cover
Contact Name
Mulyawan Safwandy Nugraha
Contact Email
mulyawan77@gmail.com
Phone
+628121117577
Journal Mail Official
jurnal.lektur@gmail.com
Editorial Address
Gedung kementerian Agama RI lantai 20 Jl. MH. Thamrin No. 6 Kebon Sirih Menteng Jakarta Pusat, DKI Jakarta 10340
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Lektur Keagamaan
ISSN : 16937139     EISSN : 2620522X     DOI : DOI: 10.31291/jlka
the studies of classic religious manuscripts; the studies of contemporary religious manuscripts; religious history and society; religious archaeology; and religious arts on the scope of Nusantara.
Articles 309 Documents
Perkembangan Kaligrafi dan Urgensinya bagi Khazanah Mushaf Abdul Hakim Syukrie
Jurnal Lektur Keagamaan Vol 19 No 1 (2021): Jurnal Lektur Keagamaan Vol. 19 No. 1 Tahun 2021
Publisher : Center for Research and Development of Religious Literature and Heritage, Agency for Research and Development and Training, Ministry of Religious Affairs of the Republic of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (663.992 KB) | DOI: 10.31291/jlka.v19i1.911

Abstract

Arabic script existed before the arrival of Islam, but it's just growing fast since the decline of the Al-Qur'an (Islam). It becomes an inseparable part of the Al-Qur'an and an important part of the mushaf history. Calligraphy has become the art of Islamic art not only because of its beauty, abstract, dynamic, modular structure, and combinative but because it makes Al-Qur'an as an object of creation. This article is a review of a book Khaṭ al-Muṣḥaf al-Syarīf wa Taṭawwuruhu fi al-'Ālam al-Islāmī by Abdul Aziz Hamid Saleh. He studied the development of Qur’anic calligraphy based on Islamic cultural areas: Hijāz, Syām, Iraq, Egypt, Spain, India, Far East, and South East Asia. The steps to reviewing this book are summarizing and analyzing. This book elaborates the science of calligraphy with history of Qur’anic manuscripts in the Islamic world. This paper emphasizes that calligraphy has characteristics that represent the place and the time it was developed. Based on the khat used, a Qur’anic manuscript can be revealed from which region and era it was copied. Therefore, calligraphy is an alternative method for studying the history of Qur’anic manuscripts apart from studying the colophon, types of paper, illumination and radiocarbon dating.  Keywords: Islamic calligraphy, Islamic art, Qur’anic manuscript.   Tulisan Arab sudah ada sebelum kedatangan Islam. Ia baru berkembang pesat setelah turunnya Al-Qur’an (Islam). Ia menjadi bagian tidak terpisahkan dari Al-Qur’an dan bagian penting dari sejarah mushaf. Kaligrafi menjadi seninya seni Islam bukan saja karena keindahannya, sifat abstrak, dinamis, struktur modular, dan kombinatif tetapi utamanya karena menjadikan Al-Qur’an sebagai objek kreasi. Artikel ini merupakan ulasan atas buku Khat al-Muṣḥaf al-Syarīf wa Taṭawwuruhu fi al-‘Ālam al-Islāmī karya Abdul Aziz Hamid Saleh. Ia mengulas sejarah perkembangan kaligrafi mushaf berbasis wilayah kebudayaan Islam: Hijaz, Syam, Iraq, Mesir, Andalus, India, dan Asia Jauh. Langkah yang dilakukan dalam mengkaji buku ini, yaitu mengikhtisarnya kemudian menelaahnya. Buku ini mengelaborasi ilmu kaligrafi dengan kajian sejarah mushaf al-Qur’an di dunia Islam. Tulisan ini menggaris bawahi sebuah mushaf Al-Qur’an dapat diungkap sejarahnya berdasar khat yang digunakan. Oleh sebab, itu Kaligrafi menjadi metode alternatif untuk menelaah sejarah mushaf Al-Qur’an selain melalui telaah kolofon, jenis kertas, ragam hias, dan uji karbon. Kata Kunci: Kaligrafi Islam, Mushaf Al-Qur’an, Seni Islam.
SEJARAH DAKWAH SULTAN SYARIF ABDURRAHMAN AL-QADRI: ISLAMISASI DI PONTIANAK Zakaria Efendi
Jurnal Lektur Keagamaan Vol 19 No 2 (2021): Jurnal Lektur Keagamaan Vol. 19 No. 2 Tahun 2021
Publisher : Center for Research and Development of Religious Literature and Heritage, Agency for Research and Development and Training, Ministry of Religious Affairs of the Republic of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (499.287 KB) | DOI: 10.31291/jlka.v19i2.914

Abstract

This article attempts to explain the history of the da'wah of Sultan Syarif Abdurrahman Al-Qadri through the Kadriah Sultanate in carrying out Islamization in Pontianak. The success of the da'wah of Sultan Syarif Abdurrahman Al-Qadri in carrying out Islamization in Pontianak is closely related to the power factor. However, there is a significant role that paved the way for the establishment of the Kadriah Sultanate to reach the peak of its existence, namely the communication factor. The figure of a wise leader allows the influence of Islam to grow rapidly. This study uses a descriptive qualitative approach, and by reviewing the literature of previous studies in order to obtain data that supports in compiling a paper on the history of the da'wah of Sultan Syarif Abdurrahman Al-Qadri in carrying out Islamization in Pontianak. The results showed that: (1) The success of Sultan Syarif Abdurrahman Al-Qadri's da'wah in carrying out Islamization in Pontianak was due to the influence of power. (2) The Sultanate became an effective da'wah media, because the Sultanate became the holder of political and economic power who had the authority to regulate policies in the area of ​​power that contributed greatly to spreading Islamic teachings (3) The acculturation approach of culture in spreading Islam among local communities became the right strategy used Sultan Syarif Abdurrahman Al-Qadri in carrying out Islamization in Pontianak. Until now, there have been many studies conducted with the object of the Kadriah Sultanate which was once the center of Islamic government in Pontianak. Among them are studies that have been carried out by Alfan Firmanto who wrote about "Historical Traces of the Pontianak Sultanate", by conducting a study of inscriptions on the Batu Layang tomb site which is the burial place of the Kadriah Sultanate family. This study emphasizes the communication element as a study in writing the history of Sultan Syarif Abdurrahman Al-Qadri in carrying out Islamiza­tion in Pontianak, the communication element includes how da'wah is carried out, what media is used, and what factors are behind the success of Sultan Syarif Abdurrahman Al-Qadri in the process of Islamization in Pontianak. Keywords: Da'wah, History, Islamization, Kadriah Sultanate, Pontianak.   Artikel ini berupaya menjelaskan sejarah dakwah Sultan Syarif Abdurrahman Al-Qadri melalui Kesultanan Kadriah dalam melakukan Islamisasi di Pontianak. Keberhasilan dakwah Sultan Syarif Abdurrahman Al-Qadri dalam melakukan Islamisasi di Pontianak sangat berkaitan erat dengan faktor kekuasaan. Namun ada peran signifikan yang membuka jalan bagi berdirinya Kesultanan Kadriah hingga mencapai puncak kejaannya adalah faktor komunikasi. Sosok pemimpin yang bijaksana membuat pengaruh Islam dapat berkembang dengan pesat. Kajian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif, dan dengan mengkaji literatur-literatur terdahulu agar memperoleh data yang mendukung dalam menyusun artikel tentang sejarah dakwah Sultan Syarif Abdurrahman Al-Qadri dalam melakukan Islamisasi di Pontianak. Hasil kajian menunjukkan bahwa: (1) Kesuksesan dakwah Sultan Syarif Abdurrahman Al-Qadri dalam melakukan Islamisasi di Pontianak adalah karena pengaruh kekuasaan. (2) Kesultanan menjadi media dakwah yang efektif, karena Kesultanan menjadi pemangku Kekuasaan politik dan ekonomi yang mempunyai wewenang mengatur kebijakkan di wilayah kekuasaan berkontribusi besar dalam menyebarkan ajaran Islam (3) Pendekatan akulturasi kebudayaan dalam menyebarkan agama Islam dikalangan masyarakat lokal menjadi strategi jitu yang digunakan Sultan Syarif Abdurrahman Al-Qadri dalam melakukan Islamisasi di Pontianak. Sampai saat ini sudah banyak kajian yang dilakukan dengan objek Kesultanan Kadriah yang pernah menjadi pusat pemerintahan Islam di Pontianak. Di antaranya adalah kajian yang pernah dilakukan oleh Alfan Firmanto yang menulis tentang “Jejak Sejarah Kesultanan Pontianak”, dengan melakukan kajian Inskripsi pada situs makam Batu Layang yang menjadi tempat pemakaman keluarga Kesultanan Kadriah. Artikel ini lebih menekankan pada unsur komunikasi sebagai kajian dalam menulis tentang sejarah Sultan Syarif Abdurrahman Al-Qadri dalam melakukan Islamisasi di Pontianak, unsur komunikasi mencakup bagai­mana dakwah dilakukan, media apa yang digunakan, dan faktor apa saja yang melatarbelakangi kesuksesan Sultan Syarif Abdurrahman Al-Qadri dalam proses Islamisasi di Pontianak. Kata kunci: Dakwah, Islamisasi, Kesultanan Kadriah, Sejarah, Pontianak.
Diskursus Tasawuf Nusantara di Mekah: Respons Mukhtār ‘Aṭārid Al-Bughūrī terhadap Ajaran Martabat Tujuh Jajang A. Rohmana
Jurnal Lektur Keagamaan Vol 19 No 1 (2021): Jurnal Lektur Keagamaan Vol. 19 No. 1 Tahun 2021
Publisher : Center for Research and Development of Religious Literature and Heritage, Agency for Research and Development and Training, Ministry of Religious Affairs of the Republic of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (951.309 KB) | DOI: 10.31291/jlka.v19i1.923

Abstract

This study focuses on the discourse of Malay-Indonesian Sufism in Mecca at the beginning of the twentieth century. My main object is the response of Mukhtār ‘Aṭārid of Bogor (1862-1930) towards the doctrine of seven grades using the social history approach. He is a Sundanese scholar who taught in Mecca. He gave the response in his two Sundanese printed kitabs in Egypt. The study shows that Mukhtār’s response reflects the importance of Sunni orthodoxy on Sufism based on sharia. Therefore, he tends to reject the deviation of the seven grades teachings in the Indonesian archipelago which considered deviant. In the case of the teaching of Ibn ‘Arabi’s unity of existence, Mukhtār' Aṭārid seems to correct people’s misunderstandings about this teaching. He advised to be good-minded to the teaching because Ibn ‘Arabi is an expert of truth in accordance with the sharia, but most people are not able to understand it. The view point of Mukhtār ‘Atārid reflects the response of a scholar who heir to the tradition of Sunni Sufism orthodoxy towards the development of Sufism in Indonesian archipelago that spread out from the seventeenth century to the present. Keywords: seven grades, Sufism, Sunni, Sundanese   Kajian ini memfokuskan pada masalah wacana tasawuf Nusantara di Mekah pada awal abad ke-20. Objek utamanya adalah tanggapan Mukhtār ‘Aṭārid al-Bughūrī (1862-1930), ulama Sunda yang mengajar di Mekah, terhadap konsep martabat tujuh. Ia menuangkannya dalam dua kitab berbahasa Sunda yang dicetak di Mesir, Kifāyah al-Mubtadi’īn dan Hidāyah al-Mubtadi’in. Melalui pendekatan sejarah sosial, hasil kajian menunjukkan bahwa tanggapan Mukhtār ‘Aṭārid mencerminkan kepentingan ortodoksi Sunni dalam bidang tasawuf yang bertumpu pada syariat. Karenanya, ia cenderung menolak penyimpangan ajaran martabat tujuh di Nusantara yang dianggapnya heterodoks dan menyimpang. Sementara dalam kasus ajaran kesatuan eksistensi (tauḥīd al-wujūd) Ibn ‘Arabī, al-Jilī dan al-Burhānfūrī, Mukhtār ‘Aṭārid terlihat meluruskan kesalahpahaman orang terhadap ajarannya itu. Ia menganjurkan untuk berbaik sangka pada ajarannya, karena diyakini merupakan ahli hakikat yang benar dan sesuai dengan syariat, tetapi kebanyakan orang tidak mampu memahaminya. Pandangan Mukhtār ‘Aṭārid mencerminkan respons seorang ulama pewaris tradisi ortodoksi sufistik Sunni terhadap perkembangan tasawuf di Nusantara yang membentang sejak abad ke-17 hingga sekarang. Kata kunci: martabat tujuh, tasawuf, Sunni, bahasa Sunda  
Moderasi Beragama dalam Kitab Tasawuf Al-Muntakhabāt karya KH. Ahmad Asrori Al-Ishaqi Muhammad Zakki Muhtar
Jurnal Lektur Keagamaan Vol 19 No 1 (2021): Jurnal Lektur Keagamaan Vol. 19 No. 1 Tahun 2021
Publisher : Center for Research and Development of Religious Literature and Heritage, Agency for Research and Development and Training, Ministry of Religious Affairs of the Republic of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (708.127 KB) | DOI: 10.31291/jlka.v19i1.928

Abstract

This paper aims to reveal the moderate attitude in the tarekat. Tarekat as practitioners of Sufism are considered a less tolerant group in carrying out religious behavior in society. This paper attempts to see the moderate and tolerant understanding in the book Al-Munta¬khabāt, which contains the teachings of philosophical, moral, and practice Sufism written by KH. Ahmad Asrori Al-Ishaqi in the early 21st century. Through a qualitative study with an intellectual social history approach and hermeneutics, this paper proves that the book is specifically a guide for tarekat practitioners. In addition, KH. Ahmad Asrori Al-Ishaqi as an author has contributed significantly in bringing the message of religious moderation to life in Indonesia, which can be seen in some of his important ideas in Al-Muntakhabāt. Besides using Arabic fusha, KH. Ahmad Asrori Al-Ishaqi also presented material on philosophical, moral and practice Sufism with Sufism scientific networks in Indonesia. Some of these ideas display the characteristics of Islam which are moderate (wasaṭiyyah), balanced (tawāzun) and tolerant (tasāmuḥ). This is important to be actualized in order to reaffirm the nature and moderate attitude in religion, both individuals and organizations, with the aim of eliminating radical Islamic thoughts that are not in accordance with the nation's ideology. Keywords: Al-Muntakhabāt, KH. Ahmad Asrori Al-Ishaqi, Religious Moderation and TQN Al-Usmaniyah.   Tulisan ini bertujuan mengungkapkan sikap moderat dalam tarekat. Tarekat sebagai pengamal tasawuf dianggap sebagai kelompok kurang toleran dalam men­jalankan laku beragama di masyarakat. Tulisan ini ber­upaya melihat pemahaman moderat dan toleran dalam kitab Al-Munta­khabāt, yang berisi ajaran tasawuf falsafi, akhlaki, dan amali yang dikarang oleh KH. Ahmad Asrori Al-Ishaqi pada awal abad ke-21. Melalui kajian kualitatif dengan pendekatan sejarah sosial intelektual dan hermeneutika, tulisan ini membuktikan bahwa kitab tersebut secara khusus merupa­kan pedoman para pengamal tarekat. Selain itu, KH. Ahmad Asrori Al-Ishaqi sebagai pengarang telah ber­kontribusi signi­fi­kan dalam menghidupkan pesan moderasi beragama di Indonesia, di antaranya terlihat dalam beberapa gagasan penting pemikiran­nya dalam Al-Muntakhabāt. Selain menggunakan bahasa Arab fusha, KH. Ahmad Asrori Al-Ishaqi juga menyajikan materi tasawuf falsafi, akhlaki dan amali dengan jejaring keilmuan tasawuf di Indonesia.  Beberapa gagasan tersebut menampilkan karakteristik Islam yang moderat (wasaṭiyyah), seimbang (tawāzun) dan toleran (tasāmuḥ). Hal ini penting untuk diaktualisasikan demi meneguh­kan kembali sifat dan sikap moderat dalam beragama, baik perseorangan maupun perkumpulan organisasi, dengan tujuan menghilangkan pemikiran Islam radikal yang tidak sesuai dengan ideologi bangsa. Kata kunci: Al-Muntakhabāt, KH. Ahmad Asrori Al-Ishaqi, Moderasi Beragama dan TQN Al-Usmaniyah.
PEMIKIRAN SAINS-SUFISTIK ORANG BUGIS DALAM NASKAH KUTIKA UGI’ SAKKE RUPA Rahmatia, Rahmatia; Abdullah Maulani
Jurnal Lektur Keagamaan Vol 19 No 2 (2021): Jurnal Lektur Keagamaan Vol. 19 No. 2 Tahun 2021
Publisher : Center for Research and Development of Religious Literature and Heritage, Agency for Research and Development and Training, Ministry of Religious Affairs of the Republic of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (988.125 KB) | DOI: 10.31291/jlka.v19i2.935

Abstract

This article discusses the contents of the manuscript entitled Kutika Ugi' Sakke Rupa (KUSR) or Bunga Rampai Kutika Bugis. KUSR explains the method of calculating the good and bad times of the Bugis people. KUSR has a superior value to similar kutika scripts that only contain one or two methods. KUSR collectsseveral methods of calculating time which mostly accepts literature from the Islamic world in the Middle East and North Africa, suchas the works of Sheikh Aḥmad bin Muḥammad Ramaḍān al-Makki and Abu al-'Abbās Aḥmad bin ‘Alī al-Būnī. In addition, Ibn 'Arabī thought also played an important role in the construction of the KUSR text through the explanation of wahdāt al-wujūd understanding and remem-brance related to the elements of Islamic Sufism. In this regard, this article analyzes the relationship between the influence of Islamic Sufism and the Kutika method of calculation, especially in the 19th century. Therefore, a philological approach related to the study of texts and the history of manuscripts to understand the background of Islamic influence is an important thing to do in this study. This aims to reveal the form of Islamic influence contained in the KUSR text and its relation tothe development of Islam in South Sulawesi. Thus, Islamic discourses, especially Sufism, can be seen as an influential factor in the transmission of science and astro-nomy in the 19th century Bugis society. Keywords: Kutika, Bugis, Natural Science, Sufism.   Artikel ini mendiskusikan isi naskah yang berjudul Kutika Ugi’ Sakke Rupa(KUSR) atau Bunga Rampai Kutika Bugis. KUSR menjelaskan metode perhitungan waktu baik dan buruk masyarakat Bugis. KUSR memiliki nilai ungul daripada naskah kutika serupa yang hanya memuat satu atau dua metode. KUSR menghimpun beberapa metode hitungan waktu yang banyak meresepsi literatur-literatur yang berasal dari dunia Islam di Timur Tengah dan Afrika Utara, seperti karya-karya Syekh Ahmad bin Muhammad Ramadhân al-Makki dan Abu al-‘Abbas Ahmad bin Ali al-Būnī. Selain itu, Ibnu ‘Arabī juga memegang peranan penting dalam konstruksi teks KUSR melalui penjelasan paham wahdāt al-wujūddan zikir-zikir yang berkaitan dengan unsur-unsur sufisme Islam. Sehubungan dengan hal tersebut, artikel ini menganalisis kaitan antara pengaruh sufisme Islam dan metode hitungan Kutika, khususnya pada abad ke-19. Oleh sebab itu, pendekatan Filologi terkait kajian teks dan sejarah naskah untuk memahami latar belakang pengaruh Islam menjadi hal yang penting dilakukan dalam studi ini. Hal ini bertujuan untuk mengungkap bentuk pengaruh Islam yang terdapat dalam naskah KUSR dan kaitannya dengan perkembangan Islam di Sulawesi Selatan. Dengan demikian, wacana-wacana keislaman terutama tasawuf dapat dilihat sebagai faktor yang berpengaruh terhadap transmisi ilmu sains dan falak masyarakat Bugis abad ke-19. Kata kunci: Kutika, Bugis, Sains, Sufisme.
REKONSTRUKSI BIOGRAFI DAN KARYA KIAI SHOLEH KUNINGAN BLITAR Moch Lukluil Maknun; Arif Muzayin Shofwan
Jurnal Lektur Keagamaan Vol 19 No 2 (2021): Jurnal Lektur Keagamaan Vol. 19 No. 2 Tahun 2021
Publisher : Center for Research and Development of Religious Literature and Heritage, Agency for Research and Development and Training, Ministry of Religious Affairs of the Republic of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (842.701 KB) | DOI: 10.31291/jlka.v19i2.942

Abstract

There were still many “Ulama Nusantara” who have scientific roles during their period with Syaikhona Kholil Bangkalan or K.H. Hasyim Asyari but were not exposed or studied much. One of those scholars who hasn’t been widely known yet is Kiai Sholeh Kuningan Blitar, who produced The“Risalah Aqaid” book. This qualitative study, which used the character studies method and critical discourse analysis, tries to reintroduce Kiai Sholeh figures and his works. There are two important findings from this study. First, Kiai Sholeh Kuningan (1846-1948 AD) was one of the ulama in Blitar who became a referral person in studying Tauhid. He lived in the same era and related to Kiai Kholil, Kiai Sholeh Darat, K.H. Hasyim Asyari, and some other ulama. Based on the lineage, his father and grandfather were also referral persons in Islam matter, and he was the fifth descendant of Kiai Nur Iman Mlangi Yogyakarta. Second, Kiai Sholeh’s works: “Risalah Aqaid Litauhid” can be considered as the development version of “Kitab Hasyiyah Ummul Barahin” because it was added more explanation from Mbah Sholeh views. This works, which was written in Arabic and Javanese Pegon, is still utilized as discussion material by his descendant and his santri/students until now. Keyword: Tauhid, Akaid, Ummul Barahin.   Terdapat banyak tokoh Ulama Nusantara yang semasa dengan Syaikhona Kholil dan K.H. Hasyim Asyari dan berperan besar dalam keilmuan, tetapi belum dikenal secara luas. Salah satu dari tokoh ini adalah Kiai Sholeh Kuningan Blitar yang mewariskan karya ‘Risalah Aqaid’. Secara kualitatif, kajian yang memanfaatkan metode studi tokoh dan analisis wacana kritis ini berupaya mengenalkan kembali figur sang tokoh berikut karyanya. Dua hal utama yang didapat dari kajian ini adalah: Pertama, Kiai Sholeh Kuningan (1846-1948 M) merupakan salah satu kiai di Blitar yang dijadikan rujukan bidang tauhid pada masanya. Ia semasa dan berhubungan dengan Kiai Kholil, Kiai Sholeh Darat, K.H. Hasyim Asyari, dan beberapa tokoh lainnya. Secara nasab, ayah dan kakeknya juga merupakan rujukan keilmuan pada masanya, selain ia juga keturunan kelima Kiai Nur Iman Mlangi Yogyakarta. Kedua, karya Kiai Sholeh ‘Risalah Aqaid Litauhid’ dari segi isinya dapat dianggap sebagai pengembangan dari kitab Hasyiyah Ummul Barahin yang ditambah pula dengan beberapa penjelasan versi Kiai Sholeh. Kitab yang ditulis dalam bahasa Arab dan Jawa Pegon ini masih terus hidup sebagai bahan kajian musyawarah maupun kajian kitab oleh ahli waris dan generasi murid-muridnya. Kata Kunci: Tauhid, Akaid, Ummul Barahin.
SEJARAH KEAGAMAAN DAN SOSIAL MESJID TUA DI MARBAU (LABUHANBATU UTARA) Muktarruddin Dalimunthe
Jurnal Lektur Keagamaan Vol 19 No 2 (2021): Jurnal Lektur Keagamaan Vol. 19 No. 2 Tahun 2021
Publisher : Center for Research and Development of Religious Literature and Heritage, Agency for Research and Development and Training, Ministry of Religious Affairs of the Republic of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (450.056 KB) | DOI: 10.31291/jlka.v19i2.944

Abstract

This study examines how the history of the Kingdom and the old mosque in Marbau District is related to the development of da'wah in Labuhanbatu Utara regency, North Sumatra. The Socio-Historical Approach is used to see the important role of the Kingdom and the Marbau Mosque in the development of da'wah in the community. The establishment of Marbau Mosque in 1850 indicates several important things such as 1) The King of the Marbau Kingdom was a Muslim and became an important identity that the majority of Marbau people are Muslim, 2) the pattern of community religious understanding is also influenced by the Naqsabandiyah Tariqa that was developed in the past. Following the development of Islamic organizations, educational and religious institutions were also developed for the advancement of da'wah within the community. Keyword: Marbau, Old Mosque, Social.   Penelitian ini mengkaji tentang bagaimana sejarah kerajaan dan Mesjid tua di Kecamatan Marbau berkaitan dengan perkembangan dakwah di Kabupa­ten Labuhanbatu Utara Provinsi Sumatera Utara. Pendekatan Sosio Historis digunakan dalam penelitian ini untuk melihat bagaimana peran penting kerajaan dan Mesjid Marbau terhadap perkembangan dakwah di masya­rakat. Berdirinya Mesjid raya Marbauahun 1850 menandakan beberapa hal penting di antaranya bahwa raja kerajaan Marbau merupakan orang Islam dan menjadi sebuah identitas penting bahwa masyarakat Marbau mayoritas beragama Islam, corak pemahaman keagaaman masyarakat juga diwarnai dengan tarekat Naqsabandiyah yang sudah berkembang pada masa dahulu. Seiring berkembangnya zaman organisasi keislaman juga ikut mewarnai Marbau, lembaga pendidikan serta keagamaan dikembang­kan demi kemajuan dakwah ditengah masyarakat. Kata kunci: Marbau, Mesjid Tua, Sosial.
Pengantar Redaksi dan Daftar Isi Dewan Redaksi
Jurnal Lektur Keagamaan Vol 19 No 1 (2021): Jurnal Lektur Keagamaan Vol. 19 No. 1 Tahun 2021
Publisher : Center for Research and Development of Religious Literature and Heritage, Agency for Research and Development and Training, Ministry of Religious Affairs of the Republic of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4602.807 KB)

Abstract

Kulit Muka, Pengantar Redaksi, Daftar Isi, Indeks Judul dan Kulit Belakang
Tradisi Bantai Adat: Kearifan Lokal Menyambut Bulan Ramadhan Masyarakat Merangin Jambi Muhammad Dwi Kurniadi Kurniadi; Husmayani Muny Putri
Jurnal Lektur Keagamaan Vol 19 No 2 (2021): Jurnal Lektur Keagamaan Vol. 19 No. 2 Tahun 2021
Publisher : Center for Research and Development of Religious Literature and Heritage, Agency for Research and Development and Training, Ministry of Religious Affairs of the Republic of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (583.32 KB) | DOI: 10.31291/jlka.v19i2.961

Abstract

This article aims to describe the bantai adat tradition as local wisdom to welcome the month of Ramadan for the Merangin Jambi community. A qualitative method with an ethnographic approach is used to study, understand and analyze the phenomenon of the people of Merangin Regency, especially in the bantai adat tradition related to religion. This article was written objectively from the results of participant observations, interviews and literature studies conducted in the Merangin Community. Traditional slaughter is a tradition of slaughtering livestock such as cows and buffalo which aims to welcome the month of Ramadan and is carried out a few days before the month of Ramadan. The values ​​contained in the bantai adat tradition include social values, religious values ​​and local cultural values. By getting to know the traditional slaughtering tradition of the Merangin people, it can make the public know about the traditions that exist in Jambi Province. Keywords: Bantai Adat, Merangin, Tradition, Local Wisdom.   Artikel ini bertujuan untuk mendeskripsikan tradisi bantai adat sebagai kearifan lokal menyambut bulan Ramadhan bagi masyarakat Merangin Jambi. Metode kualitatif dengan pendekatan etnografi digunakan untuk mempelajari, memahami serta menganalisis fenomena masyarakat Kabu­paten Merangin khususnya dalam tradisi bantai adat yang berhubungan dengan keagamaan. Artikel ini ditulis secara objektif dari hasil observasi partisipan, wawancara dan studi literatur yang dilakukan pada Masyarakat Merangin. Bantai adat merupakan tradisi penyembelihan hewan ternak seperti sapi dan kerbau yang bertujuan untuk menyambut datangnya bulan Ramadhan dan dilaksanakan beberapa hari sebelum bulan Ramadhan. Nilai-nilai yang terdapat dalam tradisi bantai adat antara lain nilai sosial, nilai religius serta nilai budaya lokal. Dengan dikenalnya tradisi bantai adat masyarakat Merangin, dapat membuat khalayak ramai mengetahui tentang tradisi yang ada di Provinsi Jambi. Kata kunci: Bantai Adat, Merangin, Tradisi, Kearifan Lokal.
PENGUATAN PENDIDIKAN KARAKTER HINDU DALAM YOGA UNTUK SISYA PASRAMAN AMERTA SANJIWANI I Wayan Agus Gunada; Ida Bagus Kade Yoga Pramana; I Wayan Rudiarta
Jurnal Lektur Keagamaan Vol 19 No 2 (2021): Jurnal Lektur Keagamaan Vol. 19 No. 2 Tahun 2021
Publisher : Center for Research and Development of Religious Literature and Heritage, Agency for Research and Development and Training, Ministry of Religious Affairs of the Republic of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (698.333 KB) | DOI: 10.31291/jlka.v19i2.973

Abstract

The writing of this article aims to describe the results of yoga training activities in sisya pasraman and practice skills to strengthen the understanding of the essence of Hindu educational values. This study is qualitative with a case study approach on yoga training activities. Data collection techniques use participant observation models, interviews and document studies, which are analyzed using data triangulation techniques. Based on the results of the data analysis, sisya is very enthusiastic about learning the yoga movements given by the coaches. In addition to the process and concept of yoga, teachings contain character values, one of which is religious character and discipline, reflected in the teachings of morals, namely tri kaya parisudha, the concept of parhyangan, the teachings of panca Yama brata and panca nyama brata. Yoga training and writing activities of this article are expected to provide benefits in the form of resource development of Hindus of character and can become a reference library for relevant activities in the future.  Keywords: Hinduism, Character, Pasraman, Yoga.   Tulisan ini bertujuan untuk menggambarkan hasil kegiatan pelatihan yoga pada sisya pasraman selain melatih keterampilan juga untuk menguatkan pemahaman akan esensi nilai-nilai pendidikan Hindu. Kajian ini berjenis kualitatif dengan pendekatan studi kasus pada kegiatan pelatihan yoga. Adapun teknik pengumpulan data menggunakan model observasi partisipan, wawancara dan studi dokumen­tasi, yang dianalisis menggunakan teknik trianggulasi data. Berdasarkan hasil analisis data didapatkan bahwa sisya sangat antusias dalam mem­pelajari gerakan-gerakan yoga yang diberikan oleh para pelatih, di samping itu dalam proses dan konsepnya ajaran yoga mengandung nilai-nilai karakter salah satunya adalah karakter religius dan disiplin yang tercermin dalam ajaran susila yaitu tri kaya parisudha, konsep parhyangan dan ajaran panca yama brata dan panca nyama brata. Kegiatan pelatihan yoga dan penulisan artikel ini diharapkan dapat memberikan manfaat berupa pembangunan sumber daya umat Hindu yang berkarakter dan dapat menjadi pustaka rujukan bagi kegiatan yang relevan di masa depan. Kata kunci: Hindu, Karakter, Pasraman, Yoga.

Filter by Year

2012 2025