cover
Contact Name
Sita Meiningtyas Perdani Putri
Contact Email
phcjournal21@gmail.com
Phone
+6287899595523
Journal Mail Official
mail@iphorr.com
Editorial Address
Jl. Raden Imba Kusuma Ratu Gang Durian No.40, Sukadana Ham, Kota Bandar Lampung 52473
Location
Kota bandar lampung,
Lampung
INDONESIA
Journal of Public Health Concerns
ISSN : 27770826     EISSN : 2776592X     DOI : 10.56922
Core Subject : Health,
Jurnal pengabdian kepada masyarakat dibidang kesehatan meliputi kegiatan promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif pada semua tingkat usia baik secara individu, kelompok maupun lembaga pendidikan sekolah. Kegiatannya yang diawali dengan survei lapangan dan temuan masalah kesehatan yang dialami oleh masyarakat dan ditindaklanjuti dengan kegiatan berupa penyuluhan kesehatan; pelatihan menuju perilaku hidup bersih dan sehat; peningkatan pengetahuan pengobatan alternatif; dan pengetahuan tentang kebutuhan gizi. Terbit bulan April, Juli, Oktober dan Desember.
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol. 4 No. 4 (2024): JOURNAL OF Public Health Concerns" : 6 Documents clear
Pendidikan kesehatan dengan pendekatan psikologis pada penderita tuberculosis yang introvert Jipri Suyanto; Fery Surahman Saputra; Yance Hidayat; Zumadir Ahad; Nur Aida Siti Karomah; Priti Sinta; Suriyani; Monica Dwi Hartanti
JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 4 No. 4 (2024): JOURNAL OF Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v4i4.434

Abstract

Background: Tuberculosis (TB) continues to be one of the most significant public health problems worldwide. According to World Health Organization estimates, around 10.6 million people were diagnosed with the disease in 2021. Managing tuberculosis is becoming more difficult due to the fact that drug-resistant strains are becoming more common. This makes most tuberculosis patients withdrawn and less social, making them introverted. Introverted patients face their own set of problems in managing tuberculosis (TB), especially related to the level of participation in health services and health literacy. A health education strategy based on personal health psychology techniques is needed as an effort to approach health understanding to introverted tuberculosis patients. Purpose: To provide emotional support and improve health literacy in introverted tuberculosis patients. Method: This approach is implemented through a house-to-house visit method. Providing education about health, treatment, and providing social insight on how to behave towards the community. Evaluation using a questionnaire (emotional contingency theory) as a record of behavioral responses and patient facial expressions. Evaluation of facial expressions is grouped into 2 categories, namely positive = if the response is depicted with a bright and smiling face and responding to conversations well and negative = if the patient responds with less responsive, uncommunicative, and closed behavior. Results: More than eighty percent of patients showed symptoms of positive emotions that increased after the educational intervention. Most patients gained increased knowledge and understanding of tuberculosis. Positive patient expressions after the intervention showed that increased knowledge made tuberculosis patients better at interacting with the community. Conclusion: Community service activities with a psychological health approach by making direct home visits are very effective as an application of health education to introverted tuberculosis patients. With this concept, we have high hopes that patients will be able to gain a more comprehensive understanding of tuberculosis and increase compliance with their healing therapy. Awareness of psychological needs is part of mental health support for tuberculosis sufferers. Keywords: Emotional; Health education; Introvert; Personal health psychology; Tuberculosis Pendahuluan: Tuberculosis (TB) terus menjadi salah satu masalah paling signifikan bagi kesehatan masyarakat di seluruh dunia. Menurut perkiraan Organisasi Kesehatan Dunia, sekitar 10,6 juta orang didiagnosis menderita penyakit tersebut pada tahun 2021. Mengelola tuberculosis menjadi lebih sulit karena fakta bahwa strain yang resisten terhadap obat menjadi lebih umum. Hal ini menjadi sebagian besar penderita tuberculosis menjadi tertutup dan kurang berinteraksi dengan sosial, sehingga menjadikan penderita tuberculosis berperilaku introvert.   Pasien introvert menghadapi serangkaian masalah tersendiri dalam hal penanganan tuberculosis (TB), khususnya terkait tingkat partisipasi dalam layanan kesehatan dan literasi kesehatan. Diperlukan sebuah strategi pendidikan kesehatan yang didasarkan pada teknik psikologi kesehatan pribadi sebagai upaya pendekatan pemahaman tentang kesehatan kepada penderita tuberculosis yang introvert. Tujuan: Untuk memberikan dukungan emosional dan meningkatkan pemahaman kesehatan pada penderita tuberculosis yang introvert. Metode: Pendekatan ini diterapkan melalui metode kunjungan dari rumah ke rumah. Memberikan edukasi tentang kesehatan, pengobatan, dan memberikan wawasan sosial bagaimana bersikap kepada masyarakat. Evaluasi menggunakan kuesioner (teori kontingensi emosional) sebagai pencatatan tanggapan perilaku dan ekspresi wajah pasien. Evaluasi ekspresi wajah dikelompokkan dalam 2 kategori yaitu positif=apabila tanggapan digambarkan dengan wajah yang cerah dan tersenyum serta menanggapi percakapan dengan baik dan negatif=apabila pasien menanggapi dengan perilaku yang kurang responsif, tidak komunikatif, dan tertutup. Hasil: Lebih dari delapan puluh persen pasien menunjukkan gejala emosi positif yang meningkat setelah dilakukan intervensi edukasi. Sebagian besar pasien mendapatkan peningkatan pengetahuan dan pemahaman tentang tuberculosis. Ekspresi positif pasien setelah intervensi menunjukkan bahwa peningkatan pengetahuan menjadikan pasien tuberculosis dalam berinteraksi dengan masyarakat menjadi lebih baik. Simpulan: Kegiatan pengabdian masyarakat dengan pendekatan kesehatan psikologis dengan melakukan kunjungan ke rumah langsung sangat efektif sebagai penerapan edukasi kesehatan kepada pasien tuberculosis yang introvert. Dengan konsep ini, kami memiliki harapan besar bahwa pasien akan mampu memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif tentang tuberculosis dan meningkatkan kepatuhan terhadap terapi penyembuhannya. Kesadaran akan kebutuhan psikologis adalah bagian dari dukungan mental kesehatan bagi penderita tuberculosis.  
Program positive parenting sebagai upaya pencegahan risiko stunting Tambun, Yetty Mariani; Manurung, Suryani; Lestari, Tri Riana; Aprianti , Tutty; Pudentiana, Pudentiana
JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 4 No. 4 (2024): JOURNAL OF Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v4i4.441

Abstract

Background: Stunting is a condition of failure to thrive as a result of chronic malnutrition, which causes children to grow too short and thin for their age. Currently, stunting is seen as a serious health problem in society, in the world and in Indonesia. The South Jakarta City Government found 640 toddlers suspected of stunting or slow growth and development. Meanwhile, of that number, the Mayor of South Jakarta said that 203 toddlers had been determined to have stunting status. Efforts to handle stunting prevention for those suspected of stunting were 640 and those who had been determined to have stunting were 203 spread across 15 locations in South Jakarta sub-districts, namely determining parenting patterns and foster parents. Purpose: To provide increased ability and skills of health cadres in implementing program positive parentings and improving the abilities of mothers or mothers who have toddlers. Method: Activities are carried out using counseling, demonstration, discussion and participatory action review monitoring evaluation methods Results: Obtaining an agreement on the implementation of a program positive parenting with the local government and the implementation of the socialization of the program positive parenting (P3) to health cadres, the implementation of the program positive parenting (P3) to pregnant women and mothers with toddlers, and the implementation of the nutrition monitoring calendar in the Ragunan Village Health Center, South Jakarta. Conclusion: Community service for the program positive parenting provides an increase in the ability and skills of health cadres in implementing the program positive parenting and improving the ability of mothers with toddlers in applying the nutrition monitoring calendar to detect the risk of stunting. Suggestions: In the future, for cadres who already have the ability, it is hoped that they can periodically monitor the implementation of positive parenting in pregnant women and mothers with toddlers so that they can minimize the risk of stunting. Keywords: Program positive parenting; Pregnant women; Stunting; Toddlers Pendahuluan: Stunting merupakan kondisi gagal tumbuh sebagai dampak kekurangan gizi kronis, yang menyebabkan anak menjadi tumbuh terlalu pendek dan kurus pada usianya. Saat ini, stunting dipandang sebagai masalah kesehatan yang serius di masyarakat, di dunia maupun di Indonesia. Pemerintah Kota Jakarta Selatan menemukan 640 balita terduga stunting atau lambat tumbuh kembang. Sementara itu, dari jumlah tersebut, Wali Kota Jakarta Selatan menyebutkan sebanyak 203 balita yang sudah ditetapkan berstatus stunting. Upaya penanganan pencegahan stunting terhadap yang terduga stunting yakni sebanyak 640 dan yang sudah ditetapkan mengalami stunting sebanyak 203 yang tersebar di 15 lokasi kelurahan Jakarta Selatan yakni menetapkan pola asuh dan orangtua asuh.  Tujuan: Untuk memberikan peningkatan kemampuan dan keterampilan kader kesehatan dalam mengimplementasikan program positive parenting dan meningkatkan kemampuan ibu atau ibu yang memiliki balita. Metode: Kegiatan dilaksanakan dengan menggunakan metode penyuluhan, demonstrasi, diskusi dan evaluasi monitoring kaji tindak partisipastif. Hasil: Mendapatkan kesepakatan pelaksanaan program pengasuhan positive parenting dengan pemerintah daerah dan terlaksananya sosialisasi program positive parenting (P3) pada kader kesehatan, implementasi program positive parenting (P3) kepada ibu hamil dan ibu yang memiliki balita, dan penerapan kalender monitoring gizi di kelurahan Puskesmas Kelurahan Ragunan Jakarta Selatan. Simpulan: Pengabdian masyarakat program positive parenting memberikan peningkatan kemampuan dan keterampilan kader kesehatan dalam mengimplementasikan program positive parenting dan meningkatkan kemampuan ibu yang memiliki balita dalam mengaplikasikan kalender monitoring gizi untuk mendeteksi risiko stunting. Saran: Untuk kedepannya, bagi kader yang sudah memiliki kemampuan, diharapkan dapat secara berkala memantau penerapan positive parenting pada ibu hamil dan ibu yang memiliki balita sehingga dapat meminimalkan risiko terjadinya stunting.
Human capital peningkatan pengetahuan kesehatan sistem reproduksi sebagai upaya penguatan mental pada remaja di SMK Wiyata Karya Natar - Lampung Ningsih, Tri Riwayati; Noor, Marzuki
JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 4 No. 4 (2024): JOURNAL OF Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v4i4.444

Abstract

Background: Adolescence is a transitional period between childhood and adulthood that experiences development to achieve physical, mental, social, and emotional maturity. Adolescents are very vulnerable to various reproductive health problems such as infections and sexually transmitted diseases. Reproductive health is complete physical, mental and social well-being, not just free from disease or disability, in all aspects related to the reproductive system, its functions and processes. Mental health is a very important aspect for adolescents. Purpose: To provide knowledge about reproductive health to adolescents as an effort to strengthen mental and self-confidence. Method: This health education promotion activity was carried out on November 9, 2024 at SMK Wiyata Karya Natar Lampung. This community service activity was carried out together with students, lecturers and the school. Participation in this activity was attended by 95 students of SMK Wiyata Karya Natar Lampung aged 16-18 years. Providing material using the lecture method with the aid of a laptop, LCD and projector regarding mental health insights and the negative impacts on adolescents who have health problems, especially the negative impacts that can arise due to a lack of knowledge about the reproductive system. Results: Subjective data from 95 respondents showed that 94.7% of female students did not know the signs of healthy reproductive health, 15.8% of adolescents who had pain during menstruation, 29.5% of adolescents who took medication during menstruation, 74.7% of adolescents who did not know about diseases that are included in reproductive health disorders, and 31.6% of adolescents who did not know about the impact of mental health on adolescents. Most participants were aware and expected to be able to prevent reproductive disorders that might occur in individuals or families. Conclusion: Community service activities by providing education about reproductive health knowledge for adolescents can increase knowledge and provide mental strength in preventing negative psychological, social and spiritual impacts caused by health disorders. Increasing knowledge about reproductive health can also reduce reproductive system diseases that are caused and their transmission. Suggestion: The school forms and establishes cooperative partnerships with health facilities with schools to conduct collaborative screening of reproductive health disorders in their students periodically and continuously. Keywords: Adolescents; Education; Health education; Reproductive system Pendahuluan: Remaja merupakan masa peralihan antara masa anak-anak menuju masa dewasa yang mengalami perkembangan mencapai kematangan fisik, mental, sosial, dan emosional. Remaja sangat rentan dengan berbagai masalah kesehatan sistem reproduksi seperti infeksi dan penyakit menular seksual. Kesehatan sistem reproduksi adalah kesejahteraan fisik, mental dan sosial yang utuh bukan hanya bebas dari penyakit atau kecatatan, dalam segala aspek yang berhubungan dengan sistem  reproduksi, fungsi serta prosesnya. Kesehatan mental merupakan aspek yang sangat penting bagi remaja. Tujuan: Untuk memberikan pengetahuan tentang kesehatan sistem  reproduksi pada remaja sebagai upaya penguatan mental dan kepercayaan diri. Metode: Kegiatan edukasi promosi pendidikan kesehatan ini di laksanakan pada tanggal 09 November 2024 di SMK Wiyata Karya Natar Lampung. Kegiatan pengabdian masyarakat ini dilaksanakan bersama mahasiswa , dosen dan pihak sekolah.  Kepesertaan dalam kegiatan ini di ikuti oleh 95 siswa/siswi SMK Wiyata Karya Natar Lampung yang berusia 16 -18 tahun siswa/siswi. Memberikan materi dengan metode ceramah dengan alat bantu Laptop, LCD dan proyektor mengenai wawasan kesehatan mental dan dampak buruk bagi para remaja yang memiliki gangguan kesehatan terutama dampak buruk yang dapat timbul akibat dari kurangnya pengetahuan tentang sistem  reproduksi. Hasil: Data subyektif peserta dari sejumlah 95 responden bahwa siswi yang tidak mengetahui tanda gejala kesehatan sistem reproduksi yang sehat  adalah sebanyak 94.7%, remaja yang nyeri saat haid sebanyak 15.8%, remaja yang mengkonsumsi obat saat haid sebanyak 29.5%, remaja yang tidak mengetahui tentang penyakit yang termasuk gangguan kesehatan sistem reproduksi sebanyak 74.7%, dan remaja yang tidak tahu dampak kesehatan mental pada remaja sebanyak 31.6%. Sebagian besar peserta menyadari dan diharapkan dapat melakukan pencegahan terhadap gangguan sistem  reproduksi yang mungkin akan terjadi pada individu ataupun keluarga. Simpulan: Kegiatan pengabdian masyarakat dengan memberikan edukasi tentang pengetahuan kesehatan sistem  reproduksi pada remaja dapat meningkatkan pengetahuan dan memberi kekuatan mental dalam mencegah terjadinya dampak buruk secara psikologis, sosial dan spiritual yang ditimbulkan akibat gangguan kesehatan. Meningkatnya pengetahuan tentang kesehatan sistem  reproduksi juga dapat menekan penyakit pada sistem  reproduksi yang ditimbulkan dan penularannya. Saran: Pihak sekolah membentuk  dan menjalin mitra kerjasama bersama fasilitas kesehatan dengan sekolah untuk melakukan kolaborasi scrining pemeriksaan kesehatan gangguan sistem reproduksi pada siswa/siswinya secara berkala dan berkelanjutan.
Optimalisasi adaptasi neonatus dengan penerapan atraumatic care approach: swaddle dan sponge bath di Pangururan Tambunan, Dior Manta; Silaen, Harsudianto; Simanullang, Rostime Hermayerni; Buaton, Kristina; Lumbantobing, Dikki Samuel
JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 4 No. 4 (2024): JOURNAL OF Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v4i4.450

Abstract

Background: Neonates experience a transition from the intrauterine to the extrauterine environment which can cause stress and have long-term consequences on the development of the baby's brain. One of the neglected and traumatic neonatal care is during the process of bathing the baby. Purpose: To improve the knowledge of posyandu cadres and the community about the application of the Atraumatic Care Approach: Swaddle and Sponge Bath in an effort to optimize adaptation in neonates. Method: Implementation of community service with pre-test and post-test, provision of cadres, health education and demonstration of the swaddle bath method at the Sait Nihuta Village Hall, Pangururan District. This activity was attended by 6 posyandu cadres, 25 community members consisting of mothers with children aged 0-5 months, pregnant women, and mothers who were planning to have their first/next child. By providing education in the form of material presentation, demonstration and simulation of the Atraumatic Care Approach: Swaddle and Sponge Bath care approach actions for participants. Results: Of the 6 posyandu cadres, there was an increase in knowledge about the Atraumatic Care Approach: Swaddle and Sponge Bath care approach of posyandu cadres from before (pre-test) PKM activities in the less category of 3 people (50.0%) to the majority in the good category of 4 people (66.7%) after (post-test) PKM activities. And for participants from the community, a total of 25 people also experienced an increase in knowledge about the Atraumatic Care Approach: Swaddle and Sponge Bath care approach from before (pre-test) PKM activities in the less category of 14 people (56.0%) to the good category of 15 people (60.0%) after (post-test) PKM activities. Conclusion: Educational activities through PKM can significantly increase knowledge of the Atraumatic Care Approach: Swaddle and Sponge Bath care approach in posyandu cadres and the community. The atraumatic care approach can minimize traumatic experiences during bathing in neonates. Suggestion: It is hoped that this program can continue through cadres who have received education through materials and demonstrations delivered to the community. Keywords: Atraumatic Care Approach; Neonates; Posyandu Cadres; Sponge Bath; Swaddle Bath Pendahuluan: Neonatus mengalami perpindahan dari lingkungan intrauterin ke ekstrauterin yang dapat menyebabkan stres dan mengakibatkan konsekuensi jangka panjang pada perkembangan otak bayi. Salah satu perawatan neonatus yang terabaikan dan traumatik adalah pada waktu proses memandikan bayi. Tujuan: Untuk meningkatkan pengetahuan kader posyandu dan masyarakat tentang penerapan pendekatan perawatan Atraumatic Care Approach: Swaddle  dan Sponge Bath dalam upaya mengoptimalkan adaptasi pada neonatus. Metode: Pelaksanaan pengabdian kepada masyarakat dengan pre-test dan post-test, pembekalan kader, edukasi kesehatan dan demonstrasi metode swaddle bath di balai Desa Sait Nihuta Kecamatan Pangururan. Kegiatan ini diikuti 6 orang kader posyandu, 25 orang masyarakat yang terdiri dari ibu yang mempunyai anak 0-5 bulan, ibu hamil, dan ibu yang merencanakan untuk mempunyai anak pertama/selanjutnya. Dengan memberikan edukasi berupa pemaparan materi, demonstrasi dan simulasi tindakan pendekatan perawatan penerapan Atraumatic Care Approach: Swaddle dan Sponge Bath pada peserta. Hasil: Dari sejumlah 6 orang kader posyandu terdapat peningkatan pengetahuan tentang pendekatan perawatan Atraumatic Care Approach: Swaddle  dan Sponge Bath kader posyandu dari sebelum (pre-test) kegiatan PKM dalam kategori kurang sebanyak 3 orang (50.0%) menjadi sebagian besar dalam kategori baik sebanyak 4 orang (66.7%) setelah (post-test) kegiatan PKM. Dan untuk peserta dari masyarakat sejumlah 25 orang juga mendapatkan peningkatan pengetahuan tentang pendekatan perawatan Atraumatic Care Approach: Swaddle dan Sponge Bath dari sebelum (pre-test) kegiatan PKM dalam kategori kurang sebanyak 14 orang (56.0%) menjadi dalam kategori baik sebanyak 15 orang (60.0%) setelah (post-test) kegiatan PKM. Simpulan: Kegiatan edukasi melalui PKM dapat meningkatkan pengetahuan pendekatan perawatan Atraumatic Care Approach: Swaddle  dan Sponge Bath yang signifikan pada kader posyandu dan masyarakat. Pendekatan perawatan atraumatik (Atraumatic Care Approach) dapat meminimalkan pengalaman traumatik selama dimandikan pada neonatus. Saran: Diharapkan program ini dapat berlanjut melalui kader yang telah menerima edukasi melalui materi dan demonstrasi yang disampaikan kepada masyarakat.
Peningkatan pengetahuan pengelolaan sampah organik rumah tangga dengan menggunakan maggot BSF sabagai pakan ternak Gustina, Mely; Mulyati, Sri; Adeko, Riang; Ali, Haidina
JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 4 No. 4 (2024): JOURNAL OF Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v4i4.461

Abstract

Background: Waste is the remains of human daily activities and/or from natural processes in solid form. However, according to the Health Organization (WHO), waste is something that is not used, not used, not liked or something that is thrown away that comes from human activities and does not happen by itself . Piles of organic waste that are not managed properly can cause various environmental and health problems. As an innovative solution, this study examines the potential for cultivating maggots (Black Soldier Fly larvae) as an alternative to managing organic waste. Purpose: To provide knowledge and skills in maggot cultivation in the utilization of household organic waste as animal feed. Method: A total of 15 people participated in this activity. Through the presentation of materials, training and demonstrations in providing an understanding of the maggot cultivation process, from making cages to harvesting. Applying an active interaction method of asking questions about the material presented during the training activities. Results: Based on direct practice simulations in making BSF maggots as animal feed, packaging BSF maggots as animal feed that is ready to sell for marketing. The participants actively asked questions and discussed each sequence of its manufacture. The education and training provided by the resource person together with the service team could be accepted and applied by the participants, where participants stated that they would make and implement the utilization of household organic waste by using SBF maggots as animal feed both at home and in their residential environment in managing waste piles. The level of knowledge of participants regarding the utilization of household organic waste by using BSF maggots as animal feed increased from 15 people with poor knowledge to 12 people with good knowledge and 3 people with sufficient knowledge. Conclusion: Community service activities with education, training, and simulations on the utilization of household organic waste using BSF maggots as animal feed can increase community knowledge and skills in managing organic waste into independent business opportunities. Keywords: Black Soldier Fly; Creative entrepreneurship; Maggot cultivation; Organic waste management Pendahuluan: Sampah adalah sisa kegiatan sehari-hari manusia dan/atau dari proses alam yang berbentuk padat. Namun menurut Health Organization (WHO) sampah adalah sesuatu yang tidak digunakan, tidak dipakai, tidak disenangi atau sesuatu yang dibuang yang berasal dari kegiatan manusia dan tidak terjadi dengan sendirinya. Tumpukan sampah organik yang tidak terkelola dengan baik dapat menimbulkan berbagai masalah lingkungan dan kesehatan. Sebagai solusi inovatif, penelitian ini mengkaji potensi budidaya maggot (larva lalat Black Soldier Fly) sebagai alternatif pengelolaan sampah organik. Tujuan: Untuk memberikan pengetahuan dan keterampilan budidaya maggot dalam pemanfaatan sampah organik rumah tangga sebagai pakan ternak.   Metode: Sebanyak 15 orang menjadi peserta dalam kegiatan ini. Melalui pemaparan materi, pelatihan dan demonstrasi dalam memberikan pemahaman mengenai proses budidaya maggot, mulai dari pembuatan kandang hingga pemanenan. Menerapkan mentode interaksi aktif bertanya mengenai materi yang disampaikan ketika kegiatan pelatihan berlangsung. Hasil: Berdasarkan simulasi praktik langsung dalam membuat maggot BSF sebagai pakan ternak, pengemasan maggot BSF sebagai pakan ternak yang siap jual untuk dipasarkan. Para peserta turut aktif bertanya dan berdiskusi di setiap runtutan pembuatannya. Edukasi dan pelatihan yang diberikan oleh narasumber bersama tim pengabdi bisa diterima dan bisa diaplikasikan oleh para peserta, dimana peserta menyatakan akan membuat dan menerapkan pemanfaatan sampah organik rumah tangga dengan menggunakan maggot SBF sebagai pakan ternak baik di rumah maupun di lingkungan tempat tinggalnya dalam mengelola timbunan sampah. Tingkat pengetahuan peserta mengenai pemanfaatan sampah organik rumah tangga dengan menggunakan maggot BSF sebagai pakan ternak meningkat dari sebanyak 15 orang dengan tingkat pengetahuan kurang menjadi sebanyak 12 orang dengan tingkat pengetahuan baik dan sebanyak 3 orang dengan tingkat pengetahuan cukup. Simpulan: Kegiatan pengabdian masyarakat dengan edukasi, pelatihan, dan simulasi tentang pemanfaatan sampah organik rumah tangga dengan menggunakan maggot BSF sebagai pakan ternak dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilan masyarakat dalam mengelola limbah sampah organik menjadi peluang usaha mandiri.
Pengaruh moderate intensity continuous exercise (MICE) dalam perbaikan kognitif lansia Raminda, Santri; Ni'mah, Anisah Khanin; Aliyun, Fatimah Wahab; Kurniawan, Ryanda Masri; Ramadhani, Andina Risky; Nugroho, Rafi Agusti; Zahirah, Fidela Kaila Reva
JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 4 No. 4 (2024): JOURNAL OF Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v4i4.470

Abstract

Background: Cognitive in the elderly is the ability to think, remember, learn, and verbal ability. Cognitive function is a mental process that includes attention, perception, and knowledge. Cognitive impairment in the elderly is a health problem that occurs more frequently with age. Cognitive impairment can affect various aspects of mental function and thinking ability in the elderly. Cognitive impairment in the elderly cannot be cured, but it can be prevented and overcome. Purpose: To see the effect of moderate continuous intensity exercise (MICE) on cognition in the elderly with anaerobic fitness levels. Method: Quasi-experimental study with pre-test and post-test two group design. The sample of this study was 20 elderly patients at the Bandar Lampung Health Center who became participants. Participants were divided into two groups, namely 10 participants in the intervention group and 10 participants in the control group. The intervention group was given MICE such as anaerobic gymnastics exercises while the control group was given a book to read for 30 minutes with the same time. Cognitive function is measured using the Montreal Cognitive Assessment Indonesia (MoCa – Ina) which consists of 30 points that will be tested by assessing several cognitive matrices: executive function, visuospatial, language, delayed recall, attention, abstraction and orientation for 10 minutes with a total score of 26 or more considered normal. Results: Based on the Shapiro Wilk test analysis in the normality test for the intervention group, the mean pre-test to post-test value was 23.70-26.70 with pValue = 0.15 and for the control group, the mean pre-test to post-test value was 25.30-27.20 with pValue = 0.44. Meanwhile, based on the paired sample test analysis in the cognitive influence test for the intervention group, the mean value was 3,000 with a standard deviation of 0.943 and pValue = 0.000, while for the control group, the mean value was 1,900 with a standard deviation of 1,370 and pValue = 0.002. Conclusion: Anaerobic fitness therapy can affect moderate continuous intensity exercise (MICE) on the cognitive abilities of the elderly. Elderly people with stable and good fitness intensity will benefit from reducing cognitive impairment. Suggestion: Elderly people should consider their fitness level individually as a therapeutic measure such as following the right exercise routine in an effort to improve cognitive abilities. Keywords: Anaerobic; Cognitive improvement; Elderly; Moderate continuous intensity exercise (MICE) Pendahuluan: Kognitif pada lansia adalah kemampuan berpikir, kemampuan mengingat, kemampuan belajar, dan kemampuan verbal. Fungsi kognitif merupakan proses mental yang meliputi perhatian, persepsi, dan pengetahuan. Gangguan kognitif pada lansia merupakan masalah kesehatan yang semakin sering terjadi dengan bertambahnya usia. Gangguan kognitif  dapat memengaruhi berbagai aspek fungsi mental dan kemampuan berpikir lansia. Gangguan kognitif pada lansia tidak dapat disembuhkan, tetapi dapat dicegah dan diatasi. Tujuan: Untuk melihat efek moderate continuous intensity exercise (MICE) terhadap kognitif pada lansia dengan tingkat kebugaran anerobik. Metode: Penelitian quasi experimental dengan pre-test and post-test two group design. Sampel penelitian ini adalah 20 pasien lansia di Puskesmas Bandar Lampung yang menjadi partisipan. Partisipan dibagi menjadi dua kelompok yaitu 10 partisipan kelompok intervensi dan 10 partisipan kelompok kontrol. Kelompok intervensi diberikan MICE seperti latihan senam anaerobik sedangkan untuk kelompok control diberikan buku untuk dibaca selama 30 menit dengan waktu yang sama. Fungsi kognitif diukur menggunakan Montreal Cognitive Assessment Indonesia (MoCa – Ina) yang terdiri dari 30 point yang akan diujikan dengan menilai beberapa matrix kognitif: fungsi eksekutif, visuospasial, bahasa, delayed recall, atensi, abstraksi dan orientasi selama 10 menit dengan total skor 26 atau lebih dianggap normal. Hasil: Berdasarkan analisa shapiro wilk test dalam uji normalitas untuk kelompok intervensi mendapatkan nilai mean pre-test ke post-test sebesar 23.70-26.70 dengan pValue=0.15 dan untuk kelompok kontrol mendapatkan nilai mean pre-test ke post-test sebesar 25.30-27.20 dengan pValue=0.44. Sedangkan berdasarkan analisa uji paired sample test dalam uji pengaruh pada kognitif untuk kelompok  intervensi mendapatkan nilai mean 3.000 dengan standar deviasi 0.943 dan pValue=0.000, sedangkan untuk kelompok  kontrol mendapatkan nilai mean 1.900 dengan standar deviasi 1.370 dan pValue=0.002. Simpulan: Terapi kebugaran anaerobik dapat mempengaruhi moderate continuous intensity exercise (MICE) pada kognitif lansia. Lansia dengan intensitas kebugaran yang stabil dan baik akan memperoleh manfaat mengurangi gangguan kognitif. Saran: Lansia harus mempertimbangkan tingkat kebugaran secara individual sebagai tindakan terapi seperti  mengikuti kegiatan rutinitas olahraga yang tepat dalam upaya memperbaiki kognitif.

Page 1 of 1 | Total Record : 6


Filter by Year

2024 2024


Filter By Issues
All Issue Vol. 5 No. 12 (2026): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 11 (2026): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 10 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 9 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 8 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 7 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 6 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 5 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 4 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 2 (2025): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 5 No. 1 (2025): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 4 No. 6 (2025): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 4 No. 5 (2025): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 4 No. 4 (2024): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 4 No. 3 (2024): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 4 No. 2 (2024): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 4 No. 1 (2024): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 3 No. 4 (2024): PHC Vol. 3 No. 4 (2023): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 3 No. 3 (2023): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 3 No. 3 (2023): PHC Vol. 3 No. 2 (2023): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 3 No. 1 (2023): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 2 No. 3 (2022): Penatalaksanaan Diabetes Melitus Tipe 2 Vol. 2 No. 4 (2022): Promosi Dan Perilaku Hidup Bersih Sehat (PHBS) Vol. 2 No. 2 (2022): Penatalaksanaan Hipertensi Pada Lansia Vol. 2 No. 1 (2022): Promosi Kesehatan Pada Remaja Vol. 1 No. 4 (2021): Perawatan Lansia Secara Umum Dan Pertolongan Pertama Pada Keadaan Darurat Vol. 1 No. 3 (2021): Terapi Komplementer Dalam Keperawatan Vol. 1 No. 2 (2021): Penanganan dan Perawatan Penyakit Asma Vol. 1 No. 1 (2021): Promosi Kesehatan dalam penanganan penyakit Rematik, Gastritis, Hipertensi dan More Issue