cover
Contact Name
Eko Pramudya Laksana
Contact Email
publisher@um.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
historiography.journal@um.ac.id
Editorial Address
Gedung A6, Jurusan Sejarah Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang Jalan Semarang No. 5, Malang Indonesia
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Historiography
ISSN : -     EISSN : 27984907     DOI : 10.17977
Core Subject : Humanities, Social,
Historiography: Journal of Indonesian History and Education publish original research papers, conceptual articles, review articles and case studies. The whole spectrum of Indonesian history, historical learning and history education, which includes, but is not limited to education systems, institutions, theories, themes, curriculum, educational values, historical heritage, media and sources of historical learning, and other related topics.
Articles 185 Documents
Dinamika tanah perdikan Desa Drajat Kecamatan Paciran Kabupaten Lamongan Tahun 1475-1995 Mohammad Zaki Muharor; Ahmad Naufal Ridlo; Fatah Riski Alan Nurin
Historiography: Journal of Indonesian History and Education Vol 1, No 3 (2021)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1197.463 KB) | DOI: 10.17977/um081v1i32021p275-283

Abstract

Drajat village is a village that was originally status as a fief land, which is an area that is not taxed by the traditional village government which is a legacy of Raden Qosim or better known to the public as Sunan Drajat. This land was given by the Sultan of Demak, namely Raden Patah to Sunan Drajad as a fief land to broadcast Islam in eastern Java. In its dynamics, the fief land had undergone several status changes in the old order era with the agrarian reform program which was later ratified in the 1960 agrarian reform law. This study uses a historical methodology and focuses on the dynamics of the fief land in the village of Drajat, Paciran sub-district, Lamongan district. This paper contains the change in status and ownership of land perdikan drajat in the sultanate, colonial and contemporary eras.Desa Drajat adalah sebuah desa yang semula berstatus sebagai tanah perdikan yaitu kawasan yang tidak di pungut pajak oleh pemerintahan kerajaan tradisional desa yang merupakan peninggalan Raden Qosim atau yang lebih dikenal masyarakat sebagai Sunan Drajat. Tanah ini diberikan oleh Sultan Demak yaitu Raden Patah kepada Sunan Drajad sebagai tanah perdikan untuk menyiarkan agama Islam di Jawa bagian timur. Dalam dinamikanya tanah perdikan sempat mengalami beberapa kali pergantian status di era orde lama dengan program pembaruan agraria yang kemudian disahkan dalam undang-undang pembaruan agraria tahun 1960. penelitian ini menggunakan metodologi sejarah serta berfokus mengenai dinamika tanah perdikan desa drajat kecamatan paciran kabupaten lamongan. Tulisan ini berisi pergantian status dan kepemilikan tanah perdikan drajat pada era kesultanan, kolonial serta kontemporer.
Merawat ingatan untuk mitigasi bencana: sejarah gempa bumi dan tsunami di Majene tahun 1969 Muh. Farrel Islam; Abdul Fattah
Historiography: Journal of Indonesian History and Education Vol 2, No 1 (2022)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (800.338 KB) | DOI: 10.17977/um081v2i12022p108-118

Abstract

This research aims to reconstruct the earthquake and tsunami phenomenon in Majene Regency in 1969 also its impact on the Majene's communities. The earthquake had occurred in Majene Regency that is rooted in a fault in the Makassar Strait. In the last 3 years, this place has stricken by a twice strong earthquake. At the end of 2018, an earthquake and tsunami hit Palu City. Then in early 2021, Mamuju and Majene Regency were also shaken by an Earthquake with a magnitude of 6.2. According to BMKG records, this area has become a regular for earthquakes and tsunamis. As the largest ethnic group in this region, the Mandar community can identify the terms of the Earthquake and Tsunami in their local language. This research is conducted based on the historical method and takes the data from newspapers and testimonies of survivors. The results of this study indicate that the 1969 Earthquake and Tsunami in Majene is still deeply embedded in the collective memory of the community. Moreover, the impact of these events is immortalized in the toponymic of the region. Penelitian ini bertujuan untuk merekonstruksi peristiwa gempa bumi dan Tsunami di Kabupaten Majene tahun 1969 serta dampaknya bagi kehidupan masyarakat. Gempa Bumi sudah seringkali terjadi di Kabupaten Majene yang bersumber dari sesar di Selat Makassar. Dalam 3 tahun terakhir, kawasan ini telah dilanda dua kali Gempa Bumi yang kuat. Tercatat di akhir tahun 2018 terjadi Gempa Bumi dan Tsunami yang melanda Kota Palu. Kemudian pada awal tahun 2021, Kabupaten Mamuju dan Kabupaten Majene juga diguncang oleh Gempa Bumi berkekuatan 6.2 Magnitudo. Dalam catatan BMKG, kawasan ini telah menjadi langganan Gempa Bumi dan Tsunami. Bahkan, masyarakat Mandar sebagai etnis terbesar di kawasan ini mampu mengidentifikasi istilah Gempa Bumi dan Tsunami dalam bahasa daerahnya. Penelitian ini dilakukan berdasarkan metode sejarah dengan menggunakan data berupa surat kabar dan kesaksian para penyintas. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa peristiwa Gempa Bumi dan Tsunami di Majene tahun 1969 masih sangat melekat dalam memori kolektif masyarakat
Pembelajaran jarak jauh pada mata pelajaran Sejarah di SMA Islam Terpadu Pesantren Nururrahman Kota Depok Sausan Huwaida; Muhammad Fakhruddin; Humaidi Humaidi
Historiography: Journal of Indonesian History and Education Vol 2, No 3 (2022)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (560.641 KB) | DOI: 10.17977/um081v2i32022p409-420

Abstract

This research aims to describe the planning, implementation, and supporting and inhibiting factors in distance learning in history subjects at the Integrated Islamic Senior High School Nururrahman Islamic Boarding School Depok City. The research method used in this research is a qualitative method with a case study approach. Data collection techniques used in this study consisted of observation, interviews, and documentation. The results of the study concluded that distance learning planning, especially in history subjects, was good, in terms of the objectives to fulfill children's educational rights, support for personnel from the school and from outside the school, and the existence of a curriculum, division of tasks for teachers and other staff employees, as well as the availability of facilities. and adequate infrastructure. Furthermore, in the implementation of learning, the history teacher conveys material using the lecture and discussion method, inserts videos, and provides infographics at the end of the lesson so that students who are left behind in the zoom class can receive and understand the material as a whole at the meeting that day. Submission of material by history teachers to students has been carried out optimally, interactively, and teachers are able to explore and utilize digital-based learning media. The supporting and inhibiting factors in distance learning in history subjects are divided into 2, namely internal and external factors.  Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan tentang perencanaan, pelaksanaan, dan faktor pendukung serta penghambat dalam pembelajaran jarak jauh pada mata pelajaran sejarah di SMA Islam Terpadu Pesantren Nururrahman Kota Depok. Metode penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Teknik pengumpulan data yang digunakan pada penelitian ini terdiri dari observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa perencanaan pembelajaran jarak jauh terutama pada mata pelajaran sejarah sudah baik, dari segi tujuan untuk pemenuhan hak pendidikan anak, dukungan personel dari pihak sekolah maupun dari luar sekolah, dan adanya kebijakan kurikulum, pembagian tugas guru dan staf karyawan lainnya, serta ketersediaan sarana dan prasarana yang sudah memadai. Selanjutnya, dalam pelaksanaan pembelajarannya, guru sejarah menyampaikan materi menggunakan metode ceramah dan diskusi sudah baik, menyelipkan video, serta memberikan infografis diakhir pembelajaran sehingga peserta didik yang tertinggal materi di kelas zoom dapat menerima dan memahami inti materi secara keseluruhan pada pertemuan pada hari tersebut. Penyampaian materi oleh guru sejarah kepada peserta didik telah dilakukan secara optimal, interaktif, dan guru mampu mengeksplorasi serta memanfaatkan media pembelajaran berbasis digital. Adapun faktor pendukung dan penghambat dalam pembelajaran jarak jauh pada mata pelajaran sejarah terbagi menjadi 2 yaitu faktor internal dan eksternal.
PERKEMBANGAN BUDAYA INDIS PADA BIDANG ARSITEKTUR DI MALANG RAYA TAHUN 1900-1942 Jati Saputra Nuriansyah
Historiography: Journal of Indonesian History and Education Vol 1, No 1 (2021)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (719.485 KB) | DOI: 10.17977/um081v1i12021p52-63

Abstract

In this article, we discuss the development of Indis culture in Malang Raya which influences the culture of society, especially in the field of architecture. The writing of this article was motivated by the existence of buildings that were influenced by Indis culture in Malang Raya in 1900-1942. The purposes of this article are 1) To know the history of Indis culture and its development; 2) To know Malang Raya as the new city of the Dutch East Indies; 3) To determine the cross between Indies and Javanese cultures in Malang Raya.Dalam artikel ini memuat tentang perkembangan budaya Indis di Malang Raya yang berpengaruh pada kebudayaan masyarakat, khususnya pada bidang arsitektur. Penulisan artikel ini dilatarbelakangi oleh adanya bangunan-bangunan yang mendapat pengaruh dari budaya Indis di Malang Raya pada tahun 1900-1942. Adapun tujuan dari penulisan artikel ini yaitu 1) Untuk mengetahui sejarah budaya Indis dan perkembangannya; 2) Untuk mengetahui Malang Raya sebagai perkotaan baru Hindia Belanda; 3) Untuk mengetahui persilangan budaya Indis dan Jawa di Malang Raya.
Madoera Stoomtram Maatschappij: fungsi perkeretaapian sebagai pengangkutan garam hingga transportasi umum di Madura tahun 1897-1987 Faniesa Ardianti Mahdiyar; Naning Siregar Pribumi; Sopia Nabila; Ari Sapto
Historiography: Journal of Indonesian History and Education Vol 2, No 1 (2022)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1462.662 KB) | DOI: 10.17977/um081v2i12022p1-12

Abstract

Who would have thought that Madura Island, which was surrounded by the expanse of the Java Sea, used to have access to modern transportation, namely trains. The railway line in Madura had been built during the Dutch Colonial Government and its use developed over time. The use of trains during the Dutch colonial administration is known to have first functioned as transportation of local commodities, especially salt commodities, which was centered in Sumenep, then changed to public transportation that can be used by the surrounding community. As for the formulation of the problem to be discussed, the first is to find out the background of the founding of Madoera Stoomtram Maatschappij. Second, to find out the function of the train run by Madoera Stoomtram Maatschappij in salt transportation activities to become a means of public transportation in Madura. Then, the third, to find out the reason for Madoera Stoomtram Maatschappij's cessation of operations. The research method used is the historical research method. Siapa sangka jika Pulau Madura yang dikelilingi hamparan Laut Jawa dulunya memiliki akses transportasi modern, yakni kereta api. Jalur kereta api di Madura telah dibangun pada masa Pemerintahan Kolonial Belanda dan penggunaannya berkembang seiring berjalannya waktu. Penggunaan kereta api pada masa pemerintahan kolonial Belanda diketahui pertama kali berfungsi sebagai pengangkutan komoditas lokal, khususnya komoditas garam yang berpusat di Sumenep, kemudian berganti menjadi alat transportasi umum yang sudah bisa digunakan oleh masyarakat sekitar. Adapun rumusan masalah yang akan dibahas, yaitu pertama untuk mengetahui bagaimana latar belakang berdirinya Madoera Stoomtram Maatschappij. Kedua, untuk mengetahui fungsi kereta api yang dijalankan oleh Madoera Stoomtram Maatschappij dalam kegiatan pengangkutan garam hingga menjadi alat transportasi umum di Madura. Kemudian, yang ketiga, untuk mengetahui alasan berhenti operasinya Madoera Stoomtram Maatschappij. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian sejarah.
MEMBANDINGKAN FUNGSI ALAT SERPIH PADA PENEMUANNYA DI INDONESIA BAGIAN BARAT DAN BAGIAN TIMUR TAHUN 1930-1980 Faniesa Ardianti Mahdiyar
Historiography: Journal of Indonesian History and Education Vol 1, No 2 (2021)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (785.675 KB) | DOI: 10.17977/um081v1i22021p231-238

Abstract

Indonesia became part of the site of the spread of prehistoric culture, one of which was the distribution of tools that facilitated prehistoric human life. Shale tool is one of the simple tools of prehistoric human culture that in its distribution, shale tools became the dominant element and often became the main element. The purpose of this study to examine the characteristics of the discovery of shale tools in Western and Eastern Indonesia and compare the functions of the discovery of shale tools in Western and Eastern Indonesia. The research uses a methodological approach to history that includes four stages ranging from the heuristic stage, the criticism stage, the interpretation stage, and historiography. Through this study, it can be understood the comparison of the discovery of shale tools ranging from the characteristic aspects to aspects of prehistoric cultural functions in Indonesia, especially in Western and Eastern IndonesiaIndonesia menjadi bagian dari tapak tilas persebaran kebudayaan prasejarah, salah satunya persebaran perkakas-perkakas yang mempermudah kehidupan manusia prasejarah. Alat serpih merupakan salah satu perkakas sederhana hasil kebudayaan manusia prasejarah yang dalam persebarannya, alat serpih menjadi unsur dominan dan seringkali menjadi unsur pokok. Adapun tujuan dari penelitian ini untuk mengkaji mengenai karakteristik penemuan alat serpih di Indonesia bagian barat dan bagian timur serta membandingan fungsi dari penemuan alat serpih di Indonesia bagian barat dan timur. Penelitian menggunakan metodelogi pendekatan sejarah yang meliputi empat tahap mulai dari tahap heuristik, tahap kritik, tahap interpretasi, dan historiografi. Melalui kajian ini, dapat dipahami perbandingan penemuan alat serpih mulai dari aspek karakteristik sampai aspek fungsi kebudayaan prasejarah di Indonesia, khususnya di Indonesia bagian barat dan bagian timur.
Diaspora Bangsa Arab Hadrami: Pengaruh Arab-Indonesia di Jakarta 1900-2000 Raflie Rheznandya Ardiza
Historiography: Journal of Indonesian History and Education Vol 1, No 4 (2021)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1067.904 KB) | DOI: 10.17977/um081v1i42021p430-440

Abstract

This article aims to explore the diaspora life of the Hadrami people, also known as Arab-Indonesians from Hadramaut who live in the Jakarta area. Hadrami people who came to the archipelago before the 18th century acculturated with the local inhabitants of the archipelago. As a form of acculturation, many of their descendants use local names rather than Arabic. While those who came after the 18th century, less to do acculturation with the local population. This article is written based on information from several journals and books that tell stories about the Hadrami people, both written during the Colonial and Indonesian periods and written by both non-Arabs and Arabs. The result of writing this article is how the Hadrami people emerged and settled, contributing to the formation of social culture, both economic and religious in Jakarta.Artikel ini bertujuan untuk mengeksplorasi tentang kehidupan diaspora masyarakat Hadrami yang disebut juga sebaga Arab-Indonesia asal Hadramaut yang tinggal di wilayah Jakarta. Kaum suku Hadrami datang ke Nusantara sebelum abad ke-18 berakulturasi dengan kaum penduduk lokal Nusantara. Sebagai bentuk dari akulturasi tersebut, banyak dari keturunan mereka yang menggunakan nama-nama lokal daripada nama Arab. Sedangkan kaum suku Hadrami yang datang setelah abad ke-18, tidak banyak yang melakukan akulturasi dengan penduduk lokal. Artikel ini ditulis Berdasarkan informasi dari beberapa jurnal dan buku yang membawakan kisah tentang kaum Hadrami, baik yang ditulis pada masa Kolonial maupun Indonesia dan baik ditulis oleh orang non-Arab maupun Arab. Hasil dari sebuah penulisan artikel ini adalah bagaimana orang-orang Hadrami muncul dan menetap, berkontibusi dalam pembentukan kebudayaan sosial baik ekonomi dan keagamaan di Jakarta.
Dari Weberian hingga Indonesiasentris: kajian historis-sosiologis B.J.O Schrieke serta kontribusinya bagi historiografi Indonesia Mochammad Ronaldy Aji Saputra
Historiography: Journal of Indonesian History and Education Vol 2, No 2 (2022)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (377.456 KB) | DOI: 10.17977/um081v2i22022p290-298

Abstract

This study aims to review the Weberian concept developed by B.J.O Schrieke and its contribution to the development of Indonesian historiography. This study uses the library method with an autobiographical approach. The results of the study show that Schrieke has shown historiography with a socio-cultural perspective and has succeeded in revealing many aspects of society and the life of the Indonesian people. This can be seen through Schrieke's works, namely het boek van Bonang (1916) and Indonesian Sociological Studies (1955). Schrieke was inspired by Max Weber's way of explaining history from various socio-historical perspectives. Schrieke's sociological historical thought influenced the basic framework of subsequent Indonesian history writing.Penelitian ini bertujuan untuk mengulas konsep Weberian yang dikembangkan oleh B.J.O Schrieke serta kontribusinya bagi perkembangan historiografi Indonesia. Penelitian ini menggunakan metode kepustakaan dengan pendekatan otobiografi. Hasil penelitian menunjukan bahwa Schrieke telah menunjukkan bentuk historiografi dengan perspektif sosial-budaya dan berhasil mengungkap banyak aspek kemasyarakatan dan kehidupan bangsa Indonesia. Hal ini dapat diketahui melalui karya-karya Schrieke yaitu het boek van Bonang (1916)dan Indonesian Sociological Studies (1955). Schrieke terinspirasi cara berpikir Max Weber dalam menjelaskan sejarah dengan berbagai perspektif sosio-historis. Pemikiran historis sosiologis Schrieke berpengaruh terhadap kerangka dasar penulisan sejarah Indonesia selanjutnya.
Eksistensi bangunan gaya kolonial Belanda di kawasan Kayutangan, Kota Malang pada tahun 1900-2021 Khamaliyah Nur Erine; Sakafitri Rimasari; Ari Sapto
Historiography: Journal of Indonesian History and Education Vol 2, No 4 (2022)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (997.798 KB) | DOI: 10.17977/um081v2i42022p588-602

Abstract

The history of the city of Malang has a long journey until the presence of the city of Malang is rapidly as it is today. Judging from its history, in 1914 the Kayutangan area to the Malang city square was used as the center of Malang city at that time. This is because the geographical location of Kayutangan is very strategic for trade and service routes and is used as a connecting route between Malang and Surabaya. The pattern of settlements is formed around the square with the pattern following the grouping of a plural society. Most of the colonial buildings in Malang adhere to Dutch architecture. Colonial buildings built before the 1920s have an "Indische Empire" architectural style which is an old European model building. In the years after the 1920s the colonial building had an architectural style of "Nieuwe Bouwen" which had been adapted to the climate and building techniques of the Dutch East Indies. The existence of the Dutch colonial style building at this time can still be enjoyed by the facade of the building. Contextual buildings are designed based on the existing environmental and climate systems to realize buildings that adopt Dutch colonial architecture and the system of structuring the routes prioritizes users' comfort and safety when passing through these routes. The author uses the historical method which has four stages including heuristics, source criticism, interpretation and historiography. The purpose of writing this article is to find out the historical background of the architectural development of the Kayutangan area, Malang and to analyze the existence of Dutch colonial buildings in the Kayutangan area, Malang in 1900-2021.Sejarah kota Malang memiliki perjalanan yang cukup panjang hingga hadirnya kota Malang yang pesat seperti saat ini. Ditinjau dari sejarahnya, pada tahun 1914 kawasan Kayutangan hingga alun-alun kota Malang dijadikan sebagai pusat kota Malang pada saat itu. Hal ini dikarenakan letak geografis Kayutangan sangat strategis untuk jalur perdagangan dan jasa serta dijadikan sebagai jalur penghubung antara Malang dengan Surabaya. Pola pemukiman terbentuk di sekeliling alun-alun dengan polanya mengikuti pengelompokan masyarakat majemuk. Sebagian besar bangunan kolonial di Malang menganut arsitektur Belanda. Bangunan kolonial yang dibangun sebelum tahun 1920-an memiliki gaya arsitektur “Indische Empire” yang merupakan bangunan model Eropa lama. Pada tahun setelah 1920-an bangunan kolonial memiliki gaya arsitektur “Nieuwe Bouwen” yang telah disesuaikan dengan iklim dan teknik bangunan Hindia Belanda. Eksistensi bangunan gaya kolonial Belanda pada masa kini masih bisa dinikmati fasade bangunannya. Bangunan kontekstual yang dirancang berdasarkan sistem lingkungan dan iklim yang ada untuk mewujudkan bangunan yang mengadopsi arsitektur kolonial Belanda dan sistem penataan jalur-jalur lebih memprioritaskan para penggunanya nyaman dan aman ketika melewati jalur tersebut. Penulis menggunakan metode sejarah yang memiliki empat tahap diantaranya heuristik, kritik sumber, interpretasi dan historiografi. Tujuan penulisan artikel ini adalah untuk mengetahui latar historis perkembangan arsitektur kawasan Kayutangan, Malang serta untuk menganalisis eksistensi bangunan kolonial Belanda di kawasan Kayutangan, Malang pada tahun 1900-2021.
PAGELARAN WAYANG KULIT: PEMANFAATAN DALANG SEBAGAI PROPAGANDA POLITIK 1986-1990 Melinda Agil Pangesti; R Wisnubroto; Nur'aeni Martha
Historiography: Journal of Indonesian History and Education Vol 1, No 2 (2021)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (860.278 KB) | DOI: 10.17977/um081v1i22021p124-145

Abstract

The shadow puppet is a cultural heritage of Indonesia that has emerged decades ago, which has also been recognized by the world. The puppet is a means of entertainment, as well as a place to express ideas. After the tragedy of the September 30th Movement, the New Order government issued a strategy for the continuation of social and political authority. This research examines wayang performance, namely the role of the puppeteer (dalang) in conveying development propaganda in Indonesia, especially in Banyumas, Central Java in 1986-1990. Wayang kulit performances during the New Order era through modified stories with developmental nuances.Tradisi wayang kulit merupakan warisan budaya Indonesia yang kemunculannya sejak puluhan tahun lalu, yang mana sudah diakui pula oleh dunia. Wayang sebagai sarana hiburan, juga sebagai tempat menuangkan gagasan. Pasca tragedi Gerakan 30 September, pemerintah Orde Baru mengeluarkan strategi dalam keberlangsungan otoritas sosial dan politik. Dalam penelitian ini mengkaji pementasan wayang, yaitu peran dalang dalam menyampaikan propaganda pembangunan di Indonesia, khususnya di Banyumas, Jawa Tengah pada tahun 1986-1990. Pertunjukan wayang kulit pada era Orde Baru menggunakan lakon yang telah dimodifikasi bernuansa pembangunan. 

Page 6 of 19 | Total Record : 185