cover
Contact Name
Mulyawan Safwandy Nugraha
Contact Email
mulyawan77@gmail.com
Phone
+628121117577
Journal Mail Official
jurnal.lektur@gmail.com
Editorial Address
Gedung kementerian Agama RI lantai 20 Jl. MH. Thamrin No. 6 Kebon Sirih Menteng Jakarta Pusat, DKI Jakarta 10340
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Lektur Keagamaan
ISSN : 16937139     EISSN : 2620522X     DOI : DOI: 10.31291/jlka
the studies of classic religious manuscripts; the studies of contemporary religious manuscripts; religious history and society; religious archaeology; and religious arts on the scope of Nusantara.
Articles 309 Documents
TRADISI TULIS ULAMA KERINCI: MANUSKRIP ISLAM PENINGGALAN K.H MUHAMMAD BURKAN SALEH Oga Satria; Rasidin, MHD
Jurnal Lektur Keagamaan Vol 18 No 2 (2020): Jurnal Lektur Keagamaan Vol. 18 No. 2 Tahun 2020
Publisher : Center for Research and Development of Religious Literature and Heritage, Agency for Research and Development and Training, Ministry of Religious Affairs of the Republic of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (731.186 KB) | DOI: 10.31291/jlka.v18i2.860

Abstract

This paper explores the works of K.H. Muhammad Burkan Saleh (1912-2010) as one of the Kerinci scholars who was productive wrote his works. Initially, the manuscripts found in Kerinci contained more traditional issues written in the Incung script and discussed very little on religious issues. The Kerinci manuscript, which contains religious themes, was only written in the late 19th century. This study is a qualitative study that focuses on the text domain and context. In addition, the authors also conducted interviews with manuscript collectors and their families to obtain data related to the manuscript descriptions and biographies of K.H. Muhammad Barkan Saleh. This paper shows that the tradition of writing among the Kerinci ulama continued until the 20th century as practiced by K.H Muhammad Burkan Saleh who wrote some of the information obtained using Arabic and Malay Arabic characters. The discussion themes he wrote also varied, such as the issue of Musṭalaḥ al-Ḥadîṡ, the knowledge of the Koran, the science of astronomy, he even wrote things related to amulets. Keywords: Kerinci, K.H Muhammad Burkan Saleh, manuscript.   Tulisan ini mengeksplorasi karya-karya K.H. Muhammad Burkan Saleh (1912-2010) sebagai salah satu ulama Kerinci yang produktif menulis karya-karyanya. Pada awalnya naskah-naskah yang ditemukan di Kerinci lebih banyak memuat permasalahan-permasalahan adat yang ditulis dengan menggunakan aksara Incung dan sangat sedikit membicarakan persoalan keagamaan. Manuskrip Kerinci yang memuat tema keagamaan baru ditulis pada akhir abad ke-19. Kajian ini merupakan penelitian kualitatif yang terfokus pada domain teks dan konteks. Selain itu, penulis juga melakukan wawancara dengan kolektor manuskrip dan keluarga untuk memperoleh data terkait deskripsi manuskrip dan biografi K.H. Muhammad Barkan Saleh. Tulisan ini menunjukkan bahwa tradisi tulis di kalangan ulama Kerinci masih terus berlanjut hingga abad ke-20 sebagaimana yang dilakukan oleh K.H Muhammad Burkan Saleh yang menulis beberapa informasi yang diperoleh mengunakan aksara Arab dan Arab Melayu. Tema pembahasan yang ia tulis pun beragam, seperti persoalan Musṭalaḥ al-Ḥadîṡ, ilmu Al-Qur’an, ilmu falak, bahkan ia juga menulis hal-hal yang berkaitan dengan azimat. Kata Kunci: Kerinci, K.H Muhammad Burkan Saleh, manuskrip.
Pengantar Redaksi dan Daftar Isi Redaksi, Dewan
Jurnal Lektur Keagamaan Vol 18 No 2 (2020): Jurnal Lektur Keagamaan Vol. 18 No. 2 Tahun 2020
Publisher : Center for Research and Development of Religious Literature and Heritage, Agency for Research and Development and Training, Ministry of Religious Affairs of the Republic of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1407.765 KB) | DOI: 10.31291/jlka.v18i2.867

Abstract

Kulit Muka, Pengantar Redaksi, Daftar Isi, Indeks Judul dan Kulit Belakang
Harmoni Agama dan Budaya Bugis dalam Tiga Praktik Pengobatan Tradisional pada Naskah Tahṣīlul Fawāid Sitti Arafah
Jurnal Lektur Keagamaan Vol 19 No 1 (2021): Jurnal Lektur Keagamaan Vol. 19 No. 1 Tahun 2021
Publisher : Center for Research and Development of Religious Literature and Heritage, Agency for Research and Development and Training, Ministry of Religious Affairs of the Republic of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1133.892 KB) | DOI: 10.31291/jlka.v19i1.882

Abstract

This paper aims to describe and interpret the content of the Tahṣīlul Fawāid text, related to the harmonious encounter between religion and community culture in medicine as in the Tahṣīlul Fawāid text. The philological approach used in this paper uses a single manuscript edition. Trans­literation and translation are steps taken to understand the content of the ­manuscript. The results show that the Tahṣīlul Fawāid Manuscript is one of the manuscripts written in the Bugis language. The manuscript consists of forty-five chapters, 18 of which are chapters related to medical practice, namely treatment with verses from the Qur'an, amulets, and herbal plants. The contents of the Tahṣīlul Fawāid manuscript cannot be se­parated from the cultural context of the community in relation to Islamic values ​​that are harmoniously intertwined. In addition, the practice of traditional medicine in the text has now been practiced by health workers while treating their patients.  Keywords: Bugis culture, Medical practice, Religious harmony, Tahṣīlul Fawāid           Tulisan ini bertujuan mendiskripsikan dan menginterpretasikan kandungan naskah Tahṣīlul Fawāid, terkait pertemuan harmoni antara agama dan budaya masyarakat dalam pengobatan sebagai­mana dalam naskah Tahṣīlul Fawāid. Pendekataan filologi yang digunakan dalam tulisan ini menggunakan edisi naskah tunggal. Adapun transliterasi dan penerjemahan menjadi langkah yang dilakukan untuk memahami kandungan naskah. Hasil tulisan menunjukkan bahwa naskah Tahṣīlul Fawāid merupakan salah satu naskah yang ditulis dalam bahasa Bugis. Naskah terdiri dari empat puluh lima bab, 18 bab di antara merupakan bab terkait praktik pengobatan, yakni pengobatan dengan ayat-ayat Al-Qur’an, azimat, mau­pun tanaman herbal. Isi naskah Tahṣīlul Fawāid, tidak dapat dipisahkan dengan konteks budaya masyarakat kaitannya dengan nilai-nilai keislaman yang terjalin secara harmoni. Di samping itu, praktik pengobatan tradisional dalam naskah, saat ini telah dipraktikkan oleh para tenaga-tenaga kesehatan ketika sedang mengobati pasiennya. Kata Kunci: Budaya bugis, Harmoni agama, Praktik pengobatan, Tahṣīlul Fawāid
The ST. FRANSISKUS XAVERIUS: MISIONARIS, TELADAN IMAN DAN GURU BAGI MASYARAKAT KATOLIK Adison Adrianus Sihombing; Masmedia Pinem
Jurnal Lektur Keagamaan Vol 19 No 2 (2021): Jurnal Lektur Keagamaan Vol. 19 No. 2 Tahun 2021
Publisher : Center for Research and Development of Religious Literature and Heritage, Agency for Research and Development and Training, Ministry of Religious Affairs of the Republic of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (345.861 KB) | DOI: 10.31291/jlka.v19i2.887

Abstract

Every society has a role model, because folklore is always related to a particular society. This study aims to elaborate and actualize the religious values ​​that have been exemplified by St. Fransiskus Xavier in Maluku religious folklore. This study is based on qualitative research with a descriptive approach. Data collection techniques through observation, interviews, and documentation studies. The process of data analysis was carried out with data collection, data display, data reduction, and conclusion drawing. The results showed that the example of faith and personal qualities of St. Francis Xavier as a missionary who laid the foundations of Christianity in Maluku was very meaningful for the people of Maluku because it had changed their lives to know and believe in God. Therefore, this story is passed down from generation to generation so that it continues to be present in the public's memory. This folklore teaches the noble values ​​that have been exemplified by Francis, namely being religious, generous, simple, hardworking and faithful in faith. His life example gives a message that people who live close to God will be a blessing to others. Keywords: Religion, Fransiskus Xaverius, Missionary, Maluku.   Setiap masyarakat memiliki panutan/tokoh, karena cerita rakyat selalu berkaitan tentang masyarakat tertentu. Studi ini bertujuan mengelaborasi dan mengaktualisasikan nilai-nilai religius yang telah diteladankan oleh St. Fransiskus Xaverius dalam folklor religi Maluku. Studi ini didasarkan pada penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan studi dokumentasi. Proses analisis data dilakukan dengan data collection, data display, data reduction, dan conclusion drawing. Hasil penelitian menunjukkan bahwa teladan iman dan kualitas pribadi St. Fransiskus Xaverius sebagai seorang misionaris peletak dasar kekristenan di Maluku sangat bermakna bagi masyarakat Maluku karena telah mengubah hidup mereka menjadi mengenal dan beriman kepada Allah. Oleh karena itu cerita ini diwariskan secara turun temurun sehingga terus hadir dalam ingatan publik. Folklor ini mengajarkan nilai-nilai luhur yang telah diteladankan oleh Fransiskus, yakni religius, murah hati, sederhana, kerja keras dan setia dalam iman. Teladan hidupnya memberi pesan bahwa orang yang hidup dekat dengan Tuhan, akan menjadi berkat bagi orang lain. Kata kunci: Religi, Fransiskus Xaverius, Misionaris, Maluku.
Monginbalu Konbulan: Sejarah dan Nilai Tradisi Mandi Puasa secara Massal dalam Masyarakat Muslim Bolaang Mongondow Moh. Rivaldi Abdul
Jurnal Lektur Keagamaan Vol 19 No 1 (2021): Jurnal Lektur Keagamaan Vol. 19 No. 1 Tahun 2021
Publisher : Center for Research and Development of Religious Literature and Heritage, Agency for Research and Development and Training, Ministry of Religious Affairs of the Republic of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (490.769 KB) | DOI: 10.31291/jlka.v19i1.892

Abstract

This article examines the Monginbalu Konbulan tradition, which is one of the Islamic traditions of the Bolaang Mongondow Muslim community. This tradition has long been carried out as part of welcoming the month of Ramadan. Historical, anthropological, and sociological approaches are used to understand the practice of Monginbalu Konbulan, and explore its history and values. This article shows that the Monginbalu Konbulan is a mass fasting bath tradition carried out by the Muslim community of Bolaang Mongondow on the last afternoon of the month of Shaban. The mass bathing procession was led by a jiow who would splash water on people. This has been going on for a long time, and the birth of the mass fasting bath tradition is the answer to the needs of the Bolaang Mongondow Muslim community who want to carry out the Ramadan fasting bath. In addition, the implementation of the Monginbalu Konbulan tradition is also full of value, thus making it urgent to be preserved as a peculiarity of the Nusantara Islamic tradition in the Bolaang Mongondow Muslim community. Keywords: Welcoming Ramadan, Bathing Together, Bolaang Mongondow Tradition, Nusantara Islamic Tradition   Artikel ini mengkaji tradisi Monginbalu Konbulan yang merupakan salah satu tradisi Islam masyarakat muslim Bolaang Mongon­dow. Tradisi ter­sebut sudah lama dilakukan sebagai bagian menyambut bulan Ramadan. Pendekatan sejarah, antropologi, dan sosiologi digunakan untuk memahami praktik Mongin­balu Konbulan, dan menggali sejarah serta nilai-nilainya. Artikel ini menun­jukkan bahwa Monginbalu Konbulan merupakan tradisi mandi puasa secara massal yang dilakukan oleh masyarakat muslim Bolaang Mongondow di sore terakhir bulan Syaban. Prosesi mandi massal dipimpin oleh seorang jiow yang akan menyiramkan air ke orang-orang. Hal ini sudah ber­langsung sejak lama, dan lahirnya tradisi mandi puasa secara massal merupakan jawaban dari kebutuhan masyarakat muslim Bolaang Mongon­dow yang ingin melaksanakan mandi puasa Ramadan. Selain itu, pelak­sanaan tradisi Monginbalu Konbulan juga sarat nilai, sehingga mem­buat­nya urgen untuk dilestarikan sebagai kekhasan tradisi Islam Nusantara dalam masyarakat muslim Bolaang Mongondow. Kata Kunci: Menyambut Ramadan, Mandi Bersama, Tradisi Bolaang Mongondow, Tradisi Islam Nusantara
Budaya Keagamaan Arab Melayu Seberang Kota Jambi Ari Yuda Kusuma; Aman
Jurnal Lektur Keagamaan Vol 19 No 1 (2021): Jurnal Lektur Keagamaan Vol. 19 No. 1 Tahun 2021
Publisher : Center for Research and Development of Religious Literature and Heritage, Agency for Research and Development and Training, Ministry of Religious Affairs of the Republic of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (551.698 KB) | DOI: 10.31291/jlka.v19i1.899

Abstract

This article aims to describe the forms and values ​​in the Malay Arab religious culture Seberang of Jambi City. The ethnographic method with a realist ethnographic approach is used to describe the forms and values ​​in the Malay Arab religious culture Seberang Jambi City without any influence from observers. This article was written objectively from the results of participant observations, interviews, and literature studies conducted in the Seberang area of ​​Jambi City. The form of Arab Malay culture Across Jambi City obtained in this article is in the form of Assyura commemoration activities, Nisfu Syaban celebrations, Burdah, Nginau, Nuak Ketan, Nyukur babies, Pilgrimage to the Grave, Gambus, Zapin dance, Dana Syarah, and Hadrah dances. The values ​​contained in the Malay Arab religious culture Seberang Jambi City consist of cultural values, religious values, character values, family values ​​, and artistic values. Knowing the forms and values ​​of Malay Arab religious culture across Jambi City can make the public know about the culture that exists in Jambi Province. Keywords: Religious Culture, Arab Melayu, Seberang of  Jambi City   Artikel ini bertujuan untuk mendeskripsikan wujud dan nilai-nilai dalam budaya keagamaan Arab Melayu Seberang Kota Jambi. Metode etnografi dengan pendekatan etnografi realis digunakan untuk mendeskripsikan wujud dan nilai-nilai dalam budaya keagamaan Arab Melayu Seberang Kota Jambi tanpa ada pengaruh dari pengamat. Artikel ini ditulis secara objektif dari hasil observasi partisipan, wawancara dan studi literatur yang dilakukan pada kawasan Seberang Kota Jambi. Wujud budaya Arab Melayu Seberang Kota Jambi yang didapat dalam artikel ini berbentuk kegiatan peringatan Assyura, perayaaan Nisfu Syaban, Burdah, Nginau, Nuak Ketan, Nyukur bayi, Ziarah Kubur, Gambus, tari Zapin, tari Dana Syarah dan Hadrah. Nilai-nilai yang terdapat dalam  budaya keagamaan Arab Melayu Seberang Kota Jambi terdiri dari nilai budaya, nilai agama, nilai karakter, nilai kekeluargaan dan nilai seni. Dengan dikenalnya wujud dan nila-nilai budaya keagamaan Arab Melayu Seberang Kota Jambi dapat membuat khalayak ramai mengetahui tentang budaya yang ada di Provinsi Jambi. Kata Kunci : Budaya Keagamaan, Arab Melayu, Seberang Kota Jambi
KISAH NABI ADAM DI DALAM NASKAH INCUNG INI ASAN PULUNG DARI KERINCI Hafiful Hadi Sunliensyar
Jurnal Lektur Keagamaan Vol 19 No 2 (2021): Jurnal Lektur Keagamaan Vol. 19 No. 2 Tahun 2021
Publisher : Center for Research and Development of Religious Literature and Heritage, Agency for Research and Development and Training, Ministry of Religious Affairs of the Republic of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (391.877 KB) | DOI: 10.31291/jlka.v19i2.901

Abstract

The religious manuscripts found in Kerinci were written using Jawi script (Arab-Melayu) generally. However, the Incung manuscript that was found as the sacred heirloom collection of Depati Anum Muncak Alam from Dusun Sungai Tutung, indicated something different. This Incung manus­cript is a religious manuscript that narrates the Adam prophet’s story. This Incung manuscript is titled Ini Asan Pulung with code EAP117-44-1-6. The problem in this study is how the narration of Adam prophet's story in the Incung manuscript Ini Asan Pulung? The purpose of this study is to understand the narration of Adam prophet's story from the perspective of Kerinci society in past. This study utilized the qualitative method and philological approach. Meanwhile, the text of the manuscript is analyzed using the intertextual approach. The result of this study is known that the story of Adam in the manuscript contains a different narration and plot from other manuscripts. The writer of the manuscript was re-compiled  Adam’s story from various religious references and added local cultural elements in his story. Keywords: Adam’s Story, the Incung  Script, Kerinci, Old Manuscript.   Naskah-naskah keagamaan yang ditemukan di Kerinci, umumnya ditulis menggunakan aksara Jawi (Arab-Melayu). Namun, temuan naskah Incung yang menjadi koleksi pusaka Depati Anum Puncak Alam dari Dusun Sungai Tutung mengindikasikan  sesuatu yang berbeda. Naskah tersebut merupakan naskah keagamaan yang berisi kisah nabi Adam. Naskah Incung ini berjudul Ini Asan Pulung dengan kode EAP117-44-1-6. Perma­salahan di dalam kajian ini adalah bagaimana narasi kisah penciptaan Adam di dalam naskah Incung Ini Asan Pulung? Tujuannya adalah untuk memahami narasi kisah Adam menurut pandangan masyarakat Kerinci di masa lalu. Metode yang digunakan di dalam kajian ini adalah metode kualitatif dengan pendekatan filologi. Tahapannya adalah, inventarisasi, deskripsi, transliterasi dan penerjemahan. Sementara itu, teks naskah ini juga ditelaah menggunakan pendekatan intertekstualitas untuk mengetahui unsur-unsur teks lain yang memengaruhi narasi teks. Hasil kajian menunjukkan bahwa kisah Adam di dalam naskah Incung memiliki narasi dan alur yang berbeda dengan kisah Adam di dalam naskah-naskah lain. Penulis naskah menyusun kembali cerita nabi Adam dari berbagai sumber lain yang ia ketahui seperti Hikayat Nur Muhammad, Hikayat Nabi Adam dan Qishash al-Anbiya. Penulis naskah juga menambahkan unsur-unsur lokal di dalam kisah Adam yang disusunnya. Kata kunci: Kerinci, Kisah Adam, Naskah Kuno, Surat Incung.
Moderasi Beragama dalam Praktik Bobahasaan Mongondow (Teks dan Makna Kearifan Lokal Berbagai Sikap Kebahasaan dan Lirik Lagu) Abd. Karim; Nensia; AM Saifullah Aldeia; St. Aflahah; Abu Muslim
Jurnal Lektur Keagamaan Vol 19 No 1 (2021): Jurnal Lektur Keagamaan Vol. 19 No. 1 Tahun 2021
Publisher : Center for Research and Development of Religious Literature and Heritage, Agency for Research and Development and Training, Ministry of Religious Affairs of the Republic of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (617.032 KB) | DOI: 10.31291/jlka.v19i1.905

Abstract

This study employed descriptive qualitative method with semiotic approach. This study aimed to reveal the aspect of religious moderation in the language wisdom (Bobahasaan) of Bolaang Mongondow community in Kotamobagu whose language characteristics are suave and subtle, associated with the language style of Malay people which is unique, communicative, and friendly. This study found that the structure and nature of language derived from the local characteristics of Bolaang Mongondow which is very distinctive by its deep meaning, as well as the strength of the utterances influence, shown that this “Bobahasaan” can be an effective mediation tool for every problem in society, including religious issue. Furthermore, if meaning representation and adaptation of the diversity situation in the “Bobahasaan” are conducted, then it will become very potential as a major element in strengthening religious moderation. The tendency to always respect, care for one another and listen to each other in this “Bobahasaan” system was also an important key in maintaining the balance principle and religious moderation. Another aspect was the great wisdoms in this area namely pogugutat. Which caused the normative identification of moderation values can be easily extracted. The implication of this research was the acquisition of data and information on language wisdom which was meaningful in the local wisdom of the community can be used as an important instrument in the development of religious moderation. Keywords: Bobahasaan, local wisdom, religious moderation, orang Mongondow   Penelitian ini mengoperasionalkan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan semiotik. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap aspek moderasi beragama dalam kearifan berbahasa (Bobahasaan) masyarakat suku Bolaang Mongondow di Kotamobagu, yang memiliki karakteristik Bahasa yang sangat lembut dan halus,  dikaitkan dengan corak berbahasa orang melayu Manado dengan aksennya yang sangat khas, komunikatif, dan bikin akrab. Penelitian ini menemukan bahwa struktur dan pembawaan Bahasa yang berasal dari karakteristik lokal Bolaang Mongondow yang sangat khas dengan ketinggian maknanya, serta kekuatan pengaruh penuturannya. Hal itu menunjukkan bahwa Bobahasaan ini bisa menjadi alat mediasi efektif untuk setiap persoalan di masyarakat, termasuk di dalamnya persoalan keberagamaan. Lebih lanjut, jika dilakukan representasi makna dan adaptasi situasi keberagamaan dalam Bobahasaan itu, maka sangat potensial menjadi unsur utama penguatan moderasi beragama. Kecenderungan untuk senantiasa menghargai, saling menjaga dan saling mendengarkan dalam sistem Bobahasaan ini juga menjadi kunci penting penjagaan prinsip keseimbangan dan moderat dalam beragama. Aspek lainnya adalah adanya payung kearifan besar di daerah ini berupa pogugutat, menjadikan identifikasi normatif terkait nilai-nilai moderasi dapat dengan mudah digali. Implikasi penelitian ini adalah diperolehnya data dan informasi kearifan bahasa yang sarat makna dalam kandungan kearifan lokal masyarakat yang dapat dijadikan instrument penting dalam pengembangan moderasi beragama. Kata Kunci: Bobahasaan, kearifan lokal, moderasi beragama, torang Mongondow
Manuskrip La Galigo dalam Tradisi Massure’ di Wajo-Sulawesi Selatan Hamsiati Hamsiati; Wardiah Hamid; Mustolehudin
Jurnal Lektur Keagamaan Vol 19 No 1 (2021): Jurnal Lektur Keagamaan Vol. 19 No. 1 Tahun 2021
Publisher : Center for Research and Development of Religious Literature and Heritage, Agency for Research and Development and Training, Ministry of Religious Affairs of the Republic of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (644.526 KB) | DOI: 10.31291/jlka.v19i1.906

Abstract

The La Galigo Manuscript is the longest literary work in the world, which is the ancestral heritage of the people of South Sulawesi. These manuscripts contain knowledge, traditions, religion, and art. This paper aims to explore the La Galigo manuscript in the massure' tradition in Wajo. Methods of collecting data through interviews, observation, and documentation. The findings show that the existence of the La Galigo manuscript in Wajo is partly a private collection of the community. This manuscript, in the context of socio-religious culture, is practiced through the massure art tradition by the Bugis Wajo community. The Massure' tradition can be found in Bugis community ceremonies such as the maddoja bine tradition, mappenre' tojang, menre' bola baru (rising to a new house), tudang penni (pre-wedding night party), and cultural festivals in Wajo. Keywords: La Galigo, Manuscript, Massure', Wajo   Manuskrip La Galigo merupakan karya sastra terpanjang di dunia, yang merupakan warisan nenek moyang masyarakat Sulawesi Selatan. Manus-krip ini memuat tentang pengetahuan, tradisi, agama dan kesenian. Tulisan ini bertujuan mengeksplorasi manuskrip La Galigo dalam tradisi massure’ di Wajo. Metode pengumpulan data melalui wawancara, observasi dan dokumentasi. Hasil temuan menunjukkan keberadaan manuskrip La Galigo di Wajo sebagian merupakan koleksi pribadi masyarakat. Manuskrip ini dalam konteks sosial budaya keagamaan, dipraktikkan melalui tradisi kesenian massure’ oleh masyarakat Bugis Wajo. Tradisi Massure’ dapat dijumpai pada upacara-upacara masyarakat Bugis seperti dalam tradisi maddoja bine, mappenre’ tojang, menre’ bola baru (naik rumah baru), tudang penni (pesta malam pra akad nikah), dan festival kebudayaan di Wajo. Kata Kunci: La Galigo, Manuskrip, Massure’, Wajo
Narasi Moderasi Beragama dalam Naskah Serat Carub Kandha Agus Iswanto; Nurhata; Asep Saefullah
Jurnal Lektur Keagamaan Vol 19 No 1 (2021): Jurnal Lektur Keagamaan Vol. 19 No. 1 Tahun 2021
Publisher : Center for Research and Development of Religious Literature and Heritage, Agency for Research and Development and Training, Ministry of Religious Affairs of the Republic of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (471.83 KB) | DOI: 10.31291/jlka.v19i1.910

Abstract

A number of traditional historiographies are narrated in manuscripts from Cirebon, not a few that mention religious moderation. However, the babad manuscripts tend to change their perspective when it enters the Colonialism era. The narrative of tolerance between ethnic groups or between religions was experiencing serious friction. There is a manuscript that comes from the Cirebon tradition, which narrates implicitly about religious moderation in the early eras of the development of Islam and the port cities, namely Serat Carub Kandha. This article discusses three issues related to religious moderation in Serat Carub Kandha, namely: (1) the context behind the writing and copying of the Serat Carub Kandha manuscript; (2) the narrative of religious moderation in the Serat Carub Kandha; (3) Its relevance for current religious life in Indonesia. The source that was used as the primary material for the research was the Serat Carub Kandha manuscript, the collection of Rafan Hasyim in Cirebon, written by Pegon. With a philological and hermeneutic approach, this article shows that the Serat Carub Kandha manuscript is historical evidence and collective memory of the practice of religious moderation in Indonesia's past, especially on the north coast of West Java. The moderation narrative that has emerged is about respecting other religions, accommodating local culture, and anti-violence. Keywords: Babad manuscripts, Cirebon, religious moderation, Serat Carub Kandha   Sejumlah historiografi tradisional yang dinarasikan dalam naskah-naskah (manuscripts) asal Cirebon, tidak sedikit yang menyinggung tentang moderasi beragama. Namun demikian, kecenderungan naskah babad mengalami pergeseran perspektif ketika memasuki era kolonialisme bangsa-bangsa Eropa. Narasi toleransi antar suku bangsa atau antar agama mengalami gesekan serius. Terdapat sebuah naskah yang berasal dari tradisi Cirebon, yang menarasikan secara implisit tentang moderasi beragama pada era-era awal perkembangan Islam dan kota-kota pelabuhan, yaitu Serat Carub Kandha. Artikel ini membahas tiga masalah terkait dengan moderasi beragama dalam Serat Carub Kandha, yakni: (1) konteks yang melatari penulisan dan penyalinan naskah Serat Carub Kandha; (2) narasi moderasi beragama dalam naskah Serat Carub Kandha; (3) Relevansinya bagi kehidupan beragama saat ini di Indonesia. Sumber yang dijadikan bahan primer penelitian adalah naskah Serat Carub Kandha koleksi Rafan Hasyim di Cirebon dalam tulisan Pegon. Dengan pendekatan filologis dan hermenutik, artikel ini menunjukkan bahwa Naskah Serat Carub Kandha menjadi bukti historis dan memori kolektif tentang praktik moderasi beragama di masa lalu Indonesia, khususnya di kawasan pesisir utara Jawa Barat. Narasi moderasi yang mengemuka adalah tentang sikap menghargai agama lain, akomodatif terhadap kebudayaan lokal, dan anti kekerasan.   Kata kunci: Cirebon, manuskrip Babad, moderasi beragama, Serat Carub Kandha

Filter by Year

2012 2025