cover
Contact Name
Mulyanto
Contact Email
widyaparwa@gmail.com
Phone
+6281243805661
Journal Mail Official
widyaparwa@gmail.com
Editorial Address
https://widyaparwa.kemdikbud.go.id/index.php/widyaparwa/about/editorialTeam
Location
Kota yogyakarta,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Widyaparwa
Jurnal Widyaparwa memublikasi artikel hasil penelitian, juga gagasan ilmiah penelitian (prapenelitian) yang terkait dengan isu-isu di bidang kebahasaan dan kesastraan Indonesia dan daerah.
Articles 16 Documents
Search results for , issue "Vol 50, No 1 (2022)" : 16 Documents clear
KONSTRUKSI RELASI SEMANTIK VERBA SERIAL DALAM BAHASA KEDANG Rizal D. Syifa; Agus Subiyanto
Widyaparwa Vol 50, No 1 (2022)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (269.926 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v50i1.899

Abstract

This research is a qualitative descriptive study that discusses the semantic relation of serial verbs construction in Kedang language. There are two sources of data, namely; primary data obtained through interviews and secondary data obtained through language documentation. The data were analyzed using the agih and padan method which was initiated by Sudaryanto, then adjusted to Dixon's typology theory regarding the pattern of serial verb formation. The results showed that there were eight semantic relations of serial verbs in Kedang language, are (1) motion/displacement, (2) objective, (3) manner, (4) cause - effect, (5) locative, (6) aspectual, (7) benefactive. , and (8) causative. From the serialization, there is a special pattern of rules in the Kedang language, namely; (a) action-manner pattern for manner verbs, (b) action-purpose pattern for objective verbs, (c) action-location pattern for locative verbs, and (d) action (cause) - action (effect) pattern. There are two argument interpretations which can be classified as satelite verb in benefactive verb.Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif yang membahas tentang relasi semantik konstruksi verba serial dalam bahasa Kedang. Ada dua sumber data, yaitu data primer yang diperoleh melalui wawancara dan data sekunder yang diperoleh melalui dokumentasi bahasa. Data dianalisis menggunakan metode agih dan padan dari Sudaryanto, yang kemudian disesuaikan dengan teori tipologi dari Dixon mengenai pola pembentukan verba serial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada delapan relasi semantis verba serial dalam bahasa Kedang, kedelapan relasi semantis tersebut yaitu (1) gerak/perpindahan, (2) objektif, (3) kecaraan, (4) sebab akibat, (5) lokatif, (6) aspektual, (7) benefaktif, dan (8) kausatif. Dari serialisasi tersebut, terdapat pola kaidah khusus dalam bahasa Kedang, yaitu; (a) pola tindakan-cara untuk verba kecaraan, (b) pola tindakan-tujuan untuk verba objektif, (c) pola tindakan-lokasi untuk verba lokatif, dan (d) pola tindakan (penyebab) - tindakan (akibat). Ada dua interpretasi argumen yang dapat diklasifikasikan sebagai bahasa berkerangka verba dalam serialisasi benefaktif.  
VARIASI LEKSIKAL BAHASA MINANGKABAU DI KANAGARIAN KUBANG PUTIAH, KABUPATEN AGAM: KAJIAN SOSIODIALEKTOLOGI Adnania Nugra Heni; Muhammad Suryadi
Widyaparwa Vol 50, No 1 (2022)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (292.016 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v50i1.911

Abstract

Minangkabau language is one of local languages in Indonesia. In Minangkabau language, there are some dialects, one of them is Agam dialect. This research aims to find out the lexical variations in Minangkabau language, specifically in Kubang Putiah, Agam regency. This research is descriptive qualitative research using sociodialectology approach. The data in this research are words which contain lexical variations found during the research. The sources of data in this research are 12 informants from 3 different regions in Agam regency, which are; Lukok village, Kampuang nan Limo village, and Lurah village. The data were collected by using fieldwork method with simak libat cakap techniques. After that, the data were analyzed by using identity method with equalizing comparison technique (HBS) and differential comparison techniques (HBB). The result showed that old and young informants with educational backgrounds tend to use lexicons that is influenced by Indonesian language due to frequent contact with Indonesian language. Meanwhile, informants with non-educational background still use the original form of lexicons in Minangkabau language. In addition, these variations are also influenced by the environment, both in the educational environment and in the residential environment.Bahasa Minangkabau merupakan salah satu bahasa daerah yang ada di Indonesia. Dalam Bahasa Minangkabau terdapat berbagai macam dialek, salah satunya dialek Agam. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui variasi leksikal Bahasa Minangkabau yang terdapat dalam dialek Agam, khususnya di kanagarian Kubang Putiah. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif dengan pendekatan sosiodialektologi. Data dalam penelitian ini adalah kata yang mengandung variasi leksikal yang ditemukan dalam penelitian. Sumber data penelitian ini adalah 12 informan yang berasal dari 3 daerah di kabupaten Agam, yaitu; Jorong Lukok, Jorong Kampuang nan Limo, dan Jorong Lurah. Data dikumpulkan menggunakan metode pupuan lapangan dengan teknik simak, libat, dan cakap. Setelah itu, data dianalisis menggunakan metode padan dengan teknik hubung banding menyamakan (HBS) dan teknik hubung banding membedakan (HBB). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa informan tua dan muda yang berlatar belakang pendidikan cenderung menggunakan kosa kata yang terpengaruh oleh bahasa Indonesia akibat seringnya terjadi kontak dengan bahasa Indonesia, sementara untuk informan dengan latar belakang nonpendidikan cenderung masih menggunakan kosa kata asli bahasa Minangkabau. Selain itu, perbedaan variasi ini juga dipengaruhi oleh lingkungan, baik lingkungan pendidikan maupun lingkungan tempat tinggal.
GRAFITI KAMPANYE PELESTARIAN LINGKUNGAN HIDUP: STUDI KASUS GRAFITI PELAJAR KOTA PATI Edi Setiyanto; Sudartomo Macaryus
Widyaparwa Vol 50, No 1 (2022)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (529.431 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v50i1.977

Abstract

This study discusses environmental-theme graffiti created by. The aspects studied include verbal and nonverbal aspects. The results of this study show the level of understanding of adolescents on environmental issues so that can be used as input in formulating bottom-up environmental learning materials. The approach used is a multimodal approach. Theory using Van Dijk's theory and semiotic theory. This study is descriptive qualitative. The data used are in the form of text and illustrations on environmental campaign graffiti made by students in Pati Regency. The data were obtained using the observation method, the portrait technique, which was followed up by the quote technique. The analysis uses the distribution, insertion, permutation, referent equivalent technique, and read bookmarks. Based on the study, it is known that there are seven environmental campaign themes selected, namely (1) save the earth, (2) preserve plants/trees, (3) free from plastic waste, (4) prevent global warming, (5) prevent air pollution, (6 ) one earth to be with, and (7) earth to be forever. From the nonverbal aspect, the selected pictures or illustrations are thematic, for (1) visualizing the text or (2) detailing the details of the text message.Kajian ini membahas grafiti lingkungan hidup karya pelajar. Kajian mencakup aspek verbal dan nonverbal. Kajian bertujuan menemukan tingkat pemahaman remaja akan isu lingkungan hidup sehingga bermanfaat untuk merumuskan materi pembelajaran secara bottom up. Pendekatan yang digunakan ialah pendekatan multimodal. Teori yang digunakan ialah analisis wacana kritis van Dijk dan semiotika. Kajian bersifat deskriptif kualitatif. Data berupa grafiti kampanye lingkungan karya pelajar di Kabupaten Pati. Data diperoleh dengan metode simak, teknik potret, dilanjutkan teknik salin. Analisis menggunakan teknik sisip, permutasi, padan referen, dan baca markah. Berdasarkan kajian, diketahui ada tujuh tema kampanye lingkungan hidup, yaitu (1) selamatkan bumi, (2) lestarikan tumbuhan, (3) bebaskan bumi dari sampah plastik, (4) cegah pemanasan global, (5) cegah polusi udara, (6) satu bumi untuk bersama, dan (7) bumi untuk selamanya. Dari aspek nonverbal, gambar atau ilustrasi bersifat tematik, untuk (1) visualisasi teks atau (2) memerinci detail pesan teks.
ANALISIS KETIDAKLANCARAN TUTURAN (SPEECH DISFLUENCIES) PADA PIDATO BERBASIS NASKAH DAN PIDATO EKSTEMPORAN PEMELAJAR BIPA Fida Pangesti; Arti Prihatini; NFN Fauzan
Widyaparwa Vol 50, No 1 (2022)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (341.849 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v50i1.739

Abstract

This study aims to describe the comparison of the following items: (1) the form and (2) the location of speech disfluencies in script-based speech and extemporaneous speech by BIPA students. This research is a qualitative descriptive study. The research data is in the form of speech impediments in the speeches of BIPA students who were captured using the listening method and then analyzed using the disappearing technique. The results of data analysis showed that the fluency of extemporaneous speech was significantly higher than that of script-based speech. The forms of speech impediment include (1) pause filler, (2) repetition, (3) lengthening, and (4) revision. In this case, there is no difference in the characteristics of speech impediments in the two speeches. The speech impediment occurs: (1) before the sentence, (2) the clause limit, (3) the constituent limit, and (4) within the constituent. In this case, extemporaneous speech is dominated by the location of speech impediments (1) and (2), while script-based speech is dominated by (3) and (4) which indicates that the obstacle in script-based speech lies in word recall, while the obstacle in extemporary speech lies in message formulation.Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan perbandingan (1) bentuk dan (2) letak ketidaklancaran tuturan (speech disfluencies) pada pidato berbasis naskah dan pidato ekstemporan pemelajar BIPA. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif. Data penelitian berupa ketidaklancaran tuturan dalam pidato mahasiswa BIPA yang dijaring dengan metode simak kemudian dianalisis dengan teknik lesap. Hasil analisis data menunjukkan ketidaklancaran tuturan pidato ekstemporan secara signifikan lebih tinggi daripada pidato berbasis naskah. Bentuk ketidaklancaran tuturan meliputi (1) pengisi jeda, (2) pengulangan, (3) pemanjangan, dan (4) revisi. Dalam hal ini, tidak ada perbedaan karakteristik bentuk ketidaklancaran tuturan dalam kedua pidato. Ketidaklancaran tuturan terjadi (1) sebelum kalimat, (2) batas klausa, (3) batas konstituen, dan (4) di dalam konstituen. Dalam hal ini, pidato ekstemporan didominasi letak ketidaklancaraan tuturan (1) dan (2), sedangkan pidato berbasis naskah didominasi (3) dan (4) yang mengindikasikan bahwa hambatan pada pidato berbasis naskah terletak pada recall kata, sementara hambatan  pada pidato ekstemporan terletak pada formulasi pesan.
RELASI MAKNA DALAM ANTOLOGI PUISI MASIH INGATKAH KAU JALAN PULANG KARYA SAPARDI DJOKO DAMONO DAN RINTIK SEDU: ANALISIS SEMANTIK Siti Vitandari Yudmianti; Cintya Nurika Irma; Deni Permadi
Widyaparwa Vol 50, No 1 (2022)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (379.408 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v50i1.861

Abstract

This study aims to describe the relationship of meaning based on semantic analysis contained in the poetry anthology Masih Ingatkah Kau Jalan Pulang by Sapardi Djoko Damono and Rintik Sedu. The method used in this study is descriptive qualitative. The data in this study are words and/or phrases in an array or verse of poetry that indicate the existence of a relationship of meaning. The data collection technique used is to read, record, and find words and/or phrases in arrays and stanzas that contain meaning relationships. Then, analyze the data and describe it. The test of the validity of the data in this study includes a credibility test by triangulation of sources. The results showed that there was a relationship of meaning in the form of (a) synonymy which includes the word crumbs with crumbs, the word medicine with an antidote; (b) antonymy which includes the word North with South, the word heaven with hell, etc.; (c) homographs that include the word tofu; (d) hyponymy which includes the phrase of a word with a script-by-script meeting; (e) hypernymy which includes the word flower with the phrase red and purple yellow flowers; (f) polysemy which includes the word head; (g) redundancy which includes the word must be with yes must; (h) meronimi which includes the word flower with petals; (i) associative meanings that include the words space, universe, savanna, etc.; and (j) affective meanings that include the words honest and extravagance.Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan relasi makna berdasarkan analisis semantik yang terdapat dalam antologi puisi Masih Ingatkah Kau Jalan Pulang karya Sapardi Djoko Damono dan Rintik Sedu. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Data dalam penelitian ini ialah kata dan/atau frasa dalam larik atau bait puisi yang menunjukkan adanya relasi makna. Teknik pengumpulan data yang digunakan ialah  membaca, mencatat, dan menemukan kata dan/atau frasa dalam larik maupun bait yang mengandung relasi makna. Kemudian, menganalisis data dan mendeskripsikannya. Uji keabsahan data dalam penelitian ini meliputi uji kredibilitas dengan cara triangulasi sumber. Hasil penelitian menunjukkan terdapat relasi makna berupa (a) sinonimi yang meliputi kata reruntukan dengan remah-remah, kata obat dengan penawar; (b) antonimi yang meliputi kata Utara dengan Selatan, kata sorga dengan neraka, dan lain-lain; (c) homograf yang meliputi kata tahu; (d) hiponimi yang meliputi frasa secarik kata dengan rapat aksara demi aksara; (e) hipernimi yang meliputi kata bunga dengan frasa bunga kuning merah dan ungu; (f) polisemi yang meliputi kata kepala; (g) redundansi yang meliputi kata harus dengan ya harus; (h) meronimi yang meliputi kata bunga dengan kelopak; (i) makna asosiatif yang meliputi kata angkasa, semesta, sabana, dll.; dan (j) makna afektif yang meliputi kata jujur dan pemborosan.
JENIS PERNYATAAN KALA ABSOLUT DALAM BAHASA JAWA NGOKO NFN Sumadi
Widyaparwa Vol 50, No 1 (2022)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (252.732 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v50i1.1010

Abstract

The statement of absolute tense is one of the elements of language that has an important role because its existence tells the time of the occurrence of certain actions, events, or circumstances. This study discusses the types of absolute tense statements in ngoko Javanese with a structural linguistic approach that to the author's knowledge has never been studied. This study uses structural linguistic theory in describing the elements and structures of absolute tense statements in ngoko Javanese. The method used descriptive qualitative method, which seeks to explain the object of research as it is and it does not consider the frequency of one type of data. The data of this research are sentences containing absolute tense statements in Javanese which are collected from Javanese printed media, magazines, and data created by the author as a Javanese native speaker whose grammar has been tested with other speakers. Based on its meaning, absolute tense statements in ngoko Javanese can be divided into present tense statements marked with the word saiki 'now'; the past tense is marked by the words mau 'earlier', wingi 'yesterday', wingine 'two days before yesterday ', mbiyen 'a long time ago'; and the future is marked by the words mengko 'later', sesuk 'tomorrow', sesuke 'the day after tomorrow', and mbesuk 'in the future'. Phrases which are statements of absolute tenses are formed from the words, a word, or a group of words as attributes or core elements. Pernyataan kala absolut adalah satu di antara unsur bahasa yang mempunyai peranan penting sebab keberadaannya memberitahukan waktu terjadinya tindakan, peristiwa, atau keadaan tertentu. Penelitian ini membicarakan jenis pernyataan kala absolut dalam bahasa Jawa ngoko dengan pendekatan linguistik struktural  yang sepengetahuan penulis belum pernah diteliti. Penelitian ini menggunakan teori linguistik struktural dalam mendeskripsikan unsur dan struktur jenis prnyataan kala absolut dalam bahasa Jawa ngoko. Metode yang digunakan ialah metode deskriptif kualitatif, yakni berupaya menjelaskan objek penelitian sebagaimana adanya dan tidak mempertimbangkan kefrekuentatifan satu jenis data.  Data penelitian ini berwujud kalimat berunsur pernyataan kala absolut dalam bahasa Jawa yang bersumber dari media cetak berbahasa Jawa berwujud majalah dan data hasil kreasi penulis sebagai penutur asli bahasa Jawa  yang kegramatikalannya telah diuji dengan penutur-penutur lain. Berdasarkan maknanya,  pernyataan kala absolut pada bahasa Jawa ngoko bisa dipilah atas pernyataan kala kini ditandai kata saiki ‘sekarang’; kala lampau ditandai kata mau ‘tadi’, wingi ‘kemarin’, wingine ‘kemarin dulu’, mbiyen ‘dulu’;  dan kala mendatang  ditandai kata mengko ‘nanti’, sesuk ‘besuk’, sesuke ‘lusa’, dan mbesuk ‘kelak’. Frasa yang merupakan pernyataan kala absolut terbentuk dari kata-kata itu dan kata atau kelompok kata sebagai atribut atau unsur inti. 
ANALISIS REPETISI DAN METAFORA MANTRA DALAM PERGELARAN RITUAL SIRAMAN SEDUDO (KAJIAN ETNOPUITIKA) Linda Yusfita Dewi
Widyaparwa Vol 50, No 1 (2022)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (449.365 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v50i1.528

Abstract

This study aims to describe the form of repetition and metaphors of Siraman Sedudo ritual mantra and the connection with Javanese cultural imagery. Provision of data is done through interviews, as well as observations during the Siraman Sedudo procession. In an effort to expose repetition and metaphors, this study uses repetition analysis of Jakobson's poetic approach and metaphorical analysis of Ullmann's Semantic view. The findings of this study are (1) the repetition that occurs in three layers of language namely grammatical repetition with PSP, SP, ØPO, ØPK, ØKP, SPO patterns; lexical repetition with NV, FvN, FnAdjN, FnVN patterns; and semantic repetitions in the same lexical field, namely singgah and singkir verbs. (2) four metaphorical findings namelydirect and indirect forms (categorized as anthropomorphic and animal metaphor types) that reflects (a) people's trust belief in the occult, and (b) the use of language symbols as a mean of conveying meaning.Penelitian ini bertujuan untuk memaparkan bentuk repetisi dan metafora mantra ritual Siraman Sedudo, serta keterhubungannya dengan citra budaya masyarakat Jawa. Penyediaan data dilakukan melalui wawancara, serta observasi saat prosesi Siraman Sedudo. Dalam upaya mendedahkan bentuk repetisi dan metafora mantra, penelitian ini menggunakan analisis repetisi yang merujuk pada ancangan puitika Jakobson dan analisis metafora yang merujuk pada metafora dalam pandangan Semantik Ullmann. Hasil temuan penelitian ini adalah (1) bentuk repetisi yang terjadi pada tiga lapis kebahasaan yakni repetisi gramatikal dengan pola PSP, SP, ØPO, ØPK, ØKP, SPO; repetisi leksikal dengan pola NV, FvN, FnAdjN, FnVN; serta repetisi semantik pada medan leksikal yang sama, yakni verba singgah dan singkir. (2) empat temuan metafora yang merujuk pada bentuk langsung dan tidak langsung (terkategori jenis metafora antropomorfis dan binatang) yang mencerminkan (a) kepercayaan masyarakat terhadap ihwal gaib, serta (b) penggunaan simbol bahasa sebagai sarana penyampaian makna.
SUNDANESE LEXICAL VARIATION ON TRADITIONAL FOODS NAMING IN KUNINGAN REGION Eva Utami Durahman; Zenab Badriah
Widyaparwa Vol 50, No 1 (2022)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (325.627 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v50i1.874

Abstract

Sundanese has many dialects actively spoken all around Priangan. These dialects, to some extent, causes confusion and misunderstanding among the speaker itself. The phenomena attract variationists to dig deeper through their researches. Due to this mater, the study intended to describe Sundanese lexical variation on traditional foods naming in Kuningan region. The location was chosen due to the diversity of its citizen and geographical aspect of it. The qualitative method was utilized to get more detail of the problem. The data were collected in two steps (1) through questionnaires in google form and publicly distributed to Kuningan residents at reach and (2) online interview by using whatsapp application to those who filled up the google forms. The two steps data collecting techniques were done to enhance the validity of data considering the movement restriction on the pandemic period. The data gained were analized through two classification steps (1) based on which region the data came up and (2) based on variation in each data set. The result shown that the variation also exists in traditional foods naming on certain Kuningan region. The variations are spread across linguistic features from sounds to meaning. In the level of sounds, the variation appeared on both vowel and consonant sounds with the shift or addition or omission process. In the word level, the observable variations are (1) change in one element of the compound word, (2) morphophonemic phenomena in the form of repetition, omission, addition of certain syllable on the word, (3) addition of one morpheme to form compound, and (4) acronym. While other variations are observed in semantic aspect were semantic shift from hyponyms to hypernyms and complete lexical differences. The result amplified the fact that Sundanese lexical variation also existed in traditional foods naming.Bahasa Sunda memiliki banyak dialek yang digunakan secara aktif di seluruh wilayah Priangan. Dialek tersebut terkadang menimbulkan kebingungan dan kesalahpahaman antarpenutur bahasa Sunda sendiri. Fenomena tersebut menarik pehatian para peneliti bahasa, khususnya yang meneliti keragaman bahasa. Berdasarkan hal tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan variasi leksikal bahasa Sunda  dalam penamaan makanan tradisional di wilayah Kuningan. Wilayah ini dijadikan lokasi penelitian karena keberagaman masyarakatnya serta letak geografisnya. Metode kualitatif digunakan untuk mendapatkan informasi terperinci yang berkaitan dengan fenomena tersebut. Data diambil dengan dua cara  penyebaran kuesioner secara daring menggunakan google form kepada penduduk Kuningan dan  wawancara langsung secara daring dengan menggunakan aplikasi whatsaap kepada partisipan penelitian yang mengisi kuesioner. Kedua cara tersebut dilakukan untuk meningkatkan validitas data selain dari  terbatasnya pergerakan penelitian karena pandemi Covid-19. Data  dianalisis melalui dua tahap klasifikasi  berdasarkan: wilayah ditemukannya data dan (2)  ada tidaknya variasi leksikal dalam setiap grup data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa variasi leksikal bahasa Sunda juga terjadi pada penamaan makanan tradisional di beberapa wilayah Kuningan. Variasi leksikal ini tersebar pada beberapa fitur linguistik dari mulai bunyi sampai makna. Pada tataran bunyi, variasi leksikal terlihat pada bunyi vokal dan konsonan dengan proses peralihan, penambahan, dan penghilangan bunyi. Pada tataran kata, variasi yang terdeteksi adalah (1) perubahan pada satu elemen dalam kata majemuk, (2) fenomena morfofonemik dengan bentuk pengulangan, penghilangan, dan penambangan silabel tertentu dalam kata, (3) penambahan satu elemen kata untuk membentuk kata majemuk, dan (4) akronim. Variasi leksikal lainnya terjadi pada tataran semantik, khususnya pada pergesearan dari hiponim ke hipernim dan sebaliknya serta perbedaan leksikal yang merujuk pada benda yang sama. Hal ini memperkuat bukti bahwa variasi leksikal bahasa Sunda juga terjadi pada penamaan makanan. 
PEMBERIAN ADOK MASYARAKAT KOMERING DI OKU TIMUR (KAJIAN TRADISI LISAN) Ratu Wardarita; Achmad Wahidy; Yessi Fitriani
Widyaparwa Vol 50, No 1 (2022)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (270.308 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v50i1.921

Abstract

This study describes meaning, function, cultural, religious and social values in the giving of adok in Komering community in East Ogan Komering Ulu (OKU) Regency, South Sumatra which is considered as a real manifestation of local wisdom. This study uses a qualitative descriptive method in which data collection techniques of observation, interviews, recording, note taking, and translation are integrated. The results of the study describe that giving adok contains elements of pisaan, adok, and warahan which has the meaning of prayer, hopes and ideals of greatness and glory must be carried out by the Adok holder. In addition, the elements of Pisaan, Adok and Warahan in giving Adok can also be utilized as controls in behaving in social status, and also as moral value and transmitter from the ancestors to their generators in order to be maintained and preserved. Cultural values in the adok tradition include cultural values in human relations with God in the form of faith and obedience to the Creator; cultural values in human relations with other humans such as: kind, not forgetting parents; cultural values in human relations with oneself, such as: be patient and always grateful, and not sitting idle; Cultural values in human relations with nature are like betel leaf and thick leaves for medicine. Religious and social values in the adok process describe the behavior of human life which must reflect deep holistic and aesthetics and be implemented in every aspect of life of the Adok holder.Penelitian ini mendeskripsikan makna, fungsi, nilai budaya, nilai agama dan nilai sosial adok pada masyarakat Komering di Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) Timur, Sumatera Selatan sebagai wujud nyata kearifan lokal. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara, perekaman, pencatatan, dan penerjemahan. Hasil penelitian mendeskripsikan bahwa pemberian adok mengandung unsur pisaan, adok, dan warahan yang memiliki makna doa, harapan, cita-cita, kebesaran, dan kemuliaan yang harus dilaksanakan oleh pemegang adok (gelar). Selain itu, unsur pisaan, adok dan warahan dalam pemberian adok berfungsi juga sebagai kontrol dalam bertindak dan penanda kedudukan sosial dalam masyarakat serta penyampai pesan moral para leluhur kepada penerusnya agar dapat terus dijaga dan dilestarikan. Nilai budaya pada tradisi adok meliputi nilai budaya dalam hubungan manusia dengan Tuhan berupa keimanan dan ketaatan kepada sang Pencipta; nilai budaya dalam hubungan manusia dengan manusia lain, misalnya baik hati, tidak melupakan orang tua; nilai budaya dalam hubungan manusia dengan diri sendiri, misalnya sabar, selalu syukur, serta tidak berpangku tangan; nilai budaya dalam hubungan manusia dengan alam, misalnya daun sirih dan daun lebat untuk obat. Nilai agama dan nilai sosial dalam proses adok mendeksripsikan perilaku kehidupan manusia yang harus mencerminkan etika dan estika secara mendalam dan dapat diimplementasikan dalam setiap sendi kehidupan pemegang adok.
CITRA GENDER PEREMPUAN-PEREMPUAN TAHANAN POLITIK INDONESIA MASA ORDE BARU DALAM NOVEL DARI DALAM KUBUR Iswan Afandi
Widyaparwa Vol 50, No 1 (2022)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (293.236 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v50i1.870

Abstract

The purpose of this study is to describe the image of Indonesian women political prisoners in the novel Dari Dalam Kubur. This type of research uses qualitative research with descriptive methods. The theory used in this research is the theory of feminism. The analysis focuses on the author's thoughts, social phenomena, and traditional and modern culture about women, including marginalization, stereotypes, subordination, violence, and workload. There are different types of feminism. Therefore, the type of feminism presented in the study is adjusted to the research findings. Data was collected, through library data sources, and relevant research journal articles. The data collection technique used in this research is the reading and note-taking technique. The novel is read in its entirety and then recorded things that are by the research focus. The results showed that the type of feminism used by the author of Marching was socialist-Marxist feminism. Something is interesting in the research findings, namely the phenomenon of "intellectual genocide" through the application of the "spatial organization" method by the New Order government to kill groups of women who are considered to have "left ideology" in Indonesia. In addition, there was a colonial transformation into a neocolonial culture, in which Indonesian women were socially and politically colonized by the United States and the New Order rulers. Problems of gender inequality were found, namely the problem of violence against women, marginalization, stereotypes, subordination, and double workload.Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan citra perempuan tahanan politik Indonesia dalam novel Dari Dalam Kubur. Jenis penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif dengan metode deskriptif. Teori yang digunakan dalam penelitian, yaitu teori feminisme. Analisis difokuskan pada pemikiran pengarang, fenomena sosial, budaya tradisional dan modern tentang perempuan, meliputi marginalisasi, stereotipe, subordinasi, kekerasan, dan beban kerja. Ada berbagai jenis-jenis feminisme. Oleh karena itu, jenis feminisme yang disajikan dalam penelitian disesuaikan pada temuan penelitian. Data yang dikumpulkan, melalui sumber data perpustakaan, artikel jurnal penelitian yang relevan. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini ialah teknik baca dan catat. Novel dibaca keseluruhan kemudian dicatat hal-hal yang sesuai dengan fokus penelitian. Hasil penelitian menunjukkan jenis feminisme digunakan oleh pengarang Marching ialah feminisme sosialis-marxist. Ada yang menarik dalam temuan penelitian, yakni fenomena “genosida intelektual” melalui penerapan metode “pengorganisasian ruang” oleh pemerintah orde baru untuk membunuh kelompok perempuan yang dianggap memiliki “ideologi kiri” di Indonesia. Selain itu, terjadi transformasi kolonial ke budaya neokolonialisme, yakni perempuan Indonesia dijajah secara sosial dan politik oleh Amerika Serikat dan penguasa orde baru. Masalah ketidakadilan gender ditemukan yakni masalah kekerasan terhadap perempuan, marginalisasi, stereotipe, subordinasi, dan beban kerja ganda.

Page 1 of 2 | Total Record : 16