cover
Contact Name
Zidnal Falah
Contact Email
cerdikapublikasiindonesia@gmail.com
Phone
+6285322218207
Journal Mail Official
cerdikapublikasiindonesia@gmail.com
Editorial Address
Greendland Sendang Residence Blok H.1 Sendang, Kec. Sumber, Kab. Cirebon , Cirebon, Provinsi Jawa Barat, 45611
Location
Kab. cirebon,
Jawa barat
INDONESIA
Cerdika: Jurnal Ilmiah Indonesia
ISSN : 27746291     EISSN : 27746534     DOI : 10.36418
Cerdika: Jurnal Ilmiah Indonesia adalah jurnal yang diterbitkan sebulan sekali oleh CV. Publikasi Indonesia. Cerdika: Jurnal Ilmiah Indonesia akan menerbitkan artikel ilmiah dalam lingkup ilmu sosial, sains dan ilmu kesehatan. Artikel yang dipublikasikan adalah artikel hasil penelitian, kajian atau kajian ilmiah kritis dan komprehensif tentang isu-isu penting dan terkini atau ulasan buku ilmiah.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 1,921 Documents
Tinjauan Kelengkapan Pengisian Resume Medis Pasien Rawat Inap Rumah Sakit Umum Sekayu Musi Banyuasin Firmansyah Firmansyah; Erix Gunawan
Cerdika: Jurnal Ilmiah Indonesia Vol. 2 No. 1 (2022): Cerdika: Jurnal Ilmiah Indonesia
Publisher : Publikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3531.829 KB) | DOI: 10.59141/cerdika.v2i1.304

Abstract

Latar Belakang: Kualitas mutu rumah sakit dapat dilihat pada tingkat kelengkapan rekam medisnya, salah satunya pada tingkat kelengkapan resume medis. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kelengkapan dan faktor yang mempengaruhi ketidaklengkapan pengisian resume medis pasien rawat inap ruang Petanang Rumah Sakit Umum Daerah Sekayu Musi Banyuasin Triwulan II 2021. Metode: Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif, sampel dalam penelitian ini berjumlah 60 lembar resume medis serta instrumen penelitian ini wawancara dan cheklist observasi. Hasil: Hasil penelitian ini menunjukan bahwa persentase kelengkapan pengisian resume medis di ruang Petanang triwulan II 2021 sebesar 73,3% dan persentase ketidaklengkapan resume medis sebesar 26,7%. Faktor yang mempengaruhi ketidaklengkapan resume medis antara lain adalah keterbatasan waktu dokter dan kurangnya ketelitian dari dokter yang merawat pasien. Kesimpulan:  Berdasarkan hasil penelitian faktor penyebab ketidaklengkapan dalam pengisian formulir resume medis rawat inap ruang Petanang Triwulan II 2021 diantaranya Dokter sibuk dan mempunyai jadwal yang padat dan kebijakan pengisian resume medis kurang disosialisasikan.
Faktor-Faktor Penyebab Tidak Ditemukan Berkas Rekam Medis di Rak Penyimpanan di Rumah Sakit Fadhilah Tahun 2021 Muhamad Aji Adha; Erix Gunawan
Cerdika: Jurnal Ilmiah Indonesia Vol. 2 No. 1 (2022): Cerdika: Jurnal Ilmiah Indonesia
Publisher : Publikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3678.627 KB) | DOI: 10.59141/cerdika.v2i1.307

Abstract

Latar Belakang: Rekam medis merupakan dokumen penting bagi setiap institusi pelayanan medis untuk melayani pasien, karena rekam medis mencakup data pribadi pasien dan situasi perawatan saat diperiksa di institusi medis. Di instalasi rekam medis RS Fadila, rekam medis rawat jalan harus dikembalikan setelah pasien selesai pemeriksaan, sedangkan rekam medis rawat inap harus dikembalikan dalam waktu 1x24 jam. Pengamatan pada 1 Juli 2021 dan 31 Juli 2021 menunjukkan bahwa dari 1.526 berkas rekam medis, 34 (2,2%) tidak ditemukan di rak penyimpanan. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang menyebabkan tidak adanya berkas rekam medis di rak penyimpanan Rumah Sakit Fadhilah pada tahun 2021. Metode: Kajian ini merupakan kajian deskriptif menggunakan kaedah kualitatif dan reka bentuk keratan rentas. Kaedah mengumpul data secara pemerhatian. Hasil: Hasil penelitian selama 1 bulan menunjukkan 34 (2,2%) dari 135 rak rekam medis tidak ditemukan. Hal ini disebabkan 2 (29%) file tidak beraturan di rak penyimpanan, 2 (29%) file tidak aktif untuk dokter lengkap dan 3 (43%) file rekam medis karena ujian tidak digunakan dalam 5 tahun. Kesimpulan: Berdasarkan hasil penelitian di atas, tidak ditemukan faktor-faktor di rak penyimpanan yang menyebabkan berkas rekam medis, mulai dari berkas aktif paling tinggi hingga susunan berkas yang salah dan integritas dokter paling rendah.
Evaluasi Penggunaan Obat Kortikosteroid pPada Penderita Penyakit Dermatitis di RSAU dr. M. Salamun Bandung Kalpani Depa Alamsyah; Rida Emelia
Cerdika: Jurnal Ilmiah Indonesia Vol. 2 No. 1 (2022): Cerdika: Jurnal Ilmiah Indonesia
Publisher : Publikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3600.562 KB) | DOI: 10.59141/cerdika.v2i1.308

Abstract

Latar Belakang: Dermatitis adalah peradangan kulit (epidermis dan dermis) di bawah pengaruh faktor eksogen dan endogen, yang mengakibatkan kelainan fluoresensi polimorfik secara klinis (eritema, edema, papula, lepuh, scaling, likenifikasi) dan Gejala pruritus. (oligomorf). Dermatitis cenderung menetap dan menjadi kronis. Terapi penyakit dermatitis biasanya menggunakan kortikosteroid, ketidaksesuaian penggunaan obat kortikosterid dapat menimbulkan efek samping baik lokal maupun sistemik Tujuan: Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui penggunaan kortikosteroid pada pasien dermatitis dan memperoleh gambaran kesesuaian penggunaan obat kortikosteroid pada penderita penyakit dermatitis di RSAU dr. M. Salamun Bandung. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian non eksperimen dengan metode penelitian deskriptif evaluasi retrospektif. Penelitian ini bersifat non eksperimen. Sampel yang digunakan adalah rekam medis seluruh pasien dermatitis dan resep obat dari dokter spesialis penyakit kulit dan kelamin. Populasi penelitian adalah kurang lebih 150 pasien dermatitis. Hasil: Berdasarkan hasil penelitian didapatkan bahwa faktor jenis kelamin dan usia pasien sangat berpengaruh terhadap timbulnya penyakit dermatitis selain itu juga didapatkan bahwa faktor ketepan penggunaan obat kortikosteroid yaitu tepat indikasi, tepat obat, tepat dosis dan tepat pasien. Kesimpulan: Dari hasil penelitian yang mengevaluasi penggunaan kortikosteroid pada pasien dermatitis, dapat disimpulkan bahwa kortikosteroid yang paling banyak digunakan adalah Desoximethason 0,025% Krim untuk kortikosteroid topikal dan Metilprednisolon 4mg untuk kortikosteroid oral yang digunakan untuk pasien dermatitis di RSAU dr. M. Salamun Bandung.
Faktor Keterlambatan Distribusi Rekam Medis Rawat Jalan dengan Metode Fishbone di Rumah Sakit Pertamina Prabumulih Isro Mistrati; Indah Agustina
Cerdika: Jurnal Ilmiah Indonesia Vol. 2 No. 1 (2022): Cerdika: Jurnal Ilmiah Indonesia
Publisher : Publikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3676.087 KB) | DOI: 10.59141/cerdika.v2i1.309

Abstract

Latar Belakang: Guna mencapai tujuan pelayanan kesehatan optimal perlu adanya sistem yang baik sesuai dengan prosedur yang telah ditetapkan di Rumah Sakit. Optimalnya kualitas pelayanan kesehatan salah satunya dapat dilihat dari ketepatan waktu pendistribusian rekam medis. namun beberapa hal dapat membuat penditribusian  rekam medis menjadi terlambat. Tujuan:  Menganalisis faktor keterlambatan distribusi rekam medis rawat jalan dengan metode Fishbone di Rumah Sakit Pertamina Prabumulih. Metode: Jenis penelitian ini adalah deskriptif dengan menganalisa di ruang penyimpanan menggunakan diagram fishbone dengan melihat dari beberapa komponen yaitu Manusia (Man Power), Metode (Methods), Mesin (Machine), Material (Materials) dan Inspeksi (Measurment). Adapun populasi dalam penelitian ini yaitu kunjungan perhari pasien rawat jalan sebanyak 196 pasien dan sampel yang diambil yaitu 100 rekam medis. Hasil: Berdasarkan hasil penelitian didapatkan faktor utama penyebab keterlambatan distribusi karena petugas distribusi hanya 1 orang, dan berdasarkan hasil penelitian sebelumnya oleh Yuni Marliani pada bulan Agustus 2020 bahwa penyebab lainnya karena fasilitas ruang penyimpanan kurang memadai sehingga memperlambat petugas dalam pengambilan rekam medis di lemari penyimpanan. Adapun waktu rata-rata distribusi rekam medis pada pasien lama secara keseluruhan adalah 14 menit 31 detik sedangkan waktu rata-rata pasien baru secara keseluruhan adalah 13 menit 15 detik. Kesimpulan: Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak cukupnya petugas di bagian distribusi rekam medis, belum ada  komputer di ruang filling, belum terlaksananya rekam medis elektronik, belum ada kebijakan untuk memberi reward and punishment kepada petugas yang terkait, Rapat komite medis tidak pernah membahas masalah yang ada di unit Rekam Medis mengenai pendistribusian rekam medis rawat jalan.
Evaluasi Pelayanan Komunikasi, Informasi dan Edukasi Swamedikasi Obat Terhadap Pasien di Apotek Cicaheum Farma Kota Bandung Novi Mirawati; Wempi Eka Rusmana
Cerdika: Jurnal Ilmiah Indonesia Vol. 2 No. 2 (2022): Cerdika: Jurnal Ilmiah Indonesia
Publisher : Publikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (198.913 KB) | DOI: 10.59141/cerdika.v2i2.310

Abstract

Latar Belakang: Sebelum masyarakat memutuskan untuk mencari pertolongan ke fasilitas pelayanan kesehatan, banyak dari mereka yang melakukan cara mengobati diri sendiri atau yang disebut swamedikasi (self medication). Sesuai yang dijelaskan dalam Departemen Kesehatan Republik Indonesia Tahun 1993, swamedikasi merupakan salah satu upaya yang dilakukan seseorang dalam mengobati gejala sakit atau penyakit yang sedang dideritanya tanpa terlebih dahulu melakukan konsultasi kepada dokter. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menilai sejauh mana palayanan komunikasi, informasi dan edukasi obat swamedikasi yang diberikan oleh Tenaga Teknis Kefarmasian di Apotek Cicaheum Farma Kota Bandung. Metode: Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif evaluatif dengan menggunakan teknik observasi dan cheklist untuk mengumpulkan data penelitian. Hasil: Dari hasil penelitian yang dilakukan kepada 40 pasien ditemukan sebagian besar belum mendapatkan pelayanan komunikasi, informasi dan edukasi yang efektif. Pelayanan yang diberikan hanya berfokus pada pelayanan komunikasi yang ramahtamah kepada pasien. Kesimpulan: Berdasarkan penelitian yang dilakukan kepada 40 pasien yang membeli obat swamedikasi sebagian besar belum mendapatkan pelayanan komunikasi, informasi dan edukasi yang efektif. Pelayanan yang diberikan hanya berfokus pada pelayanan komunikasi yang ramahtamah kepada pasien.
Pola Peresepan Obat Antihipertensi Terhadap Pasien Hipertensi Rawat Jalan di RSAU Dr.M. Salamun Pedia Zahwa Rahmat; Rida Emelia
Cerdika: Jurnal Ilmiah Indonesia Vol. 2 No. 1 (2022): Cerdika: Jurnal Ilmiah Indonesia
Publisher : Publikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3726.132 KB) | DOI: 10.59141/cerdika.v2i1.311

Abstract

Latar Belakang: Pasien hipertensi yang telah melakukan pemeriksaan ke dokter, biasanya diberi pilihan untuk menjalankan terapi. Terapi yang sering dipilih adalah terapi obat yang sering melibatkan penulisan resep. Pada lembar resep obat antihipertensi dapat diperoleh informasi mengenai profil penggunaan obat antihipertensi seperti jenis obat, kekuatan sediaan, jumlah obat, dan aturan pemakaian obat yang digunakan untuk pengobatan pasien. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola peresepan obat antihipertensi terhadap pasien rawat jalan RSAU dr. M Salamun. Metode: Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif dan kuantitatif dimana data diperoleh dengan pendekatan retrospektif yaitu dengan melihat kembali, mengumpulkan dan mencatat resep yang mengandung obat antihipertensi pada pasien hipertensi rawat jalan RSAU DR. M. Salamun. Hasil: Hasil penelitian yang didapatkan dari total 240 resep berdasarkan pola peresepan berdasarkan jenis kelamin dan usia terbanyak adalah pasien wanita sejumlah 127 pasien (52,92%) dan usia terbanyak adalah ? 50 tahun sebanyak 188 pasien (78,33%), berdasarkan jenis obat yang sering diresepkan adalah bisoprolol 152 obat (20,82%), golongan obat yang sering diresepkan adalah penghambat ARB sebanyak 164 obat (22,47%) dan kombinasi obat hipertensi paling banyak adalah adalah kombinasi 3 obat sebanyak 104 resep (43,33%). Kesimpulan: Pasien terbanyak berjenis kelamin wanita sesuai dengan teori faktor resiko wanita lebih beresiko terkena hipertensi karena wanita mengalami masa menopause dan dapat diketahui juga usia pasien tebanyak adalah ? 50 tahun yang juga sesuai dengan teori lebih beresiko terkena hipertensi. Pasien lebih sering mendapatkan kombinasi 3 obat antihipertensi. Berdasarkan penelitian pola peresepan obat antihipertensi sesuai terhadap pasien hipertensi RSAU dr.M. Salamun.
Pengaruh Meningkatnya Pasien Baru Terhadap Ruang Penyimpanan Berkas Rekam Medis di Klinik Cagak Medika Shevilla Angra Yuzana; Yuyun Yunengsih
Cerdika: Jurnal Ilmiah Indonesia Vol. 2 No. 1 (2022): Cerdika: Jurnal Ilmiah Indonesia
Publisher : Publikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3704.817 KB) | DOI: 10.59141/cerdika.v2i1.312

Abstract

Latar Belakang: Rak penyimpanan berkas rekam medis merupakan salah satu fasilitas klinik maupun rumah sakit yang berfungsi menyimpan berkas rekam medis, dengan tersedianya rak penyimpanan berkas rekam medis yang sesuai dengan kapasitas penyimpanan berkas rekam medis maka tidak akan terjadi penumpukan berkas rekam medis di lantai. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perkiraan kebutuhan rak penyimpanan berkas rekam medis rawat jalan akibat pengaruh meningkatnya pasien terhadap penyimpanan berkas rekam medis  di Klinik Cagak Medika. Metode: Penelitian ini menggunakan metode deskriptif  kuantitatif yaitu menganalisa dan menyajikan fakta secara sistematis, dengan hasil penelitian dan membandingkan dengan teori, kemudian dilakukan dengan menghitung jumlah kebutuhan rak. Instrumen yang digunakan dalam pengumpulan data antara lain dengan observasi dan wawancara. Hasil: Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa jumlah kunjungan pasien rawat jalan di Poliklinik Cagak Medika yang semakin bertambah setiap harinya dari tahun 2016 – 2020 sebanyak 52.439 berkas rekam medis. Jumlah rak penyimpanan berkas rekam medis rawat jalan di klinik sebanyak 2 rak. Saran saat ini karna klinik memiliki 2 rak file, maka klinik disarankan untuk  menyediakan 3-4 rak file lagi agar kebutuhan rak dapat tercukupi dan dapat menampung semua berkas rekam medis pasien secara sistematis agar petugas rekam medis mudah dalam proses penyimpanan dan pencarian berkas rekam      medis pasien. Kesimpulan: pasien setiap harinya dari tahun 2016-2020 terdapat 52.439 pasien  di poliklinik Cagak Medika, tetapi saat ini terdapat 2 (dua) rak untuk penyimpanan berkas rekam medis. Sehingga memerlukan penambahan 3-4 rak untuk mencegah tidak terjadinya penumpukan bahkan hilangnya berkas Rekam medis pasien.
Keamanan dan Kerahasiaan Rekam Medisdi Ruang Filing Rumah Sakit Bhayangkara M Hasan Palembang Wulandari Wulandari
Cerdika: Jurnal Ilmiah Indonesia Vol. 2 No. 1 (2022): Cerdika: Jurnal Ilmiah Indonesia
Publisher : Publikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3689.75 KB) | DOI: 10.59141/cerdika.v2i1.313

Abstract

Latar Belakang : Keamanan dan kerahasiaan adalah faktor yang sangat penting dalam pengelolaan rekam medis maka dari itu tidak semua pihak diperbolehkan mengetahui keamanan penyimpanan rekam medis, untuk itu keamanan dari segi aspek fisik harus dikelola dengan baik. Keamanan penyimpanan rekam medis tidak lancar, dikarenakan masih ada beberapa dari segi aspek yang masih belum memenuhi standar. Tujuan : Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui keamanan dan kerahasiaan penyimpanan rekam medis di Rumah Sakit Bhayangkara M Hasan Palembang. Metode : Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif, alat penelitian wawancara, observasi dan penelitian kepustakaan, dan objek penelitian adalah tenaga rekam medis di bagian kearsipan yang berjumlah 7 orang. Objek penelitian yang dipakai adalah ruang penyimpanan rekam medis. Hasil : Hasil kajian penelitian ini dilihat dari segi aspek fisik belum aman karena masih ditemukan adanya petugas lain selain perekam medis keluar masuk diruang penyimpanan dan masih terdapat pekerja makan dan minum diruang penyimpanan rekam medis. Kesimpulan : Semua komponen tidak aman dari faktor eksternal, yaitu pihak lain dengan akses tidak sah ke gudang sehingga kerahasiaan rekam medis belum terjaga.
Evaluasi Penggunaan Antibiotik pada Pasien ISPA di Klinik Legok Medika Sumedang Nenih Nurjanah; Rida Emelia
Cerdika: Jurnal Ilmiah Indonesia Vol. 2 No. 2 (2022): Cerdika: Jurnal Ilmiah Indonesia
Publisher : Publikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (283.375 KB) | DOI: 10.59141/cerdika.v2i2.316

Abstract

Latar Belakang: Ditinjau dari prevalensinya, prevalensi Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) menurut diagnosis tenaga kesehatan (NAKES) dan gejala menurut provinsi pada tahun 2013 sebanyak 25,0% dan menurun pada tahun 2018 sebanyak 9,3%. Tujuan: Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengevaluasi penggunaan antibiotik pada pasien ISPA di Klinik Legok Medika Tahun 2021. Metode: Penelitian yang dilakukan yaitu penelitian observasial penelitian terhadap sekumpulan objek atau penomena dimana penelitian ini bersifat deskriptif, yang bertujuan untuk melihat implementasi penggunaan antibiotik pada pasien ISPA. Hasil: Berdasarkan hasil penelitian, menunjukan bahwa pasien ISPA di Klinik Legok didominasi oleh pasien perempuan adalah 33 orang dengan persentase 66% dan pasien laki-laki adalah 17 orang dengan persentase 34%. Menunjukan pasien terbanyak adalah pasien dewasa 26-40 tahun adalah sebanyak 17 orang (34%) disebabkan oleh perokok aktif dan sistem kekebalan tubuh yang lemah. Kesimpulan: Dari hasil penelitian yang saya dapatkan secara observasial atau penelitian yang bersifat deskriptif. Penggunaan obat antibiotik pada pasien ISPA di Klinik Legok Medika Sumedang didominasi oleh perempuan dengan persentase 66% dan pasien laki-laki dengan presentase 34%.
Profil Peresepan Terapi Infeksi Saluran Pernafasan Atas di Apotek Murni Periode Januari - Maret 2021 Puji Lestari; Meiti Rosmiati
Cerdika: Jurnal Ilmiah Indonesia Vol. 2 No. 3 (2022): Cerdika: Jurnal Ilmiah Indonesia
Publisher : Publikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4270.778 KB) | DOI: 10.59141/cerdika.v2i3.318

Abstract

Upper Respiratory Tract Infection is one of the diseases with high morbidity and mortality rates. This disease is caused by a variety of microorganisms and can cause infection. Deaths caused by these infections occur 2-6 times higher in developing countries. The purpose of this study was to determine the profile of prescribing therapy for upper respiratory tract infections at Apotek Murni Bekasi for the period January - March 2021, based on the classification and order of the most drug use. The method used is descriptive and retrospective collection using secondary data on prescription drugs for upper respiratory infections that meet the criteria. The study was conducted in January - March 2021. The instrument used was prescription data for patients with Upper Respiratory Tract Infections. Samples were taken by simple random sampling with a significant level of 5%. The samples taken were all prescriptions for the use of upper respiratory tract infection drugs as many as 337 prescription samples. The results of the study from 337 samples of treatment therapy for Upper Respiratory Tract Infections based on the drug class that had the most prescriptions were respiratory drugs with a frequency of 110 (46. 41%) and a total use of 402 (31. 50%), analgesic-antipyretic with a frequency of 40 ( 16. 87%) and the number of uses 255 (19. 98%), antibiotics with a frequency of 27 (11. 39%) and the number of uses 217 (17%), antihistamines with a frequency of 25 (10. 55%) %) and the number of uses 197 (15. 44%), vitamins with a frequency of 21 (8. 85%) %) and the number of uses 118 (9. 25%), and finally corticosteroids with a frequency of 14 (5. 91%) %) and the number of uses 87 (6. 82%. Sss+ Meanwhile, based on the type of drug, the highest order with the highest number of drug use were: paracetamol 242 (18. 97%), mucos® 228 (17. 87%) and CTM tablet 197 (15. 43%) and the highest order frequency of prescription was OBH® 100 ml 56 (23. 62%). The highest number of use of the drug in the treatment of upper respiratory tract infections is Paracetamol and the drug with the most frequency is OBH 100 ml.

Page 21 of 193 | Total Record : 1921


Filter by Year

2021 2026


Filter By Issues
All Issue Vol. 6 No. 3 (2026): Cerdika: Jurnal Ilmiah Indonesia Vol. 6 No. 2 (2026): Cerdika: Jurnal Ilmiah Indonesia Vol. 6 No. 1 (2026): Cerdika: Jurnal Ilmiah Indonesia Vol. 5 No. 12 (2025): Cerdika: Jurnal Ilmiah Indonesia Vol. 5 No. 11 (2025): Cerdika: Jurnal Ilmiah Indonesia Vol. 5 No. 10 (2025): Cerdika: Jurnal Ilmiah Indonesia Vol. 5 No. 9 (2025): Cerdika: Jurnal Ilmiah Indonesia Vol. 5 No. 8 (2025): Cerdika: Jurnal Ilmiah Indonesia Vol. 5 No. 7 (2025): Cerdika: Jurnal Ilmiah Indonesia Vol. 5 No. 6 (2025): Cerdika: Jurnal Ilmiah Indonesia Vol. 5 No. 5 (2025): Cerdika: Jurnal Ilmiah Indonesia Vol. 5 No. 4 (2025): Cerdika: Jurnal Ilmiah Indonesia Vol. 5 No. 3 (2025): Cerdika: Jurnal Ilmiah Indonesia Vol. 5 No. 2 (2025): Cerdika: Jurnal Ilmiah Indonesia Vol. 5 No. 1 (2025): Cerdika: Jurnal Ilmiah Indonesia Vol. 4 No. 12 (2024): Cerdika: Jurnal Ilmiah Indonesia Vol. 4 No. 11 (2024): Cerdika: Jurnal Ilmiah Indonesia Vol. 4 No. 10 (2024): Cerdika: Jurnal Ilmiah Indonesia Vol. 4 No. 03 (2024): Cerdika : Jurnal Ilmiah Indonesia Vol. 4 No. 9 (2024): Cerdika: Jurnal Ilmiah Indonesia Vol. 4 No. 8 (2024): Cerdika: Jurnal Ilmiah Indonesia Vol. 4 No. 7 (2024): Cerdika: Jurnal Ilmiah Indonesia Vol. 4 No. 6 (2024): Cerdika: Jurnal Ilmiah Indonesia Vol. 4 No. 5 (2024): Cerdika: Jurnal Ilmiah Indonesia Vol. 4 No. 4 (2024): Cerdika: Jurnal Ilmiah Indonesia Vol. 4 No. 3 (2024): Cerdika : Jurnal Ilmiah Indonesia Vol. 4 No. 2 (2024): Cerdika : Jurnal Ilmiah Indonesia Vol. 4 No. 1 (2024): Cerdika : Jurnal Ilmiah Indonesia Vol. 3 No. 12 (2023): Cerdika : Jurnal Ilmiah Indonesia Vol. 3 No. 11 (2023): Cerdika : Jurnal Ilmiah Indonesia Vol. 3 No. 10 (2023): Cerdika : Jurnal Ilmiah Indonesia Vol. 3 No. 09 (2023): Cerdika : Jurnal Ilmiah Indonesia Vol. 3 No. 08 (2023): Cerdika : Jurnal Ilmiah Indonesia Vol. 3 No. 7 (2023): Cerdika : Jurnal Ilmiah Indonesia Vol. 3 No. 6 (2023): Cerdika : Jurnal Ilmiah Indonesia Vol. 3 No. 5 (2023): Cerdika : Jurnal Ilmiah Indonesia Vol. 3 No. 4 (2023): Cerdika : Jurnal Ilmiah Indonesia Vol. 3 No. 3 (2023): Cerdika : Jurnal Ilmiah Indonesia Vol. 3 No. 2 (2023): Cerdika: Jurnal Ilmiah Indonesia Vol. 3 No. 1 (2023): Cerdika: Jurnal Ilmiah Indonesia Vol. 2 No. 12 (2022): Cerdika: Jurnal Ilmiah Indonesia Vol. 2 No. 11 (2022): Cerdika: Jurnal Ilmiah Indonesia Vol. 2 No. 10 (2022): Cerdika: Jurnal Ilmiah Indonesia Vol. 2 No. 9 (2022): Cerdika: Jurnal Ilmiah Indonesia Vol. 2 No. 8 (2022): Cerdika: Jurnal Ilmiah Indonesia Vol. 2 No. 7 (2022): Cerdika: Jurnal Ilmiah Indonesia Vol. 2 No. 6 (2022): Cerdika: Jurnal Ilmiah Indonesia Vol. 2 No. 5 (2022): Cerdika: Jurnal Ilmiah Indonesia Vol. 2 No. 4 (2022): Cerdika: Jurnal Ilmiah Indonesia Vol. 2 No. 3 (2022): Cerdika: Jurnal Ilmiah Indonesia Vol. 2 No. 2 (2022): Cerdika: Jurnal Ilmiah Indonesia Vol. 2 No. 1 (2022): Cerdika: Jurnal Ilmiah Indonesia Vol. 1 No. 12 (2021): Cerdika: Jurnal Ilmiah Indonesia Vol. 1 No. 11 (2021): Cerdika: Jurnal Ilmiah Indonesia Vol. 1 No. 10 (2021): Cerdika: Jurnal Ilmiah indonesia Vol. 1 No. 9 (2021): Cerdika: Jurnal Ilmiah Indonesia Vol. 1 No. 8 (2021): Cerdika: Jurnal Ilmiah Indonesia Vol. 1 No. 7 (2021): Cerdika: Jurnal Ilmiah indonesia Vol. 1 No. 6 (2021): Cerdika: Jurnal Ilmiah indonesia Vol. 1 No. 5 (2021): CERDIKA: Jurnal Ilmiah Indonesia Vol. 1 No. 4 (2021): Cerdika : Jurnal ilmiah Indonesia Vol. 1 No. 3 (2021): Cerdika: Jurnal Ilmiah indonesia Vol. 1 No. 2 (2021): Cerdika: Jurnal Ilmiah indonesia Vol. 1 No. 1 (2021): CERDIKA: Jurnal Ilmiah Indonesia More Issue