cover
Contact Name
Mulyawan Safwandy Nugraha
Contact Email
mulyawan77@gmail.com
Phone
+628121117577
Journal Mail Official
jurnal.lektur@gmail.com
Editorial Address
Gedung kementerian Agama RI lantai 20 Jl. MH. Thamrin No. 6 Kebon Sirih Menteng Jakarta Pusat, DKI Jakarta 10340
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Lektur Keagamaan
ISSN : 16937139     EISSN : 2620522X     DOI : DOI: 10.31291/jlka
the studies of classic religious manuscripts; the studies of contemporary religious manuscripts; religious history and society; religious archaeology; and religious arts on the scope of Nusantara.
Articles 309 Documents
'Aisy Al-Bahr: Karya Intelektual Ulama Pesisir Jawa Awal Abad XX M Seputar Hewan Laut Fadal, Kurdi
Jurnal Lektur Keagamaan Vol 18 No 2 (2020): Jurnal Lektur Keagamaan Vol. 18 No. 2 Tahun 2020
Publisher : Center for Research and Development of Religious Literature and Heritage, Agency for Research and Development and Training, Ministry of Religious Affairs of the Republic of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (887.815 KB) | DOI: 10.31291/jlka.v18i2.792

Abstract

The Intellectual works written by Indonesian ulama represent vernacular elements very prominently, including the use of language and response to the local community. This paper examines an Islamic work, 'Aisy al-Bahr focusing on marine animals. This work was written by Kiyai Anwar Batang, Central Java in the early 20th century. This research, which is qualitative in nature, utilizes approach of social history of intellectual argues that the book was dedicated to the religious life of the coastal Muslim community in particular and also indicated the author's intellectual quality, who discerned in marine animals life; the use of the work is the Arabic language in general but the Pegon script in particular to address some terms of marine animals. Furthermore, the author's commitment to the Syafi'iyah school of fiqh pointed to an intense intellectual tradition in the archipelago's ulama network in the archipelago scholarly network. The criticism and the methodological thought presented in his work can enrich the intellectual treasures for the pesantren and academic communities. Keywords: Intellectual Tradition; Javanese Scholars; Marine Animal.   Karya intelektual yang ditulis para ulama Nusantara sangat kental dengan unsur vernakularisasi, termasuk bahasa yang digunakan dan respon terhadap masyarakat lokal. Artikel ini mengkaji kitab 'Aisy al-Bahr, karya seputar hewan laut yang ditulis seorang ulama pesisir utara Jawa Tengah, Kiai Anwar Batang pada awal abad ke-20. Riset kualitatif dengan pendekatan sejarah sosial intelektual ini membuktikan bahwa kitab tersebut secara khusus ditulis untuk kebutuhan masyarakat pesisir sekaligus menunjukkan penulisnya sebagai seorang kiai pesisir yang memahami sangat detail tentang hewan-hewan laut. Kitab tersebut secara umum menggunakan bahasa Arab namun untuk beberapa nama ikan menggunakan bahasa Jawa yang ditulis dengan aksara pegon. Selain itu, komitmen pengarang pada mazhab fikih Syafi'iyah menunjukkan tradisi intelektual yang kuat dalam jaringan keulamaan Nusantara. Kritisisme dan nalar manhaji yang disajikan dalam kitab tersebut memperkaya khazanah intelektual bagi kalangan pesantren dan akademisi. Kata Kunci: Tradisi Keulamaan; Ulama Jawa; Hewan Laut.
The Dimension Of Religiosity In The Cleopatra Cleopatra Novel Hartini, Tri; Andayani, Andayani; Anindyarini, Atikah
Jurnal Lektur Keagamaan Vol 18 No 2 (2020): Jurnal Lektur Keagamaan Vol. 18 No. 2 Tahun 2020
Publisher : Center for Research and Development of Religious Literature and Heritage, Agency for Research and Development and Training, Ministry of Religious Affairs of the Republic of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (748.964 KB) | DOI: 10.31291/jlka.v18i2.793

Abstract

This study aims to describe several dimensions of religiosity in Habbiburrahman El Shirazy's novel Pudarnya Pesona Cleopatra. In addition, it is also to illustrate the relevance of literary works as teaching materials in literature learning at the high school level. The method used in this study is descriptive qualitative method with content analysis techniques. The results of this study found 18 dimensions of religiosity, including 3 dimensions of belief data, 3 dimensions of worship data, 5 dimensions of experience data, 4 dimensions of religious knowledge, and 3 data dimensions of effects. The data is relevant to Indonesian literature learning related to basic competencies to find elements and features of novel language in high school level. Thus, this novel can be used as teaching material. Keywords: dimensions of religiosity, novel, learning   Tulisan ini bertujuan untuk mendeskripsikan beberapa dimensi religiositas dalam novel Pudarnya Pesona Cleopatra karya Habbiburrahman El Shirazy. Selain itu juga untuk menggambarkan relevansi karya sastra sebagai bahan ajar dalam pembelajaran sastra di tingkat sekolah menengah. Metode yang digunakan dalam kajian ini ialah metode deskriptif kualitatif dengan teknik analisis isi. Hasil kajian ini menemukan 18 dimensi religiositas antara lain 3 data dimensi keyakinan, 3 data dimensi peribadatan, 5 data dimensi pengalaman, 4 data dimensi pengetahuan agama, dan 3 data dimensi efek. Data tersebut relevan dengan pembelajaran sastra Indonesia terkait dengan kompetensi dasar untuk menemukan unsur dan ciri kebahasaan novel tingkat Sekolah Menengah Atas. Dengan demikian, novel ini dapat digunakan sebagai bahan ajar. Kata Kunci: dimensi religiositas, novel, pembelajaran
Analisis Historiografi Terhadap Pemikiran Azyumardi Azra Dalam Jaringan Ulama Hakim, Lukmanul; Arsa, Dedi; Meria, Aziza; Sandora, Lisna
Jurnal Lektur Keagamaan Vol 18 No 2 (2020): Jurnal Lektur Keagamaan Vol. 18 No. 2 Tahun 2020
Publisher : Center for Research and Development of Religious Literature and Heritage, Agency for Research and Development and Training, Ministry of Religious Affairs of the Republic of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (809.105 KB) | DOI: 10.31291/jlka.v18i2.795

Abstract

Azyumardi Azra's work, The Networks of Malay-Indonesian and Middle Eastern ‘Ulama in the Seventeenth and Eighteenth Century: The Root of Islamic Reformism, is important, as it presents the transmission of ideas and Islamic teachings via the network of ‘Ulama. Another important aspect of this book is its use of primary sources (ancient manuscripts and the books written in Arabic and English). Azra’s book, in my opinion, is the first book which utilizes such an extensive array of Arabic sources to study the history of Islamic Reformism in the Malay Archipelago. The purpose of this article is to describe and analyze the methods, the theories, the historical school of thought, and the approaches used by Azra in the process of writing this book. The article employs historical research method and historiographical approach. The result is crystal-clear, Azra wrote the book using the scientific historical research method with its four steps of research: heuristic, source-criticism, interpretation, and historiog­raphy. The main keywords within this book are transmission and network. Azra was also inclined toward ‘the new history’ school of thought. Finally, we can mention for sure that Azra approached the research problem through the local and global perspectives simultaneo­usly. His work is undoubtedly a major contribution into the body of lite­rature and has inspi­red many enthusiasts and the scholars of Southeast Asian studies, as well as the scholars of the seventeenth and the eighteenth-century Muslim World. Keywords: Azyumardi Azra, Indonesian Islamic Historiography, Ulama Network   Karya Azyumardi Azra dengan judul Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII & XVIII Akar Pembaruan Islam Indonesia ini sangat penting, karena telah menyajikan aspek intelek­tual yang mengetengahkan bentuk gagasan dan ajaran yang ditran­smi­si­kan melalui jaringan ulama. Yang lebih penting lagi adalah sumber yang digunakan Azra dalam bukunya tersebut adalah sumber-sumber primer dalam bentuk manuskrip-manuskrip dan buku-buku cetakan berba­hasa Arab dan Inggris. Tampaknya inilah buku pertama yang mengguna­kan sum­ber-sumber Arab secara ekstensif dalam pengkajian yang berke­naan dengan sejarah pembaruan pemikiran Islam di Nusantara. Tujuan tulisan ini adalah mendeskripsikan dan menganalisis metode, teori, aliran pemiki­ran sejarah dan pendekatan yang digunakan Azra dalam penulisan buku Jaringan Ulama. Metode yang digunakan adalah metode historis dengan pendekatan historiografi. Tulisan ini berhasil mengetengahkan metode yang digunakan Azra yaitu metode sejarah ilmiah dengan empat tahapan, yaitu-heuristik, kritik sumber, interpretasi, dan historiografi. Teori yang digunakan transmission dan network. Azra lebih cenderung kepada aliran pemikiran sejarah New History. Sedangkan pendekatan yang digunakannya adalah Azra melihat perjalanan historis Islam di Nusantara harus dilihat dari perspektif global dan lokal sekaligus. Karya Azra ini memberikan konstribusi besar kepada literatur dan menjadi inspirasi bagi peminat dan penulis kajian Asia Tenggara serta dunia muslim pada abad ke-17 dan ke-18. Kata Kunci: Azyumardi Azra, Historiografi Islam Indonesia,  Jaringan Ulama
AKULTURASI BUDAYA KEAGAMAAN DI CINA BENTENG KOTA TANGERANG Haryani, Elma
Jurnal Lektur Keagamaan Vol 18 No 2 (2020): Jurnal Lektur Keagamaan Vol. 18 No. 2 Tahun 2020
Publisher : Center for Research and Development of Religious Literature and Heritage, Agency for Research and Development and Training, Ministry of Religious Affairs of the Republic of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (648.867 KB) | DOI: 10.31291/jlka.v18i2.799

Abstract

The existence of Chinese ethnic in Indonesia has been going on for centuries. Pro and contra attitudes emerge from other Indonesian societies because of the seriousness of the Chinese ethnic group to integrate with other communities is often doubted. This study tries to discuss the religious culture of the Chinese people in the Indonesian context. Research question is formulated to answer how the Benteng Chinese community built a religious culture to remain united with other ethnic groups in Indonesia. This study is a qualitative research with a case study approach. The case chosen was the Chinese ethnic group in Benteng Chinese Tangerang. The results of the study show that the Benteng Chinese community has succeeded in building religious cultural resilience in such a way that the Benteng Chinese community continues to exist today. The model of religious culture resilience that is built is to build religious and cultural accuracy in a dialogical way. This dialogical model in acculturation of culture and religion is a more peaceful solution compared to the social history of the Chinese ethnic groups in Indonesia which is indicated by conflict and violence. Keywords: acculturation, Cina Benteng, religious culture, Tangerang   Keberadaan suku Tionghoa di Indonesia telah eksis selama berabad-abad. Sikap pro dan kontra muncul dari masyarakat indonesia lainnya, demikian juga kesungguhan suku Tionghoa menyatu dengan masyarakat lainnya juga sering diragukan. Tulisan ini mencoba membahas budaya keagamaan suku Tionghoa dalam konteks keindonesiaan. Permasalahan penelitian dirumuskan untuk menjawab bagaimana masyarakat Cina benteng membangun budaya keagamaan untuk tetap bisa menyatu dengan suku bangsa yang lain di Indonesia. Kajian ini merupakan jenis penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Kasus yang dipilih adalah suku Tionghoa di Cina Benteng Tangerang. Hasil kajian menunjukkan bahwa masyarakat Cina Benteng berhasil membangun ketahanan budaya keagamaan sedemikian rupa sehingga komunitas Cina Benteng ini tetap eksis hingga sekarang. Model ketahanan budaya keagamaan yang dibangun adalah membangun alkuturasi agama dan budaya secara dialogis. Model dialogis dalam akulturasi budaya dan agama ini menjadi jalan keluar yang lebih damai dibandingkan dengan sejarah sosial suku Tionghoa di Indonesia yang diwarnai gambaran konflik dan kekerasan. Kata Kunci: akulturasi, budaya keagamaan, Cina Benteng, Tangerang
SHIFTING AND CONTESTATION OF RELIGIOUS AUTHORITIES IN ACEH: FROM ABU, TENGKU, WALED TO—USTAZ Saputra, Eko; Fadhli, Fadhli
Jurnal Lektur Keagamaan Vol 18 No 2 (2020): Jurnal Lektur Keagamaan Vol. 18 No. 2 Tahun 2020
Publisher : Center for Research and Development of Religious Literature and Heritage, Agency for Research and Development and Training, Ministry of Religious Affairs of the Republic of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (771.79 KB) | DOI: 10.31291/jlka.v18i2.806

Abstract

This article discusses the 'shift' and ‘contestation' of religious authority in Aceh. The emergence of the ustadz Salafi through new media has fragmentation traditional religious authorities and at the same time has been created religious contestation in Aceh. Interestingly, the contestation occurred among between fellow traditional religious authorities, not but between new religious authority and traditional religious authority (or vice versa). This study used field research collaborated with the netnography (online) of "local ulama" (abu, waled, teungku) and "ustaz Salafi". The study indicated that not all religious actors who are born through new media are said to be ‘lumpen-intelligentsia', namely religious actors who don’t have solid "religious knowledge". On the one hand, the consequence of "technological determinism" gave birth to "democratization of religious knowledge" which led to fragmentation of religious authority, shifting and contestation of religious authority. The emergence of the ustadz Salafi and the delocalization of their religious messages through online media also resulted in delocalized religious messages to wider regional, regional and religious boundaries. Keywords: authority, contestation, fragmentation, new media.   Tulisan ini mengkaji tentang fragmentasi dan kontestasi otoritas keagamaan di Aceh. Kemunculan ustaz Salafi melalui media baru membuat otoritas keagamaan tradisional di Aceh mengalami fragmentasi dan secara bersamaan menimbulkan kontestasi otoritas keagamaan. Yang menarik, kontestasi otoritas keagamaan tersebut terjadi antar sesama otoritas keagamaan tradisional, bukan melainkan antara otoritas keagamaan baru dengan otoritas keagamaan tradisional (atau sebaliknya). Kajian ini menggunakan penelitian lapangan (field research) yang dikolaborasikan dengan netnografi (online) “ulama lokal” (abu, waled, teungku) dan “ustaz Salafi”. Kajian ini menunjukan bahwa tidak semua aktor keagamaan yang terlahir melalui media baru dikatakan sebagai lumpen-inteligentsia’ yaitu agamawan yang tidak memiliki keilmuan agama yang kokoh. Ini dapat ditunjukkan melalui hasil kajian penulis atas kemunculan ustaz Salafi yang berdakwah melalui media baru. Kehadiran ustaz Salafi menggeser ulama lokal hingga memberikan tantangan bagi otoritas keagamaan ulama lokal. Konsekuensi dari ‘determinisme teknologi’ (determism of technology) melahirkan "demokratisasi pengetahuan agama” yang menyebabkan terjadinya fragmentasi dan kontestasi otoritas keagamaan. Munculnya ustaz Salafi dan delokalisasi pesan-pesan keagamaannya melalui media online juga berdampak terhadap pesan-pesan keagamaan terdelokalisasi ke batas-batas wilayah, daerah dan keagamaan yang lebih luas. Kata Kunci: fragmentasi, kontestasi, media baru, otoritas keagamaan.
Pengantar Redaksi dan Daftar Isi Dewan Redaksi
Jurnal Lektur Keagamaan Vol 17 No 2 (2019): Jurnal Lektur Keagamaan Vol. 17 No. 2 Tahun 2019
Publisher : Center for Research and Development of Religious Literature and Heritage, Agency for Research and Development and Training, Ministry of Religious Affairs of the Republic of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1818.089 KB)

Abstract

Kulit Muka, Pengantar Redaksi, Daftar Isi, Indeks Judul dan Kulit Belakang
"Sakaratul Maut" Karya 'Abd al-Ra'ūf al-Fanṣūrī : Teks Dan Doktrin Sakratulmaut Di Jawi Abad XVII-XVIII Tarobin, Muhammad
Jurnal Lektur Keagamaan Vol 18 No 2 (2020): Jurnal Lektur Keagamaan Vol. 18 No. 2 Tahun 2020
Publisher : Center for Research and Development of Religious Literature and Heritage, Agency for Research and Development and Training, Ministry of Religious Affairs of the Republic of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (915.467 KB) | DOI: 10.31291/jlka.v18i2.827

Abstract

Sakaratul Maut is a Malay translation of Lubb al-Kasyf wa al-Bayān limā yarāhu al-Muḥtaḍar bi al-'Iyān  manuscript by 'Abd al-Ra'ūf ibn 'Alī al-Jāwī al-Fanṣūrī  (d. 1693 AD). A study of this manuscript is important to identify the sakratulmaut doctrine that developed in Jawi in the XVII-XVIII centuries. This study aims to: first, make comparisons of several copies of the Sakaratul Maut manuscripts with the Sakrat al-Maut manuscript collected in Nagara, South Kalimantan which is claimed to be the work of 'Abd al-Ra'ūf ibn 'Alī al-Jāwī al-Fanṣūrī . This was done because contents of the last manuscript was presumed to be different from the existing manuscripts. Second, to identify the sakratulmaut doctrine that developed in the Jawi. Based on the philological approaches, this study finds that: first, based on the study of text structure it is known that the Sakrat al-Maut text in the Nagara collection have many differents content structures from the Sakaratul Maut text by al-Fanṣūrī. Second, a comparative analysis with texts that have existed before and after Sakaratul Maut found that sakratul­maut doctrines in Jawi was conveyed with a narrative classifications of the four and five patterns, namely by connecting four or five colors as representations of creatures accompanied by four or five kinds recitation of zikir. Keywords: Philology; Jawi; Neo-Sufism; Sakratulmaut; Traditional Sakaratul Mautmerupakan naskah terjemahan Melayu dari naskah Lubb al-Kasyf wa al-Bayān limā yarāhu al-Muḥtaḍar bi al-‘Iyān karya‘Abd al-Ra’ūf ibn ‘Alī al-Jāwī al-Fanṣūrī (w. 1693 M). Kajian terhadap naskah ini penting untuk melakukan identifikasi terhadap doktrin sakratulmaut yang berkembang di Jawi pada abad XVII-XVIII. Tulisan ini bertujuan untuk: pertama, melakukan perbandingan atas beberapa salinan naskah Sakaratul Mautdengan naskah Sakrat al-Mautkoleksi Nagara, Kalimantan Selatan yang diklaim sebagai karya ‘Abd al-Ra’ūf al-Fanṣūrī. Hal ini dilakukan karena isi naskah terakhir diduga berbeda dengan naskah-naskah yang telah ada. Kedua, untuk melakukan identifikasi terhadap ajaran sakratulmaut yang berkembang di Jawi. Berdasarkan pendekatan filologi, studi ini menemukan bahwa: pertama, berdasarkan kajian strukturteks diketahui bahwa naskah Sakrat al-Mautkoleksi Nagara memiliki struktur isi yang berbeda dengan naskah Sakaratul Maut karya al-Fanṣūrī. Kedua, analisis perbandingan dengan teks-teks yang telah ada sebelum dan sesudah Sakaratul Maut menemukan bahwa doktrin sakratulmaut di Jawi disampaikan melalui narasi klasifikasi pola empat dan lima, yakni dengan menghubungkan empat ataulima warna sebagai representasi makhluk disertai dengan empat atau lima macam bacaan zikir. Kata Kunci: Filologi; Jawi, Neo-Sufisme; Sakratulmaut; Tradisional.
Masjid Lerabaing: Kearifan Lokal Dalam Penyiaran Islam Di Nusa Tenggara Timur Fahrudin, Ali
Jurnal Lektur Keagamaan Vol 18 No 2 (2020): Jurnal Lektur Keagamaan Vol. 18 No. 2 Tahun 2020
Publisher : Center for Research and Development of Religious Literature and Heritage, Agency for Research and Development and Training, Ministry of Religious Affairs of the Republic of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (703.467 KB) | DOI: 10.31291/jlka.v18i2.831

Abstract

At-Taqwa Lerabaing Mosque is one of the ancient mosques in Alor Island, Nusa Tenggara Timur (NTT). By revealing the history of mosque establishment, it is hoped that it can reveal the history of Islam coming to NTT, which is currently predominant Christian and Catholic. This study aims to preserve the cultural heritage of the Indonesian Nation, especially related to the historic mosque and its role in spreading Islam in the Alor Regency, NTT. This study uses a historical-archaeological approach. Performing this research, it is expected to reveal the origin of the mosque, the condition of the community at the time of its construction, the architecture and the historical objects contained therein, and local wisdom in broadcasting Islam in NTT. The results of this study reveal that the history of the coming Islam to Alor Island was closely related to the arrival of a preacher from Ternate named Sultan Kimales Gogo. After the King of Kui Kingdom and his people converted to Islam, he established this mosque. The mosque in the form of a house on stilts was built in 1042 H or 1633 M. Compared to other mosques in Indonesia, this mosque has its specificity. it lies in its shape which resembles a stage house with a two-story roof and all materials made from wood and bamboo without nails. Keywords: Alor Island, Nusa Tenggara Timur, Lerabaing mosque.   Masjid At-Taqwa Lerabaing adalah salah satu masjid kuno yang ada di Pulau Alor, Nusa Tenggara Timur (NTT). Tulisan ini bertujuan untuk mengungkap sejarah pendirian masjid At-Taqwa, Lerabaing dan sejarah masuknya agama Islam di Provinsi NTT. Hal ini merupakan upaya melestarikan warisan budaya Bangsa Indonesia, khususnya yang berkaitan dengan masjid bersejarah dan perannya dalam penyiaran Islam di wilayah Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur. Penelitian eksploratif deskriptif ini menggunakan pendekatan historis-arkeologis. Beberapa hal yang ditelaah adalah asal usul berdirinya masjid, kondisi masyarakat pada saat pendiriannya, arsitektur dan benda-benda bersejarah yang ada di dalamnya, serta kearifan lokal dalam penyiaran Islam di NTT. Kajian ini menunjukkan bahwa sejarah masuknya Islam di Pulau Alor erat kaitannya dengan kedatangan pendakwah dari Ternate yang bernama Sultan Kimales Gogo. Setelah berhasil mengislamkan Raja Kerajaan Kui dan rakyatnya, Sultan Kimales Gogo mendirikan masjid At-Taqwa. Masjid yang berbentuk rumah panggung ini dibangun pada tahun 1042 H atau 1633 M. Kekhasan masjid ini dibandingkan masjid-masjid lainnya di Indonesia terletak pada bentuknya yang menyerupai rumah panggung dengan atap bertingkat dua dan semua bahannya terbuat dari kayu dan bambu tanpa paku. Kata kunci: masjid Lerabaing, Nusa Tenggara Timur, Pulau Alor
KARANTINA DAN HOSPITALITAS YANG BERESIKO Respons Gereja Di Sepanjang Sejarah Pandemi Yohanes Krismantyo Susanta; Daniel Fajar Panuntun
Jurnal Lektur Keagamaan Vol 19 No 1 (2021): Jurnal Lektur Keagamaan Vol. 19 No. 1 Tahun 2021
Publisher : Center for Research and Development of Religious Literature and Heritage, Agency for Research and Development and Training, Ministry of Religious Affairs of the Republic of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (362.889 KB) | DOI: 10.31291/jlka.v19i1.842

Abstract

This paper discusses the hospitality of early Christians in the face of pandemics that have occurred throughout church history. A pandemic that lasts a long time and results in many deaths will cause mass hysteria. This was experienced by the global population at the end of 2019, namely the Covid-19 pandemic. Humanity is trying to overcome the spread of disease medically but also needs to be able to provide the right formulation of social attitudes in dealing with pandemics. The purpose of this paper is to find out the response of early Christians in the face of pandemics in the past and to draw theological reflections and lessons from church fathers regarding the Covid-19 pandemic. This paper uses a historical approach. Data collection was carried out through a study of literary criticism regarding the study of the history of the Church's history and the response of the Church Fathers in facing the pandemic in their respective times. This study finds that the history and responses of the church fathers emphasized the importance of quarantine and hospitality in dealing with the pandemics that occurred in their time. The implementation of this attitude is to emphasize the importance of quarantine and friendliness in dealing with the pandemic, including the current Covid-19 pandemic. Keywords: Church Fathers, Covid-19, Hospitality, Pandemic, Christian   Tulisan ini membahas tentang hospitalitas orang Kristen awal dalam menghadapi pandemi yang berlangsung di sepanjang sejarah gereja. Pandemi yang berlangsung lama dan mengakibatkan kematian dalam jumlah besar akan menimbulkan suatu histeria massal. Hal ini yang dialami oleh penduduk global pada akhir tahun 2019, yaitu pandemi Covid-19. Umat manusia berusaha mengatasi penyebaran penyakit tersebut secara medis, akan tetapi juga perlu mampu memberikan suatu rumusan sikap sosial yang tepat dalam mengatasi pandemi tersebut. Tujuan tulisan ini untuk mengetahui respons orang Kristen awal dalam menghadapi pandemi di masa lalu serta menarik refleksi teologis dan pelajaran dari Bapa-Bapa gereja terkait dengan pandemi Covid-19. Tulisan ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan pendekatan sejarah. Pengumpulan data dilakukan melalui studi kritik literatur mengenai kajian sejarah Gereja dan respons Bapa-Bapa Gereja dalam menghadapi pandemi pada zamannya masing-masing. Kajian ini menemukan bahwa sejarah dan respons Bapa-Bapa gereja menekankan pentingnya sikap karantina dan hospitalitas dalam menghadapi pandemi yang berlangsung pada zamannya. Implementasi sikap ini untuk menekankan pentingnya karantina dan hospitalitas dalam menghadapi pandemi termasuk pandemi Covid-19 pada saat ini. Kata kunci: Bapa Gereja, Covid-19, Hospitalitas, Pandemi, Sejarah Kekristenan
Sejarah Keagamaan Dan Sosial Masjid-Masjid Tua Di Langkat Dahlan, Zaini; Asari, Hasan
Jurnal Lektur Keagamaan Vol 18 No 2 (2020): Jurnal Lektur Keagamaan Vol. 18 No. 2 Tahun 2020
Publisher : Center for Research and Development of Religious Literature and Heritage, Agency for Research and Development and Training, Ministry of Religious Affairs of the Republic of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1170.256 KB) | DOI: 10.31291/jlka.v18i2.850

Abstract

This study deals with socio-religious history of three old mosques in Langkat. Mostly historical, but with some archaeological perspectives, this study presents three main findings. First, the establishment of old mosques in Langkat shows the sultan's piety, his closeness to the scholars and shows the essence of royal identity. Second, the three mosques have the nuances of a mixture of Arabic, Persian and Chinese culture as well as local Malay culture in their physical and architectural dimensions. The values of local wisdom in its architectural dimension are manifested in the five elements of the strength of the Langkat Malay community, namely the leader (umarâ'), religious experts (`ulamâ'), clever intelligence (zumrâ'), the rich (agniyâ'), and the power of prayer. poor (fuqarâ'). Third, these three old mosques have similarities in aspects of religious and social functions. However, each of them has its own uniqueness so that it still displays a high dimension of historicity. Keywords: East Sumatera, Langkat, Malay, old mosques.   Kajian terkait masjid-masjid tua di Langkat secara sosio historis religius terutama masjid-masjid yang didirikan pada abad ke-19 masih sedikit. Analisis sosial historis pendirian masjid, karakteristik fisik masjid, serta sejarah keagamaan dan sosialnya menjadi tujuan tulisan ini. Dengan pendekatan sosial historis-arkeologis, kajian ini menunjukkan bahwa, pertama, pendirian masjid-masjid tua di Langkat melibatkan motif keagamaan, yakni menunjukkan kesalehan sultan dan kedekatannya dengan para ulama. Pendirian masjid menunjukkan inti identitas kerajaan dan hal ini menjadi motif sosial politik. Kedua, ketiga masjid memiliki nuansa perpaduan budaya asing dan lokal dalam dimensi fisik dan arsitekturalnya, yakni budaya Arab, Persia dan Cina serta budaya Melayu sebagai corak lokal. Salah satu contoh Masjid Azizi Tanjung Pura yang mampu menginternalisasikan nilai-nilai kearifan lokal dalam dimensi arsitektural­nya dan termanifestasi dalam lima unsur kekuatan masyarakat Melayu Langkat, yaitu pemimpin (umarâ’), ahli agama (`ulamâ’), cerdik pandai (zumrâ’), orang kaya (agniyâ’), dan kekuatan doa orang miskin (fuqarâ’). Ketiga, ketiga masjid tua ini memiliki kesamaan dalam aspek fungsi keagamaan dan sosial. Namun, masing-masing memiliki keunikan tersen­diri sehingga tetap menampilkan dimensi historisitas yang tinggi. Kata Kunci: Langkat, masjid tua, Melayu, Sumatera Timur.

Filter by Year

2012 2025