakhir di Pulau Jawa periode 1800-1930. Penulisan ini dilatar belakangi oleh perkembangan pemerintahan dan kehidupan sosial ekonomi masyarakat di wilayah Karesidenan Besuki. Metode yang digunakan dalam penelitian ini meliputi heuristik, verifikasi, interpretasi, dan historiografi. Adapun tujuan dari penulisan artikel ini yaitu 1) Untuk mengetahui perkembangan pemerintahan di Karesidenan Besuki; 2) Untuk mendeskripsikan perkembangan ekonomi di Karesidenan Besuki; dan 3) Untuk menjabarkan keadaan sosial masyarakat Karesidenan Besuki.
INDUSTRIALISASI GULA DI JAWA TIMUR : PABRIK GULA MERITJAN KEDIRI 1883-1929 Sakafitri Rimasari
Historiography: Journal of Indonesian History and Education Vol 1, No 1 (2021)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (650.357 KB) | DOI: 10.17977/um081v1i12021p96-103

Abstract

During the colonial period of the Dutch East Indies, sugar was an important commodity in the international market besides spices,tea, and coffee. The demand for sugar is increasing along with its development. Seeing the urgency of the sugar commodity, sugar factories were finally established, including the Meritjan Sugar Factory (Suikerfabriek Meritjan) which is located in Kediri, East Java. The practice of the sugar industry at the Meritjan Sugar Factory was studied using quantitative methods and literature studies were carried out to obtain appropriate data to achieve the objectives of the discussion. Where the purpose of conducting a discussion on the sugar industry in East Java, precisely at the Meritjan Sugar Factory, is to study the sugar factory industry and its impact on the socio-economic life of the community. In this study, it can be seen that sugar factories and sugarcane plantations are interrelated and have an important role in the socio-economic life of the community at that time.Pada masa kolonial Hindia Belanda, gula merupakan komoditas yang penting dalam pasar internasional selain rempah-rempah, teh, dan kopi. Permintaan akan gula semakin meningkat seiring perkembangannya. Melihat urgensi komoditas gula tersebut akhirnya didirikanlah pabrik-pabrik gula, diantaranya adalah Pabrik Gula Meritjan (Suikerfabriek Meritjan) yang terletak di Kediri, Jawa Timur. Praktik industri gula di Pabrik Gula Meritjan ini dikaji dengan metode kualitatif serta dilakukan studi kepustakaan untuk memperoleh data-data yang sesuai untuk mencapai tujuan dari pembahasan. Dimana tujuan dilakukannya pembahasan mengenai industri gula di Jawa Timur tepatnya di Pabrik Gula Meritjan ini adalah mengkaji industri pabrik gula dan pengaruhnya pada kehidupan sosial ekonomi masyarakat. Dalam kajian ini dapat dilihat bahwa pabrik gula serta perkebunan tebu saling berkaitan dan memiliki peran penting dalam kehidupan sosial ekonomi masyarakat pada masa tersebut. 
Perkembangan catatan kuliner di Hindia Belanda pada abad ke-19 Rizka Salsabila Mafa'idah
Historiography: Journal of Indonesian History and Education Vol 2, No 1 (2022)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (941.565 KB) | DOI: 10.17977/um081v2i12022p54-64

Abstract

The culture of print and literacy is a sign of the rapid development of knowledge in the Dutch East Indies region. This development was accompanied by the emergence of new views on how the method or way of processing food is ideal and aesthetically pleasing. Apart from that, the production of foodstuffs and abundant varieties of new food plants. Therefore, the community began to take notes on the processing of these foods. Starting from the tools, materials, and the steps. From these records, a composition in food processing is formed. The records were then collected and put together in a cookbook.  Budaya cetak dan melek aksara merupakan hal yang menjadi penanda adanya perkembangan pengetahuan secara pesat di wilayah Hindia Belanda. Perkembangan ini dibarengi dengan munculnya pandangan baru mengenai bagaimana metode atau cara mengolah makanan secara ideal dan estetis. Selain itu produksi bahan-bahan pangan dan varietas tanaman pangan baru yang melimpah. Oleh karena itu, masyarakat mulai mencatat mengenai pengolahan makanan tersebut. Mulai dari alat, bahan, dan langkahlangkahnya. Dari catatan-catatan tersebut terbentuk sebuah komposisi dalam pengolahan makanan. Catatan-catatan itu kemudian dikumpulkan dan disatukan dalam sebuah buku masak.
HABIBIE PADA SIDANG UMUM MPR RI TAHUN 1999: MASALAH DI TIMUR SELESAI DI JAKARTA Fahmi Fahmi
Historiography: Journal of Indonesian History and Education Vol 1, No 1 (2021)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (648.037 KB) | DOI: 10.17977/um081v1i12021p26-31

Abstract

Being a leader who reaps a lot of controversy, Habibie is able to deal with it. Resolving domestic issues is his responsibility. The East Timuor issue is a severe case which he faces to its conclusion. Even so, the ending of the East Timor case made Habibie rejected at the time of the accountability trial. Habibie is considered to have neglected his responsibility in defending the KNRI. Menjadi pemimpin yang menuai banyak kontroversi, Habibie mampu menghadapinya. Menyelesaikan persoalan dalam negeri sudah menjadi tanggung jawabnya. Persoalan Timuor Timur merupakan kasus yang berat yang dihadapinya hingga tuntas. Meskipun demikian, berakhirnya kasus Timor Timur itulah membuat Habibie ditolak pada saat sidang pertanggung jawaban. Habibie dianggap sudah lalai dari tanggung Jawabnya dalam mempertahankan KNRI.
Pengaruh pemberontakan Republik Maluku Selatan terhadap kondisi sosial politik di Indonesia Devi Putri Angelina; Lutfiah Ayundasari
Historiography: Journal of Indonesian History and Education Vol 1, No 4 (2021)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (956.559 KB) | DOI: 10.17977/um081v1i42021p479-486

Abstract

This paper is a study that discusses the rebellion of the Republic of South Maluku. This rebellion was motivated by the many former soldiers of the KNIL (Dutch Indies Colonial Army) who were disappointed with the recognition of Dutch independence to Indonesia. In addition, he did not agree with the dissolution of the NIT (State of East Indonesia) and the return of Indonesia to a unitary state. Basically, the Republic of South Maluku could not be separated from the federal system of the Indonesian state during the Dutch Military Aggression. The formation of the Republic of South Maluku was also influenced by dissatisfaction with the process of the return of the United States of Indonesia to the Unitary State of the Republic of Indonesia. In addition, it is caused by factors of the interests of certain parties such as the selfishness of a leader who does not want to step down from office and many parties who are against the discourse of a unitary state. The formation of the Republic of South Maluku greatly influenced the socio-political conditions in Indonesia, including the disruption of relations between groups in Maluku and the division of the Unitary Republic of Indonesia.Tulisan ini merupakan kajian yang membahas tentang pemberontakan Republik Maluku Selatan. Pemberontakan ini dilatar belakangi oleh kekecewaan bekas prajurit KNIL (Tentara Kolonial Hindia Belanda) dengan pengakuan kemerdekaan Belanda kepada Indonesia. Selain itu tidak setujunya atas pembubaran Negara Indonesia Timur dan kembalinya Indonesia menjadi sebuah negara kesatuan. Pada dasarnya, Republik Maluku Selatan tidak bisa dilepaskan dari sistem federal negara Indonesia pada masa Agresi Militer Belanda. Terbentuknya Republik Maluku Selatan juga dipengaruhi oleh ketidakpuasan rakyat maluku dengan proses kembalinya Republik Indonesia Serikat menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia. Selain itu disebabkan oleh faktor kepentingan pihak-pihak tertentu seperti keegoisan seorang pemimpin yang tidak ingin lengser dari jabatan dan banyak pihak yang kontra dengan wacana negara kesatuan. Terbentuknya Republik Maluku Selatan sangat berpengaruh terhadap kondisi sosial politik di Indonesia, meliputi hubungan antar kelompok di Maluku terganggu dan terpecahnya NKRI.
Penerapan filsafat esensialisme dalam Mata Kuliah Penelitian Pendidikan Sejarah selama masa pandemi di Universitas Negeri Malang Irma Sulistiowati
Historiography: Journal of Indonesian History and Education Vol 2, No 3 (2022)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (471.165 KB) | DOI: 10.17977/um081v2i32022p352-363

Abstract

The philosophy of essentialism holds that a stable foundation is needed in the implementation of education. Educators as centers in process of knowledge and moral transfusion. Learners as passive objects who only accept what is taught by the teacher. The pandemic period provides a change in learning from face-to-face in class to online learning. As for the view of essentialism, the role of educators has changed. In history learning, the control and transfusion of historical knowledge of educators cannot be fully carried out on students. The existence of this change, responds pros and cons in society. People who agree give reasons that online learning allows students to gain the freedom to add insight, but still have a stable foundation in history learning. Meanwhile, the opposing community argues that online learning in terms of essentialism reduces the role of educators in controlling and guiding students. This type of research is a qualitative research with a descriptive approach. The data collection method is observation participant and historical research.  Filsafat esensialisme berpandangan bahwa perlu landasan yang stabil dalam pelaksanaan pendidikan. Pendidik sebagai sentra dalam proses transfusi ilmu dan moral. Peserta didik sebagai objek pasif yang hanya menerima apa yang diajarkan oleh pendidik. Masa pandemi memberikan perubahan pembelajaran dari bertatap muka secara langsung dikelas menjadi pembelajaran online. Adapun dalam pandangan esensialisme peran pendidik menjadi berubah. Pada pembelajaran sejarah kontrol dan transfusi ilmu sejarah pendidik tidak bisa sepenuhnya dilakukan pada peserta didik. Adanya perubahan ini memberikan tanggapan pro dan kontra dalam masyarakat. Masyarakat yang setuju memberikan alasan, bahwa pembelajaran online memberikan kesempatan peserta didik kebebasan dalam menambah wawasan namun tetap memiliki landasan yang stabil dalam pembelajaran sejarah. Sedangkan masyarakat yang menentang berpendapat bahwa pembelajaran online dalam sudut esensialisme mengurangi peran pendidik dalam mengontrol dan membimbing peserta didik. Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Adapun metode pengumpulan data adalah observasi partisipan dan penelitian sejarah.
TERPINGGIRKAN DI TANAH KELAHIRAN: POTRET KELOMPOK INDO DI HINDIA BELANDA ABAD KE-19-20 Siti Faizatun Nisa’; Aji Kusuma Dwi Yoga; Ronal Ridhoi
Historiography: Journal of Indonesian History and Education Vol 1, No 2 (2021)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (783.517 KB) | DOI: 10.17977/um081v1i22021p204-212

Abstract

The Indo group is a group of mixed-blood natives (in this case Indonesia) and Europeans. During the 17th and 18th centuries they became an elite group of aristocrats because most of them came from the descendants of European officials. However, since the second decade of the 19th century, the Indo group began to come under attack because it was judged that their culture (called Indic culture) was irrelevant to European ethics. This paper uses the historical method by doing a careful reading of sources in the form of books, articles, online news, and other supporting literature. This paper shows that the Indo group in the Dutch East Indies in the 19th to 20th centuries experienced a long dynamic as a marginalized mixed-blood group. Not only marginalized in terms of human rights, but also marginalized in Indonesian historiography.Kelompok Indo adalah golongan keturunan berdarah campuran pribumi (dalam hal ini Indonesia) dan Eropa. Selama abad ke-17 dan 18 mereka menjadi kelompok elit bangsawan karena kebanyakan berasal dari keturunan pejabat Eropa. Namun, sejak dekade kedua abad ke-19, kelompok Indo mulai mendapatkan serangan karena dinilai kebudayaannya (yang disebut kebudayaan Indis) tidak relevan dengan etika orang Eropa. Tulisan ini menggunakan metode historis dengan melakukan pembacaan secara teliti terkait sumber-sumber berupa buku, artikel, berita online, dan literatur pendukung lainnya. Tulisan ini menunjukkan bahwa kelompok Indo di Hindia Belanda pada abad ke-19 hingga 20 mengalami dinamika panjang sebagai kelompok berdarah campuran yang terpinggirkan. Tidak hanya terpinggirkan dalam hal hak asasi, tetapi juga terpinggirkan dalam historiografi Indonesia.
HERO (historical heritage board): inovasi media permainan edukatif berbasis augmented reality guna pengoptimalisasi nilai-nilai sejarah untuk meningkatkan budaya literasi siswa Eka Tia Wardani; Muhammad Syamsuddin; Hesty Nada Pratiwi
Historiography: Journal of Indonesian History and Education Vol 1, No 3 (2021)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1003.98 KB) | DOI: 10.17977/um081v1i32021p386-395

Abstract

A report from the World Economy Forum (WEF) states that the Indonesian government urges the importance of anticipating changes in the flow of technology that have an impact on all aspects of life, including economic, political, social, and cultural. Entering this era, the role of literacy culture is very important in life so that it makes the younger generation to learn it from an early age for smooth communication between countries. In addition, the loss of awareness of literacy culture is a threat to the younger generation (Tribun News, 2017). As the next generation of the nation, the author contributes the idea, namely Hero (Historical Heritage Board) as an educational game media designed in such a way by highlighting the resources in every region in Indonesia with a funny and interesting appearance. In addition, HERO is also designed using two combinations of manual and digital. It is said to be manual because it still uses a digital board and because it uses a smartphone to help apply the game. The research method uses research and development (research and development) or RnD in the field of education. The model used is ADDIE which stands for Analyze, Design, Develop, Implement and Evaluate. The design of this media includes the following stages: (1) needs analysis, (2) design, (3) product development, (4) implementation, (5) evaluation. Hero's goal is to improve literacy education, children's imagination power and facilitate learning. Therefore, through HERO, the younger generation of Indonesia can further optimize historical values and be ready to face the post-pandemic with a strong foundation of Indonesian history.Menurut Laporan dari World Economy Forum (WEF) menyatakan bahwa pemerintah Indonesia menghimbau pentingnya mengantisipasi perubahan arus teknologi yang berdampak pada seluruh aspek kehidupan tak terkecuali ekonomi, politik, sosial, serta budaya. Memasuki era ini, peran budaya literasi menjadi sangat penting dalam kehidupan sehingga menjadikan generasi muda untuk mempelajarinya sejak dini demi kelancaran dalam berkomunikasi antar negara. Di samping itu, lunturnya kesadaran budaya literasi menjadi ancaman bagi generasi muda (Tribun News, 2017). Sebagai generasi penerus bangsa penulis memberikan sumbangsih ide yaitu Hero (Historical Heritage Board) sebagai media permainan edukatif dirancang sedemikian rupa dengan menonjolkan sumberdaya di setiap daerah di Indonesia dengan tampilan yang lucu dan menarik. Selain itu, HERO juga didesain dengan menggunakan dua perpaduan antara manual dan digital. Dikatakan manual karena masih menggunakan papan dan digitial karena menggunakan smartphone untuk membantu mengaplikasikan permainannya. Metode penelitian menggunakan penelitian dan pengembangan (research and development) atau RnD dalam bidang pendidikan. Model yang digunakan adalah ADDIE yang merupakan singkatan dari Analyze, Design, Develop, Implement dan Evaluate. Perancangan media ini meliputi tahap: (1) analisis kebutuhan, (2) desain, (3) pengembangan produk, (4) Implementasi, (5) Evaluasi. Tujuan Hero untuk dapat meningkatkan pendidikan literasi, daya imajinasi anak dan mempermudah pembelajaran. Maka dari itu, melalui HERO ini generasi muda Indonesia dapat semakin mengoptimalisasikan nilai-nilai sejarah dan siap menghadapi pasca pandemi dengan fondasi sejarah Indonesia yang kuat.

Page 7 of 19 | Total Record : 185