cover
Contact Name
Mulyanto
Contact Email
widyaparwa@gmail.com
Phone
+6281243805661
Journal Mail Official
widyaparwa@gmail.com
Editorial Address
https://widyaparwa.kemdikbud.go.id/index.php/widyaparwa/about/editorialTeam
Location
Kota yogyakarta,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Widyaparwa
Jurnal Widyaparwa memublikasi artikel hasil penelitian, juga gagasan ilmiah penelitian (prapenelitian) yang terkait dengan isu-isu di bidang kebahasaan dan kesastraan Indonesia dan daerah.
Articles 18 Documents
Search results for , issue "Vol 52, No 1 (2024)" : 18 Documents clear
MEMORI DAN TRAUMA DALAM DUA NOVEL SASTRA INDONESIA-TIONGHOA KONTEMPORER Russida, Corvi Aldhecca
Widyaparwa Vol 52, No 1 (2024)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/wdprw.v52i1.1666

Abstract

In this paper, we will discuss two novels by contemporary Chinese authors, Debur Ombak Memanggilmu Kembali and Perkumpulan Anak Luar Nikah. This research aims to find out the memory and trauma that Chinese authors still carry in their works. This research uses Maurice Halbwachs' collective memory theory and Caruth's trauma theory. This research is qualitative and using two types of data, namely primary data and secondary data. Primary data is taken from the source of the material object, while secondary data consists of obtained from various sources such as books, scientific journals, articles, and video interviews and news (if needed). The results of the analysis of this paper show that the memory and trauma of Chinese-Indonesian authors are at least manifested in three ways, namely the memory and trauma of the events of May 1998, the author's tendency to bring up monoethnic characters in the novel, and the phenomenon of arranged marriages between Singkawang women and Taiwanese men. The events of May 1998 are considered as an event that psychologically attacked Chinese-Indonesians ethnic on a massive scale. That showed from the re-emergence of the event as a manifestation of the characters' trauma through flashbacks.Pada tulisan ini, peneliti mengkaji dua novel karya pengarang keturunan Tionghoa kontemporer, yaitu Debur Ombak Memanggilmu Kembali dan Perkumpulan Anak Luar Nikah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui memori dan trauma yang masih dibawa oleh para pengarang keturunan Tionghoa dalam karyanya. Penelitian ini menggunakan teori memori kolektif Maurice Halbwachs dan teori trauma Caruth. Penelitian ini bersifat kualitatif dengan menggunakan dua jenis data, yaitu data primer dan data sekunder. Data primer diambil dari sumber objek material, sementara data sekunder terdiri dari diperoleh dari berbagai sumber seperti buku, jurnal ilmiah, artikel, dan video wawancara dan berita (jika diperlukan). Hasil analisis tulisan ini menunjukkan bahwa memori dan trauma pengarang  beretnis Tionghoa-Indonesia setidaknya termanifestasi dalam tiga hal, yakni memori dan trauma peristiwa Mei 1998, kecenderungan pengarang memunculkan tokoh-tokoh yang monoetnis dalam novel, dan fenomena pernikahan pesanan antara perempuan Singkawang dengan pria berkebangsaan Taiwan. Peristiwa Mei 1998 dianggap sebagai peristiwa yang secara psikologis menyerang etnis Tionghoa-Indonesia secara masif. Hal tersebut terbukti dari dimunculkannya kembali peristiwa tersebut sebagai manifestasi trauma tokoh-tokohnya dengan cara kilas balik.   
KEARIFAN LOKAL MASYARAKAT DALAM CERITA PENDEK MENDEM JARAK: PERSPEKTIF ANTROPOBOTANI SASTRA Setyowati, Herlina; Endraswara, Suwardi; Dwijonagoro, Suwarna
Widyaparwa Vol 52, No 1 (2024)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/wdprw.v52i1.1569

Abstract

This study aims to examine the existence of cultural aspects and the meaning of botanical symbols in the short story Mendem Jarak. The research method used is literary anthropology. The primary data source is the short story Mendem Jarak by Muhammad Taufiq Syarif. Data collection is conducted through reading and note-taking techniques. The data analysis employs literary anthropology techniques. The research findings reveal cultural phenomena emerging in the short story Mendem Jarak including 1) cultural ideologies, 2) cultural practices, and 3) cultural materials. Cultural ideologies regarding the antidote for jarak fruit (Jatropha plant) poisoning in the short story Mendem Jarak uncover the utilization of young coconut water (degan), processed coconut products such as klentik oil, and the sap of the jarak plant to counteract the effects of jarak fruit seeds' poison. Cultural practices demonstrate collaborative efforts and problem-solving activities regarding jarak fruit seed poisoning. Additionally, cultural materials involve the jarak plant as a symbol of disaster for the community due to its poisonous nature. Nevertheless, the community relies on their knowledge of treating jarak fruit poisoning victims with simple remedies, such as utilizing young coconut water, processed coconut products (klentik water), and jarak tree sap. The short story Mendem Jarak reflects the lives of a community closely connected with reality; portraying children with a strong sense of curiosity and the communal spirit prevalent in rural areas. The short story Mendem Jarak depicts the traditional knowledge of the community in using plants as medicine. Thus, the anthropobotanical perspective enriches the point of view in literary studies.Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji wujud budaya dan makna simbol botani dalam cerita cekak Mendem Jarak. Metode penelitian yang digunakan yaitu antropologi sastra. Sumber data penelitian yakni cerita cekak Mendem Jarak karya Muhammad Taufiq Syarif. Pengumpulan data menggunakan teknik baca dan catat. Adapun analisis data menggunakan teknik antropologi sastra. Hasil penelitian yang diperoleh ialah gejala kebudayaan yang muncul dalam cerita cekak Mendem Jarak meliputi 1) ideologi budaya, 2) tindakan budaya, dan 3) materi budaya. Ideologi budaya penawar keracunan buah jarak dalam cerita cekak Mendem Jarak mengungkap fakta penggunaan air buah kelapa muda (degan), produk olahan buah kelapa berupa minyak klentik, dan getah tumbuhan jarak untuk menghilangkan efek racun dari biji buah jarak. Tindakan budaya menunjukkan aktivitas kerja sama dan aktivitas mengatasi masalah keracunan biji buah jarak. Adapun materi budaya yakni tumbuhan jarak sebagai simbol sumber petaka bagi masyarakat karena mengandung racun. Meskipun demikian, masyarakat mempercayai pengetahuan mereka terhadap para korban keracunan buah jarak dengan konsep pengobatan sederhana, yakni dengan memanfaatkan air buah kelapa muda, olahan buah kelapa (lenga klentik), dan getah pohon jarak. Cerita cekak Mendem Jarak merefleksikan kehidupan masyarakat yang lekat sekali dengan kehidupan nyata; anak-anak yang rasa ingin tahunya tinggi dan rasa kebersamaan masyarakat di perdesaan. Cerita cekak Mendem Jarak melukiskan pengetahuan tradisional masyarakat untuk memanfaatkan tumbuhan sebagai obat. Dengan demikian, perspektif antropobotani sastra memperkaya sudut pandang dalam pengkajian sastra.
VARIASI KOSAKATA POLITIK DALAM PEMILU INDONESIA 2024 SEBAGAI BENTUK KREATIVITAS BERBAHASA Hanifah, Riska Lulu; Kusumaningsih, Dewi; Sukarno, NFN
Widyaparwa Vol 52, No 1 (2024)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/wdprw.v52i1.1725

Abstract

The use of political vocabulary in the 2024 Indonesian election is starting to vary. Political vocabulary variations are found in public politics. Many do not realize that political vocabulary includes linguistic creativity. This study describes the sociolinguistic factors that affect language creativity in creating phonological, morphological, and semantic creativity. The method used is qualitative descriptive, with mass media data sources such as television, as well as social media such as Instagram and Twitter that discuss the creativity of political vocabulary in the 2024 Indonesian elections. Data collection techniques include listening, reading, and taking notes for mass media, as well as reading and taking notes for social media. Data analysis uses the Miles and Huberman model, through data reduction, data presentation, and conclusion drawn. The results of the study explain the sociolinguistic factors that affect language creativity. Linguistic creativity through a linguistic approach that describes phonological creativity, including differences in writing and speech resulting in variations in political vocabulary. Morphologically, it involves political compounding, and cronyism. Meanwhile, semantically, it includes synesthesia, denotative meaning, connotative meaning, and the use of slang. The variation of political vocabulary is expected to contribute to the public understanding the use of vocabulary that appears in political contexts.Penggunaan kosakata politik dalam pemilu Indonesia 2024 mulai bervariasi. Variasi kosakata politik banyak ditemukan dalam politik publik. Banyak yang tidak menyadari bahwa kosakata politik termasuk kreativitas berbahasa. Penelitian ini menguraikan faktor-faktor sosiolinguistik yang memengaruhi kreativitas bahasa dalam menciptakan kreativitas fonologis, morfologis, dan semantis. Metode yang digunakan kualitatif deskriptif, dengan sumber data media massa, seperti televisi serta media sosial, seperti Instagram dan Twitter yang membahas kreativitas kosakata politik dalam pemilu Indonesia 2024. Teknik pengumpulan data meliputi simak, baca, dan catat untuk media massa, serta baca dan catat untuk media sosial. Analisis data menggunakan model Miles dan Huberman, melalui reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menjelaskan faktor-faktor sosiolinguistik yang memengaruhi kreativitas berbahasa. Kreativitas berbahasa melalui pendekatan linguistik yang menguraikan kreativitas fonologis, mencakup perbedaan penulisan dan cara ucap menghasilkan variasi kosakata politik. Secara morfologis, melibatkan pemajemukan politik, dan pengakroniman. Sementara itu, secara semantis, meliputi sinestesia, makna denotatif, makna konotatif, dan penggunaan bahasa slang. Variasi kosakata politik diharapkan memberi kontribusi pada masyarakat dalam memahami penggunaan kosakata yang muncul dalam konteks politik.
KONTRIBUSI PEMAHAMAN LINTAS BUDAYA INDONESIA–TIONGKOK DALAM PEMBELAJARAN BIPA BAGI PEMELAJAR TIONGKOK Kusmiatun, Ari
Widyaparwa Vol 52, No 1 (2024)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/wdprw.v52i1.1369

Abstract

In today’s era, the interest in learning the Indonesian language as a foreign language is increasing, especially among learners from China. This increase can be attributed to the economic, cultural, and tourism relations between Indonesia and China, which have driven the demand for Indonesian language proficiency. In this context, it is important for learners to have cross-cultural understanding to avoid cultural conflicts. Drawing on intercultural theory and second language learning, this study aimed to: (1) identify the similarities and differences between Indonesian and Chinese cultures, (2) describe the contributions of both Indonesian and Chinese cultures in BIPA learning for Chinese learners. This study employed a qualitative descriptive approach. Data of this study were words, phrases, or sentences related to Chinese cultural content. Data sources were obtained from five respondents from China who are continuing their studies at Yogyakarta State University. Data collection techniques were conducted through semi-structured interviews. Data analysis used thematic analysis. The results indicate that the cultural differences and similarities between Indonesia and China can contribute to multicultural teaching materials, cross-cultural classroom management, and cross-cultural teaching strategies in BIPA learning.Di era ini, minat untuk mempelajari bahasa Indonesia sebagai bahasa asing semakin meningkat, terutama pemelajar dari Tiongkok. Peningkatan tersebut dapat dikaitkan dengan hubungan ekonomi, budaya, dan pariwisata antara Indonesia dan Tiongkok yang telah mendorong permintaan akan kemampuan berbahasa Indonesia. Dalam konteks ini, penting bagi pemelajar untuk memiliki pemahaman lintas budaya guna menghindari konflik budaya. Dengan menggunakan teori intercultural dan pembelajaran bahasa kedua, penelitian ini bertujuan untuk (1) menemukan persamaan dan perbedaan budaya Indonesia dengan Tiongkok; (2) mendeskripsikan kontribusi kedua budaya Indonesia dengan Tiongkok sebagai Pembelajaran BIPA bagi pemelajar Tiongkok. Penelitian ini termasuk deskriptif kualitatif. Data berupa kata, frasa, atau kalimat terkait muatan budaya Tiongkok. Sumber data diperoleh dari lima responden dari Tiongkok yang sedang melanjutkan studi di Universitas Negeri Yogyakarta. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara semi-terstruktur. Analisis data menggunakan analisis tematik. Hasil menunjukkan bahwa perbedaan dan persamaan budaya Indonesia dan Tiongkok dapat memberikan kontribusi meliputi bahan ajar multikultural, pengelolaan pembelajaran kelas lintas budaya, dan strategi pengajaran lintas budaya dalam pembelajaran BIPA.
Sampul depan, belakang, dan dalam Widyaparwa, NFN
Widyaparwa Vol 52, No 1 (2024)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

REPRESENTASI PERMOHONAN KEADILAN GERAKAN AKSI KAMISAN DALAM NOVEL LAUT BERCERITA (2017) KARYA LEILA S. CHUDORI Shabrina, Almira Wynne; Susanto, Dwi
Widyaparwa Vol 52, No 1 (2024)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/wdprw.v52i1.1660

Abstract

 The novel Laut Bercerita by Leila S. Chudori is a response to the social situation of society in the 2000s or the era after the Reformation regarding requests for human rights and justice through the Kamisan Action Movement. This research aims to reflect the social response of the novel Laut Bercerita to requests for human rights and justice through the Aksi Kamisan movement using a literary sociology approach. This research is included in the qualitative research category. This data was obtained from the novel text and the author's biography. The novel Laut Bercerita by Leila S. Chudori is the research data source. Social situations, author biographies, and text content ideas are connected as part of the data analysis process to reveal how the social world of the novel is depicted. The result of this research is Leila. S Chudori is a social representative of a group that cares about human rights and justice. This novel supports the struggle for human rights and justice carried out by the Kamisan Action movement. The novel Laut Bercerita reflects society's social life after the reform era. Based on data research, the novel Laut Bercerita is intended as a means of criticizing the government for its slowness in resolving human rights violations.Novel Laut Bercerita karya Leila S. Chudori merupakan tanggapan terhadap situasi sosial masyarakat tahun 2000-an atau era setelah reformasi atas permohonan keadilan HAM melalui gerakan Aksi Kamisan. Penelitian ini bertujuan untuk merefleksikan tanggapan sosial novel Laut Bercerita atas permohonan keadilan HAM melalui gerakan Aksi Kamisan dengan pendekatan sosiologi sastra. Penelitian ini termasuk kategori penelitian kualitatif. Data ini diperoleh dari teks novel dan biografi penulis. Novel Laut Bercerita karya Leila S. Chudori menjadi sumber data penelitian. Situasi sosial, biografi pengarang, dan gagasan isi teks dihubungkan sebagai bagian dari proses analisis data untuk mengungkap bagaimana dunia sosial novel digambarkan. Hasil dari penelitian ini adalah Leila. S Chudori merupakan wakil sosial dari kelompok yang peduli pada keadilan HAM. Novel ini mendukung perjuangan keadilan HAM yang dilakukan gerakan Aksi Kamisan. Novel Laut Bercerita adalah refleksi kehidupan sosial masyarakat setelah era reformasi. Berdasarkan penelusuran pada data, novel Laut Bercerita dimaksudkan sebagai sarana mengkritik pemerintah yang lamban dalam melakukan penyelesaian pelanggaran HAM tersebut.
POLA KOMUNIKASI PENYIAR DAN PENELEPON PADA ACARA GOBER DI RADIO PROSALINA FM Santuso, NFN; Haryono, Akhmad; Badrudin, Ali
Widyaparwa Vol 52, No 1 (2024)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/wdprw.v52i1.1198

Abstract

Gober is one of the flagship programs on Prosalina FM that is highly favored by the public and has been running for over 20 years. The research aim to describe the communication patterns between the announcer and callers on the Gober program. The communication patterns under study include verbal language, the structure of message content, as well as the direction and intensity of interactions among participants. This research falls under the study of communication ethnography using a qualitative descriptive method. Data is collected by downloading from YouTube and then continued using non-participatory observation methods. The data analysis stage uses communication ethnography methods and analyzes the eight components of speech proposed by Hymes. The results of this study indicate that the communication patterns established on the Gober program differ when responding to new callers and regular callers. The communication pattern between the announcer and new callers is formal, predominantly using the Indonesian language, and of short duration. This is because the main goal of a new caller is to introduce themselves to fellow Gober listeners and to request a song. Meanwhile, the communication pattern between the announcer and regular callers is relaxed, full of familiarity, often using code-switching and mixing codes, and has a longer duration. This is because the main goal of a regular caller is simply to chat or engage in small talk in the morning with the announcer,Gober merupakan salah satu program acara unggulan di Prosalina FM yang banyak diminati oleh masyarakat dan telah berjalan selama lebih dari 20 tahun. Tujuan penelitian ini mendeskripsikan pola komunikasi penyiar dan penelepon pada acara Gober. Pola komunikasi yang dikaji berupa bahasa verbal, struktur materi pesan, arah dan intensitas interaksi di antara partisipan, dan latar sosial budaya. Penelitian ini termasuk kajian etnografi komunikasi dengan menggunakan metode deskriptif kualitatif. Data dikumpulkan dengan diunduh dari Youtube kemudian dilanjutkan dengan menggunakan metode observasi nonpartisipasi. Tahap analisis data menggunakan metode etnografi komunikasi dan analisis delapan komponen tutur yang dikemukakan Hymes. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pola komunikasi yang dijalin pada acara Gober memiliki perbedaan saat merespons penelepon baru dan penelepon tetap. Pola komunikasi penyiar dan penelepon baru bersifat formal, dominan menggunakan bahasa Indonesia, dan berdurasi singkat. Hal itu karena tujuan utama seorang penelepon baru adalah untuk mengenalkan diri kepada sesama pendengar Gober dan untuk memesan lagu. Sementara, pola komunikasi penyiar dan penelepon tetap bersifat santai, penuh keakraban, sering menggunakan alih kode dan campur kode, dan berdurasi lebih lama. Hal itu terjadikarena tujuan utama seorang penelepon tetap adalah untuk sekadar mengobrol atau basa-basi di pagi hari dengan penyiar.
PEMERTAHANAN DAN PERGESERAN DALAM PENGGUNAAN BAHASA SUNDA DI PONPES NURUL HIKMAH SEMARANG Maghfiroh, Alvina; Suryadi, Muhammad; Candra, Oktiva Herry
Widyaparwa Vol 52, No 1 (2024)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/wdprw.v52i1.1411

Abstract

This research aims to find communication patterns conducted by informant and knowing factors that cause Sundanese can survive and shift. This research is qualitative research that collect data using indepth interview. Data resources of this study were a native speaker of Sundanese as well as a student at Ponpes Nurul Hikmah Semarang. This data analysis technique uses an inductive model and translational equivalent methods. The result of this study shows that the informant interacted with people around her neighbours, Banten and in the overseas area, Semarang. Interactions carried out by the informant in Banten were with family, siblings, relatives, and school friends. While interactions in Semarang occured between informant and teachers, fellow students, and college friends. Informant used daily Sundanese or Sunda sedeng when she was in Banten. In Semarang, the frequency of using Bahasa Indonesia is more often than in Banten. The informant also practiced switching code and mixing code between Sundanese and bahasa Indonesia. From the various interactions made by informants, the factors that influence maintaining Sundanese are geographic factors, positive language attitudes, and the environment. Whereas the factors that influence shifting Sundanese are the environment and the second person in the speech act.Penelitian ini bertujuan untuk menemukan pola komunikasi yang dilakukan informan dan mengetahui faktor-faktor yang menyebabkan bahasa Sunda bertahan dan bergeser. Penelitian ini termasuk penelitian kualitatif yang pengumpulan datanya menggunakan metode wawancara mendalam. Sumber data penelitian ini adalah penutur asli bahasa Sunda sekaligus sebagai santri Ponpes Nurul Hikmah Semarang. Teknik analisis data ini menggunakan model induktif dan metode padan translasional. Hasil penelitian menunjukkan bahwa informan berinteraksi dengan orang-orang di sekitar lingkungan tempat tinggalnya, Banten dan di daerah rantau, Semarang. Interaksi yang dilakukan informan di Banten yaitu dengan keluarga, saudara kandung, kerabat, dan teman masa sekolah. Adapun interaksi di Semarang terjadi antara informan dengan guru, sesama santri, dan teman kuliah. Informan dominan menggunakan bahasa Sunda sehari-hari atau bahasa Sunda sedeng ketika di Banten. Saat di Semarang, frekuensi penggunaan bahasa Indonesia lebih sering daripada di Banten. Informan juga melakukan praktik alih kode dan campur kode antara bahasa Sunda dan bahasa Indonesia. Dari berbagai interaksi yang dilakukan informan, faktor-faktor yang mempengaruhi bahasa Sunda dapat bertahan adalah faktor geografis, sikap positif bahasa, lingkungan dan mitra tutur, serta perbedaan usia. Adapun faktor yang mempengaruhi pergeseran bahasa Sunda adalah minoritas mitra tutur berbahasa Sunda serta kepentingan dan pemakaian.

Page 2 of 2 | Total Record : 18