cover
Contact Name
Mulyawan Safwandy Nugraha
Contact Email
mulyawan77@gmail.com
Phone
+628121117577
Journal Mail Official
jurnal.lektur@gmail.com
Editorial Address
Gedung kementerian Agama RI lantai 20 Jl. MH. Thamrin No. 6 Kebon Sirih Menteng Jakarta Pusat, DKI Jakarta 10340
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Lektur Keagamaan
ISSN : 16937139     EISSN : 2620522X     DOI : DOI: 10.31291/jlka
the studies of classic religious manuscripts; the studies of contemporary religious manuscripts; religious history and society; religious archaeology; and religious arts on the scope of Nusantara.
Articles 309 Documents
RITUAL BEDEKEH DAN KEPERCAYAAN SUKU AKIT DI PROVINSI RIAU Suroyo Suroyo; Neni Hermita; Bedriati Ibrahim; Bima Maulana Putra
Jurnal Lektur Keagamaan Vol 20 No 1 (2022): Jurnal Lektur Keagamaan Vol. 20 No. 1 Tahun 2022
Publisher : Center for Research and Development of Religious Literature and Heritage, Agency for Research and Development and Training, Ministry of Religious Affairs of the Republic of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (308.722 KB) | DOI: 10.31291/jlka.v20i1.977

Abstract

ABSTRACT Bedekeh is a medical tradition passed down from generation to generation in the Akit tribe aiming at curing a person's illness. Bedekeh ritual contains cosmological and religious ideology regarding human relationship with Akit ancestors, God and human relationship with other forces beyond human ability. This ritual is dedicated to the ancestral gods as an aid in one's treatment. The ritual is led by Batin (Bomoh or big shaman). This study employs a qualitative technique with a cultural studies approach to explore Bedekeh in the Akit tribal community in relation to Islam. The study found that in the Bedekeh ritual, when someone enters a state of trance (possessed), various spirits such as the Islamic spirit (Hantu Islam), the Malay spirit (Malay ghost), and others appeared, and then helped and communicated according to the mantra that was chanted when entering the body. The original Malay community who embraced Islam rejected the local tradition of the Bedekeh ritual because it was considered to contain animistic teachings that were shirk, idolatrous, and heretical. The people of the Akit tribe are often positioned as the outermost area (periphery) and are placed in a low position and the lowest social status. The construction of such social structures still affects the Malay community and the Muslim Malay community until today.  Keywords: Akit tribe, bedekeh, belief, cultural studies, ritual    ABSTRAK Bedekeh merupakan tradisi pengobatan yang diturunkan dari gene­rasi ke generasi pada masyarakat suku Akit dengan tujuan untuk menyem­buh­­kan penyakit pada diri seseorang. Ritual bedekeh mengandung ideologi kosmologi dan ideologi religius mengenai hubungan manusia dengan leluhur Akit, Tuhan dan keselarasan manusia dengan kekuatan-kekuatan lain di luar kemampuan jangkauan pikiran manusia. Ritual ini dipersem­bah­­kan untuk dewa-dewa leluhur yang akan dipanggil sebagai penolong dalam pengobatan seseorang yang dipimpin oleh Batin (Bomoh atau dukun besar). Penelitian ini menggunakan teknik kualitatif dengan pende­katan cultural studies untuk mengungkap Bedekeh pada masyarakat suku Akit dalam kaitannya dengan Islam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam ritual Bedekeh dan dalam keadaan trance (kerasukan), maka muncul berbagai roh seperti roh Islam (Hantu Islam), roh Melayu (hantu Melayu), dan lain-lain yang membantu dan berkomunikasi sesuai dengan mantra yang dilantunkan saat memasuki tubuh Batin. Masyarakat Melayu asli yang memeluk Islam menolak tradisi lokal ritual Bedekeh karena dianggap mengandung ajaran animisme yang bersifat syirik, musrik, dan sesat. Masya­rakat suku Akit sering diposisikan sebagai area terluar (periferi) dan menempatkan pada posisi yang rendah dan derajat sosial terendah. Konstruksi struktur sosial yang demikian masih memengaruhi masyarakat Melayu dan Masyarakat Melayu Muslim hingga sekarang.  Kata kunci: bedekeh, kepercayaan, suku Akit, ritual
Budaya Sungkem Desa Samirono dalam Perspektif Hukum Taurat ke-5: Suatu Kajian Etika Kristen dan Generasi Muda Gernaida Pakpahan; Anggi Maringan Hasiholan; Ibnu Salman
Jurnal Lektur Keagamaan Vol 19 No 2 (2021): Jurnal Lektur Keagamaan Vol. 19 No. 2 Tahun 2021
Publisher : Center for Research and Development of Religious Literature and Heritage, Agency for Research and Development and Training, Ministry of Religious Affairs of the Republic of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (532.811 KB) | DOI: 10.31291/jlka.v19i2.990

Abstract

Culture and religion are two directions of life that are close to the people of Indonesia. Indonesia is referred to as a religious country and a country rich in local wisdom that regulates how humans should behave. One of the cultures familiar with hospitality and full of moral values ​​in Indonesia is Sungkeman. Sungkeman culture as a noble value must be practiced and preserved by all Indonesian people, especially the younger generation. This principle is in line with Christianity which upholds respect for parents and others as an action that needs to carry out. This study explores the correlation of the 5th Torah law, namely respecting parents, with the Sungkeman culture of Samirono Village, which has implications for how a Christian should live in cultural ethics, especially the younger generation. This paper results from field research in Samirono Village, Central Java. The research approach used is descriptive qualitative with data collection techniques consisting of interviews, observations, and documentation. The results show that Sungkem culture has implementable values ​​according to the 5th Torah and Christian ethics that must do every day, not just weddings and ketupat Eid. In particular, the tradition must carry out to the younger generation who have experienced the degradation of Sungkem values ​​due to the times. This research recommends that the internalization ​​of respecting others echo in church services and discipleship classes, especially for the younger generation who have begun exposing themselves to globalization's negative currents. Keywords: Sungkem, Samirono Village, Young Generation, Christian Ethics, 5th Law. ABSTRAK Budaya dan agama adalah dua arahan kehidupan yang dekat dengan masyarakat Indonesia. Indonesia disebut sebagai negara beragama sekali­gus negara yang kaya akan kearifan lokal yang mengatur bagaimana seharusnya manusia berlaku. Salah satu budaya yang akrab dengan keramahtamahan dan penuh dengan nilai moralitas di Indonesia adalah Sungkeman. Prinsip ini sejalan dengan Kekristenan yang menjunjung penghormatan kepada orang tua dan orang lain sebagai tindakan yang perlu tetap dilaksanakan. Budaya sungkeman sebagai nilai luhur mesti dilakukan dan dilestarikan oleh seluruh masyarakat Indonesia, khususnya generasi muda. Artikel ini bertujuan untuk mengeksplorasi korelasi hukum Taurat ke-5 yaitu menghormati orang tua dengan budaya Sungkeman Desa Samirono yang berimplikasi kepada bagaimana seharusnya seorang Kristen hidup dalam etika budaya, khususnya generasi muda. Tulisan ini merupakan hasil riset lapangan di Desa Samirono, Jawa Tengah. Pendekatan penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan datanya terdiri dari wawancara, observasi dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa budaya Sungkem memiliki nilai implementatif sesuai hukum Taurat ke-5 dan etika Kristen yang harus dilakukan setiap hari bukan hanya momen pernikahan dan lebaran ketupat. Khususnya pentradisian harus dilakukan kepada generasi muda yang telah mengalami degradasi nilai Sungkem akibat perkem­bangan zaman. Riset ini merekomendasikan agar internalisasi nilai-nilai menghormati sesama digemakan dalam ibadah-ibadah dan kelas-kelas pemuridan gereja, terkhusus bagi generasi muda yang sudah mulai terpapar arus globalisasi negatif. Kata kunci: Sungkem, Desa Samirono, Generasi Muda, Etika Kristen, Hukum Taurat ke-5.
IMPLEMENTASI TRADISI MERTI DESA DALAM MEMBENTUK KERUKUNAN MASYARAKAT DESA KEMRANGGEN KECAMATAN BRUNO KABUPATEN PURWOREJO Muhajir; Riyantoro, Septian Fiktor; Sa'ari, Che Zarrina; Musolin, Muhlil
Jurnal Lektur Keagamaan Vol 20 No 1 (2022): Jurnal Lektur Keagamaan Vol. 20 No. 1 Tahun 2022
Publisher : Center for Research and Development of Religious Literature and Heritage, Agency for Research and Development and Training, Ministry of Religious Affairs of the Republic of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (347.216 KB) | DOI: 10.31291/jlka.v20i1.993

Abstract

ABSTRACT This study aims to explore the practice of Merti Desa tradition in Kemranggen Village, particularly in building community harmony. This field research was conducted with a qualitative descriptive method. The study was carried out in Kemranggen Village, Bruno District, Purworejo Re­gency, Central Java Province from January to March 2021. The informants of this research were the leaders and all parties involved and witnessed the events of Merti Desa activities in the village. Data was collected through observations, interviews and documentation. Data analysis was conducted through four stages, namely: data documen­tation, data reduction, data presentation, and drawing conclusions/ verification. Study findings indicated that the entire series of Merti Desa activities in Kemranggen Village built the harmony of the community through partici­pation, cooperation and mutual assistance regardless of differences in religion, ethnicity, race, social strata and profession. Keywords: Cultural Practice, Merti Desa, Harmony     ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan praktik tradisi Merti Desa di Desa Kemranggen, khususnya dalam membangun kerukunan masyarakat. Penelitian lapangan ini dilakukan dengan metode deskriptif kualitatif. Penelitian dilaksanakan di Desa Kemranggen, Kecamatan Bruno, Kabupaten Purworejo, Provinsi Jawa Tengah pada bulan Januari sampai Maret 2021. Informan penelitian ini adalah para pimpinan dan semua pihak yang terlibat dan menyaksikan langsung peristiwa kegiatan Merti Desa di desa tersebut. Pengumpulan data dilakukan melalui obser­vasi, wawancara dan dokumentasi. Analisis data dilakukan melalui empat tahapan, yaitu: dokumentasi data, reduksi data, penyajian data, dan pena­rikan kesimpulan/verifikasi. Temuan studi menunjukkan bahwa seluruh rangkaian kegiatan Merti Desa di Desa Kemranggen membangun keru­kunan masyarakat melalui partisipasi, kerjasama dan gotong royong tanpa membedakan agama, suku, ras, strata sosial dan profesi.  Kata Kunci: Laku Budayai, Merti Desa, Kerukunan Umat.
REFLEKSI NILAI ADAB DAN HUBUNGAN HORIZONTAL DALAM NASKAH BABAD AWAK SALIRA Isep Bayu Arisandi; Titin Nurhayati Ma’mun; Undang Ahmad Darsa
Jurnal Lektur Keagamaan Vol 19 No 2 (2021): Jurnal Lektur Keagamaan Vol. 19 No. 2 Tahun 2021
Publisher : Center for Research and Development of Religious Literature and Heritage, Agency for Research and Development and Training, Ministry of Religious Affairs of the Republic of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (455.719 KB) | DOI: 10.31291/jlka.v19i2.995

Abstract

ABSTRACT The value of moral affects the horizontal relationship that exists between humans. This is recorded in the ancient texts of the Islamic period as evidence of the influence of Islamic teachings that entered the archipelago. The disclosure of this moral value is an effort to "share" the heritage of the ancestors, as well as a reflection on the current conditions that are quite relevant. The Babad Awak Salira (BAS) manuscript, one of the written heritages in Tatar Sunda, contains very strong moral values. The problems revealed in this paper, namely; (1) the values ​​of moral contained in the text of the BAS manuscript; and (2) the effect of moral reflection in the horizontal relationship. This paper aims to reveal the values ​​of moral and their influence on horizontal relationships. This research is a literature research, descriptive analysis. Due to the fact that the object is an ancient text, a philological approach is used to study the BAS text. Seeing this, the relevance of the existence of values ​​in the ancient texts (which are time apart) is so eternal in didactic wraps. The existence of content values ​​can also be seen as a piece of advice and a "treasure" of inheritance in a written tradition in Tatar Sunda, in general in the archipelago. Disclosure of the value of the content of ancient manuscripts, can be seen as an effort to understand and "bridge" the times, considering that the medium of script is no longer conventional at this time. Keywords: Manuscript, Text BAS, Moral values, Moral reflection.   Nilai adab berpengaruh terhadap hubungan horizontal yang terjalin antarmanusia. Hal ini tercatat dalam naskah kuna periode Islam sebagai bukti pengaruh ajaran Islam yang masuk ke Nusantara. Pengungkapan nilai adab ini sebagai upaya “membagikan” warisan nenek moyang, juga sebagai refleksi atas kondisi zaman saat ini yang cukup relevan. Naskah Babad Awak Salira (BAS), salah satu warisan tulis yang ada di Tatar Sunda, mengandung nilai-nilai adab yang kuat. Masalah yang diungkap dalam tulisan ini, yaitu; (1) nilai adab yang ada di dalam teks naskah BAS; dan (2) pengaruh refleksi adab dalam hubungan horizontal. Tulisan ini bertujuan untuk mengungkap nilai-nilai adab dan pengaruhnya terhadap hubungan horizontal. Kajian berjenis studi pustaka, bersifat deskriptif analisis. Sehubungan bahwa objek adalah naskah kuna, digunakan pendekatan filologis untuk mengkaji naskah BAS. Melihat hal itu, relevansi keberadaan nilai dalam naskah kuna (yang berjarak zaman) begitu kekal dalam balutan didaktis. Keberadaan nilai kandungan juga dapat dipandang sebagai sebuah petuah dan “harta” warisan dalam sebuah tradisi tulis di Tatar Sunda, secara umum di Nusantara. Pengungkapan nilai kandungan naskah kuna dapat dilihat sebagai upaya memahamkan dan “menjembatani” zaman, mengingat medium aksara sudah tidak konven­sional lagi saat ini. Kata kunci: Naskah kuna, Teks BAS, Nilai Adab, Refleksi Adab.
Pengantar Redaksi dan Daftar Isi Redaksi, Dewan
Jurnal Lektur Keagamaan Vol 19 No 2 (2021): Jurnal Lektur Keagamaan Vol. 19 No. 2 Tahun 2021
Publisher : Center for Research and Development of Religious Literature and Heritage, Agency for Research and Development and Training, Ministry of Religious Affairs of the Republic of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (317.879 KB) | DOI: 10.31291/jlka.v19i2.1014

Abstract

ARAB-MANADO: JEJARING, KAPITALISME DAN IDENTITAS DI AWAL ABAD XX Muhammad Nur Ichsan Azis; Kholili Badriza; Aziz Aziz; Syahril Siddik; Amorisa Wiratri
Jurnal Lektur Keagamaan Vol 20 No 1 (2022): Jurnal Lektur Keagamaan Vol. 20 No. 1 Tahun 2022
Publisher : Center for Research and Development of Religious Literature and Heritage, Agency for Research and Development and Training, Ministry of Religious Affairs of the Republic of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (234.761 KB) | DOI: 10.31291/jlka.v20i1.1015

Abstract

ABSTRACT This paper aims to describe and analyze Arab Ethnic trading activities in Manado from 1899 to 1919 AD. The article employs a social science approach and historical methods to explore the networking activities, com­modities, and the formation of Arab identity in Manado. Nusantara experien­ced a turning point in maritime trading activities around the 19th century to the 20th century. The commerce network had implications for commercial ports, communities, and identity groups in several strategic coastal areas, especially from 1899 to 1919. In Manado, Arab traders played important roles in commodity activities, especially rice, coffee, copra, and other agri­cultural products. Some of these roles are: being intermediary traders, com­modity providers, Islamic preachers and educators in Manado and its surroun­dings. The modernization of Manado port in 1914 had affected the Manado Arab ethnic group. This situation urged the Arab change their orientation from econo­mics to education to maintain themselves and their identity. Keywords: Arab Ethnic, Trading Network, Commodities.   ABSTRAK Tulisan ini bertujuan mendeskripsikan dan menganalisis aktivitas niaga etnis Arab di Manado selama tahun 1899-1919. Dengan menggunakan pendekatan ilmu sosial dan metode sejarah, kajian ini menunjukkan aktivitas jejaring, komoditas, dan pembentukan identitas etnis Arab di Manado. Nusantara mengalami titik balik dalam aktivitas niaga maritim sekitar akhir abad ke-19 hingga abad ke-20. Jejaring niaga berimplikasi pada bandar-bandar niaga, komunitas, dan kelompok identitias di beberapa kawasan pesisir strategis khususnya pada tahun 1899-1919 M. Di Manado, kalangan pedagang Arab berperan dalam perdagangan komoditas terutama beras, kopi, dan kopra, hingga hasil bumi. Salah satu peran tersebut adalah sebagai pedagang peran­tara dan penyedia komoditas hingga menjadi kelompok penyebar dan pengajar Islam di Manado dan sekitarnya. Modernisasi pelabuhan pada tahun 1914 di Manado berimplikasi besar bagi kalangan etnis Arab Manado. Mereka kemu­dian mengubah orientasi dari ekonomi ke pendidikan untuk memper­tahankan diri dan identitas.  Kata kunci: Etnis Arab, Jejaring Niaga, Komoditas.
European Paper and Watermarks in the Qur'an Copies of Tubagus Mustofa Bakri Ratna Safitri; Priscila Fitriasih Limbong; Nazarudin
Jurnal Lektur Keagamaan Vol 20 No 1 (2022): Jurnal Lektur Keagamaan Vol. 20 No. 1 Tahun 2022
Publisher : Center for Research and Development of Religious Literature and Heritage, Agency for Research and Development and Training, Ministry of Religious Affairs of the Republic of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (902.186 KB) | DOI: 10.31291/jlka.v20i1.1016

Abstract

ABSTRACT A Quran copy written by Tubagus Mustofa Bakri (TMB) stored in the oldest mosque in Bogor, West Java, was claimed to have been existed since the 14th century and became a wide public attention. However, the use of European paper and the watermarks in this Quran copy could indicate the otherwise.  This study examines the use of European paper and watermarks in the Quran copy by TMB to confirm whether the reported time of publication (by the descendants of TMB) confirms with philological identifiers in the manuscript. This study employs a qualitative research design with descriptive analysis methods. Data were collected from direct observations in the field and interviews with key informants. The data were then analyzed using descriptive analysis method. Research finding indicates that there is information discrepancy regarding the time of Quran rewriting. Based on the analysis of the paper used, European paper only began to circulate in Nusantara around the 17th –18th century AD. The watermark in the Quran was also unique to the emblem produced between the 17th–18th centuries AD. The present study concludes that Quran copy made by Tubagus Mustofa Bakri was more likely copied between the 17–18th centuries, hence the claimed date of publication in the 14th century might not be accurate. With this finding, this study contributes in providing more accurate historical fact about Quran copy written by a prominent Islam preacher in West Java, Tubagus Mustofa Bakri.   Keyword: Quran, watermark, paper, European paper     ABSTRAK Salinan Al-Qur’an yang ditulis tangan oleh Tubagus Mustofa Bakri diketahui sebagai Al-Qur’an yang ada sejak abad ke-14. Namun, peng­gunaan kertas Eropa dan tanda air (watermark) dalam manuskrip tersebut mengindikasikan perbedaan waktu. Penelitian ini mengkaji penggunaan kertas Eropa dan cap kertas yang terdapat dalam Al-Qur’an salinan Tubagus Mustofa Bakri (disingkat TMB), untuk menjawab pertanyaan: Apa­­kah terdapat kesesuaian antara waktu pembuatan Al-Qur’an sebagai­ma­na disampaikan oleh keturunan TMB dengan informasi filologisnya (jenis kertas dan watermark)? Penelitian ini menggunakan desain pene­litian kuali­tatif dengan model analisis deskriptif. Data penelitian dikum­pulkan melalui pengamatan langsung di lapangan dan wawancara terha­dap narasumber. Data kemudian dianalisis dengan menggunakan metode analisis deskriptif. Data analisis menunjukkan adanya ketidak­sesuaian data terkait waktu penyalinan Al-Quran. Data filologis menunjukkab bahwa kertas yang digunakan Al-Qur’an ini adalah kertas Eropa yang mulai ber­edar di Nusantara sekitar abad ke 17–18 Masehi. Selain itu, konversi cap kertas yang terdapat pada kertas Al-Qur’an juga memperli­hatkan bahwa cap kertas tersebut merupakan ciri khas di abad ke 17–18 Masehi. Pene­litian menyimpulkan bahwa Al-Qur’an salinan Tubagus Mustofa Bakri diperkirakan ditulis pada sekitar abad ke-17–18 Masehi, bukan pada abad ke-14 Masehi sebagaimana informasi anak keturunan TMB. Dengan demi­kian, penelitian ini meluruskan informasi yang berkembang di masyarakat terkait fakta sejarah al-Qur’an yang disalin oleh penyebar Islam di Jawa Barat ini.  Kata kunci: Al-Quran, Cap Kertas, Kertas, Kertas Eropa
INTERPRETATION ON THE TEXT OF APOSTOLIC TRADITION ARTICLE 41 AND THE IMPLICATION FOR TOGETHERNESS Ricky Pramono Hasibuan; Ricky Pramono Hasibuan; Tony Wiyaret Fangidae
Jurnal Lektur Keagamaan Vol 20 No 1 (2022): Jurnal Lektur Keagamaan Vol. 20 No. 1 Tahun 2022
Publisher : Center for Research and Development of Religious Literature and Heritage, Agency for Research and Development and Training, Ministry of Religious Affairs of the Republic of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (460.789 KB) | DOI: 10.31291/jlka.v20i1.1018

Abstract

ABSTRACT   This article interprets a text of The Apostolic Tradition, a 3rd century Church Order containing rules for ordination, communion, cate­chism and baptism, as well as daily prayers. Studies of this ancient text were still very few in Indonesia, and mostly concerned with the part of the communion. In this article, the author will examine daily prayer, speci­fically the text of Apostolic Tradition 41:1-4 on the dawn prayer. The passage instructed that the congregation must gather every morning to listen to the teachings and perform communal prayer. This research star­ted from fact that there were few daily prayer celebrations in Indonesian churches, especially communal morning prayer. This study employed qualitative study design through literature studies and hermeneutics. The author argues that the communal dawn prayer in the Apostolic Tradition is relevant to be developed in Indonesian context. Keywords: dawn prayer, congregation, Apostolic Tradition   ABSTRAK Artikel ini akan mengulas tentang The Apostolic Tradition atau Tradisi Apostolik, sebuah Tata Gereja Kuno abad ketiga yang berisi aturan tentang penahbisan, perjamuan, katekisasi dan baptisan, serta ibadah harian. Studi tentang teks kuno ini masih sangat minim di Indonesia, dan kajian-kajian seputar Tradisi Apostolik lebih banyak mem­bahas tentang perjamuan. Dalam artikel ini, penulis akan membahas tentang ibadah harian, secara khusus teks Tradisi Apostolik 41:1-4 tentang doa fajar. Di dalam teks tersebut diinstruksikan agar umat setiap subuh bersekutu untuk mendengarkan pengajaran dan melaksanakan doa berje­ma­ah. Studi ini be­rang­kat dari fenomena minimnya ibadah harian di Indonesia, apalagi doa pagi berjamaah. Metode penulisan artikel ini menggunakan kaidah kuali­tataif, melalui studi literatur dan hermeneutika. Penulis berargumen bahwa keberjamaahan doa fajar dalam Tradisi Apos­tolik relevan untuk dikem­bangkan dalam ibadah harian di Indonesia.  Kata kunci: Doa Fajar, Keberjemaahan, Tradisi Apostolik
TOLERANSI ANTAR UMAT BERAGAMA BERBASIS KEARIPAN LOKAL DI PULAU LOMBOK NUSA TENGGARA BARAT: Kata Kunci: Toleransi, Umat Beragama, Kearipan Lokal. Abdurrazak; Azhari, Sukron; Wanda, Putra; Ambakti, Lalu Suparman; Humamurrizqi
Jurnal Lektur Keagamaan Vol 20 No 1 (2022): Jurnal Lektur Keagamaan Vol. 20 No. 1 Tahun 2022
Publisher : Center for Research and Development of Religious Literature and Heritage, Agency for Research and Development and Training, Ministry of Religious Affairs of the Republic of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (301.229 KB) | DOI: 10.31291/jlka.v20i1.1027

Abstract

ABSTRACT This article examines religious tolerance based on local wisdom of the Lombok people with various beliefs, cultures, traditions, ethnicities, and religions. The people of Lombok are known to highly uphold religious tolerance through the principles of existing local wisdom. This is done in order to build a harmonious society and avoid conflicts between commu­nities. By employing descriptive qualitative design, this study collects primary data in the form of observations of people's daily lives, especially in the aspect of tolerance practice based on local wisdom by the com­munity. Secondary data is obtained from articles, newspapers, and websites related to the practice of religious tolerance in Lombok. The study finds that religious tolerance in Lombok is presented in the celebration of religious holidays, where people of other religions are included in the celebration, for example: Eid al-Fitr, Vesak, and others. The Muslim community of Lombok invite their non-Muslim neighbors to join the celebration of the halal bihalal event, the Hindus also invite their neighbors to participate in the ogoh-ogoh parade which is part of the celebration of their holiday, Christians also invite their neighbors to join in the celebration of Christmas. Analysis of the data concludes that religious tolerance based on local wisdom of the Lombok people is constructed on three aspects, namely solidarity, mutual cooperation and deliberation. Keywords: Religious Diversity, Tolerance, Local Wisdom.    ABSTRAK Artikel ini mengkaji toleransi beragama berbasis kearifan lokal masyarakat Lombok dengan ragam kepercayan, budaya, tradisi, suku, dan agama. Masyarakat Lombok dikenal sangat menjujung tinggi tole­ransi beragama melalui prinsip kearifan lokal yang ada. Hal ini dilakukan dalam rangka membentuk masya­rakat yang harmonis dan menghindari konflik antar masyarakat. Dengan menggunakan metode kualitatif deskriptif, penelitian ini menggunakan data primer berupa pengamatan kehidupan masyarakat sehari-hari, terutama pada aspek praktik toleransi berbasis kearifan lokal itu dite­rap­­kan oleh masyarakat. Data sekunder diperoleh dari artikel, koran, web, dan lainya yang terkait dengan praktik toleransi beragama di Lombok. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa toleransi ber­aga­ma di Lombok dapat disaksikan pada perayaan hari besar keagama­an, dimana umat agama lain diikutsertakan dalam perayaannya, missal: Idul Fitri, Waisak, dan lainnya. Masyarakat Muslim Lombok tidak segan mengundang tetangganya yang non-muslim untuk ikut memeriah­kan acara halal bihalalnya, umat Hindu juga mengundang tetangganya untuk ikut memeriahkan pawai ogoh-ogoh yang menjadi bagian perayaan hari besar­nya, umat Kristen juga mengun­dang tetangganya untuk ikut memeriahkan acara natalan mereka. Berda­sar­kan pada paparan tersebut, toleransi ber­aga­ma berbasis kearifan lokal ma­syarakat Lombok dibentuk berdasarkan tiga aspek, yakni solidaritas, gotong royong dan musyawarah.  Kata Kunci: Keragaman Keagamaan, Toleransi, Kearifan Lokal.
TRACES OF HADRAMAUT’S INTELECTUALISM IN THE 20THCENTURY IN NUSANTARA ANDTHE ROLE OF ITS PESANTREN ALUMNI Fuadi, Moh. Ashif; Kusairi, Latif; Rohmatulloh , Dawam Multazamy; Perkasa, Adrian
Jurnal Lektur Keagamaan Vol 20 No 1 (2022): Jurnal Lektur Keagamaan Vol. 20 No. 1 Tahun 2022
Publisher : Center for Research and Development of Religious Literature and Heritage, Agency for Research and Development and Training, Ministry of Religious Affairs of the Republic of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (411.185 KB) | DOI: 10.31291/jlka.v20i1.1036

Abstract

ABSTRACT This research discusses the traces of Hadramaut intellectualism through the relationship of the scholarlygenealogy of Hadramaut ulamawith the 20thcentury Nusantara ulama. In addition, it analyzes thetypo-logy of Hadramaut Pesantrens and the role oftheir alumni in developing the da’wah movement in Indonesia. This research is a literature reviewstudythrough a library research approach, focusing onbooks, articles, and online news, strengthenedby interviews and field observations. This research foundthat: first, theHadramaut Pesantrenis connected through the sending of Indonesian students to Darul Musthafa, Rubath Tarim, and al-Ahgaff University;the three institutions show an inclusive character that is still suitable to be applied in Indonesia. Second, the influence of Hadramaut intellectualism can be seen through the relationship betweenthe scholarlygenealogy of Hadramaut ulamaand Nusantara ulamain the book of safinat al-najā, sulām al-taufīq, muqoddimatu al-hadromiyyah, all of which became the reference books of Nusantara ulamain compiling sharah or explanations of the book of kāsyifat al-sajā, faidh al-hijā 'alā naili al-rojā, nadzam nailul roja, kasyful hijāfī tarjamati safīnat al-najā, tanwīru al-hijā fī nadzmi safīnat al-najā,i'ā nat al-rafīq 'alā nadzmi sulām al-taufīq, inqōdzu al-ghorīq fī nadzmi sulām al-taufīq, mirqōtu al-shu'ūdi al-tashdīq fī syarhi sulām al-taufīq and mauhibatu dzi al-fadhli al-hasyīyati 'alā mukhtashor afādhol. Third, the influence of Hadramaut alumni, especially the alawiyyin circles, still has a fairly strong proselytizing influence in Indonesia after the first batch of 30 students in 1998 Darul Musthafa returned to Indonesia and developed da'wah by establishing taklim assemblies or Pesantrens. Keywords: Hadramaut, Intellectualism, Nusantara, Pesantren   ABSTRAK Penelitian ini membahas tentang jejak intelektualismeHadramautmelalui hubungan genealogi keilmuan ulama Hadramaut denganulama NusantaraAbad ke-20, dan juga menganalisis tipologipesantren Hadra-maut dan peranan alumninyadalam mengembangkan gerakan dakwah di Indonesia. Penelitian ini menggunakanpendekatanstudi pustaka (library research) melalui buku, artikel, dan berita online,diperkuat dengan wawancara dan penelusuran lapangan(observasi). Penelitian ini meng-hasilkan kesimpulan bahwa:pertama, jaringan pesantren Hadramaut ter-hubung melalui pengiriman santri Indonesia ke Darul Musthafa, Rubath Tarim, dan Universitas al-Ahgaff yang ketiga lembaga tersebut menunjuk-kan karakter inklusif yang masih cocok diterapkan di Indonesia. Kedua,pengaruhintelektualisme Hadramaut dapat dilihat melaluihubungan genealogi keilmuan ulama Hadramaut dan ulama Nusantaradalamkitab safinatal-najā,sulām al-taufīq, muqoddimatu al-hadromiyyah,yang se-muanya menjadi kitab rujukan ulama Nusantara dalam menyusun syarah atau penjelasan kitabkāsyifat al-sajā, faidh al-hijā ‘alā naili al-rojā, nadzam nailul roja, kasyful hijā fī tarjamati safīnat al-najā, tanwīru al-hijā fī nadzmi safīnat al-najā,i’ānat al-rafīq ‘alā nadzmi sulām al-taufīq, inqōdzu al-ghorīq fī nadzmi sulām al-taufīq, mirqōtu al-shu’ūdi al-tashdīq fī syarhi sulām al-taufīqdan mauhibatu dzi al-fadhli al-hasyīyati ‘alā Mukhtashor Bafādhol. Ketiga, pengaruh alumni Hadramaut terutama kalangan alawiyyinsampai saat ini masih memiliki pengaruh dakwah yang cukup kuat di Indonesia setelah 30 santri angkatan pertama tahun 1998Darul Musthafapulang ke Indonesiadan mengembangkan dakwah dengan mendirikan majelis taklim atau pesantren  Kata kunci: Hadramaut, Intelektualisme, Nusantara, Pesantren

Filter by Year

2012 2025