SEUNEUBOK LADA: Jurnal ilmu-ilmu Sejarah, Sosial, Budaya dan Kependidikan
The Seuneubok Lada journal only publishes scientific works resulting from empirical and theoretical research to develop science. The focus of the Seuneubok Lada Journal is the field of historical education, social history and culture. History education includes the study of history education in schools which include; 1. History Teaching Methods, 2. History Education Curriculum, 3. History Education Management and Technology while social and cultural history includes; 1. Archaeological Studies 2. Ethnographic Studies 3. Social and Cultural Anthropological Studies 4. Social and Political History Studies 5. Hysterography
Articles
238 Documents
PENDIDIKAN IPS SEBAGAI KATALISATOR DALAM TRANSFORMASI PENDIDIKAN DI INDONESIA
Mufti Riyani Riyani
SEUNEUBOK LADA: Jurnal ilmu-ilmu Sejarah, Sosial, Budaya dan Kependidikan Vol 2 No 2 (2015): SEUNEUBOK LADA
Publisher : Program Studi Pendidikan Sejarah - Universitas Samudra
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (451.633 KB)
Praktik pendidikan di Indonesia pada saat ini teridentifikasi mengikuti paradigma materialisme yang mengarah pada bekerjanya kelas sosial tertentu, khususnya kelas pemodal atau kelas kapital, sebagai kelas dominan. Hal tersebut dapat diamati melalui intendedcurriculum dan hiddencurriculum atau kurikulum terencana dan tersembunyi yang berperspektif kelas atas atau kelas pemodal. Pendidikan akhirnya memaksa seluruh siswa menggunakan modal budaya yang dominan.Kondisi ini menyebabkan siswa dari kalangan kelas bawah gagal memperoleh perbaikan kesejahteraan melalui pendidikan. Penelitian ini bermaksud menggali potensi IPS sebagai katalisator dalam transformasi pendidikan di Indonesia melalui penerapan paradigm pendidikan sosialis sebagai counter attack atau serangan balik terhadap pendidikan dengan paradigm materialisme. Hal ini mungkin terjadi sebab IPS pada hakikatnya bersifat sebagai penyadaran kritis, melatih mental dan praktik sosial serta memungkinkan tumbuhnya kesadaran terhadap modal budaya asli sebagai kontra bagi modal budaya kelas kapital. Katalisator tersebut bekerja melalui penerapan proses pendidikan dengan paradigm sosialis, sebagai counter terhadap paradigm materialsme. Selain melalui proses belajar mengajar, keberhasilan IPS sebagai katalisator dapat terjadi dengan melahirkan aktor-aktor sosial yang mampu bertindak secara rasional. Sebagai hasil analisa kritis, IPS cocok untuk dikembangkan dalam manifesto paradigma pendidikan sosialis Tan Malaka. Secara makro dan mikro keduanya memiliki misi yang sama. Secara makro, IPS dan pendidikan sosialis sama-sama berperan sebagai instrument penyadaran kritis, sedang secara mikro, sama-sama bertujuan melahirkan aktor sosial yang memberikan pengabdian terhadap masyarakat melalui tindakan sosial yang rasional.
UPAYA PENYELESAIAN MASALAH PENDIDIKAN DI ACEH
Zulkarnain Zulkarnain
SEUNEUBOK LADA: Jurnal ilmu-ilmu Sejarah, Sosial, Budaya dan Kependidikan Vol 2 No 2 (2015): SEUNEUBOK LADA
Publisher : Program Studi Pendidikan Sejarah - Universitas Samudra
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (622.376 KB)
Realitas pendidikan Aceh hingga kini masih belum membanggakan. Merombak paradigma untuk mengusung tekad pendidikan Aceh bermutu, masih sebatas tataran wacana. Komitmen mencetak output yang life skill dan “siap saing” belum berkorelasi di tataran aksi. Banyak hal telah membuat realitas pendidikan di Aceh berada pada rating terendah secara nasional. Mulai mutu belajar dan mutu guru/dosen, minimnya sarana, dana pendidikan yang diselewengkan, manajemen tanpa visi, hingga political will pemerintah yang belum memihak dan terukur. Bahkan, orientasi sektor pendidikan masih berkisar pada “proyek” bukan “profit”. Dalam konteks ini, penulis menawarkan pandangan dalam bentuk sebuah makalah tentang “Upaya Penyelesaian Pendidikan di Aceh (Tinjauan Terhadap Tantangan dan Solusi)”.
PERKEMBANGAN PENCAK SILAT DI ACEH TAMIANG PADA MASA ORDE BARU (1967-1998)
hanafiah hanafiah;
Siti Hajar
SEUNEUBOK LADA: Jurnal ilmu-ilmu Sejarah, Sosial, Budaya dan Kependidikan Vol 2 No 2 (2015): SEUNEUBOK LADA
Publisher : Program Studi Pendidikan Sejarah - Universitas Samudra
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (338.05 KB)
Studi ini membahas tentang perkembangan pencak silat di Aceh Tamiang pada masa orde baru (1967-1998). Pertanyaan pokok yang ingin dijawab adalah sejarah munculnya pencak silat di Tamiang dan penggunaan pencak silat dalam kepentingan politik Orde Baru pada tahun 1967-1998. Tujuan dari penelitian yang penulis lakukan dalam penulisan skripsi ini adalah untuk memberikan gambaran kesenian dari kebudayaan pencak silat di Aceh Tamiang. Sejarah munculnya pencak silat dan sejauhmana penggunaan pencak silat dalam kepentingan politik Orde Baru. Penelitian ini merupakan kajian sejarah sosial. Metode yang digunakan mencakup empat langkah yaitu: (1) Heuristik yaitu tahapan untuk mengumpulkan sumber-sumber sejarah yang dianggap relevan, (2) Kritik sumber yaitu tahapan menganalisis secara kritis sumber-sumber sejarah yang telah didapat pada tahap heuristik, (3) Interprestasi yaitu memberikan penafsiran terhadap fakta-fakta yang diperoleh dan (4) Historiografi yaitu tahap penulisan sejarah. Pada tahap ini, setelah sumbr didapat dikritik serta diinterprestasikan, kemudian disusun dalam bentuk tulisan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa, secara historis kemunculan pencak silat di Aceh Tamiang dilatar belakangi pengalaman yang didapat dari mempertahankan diri di waktu menghadapi serangan dari binatang buas dan suku-suku lain, kemudian oleh pemuda suku Tamiang untuk mendapatkan ilmu bela diri, mereka hubungkan dengan cara mendapatkan ilmu kebatinan. Pada masa Orde Baru tahun 1967-1998 pencak silat di Tamiang sangat berkembang, pencak silat dijadikan kekuatan politik pada masa Orde Baru. Di Aceh Tamiang orang yang mempunyai ilmu bela diri sangat diperhatikan karena dapat memberi pengaruh yang besar bagi masyarakat Tamiang dan setiap penampilan pencak silat harus diawasi oleh pemerintah stempat kemudian nama-nama dari anggota pencak silat diberikan kepada pemerintah.
KULI CINA DI PERKEBUNAN TEMBAKAU SUMATERA TIMUR ABAD 18
Guntur Arie Wibowo;
Bachtiar Akob
SEUNEUBOK LADA: Jurnal ilmu-ilmu Sejarah, Sosial, Budaya dan Kependidikan Vol 2 No 2 (2015): SEUNEUBOK LADA
Publisher : Program Studi Pendidikan Sejarah - Universitas Samudra
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (611.64 KB)
Ramainya selat Malaka sebagai jalur perhubungan Asia-Eropa pada abad 18, menyebabkan wilayah pesisir Sumatra dan Semenanjung Malaya menjadi incaran pengembangn bisnis masyarakat Eropa untuk membangun industri yang mengusahakan komoditas yang laku di dunia seperti tembakau, karet, tebu dan kopi. Dalam analisis Sartono Kartodirjo dalam buku Sejarah Perkebunan di Indonesia, Kajian Sosial Ekonomi hal 80, dengan pemberlakuan Undang-Undang Agraria Tahun 1870, suatu alat produksi pokok yaitu tanah diliberalisasikan, maka peluang terbuka untuk membuka lahan perkebunan seluas-luasnya akan sangat mungkin dilaksanakan. Salah satu perusahaan yang berkembang saat itu adalah Deli Maatschappij, perusahaan perkebunan ini membuat terobosan baru dengan menjadikan Sumatra Timur sebagai Sentra industri perkebunan tembakau yang maju. Hal tersebut tentu tidak terlepas dari peran tenaga kerja kuli tembakau Cina yang didatangkan dari Pinang dan Singapura. Banyaknya pekerja kuli Cina yang didatangkan pada masa itu, yang pada awalnya adalah tenaga kerja kuli yang cukup terampil dan rajin, ternyata lambat laun didatangkan oleh makelar yang tidak mempertimbangkan kualitas. Hal tersebut berimbas pada kerugian yang dialami oleh perusahaan perkebunan. Sehingga dalam perusahaan perkebunan tersebut terjadi banyak penganiayaan dan kekerasan dari para tuan tanah ataupun tandil terhadap para pekerja kuli CIna. Pada tahun 1915 tatkala Koeli Ordonantie dihapus, Poenali Sanctie tetap dipertahankan karena pemerintah Belanda tetap menganggap bahwa Sumatra adalah ladang devisanya. Banyak dari para pekerja kuli Cina yang seharusnya kembali ke daerah asal ternyata lebih memilih untuk tetap berada di Sumatra Timur sebagai pedagang, petani dan lain-lain.
Landasan Futuralistik Pendidikan Abad 21: Menghadapi Tarik Menarik antara Modernisme dan Postmodernisme
Teuku Junaidi
SEUNEUBOK LADA: Jurnal ilmu-ilmu Sejarah, Sosial, Budaya dan Kependidikan Vol 2 No 2 (2015): SEUNEUBOK LADA
Publisher : Program Studi Pendidikan Sejarah - Universitas Samudra
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (260.003 KB)
Modernisasi pada awalnya dianggap sesuatu yang wajar dan memiliki optimisme terhadap perbaikan sosial dan moral dengan bertumpu pada kebaikan ilmu pengetahuan dan teknologi (informasi), namun dalam perkembangnnya modernisasi mengakibatkan berbagai konsekuensi. Atas dasar konsekuensi-konsekuensi tersebut, modernisasi melahirkan gerakan yang menyebutnya dirinya sebagai postmodern. Modernism dan postmodern dalam perjalanan sejarah disebut sebagai pertumbuhan. Postmodern merupakan kelanjutan daari modernism. Namun para pemikir modernism kontemporer seperti Karl Popper, Houston Smith dan Habermas, tidak menganggap penting soal timbulnya gerakan postmodernisme. Mereka tetap yakin akan kekuatan gerakan modernisme bahwa : modernitas masih mampu membimbing kehidupan kontemporer sampai jangka waktu yang tidak bisa ditentukan. Sementara itu, postmodernisme merupakan antithesis dari modernisme. Pada abad 21 dalam kondisi pendataran dunia, kedua aliran ini terlibat tarik menarik kekuatan yang menyebabkan kebingungan individu dan masyarakat dunia. Dalam kondisi inilah, pendidikan diharapkan dapat membantu menyiapkan individu dunia untuk dapat bertahan dan turut mengambil bagian. Jalan yang dapat ditempuh bagi pendidikan adalah dengan merenungkan ulang atau menyiapkan landasan pendidikan yang bersifat futuralistik untuk menghadapi tarik menarik antara modernisme dan postmodernisme.
MENTALITAS DALAM PENDIDIKAN
Sofiyan Sofiyan
SEUNEUBOK LADA: Jurnal ilmu-ilmu Sejarah, Sosial, Budaya dan Kependidikan Vol 2 No 2 (2015): SEUNEUBOK LADA
Publisher : Program Studi Pendidikan Sejarah - Universitas Samudra
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (224.905 KB)
Pendidikan memiliki arti yang sangat luas dan kompleks. Istilah pendidikan banyak diartikan oleh para pakar dengan pengertian yang berbeda-beda. konsep pendidikan juga menggambarkan budaya suatu masyarakat pendukungnya. Orang barat mengatakan long life education atau hakikat belajar adalah seumur hidup. Orang timur mengatakan bahwa proses belajar berawal dari ayunan hingga liang lahat. Ibnu Khaldun, seorang ilmuwan muslim dibidang sosial kemasyarakatan mengatakan bahwa ilmu dan pengajaran merupakan aktifitas sosial. Beliau juga mengklasifikasikan ilmu dalam dua bagian yaitu ilmu alat sebagai sarana dan ilmu yang harus diperoleh. Ilmu merupakan perolehan yang tidak hanya didapatkan melalui hafalan tetapi dengan pemahaman. Seseorang tidak bisa memperolehnya sekaligus melainkan secara bertahap. Kedalam ilmu yang diterima oleh anak harus ditempuh secara berulang-ulang hingga tuntas.1 Pengertian pendidikan secara lebih spesifik berdasarkan pendapat para pakar adalah segala pengalaman belajar yang berlangsung dalam segala situasi hidup yang mempengaruhi pertumbuhan individu.2 Dalam Dictionary of Education dinyatakan bahwa pendidikan adalah proses dimana seseorang mengembangkan kemampuan sikap dan bentuk-bentuk tingkah laku lainnya didalam masyarakat dimana ia hidup, proses sosial dimana orang dihadapkan pada pengaruh lingkungan yang terpilih dan terkontrol sehingga ia dapat memperoleh atau mengalami perkembangan kemampuan individu yang optimum.3 Berdasarkan pandangan tersebut jelaslah bahwa pendidikan adalah sebuah proses yang tidak ada putus-putusnya dan terus melingkupi setiap aspek kehidupan manusia sepanjang abad.
SEJARAH TERBENTUKNYA PEMERINTAHAN TAMIANG 1874-1912
Desi Amelia
SEUNEUBOK LADA: Jurnal ilmu-ilmu Sejarah, Sosial, Budaya dan Kependidikan Vol 2 No 2 (2015): SEUNEUBOK LADA
Publisher : Program Studi Pendidikan Sejarah - Universitas Samudra
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (240.88 KB)
Politik adu domba yang di lakukan Belanda terhadap Tamiang telah berhasil memecah persatuan antara Negeri Karang dengan Negeri Kejuruan Muda. Pada thun 1908 atas desakan raja-raja Tamiang agar Tamiang keluar dari Residentic Sumatera Timur dan masuk kedalam Gouverment Aceh Onderhoorigheden dan disatukan dengan Afdelling Aceh Timur maka keluarlah surat Stosteblad (Stbl) tahun 1908 No. 112 yang kemudian Tamiang atas surat dari Aceh Timur tersebut. Maka kerajaan Tamiang yang di pimpin oleh seorang Neumon (controluer) yang semula berpusat di kerajaan Seruway.
Kyai Nur Iman dan Kampung Santri Mlangi; Menelisik Harmoni Integrasi Islam dengan Budaya Jawa-Keraton Mataram
Sukron Ma'mun
SEUNEUBOK LADA: Jurnal ilmu-ilmu Sejarah, Sosial, Budaya dan Kependidikan Vol 2 No 2 (2015): SEUNEUBOK LADA
Publisher : Program Studi Pendidikan Sejarah - Universitas Samudra
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (577.769 KB)
Penelitian ini ingin melihat proses dialektika agama dan kebudayaan yang terjadi pada komunitas santri Mlangi, bentuk-bentuk kebudayaan yang ada, serta strategi kebudayaan yang dimainkan dalam membentuk kebudayaan tersebut. Penelitian ini diarahkan untuk menganalisa budaya dan tradisi yang tetap dilestarikan oleh masyarakat Mlangi.Melakukan penelitian dalam konteks agama dan budaya khususnya yang mempertemukan tradisi lokal (local tradition) dengan tradisi baru (new tradition) dapat kita baca dalam sudut pandang teori budaya. Jika tidak demikian dapat dilakukan dengan melakukan kajian sejarah kebudayaan yang mampu mempertemukan titik temu agama dan budaya dari masing-masing dekade.Demikian halnya ketika kita membaca harmoni budaya Islam dan Jawa-Keraton, pembacaan berdasarkan pengetahuan sejarah menjadi mutlak adanya. Pengetahuan sejarah yang bertumpu pada kondisi kultur dan geososiopolitik akan mengantarkan pada satu titik temuan mengapa budaya atau tradisi demikian muncul, tumbuh, berkembang dan tetap langgeng hingga kurun tertentu. Faktor apa yang menyebabkan diterimanya sebuah tradisi baru oleh komunitas yang ada di dalamnya, bagiamana proses tawar menawar (dialektik) yang terjadi di dalamnya dan lain sebagainya
PERKEMBANGAN PASAR IKAN LANGSA TERHADAP KEHIDUPAN SOSIAL EKONOMI MASYARAKAT KOTA LANGSA TAHUN 2001-2014
Mirza Mirza
SEUNEUBOK LADA: Jurnal ilmu-ilmu Sejarah, Sosial, Budaya dan Kependidikan Vol 2 No 2 (2015): SEUNEUBOK LADA
Publisher : Program Studi Pendidikan Sejarah - Universitas Samudra
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (457.666 KB)
Setelah Kota Langsa lepas dari Kabupaten Aceh Timur tahun 2001, struktur perekonomian dibangun atas perdagangan, industri, dan pertanian. Begitu juga dengan Pasar ikan yang telah terjadi beberapa kali relokasi tempat semenjak berdiri 1976 hingga 2014. Hal itu di perkuatkan dengan tumbuhnya organisasi PPPAC di pasar ikan yang menumbuhkan rasa persatuan yang kuat dilingkungan pasar ikan Langsa.Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui sejarah berdirinya sejarah berdirinya Pasar Ikan Langsa dari masa kemasa dan juga bagaimana pengaruh sosial ekonimi terhadap masyarakat Kota Langsa.Metode penelitian yang di pakai dalam penelitian ini adalah historis dan metode deskriptif yang mencakup empat langkah atau tahapan, sebagai berikut: mencari dan menggumpulkan berbagai jenis sumbar baik primer maupun skunder. Melakukan kritik atas sumber-sumber yang dikumpulkan baik kritik ekstern maupun intern guna menguji otenttisitas dan kredibelitas.memunculkan berbagai fakta yang diperlukan dari sumber atau mengumpulkan fakta. Menshintesakan fakta-fakta dan menjadi suatu kisah sejarah yang lebih bermakna dan sempurna.Hasil penelitian menunjukan bahwa pasar ikan Kota Langsa menjadi ikon ekonomi kota Langsa, dimana perputaran uang sangat cepat bahkan menjadi jantung perekonomian Kota Langsa dan sekitarnya. Di Pasar Ikan bukan saja menjual Ikan saja akan tetapi menjual udang,cumi dan kepiting, bahkan tidak jauh dari pasar ikan terdapat Pasar Ayam Dan Pasar daging Lembu.Diharapkan kepada pemerintah Kota Langsa untuk memeperhatikan khususnya penjual kaki lima dan kedisiplinanan sehingga tumbuh rasa peduli dengan lingkungan hinnga tercapai kebersihan koata dan meninggkatkan perekonomian dan menjadi PAD Kota Langsa.
MAKNA SUMPAH PALAPA BAGI NUSANTARA
Imam Hadi Sutrisno
SEUNEUBOK LADA: Jurnal ilmu-ilmu Sejarah, Sosial, Budaya dan Kependidikan Vol 5 No 1 (2018): Seuneubok Lada
Publisher : Program Studi Pendidikan Sejarah - Universitas Samudra
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (497.313 KB)
Soekarno once delivered in his speech that the country of the archipelago is a former state power of Majapahit Kingdom. Based on historical facts written in the book ‘Tafsir Negara Kertagama’ there said the archipelago is a former territory of Majapahit. therefore cannot be denied that the Majapahit Kingdom is always identical with the unification of several regions of the archipelago ever initiated by Patih Mahapatih Gajah Mada through the ritual oath. The oath of Mahapatih Gajah Mada is known as the term the ‘Palapa Oath’. It is said that the unification of the archipelago was successfully implemented during the reign of Hayam Wuruk.In this study, researchers will discuss about what is meant by Nationalism and how the form of Nationalism for the nation in Majapahit era, and how the contribution of the meaning of nationalism at this time?The purpose of this research is to develop in patriotic awareness and the highest burden for the nation's children to the state.This study uses descriptive analytical, with historical approach, ie research based on historical facts, and analysis of experts.That nationalism in its outline is the ultimate sacrifice to the state. The meaning of nationalism is essentially a sense of awareness to unite in the container of pluralism. Anderson offers a form of nationalism is an image community.