cover
Contact Name
Mulyanto
Contact Email
widyaparwa@gmail.com
Phone
+6281243805661
Journal Mail Official
widyaparwa@gmail.com
Editorial Address
https://widyaparwa.kemdikbud.go.id/index.php/widyaparwa/about/editorialTeam
Location
Kota yogyakarta,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Widyaparwa
Jurnal Widyaparwa memublikasi artikel hasil penelitian, juga gagasan ilmiah penelitian (prapenelitian) yang terkait dengan isu-isu di bidang kebahasaan dan kesastraan Indonesia dan daerah.
Articles 345 Documents
KATA PENGANTAR SEURI ‘TERTAWA’ DALAM BAHASA SUNDA Emma Maemunah
Widyaparwa Vol 48, No 2 (2020)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (196.149 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v48i2.582

Abstract

Sundanese is one of the languages that have interface words. Almost all Sundanese verbs have interface words which serve as an introduction to an activity. One of them is the verb seuri 'laugh' which has a lot of interface words. This study aims to describe the components of interface words of seuri 'laugh' in Sundanese and explain the semantic function of those interface words. The data interface words were obtained from the Sundanese dictionary and short stories written in Sundanese. This descriptive-qualitative study used paraphrasing and classification techniques. The results show that there are 18 lexemes of  seuri 'laugh' in Sundanese, they are barakatak, belengéh, bélényeh,cakakak, calakatak, cengir, ceukeukeuk, ceuleukeuteuk, cikikik, éléngéh, gakgak, gelenyu,  ger, gikgik, irihil, key, nyéh, dan séréngéh. The function of semantic interface words of seuri 'laugh' is to show happiness, show indulgence, endure shame, nervousness, awkwardness, pain, disgust, smell something bad, and laugh at something while joking and to show the nature of people who always smile.Bahasa Sunda merupakan salah satu bahasa yang memiliki kata pengantar. Hampir semua verba bahasa Sunda memiliki kata pengantar yang berfungsi sebagai pengantar suatu kegiatan. Salah satunya verba seuri ‘tertawa’ yang memiliki banyak sekali kata pengantar. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan komponen makna kata pengantar seuri ‘tertawa’ dalam bahasa Sunda dan menjelaskan fungsi semantis medan makna kata pengantarseuri ‘tertawa’ tersebut. Data kata pengantar diperoleh dari kamus dan cerita-cerita pendek berbahasa Sunda. Penelitian deskriptif-kualitatif ini menggunakan teknik parafrase dan pengklasifikasian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 18 leksemkata pengantar seuri ‘tertawa’ dalam bahasa Sunda, yaitu barakatak, belengéh, bélényeh, cakakak, calakatak, cengir, ceukeukeuk, ceuleukeuteuk, cikikik, éléngéh, gakgak, gelenyu,  ger, gikgik, irihil,  key, nyéh, dan séréngéh. Fungsi semantis kata pengantarseuri ‘tertawa’ adalah untuk menunjukkan kebahagiaan, menunjukkan kemanjaan, menahan rasa malu, gugup, canggung, sakit, jijik, mencium bau tidak enak, atau, menertawakan sesuatu sambil bersenda gurau serta menunjukkan sifat orang yang murah senyum.
ANALISIS KETIDAKLANCARAN TUTURAN (SPEECH DISFLUENCIES) PADA PIDATO BERBASIS NASKAH DAN PIDATO EKSTEMPORAN PEMELAJAR BIPA Fida Pangesti; Arti Prihatini; NFN Fauzan
Widyaparwa Vol 50, No 1 (2022)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (341.849 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v50i1.739

Abstract

This study aims to describe the comparison of the following items: (1) the form and (2) the location of speech disfluencies in script-based speech and extemporaneous speech by BIPA students. This research is a qualitative descriptive study. The research data is in the form of speech impediments in the speeches of BIPA students who were captured using the listening method and then analyzed using the disappearing technique. The results of data analysis showed that the fluency of extemporaneous speech was significantly higher than that of script-based speech. The forms of speech impediment include (1) pause filler, (2) repetition, (3) lengthening, and (4) revision. In this case, there is no difference in the characteristics of speech impediments in the two speeches. The speech impediment occurs: (1) before the sentence, (2) the clause limit, (3) the constituent limit, and (4) within the constituent. In this case, extemporaneous speech is dominated by the location of speech impediments (1) and (2), while script-based speech is dominated by (3) and (4) which indicates that the obstacle in script-based speech lies in word recall, while the obstacle in extemporary speech lies in message formulation.Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan perbandingan (1) bentuk dan (2) letak ketidaklancaran tuturan (speech disfluencies) pada pidato berbasis naskah dan pidato ekstemporan pemelajar BIPA. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif. Data penelitian berupa ketidaklancaran tuturan dalam pidato mahasiswa BIPA yang dijaring dengan metode simak kemudian dianalisis dengan teknik lesap. Hasil analisis data menunjukkan ketidaklancaran tuturan pidato ekstemporan secara signifikan lebih tinggi daripada pidato berbasis naskah. Bentuk ketidaklancaran tuturan meliputi (1) pengisi jeda, (2) pengulangan, (3) pemanjangan, dan (4) revisi. Dalam hal ini, tidak ada perbedaan karakteristik bentuk ketidaklancaran tuturan dalam kedua pidato. Ketidaklancaran tuturan terjadi (1) sebelum kalimat, (2) batas klausa, (3) batas konstituen, dan (4) di dalam konstituen. Dalam hal ini, pidato ekstemporan didominasi letak ketidaklancaraan tuturan (1) dan (2), sedangkan pidato berbasis naskah didominasi (3) dan (4) yang mengindikasikan bahwa hambatan pada pidato berbasis naskah terletak pada recall kata, sementara hambatan  pada pidato ekstemporan terletak pada formulasi pesan.
TRANFORMASI KISAH ASHABUL KAHFI DALAM AHLUL KAHFI KARYA TAUFIQ AL-HAKIM (TRANSFORMATION STORY "ASHABUL KAHFI" IN AHLUL KAHFI BY TAUFIQ AL-HAKIM) Umar Sidik
Widyaparwa Vol 44, No 2 (2016)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (681.317 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v44i2.133

Abstract

Tulisan ini bertujuan untuk (1) mendeskripsikan bagaimana resepsi pengarang dalam menempatkan kisah Ashabul Kahfi dalam karyanya yang berjudul Ahlul Kahfi; dan (2) menemukan hubungan interteks antara naskah drama dan teks Alquran serta tafsirnya sebagai hipogram.Pendekatan yang digunakan dalam pengkajian ini ialah resepsi/transformasi.Teknik analisis dilakukan dengan cara membandingkan, menjajarkan, dan mengontraskan teks drama Ahlul Kahfi dan Alquran sebagai hipogram. Hasil yang didapatkan dari penelitian ini bahwa naskah drama Ahlul Kahfi merupakan penyerapan, penyalinan, enovasi, dan transformasi dari Alquran.Terdapat jalinan yang erat antara kisah Ashabul Kahfi dan Ahlul Kahfi sebagaihasil karya inovasi dan transformasi.Drama Ahlul Kahfi muncul karena adanya kisah Ashabul Kahfi. This paper aims to (1) describe how the reception of the author in involving the story of Ahlul Kahfi in his work entitled Ashabul Kahfi; and (2) find the intertextual relationship between the playwright and the Quran text and its interpretation as hipogram. The approach used in this study was reception/transformation. The analysis was conducted by comparing, aligning, and contrasting the drama text, Ahlul Kahfi and the Quran as hipogram. The results shows that the playwright, Ahlul Kahfi is the absorption, copying, enovation, and transformation from the Quran. There is a close relation between the story of Ashabul Kahfi and Ahlul Kahfi as the work of innovation and transformation. Ahlul Kahfi arise drama appearance was initiated by the story of Ashabul Kahfi.
KAJIAN BUNYI VOKAL BAHASA JAWA DALAM LINGKUNGAN MULTIETNIS: STUDY KASUS DI YOGYAKARTA Widada Hs
Widyaparwa Vol 39, No 1 (2011)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1478.416 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v39i1.29

Abstract

Penelitian ini memfokuskan pada pembahasan mengenai fonologi bahasa Jawa lingkungan multietnis (BJLM), khususnya kajian bunyi vokal. Kerangka teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah berdasar analisis linguistik struktural. Adapun data penelitian ini berupa tuturan BJLM dengan ragam ngoko. Alat penelitiannya adalah berupa daftar kata untuk mendapatkan data struktur fonologi BJLM. Cara pengumpulan data dengan menggunakan berbagai teknik, seperti teknik kerja sama dengan informan, teknik kuesioner, dan teknik rekam. Cara menganalisis data dengan menerapkan metode distribusional dengan berbagai tekniknya. Hasil analisis yang diperoleh tersebut diharapkan dapat memberikan gambaran tentang bunyi-bunyi vokal yang terdapat dalam bahasa Jawa yang dituturkan oleh berbagai etnis yang tinggal di Yogyakarta.This research focuses on the discussion of the Javanese phonology in a multiethnic environment (BILM), particularly to study the vowel sounds. This research applies analysis of structural theory as the framwork theory. As for the data, this research uses BJLM's ngoko speech" The instrument for this research is word lists through which the BJLMs phonological structures are found. The method of data collection uses several techniques, such as the techniques of cooperation with the informants, questionnaires, and recordings. The data are then analyzed by using distibutional method with its variants. The result is expected to give details of description about the vowel sounds in the Javanese language as spoken by the multiethnic people in Yogyakarta.
Pemertahanan dan Pengembangan Bahasa Indonesia (Indonesian Language Maintenance And Development) Dewa Putu Wijana
Widyaparwa Vol 46, No 1 (2018)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (177.188 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v46i1.166

Abstract

The success of the Indonesian nation to bring Malay language into a national language is a remarkable achievement that is not necessarily done by other nations.Many countries in the world, such as India, Philippines, Singapore, and so on have not succeeded in following the success of the Indonesian nation in establishing their language policy line. However, this success is not supported by the positive attitude of its speakers to maintain and develop its national language. In this regard, the pride of Indonesian and the pride of local languages as an element of Indonesian language and cultural development must be continuously improved. Keberhasilan bangsa Indonesia mengangkat bahasa Melayu menjadi bahasa nasional merupakan prestasi yang luar biasa yang belum tentu dapat dilakukan oleh bangsa lain. Banyak negara di dunia, seperti India, Filipina, Singapura, dan sebagainya sampai sekarang belum berhasil mengikuti kesuksesan bangsa Indonesia dalam menetapkan garis kebijakan kebahasaannya. Namun, keberhasilan ini ternyata tidak didukung oleh sikap positif para penuturnya untuk mempertahankan dan mengembangkan bahasa nasionalnya. Sehubungan dengan itu, kebanggaan terhadap bahasa Indonesia dan bahasa-bahasa daerah sebagai unsur pengembangan bahasa  dan budaya Indonesia harus terus ditingkatkan. 
PENANDA JAMAK INFLEKSI DALAM BAHASA SUNDA Riani Riani
Widyaparwa Vol 40, No 2 (2012)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2241.69 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v40i2.57

Abstract

Inti Sari Penelitian ini memerikan afiks-afiks infleksi penanda jamak serta proses infleksi afiksasi penanda jamak pada nomina, adjektiva, dan verba dalam bahasa Sunda dengan menggunakan teori Word-and-Paradigm yang dikemukakan oleh Booij (2005). Konstruksi Word-and-Paradigm dapat memberikan gambaran proses terjadinya infleksi, yaitu proses afiksasi yang tidak mengubah kelas kata dan memberikan paradigma tambahan berupa penanda jamak. Metode dalam penelitian ini ialah metode intropeksi dan observasi terhadap empat buku tata bahasa Sunda karangan Coolsma (1985), Robins (1983), Rusyana (1978), dan Kats, J dan Soeriadiradja (1982). Data dianalisis dengan menggunakan metode formal, distributional dan teknik parafrase. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hanya ditemui sedikit afiks dan reduplikasi yang dapat dikategorikan sebagai pembentuk kata infleksi. Afiks pembentuk infleksi karena bahasa Sunda termasuk ke dalam bahasa aglutinatif. The research describes some afixes that form inflection plural markers and plural marker afixation of inflection process on noun, adjective, and verb in Sundanese language by using Word-and-Paradigm proposed by Booij (2005). Word-and-Paradigm construction can be used to illustrate inflection process, which is afixation process that does not change word class and gives plural paradigm addition. The method in the research is intropection on Sundanese native speaker and observation on four Sundanese grammar books written by Coolsma (1985), Robins (1.983), Rusyana (1978), dan Kats, I and Soeriadiradja (1.982). The data is analyzed by using formal method, distribution, and pharafrase technique. The research result shows that there are small numbers of afixxes and reduplications categorized as inflectional word formation. The small number of inflectional affixes indicate that Sundanese language is clasified as aglunitative language.
TRANSFORMASI ALAT PERTANIAN TRADISIONAL KE ALAT PERTANIAN MODERN BERDASARKAN KEARIFAN LOKAL MASYARAKAT JAWA TENGAH Prembayun Miji Lestari; Retno Purnama Irawati; Mujimin Mujimin
Widyaparwa Vol 47, No 1 (2019)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (175.455 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v47i1.312

Abstract

The ancestors of the Javanese community have knowledge of farming methods on agricultural land and various tra-ditional farming equipment passed down from generation to generation, which is still simple in nature, used by a group of hereditary communities and is part of the technology system they possess according to their cultural con-ception. There are two types of agricultural equipment used, namely traditional and modern farming tools. Traditi-onal farming tools are simple and driven using human labor, while modern agricultural tools are driven by machines. The transformation of traditional agricultural tools to modern agricultural tools needs to be studied more deeply. This article will discuss about the traditional agricultural tools used by the Javanese people, especially Cen-tral Java, along with the transformation of traditional agricultural tools into modern agricultural tools. This article is derived from research that utilizes qualitative descriptive research approach. Data were collected using interview technique, observation, and literature study. Interviews were conducted with informants (rice farmers and owner of agricultural land) who were considered to know and master the problems of traditional farming equipment in Klaten District. The reasons for use of traditional farming tools by farmers are (1) farmers feel that traditional farming tools are more appropriate than modern farming tools, (2) unprocessed areas, (3) able to reach narrow areas, (4) practical and easy to carry as well as used, and (5) low prices and such tools are easy to find. Some traditional farming tools have undergone transformation into modern agricultural tools. These modern agricultural tools are operated by machines, can be grouped into (1) modern soil implements, (2) modern cultivators, and (3) modern harvesters.Nenek moyang masyarakat Jawa memiliki pengetahuan cara bercocok tanam di lahan pertanian dan berbagai macam peralatan pertanian tradisional yang diwariskan secara turun temurun, yang masih sederhana sifatnya, digunakan oleh sekelompok masyarakat secara turun temurun dan merupakan bagian dari sistem teknologi yang mereka miliki menurut konsepsi kebudayaannya. Ada dua jenis alat pertanian yang digunakan, yakni alat pertanian tradisional dan mo-dern. Alat pertanian tradisional bentuknya sederhana dan digerakkan menggunakan tenaga manusia, sedangkan alat pertanian modern digerakkan dengan menggunakan mesin. Transformasi alat pertanian tradisional menuju alat pertanian modern perlu untuk dikaji lebih dalam. Artikel ini akan membahas tentang alat pertanian tradisional yang dimanfaatkan masyarakat Jawa, khususnya Jawa Tengah, berikut transformasi alat pertanian tradisional menjadi alat pertanian modern. Artikel ini berasal dari penelitian yang memanfaatkan pen-dekatan penelitian deskriptif kualitatif. Data dikumpulkan menggunakan teknik wawancara, observasi, dan studi pustaka. Wawancara dilakukan dengan para informan (para petani padi dan petani ladang) yang dianggap mengetahui dan menguasai masalah alat pertanian tradisional di Kabupaten Klaten. Penggunaan alat pertanian tradisional oleh petani ini dengan alasan (1) petani merasa alat pertanian tra-disional lebih tepat dipergunakan daripada alat pertanian modern, (2) area yang diolah tidak luas, (3) mampu menjangkau area yang sempit, (4) praktis dan mudah dibawa serta digunakan, dan (5) harga murah dan alat tersebut mudah ditemukan. Beberapa alat pertanian tradisional telah mengalami transformasi menjadi alat pertanian modern. Alat pertanian modern ini dioperasikan dengan mesin, da-pat dikelompokkan menjadi (1) alat pengolah tanah modern, (2) alat tanam modern, dan (3) alat pemanen modern. 
DOMINASI BAHASA INGGRIS PADA NAMA BADAN USAHA DI YOGYAKARTA Riani Riani
Widyaparwa Vol 42, No 2 (2014)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2870.9 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v42i2.92

Abstract

Tulisan ini membahas pengaruh bahasa Inggris terhadap penggunaan bahasa Indonesia dalam penamaan badan usaha di Yogyakarta. Data penelitian ini berupa frasa dan kata yang digunakan untuk menamai badan usaha di Yogyakarta. Data dikumpulkan dengan metode simak dan catat. Teori dalam tulisan ini meliputi struktur frasa nomina, relasi makna asosiatif, dan xenoglossophilia. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa pengaruh bahasa Inggris terhadap bahasa Indonesia dalam penamaan badan usaha sangat besar yang terlihat pada (1) bagaimana pengaruh struktur frasa nomina bahasa Inggris MD (menerangkan-diterangkan) terhadap struktur frasa nomina bahasa Indonesia DM (diterangkan-menerangkan) yang cukup mendominasi baik pada struktur maupun pilihan kata pada nama badan usaha; (2) pemilihan kosakata bahasa Inggris dalam penamaan nama badan usaha juga lebih diutamakan oleh pemilik badan usaha karena pengaruh kuat makna asosiasi bahasa Inggris yang dianggap lebih bergengsi dibandingkan bahasa Indonesiai; (3) dominasi pemakaian struktur dan pilihan kata bahasa Inggris terhadap penamaan badan usaha tampak tinggi terlihat dari jumlah nama badan usaha banyak menggunakan bahasa Inggris. Kecenderungan ini menunjukkan gejala xenoglossophilia atau rasa cinta berlebihan terhadap bahasa asing, khususnya bahasa Inggris dibandingkan dengan bahasa Indonesia. This paper discusses the influence of English in naming of enterprise in Yogyakarta. The research data are phrase and word that are used for naming enterprise in Yogyakarta. The data is collected by observing and recording. The theory includes noun phrase structure, associative meaning relation, and xenoglossophilia. The research result shows that the influence of English on lndonesia in naming enterprise is great that can be shown on (1) haw the influence of English noun phrase structure MD (to explain-to be explained) on lndonesian noun phrase structure DM (to be explained-to explain) that is quite dominated both on structure and word choice of enterprise name; (2) The English vocabulary selection in naming enterprise is also more emphasized by the enterprise owner because the strong influence of English association meaning that is considered more prestige than lndonesian's. Domination of English structure and vocabulary in naming seems high as shown by great number of English use on enterprise name. The tendency of English domination points to xenoglossophilia or an infatuation with foreign languages, particularly English than lndonesian.
Indeks abstrak NFN Widyaparwa
Widyaparwa Vol 50, No 2 (2022)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (474.81 KB)

Abstract

KULINER INDONESIA DALAM PEMBELAJARAN BIPA SEBAGAI PENINGKATAN PENGETAHUAN DAN KETERAMPILAN BERBAHASA BERDASARKAN PERSEPSI PEMELAJAR NFN Defina
Widyaparwa Vol 48, No 2 (2020)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (242.399 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v48i2.545

Abstract

Language learning is closely related to cultural understanding. Culinary is one of the cultures in learning the target language. Culinary practice and culinary tasting are a form of meaningful, authentic learning. Research objectives 1) describe the results of Indonesian culinary practices; 2) student assessment of cultural material by increasing knowledge and language skills; 3) learner advice for culinary teaching materials. Qualitative and quantitative research methods. Data collection techniques through questionnaires, observations, and interviews. Observations and interviews are carried out during culinary practices and when culinary materials are in class, while the survey is distributed after the course ends. There were 10 KNB student respondents. The research was conducted at IPB in December 2018-January, 2019. As a result, with the existence of cultural practices, they were able to share their experiences. In culinary tasting, they express the things that are in their minds. In conclusion, Indonesia's introduction and culinary practices can increase awareness and improve students' language skills.Pembelajaran bahasa berkaitan erat dengan pembelajaran budaya. Kuliner merupakan salah satu budaya dalam pembelajaran bahasa target. Praktik kuliner dan mencicipi kuliner merupakan salah satu bentuk pembelajaran otentik yang bermakna.Tujuan penelitian adalah 1) mendeskripsikan hasil praktik kuliner Indonesia; 2) memberikan penilaian pemelajar terhadap materi kuliner dengan peningkatan pengetahuan dan keterampilan berbahasa; 3) memberikan saran pemelajar untuk materi ajar kuliner. Metode penelitian kualitatif dan kuantitatif. Teknik pengumpulan data melalui kuesioner, pengamatan, dan wawancara. Pengamatan dan wawancara dilakukan saat praktik kuliner dan saat materi kuliner di kelas, sedangkan kuesioner disebarkan setelah kursus berakhir. Responden mahasiswa KNB sebanyak 10 orang. Penelitian dilaksanakan di IPB pada Desember 2018-Januari 2019. Hasilnya, dengan adanya praktik kuliner, mereka dapat menceritakan pengalamannya. Pada pencicipan kuliner, mereka mengungkapkan hal yang ada dalam pikirannya. Simpulannya adalah pengenalan dan praktik kuliner Indonesia mampu menambah pengetahuan dan meningkatkan keterampilan berbahasa pemelajar.

Page 9 of 35 | Total Record : 345