cover
Contact Name
Mulyanto
Contact Email
widyaparwa@gmail.com
Phone
+6281243805661
Journal Mail Official
widyaparwa@gmail.com
Editorial Address
https://widyaparwa.kemdikbud.go.id/index.php/widyaparwa/about/editorialTeam
Location
Kota yogyakarta,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Widyaparwa
Jurnal Widyaparwa memublikasi artikel hasil penelitian, juga gagasan ilmiah penelitian (prapenelitian) yang terkait dengan isu-isu di bidang kebahasaan dan kesastraan Indonesia dan daerah.
Articles 21 Documents
Search results for , issue "Vol 51, No 2 (2023)" : 21 Documents clear
IDEOLOGI PENCAPRESAN TAHUN 2024 PADA MEDIA DIGITAL DI INDONESIA: PERSPEKTIF TEUN A. VAN DIJK Minto, Deri Wan; Anshori, Dadang S.; Damaianti, Vismaia S.; Sastromiharjo, Andoyo; Zulfadhli, Muhammad
Widyaparwa Vol 51, No 2 (2023)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/wdprw.v51i2.1373

Abstract

News of the 2024 presidential election has begun to emerge through mass media, especially in digital media. With the digitization, the development of news has become so fast. Without realizing it, this progress can be eroded by the flow of information that is always dynamic. News must be of character and quality. Journalists must always have their own strategies, tactics, and moves in creating ideology to the audience through published news texts. This study principally aims to describe the ideology of the 2024 presidential bid on digital media in Indonesia: Teun A. van Dijk's perspective which focuses on digital media Kompas.com. The sample in this study is 5 news published in April-May with the theme "2024 election". The source of the news is digital media Kompas.com published from April to May 2023. This research is qualitative with a descriptive method. The validation technique is carried out with diligence in making direct observations of the news based on news snippets. The results explain the emergence of actors as positive subjects, implied messages based on special interests, and the powerful role of journalists' ideology published on Kompas.com. This can be seen through the macro aspect element; and, the last superstructure, namely the micro. Pemberitaan pencapresan tahun 2024 sudah mulai bermunculan melalui media massa terutama di media digital. Dengan adanya digitalisasi perkembangan pemberitaan menjadi begitu cepat. Tanpa disadari kemajuan ini bisa saja tergerus oleh arus informasi yang selalu dinamis. Pemberitaan harus berkarakter dan berkualitas. Wartawan harus selalu mempunyai strategi, taktik, dan jurus tersendiri dalam menciptakan ideologi ke khalayak lewat teks berita yang dipublikasikan. Penelitian ini pada prinsipnya bertujuan untuk mendeskripsikan ideologi pencapresan tahun 2024 pada media digital di Indonesia: Perspektif Teun A. van Dijk yang difokuskan kepada media digital Kompas.com. Sampel dalam penelitian ini ialah 5 berita yang terbit pada bulan April--Mei bertemakan “pencapresan 2024”. Sumber berita ialah media digital Kompas.com yang terbit bulan April sampai dengan Mei 2023. Penelitian ini berjenis kualitatif dengan metode deskriptif. Teknik pengabsahan dilakukan dengan ketekunan dalam melakukan pengamatan langsung dari pemberitaan berdasarkan cuplikan berita. Hasil penelitian menjelaskan adanya pemunculan aktor sebagai subjek yang positif, pesan tersirat atas dasar kepentingan khusus, dan peran kuasa dari ideologi wartawan yang dipublikasikan di Kompas.com. Hal itu terlihat melalui elemen aspek makro dan, superstruktur yang terakhir yaitu mikro.
TRADISI PENYAMBUTAN DAN PENGHORMATAN TAMU DI KERATON YOGYAKARTA SEBAGAI BENTUK POLA RELASI PADA MASA PEMERINTAHAN HAMENGKU BUWANA VII DALAM NASKAH KOEPIJA DJENDRALAN Apriyadi, Clara Shinta Anindita; Buduroh, Mamlahatun
Widyaparwa Vol 51, No 2 (2023)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/wdprw.v51i2.1079

Abstract

 This research -discussed the text of Kangjeng Tuan Ingkang Wicaksana Governor General Otto van Rees (KTIWGJO), it is one of the texts in the archived manuscript of Koepija Djendralan (KD) the collection of KHP Widya Budaya Keraton Yogyakarta. The text was written in Javanese and the form of prose. This text was studied with philology analysis. Furthermore, the analysis of the content text used the theory of postcolonialism and the theory of hegemony. The purpose of this study was to present the edits and translations of the KTIWGJO text so that it was easy to read and understood by today's society and to explain the procession of welcoming and honoring guests at the Yogyakarta Palace during the reign of Sultan Hamengku Buwana VII. Analysis of the content of the KTIWGJO text, including analysis of welcome and respect upon arrival of Governor General Otto van Rees; and an analysis of the activities of Governor General Otto van Rees for seven days in Yogyakarta. The pattern of relations was analyzed using the theory of postcolonialism. Through this pattern of relations, it can add new insights into the pattern of hegemony carried out by the natives at that time and prove that not all of the colonized were backward and ignorant parties. Penelitian ini membahas teks Kangjeng Tuan Ingkang Wicaksana Gupernur Jendral Otto van Rees (KTIWGJO), salah satu teks yang berada di dalam naskah arsip Koepija Djendralan (KD) koleksi KHP Widya Budaya Keraton Yogyakarta. Teks ini tertulis dalam bahasa Jawa dan berbentuk prosa. Teks ini dikaji dengan metode filologi dan dianalisis menggunakan teori poskolonialisme serta teori hegemoni. Tujuan penelitian ini adalah untuk menyajikan suntingan dan terjemahan teks KTIWGJO agar mudah dibaca dan dipahami oleh masyarakat kini dan menjelaskan prosesi penyambutan serta penghormatan tamu di Keraton Yogyakarta pada masa pemerintahan Sultan Hamengku Buwana VII. Analisis isi terdiri dari analisis penyambutan; analisis penghormatan pada saat kedatangan Gubernur Jenderal Otto van Rees; dan analisis kegiatan Gubernur Jenderal Otto van Rees selama di Yogyakarta. Pola relasi yang dianalisis menggunakan teori poskolonialisme. Melalui pola relasi ini pula, dapat menambah wawasan baru mengenai pola hegemoni yang dilakukan oleh pihak pribumi pada masa itu dan membuktikan bahwa pihak terjajah tidak semuanya adalah pihak terbelakang dan pihak yang bodoh.
LEKSIKOSTATISTIK DAN GLOTOKRONOLOGI BAHASA BERAU DENGAN BAHASA MINANGKABAU Mayangsari, Dewi; Inderajati, Aal
Widyaparwa Vol 51, No 2 (2023)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/wdprw.v51i2.1410

Abstract

This study is a lexicostatistical and glottochronological study that aims to classify words by prioritizing time calculations or calculating the age of relatives’ languages. This research is focused on Berau and Minangkabau languages. The people who speak the Berau Language are people of the Berau tribe in Berau District, East Kalimantan. Meanwhile, the Minangkabau language is spoken by people in the Province of West Sumatra (except the Mentawai Islands), western Riau Province, and Negeri Sembilan, Malaysia. The collection phase used the referential equivalent method, the data analysis stage used the lexicostatistical and glotochronological methods. Moreover, the results of data analysis used informal and formal methods. The theory used is sound correspondence, lexicostatistics, and glottochronology. The analysis shows some points such as 37 pairs of identical, 46 pairs of phonemic correspondences, 1 pair of different phonemes, and 44 pairs of similar forms. Lexicostatistical calculations show that the percentage of kinship between Berau and Minangkabau languages is 67%. Berau and Minangkabau languages were single languages in 1.053–787 years ago. Berau and Minangkabau languages have been separated from the proto-language between 970–1.236 BC (calculated from 2023).Kajian ini merupakan kajian leksikostatistik dan glotokronologi yang bertujuan mengelompokkan kosakata kerabat dengan menekankan perhitungan waktu pisah atau usia bahasa kerabat. Penelitian ini menitikberatkan pada bahasa Berau dengan bahasa Minangkabau. Bahasa Berau dituturkan oleh masyarakat yang ada di suku Berau, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur. Adapun bahasa Minangkabau dituturkan oleh masyarakat di wilayah Provinsi Sumatera Barat (kecuali Kepulauan Mentawai), bagian barat Provinsi Riau, dan Negeri Sembilan, Malaysia. Tahap pengumpulan menggunakan metode padan referensial, tahap analisis data menggunakan metode leksikostatistik dan glotokronologi. Adapun metode penyajian hasil analisis data menggunakan metode informal dan formal. Teori yang digunakan yaitu korespondensi bunyi, leksikostatistik, dan glotokronologi. Hasil analisis diperoleh 37 pasangan identik, 46 pasangan korespondensi fonemis, 1 pasang fonem berbeda, dan 44 pasangan bentuk mirip. Penghitungan leksikostatistik menunjukkan bahwa persentase kekerabatan bahasa Berau dan bahasa Minangkabau sebanyak 67%. Bahasa Berau dan bahasa Minangkabau merupakan bahasa tunggal pada 1.053–787 tahun yang lalu. Bahasa Berau dan bahasa Minangkabau mulai berpisah dari bahasa proto antara 970 SM–1.236 SM (dihitung dari tahun 2023).
RESEPSI KOVER NOVEL CANTIK ITU LUKA (2015) DALAM VERSI TERJEMAHAN BAHASA INGGRIS Sari, Mustika Wulan; Arofani, Nilam Yuhanisa; Susanto, Dwi
Widyaparwa Vol 51, No 2 (2023)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/wdprw.v51i2.1355

Abstract

The novel Beauty Is a Wound is an English translation of the original Cantik Itu Luka by Eka Kurniawan. These two novels have two different covers due to the reception they received from the publishers. This study aims to examine the cover reception of Beauty Is a Wound. This paper also looks at the differences in visual design between the two novels and examines how the publisher gave its reception through the cover of Beauty Is a Wound. The qualitative research method prioritizes data quality. Data collection is done by observing, reading, and taking notes. The research data covers of Cantik Itu Luka (2015) and Beauty Is a Wound (2015), texts related to novels, authors, and publishers, as well as information about literary receptions. Data were analyzed through data reduction, presentation, and interpretation. The results of this study reveal that the reception on the cover of Beauty Is a Wound occurs due to readers having different social and cultural backgrounds. In addition, market tastes are also an essential consideration for publishers to provide their responses. Novel Beauty Is a Wound merupakan terjemahan bahasa Inggris dari versi original Cantik itu Luka karya Eka Kurniawan. Kedua novel ini memiliki dua kover berbeda karena munculnya resepsi oleh penerbit. Penelitian ini bertujuan mengkaji resepsi kover Beauty Is a Wound. Tulisan ini juga melihat perbedaan desain visual antara kedua novel tersebut, dan mengkaji bagaimana penerbit memberikan resepsinya melalui kover Beauty Is a Wound. Metode penelitian berjenis kualitatif mengutamakan kualitas data. Pengumpulan data dilakukan dengan mengamati, membaca, dan mencatat. Data penelitian berupa kover Cantik Itu Luka (2015) dan Beauty Is a Wound (2015), teks-teks terkait novel, pengarang, dan penerbit, serta informasi-informasi tentang resepsi sastra. Data dianalisis melalui reduksi data, menyajikan data, dan interpretasi data. Hasil penelitian ini mengungkapkan resepsi dalam kover Beauty Is a Wound terjadi akibat dari pembaca yang memiliki latar belakang sosial dan budaya yang berbeda. Selain itu, selera pasar juga menjadi pertimbangan penting terhadap penerbit untuk memberikan tanggapannya. 
PROFIL LITERASI DIGITAL BERBASIS ANALISIS SURVEI UNTUK PENGUATAN LITERASI SASTRA DI ABAD KE-21 Handayani, Wulan; Sunendar, Dadang; Damaianti, Vismaia S.
Widyaparwa Vol 51, No 2 (2023)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/wdprw.v51i2.1386

Abstract

This research aims to assess the level of digital literacy among teenagers aged 11 to 14 years old. The survey was conducted within a community with a total of 40 teenage respondents. The research method used was descriptive quantitative. The research instrument employed was a questionnaire prepared through a Google Form, supported by other data collection methods such as observation sheets and interviews. Data analysis techniques involved data coding, tabulation, scoring, and data analysis to draw conclusions. The research results indicate that 95% of the total respondents possess digital devices. 90% of teenagers have used electronic devices and can operate them. 75% of teenagers are aware of laws related to the protection of digital device usage, and 80% state that their digital devices are used for communication and entertainment purposes only. Therefore, it can be concluded that digital literacy among teenagers in the 21st century is quite high. However, efforts should be made to enhance literary literacy through digital platforms, providing valuable content alternatives for teenagers. This research is important in providing information about teenagers' proficiency with digital media. It is expected to serve as input for the development of models and digital literary literacy media as part of efforts to strengthen literacy in the 21st century. Transformasi penyelenggaraan pendidikan berkembang begitu cepat, sehingga pengintegrasian teknologi digital dan literasi, menjadi sebuah keniscayaan yang mendasar supaya dapat mengakomodasi tuntutan belajar dan dinamika perkembangan zaman. Penelitian ini bertujuan untuk memotret tingkat literasi digital pada remaja (usia 11--14 tahun). Survei dilaksanakan pada komunitas dengan responden berjumlah 40 remaja. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif. Instrument yang digunakan berupa angket yang disusun melalui media google form, dengan data penunjang lain berupa lembar observasi dan wawancara. Teknik analisis dilakukan dengan membuat kodifikasi data, tabulasi, membuat penskoran serta melakukan analisis data untuk menarik simpulan. Hasil penelitian menunjukkan 95% dari total 40 responden telah memiliki piranti media digital. Tercatat 90% remaja telah menggunakan gawai dan dapat mengoperasikannya. Sekitar 75% remaja sadar akan undang-undang perlindungan penggunaan perangkat media digital. Kemudian 80% menyatakan bahwa perangkat digital mereka, digunakan untuk komunikasi dan hiburan saja. Dapat disimpulkan bahwa literasi digital remaja di abad ke-21 sudah sangat baik. Namun, penguatan literasi sastra harus dikembangkan sebanyak mungkin melalui platform digital, guna penyediaan alternatif konten yang bermanfaat bagi para remaja.  Penelitian ini penting dilakukan, untuk memberikan informasi mengenai kecakapan remaja terhadap penggunaan media digital. Hal tersebut diharapkan menjadi masukan bagi pengembangan model maupun media literasi sastra digital sebagai upaya penguatan literasi di abad ke-21.
AMBIGUITAS TUBUH PEREMPUAN DALAM PRAKTIK SURROGATE MOTHER DALAM NOVEL A HOUSE FOR HAPPY MOTHER KARYA AMULYA MALLADI Fadhliah, Dara Aghnia Nur; Adji, Muhamad; Hidayatullah, Mochammad Irfan
Widyaparwa Vol 51, No 2 (2023)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/wdprw.v51i2.1180

Abstract

The research was aimed at describing the ambiguity of women’s bodies involved in surrogate motherhood in the novel "A House for Happy Mothers" by Amulya Malladi. The theory in this research uses representation theory (Hall, 1997), women’s body theory including the maternal body (Young, 2005; Priyatna, 2018; Kristeva, 1981) and the shifting body theory (Teman, 2009).The techniques of analizing data are; 1) reduce the data according to the research problem that are the ambiguity of women’s body, including the women’s body, the maternal body, and the shifting body, 2) describe the data according to the theory and literature, 3)conclude the data that has been describe. The results show that there are three ambiguities manifested on the bodies of women who are involved in surrogacy, including (a) the women’s body, the body served as a free body and a body used by other parties, (b) the maternal body, the body served as a loving body and a service provider, (c) the shifting body, a body that undertakes and relinquishes its identity as the mother's body.Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan gambaran ambiguitas tubuh perempuan yang terlibat  praktik surrogate mother dalam novel A House for Happy Mother karya Amulya Malladi. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yakni menggunakan deskriptif kualitatif. Penelitian ini menggunakan teori representasi (Hall, 1997), teori tubuh perempuan yang meliputi tubuh maternal (Priyatna, 2018; Kristeva, 1981) dan teori tubuh bergeser (Teman, 2009). Adapun teknik dalam menganalis data penelitian ini yaitu; 1) mereduksi data sesuai dengan rumusan masalah yaitu ambiguitas tubuh perempuan meliputi, tubuh perempuan, tubuh maternal, dan tubuh bergeser, 2) menguraikan atau mendeskripsikan data sesuai dengan teori dan kepustakaan, 3) menarik kesimpulan atas data yang telah dideskripsikan. Hasil penelitian menunjukkan terdapat ambiguitas yang terjadi pada tubuh perempuan yang terlibat dalam praktik surrogate mother, meliputi (a) tubuh perempuan, posisi tubuh sebagai tubuh yang bebas dan tubuh yang dimanfaatkan oleh pihak lain, (b) tubuh maternal, posisi tubuh sebagai tubuh penuh kasih sayang dan tubuh penyedia jasa, (c) tubuh bergeser, tubuh yang mengambil dan melepaskan identitas sebagai tubuh ibu.
Indeks Penulis dan Abstrak Widyaparwa, NFN
Widyaparwa Vol 51, No 2 (2023)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

COMPARATIVE STUDY OF DEMONSTRATIVES IN SASAK AND CHINESE Sutarman, NFN; Abdussamad, Zainudin; Muhid, Abdul; Supatmiwati, Diah; Suktiningsih, Wiya
Widyaparwa Vol 51, No 2 (2023)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/wdprw.v51i2.1204

Abstract

Demonstratives in Chinese and Sasak languages have semantically and syntactically significant different concepts. Semantically, The Chinese language applies a two-way system consisting of proximal ‘zhe/zh’e and distal ‘na/nei’while Sasak language particularly the Menu-Meni dialect uses a three-way system including proximal‘ne’, medial‘tie’, and distal‘nu’. Syntactically, demonstrative in Chinese is categorized into five subtypes: pronominal, adnominal, locational, temporal, manner, and degree. Sasak, on the other hand, includes pronominal, adnominal, identificational, adverbial, verbal, quantificational, and referential. This paper shows that the Chinese and Sasak languages has semantically similar in the concept of proximity and different in medial and distal one. Syntactically, these languages have nominal and adverbial demonstrative which share similar properties but differ in other demonstrative categorizations. Demonstratif dalam bahasa Cina dan bahasa Sasak memiliki perbedaan konsep yang signifikan secara semantik dan sintaksis. Secara semantik, bahasa Cina menerapkan sistem dua arah yang terdiri dari proksimal 'zhe/zh'e dan distal 'na/nei' sedangkan bahasa Sasak khususnya dialek Menu-Meni menggunakan sistem tiga arah meliputi proksimal 'ne', medial 'tie', dan distal 'nu'. Secara sintaksis, demonstratif dalam bahasa Cina dikategorikan menjadi lima subtipe: pronominal, adnominal, locational, temporal, Manner, dan degree. Sasak, di sisi lain, memiliki pronominal, adnominal, identificational, adverbial, verbal, Quantifier, referential. Tulisan ini menunjukkan bahwa bahasa Cina dan bahasa Sasak secara semantik memiliki kesamaan dalam konsep proximity dan berbeda dalam konsep medial dan distal. Secara sintaksis, bahasa-bahasa ini memiliki demonstratif nominal dan adverbial dengan ciri yang sama tetapi berbeda dalam kategorisasi demonstratif lainnya.
INSULTS ON SOCIAL MEDIA AS A FORM OF DIGITAL COMMUNI-CATION IMPOLITENESS: A CASE STUDY OF INSULTS IN COVID-19 PANDEMIC Arianto, Ahmad Khoironi; Djatmika, NFN; Santosa, Riyadi
Widyaparwa Vol 51, No 2 (2023)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/wdprw.v51i2.1002

Abstract

Communication through online media has increased during the Covid-19 era. This was done to reduce face-to-face interactions to inhibit the potential spread of Covid-19. However, on the other hand, this condition also increases the potential for insulting communication on social media. This article aims to explain the forms, types, and causes of impoliteness in utterances on social media regarding Covid-19. This research is descriptive qualitative. The data used is utterances containing insults about the Covid-19 pandemic on social media. Data comes from social media, such as Instagram, Facebook, Twitter, WhatsApp and Youtube. This article uses an observation approach and record method to collect data. Furthermore, the collected data was analyzed based on three things, 1) the Indonesian Criminal Code (KUHP) to formulate forms of insults, 2) pragmatic politeness theory to see the types of communication violations that result in insults, and 3) cultural themes to explore the factors that cause someone to commit insults. The results of this study are that 1) insults can be classified into 2 categories, slander, and insults, while criticism is an opinion for progress; 2) types of politeness violations in interactions on social media fulfill the 6 elements of the politeness category initiated by Leech; and 3) the cause of humiliation is not only because of hatred but also the humiliation factor that is based on sensation. Komunikasi melalui media daring semakin meningkat di masa covid-19. Hal itu dilakukan untuk mengurangi interaksi tatap muka sehingga menghambat potensi penyebaran Covid-19. Namun, di sisi lain, kondisi itu juga meningkatkan potensi komunikasi penghinaan di media sosial. Artikel ini bertujuan untuk menjelaskan bentuk, jenis, dan penyebab ketidaksopanan dalam ujaran di media sosial seputar Covid-19. Penelitian ini bersifat deskriptif kualitatif. Data yang digunakan ialah tuturan yang mengandung penghinaan seputar pandemi covid-19 di media sosial. Data berasal dari media sosial, seperti Instagram, Facebook, Twitter, WhatsApp, dan Youtube. Artikel ini menggunakan pendekatan observasi dan metode catat untuk mengumpulkan data. Selanjutnya, data yang terkumpul tersebut dianalisis berdasarkan pada tiga hal, yaitu 1) Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) Indonesia untuk merumuskan bentuk penghinaan, 2) teori kesantunan pragmatik untuk melihat jenis pelanggaran komunikasi yang mengakibatkan penghinaan, dan 3) tema budaya guna menelusuri faktor-faktor penyebab seseorang melakukan penghinaan. Hasil dari penelitian ini ialah bahwa 1) bentuk penghinaan dapat diklasifikasikan ke dalam 2 kategori, yaitu fitnah dan penghinaan, sedangkan kritik adalah pendapat untuk kemajuan; 2) jenis pelanggaran kesantunan dalam interaksi di media social memenuhi 6 unsur kategori kesantunan yang digagas Leech; dan 3) penyebab penghinaan tidak hanya karena kebencian, tetapi juga muncul faktor penghinaan yang berdasarkan pada sensasi.
MALE GAZE DALAM SASTRA FEMINIS: STUDI ATAS KARYA ABIDAH EL KHALIEQY DAN RATIH KUMALA Febrianto, Anggit; Udasmoro, Wening
Widyaparwa Vol 51, No 2 (2023)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/wdprw.v51i2.1244

Abstract

Since the fall of Suharto in May 1998, women's involvement in literature has increased rapidly, causing a rush of feminist themes and content in literary works in this period. However, the literary works of women writers, even female feminists, are still unable to escape the tendency to objectify women. This study will show how women are positioned as objects of the voyeuristic scopophilia and fetishistic scopophilia of men in the Abidah El Khalieqy’s Perempuan Berkalung Sorban and Geni Jora and Ratih Kumala’s Tabula Rasa and Gadis Kretek. This study is descriptive qualitative. Data collection techniques were carried out using the literature study method, namely by reading carefully and thoroughly the four material object novels. Collected data will be analyzed using Male Gaze Theory by Laura Mulvey. The results of this study show that in the four novels, women consistently manifest as objects of the voyeuristic scopophilia and fetishistic scopophilia of men. This finding can be seen in the voyeuristic relationship between Samsudin-Annisa in Perempuan Berkalung Sorban, Zakky-Lola in Geni Jora, Idroes-Roemaisa in Gadis Kretek; as well as in the Galih-Krasnaya fetishistic relationship in Tabula Rasa. As voyeuristic objects, women bodies are degraded as appropriate territory to be conquered by men; while as a fetishistic object, women are constructed as a "perfect product" that functions to satisfy men's visual desires. Sejak kejatuhan Soeharto pada Mei 1998, keterlibatan perempuan di ranah sastra meningkat dengan pesat sehingga menyebabkan derasnya tema dan muatan feminisme dalam karya sastra pada pe-riode ini. Akan tetapi karya sastra dari penulis perempuan, bahkan dari feminis perempuan sekalipun, masih belum mampu keluar dari kecenderungan untuk mengobjektifikasi perempuan. Penelitian ini akan menunjukkan bagaimana perempuan didudukkan sebagai objek voyeuristic scopophilia dan fetishistic scopophilia laki-laki di dalam novel Perempuan Berkalung Sorban dan Geni Jora karya Abidah El Khalieqy serta Tabula Rasa dan Gadis Kretek karya Ratih Kumala. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan metode studi pustaka, yaitu dengan pembacaan yang cermat dan menyeluruh terhadap empat novel objek material. Data yang sudah terkumpul kemudian akan dianalisis menggunakan Teori Male Gaze Laura Mulvey. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa dalam keempat novel objek material, pe-rempuan secara konsisten diposisikan sebagai objek voyeuristic scopophilia dan fetishistic scopophilia laki-laki. Temuan ini dapat dilihat dalam relasi voyeuristic Samsudin-Annisa di Perempuan Berkalung Sorban, Zakky-Lola di Geni Jora, Idroes-Roemaisa di Gadis Kretek; serta dalam relasi fetishistic Galih-Krasnaya di Tabula Rasa. Sebagai objek voyeuristic, tubuh perempuan didegradasi menjadi sebuah teritori yang pantas ditaklukkan laki-laki; sementara sebagai objek fetishistic, perempuan dikonstruksi sebagai sebuah “produk sempurna” yang berfungsi memuaskan hasrat visual laki-laki.

Page 2 of 3 | Total Record : 21