cover
Contact Name
Tuti Puji Lestari
Contact Email
tuti.puji.lestari@unmuhpnk.ac.id
Phone
+6282149964283
Journal Mail Official
ruaya@unmuhpnk.ac.id
Editorial Address
Jalan Ahmad Yani No.111 Pontianak 78124
Location
Kota pontianak,
Kalimantan barat
INDONESIA
Jurnal Ruaya : Jurnal Penelitian dan Kajian Ilmu Perikanan dan Kelautan
ISSN : 23381833     EISSN : 25413155     DOI : 10.29406
Jurnal Ruaya adalah jurnal perikanan dan kelautan di Fakultas Perikanan Dan Ilmu Kelautan Universitas Muhammadiyah Pontianak, memuat informasi hasil penelitian dibidang perikanan dan kelautan di Indonesia. Ruaya dibentuk sebagai media informasi dan komunikasi ilmiah guna menyajikan kompilasi hasil penelitian orisinil, pemikiran dan pandangan dari peneliti, pakar dan pemerhati dalam bidang perikanan dan kelautan serta masyarakat perikanan. Jurnal ruaya diterbitkan secara berkala setiap 6 bulanan sekali pada bulan januari dan bulan juli dan dimuali sejak tahun 2013 Artikel yang kami sajikan memuat informasi tentang hasil penelitian dan kajian baik teori maupun aplikasi dibidang Perikanan dan Kelautan yang berasal dari para peneliti, akademisi, pelajar atau mahasiswa maupun masyarakat umum. Topik artikel yang ada meliputi: Akuakultur Manajemen Sumberdaya Perairan Penangkapan Ikan, Teknologi Hasil Perikanan Sosial ekonomi dan ilmu kelautan.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 289 Documents
ANALISIS FAKTOR-FAKTOR PENENTU KEBERLANGSUNGAN MIKROORGANISME DALAM LINGKUNGAN PERAIRAN Laoli, Destriman; Telaumbanua, Betzy Victor; Zebua, Ratna Dewi; Zebua, Nistiarni
Jurnal Ruaya : Jurnal Penelitian dan Kajian Ilmu Perikanan dan Kelautan Vol 13 No 2 (2025): Jurnal Ruaya : Jurnal Penelitian dan Kajian Ilmu Perikanan dan Kelautan
Publisher : UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PONTIANAK

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29406/jr.v13i2.8151

Abstract

ABSTRAK Mikroorganisme memegang peran penting dalam ekosistem perairan sebagai agen utama dalam proses dekomposisi, siklus nutrien, dan simbiosis. Studi ini bertujuan mengidentifikasi dan menganalisis faktor biotik dan abiotik yang memengaruhi kelangsungan hidup mikroba di lingkungan perairan. Metode yang digunakan adalah studi literatur yang memfokuskan pada parameter lingkungan seperti suhu, pH, salinitas, oksigen terlarut (DO), BOD, COD, serta interaksi antar mikroorganisme dan organisme akuatik lain. Hasil analisis menunjukkan bahwa keseimbangan faktor abiotik dan biotik sangat menentukan struktur dan fungsi komunitas mikroba. Perubahan lingkungan seperti peningkatan suhu, pencemaran, dan eutrofikasi berpotensi mengganggu stabilitas mikroba dan ekosistem perairan secara keseluruhan. Studi ini memberikan landasan ilmiah dalam pengelolaan kualitas air dan konservasi ekosistem perairan. Kata kunci : Ekosistem perairan, Faktor abiotic, Faktor biotik, Kelangsungan hidup mikroba, Mikroorganisme akuatik.
EFEKTIVITAS EKSTRAK DAUN KECUBUNG (Datura metel ) SEBAGAI ANESTETIK PADA TRANSPORTASI BENIH IKAN JELAWAT (Leptobarbus hoevenii) Haliyah, Haliyah; Dewantoro, Eko; Rachimi, Rachimi
Jurnal Ruaya : Jurnal Penelitian dan Kajian Ilmu Perikanan dan Kelautan Vol 13 No 2 (2025): Jurnal Ruaya : Jurnal Penelitian dan Kajian Ilmu Perikanan dan Kelautan
Publisher : UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PONTIANAK

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29406/jr.v13i2.8153

Abstract

ABSTRAK Permasalahan utama dalam distribusi benih ikan jelawat (Leptobarbus hoevanii) adalah masih tingginya mortalitas saat transportasi. Untuk meningkatkan keberhasilan dalam transportasi dapat memanfaatkan bahan anestetik alami, salah satunya adalah daun kecubung (Datura metel). Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh konsentrasi ekstrak daun kecubung yang terbaik sebagai anestetik pada transportasi benih ikan jelawat. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan 5 perlakuan dan 3 ulangan, sebagai perlakuan adalah konsentrasi ekstrak daun kecubung, yaitu A (kontrol), B (0,3%), C (0,6%), D (0,9%) dan E (1,2%). Parameter yang diamati adalah waktu induksi, waktu sedatif, tingkah laku ikan, kadar glukosa darah, hematokrit, respon pakan, kelangsungan hidup dan kualitas air. Hasil penelitian menunjukkan waktu induksi tercepat ditemukan pada perlakuan E yaitu 242 detik sedangkan waktu sedatif yang paling cepat dijumpai pada perlakuan B (301 detik). Kadar glukosa darah sebelum transportasi berada pada kisaran normal, sedangakan paska transportasi terjadi peningkatan glukosa darah di atas kisaran normal (rata-rata setiap perlakuan 151–191 mg/dL), namun setelah pemeliharaan 7 hari kadar glukosa darah kembali normal. Nilai hematrokrit sebelum transportasi masih berada pada kisaran normal, paska transportasi nilai hematokrit turun menjadi 15,61–20,49%, setelah pemeliharaan hematokrit kembali normal. Tingkat kelangsungan hidup paska transportasi paling tinggi ditemukan pada perlakuan C yaitu 82,7% dan nilai yang paling rendah dijumpai pada perlakuan E (28,0%), sedangkan setelah pemeliharaan 7 hari perlakuan A, B dan C menghasilkan SR tertinggi (98,5–100%) dan yang paling rendah dijumpai pada perlakuan E. Konsentrasi ekstrak daun kecubung terbaik sebagai bahan anestesi pada transportasi benih ikan jelawat adalah 0,6%. Kata Kunci: ikan, anestetik, alami, darah, kelangsungan hidup
PENGARUH JUMLAH MATA PANCING LONGLINE TERHADAP HASIL TANGKAPAN IKAN TUNA SIRIP KUNING (Thunnus albacares) Zebua, Nistiarni; Halawa, Vince Kurniawan; Zebua, Ratna Dewi; Telaumbanua, Betzy Victor; Laoli, Destriman; Sanora Laia, Dian Agung
Jurnal Ruaya : Jurnal Penelitian dan Kajian Ilmu Perikanan dan Kelautan Vol 13 No 2 (2025): Jurnal Ruaya : Jurnal Penelitian dan Kajian Ilmu Perikanan dan Kelautan
Publisher : UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PONTIANAK

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29406/jr.v13i2.8222

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh jumlah mata pancing pada alat tangkap longline terhadap hasil tangkapan ikan tuna sirip kuning (Thunnus albacares) melalui pendekatan tinjauan pustaka. Data diperoleh dari berbagai literatur ilmiah yang relevan dan dianalisis secara deskriptif untuk memahami hubungan antara jumlah mata pancing, efisiensi operasional, serta faktor lingkungan terhadap produktivitas tangkapan. Hasil kajian menunjukkan bahwa peningkatan jumlah mata pancing, khususnya hingga 1592 unit, secara signifikan meningkatkan hasil tangkapan dibandingkan jumlah yang lebih rendah. Namun demikian, penggunaan jumlah mata pancing yang berlebihan dapat menurunkan efisiensi dan meningkatkan risiko overfishing serta tangkapan sampingan (by-catch). Faktor-faktor lain seperti suhu, salinitas, arus laut, serta kemampuan operasional kapal turut memengaruhi keberhasilan penangkapan. Oleh karena itu, pengelolaan jumlah mata pancing harus mempertimbangkan aspek teknis, ekologis, dan keberlanjutan sumber daya ikan tuna. Temuan ini diharapkan dapat menjadi dasar bagi pengambilan keputusan dalam pengelolaan alat tangkap longline yang lebih efektif, efisien, dan berkelanjutan. Kata kunci: longline, mata pancing, tuna sirip kuning, hasil tangkapan, keberlanjutan.
ANALISIS KESESUAIAN LAHAN UNTUK PENGEMBANGAN KAWASAN BUDIDAYA IKAN NILA DI KECAMATAN BATURRADEN, KABUPATEN BANYUMAS Sandri, Dian; Yuliani, Tri Wahyu; Nur, Ahmad Amri; Ahmada, Naufal Haidar; Purbandini, Revi Aulia
Jurnal Ruaya : Jurnal Penelitian dan Kajian Ilmu Perikanan dan Kelautan Vol 13 No 2 (2025): Jurnal Ruaya : Jurnal Penelitian dan Kajian Ilmu Perikanan dan Kelautan
Publisher : UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PONTIANAK

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29406/jr.v13i2.8225

Abstract

ABSTRAK Pengembangan sektor budidaya perikanan, khususnya ikan nila (oreochromis niloticus), menjadi salah satu strategi penting dalam mendukung ketahanan pangan dan peningkatan kesejahteraan ekonomi masyarakat. Kecamatan Baturraden merupakan wilayah daratan tinggi dengan potensi besar untuk budidaya ikan nila karena ketersediaan sumber air yang stabil, dukungan infrastruktur, dan aktivitas budidaya yang telah berjalan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kesesuaian lahan untuk pengembangan kawasan budidaya ikan nila dengan pendekatan kuantitatif berbasis SIG. Analisis dilakukan melalui pemetaan kondisi fisik lahan, seperti aksesibilitas, kedekatan dengan sumber air, serta kesesuaian arahan pemanfaatan ruang dalam RTRW Kabupaten Banyumas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa zona selatan memiliki kesesuaian budidaya ikan nila. Beberapa desa dengan tingkat kesesuaian tinggi dan potensial meliputi Desa Purwosari, Kutasari, dan Kemutug Lor. Hasil menunjukkan kawasan budidaya ikan berada dalam zona pemanfaatan ruang kawasan budidaya khususnya zona pertanian lahan basah dan lahan kering yang mencerminkan kecocokan lahan untuk kegiatan perikanan khususnya ikan nila sehingga sesuai dengan arahan dalam RTRW Kabupaten Banyumas. Wilayah ini memiliki keunggulan dalam ketersediaan sumber air dan jaringan jalan kolektor dan lokal. Kata kunci: Kesesuaian Lahan, Ikan Nila, Budidaya, SIG, Perencanaan Ruang.
Pengembangan Budidaya Ikan Lele (Clarias Gariepinus) Sistem Akuaponik Pada Kolam Terpal Di Desa Fadoro, Kecamatan Mandrehe, Kabupaten Nias Barat Dawolo, Agnes Juwita; Gea, Angel Sri Ayu; Zebua, Estin Krisdila; Waruwu, Heppi Kristiani; Waruwu, Irfan; Gulo, Martin; Zebua, Ratna Dewi
Jurnal Ruaya : Jurnal Penelitian dan Kajian Ilmu Perikanan dan Kelautan Vol 14 No 01 (2026): Jurnal Ruaya : Jurnal Penelitian dan Kajian Ilmu Perikanan dan Kelautan
Publisher : UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PONTIANAK

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29406/jr.v14i01.8038

Abstract

Budidaya ikan lele (Clarias gariepinus) dengan sistem akuaponik merupakan inovasi budidaya yang mengintegrasikan akuakultur dan hidroponik dalam satu sistem sirkulasi tertutup yang ramah lingkungan dan efisien. Penelitian ini dilakukan di Desa Fadoro, Kecamatan Mandrehe, Kabupaten Nias Barat pada tanggal 29 April 2025 oleh mahasiswa magang dengan tujuan mengetahui pertumbuhan tanaman kangkung dan kelangsungan hidup ikan lele dalam sistem akuaponik menggunakan kolam terpal. Sistem akuaponik memanfaatkan limbah ikan sebagai nutrisi tanaman, sementara tanaman membantu menjaga kualitas air kolam. Penggunaan aerator terbukti meningkatkan kadar oksigen terlarut yang penting bagi respirasi ikan dan mikroorganisme pengurai amonia. Hasil penelitian menunjukkan pertumbuhan ikan lele dan tanaman kangkung yang cepat dan sehat, dengan efisiensi penggunaan air hingga 90% serta pengurangan limbah budidaya. Padat tebar ikan dan pemilihan tanaman yang tepat berperan penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem dan kualitas air. Sistem ini sangat cocok diterapkan di lahan sempit maupun daerah perkotaan, memberikan peluang usaha baru dan meningkatkan kesejahteraan ekonomi masyarakat. Dengan pengelolaan yang baik, akuaponik dapat menjadi solusi budidaya berkelanjutan yang menguntungkan secara ekonomi dan ramah lingkungan. Kata kunci: Budidaya ikan lele, sistem akuaponik, kolam terpal, efisiensi air, pertanian berkelanjutan
The Present Study Investigates The Efficacy Of Induced Breeding Methods In Tinfoil Barb Fish (Barbonymus schwanenfeldii) Cultivation Shilman, M. Idham; Irmawan, Fadly; Ningsih, Eka Ratu; Sarkomin, Sarkomin
Jurnal Ruaya : Jurnal Penelitian dan Kajian Ilmu Perikanan dan Kelautan Vol 14 No 01 (2026): Jurnal Ruaya : Jurnal Penelitian dan Kajian Ilmu Perikanan dan Kelautan
Publisher : UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PONTIANAK

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29406/jr.v14i01.8289

Abstract

Tengadak fish (Barbonymus schanenfeldii) is an endemic species found in West Kalimantan Province, with other names including lampam fish and kapiat fish. A review based on tengadak fish farming activities, especially hatcheries, reveals constraints on low seed growth. The success of hatcheries is found to be highly dependent on the success of spawning. The aim of this study was to ascertain the efficacy of the induced breeding method for the tengadak fish (Barbonymus schwanenfeldii) hatchery. This method was employed to assess the fecundity (F), fertilization rate (FR), hatching rate (HR), and survival rate (SR). The data obtained were then subjected to quantitative descriptive analysis. The results of induced breeding in tengadak fish were found to be highly favorable. The mean fecundity (F) was 205,800 eggs, the mean number of fertilized eggs (FR) was 175,794 eggs (85.42%), the mean number of eggs that hatched (HR) was 131,986 eggs (75.08%), and the mean survival rate (SR) of tengadak fish was 107,389 fish (81.35%).
ANALISIS RISIKO PEMUTIHAN KARANG BERDASARKAN KEJADIAN MARINE HEATWAVES DI LAUT ARAFURA Mayasari, Dilla; Yulihastin, Erma; Rosalia, Ayang Armelita
Jurnal Ruaya : Jurnal Penelitian dan Kajian Ilmu Perikanan dan Kelautan Vol 14 No 01 (2026): Jurnal Ruaya : Jurnal Penelitian dan Kajian Ilmu Perikanan dan Kelautan
Publisher : UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PONTIANAK

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29406/jr.v14i01.8658

Abstract

Peningkatan suhu permukaan laut akibat perubahan iklim global memicu terjadinya Marine Heatwaves (MHWs), yaitu kondisi ketika suhu melebihi ambang batas persentil ke-90 selama sedikitnya lima hari berturut-turut dan berpotensi menyebabkan pemutihan terumbu karang. Penelitian ini menganalisis tren perubahan karakteristik MHWs berdasarkan tiga metrik utama frekuensi, durasi, dan intensitas serta memetakan risiko pemutihan karang di laut Arafura selama tiga dekade (1994–2024) menggunakan data SPL berbasis satelit dan standar definisi MHWs global. Risiko pemutihan dihitung melalui integrasi berbobot antara frekuensi (0,5), intensitas maksimum (0,3), dan durasi (0,2), kemudian diklasifikasikan ke dalam lima kategori. Hasil menunjukkan peningkatan signifikan durasi rata-rata MHWs dari 10,91 hari menjadi 16,63 hari, disertai kenaikan frekuensi dari 130,8 menjadi 134,7 kejadian. Intensitas maksimum bersifat fluktuatif, dengan puncak 1,456°C pada dekade pertama, penurunan pada dekade kedua, dan peningkatan kembali menjadi 1,406°C pada dekade ketiga. Secara spasial, hotspot MHWs konsisten muncul di wilayah tengah dan timur Arafura serta mengalami perluasan antar dekade. Luasan area dengan kategori risiko Ekstrem meningkat drastis dari 30,8 km² menjadi 57.257 km², menandakan intensifikasi tekanan panas laut yang semakin mengancam ketahanan ekosistem terumbu karang di Laut Arafura.  Kata kunci: Marine Heatwaves, Perubahan Iklim, Suhu Permukaan Laut, Terumbu Karang
Evaluasi Kualitas Perairan Pantai Sebagin, Kabupaten Bangka Selatan Menggunakan Metode Water Quality Index (WQI) Lubis, Dinda Mardiani; Putra Batubara, Geothani Harapan
Jurnal Ruaya : Jurnal Penelitian dan Kajian Ilmu Perikanan dan Kelautan Vol 14 No 01 (2026): Jurnal Ruaya : Jurnal Penelitian dan Kajian Ilmu Perikanan dan Kelautan
Publisher : UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PONTIANAK

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29406/jr.v14i01.8659

Abstract

Pantai Sebagin Kabupaten Bangka Selatan merupakan kawasan pesisir dengan potensi ekologis dan ekonomi yang signifikan, namun mengalami tekanan lingkungan akibat meningkatnya aktivitas antropogenik. Penelitian ini merupakan kajian awal menilai kualitas perairan Pantai Sebagin menggunakan indeks komposit Water Quality Index (WQI) berdasarkan pembobotan (Effendi, 2003). Evaluasi kualitas air dilakukan menggunakan sembilan parameter fisika-kimia yang dianalisis berdasarkan Keputusan Menteri Lingkungan Hidup (Kepmen LH) No. 51 Tahun 2004 tentang Baku Mutu Air Laut dan metode WQI. Hasil analisis menunjukkan parameter seperti oksigen terlarut (DO = 8,03 mg/L), pH (7,93), suhu (29,17 °C), salinitas (25,67 ppt), dan total padatan tersuspensi (TSS = 32,03 mg/L) berada dalam kisaran baku mutu dan mendukung keberlangsungan biota laut. Akan tetapi, beberapa parameter seperti amoniak (6,11 mg/L), nitrat (2,82 mg/L), fosfat (0,42 mg/L), dan biochemical oxygen demand (BOD = 38,47 mg/L) telah melampaui ambang batas yang ditentukan. Hasil analisis nilai indeks WQI yang diperoleh adalah 747,18 yang mengindikasikan perairan Pantai Sebagin tergolong tercemar berat. Temuan ini menunjukkan bahwa beban nutrien dan bahan organik yang tinggi telah menurunkan kualitas perairan, sehingga diperlukan strategi pengelolaan pesisir berbasis ekosistem. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi dasar ilmiah bagi pemerintah daerah dalam penyusunan kebijakan pengendalian limbah pesisir dan perencanaan pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan. Kata kunci: kualitas perairan, Water Quality Index (WQI), beban nutrien, Pantai Sebagin, pengelolaan pesisir
KARAKTERISTIK BAHAN BAKU TERIPANG HITAM (Holothuria atra) DAN POTENSI PEPTIDA BIOAKTIFNYA. A REVIEW. Sare, Maria Dolorosa; Nurjanah, Nurjanah
Jurnal Ruaya : Jurnal Penelitian dan Kajian Ilmu Perikanan dan Kelautan Vol 14 No 01 (2026): Jurnal Ruaya : Jurnal Penelitian dan Kajian Ilmu Perikanan dan Kelautan
Publisher : UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PONTIANAK

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29406/jr.v14i01.8660

Abstract

Teripang merupakan komoditi ekspor yang bernilai tinggi dan dimanfaatkan sebagai bahan makanan maupun obat-obatan. Meskipun bentuk tubuhnya menyerupai ketimun, kandungan senyawa kimia kompleksnya yang bermanfaat bagi kesehatan menjadikannya biota laut yang paling banyak dicari nelayan. Selain memiliki nilai ekonomi sebagai bahan pangan, Holothuria atra mengandung protein, kolagen, asam amino esensial, mineral, serta metabolit sekunder yang penting bagi kesehatan. Teripang hitam atau yang biasa dikenal dengan sebutan (Holothuria atra) adalah hewan laut berbadan lunak termasuk dalam kelas Holothuroidea dari filum Echinodermata yang melimpah di perairan Indonesia dan dikenal sebagai sumber potensial senyawa bioaktif. Selain memiliki nilai ekonomi sebagai bahan pangan, Holothuria atra mengandung protein, kolagen, asam amino esensial, mineral, serta metabolit sekunder yang penting bagi kesehatan. Tujuan dari ulasan artikel ini adalah untuk mengkaji mengenai karakteristik bahan baku dari teripang hitam (Holothuria atra) dan potensi peptida bioaktifnya serta mengidentifikasi potensi bioaktivitas peptida yang diekstraksi. Metode yang digunakan dalam ulasan artikel ini adalah dengan menemukan, mencari artikel-artikel yang relevan dengan tujuan yang telah ditentukan. Hasil yang didapat yaitu daging Holothuria atra mengandung 0,4% asam lemak jenuh, 0,4% asam lemak tak jenuh, serta sejumlah besar kalsium, magnesium, dan natrium serta kolagen dari dinding tubuh sebesar 0,95% yang menunjukkan bahwa kolagen tersebut adalah Tipe I. Holothuria atra juga mengandung protein yang tinggi dan rendah lemak. Peptida yang diisolasi dari hidrolisat protein teripang hitam Holothuria atra mengandung beberapa senyawa bioaktif yang cukup potensial diantaranya sebagai antimikroba, antitumor, antikanker, antioksidan, antijamur, antibakteri serta anti-UV (berpotensi dalam bidang kosmeseutika). Kata kunci: teripang hitam (Holothuria atra), karakterisasi, ekstraksi, hidrolisat protein, peptida bioaktif
Spatial Analysis Of Chlorophyll-A And Total Suspended Solid In The Western Waters Of Ambon Island Using Landsat 9 Imagery Tino, Wildan; Kartika, Indah
Jurnal Ruaya : Jurnal Penelitian dan Kajian Ilmu Perikanan dan Kelautan Vol 14 No 01 (2026): Jurnal Ruaya : Jurnal Penelitian dan Kajian Ilmu Perikanan dan Kelautan
Publisher : UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PONTIANAK

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Parameter bio-optik seperti klorofil-a dan total suspended solid merupakan indikator penting untuk menilai kondisi ekologis dan mendeteksi area yang berpotensi mengalami eutrofikasi atau sedimentasi berlebih. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis distribusi spasial klorofil-a dan total suspended solid di perairan barat Pulau Ambon menggunakan citra satelit Landsat 9 sebagai instrumen pemantauan kualitas perairan. Pengolahan data dilakukan melalui koreksi radiometrik dan geometrik serta penerapan algoritma empiris untuk mendapatkan nilai konsentrasi klorofil dan total suspended solid. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi klorofil-a berkisar antara 0,127 hingga 0,264 mg/L dan sebaran total suspended solid (TSS) berkisar 10,21 hingga 20,62 mg/L dengan nilai tertinggi berada didaerah pesisir akibat pengaruh limpasan daratan, masukan nutrien, dan aktivitas antropogenik. Penelitian ini menegaskan peran penting penginderaan jauh dalam mendukung pemantauan bio-optik dan pengelolaan kualitas perairan secara berkelanjutan. Kata kunci: Klorofil-a, Total Suspended Solid, Landsat 9, Pulau Ambon

Filter by Year

2013 2026


Filter By Issues
All Issue Vol 14 No 01 (2026): Jurnal Ruaya : Jurnal Penelitian dan Kajian Ilmu Perikanan dan Kelautan Vol 13 No 2 (2025): Jurnal Ruaya : Jurnal Penelitian dan Kajian Ilmu Perikanan dan Kelautan Vol 13 No 1 (2025): Jurnal Ruaya : Jurnal Penelitian dan Kajian Ilmu Perikanan dan Kelautan Vol 12 No 2 (2024): Jurnal Ruaya : Jurnal Penelitian dan Kajian Ilmu Perikanan dan Kelautan Vol 12 No 1 (2024): Jurnal Ruaya : Jurnal Penelitian dan Kajian Ilmu Perikanan dan Kelautan Vol 11 No 2 (2023): Jurnal Ruaya : Jurnal Penelitian dan Kajian Ilmu Perikanan dan Kelautan Vol 11 No 1 (2023): Jurnal Ruaya : Jurnal Penelitian dan Kajian Ilmu Perikanan dan Kelautan Vol 10 No 2 (2022): Jurnal Ruaya : Jurnal Penelitian dan Kajian Ilmu Perikanan dan Kelautan Vol 10 No 1 (2022): Jurnal Ruaya : Jurnal Penelitian dan Kajian Ilmu Perikanan dan Kelautan Vol 9 No 2 (2021): Jurnal Ruaya : Jurnal Penelitian dan Kajian Ilmu Perikanan dan Kelautan Vol 9, No 1 (2021): Jurnal Ruaya : Jurnal Penelitian dan Kajian Ilmu Perikanan dan Kelautan Vol 8, No 2 (2020): Jurnal Ruaya : Jurnal Penelitian dan Kajian Ilmu Perikanan dan Kelautan Vol 8, No 1 (2020): Jurnal Ruaya : Jurnal Penelitian dan Kajian Ilmu Perikanan dan Kelautan Vol 7, No 2 (2019): Jurnal Ruaya : Jurnal Penelitian dan Kajian Ilmu Perikanan dan Kelautan Vol 7, No 1 (2019): Jurnal Ruaya : Jurnal Penelitian dan Kajian Ilmu Perikanan dan Kelautan Vol 6, No 02 (2018): Jurnal Ruaya : Jurnal Penelitian dan Kajian Ilmu Perikanan dan Kelautan Vol 6, No 1 (2018): Jurnal Ruaya : Jurnal Penelitian dan Kajian Ilmu Perikanan dan Kelautan Vol 5, No 2 (2017): Jurnal Ruaya : Jurnal Penelitian dan Kajian Ilmu Perikanan dan Kelautan Vol 5, No 1 (2017): Jurnal Ruaya : Jurnal Penelitian dan Kajian Ilmu Perikanan dan Kelautan Vol 4, No 2 (2016): Jurnal Ruaya : Jurnal Penelitian dan Kajian Ilmu Perikanan dan Kelautan Vol 4, No 1 (2016): Jurnal Ruaya : Jurnal Penelitian dan Kajian Ilmu Perikanan dan Kelautan Vol 6, No 2 (2015): Jurnal Ruaya : Jurnal Penelitian dan Kajian Ilmu Perikanan dan Kelautan Vol 5, No 1 (2015): Jurnal Ruaya : Jurnal Penelitian dan Kajian Ilmu Perikanan dan Kelautan Vol 4, No 2 (2014): Jurnal Ruaya : Jurnal Penelitian dan Kajian Ilmu Perikanan dan Kelautan Vol 3, No 1 (2014): Jurnal Ruaya : Jurnal Penelitian dan Kajian Ilmu Perikanan dan Kelautan Vol 2, No 2 (2013): Jurnal Ruaya : Jurnal Penelitian dan Kajian Ilmu Perikanan dan Kelautan Vol 1, No 1 (2013): Jurnal Ruaya : Jurnal Penelitian dan Kajian Ilmu Perikanan dan Kelautan More Issue