cover
Contact Name
Mulyanto
Contact Email
widyaparwa@gmail.com
Phone
+6281243805661
Journal Mail Official
widyaparwa@gmail.com
Editorial Address
https://widyaparwa.kemdikbud.go.id/index.php/widyaparwa/about/editorialTeam
Location
Kota yogyakarta,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Widyaparwa
Jurnal Widyaparwa memublikasi artikel hasil penelitian, juga gagasan ilmiah penelitian (prapenelitian) yang terkait dengan isu-isu di bidang kebahasaan dan kesastraan Indonesia dan daerah.
Articles 345 Documents
CARA PANDANG TERHADAP WANITA PADA PEMAKAIAN BAHASA DALAM MAJALAH PRIA DAN MAJALAH WANITA (PERSPECTIVE TOWARD WOMAN ON LANGUAGE USE IN MAN MAGAZINE AND WOMAN MAGAZINE) Restu Sukesti
Widyaparwa Vol 43, No 2 (2015)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (268.56 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v43i2.115

Abstract

Pria dan wanita memiliki cara pandang yang berbeda terhadap wanita. Perbedaan itu dapat tercermin pada majalah yang mengidentikkan dirinya sebagai majalah pria dan majalah wanita. Apa perbedaannya dan apa pembedanya akan dikaji dalam tulisan ini. Kajian yang bersifat sosiolinguistik dan bermetodologi deskriptif kualitatif ini berusaha menjabarkan kemampuan bahasa untuk mengekspresikan pendapat, opini, dan keinginan mereka terhadap wanita. Hasilnya ialah ekspresi di antara pria dan wanita saling berbenturan secara signifikan. Dengan hasil itu membiaskan harapan akankah perbedaan dapat diminimalkan agar ada harmonisasi ataukah dibiarkan agar perbedaan itu tetap merupakan variasi budaya jender. Man and woman have different perspective on woman. The difference is reflected in the magazine that identifies itselves as man magazine and woman magazine. What is the difference and what is the differentiator will be studied in this paper. This sociolinguistic study with its qualitative descriptive methodology attempts to describe language ability to express woman and man opinion and desire toward women. The result is expression between man and woman collided significantly. The result refracts a hope whether distinction can be minimized so that there will be harmonization or permission so that it remains as a difference of gender cultural variation.
TES UJI KEMAHTRAN BERBAHASA INDONESTA (UKBI) SEBAGAI ARENA RISET LINGUISTIK Maryanto Maryanto
Widyaparwa Vol 38, No 1 (2010)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1321.866 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v38i1.11

Abstract

Malakah ini bertujuan meninjau sebuah tes bahasa yang disebut Uji Kemahiran Berbahasa Indonesia (UKBI) sebagai arena riset linguistik. Studi penelitian linguistik selalu memiliki dua pendulum paradigma, yaitu paradigma teori dan terapan. Paradigma riset linguistik teori umumnya berorientasi pada hakikat bahasa. Sementara itu, orientasi linguistik terapan lebih populer dikaitkan dengan pengajaran bahasa. Pembahasan makalah ini difokuskan pada kasus tes UKBI dan dampak kehadiran tes bahasa ini bagi pengajaran bahasa Indonesia di sekolah, terutama sekolah menengah kejuruan, serta dampaknya bagi penelitian bahasa yang mencari pembaruan teori bahasa. Menurut tinjauan atas kasus tes UKBI ini, perubahan paradigma baik dalam teori bahasa maupun pengajaran bahasa dimungkinkan karena kehadiran tes bahasa sebagai arena riset linguistik.This paper aims at observing the language test which is called Uji Kemahiran Berbalutsa lndonesia (UKBI) or Indonesian Language Proficiency Test as an arena of linguistic research. ln linguistic studies, there are two paradigms of research: theoretical linguistic and applied linguistic studies. A theoretical linguistic study generally investigates the essence of language. Meanwhile, applied linguistic studies are more popular to be related to language teaching. The discussion of the paper is focusing on the case of the UKBI test and the impacts of the UKBI test for Indonesian language teaching, particularly the language teaching at vocational schools, as well as the impacts for linguistic studies researching a new theory about language. ln this observation for the case of the UKBI test, a change in the paradigms of both theoretical and applied linguistics is likely due to the presence of a language test as the arena of linguistic research.Key word: UKBl test; linguistic research; language teaching
LANGKAH AWAL PENGKAJIAN PERKEMBANGAN BAHASA PADA NOVEL INDONESIA: KEKHASAN BENTUK KALIMAT DALAM NOVEL SITI NURBAJA (A PRELIMINARY STEP IN LANGUAGE DEVELOPMENT STUDY IN INDONESIA NOVEL: THE UNIQUENESS OF SENTENCE FORM IN SITI NURBAJA NOVEL) Restu Sukesti
Widyaparwa Vol 45, No 1 (2017)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (253.326 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v45i1.147

Abstract

Karya sastra Indonesia, khususnya novel, mengalami perkembangan dan perubahan kekhasannya sehingga muncul periodisasi sastra. Seiring dengan itu pula, bahasa Indonesia yang digunakan pun mengalami perkembangan yang signifikan yang dapat mencerminkan kekhasan. Untuk itu, kajian perkembangan bahasa pada karya sastra, khususnya novel perlu dilakukan dengan tidak untuk melawan atau mengubah periodisasi satra yang sudah ada, tetapi untuk memberikan pendampingan warna kekhasan periodisasi sastra (novel) Indonesia. Untuk itu, sebagai langkah awal, dalam makalah ini, dengan metode deskriptif kualitatif dan dengan teori perubahan bahasa disajikan pemakaian bahasa Indonesia dalam novel Siti Nurbaja, dengan aspek kajian pada pemakaian bentuk kalimat. Pengkajian bentuk kalimat itu difokuskan pada kalimat inversi, kalimat pasif, kalimat majemuk, serta kesejajaran intrakalimat yang semuanya dianggap dominan dalam novel Siti Nurbaja dan dianggap menjadi kekhasan dalam novel tersebut. Selain itu, pada pembahasan ini juga dilihat perbandingannya dengan novel sesudahnya agar tampak ada perkembangan yang signifikan meskipun kajian ini bukan perbandingan bahasa. Hasilnya ialah ada signifikansi perbedaan yang menjadi kekhasan novel Siti Nurbaja. Dengan itu, kajian seperti ini dapat digunakan sebagai penyumbang aspek periodisasi sastra Indonesia. Indonesian literary works, especially novels, have evolved and changed their peculiarities so that the period of literature arise. Along with that, Indonesian language use also experienced a significant development that can reflect uniqueness. Therefore, the study of language development in literary works, especially novels, is necessary to be done by not to "fight" or change the existing of Indonesian literary periodization, but to provide "accompaniment" of the uniqueness of Indonesian literary periodization. For that, as the first step, this paper, with qualitative descriptive method and theory of language change, is presented the use of Indonesian language in Siti Nurbaja novel, with aspects of study on use of sentence form. The study of sentence form is focused on inversion sentence, passive sentence, compound sentence, and intra-sentence parallelism which are considered dominant in Siti Nurbaja novel and it is considered as uniqueness of the novel. In addition, the discussion is also seen its comparison with afterwards novel in order to come up the existence of significant development. Although, this study is not a comparison of language. The result shows there are significance differences that become the peculiarities of Siti Nurbaja novel. Thus, such studies can be used as contributors to the aspect of Indonesian literary periodization.
KEMAMPUAN PROBLEM SOLVING TOKOH ANAK PADA MASA PANDEMI COVID-19 DALAM KUMPULAN CERPEN SEJUTA CERITA ANAK BANYUMAS Wiekandini Dyah Pandanwangi; Aldi Aditya; Ummi Nurjamil Baiti Lapiana
Widyaparwa Vol 50, No 2 (2022)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (501.505 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v50i2.1138

Abstract

This article describes the problem solving or problem solving carried out by the child characters during the Covid-19 pandemic, which was seen in the collection of short stories of a million stories for children from Banyumas. The background of this research is psychological issues experienced by children due to the loss of their social environment during the Covid-19 pandemic. Children experience complex problems due to changes in habits during the pandemic. This research is  descriptive qualitative research with a literary psychology approach. The theory used is the theory of Problem Solving. This research is a literature study with reading and note-taking techniques for data collection. Data analysis using content analysis. The results of the analysis show that the five main characters of the children in the collection of short stories of Sejuta Anak Banyumas perform positive activities as a form of problem solving in solving the internal problems they face. The five main characters' positive activities are 1) getting closer to God, 2) developing hobbies such as writing fictions and joining organizations, and 3) doing social activities that are beneficial to others.Artikel ini memaparkan problem solving atau pemecahan masalah yang dilakukan oleh tokoh anak selama menghadapi masa pandemi Covid-19 yang tampak dalam kumpulan cerpen Sejuta Cerita Anak Banyumas. Latar belakang penelitian adalah masalah psikologis yang dialami oleh anak karena kehilangan lingkungan sosialnya akibat pandemi Covid-19. Anak-anak mengalami permasalahan yang kompleks karena perubahan kebiasaan di masa pandemi. Oleh karena itu, kemampuan problem solving tokoh anak selama menghadapi masa pandemi Covid-19 menjadi fokus penelitian. Penelitian ini termasuk penelitian deskriptif kualitatif dengan pendekatan psikologi sastra. Teori yang digunakan adalah teori Problem Solving. Penelitian ini merupakan penelitian studi pustaka dengan teknik baca dan catat untuk pengumpulan data. Analisis data menggunakan analisis konten. Hasil analisis memperlihatkan bahwa kelima tokoh utama anak dalam kumpulan cerpen Sejuta Cerita Anak Banyumas melakukan aktivitas positif sebagai bentuk problem solving dalam memecahkan masalah internal yang mereka hadapi. Aktivitas positif yang kelima tokoh utama lakukan, yaitu 1) mendekatkan diri pada Tuhan, 2) mengembangkan hobi seperti menulis karya fiksi dan mengikuti organisasi, dan 3) melakukan kegiatan sosial yang bermanfaat bagi orang lain.
CERITA BERGAMBAR UNTUK PAUD ITK (KAJIAN TERHADAP TERNA, PESAN MORAL, DAN KESESUAIANNYA DENGAN USIA PERKEMBANGAN ANAK) Umar Sidik
Widyaparwa Vol 40, No 1 (2012)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3998.845 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v40i1.47

Abstract

Fokus penelitian ini ialah persoalan tema dan pesan moral yang terdapat dalam cerita bergambar (cergam) untuk PAUD/TK serta kesesuaiannya dengan perkembangan anak usia dini/TK. Tujuan penelitiannya ialah untuk mediskripsikan tema-tema dan pesan moral yang terdapat dalam cegam serta kesesuaiannya dengan perkembangan anak usia dini/TK. Penelitian ini menggunakan pendekatan pragmatik. Data ditentukan berdasarkan teknik purpossioe sarnpling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tema dan pesan moral dalam cergam dapat dikelompokkan menjadi 7 macam, yaitu (1) kepercayaan dan pengamalan terhadap ajaran agama, (2) berperilaku, beretika baik, atau berakhlak baik (mulia), (3) pelestarian/pemeliharaan lingkungan hidup (flora, fauna), (4) bertanggung jawab, bekerja keras, dan kreatif, (5) kepedulian sosial, (6) menjaga kebersihary ketertiban, dan kesehatan, (7) menaati nasihat orang tua, guru, dan aturan yang berlaku. Tidak seluruh tema dan pesan moral yang terdapat dalam cergam sesuai dengan tingkatan usia perkembangan anak usia dini/TK. Pada cergam yang bertemakan keagamaan banyak tema dan pesan moral yang kurang sesuai dengan tahapan perkembangan anak usia dini/TK. Focus of this research is theme and moral value of picture story for PAUD/Kindergarten and its appropriateness with preschool children age/kindergarten. The aim of the research is to describe themes and moral teaching in pictures story and its appropriateness to the growth of preschool children/kindergarten. This research was conducted using pragmatic approach. Data was collected using purposive sampling. The result shows that themes and moral teaching could be classified into 7 kinds, (1) belief and application to the religious teaching, (2) good in attitude, ethic, or characters, (3) preservation/maintenance of natural life (flora, fauna), (4) responsible, hard worker, and creative, (5) social care, (6) keep on clean, orderly, and health, (7) obey to parents, teachers, and rules. The themes and moral teaching are not entirely suitable for children growth in preschool/kindergarten. ln pictures stories with religious theme, there appeared impropriate themes and moral teachings for children in preschool/kindergarten age.
REPRESENTASI MASKULINITAS DALAM MUSEUM IBU (MASCULINITY REPRESENTATION ON MUSEUM IBU) Resti Nurfaidah
Widyaparwa Vol 46, No 2 (2018)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (172.409 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v46i2.170

Abstract

Museum Ibu was an antology of  Gusti Trisno’s short stories. It consisted of few showcases of adult female representations on different spots from male gaze of I (male) or other male characters. This paper was written to explore adult female representations from male gaze. The purpose  was to reveal the representation of adult female characters, both as mothers or alternative mothers, based on male gaze of I or other male characters. The exploration was based on culture studies that used many concept: Freud’s oedipal, Beynon masculinity, Lakoff and Johnson’s  metaphoric. Method which was used: comparative descriptive analysis towards metaphorical data on Museum Ibu. The result revealed that I and other male characters found on the data were representation of oedipal men. They had highly dependence to the surroundings adult female charactershiding from their lack of  parts of their own masculinity.Museum Ibu merupakan buku kumpulan cerpen karya Gusti Trisno yang terdiri atas beberapa etalase penggambaran sosok perempuan dewasa dalam kedudukan yang berbeda dari sudut pandang maskulin (male gaze). Penelusuran tentang sosok ibu tersebut dilakukan dengan cara pandang culture studies dengan menggunakan beberapa konsep gender, terutama maskulinitas dari Beynon dan beberapa pakar lain untuk menelaah bagaimana aspek gender berperanan penting dalam kehidupan tokoh maskulin yang membakukan pandangan bawah sadarnya pada sosok perempuan dewasa di sekitarnya.  Analisis tentang konflik gender dilakukan pada data-data metaforis pada sumber data secara konseptual khas Lakoff dan Johnson. Metode penelitian yang digunakan di dalam makalah ini adalah analisis deskriptif melalui tahapan kepustakaan dan wawancara dengan penulis. Kesimpulan sementara dari penelitian ini adalah tokoh aku dan tokoh maskulin yang terdapat dalam sumber data tersebut merupakan representasi laki-laki oidipal yang sangat bergantung pada lindungan dan kehadiran perempuan-perempuan dewasa di sekitarnya untuk menutupi kelemahan maskulinitas yang ada dalam dirinya. 
KETIMPANGAN JENDER DALAM NOVEL GADIS KRETEK KARYA RATIH KOMALA Dara Windarti
Widyaparwa Vol 42, No 1 (2014)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3392.578 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v42i1.82

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan ketimpangan jender dalam novel Gadis Kretek karya Ratih Komala yang terbit tahun 2012. Teori yang digunakan dalam perlelitian ini adalah teori fungsional jender. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik kepustakaan. Metode yang digunakan untuk analisis data adalah deskriptif analisis. Pembahasan ini menghasilkan hal-hal berikut. Pertama, adanya kesempatan dan kebebasan bagi perempuan, mengantarkan perempuan memiliki peran dominan di sektor publik. Kedua, ketimpangan jender berupa perbedaan peran, perilaku, dan karakteristik emosional antara laki-laki dengan perempuan, serta paksaan kultural, menyebabkan jatuhnya dominasi peran perempuan di sektor publik. The purpose of this study was to describe the gender inequity in the novel Gadis Kretek by Ratih Komala, published in 2012. The theory used in this study was gender functional. Data collection was done by using literature technique. The method used for data analysis was descriptive analysis. This discussion was as follows. First, there were opportunity and freedom for women to deliver woman to have a dominant role in the public sector. Second, there was the inequity gender in the form of different roles, behaviors, and emotional characteristics between man and woman, as well as cultural force that caused the fall of woman dominant role in the public sector
TRANSFORMASI CERITA ENDANG RARA TOMPE DALAM PERTUNJUKAN KETHEK OGLENG PACITAN Arif Mustofa; Agoes Hendriyanto; Bakti Sutopo
Widyaparwa Vol 49, No 1 (2021)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (212.659 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v49i1.294

Abstract

 This research aims to: 1) describe the plot of Endang Roro Tompe story and Kethek Ogleng performance art; 2) describe the transformation process of Endang Roro Tompe story into Kethek Ogleng performance art. The data were collected by these four steps: 1) observing Kethek Ogleng performance art, 2) recording the video and audio of Endang Rara Tompe’s story ; 3) describing the video recording based on the performance and transcribing the audio recording of Endang Roro Tompe. The result shows that Kethek Ogleng performance art is influenced by the plot of Panji Endang Rara Tompe. However, in the whole story, the performance only takes several scenes: The monkey comes, the monkey meets Endang Rara Tompe, the monkey falls in love with Endang Rara Tompe, and the monkey leaves back to the kingdom. There are two changing patterns from Endang Rara Tompe’s hypogram into Kethek Ogleng performance art. The first change deals with the cut of scenes. Kethek Ogleng performance art only explains the end of Endang Rara Tompe’s story. The story of Jenggala Kingdom is omitted in Kethek Ogleng performance art. The second is changing the main character. The author changes the main character from Dewi Sekartaji into Panji Asmarabangun or the monkey.Penelitian ini bertujuan untuk: 1) menghasilkan deskripsi pola alur Cerita Endang Rara Tompe dan pertunjukan Kethek Ogleng; 2)menghasilkan deskripsi proses transformasi dari Cerita Endang Rara Tompe ke pertunjukan Kethek Ogleng. Data dikumpulkan dengan cara: 1) pengamatan pertunjukan Kethek Ogleng; 2) perekaman  video pertunjukan Kethek Ogleng dan perekaman audio cerita Endang Rara Tompe; 3) pendeskripsian struktur pertunjukan pertunjukan; pentranskripsian hasil rekaman cerita Endang Rara Tompe. Analisi data dilakukan dengan cara 1) menyusun struktur pertunjukan (visual) Kethek Ogleng; 2) menyusun struktur cerita (lisan) Endang Rara Tompe; 3) membandingkan struktur pertunjukan (visual) Kethek Ogleng dengan struktur cerita (lisan) Endang Rara Tompe; 4) menganalisis pola perbedaan dan persamaan antara bentuk lisan dan bentuk visual. Hasil analisis menunjukkan bahwa struktur pertunjukan Kethek Ogleng dipengaruhi oleh pola alur cerita Panji Endang Rara Tompe. Namun, secara keseluruhan kisah, hanya diambil beberapa pertistiwa saja yaitu: kemunculan kera, pertemuan kera dengan Endang Rara Tompe, adegan jatuh cinta, dan adegan kembali ke kerajaan. Terdapat dua pola pemindahan dari hipogram Cerita Endang Rara Tompe ke pertunjukan Kethek Ogleng. Pertama yaitu pemotongan Adegan. Pertunjukan Kethek Ogleng hanya berisi bagian akhir dari  cerita Endang Rara Tompe. Adegan kerajaan Jenggala tidak dimunculkan dalam pertujukan Kethek Ogleng. Keduaya itu alih tokoh utama. Pengarang mengubah tokoh utama dari Dewi Sekartaji menjadi Panji Asmarabangun atau tokoh kera. 
POTENSI DAN TANTANGAN PENGINTERNASIONALAN BAHASA INDONESIA DI FILIPINA Bayu Permana Sukma
Widyaparwa Vol 48, No 1 (2020)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (210.006 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v48i1.435

Abstract

As one of the ASEAN countries, the Philippines is a strategic target country of Indonesian language internationalization. The internationalization endeavor in the Philippines has begun since 2016 when a number of BIPA (Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (‘Indonesian as a Foreign Language)) teachers were assigned to the country. Up to 2018, there have been 14 institutions facilitated with 898 students. This article aims to describe the potential and challenges of the spread of Indonesian language in the Philippines in terms of linguistic and non-linguistic aspects. This research employed a descriptive-qualitative method. The data in this research were obtained from interviews, questionnaires, observations, and literature studies. The results show that Indonesian language has potential to be internationalized and developed in the Philippines. It is based on several aspects: 1) the similarity between Indonesian language and Filipino, 2) the motivation of Indonesian language learners in the Philippines, 3) the good economic cooperation between Indonesia and the Philippines; and 4) the fairly big number of tourism visits from Indonesia to the Philippines and vice versa. However, the potential is also followed by some challenges. Some of them are 1) language policy in the Philippines, 2) the very strong influence of English language in the Philippines, and 3) the lack of Filipinos’ knowledge on Indonesian society, cultures, and politics. ABSTRAKSebagai salah satu negara ASEAN, Filipina merupakan negara sasaran strategis peng-internasionalan bahasa Indonesia. Penyebaran bahasa Indonesia secara formal di negara ini di-mulai sejak tahun 2016 ketika sejumlah tenaga pengajar BIPA (Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing) dikirim ke negara tersebut. Hingga tahun 2018, tercatat sudah 14 lembaga yang terfasilitasi dengan 898 pemelajar. Artikel ini bertujuan untuk memaparkan potensi dan tantangan pe-nyebaran bahasa Indonesia di Filipina ditinjau dari aspek kebahasaan dan nonkebahasaan. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Data dalam penelitian ini diperoleh dari hasil wawancara, kuesioner, observasi, dan studi pustaka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bahasa Indonesia memiliki potensi untuk terus disebarkan dan dikembangkan di Filipina. Hal ini didasarkan pada beberapa hal: 1) kemiripan antara bahasa Indonesia dan bahasa Filipino, 2) motivasi pemelajar bahasa Indonesia di Filipina yang besar, 3) kerja sama ekonomi yang baik antara Indonesia dan Filipina, dan 4) jumlah kunjungan pariwisata yang cukup besar dari Indonesia ke Filipina dan sebaliknya. Namun demikian potensi tersebut juga disertai dengan tan-tangan. Beberapa tantangan yang ditemui adalah 1) kebijakan bahasa di Filipina, 2) kuatnya pengaruh bahasa Inggris di Filipina, dan 3) pengetahuan masyarakat Filipina yang masih minim tentang Indonesia, khususnya di bidang sosial, budaya, dan politik. 
EKSPLORASI FOLKLOR KAMPUNG PITU NGLANGGERAN (KAJIAN SASTRA DENGAN PENDEKATAN PARIWISATA) Dyah Ayu Putri Utami; Ari Kusmiatun
Widyaparwa Vol 49, No 2 (2021)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (276.804 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v49i2.794

Abstract

 This study includes a qualitative descriptive study that aims to explore the folklore of Kampung Pitu using a tourism literature approach. This approach focuses on the study of the phenomena of literary works, writers, literary festivals, and folklore that make a real contribution to the development of tourism. The data of this research are in the form of sentences in the folklore that developed in Pitu Village. Data collection techniques using interviews and documentation. Data analysis techniques, namely reduction, presentation, and dra-wing conclusions. The results showed that (1) the folklore in Kampung Pitu consists of the legend of the origin of Kampung Pitu, the myth of Telaga Guyangan, and the myth of Rasulan; (2) each story has an appeal in rules/laws, stories, and rituals; (3) developing folklore has the potential to become a tourist area branding. This branding needs to be supported by the metamorphosis of folklore into theatrical performances, ballet, short films, folklore books, or other narrative forms that can be used as promotions.Penelitian ini termasuk penelitian deskriptif kualitatif yang bertujuan untuk mengeksplorasi cerita rakyat Kampung Pitu menggunakan pendekatan sastra pariwisata. Pendekatan ini memfokuskan kajian pada fenomena karya sastra, sastrawan, festival sastra, dan cerita rakyat yang memberikan sumbangan nyata dalam perkembangan kepariwisataan. Data penelitian ini berupa kalimat dalam cerita rakyat yang berkembang di Kampung Pitu. Teknik pengumpulan data menggunakan wawancara dan dokumentasi. Teknik analisis data, yaitu reduksi, penyajian, dan penarikan simpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) cerita rakyat di Kampung Pitu terdiri atas Legenda asal-usul Kampung Pitu, mite Telaga Guyangan, dan mite Rasulan; (2) masing-masing cerita memiliki daya tarik dalam aturan/hukum, cerita, dan ritual; (3) cerita rakyat yang berkembang berpotensi untuk menjadi branding kawasan wisata. Branding ini perlu didukung oleh metamorfosis cerita rakyat menjadi pertunjukkan teater, sendratari, film pendek, buku cerita rakyat, atau bentuk narasi lain yang dapat digunakan sebagai promosi.

Page 10 of 35 | Total Record : 345