cover
Contact Name
Mulyanto
Contact Email
widyaparwa@gmail.com
Phone
+6281243805661
Journal Mail Official
widyaparwa@gmail.com
Editorial Address
https://widyaparwa.kemdikbud.go.id/index.php/widyaparwa/about/editorialTeam
Location
Kota yogyakarta,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Widyaparwa
Jurnal Widyaparwa memublikasi artikel hasil penelitian, juga gagasan ilmiah penelitian (prapenelitian) yang terkait dengan isu-isu di bidang kebahasaan dan kesastraan Indonesia dan daerah.
Articles 345 Documents
Indeks penulis 48 NFN Widyaparwa
Widyaparwa Vol 48, No 2 (2020)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (83.325 KB)

Abstract

IDEOLOGI PENERJEMAHAN WORDPLAY DALAM ALICE'S ADVENTURES IN WONDERLAND KE DALAM BAHASA INDONESIA Eko Setyo Humanika
Widyaparwa Vol 39, No 2 (2011)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1569.099 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v39i2.34

Abstract

Penelitian ini mengkaji ideologi penerjemahan permainan kata (wordplay) dalam cerita anak Alices Adventures in Wonderland ke dalam bahasa Indonesia oleh tiga penerjemah. Karena ideologi penerjemahan bisa dilacak dari teknik penerjemahan, penelitian ini juga bertujuan untuk (1) menganalisis teknik penerjemahan wordplay dalam Alices Adventures in Wonderland ke dalam bahasa Indonesia dan (2) menganalisis ideologi yang mendasari pengambilam keputusan oleh para penerjemah. Kajian ini merupakan penelitian kualitatif deskriptif nonhipotesis. Strategi yang digunakan ialah embedded case study. Sampel dalam penelitian dicuplik secara purposif. Data dikumpulkan dengan teknik wawancara mendalam dan kajian dokumen. Teknik triangulasi sumber dan triangulasi metode digunakan untuk menjamin validitas data. Untuk menganalisis data, digunakan model analisis interaktif dari Miles dan Huberman. Penelitian ini menghasilkan dua temuan. Pertama, terdapatnya lima teknik penerjemahan wordplay yang diaplikasikan oleh penerjemah: literal (71 %), wordplay-wordplay translation (18 %), kompensasi (6 %), editorial technique (2,5 %), dan penghilangan (2,5 %). Kedua, proses pengambilan keputusan oleh para penerjemah lazimnya lebih didominasi oleh ideologi foreignizing.This research aims at exploring the ideology of the English-Indonesian translation of wordplays in Alice's Adventures in Wonderland conducted by three translators. Since translation ideology can be reflected in the techniques of the translation, the specific objectives of this research are (1) to analyze the techniques of transferring the wordplays in Alice's from English to lndonesian, and (2) to analyze the ideology of the trsnslation of the wordplays in question. This is a non-hypothetical descriptive qualitative research. The strategy used is an embedded case study. The samples of the research are drawn purposively, and the data are collected in such techniques as content analysis and in-depth interuiewing. Data and method triangulation are used to confirm data validity of this study. To analyze the data, this research applies Miles and Huberman's interactive analysis model. This research bears two findings: (1) in the translating of the wordplays the translators applied five techniques, i.e.literal translation (71%), wordplay-wordplay translation (18%), compensation (6%), editorial technique (2.5%), and deletion (2.5), and (2) the domination of the foreignizing ideology in the process of decision making in the translation.
FENOMENA PENGGUNAAN UNGGAH-UNGGUH BASA JAWA KALANGAN SISWA SMK DI SURAKARTA Bagus Wahyu Setyawan
Widyaparwa Vol 46, No 2 (2018)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (177.282 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v46i2.200

Abstract

Globalization era will bring negative impact if it does not be treated properly, particularly for young generation. Most students do not know how to admire others, particularly when they interact with others. This condition can be witnessed in the use of the language use of students in SMK in Surakarta who still do not understand the proper style of Javanese language.  This research aims to describe and explain about the phenomena of Javanese language style use of SMK in Surakarta. Data source is obtained from observation and in-depth interview. The result shows that there are still many mistaken use among the students. It is stimulated by the lack of habit of the students in using kromo inggil by parents, the lack of relationship among school, parents, and society. There is also the lack of educational model about appropriate unggah-ungguh basa. It shows that there is still found the use of mistake unggah-ungguh basa among students.Era globalisasi apabila tidak disikapi secara bijak akan membawa dampak negatif, utamanya bagi para pemuda. Banyak siswa yang tidak mengerti mengenai cara menghormati orang lain, utamanya ketika berinteraksi dengan mitra tutur. Hal ini terlihat dari penggunaan bahasa siswa di SMK di Surakarta yang masih belum memahami ragam bahasa Jawa yang baik dan benar. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menjelaskan mengenai fenomena penggunaan ragam bahasa Jawa siswa SMK. Sumber data berupa penggunaan ragam bahasa Jawa di beberapa SMK di Surakarta. Proses pengambilan data dengan observasi dan wawancara mendalam. Dari hasil penelitian ditemukan masih banyak kesalahan penggunaan ragam bahasa di kalangan siswa. Penyebabnya ialah siswa tidak dibiasakannya berbahasa krama inggil oleh orang tua, kurangya kerja sama antara pihak sekolah, orang tua, dan masyarakat. Juga belum adanya model pendidikan mengenai unggah-ungguh basa yang dirasa cocok. Dengan demikian, masih banyak ditemukan penggunaan unggah-ungguh basa yang keliru di kalangan siswa.
MINANGKABAU DALAM KABA CINDUA MATO Aimifrina Aimifrina
Widyaparwa Vol 41, No 2 (2013)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2765.221 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v41i2.72

Abstract

Kesusastraan Minangkabau yang terpenting adalah kaba. Kaba merupakan cerita rakyat Minangkabau yang berisi falsafah hidup berdasarkan kebiiaksanaan masyarakat Minangkabau dalam seluruh aspek kehidupannya. Untuk mengetahui falsafah hidup dan makna yang berada dibalik falsafah hidup tersebut dapat dilakukan dengan menganalisis Kaba Cindua Mato. Teori yang digunakan adalah teori struktural Levi-Strauss dengan metode deskriptif. Hasil pembahasan diperoleh bahwa terdapat relasi antartokoh dan kontradiksi tokoh pada kaba tersebut. Relasi antartokoh antara tokoh yang tinggal di daerah Luhak Tanah Datar dengan daerah Rantau Luhak Tanah Datar. Daerah Luhak, yaitu Dang Tuanku, Bundo Kanduang, dan Cindua Mato, sedangkan daerah rantau ialah Imbang Jayo, Rajo Mudo, dan Tiang Bungkuk. Kontradiksi terjadi antara Dang Tuanku dengan Imbang Jayo, Bundo Kanduang dengan Rajo Mudo, dan Cindua Mato dengan Tiang Bungkuk. Dari relasi intirtokoh dan kontradiksi dapat diketahui maknanya adalah (1) prosedur pelaksanaan hukum dan mendapat keadilan untuk semua warga adalah sama;(2) masalah diselesaikan dengan cara kekeluargaan dan musyawarah; (3) fitnah menimbulkan permusuhan, peperangan, dan pembunuhan; (4) kejujuran, kesetiaan, dan tanggung jawab dapat mengangkat martabat dan derajat seseorang, (5) kebenaran berita perlu diselidiki, baru menentukan sikap; (6) penguasa harus memberi contoh yang baik dan menjadi panutan bagi warganya. Most important thing in Minangkabau literature is kaba. Kaba is Minangkabau folktale that contains living philosophy based in Minangkabau society wisdom among its living aspects. To find out living philosophy and meaning behind it, this research is conducted to analyze Kaba Cindua Mato using structural theory by Levi-Strauss with descriptive method. The result shows that there is characters relationship and contradiction in kaba. The character relationship who live in Luhak Tanah Dotor and Rantau Luhak Tanah Datar. Character in Luhak are Dang Tuanku, Bundo Kanduang, and Cindua Mato, while in Rantau is Imbang Jayo, Bundo Kanduang with Rajo Mudo, Cindua Mato and Tiang Bungkuk. From the characters relationship and contradiction, it can be found meaning that (7) law execution procedure and rights in receiving justification for all people are equal; (2) problems could be done in friendship and discussion; (3) betrayal stimulate hostility, war, and homicide; (4) honesty, obey, and responsibility could raise someone dignity; .(5) news truth need to be investigated, then followed by attitude definition; (6) author has to give good example and is able to be model for his people.
HEGEMONI PENGUASA TERHADAP WANITA DALAM PERTUNJUKAN KIDUNG SRI BEDHAYA NFN Hartikaningsih; NFN Andayani; Prasetyo Adi Wisnu Wibowo
Widyaparwa Vol 47, No 2 (2019)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (174.866 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v47i2.196

Abstract

Monologue drama performances in Javanese seem rarely found. The monologue drama Song of Sri Bedhaya created by Trisno Santoso applies feminism as his approach. The purpose of this research is to describe and explain the form of ruler's hegemony towards women in the performance of the Song of Sri Bedaya by Trisno Santoso. The research method used in this research is descriptive qualitative with literature study and is not tied to the place of research. The results of the discussion in this study found 4 forms of authority hegemony towards women in the Song of Sri Bedhaya by Trisno Santoso, among others tend to say rude to subordinates, give threats to abdi, orders to meet personal affairs and play with women.Pertunjukan drama monolog dengan bahasa Jawa sepertinya jarang ditemukan. Drama monolog Kidung Sri Bedhaya yang diciptakan oleh Trisno Santoso menerapkan feminisme sebagai pendekatannya. Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan dan menjelaskan bentuk hegemoni penguasa terhadap wanita dalam pertunjukan Kidung Sri Bedaya karya Trisno Santoso. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dengan studi pustaka dan tidak terikat dengan tempat penelitian. Hasil pembahasan dalam penelitian ini ditemukan 4 bentuk hegemoni penguasa terhadap wanita dalam pertunjukan Kidung Sri Bedhaya karya Trisno Santoso, antara lain cenderung berkata kasar terhadap bawahan, memberikan ancaman kepada abdi, perintah untuk memenuhi urusan pribadi dan mempermainkan wanita.
PEMATUHAN DAN PELANGGARAN PRINSIP KESOPANAN SERTA FUNGSINYA DALAM WACANA TERKAIT USULAN DANA ASPIRASI DPR DI RUBRIK POLITIK KOMPASIANA (COMPLIANCE AND VIOLATION OF POLITENESS PRINCIPLES AND ITS FUNCTION ON THE DISCOURSE OF ASPIRATION FUND PROPOSED BY REP) Ali Kusno
Widyaparwa Vol 43, No 1 (2015)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3701.97 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v43i1.106

Abstract

Wacana dana aspirasi sebesar Rp1,2 triliun yang diusulkan DPR menjadi polemik dalam masyarakat. Polemik itu terjadi, salah satunya pada media sosial Kompasiana. Untuk itu, tulisan ini membahas fenomena pragmatik (pematuhan dan pelanggaran) pada rubrik Kompasiana dengan metode deskriptif kualitatif. Sementara itu, dalam pemerolehan data digunakan teknik unduh dan dalam penganalisisan digunakan metode interaktif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa para kompasianer (penulis artikel) mematuhi prinsip-prinsip kesopanan. Prinsip kesopanan yang digunakan meliputi maksim kearifan, maksim pujian, maksim kerendahan hati, maksim kesepakatan, dan maksim simpati. Pematuhan tersebut menunjukkan bahwa kompasianer menempatkan diri sebagai bagian masyarakat. Di sisi lain, pelanggaran prinsip kesopanan meliputi maksim pujian, yakni mengkritik langsung; bertutur kasar, sengaja ingin memojokkan mitra tutur, dan menyampaikan tuduhan atas dasar kecurigaan terhadap mitra tutur. Pelanggaran maksim kesepakatan dihrnjukkan dengan pertentangan pemahaman mengenai usulan dana aspirasi DPR. Pelanggaran-pelanggaran itu berfungsi untuk menyampaikan kritik pedas kepada anggota DPR.Discourse aspiration funds amounting to Rp11.2 trillion which is proposed by House of Representatives is being debated in society. Polemics happens, one of them on social media Kompasina. Therefore, this study discuses pragmatics phenomenon (compliance and violation) of Kompasiana rubric with descriptive qualitative method. Meanwhile, the data is obtained by using download techniques and in analyzing data employs interactive methods. The result shows that the kompasioner (writer of the article) adheres to the principles of modesty. Politeness principles used include tact maxime, approbation maxime, modesty maxime, agreement maxime, and sympathy maxime. The compliance function indicates that kompasioner get themselves as part of society. Meanwhile, violation of the modesty principle covers praise maxime, namely denounces members of Parliament in various ways, such as directly criticize with harsh words or phrases; speak with a driven sense of emotion; deliberately want to discredit hearer; convey the charges on the basis of suspicion against the hearer. Further violatioon of agreement maxime shows by the opposition understanding of the Representative aspiration fund. The intention of violation is to convey scathing criticism to members of Representative members.
PERSOALAN LINGKUNGAN DALAM NOVEL LEMAH TANJUNG KARYA RATNA INDRASWARI IBRAHIM (PROBLEM OF ENVIRONMENT IN LEMAH TANJUNG NOVEL BY RATNA INDRASWARI IBRAHIM) Yulitin Sungkowati
Widyaparwa Vol 44, No 2 (2016)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (462.17 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v44i2.129

Abstract

Sebagai produk masyarakat, karya sastra juga menghadirkan persoalan-persoalan yang ada di masyarakat, tidak terkecuali persoalan lingkungan. Ratna Indraswari Ibrahim adalah perempuan pengarang yang memiliki perhatian terhadap persoalan lingkungan seperti dalam novel Lemah Tanjung, tetapi selama ini para peneliti hanya menyoroti persoalan perempuannya saja. Oleh karena itu, masalah yang menjadi fokus penelitian ini adalah bagaimanakah persoalan lingkungan dalam novel Lemah Tanjung. Penelitian ini bertujuan mengungkap dan mendeskripsikan persoalan lingkungan yang terepresentasikan dalam novel Lemah Tanjung melalui pendekatan mimetis dengan teori ecocriticsm. Hasil penelitian menunjukan bahwa persoalan lingkungan dalam novel Lemah Tanjung merupakan representasi persoalan lingkungan yang ada di Kota Malang. Indikasi awal persoalan lingkungan adalah sulitnya mencari kunang-kunang yang menunjukkan makin sulitnya mencari sumber air bersih. Persoalan lingkungan lebih besar dihadirkan dengan kasus alih fungsi hutan kota menjadi perumahan mewah yang memicu perlawanan masyarakat terhadap pengusaha dan penguasa yang tidak berpihak pada lingkungan. Novel Lemah Tanjung menunjukkan keberpihakannya pada lingkungan, tetapi dengan nada pesimis. As a product of society, literary presents some problems that exist in society, not mention environment problems. Ratna Indraswari Ibrahim is a woman writer who cares about environment problem, as seen on her novel, Lemah Tanjung. Up to now, the researcher only focused on the woman problem. Because of that, this research focused on how the environment problem that represented in Lemah Tanjungnovel. The aims of this research are to expose and describe the environment problem that represented in Lemah Tanjung novel by using mimetic approach with ecocriticism theory. Result of the research shows that environment problem in Lemah Tanjung novel is a representation of the environment problem in Malang city. The earlier indication is difficulty of finding the firefly that showed the difficulties of finding the water spring. The bigger environmental problem is presented by the case of forest conversion into luxurious residential that triggered societys resistance to the authority and businessman who do not defect to the enironment. Lemah Tanjung novel stands for the environment, but not in optimistic.
RELASI MAKNA DALAM ANTOLOGI PUISI MASIH INGATKAH KAU JALAN PULANG KARYA SAPARDI DJOKO DAMONO DAN RINTIK SEDU: ANALISIS SEMANTIK Siti Vitandari Yudmianti; Cintya Nurika Irma; Deni Permadi
Widyaparwa Vol 50, No 1 (2022)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (379.408 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v50i1.861

Abstract

This study aims to describe the relationship of meaning based on semantic analysis contained in the poetry anthology Masih Ingatkah Kau Jalan Pulang by Sapardi Djoko Damono and Rintik Sedu. The method used in this study is descriptive qualitative. The data in this study are words and/or phrases in an array or verse of poetry that indicate the existence of a relationship of meaning. The data collection technique used is to read, record, and find words and/or phrases in arrays and stanzas that contain meaning relationships. Then, analyze the data and describe it. The test of the validity of the data in this study includes a credibility test by triangulation of sources. The results showed that there was a relationship of meaning in the form of (a) synonymy which includes the word crumbs with crumbs, the word medicine with an antidote; (b) antonymy which includes the word North with South, the word heaven with hell, etc.; (c) homographs that include the word tofu; (d) hyponymy which includes the phrase of a word with a script-by-script meeting; (e) hypernymy which includes the word flower with the phrase red and purple yellow flowers; (f) polysemy which includes the word head; (g) redundancy which includes the word must be with yes must; (h) meronimi which includes the word flower with petals; (i) associative meanings that include the words space, universe, savanna, etc.; and (j) affective meanings that include the words honest and extravagance.Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan relasi makna berdasarkan analisis semantik yang terdapat dalam antologi puisi Masih Ingatkah Kau Jalan Pulang karya Sapardi Djoko Damono dan Rintik Sedu. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Data dalam penelitian ini ialah kata dan/atau frasa dalam larik atau bait puisi yang menunjukkan adanya relasi makna. Teknik pengumpulan data yang digunakan ialah  membaca, mencatat, dan menemukan kata dan/atau frasa dalam larik maupun bait yang mengandung relasi makna. Kemudian, menganalisis data dan mendeskripsikannya. Uji keabsahan data dalam penelitian ini meliputi uji kredibilitas dengan cara triangulasi sumber. Hasil penelitian menunjukkan terdapat relasi makna berupa (a) sinonimi yang meliputi kata reruntukan dengan remah-remah, kata obat dengan penawar; (b) antonimi yang meliputi kata Utara dengan Selatan, kata sorga dengan neraka, dan lain-lain; (c) homograf yang meliputi kata tahu; (d) hiponimi yang meliputi frasa secarik kata dengan rapat aksara demi aksara; (e) hipernimi yang meliputi kata bunga dengan frasa bunga kuning merah dan ungu; (f) polisemi yang meliputi kata kepala; (g) redundansi yang meliputi kata harus dengan ya harus; (h) meronimi yang meliputi kata bunga dengan kelopak; (i) makna asosiatif yang meliputi kata angkasa, semesta, sabana, dll.; dan (j) makna afektif yang meliputi kata jujur dan pemborosan.
RAPSODI MAHOGANI DALAM PEMAHAMAN LINTAS BUDAYA SERUMPUN Puji Santosa
Widyaparwa Vol 39, No 1 (2011)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1209.277 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v39i1.25

Abstract

Makalah ini membahas novel Rapsodi Mahogani karya Rosli Abidin Yahya dalam pemahaman lintas-budaya, yaitu pemahaman budaya pembaca yang berasal dari Jawa (Indonesia) untuk memahami budaya Melayu (Brunei Darussalam) yang tercermin dalam novel Rapsodi Mahogani. Lintas-budaya dipahami sebagai sebuah pertemuan antara dua atau lebih budaya yang berlangsung dengan cepat. Pertemuan dua budaya dapat menyebabkan gagap budaya. Hal ini disebabkan oleh kurangnya pemahaman konvensi bahasa dan konvensi budaya dari novel yang dibaca. Novel Rapsodi Mahogani ditinjau dari segi konvensi bahasa terdapat banyak kosa kata Melayu yang dianggap arkais dan untuk memahami maknanya perlu membuka kamus. Ditinjau dari segi konvensi budaya, novel Rapsodi Mahogani tidak mencerminkan kekhasan budaya Melayu yang saleh mengerjakan agama Islam dengan baik. Bahkan, dalam novel ini terasa jauh mengimpor budaya Barat, terutama Yunani dan Inggris. Sebagai hasil dari pertemuan budaya Barat, yang identik dengan budaya modern, dengan budaya Timur, yang masih irasional dan alami, perdaban budaya adat atau budaya lokal setempat menjadi musnah atau hancur.This paper discussed about Rapsodi Mahogani, a novel by Rosri Abidin Yahya in intercultural understanding of reading habit understanding of readers from Java (lndonesia) to understand Malay culture (Brunei Darussalam) as reflected in the "Rapsodi Mahogani". The intercultural was understood as a fast meeting point of one or more culture. The two meeting culture could make cultural distortion understanding. lt was caused by the lack of language and cultural convention understanding from the novel read. The "Rapsodi Mahogani" when was reviewed from language convention showed many Malay archaic vocabulary. To understand those vocabularies meaning, then, it was needed dictionary. Reviewed from cultural convention, the "Rapsodi Mahogani" did not reflect specific Malay culture that was identical with obeying in Islam religious service. The novel, even, seemed importing Western culture, particularly Greek and England. As result of Western culture meeting which was identical with modernity and Eastern culture which was still irrational and natural, traditional cultural civilization or local culture became eliminated or ruined.
PERSEPSI TINDAK TUTUR EKSPRESIF MARAH MASYARAKAT SUKU BETAWI DI KECAMATAN BEJI, DEPOK: KAJIAN SOSIO- PRAGMATIK Wiwiek Dwi Astuti
Widyaparwa Vol 46, No 1 (2018)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (269.27 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v46i1.162

Abstract

The present study gives a comprehensive account of preception of angry speech act by Betawenese when they are ‘asked’ to do something by others. Based on the problem, this study aims to describe the expres- sive perception of Betawi people anger when they are 'asked' to do something by others in the form of speech. The data source is questionerre distributed to 30 people who live in Beji Depok district. This study applies descriptive method of qualitative approach. The result shows that forms of anger expressive speech act preception are (1) expressions ‘aduh’ or ‘waduh’, (2) the use of words or questions, (3) the expressions of refutation, (4) experssions of prohibition, and (5) swearing expressions.The social factors influencing expressions are (1) anger to the parents, (2) to the superiors, (3) to strangers, (4) to older people with higher economic status, (5) to older people with the same economic status, (6) to older people with lower economic status, (7) people of the same age with higher economic status, (8) to people of the same age with the same economic status, (9) to people the same age with lower economic status people, (10) to younger people with higher economic status, (11) to younger people with the same economic status, (12) to young- er people with lower economic status.Masalah yang diangkat dalam penelitian ini ialah persepsi tindak tutur ekspresif marah  penu-tur suku Betawi ketika ‘diminta/disuruh’ melakukan sesuatu oleh orang lain. Berdasarkan ma- salah tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan persepsi ekpresif marah masyarakat Betawi ketika mereka ‘diminta/disuruh’ melakukan sesuatu oleh orang lain dalam bentuk tuturan. Sumber data penelitian ini ialahdata kuesioner yang disebarkan kepada responden sebanyak tiga puluh orang . Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Hasil penelitian persepsi tindak tutur ekspresif marah ini ialahpenggunaan ungkapan aduh atau waduh, (2)penggunaan kata atau ungkapan pertanyaan, (3) penggunaan ungkapan penolakan, (4) penggunaan ungkapan larangan, dan (5) penggunaan ungkapan umpatan. Faktor sosial yang berpengaruh dalam ekspresi marah ialah (1) marah kepada orang tua, (2) marah kepada atasan, (3) marah kepada orang yang tidak dikenal, (4) marah  kepada orang yang lebih tua status ekonomi lebih tinggi, (5) marah kepada orang yang lebih tua status ekonomi sama, (6) marah kepada orang yang lebih tua status ekonomi lebih rendah, (7) tutur marah kepada orang yang sebaya status ekonomi lebih tinggi, (8) marah kepa- da orang yang sebaya status ekonomi sama, (9)  marah kepada orang yang sebaya status ekonomi lebih rendah, (10) marah kepada orang yang lebih muda status ekonomi lebih tinggi, (11) marah kepada orang yang lebih muda status ekonomi sama, dan (12) marah kepada orang yang lebih muda status ekonomi lebih rendah.

Page 11 of 35 | Total Record : 345