cover
Contact Name
Mulyanto
Contact Email
widyaparwa@gmail.com
Phone
+6281243805661
Journal Mail Official
widyaparwa@gmail.com
Editorial Address
https://widyaparwa.kemdikbud.go.id/index.php/widyaparwa/about/editorialTeam
Location
Kota yogyakarta,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Widyaparwa
Jurnal Widyaparwa memublikasi artikel hasil penelitian, juga gagasan ilmiah penelitian (prapenelitian) yang terkait dengan isu-isu di bidang kebahasaan dan kesastraan Indonesia dan daerah.
Articles 14 Documents
Search results for , issue "Vol 49, No 1 (2021)" : 14 Documents clear
MAKNA PEPINDHAN MANUSIA DALAM PANYANDRA UPACARA PANGGIH PENGANTIN ADAT JAWA RAGAM SURAKARTA Anggyta Aulia Rahma Nardilla
Widyaparwa Vol 49, No 1 (2021)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (236.155 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v49i1.680

Abstract

This research discusses the types and meanings of human's pepindhan from  Javanese panyandra wedding ceremony Surakarta’s style in Rejoso Village, Rejoso District, Nganjuk Regency, East Java. The types and the meaning’s theory from pepindhan manusia  of Javanese panyandra wedding ceremony Surakarta’s style in  Rejoso Village in this research comes from Padmosoekotjo, Aloysius, and Halley. This qualitative descriptive study using a stylistic approach method. The object of this research is the utterances from Mr. Sujarwo and Mr. Wasito's speech as a famous Master of Ceremony (MC) in Rejoso Village. Data collected through the observations and analyzed by Miles and Huberman’s analysis. Data’s step analysis from this research through data reduction, presentation data, and verification analysis. Data validity is attempted through triangulation and validity checking. The results of this research indicated that the types of human’s pepindhan were found in the Javanese panyandra wedding ceremony Surakarta’s style in  Rejoso Village, Rejoso District,  Nganjuk Regency, East are similes and metaphors. The meaning of human’s pepindhan in this research means perfection, luxury, glorious, and beauty from the description of the situation, bridesmaids, conditions,  and the good prayers for the household of the bride and groom.Penelitian ini membahas tentang jenis dan makna pepindhan manusia  dalam panyandra upacara panggih pengantin adat Jawa ragam Surakarta di Desa Rejoso, Nganjuk, Jawa Timur. Jenis dan makna pepindhan manusia dalam panyandra upacara panggih pengantin adat Jawa ragam Surakarta di Desa Rejoso pada penelitian ini menggunakan teori dari Padmosoekotjo, Aloysius, dan Halley. Penelitian deskriptif kualitatif ini menggunakan metode pendekatan stilistika. Objek kajian dalam penelitian ini ialah tuturan dari pewara terkenal di Desa Rejoso yaitu Bapak Sujarwo dan Bapak Wasito. Data pada penelitian ini dikumpulkan melalui observasi lapangan dan dianalisis menggunakan analisis data Miles dan Huberman. Tahapan analisis data penelitian ini dilakukan dengan tahap analisis reduksi data, penyajian data, dan verifikasi. Keabsahan data pada penelitian ini menggunakan triangulasi data dan pemeriksaan validitas oleh ahli bidang. Hasil dari penelitian ini menunjukan adanya jenis pepindhan manusia yang ditemukan pada panyandra upacara panggih pengantin  adat Jawa ragam  Surakarta di Desa berupa simile dan metafora. Makna dari pepindhan manusia pada penelitian ini berarti kesempurnan, kemewahan, kesakralan, dan keindahan dari penggambaran keadaan pada  resepsi pernikahan, pengiring pengantin, kondisi acara, dan doa yang baik untuk rumah tangga dari  pengantin.
TREN PENGGUNAAN BAHASA ASING PADA NAMA DIRI MASYARAKAT JAWA Prameswari Dyah Gayatri Budi Anggraeni Ilyas; Teguh Setiawan
Widyaparwa Vol 49, No 1 (2021)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (225.103 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v49i1.765

Abstract

The word choice of a name is considered important for every person. A proper name is not only used as a nickname but also as hope from the name giver. The use of proper names is motivated by two factors, socio-cultural and the knowledge of the parents. Ethnically, Javanese people give the name for their child by using an ethnic name. However, such a phenomenon has shifted. The existence of a new trend in naming makes young modern families started to leave the Javanese ethnical name. The young family tends to choose a foreign name as their child’s name. This research is conducted to figure out the shift from Javanese people’s names in 2000 to 2020 as well as specified identities found. The aim of this research is to explain the view of Javanese people towards modernization and globalization in choosing names. This research used a qualitative approach. The data obtained from Javanese people’s names are from Family Card and Information System and Village Connectivity (SIKDES). The result of this research is Javanese people names who were born in 2000 to 2020 tend to use English and Arabic words. The researcher also found the existence of a nomenclature pattern that is divided into religion, birth markers, admired characters, family names, and hopes.Pemilihan nama diri dianggap sangat penting bagi setiap orang. Nama diri tidak hanya digunakan untuk sapaan, tetapi juga sebagai harapan dari pemberi nama. Penggunaan nama diri dilatarbelakangi oleh adanya faktor sosial budaya dan wawasan orang tua. Secara etnis masyarakat Jawa memberi nama anaknya dengan menggunakan kosakata bahasa Jawa. Fenomena tersebut mengalami pergeseran, adanya tren baru dalam pemberian nama diri membuat keluarga muda modern mulai meninggalkan kosakata bahasa Jawa dalam pemberian nama. Keluarga muda cenderung memilih kosakata bahasa asing untuk pemberian nama diri. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui adanya pergeseran nama diri masyarakat Jawa di tahun 2000 hingga 2020, dan identitas apa saja yang ditemukan. Tulisan ini bertujuan untuk menjelaskan bagaimana cara pandang masyarakat Jawa terhadap modernisasi dan globalisasi dalam pemilihan kosakata nama diri. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Data diperoleh dari nama masyarakat Jawa pada kartu keluarga dan Sistem Informasi dan Koneksitas Desa (SIKDES). Hasil penelitian ini adalah nama diri masyarakat Jawa yang lahir pada tahun 2000 hingga 2020 cenderung menggunakan kosakata bahasa Inggris dan bahasa Arab. Peneliti juga menemukan adanya bentuk tata nama yang terbagi menjadi agama, penanda kelahiran, karakter yang dikagumi, nama keluarga, dan harapan.
STRUKTUR SEMANTIS VERBA AKTIVITAS GIGI DALAM BAHASA JAWA: KAJIAN METABAHASA SEMANTIK ALAMI Ema Rahardian
Widyaparwa Vol 49, No 1 (2021)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (256.065 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v49i1.783

Abstract

Javanese teeth activity is interested to be analyzed. It is because the Javanese language has various lexicons to express teeth activity. This paper aims to explore the semantic structure of Javanese teeth activity by using the theory of natural semantic metalanguage (NSM). The data used in this paper are taken from The Bausastra Jawa dictionary as well as data created by the researcher as a native Javanese speaker. The technique of data analysis in this study consists of four steps, namely determining the semantic primitive, deriving meaning, determining polysemy, dan paraphrasing the meaning. The result shows that Javanese teeth activity is realized into 23 lexicons, namely, mamah, ngilut, ngenyoh, nggayem, ngemah, nginang, nggondol, nyakot/nyokot, nggeget, ngeret, ngerot, nyathèk, ngerah, nyekit, nyisil, ngrokot, ngrikit, mbrakot, nglethak, nglethuk, nglethus, ngremus, and nglethik. Its semantic prime is melakukan/terjadi and its semantic component are mengunyah, membawa, menggigit, melepaskan, and mematahkan which is mapped based on the patient and instrumental relation.Verba aktivitas gigi dalam bahasa Jawa merupakan salah satu objek penelitian yang menarik untuk dikaji. Hal itu karena bahasa Jawa memiliki berbagai leksikon untuk mengungkapkan aktivitas gigi. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif yang bertujuan untuk mendeskripsikan struktur semantis verba aktivitas gigi dalam bahasa Jawa dengan menggunakan teori metabahasa semantik alami. Data penelitian ini diperoleh dari kamus Bausastra Jawa dan data yang dikreasikan oleh peneliti sebagai penutur asli bahasa Jawa. Teknik analisis data dalam penelitian ini terdiri atas empat langkah, yaitu menentukan makna asali, menderivasi makna, menentukan polisemi, dan memarafrase makna. Hasil penelitian menunjukkan bahwa verba aktivitas gigi direalisasikan dalam 23 leksikon, yaitu mamah, ngilut, ngenyoh, nggayem, ngemah, nginang, nggondol, nyakot/nyokot, nggeget, ngeret, ngerot, nyathèk, ngerah, nyekit, nyisil, ngrokot, ngrikit, mbrakot, nglethak, nglethuk, nglethus, ngremus, dan nglethik. Leksikon-leksikon itu memiliki makna asali melakukan/terjadi dengan komponen semantis mengunyah, membawa, menggigit, melepaskan, dan mematahkan. Komponen semantis itu dipetakan berdasarkan hubungan pasien dan instrumen. 
PERBANDINGAN ASPEK LINGKUNGAN PADA CERITA RAKYAT “PEMUDA BERSERULING AJAIB” JERMAN DENGAN “DEWI LIUNG INDUNG BUNGA” KALIMANTAN SELATAN Muhammad Yusuf Saputro
Widyaparwa Vol 49, No 1 (2021)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (199.46 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v49i1.529

Abstract

This study aims to determine the comparison of environmental aspects in the German folklore "The man with the Magic Flute" with “Dewi Liung Indung Bunga” folklore from South Borneo/South Kalimantan. The research approach is a qualitative description with comparative literature study data analysis methods as well as with literary ecology theory. This research proves that the folklore of the two countries has similarities and differences from ecological studies. The results of the study as a representation of nature depicting tropical forests in the story from South Kalimantan and in urban areas in the story from Germany. The local wisdom value of the story from Kalimantan illustrates the belief in giving worship and sacrifice to nature, on the other hand, the story from Germany depicts people who like littering. Examining the heroic elements of the story from Kalimantan was represented by a woman named Dewi Liung Indung Bunga who dared to sacrifice herself for nature and in the story from Germany was represented by a male figure with his power clean the city from rat plague. An analysis of the apocalyptic narrative of a story from Kalimantan shows that humans (Datu Beritau) can receive revelations from God and are vigorous with supernatural nuances and stories from Germany with magical powers that emerge from the sound of flutes that can deceive humans and animals. The research shows that the elements of the apocalyptic environment in both folklore have in common the absence of human consciousness to utilize and protect the environment. This shows that a literary work is part of the natural environment (ecology) of the local community.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan aspek lingkungan pada cerita rakyat “Pemuda Berseruling Ajaib” Jerman dengan cerita rakyat “Dewi Liung Indung Bunga” dari Kalimantan Selatan. Pendekatan penelitian ini adalah deskripsi kualitatif dengan metode analisis data kajian sastra banding serta dengan teori ekologi sastra. Penelitian ini membuktikan bahwa cerita rakyat dari kedua negara tersebut terdapat kesamaan dan perbedaan dari kajian ekologi. Hasil penelitian sebagai beriku representasi alam yang menggambarkan hutan tropis pada cerita dari Kalimantan Selatan dan wilayah kota dalam perbukitan pada cerita dari Jerman. Nilai kearifan lokal cerita dari Kalimantan menggambarkan kepercayaan memberikan sesembahan dan pengorbanan untuk alam dan cerita dari Jerman sebaliknya menggambarkan penduduk yang suka membuang sampah sembarangan. Telaah unsur kepahlawanan cerita dari Kalimantan diwakili oleh perempuan yaitu Dewi Liung Indung Bunga yang berani mengorbankan dirinya untuk alam dan cerita dari Jerman diwakili oleh tokoh laki-laki dengan kekuatannya dapat membersihkan kota dari wabah tikus. Telaah narasi apokaliptik cerita dari Kalimantan menunjukkan bahwa manusia (Datu Beritau) dapat menerima wahyu dari Tuhan dan kental dengan nuansa supranatural dan cerita dari Jerman kekuatan ajaib yang muncul dari suara seruling yang dapat memperdaya manusia dan hewan. Telaah unsur lingkungan apokaliptik dalam kedua cerita rakyat memiliki kesamaan yaitu tidak adanya kesadaran manusia untuk memanfaatkan dan menjaga lingkungan. Hal tersebut menunjukkan bahwa sebuah karya sastra bagian dari lingkungan alam (ekologi) masyarakat setempat.
PEMANFAATAN MEDIA LIFT THE FLAP BOOK UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN MEMBACA Yuli Triyanto; Enny Zubaidah
Widyaparwa Vol 49, No 1 (2021)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (261.832 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v49i1.627

Abstract

This research is about the reading skills of the grade I students and the method is classroom action research by doing classroom study using lift the flap book media. The purpose of the research is to improve the reading skills of the grade I students of SD Negeri Puren Depok Sleman using the lift the flap book media.  Learning to read in grade I SD Negeri Puren is still not in accordance with the expected results.  Evidenced by the results of reading skills, there are still many who have not reached the complete score. The results showed that the use of lift the flap book media can improve student’s reading skills.  This can be seen from the increase in the learning process on each indicator of reading ability.  Students are increasingly interested in learning, and teachers have used other media besides books from school.  The process of learning to read has increased, namely that the average score increase from cycle 1 the score is 76 and in cycle 2 the score is 83. Students whose average scores are above the average increase from cycle 1 by 46.4% and cycle 2 as much as 85%.Penelitian yang dilakukan ini tentang kemampuan membaca siswa kelas 1, dan metode yang digunakan adalah penelitian tindakan kelas (classroom action research) dengan melakukan pembelajaran didalam kelas menggunakan media lift the flap book. Tujuan penelitian adalah kemampuan membaca siswa kelas 1 SD Negeri Puren Depok meningkat dengan menggunakan bantuan media lift the flap book. Kegiatan belajar mengajar membaca di SD Negeri Puren kelas I hasilnya masih belum sesuai dengan yang diharapkan. Terbukti dengan kemampuan membaca masih banyak yang yang nilainya belum sesuai yang diharapkan. Hasil penelitian kemampuan membaca meningkat setelah menggunakan media lift the flap book hal ini dapat diketahui meningkatnya pada proses pembelajaran pada setiap indikator kemampuan membaca. Siswa semakin tertarik mengikuti pembelajaran, dan guru sudah menggunakan media lain selain buku dari sekolah. Proses pembelajaran membaca mengalami peningkatan yaitu nilai rata-rata meningkat dari siklus 1 nilainya 76 dan siklus 2 nilainya 83. Siswa yang nilainya diatas rata-rata meningkat dari siklus 1 sebanyak 46,4% dan siklus 2 sebanyak 85%.
TRANSFORMASI CERITA ENDANG RARA TOMPE DALAM PERTUNJUKAN KETHEK OGLENG PACITAN Arif Mustofa; Agoes Hendriyanto; Bakti Sutopo
Widyaparwa Vol 49, No 1 (2021)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (212.659 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v49i1.294

Abstract

 This research aims to: 1) describe the plot of Endang Roro Tompe story and Kethek Ogleng performance art; 2) describe the transformation process of Endang Roro Tompe story into Kethek Ogleng performance art. The data were collected by these four steps: 1) observing Kethek Ogleng performance art, 2) recording the video and audio of Endang Rara Tompe’s story ; 3) describing the video recording based on the performance and transcribing the audio recording of Endang Roro Tompe. The result shows that Kethek Ogleng performance art is influenced by the plot of Panji Endang Rara Tompe. However, in the whole story, the performance only takes several scenes: The monkey comes, the monkey meets Endang Rara Tompe, the monkey falls in love with Endang Rara Tompe, and the monkey leaves back to the kingdom. There are two changing patterns from Endang Rara Tompe’s hypogram into Kethek Ogleng performance art. The first change deals with the cut of scenes. Kethek Ogleng performance art only explains the end of Endang Rara Tompe’s story. The story of Jenggala Kingdom is omitted in Kethek Ogleng performance art. The second is changing the main character. The author changes the main character from Dewi Sekartaji into Panji Asmarabangun or the monkey.Penelitian ini bertujuan untuk: 1) menghasilkan deskripsi pola alur Cerita Endang Rara Tompe dan pertunjukan Kethek Ogleng; 2)menghasilkan deskripsi proses transformasi dari Cerita Endang Rara Tompe ke pertunjukan Kethek Ogleng. Data dikumpulkan dengan cara: 1) pengamatan pertunjukan Kethek Ogleng; 2) perekaman  video pertunjukan Kethek Ogleng dan perekaman audio cerita Endang Rara Tompe; 3) pendeskripsian struktur pertunjukan pertunjukan; pentranskripsian hasil rekaman cerita Endang Rara Tompe. Analisi data dilakukan dengan cara 1) menyusun struktur pertunjukan (visual) Kethek Ogleng; 2) menyusun struktur cerita (lisan) Endang Rara Tompe; 3) membandingkan struktur pertunjukan (visual) Kethek Ogleng dengan struktur cerita (lisan) Endang Rara Tompe; 4) menganalisis pola perbedaan dan persamaan antara bentuk lisan dan bentuk visual. Hasil analisis menunjukkan bahwa struktur pertunjukan Kethek Ogleng dipengaruhi oleh pola alur cerita Panji Endang Rara Tompe. Namun, secara keseluruhan kisah, hanya diambil beberapa pertistiwa saja yaitu: kemunculan kera, pertemuan kera dengan Endang Rara Tompe, adegan jatuh cinta, dan adegan kembali ke kerajaan. Terdapat dua pola pemindahan dari hipogram Cerita Endang Rara Tompe ke pertunjukan Kethek Ogleng. Pertama yaitu pemotongan Adegan. Pertunjukan Kethek Ogleng hanya berisi bagian akhir dari  cerita Endang Rara Tompe. Adegan kerajaan Jenggala tidak dimunculkan dalam pertujukan Kethek Ogleng. Keduaya itu alih tokoh utama. Pengarang mengubah tokoh utama dari Dewi Sekartaji menjadi Panji Asmarabangun atau tokoh kera. 
PHONETIC GRAMMAR OF PLOSIVES SOUNDS SPOKEN BY SUNDANESE AND JAVANESE Yusup Irawan; NFN Riani
Widyaparwa Vol 49, No 1 (2021)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (380.46 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v49i1.802

Abstract

This study aims to identify “the phonetic grammar" of voiced plosive sounds [b, d, and g] and voiceless [p, t, and k] at the initial position of the words uttered by two different groups of native speakers: Sundanese and Java. These sounds are phonemically the same phonemes in Sundanese, Javanese and Indonesian. The findings show that the two groups of native speakers realize different and the same VOT (Voice Onset Time) pattern of popping sounds. For sounds voiced plosives or lenis plosive [b, d, and g], Sundanese speakers realize it with a negative VOT pattern, while Javanese speakers do it with a positive VOT pattern. Then, voiced plosive sounds uttered by Javanese speakers tend to be "aspirated" or breathy. For the voiceless plosives or fortis plosives [p, t, and k], the two groups of speakers pronounce them in the same pattern, namely the positive VOT pattern, and even tend to have zero VOT. The VOT patterns reflect aspirated voiced and voiceless phonation categories for Javanese and voiced and voiceless for Sundanese.Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi gramatika fonetik “phonetic grammar” bunyi-bunyi letupan bersuara [b, d, dan g] dan tak bersuara [p,t, dan k]  pada posisi awal kata yang diucapkan oleh dua kelompok penutur jati yang  berbeda: Sunda dan Jawa. Bunyi-bunyi itu secara fonemik merupakan fonem yang sama dalam bahasa Sunda, Jawa, dan Indonesia. Temuan dalam penelitian ini adalah kedua kelompok  penutur jati merealisasikan pola VOT (voice onset time) bunyi letupan yang berbeda dan sama. Untuk bunyi-bunyi bersuara plosive lenis  [b, d, dan g] penutur bahasa Sunda merealisasikannya dengan pola VOT negatif, sedangkan penutur bahasa Jawa merealisasikannya dengan pola VOT positif. Kemudian bunyi-bunyi letupan bersuara yang diucapkan oleh penutur bahasa Jawa cenderung “beraspirasi” atau breathy. Pada bunyi-bunyi takbersuara atau plosive fortis  [p, t, dan k], kedua kelompok penutur mengucapkannya dengan pola yang sama, yakni pola VOT positif bahkan cenderung ber-VOT nol atau zero. Pola-pola VOT itu merefleksikan kategori fonasi bersuara breathy dan takbesuara untuk bahasa Jawa dan bersuara dan tak bersuara untuk bahasa Sunda.
TOPONIMI KECAMATAN DI KABUPATEN JEMBER Wardatul Jannah; Nina Sulistyowati; Arum Jayanti
Widyaparwa Vol 49, No 1 (2021)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (203.001 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v49i1.774

Abstract

This research discusses the linguistic forms, meanings, and socio-cultural aspects of sub-district toponymy in Jember. The study is qualitative research. The data were the subdistrict names in Jember taken from the official website of Jember Regency. The data were classified based on their lingual units. Furthermore, the sub-district names in Jember were analyzed with semantic analysis. The last analysis was the identification of the socio-cultural aspects behind the sub-district names. There are 3 results of sub-district names analysis in Jember: (1) the form of linguistic units of the sub-district names in Jember are monomorphemic words, polymorphemic words (affixation, compound words, and affixed compound words), and a lexeme consisting of two morphemes, (2) the meanings and categorizations of the sub-district names in Jember are based on the manifestation aspects in the form of water, the appearance of the earth, flora, and fauna, (3) the socio-cultural aspects behind subdistrict naming in Jember are cultural and habitual patterns, prayers and hopes, and folklore. Penelitian ini membahas bentuk kebahasaan, makna, dan kategori toponimi kecamatan di Kabupaten Jember. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif. Data pada penelitian ini adalah nama-nama kecamatan di Kabupaten Jember yang bersumber dari laman resmi Kabupaten Jember. Data berupa nama-nama kecamatan kemudian diklasifikasikan berdasarkan satuan lingualnya. Selanjutnya, dilakukan analisis semantis pada nama-nama kecamatan di Kabupaten Jember. Analisis yang terakhir adalah pengategorian toponimi berdasarkan aspek-aspek yang melatarbelakangi penamaan kecamatan tersebut. Dari data nama kecamatan di Kabupaten Jember ditemukan dua hal: (1) bentuk satuan kebahasaan nama kecamatan di Kabupaten Jember, yaitu berupa kata monomorfemis, kata polimorfemis (afiksasi, kata majemuk, kata majemuk berafiks) dan leksem yang terdiri dari dua morfem), (2) makna dan kategorisasi nama kecamatan di Kabupaten Jember yang didasarkan pada aspek-aspeknya, yaitu aspek perwujudan berupa wujud air, rupa bumi, flora, fauna dan aspek sosial budaya yaitu, pola budaya dan kebiasaan, doa dan harapan, serta cerita masyarakat.
NILAI PENDIDIKAN KARAKTER PEDULI LINGKUNGAN NOVEL SAWITRI DAN TUJUH POHON KELAHIRAN KARYA MASHDAR ZAINAL Afry Adi Chandra; Herman J. Waluyo; Nugraheni Eko Wardani
Widyaparwa Vol 49, No 1 (2021)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (217.536 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v49i1.304

Abstract

This study aims to discuss environmental care character education contained in the novel Sawitri dan Tujuh Pohon Kelahiran by Mashdar Zainal. Attitude to protect the environment is part of the manifestation of human gratitude to God. It is also a reflection of the value of character education. This research is descriptive qualitative research. The main data source in this study, namely the quoted text contained in the novel of Sawitri dan Tujuh Pohon Kelahiran relating to character education care about the environment. The data validity technique uses the triangulation of methods and data sources. Content analysis techniques are used as a means of collecting data. The low concern of students for environmental sustainability is one of the factors threatening the survival of living things in the future. Internalization of the value of character education about the environment is important to instill in students. Based on the research conducted, it is known that the novel Sawitri dan Tujuh Pohon Kelahiran by Mashdar Zainal contain tangible environmental character education, (1) compassion towards the environment; (2) equality of women's rights in managing the environment; and (3) educating the importance of protecting the environment.Penelitian ini bertujuan untuk membahas pendidikan karakter peduli lingkungan yang terdapat di novel Sawitri dan Tujuh Pohon Kelahiran karya Mashdar Zainal. Sikap menjaga lingkungan adalah bagian dari wujud rasa syukur manusia kepada Tuhan. Hal tersebut juga merupakan cerminan dari nilai pendidikan karakter. Penelitian ini adalah jenis penelitian kualitatif deskriptif. Sumber data utama dalam penelitian ini, yaitu kutipan teks yang terdapat di novel Sawitri dan Tujuh Pohon Kelahiran yang berkaitan dengan pendidikan karakter peduli lingkungan. Teknik validitas data menggunakan triangulasi metode dan sumber data. Teknik analisis konten (content analysis)digunakan sebagai sarana dalam pengumpulan data. Rendahnya kepedulian peserta didik terhadap kelestarian lingkungan, menjadi salah satu faktor terancamnya keberlangsungan hidup makhluk hidup di masa mendatang. Internalisasi nilai pendidikan karakter peduli lingkungan menjadi hal penting untuk ditanamkan kepada para siswa. Berdasarkan penelitian yang dilakukan, diketahui bahwa novel Sawitri dan Tujuh Pohon Kelahiran memuat pendidikan karakter peduli lingkungan yang berwujud, (1) sikap kasih sayang terhadap lingkungan; (2) kesetaraan hak perempuan dalam mengelola lingkungan; dan (3) mengedukasi pentingnya menjaga lingkungan.
PENGEMBANGAN PERANGKAT PEMBELAJARAN EJAAN UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERPIKIR TINGKAT TINGGI NFN Markhamah; Main Sufanti; Atiqa Sabardila; NFN Winarni
Widyaparwa Vol 49, No 1 (2021)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (240.666 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v49i1.510

Abstract

This research aims to produce a spelling education tool that meets the criteria of (a) validity, (b) practicality, and (c) effectiveness to improve the higher-order thinking skills of school students. This research is development research that refers to the Borg & Gall model which consists of 10 steps. The developed tool included a set of syllabus, class activity planning, worksheets for students, and tests. The subjects of this study were fourth-grade students of Izzatul Islam Getasan Elementary, Semarang Regency. The data collection technique utilized methods of focused group discussion (FGD) and product assessment. Data analysis utilized descriptive quantitative and descriptive qualitative techniques. Research results indicate that the spelling education tool developed successfully met the criteria of (a) validity with a very good category, based on validity assessment by experts in education and linguistics. The tool developed also met the criteria of (b) practicality with good category, based on the scale of responses from teachers and students. The tool developed also met the criteria of (c) effectiveness with a very significant effect in improving students' higher-order thinking skills, based on the results of the effectiveness test using the Mann-Whitley statistical test. Thus it can be concluded that the development of this spelling education tool has successfully met the targeted criteria to improve the higher order thinking skills of school students.Tujuan penelitian ini adalah menghasilkan perangkat pembelajaran ejaan yang memenuhi kriteria (a) valid, (b) praktis, dan (c) efektifuntuk meningkatkan kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa sekolah. Penelitian ini merupakan penelitian pengembangan yang mengacu padamodelBorg&Gallyang terdiri atas 10 langkah. Perangkat yang dikembangkan meliputi silabus, Rancangan Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD), dan penilaian. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas IV SDIT Izzatul Islam Getasan, Kabupaten Semarang.Teknik pengumpulan data menggunakan metode focused group discussion (FGD) dan penilaian produk. Teknik analisis data menggunakan teknik deskriptif kuantitatif dan deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perangkat pembelajaran ejaan yang dikembangkan berhasil memenuhi kriteria (a) valid dengan kategori sangat baik, berdasarkan penilaian uji validitas dari ahli pendidikan dan ahli bahasa. Perangkat yang dikembangkan juga memenuhi kriteria (b) praktis dengan kategori baik, berdasarkanskala respon dari guru dan siswa. Perangkat yang dikembangkan juga memenuhi kriteria(c) efektif dengan pengaruh yang sangat signifikan dalam meningkatkan kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa, berdasarkan hasil pengujian efektifitas melalui uji statistika Mann-Whitley. Bisa disimpulkan bahwa pengembangan perangkat pembelajaran ejaan ini berhasil memenuhi kriteria yang ditargetkan untuk meningkatkan kemampuan berfikir tingkat tinggi siswa sekolah.

Page 1 of 2 | Total Record : 14