cover
Contact Name
Sita Meiningtyas Perdani Putri
Contact Email
phcjournal21@gmail.com
Phone
+6287899595523
Journal Mail Official
mail@iphorr.com
Editorial Address
Jl. Raden Imba Kusuma Ratu Gang Durian No.40, Sukadana Ham, Kota Bandar Lampung 52473
Location
Kota bandar lampung,
Lampung
INDONESIA
Journal of Public Health Concerns
ISSN : 27770826     EISSN : 2776592X     DOI : 10.56922
Core Subject : Health,
Jurnal pengabdian kepada masyarakat dibidang kesehatan meliputi kegiatan promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif pada semua tingkat usia baik secara individu, kelompok maupun lembaga pendidikan sekolah. Kegiatannya yang diawali dengan survei lapangan dan temuan masalah kesehatan yang dialami oleh masyarakat dan ditindaklanjuti dengan kegiatan berupa penyuluhan kesehatan; pelatihan menuju perilaku hidup bersih dan sehat; peningkatan pengetahuan pengobatan alternatif; dan pengetahuan tentang kebutuhan gizi. Terbit bulan April, Juli, Oktober dan Desember.
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol. 4 No. 5 (2025): JOURNAL OF Public Health Concerns" : 5 Documents clear
Hubungan pengetahuan lansia tentang diabetes mellitus dan ketidakstabilan kadar glukosa darah di Puskesmas Cibiru Kota Bandung Derajat, Agus Mi'raj; Pratidina, Eki; Indarna , Asep Aep
JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 4 No. 5 (2025): JOURNAL OF Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v4i5.472

Abstract

Background: Diabetes Mellitus (DM) is one of the non-communicable diseases that sufferers experience an increase every year. Data from the World Health Organization in 2018 reported that 422 million people in the world suffer from diabetes mellitus and reached 71% as the leading cause of death in the world. The increase in the global prevalence of Diabetes mellitus of around 8.3% occurred in the age group 20-79 years and it is estimated that there were 2.2 million deaths due to diabetes mellitus before the age of 70 years, especially in countries with low and middle economic status. Diabetes mellitus is one of the chronic diseases that is often found in the elderly, and its management is highly dependent on individual knowledge about the disease. Elderly knowledge about diabetes mellitus, especially regarding the management of blood glucose levels, can have a significant effect on the stability of their glucose levels. Purpose: To analyze the relationship between elderly knowledge about diabetes mellitus and instability of blood glucose levels. Method: Quantitative approach with correlational design. Questionnaires distributed to 40 elderly people with diabetes mellitus in several health centers measured their knowledge about the disease and the symptoms of unstable blood glucose levels that they experienced. The collected data were analyzed using the Pearson correlation test to identify the relationship between the level of knowledge and the level of unstable blood glucose levels. Results: Showed that there was a significant relationship between the knowledge of the elderly about diabetes mellitus and unstable blood glucose levels (p <0.05). Elderly people with better knowledge about diabetes management tend to have more stable blood glucose levels. Conclusion: With the varying levels of knowledge of the elderly about diabetes mellitus, education to improve the knowledge of the elderly about diabetes mellitus has a significant influence on the elderly in managing unstable blood sugar. Optimizing the management of the elderly against diabetes mellitus is greatly influenced by the level of understanding about diabetes mellitus. Keywords: Blood glucose levels, Diabetes mellitus; Elderly knowledge; Health education; Instability of Glucose Levels Pendahuluan: Diabetes Mellitus (DM) merupakan salah satu penyakit tidak menular yang setiap tahun penderitanya mengalami peningkatan. Data World Health Organization tahun 2018 menginformasikan bahwa tercatat 422 juta orang di dunia menderita diabetes mellitus dan mencapai 71% menjadi penyebab utama kematian di dunia. Peningkatan prevalensi global Diabetes mellitus sekitar 8.3% terjadi pada kelompok usia 20 – 79 tahun dan diperkirakan terdapat 2,2 juta kematian akibat penyakitd diabetes mellitus terjadi sebelum usia 70 tahun, khususnya di negara - negara dengan status ekonomi rendah dan menengah. Diabetes mellitus adalah salah satu penyakit kronis yang banyak ditemukan pada lansia, dan pengelolaannya sangat bergantung pada pengetahuan individu tentang penyakit tersebut. Pengetahuan lansia mengenai diabetes mellitus, terutama mengenai pengelolaan kadar glukosa darah, dapat berpengaruh signifikan terhadap stabilitas kadar glukosa mereka. Tujuan: Untuk menganalisa hubungan antara pengetahuan lansia tentang diabetes mellitus dengan ketidakstabilan kadar glukosa darah. Metode: Pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional. Kuesioner yang dibagikan kepada 40 lansia penderita diabetes mellitus di beberapa pusat kesehatan mengukur pengetahuan mereka tentang penyakit ini dan gejala-gejala ketidakstabilan kadar glukosa darah yang mereka alami. Data yang terkumpul dianalisis menggunakan uji korelasi pearson untuk mengidentifikasi hubungan antara tingkat pengetahuan dan tingkat ketidakstabilan kadar glukosa darah. Hasil: Menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara pengetahuan lansia tentang diabetes mellitus dengan ketidakstabilan kadar glukosa darah (p<0.05). Lansia dengan pengetahuan lebih baik mengenai pengelolaan diabetes cenderung memiliki kadar glukosa darah yang lebih stabil. Simpulan: Dengan tingkat pengetahuan lansia terhadap diabetes mellitus yang beragam, edukasi untuk meningkatkan pengetahuan lansia tentang diabetes mellitus memiliki pengaruh yang cukup signifikan terhadap lansia dalam mengelola ketidakstabilan gula darah.  Optimalisasi pengelolaan lansia terhadap diabetes mellitus sangat dipengaruhi oleh tingkat pemahaman tentang diabetes mellitus.
Edukasi perawatan fleksibilitas dan keseimbangan tubuh pada lansia di Posyandu Lansia, Way Sulan Tanjung Bintang Saputra, Rinaldi Prima; Zulfikar, Zulfikar; Fadhail, Maulana Ahsan
JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 4 No. 5 (2025): JOURNAL OF Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v4i5.540

Abstract

Background: Aging is a natural process that cannot be avoided by every individual. Aging is a process of gradual loss of the ability of tissue to repair itself or replace itself and maintain its normal structure and function. This decrease in physical capacity is caused by several factors including musculoskeletal, cardiovascular and neuromuscular factors. The occurrence of decreased physical capacity is a condition that is very common in society that can trigger pain. As much as 28-35% of elderly people over 65 years old fall at least once a year and increase at the age of over 75 years by 32-42%. So, it is very important for the elderly to maintain and maintain muscle strength. Purpose: Provide health education as an effort to increase knowledge about the importance of balance and flexibility in the elderly. Method: The implementation of this activity goes through several stages, namely asking for permission from the local primary health, namely the Way Sulan Health Center, explaining the importance of conducting education to the elderly and explaining the importance of knowledge/understanding of elderly health problems with specific discussions on balance and flexibility. In the implementation stage, all participants were given material presentations using lecture and presentation methods. This was followed by a discussion and question and answer session. Results: Based on the Time Up and Go Test examination of 70 participants, it shows that the majority of elderly people have a low risk of falling as many as 13 people (18.57%). As many as 24 elderly people (34.28%) are in the moderate risk of falling category and as many as 33 people (47.14%) have a greater risk of falling. And based on the Sit & reach test examination, it shows that the majority of elderly people have hamstring and lowerback flexibility ≥ 4 inches 16 people (22.85%). As many as 20 elderly people (28.57%) are in the flexibility category ≥ 3 inches, as many as 30 people (42.85%) with flexibility ≥ 2 inches and as many as 4 people have flexibility ≥ 1 inch (5.71%). Conclusion:  Health counseling or education for the elderly about balance and flexibility has a very good impact on the community, especially on the mechanism of managing elderly health that can be done independently or with family support. Educational programs about balance and flexibility also increase awareness of the importance of maintaining fitness, and being aware of the risk of falling in the elderly. .Keywords: Balance; Elderly; Flexibility; Health education Pendahuluan: Lanjut usia (lansia) merupakan proses alami yang tidak dapat dihindari oleh setiap individu. Penuaan (menjadi tua: aging) adalah suatu proses penghilangan secara perlahan-lahan kemampuan jaringan untuk memperbaiki diri atau mengganti diri dan mempertahankan struktur dan fungsi normalnya. Penurunan kapasitas fisik ini disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya faktor penurunan muskuluskeletal, kardiovaskular dan neuromuskular. Kejadian penurunan kapasitas fisik merupakan kondisi yang sangat banyak dijumpai di masyarakat yang bisa memicu terjadinya rasa nyeri. Sebesar 28-35% lansia di atas 65 tahun setidaknya jatuh satu kali dalam satu tahun dan meningkat pada usia di atas 75 tahun sebesar 32-42%. Jadi, sangat penting bagi lansia untuk menjaga dan memelihara kekuatan otot. Tujuan: Memberikan penyuluhan kesehatan sebagai upaya meningkatkan pengetahuan mengenai pentingnya keseimbangan dan fleksibilitas pada lansia. Metode: Pelaksanaan kegiatan ini melalui beberapa tahapan yaitu meminta ijin kepada kesehatan primer setempat yaitu puskesmas Way Sulan menjelaskan kepentingan untuk melakukan penyuluhan kepada lansia dan menjelaskan pentingnya pengetahuan/pemahaman masalah kesehatan lansia dengan spesifik pembahasan keseimbangan dan fleksibilitas. Tahap pelaksanaan seluruh peserta diberikan pemaparan materi dengan metode ceramah dan presentasi. Selanjutnya dilakukan dengan sesi diskusi dan tanya jawab. Hasil: Berdasarkan pemeriksaan Time Up and Go Test  dari 70 peserta menunjukkan bahwa mayoritas lansia memiliki risiko jatuh kecil sebanyak 13 orang (18.57%). Sebanyak 24 orang lansia (34.28%) dalam kategori risiko jatuh sedang dan sebanyak 33 orang (47.14%) memiliki risiko jatuh lebih besar. Dan berdasarkan pemeriksaan Sit & reach test menunjukkan mayoritas lansia memiliki fleksibilitas hamstring dan lowerback ≥ 4 inch 16 orang (22.85%). Sebanyak 20 orang lansia (28.57%) dalam kategori fleksibilitas ≥ 3 inch,  sebanyak 30 orang (42.85%) dengan fleksibilitas ≥ 2 inch dan sebanyak 4 orang memiliki fleksibilitas ≥ 1 inch (5.71%). Simpulan: Penyuluhan kesehatan atau edukasi pada lansia tentang keseimbangan dan flesibilitas memberikan dampak yang sangat baik pada masyarakat, khususnya pada mekanisme pengelolaan kesehatan lansia yang dapat dilakukan secara mandiri atau oleh dukungan keluarga. Program edukasi tentang keseimbangan dan fleksibilitas juga meningkatkan kesadaran tentang pentingnya mempertahankan kebugaran, dan mewaspadai resiko jatuh pada lansia.
Hubungan sanitasi lingkungan dengan kejadian penyakit eksim pada bayi (0-12 bulan) di Dusun Endut Desa Batu Mekar Gumangsari, Ni Made Gita; Isviyanti, Isviyanti; Hidayati, Diana
JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 4 No. 5 (2025): JOURNAL OF Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v4i5.601

Abstract

Background: Eczema is a chronic, inflammatory and recurrent skin disease, characterized by a person's skin becoming red, inflamed, and itchy. Eczema is one type of disease that often occurs in children ranging from the age of 6 months to 5 years. In 2021, eczema increased again by around 59,395 cases and was ranked 5th in West Nusa Tenggara (NTB) Province. In Endut Hamlet, there were 30 cases of babies with eczema ranging from 0-12 months of age. Purpose: To determine the relationship between environmental sanitation and the incidence of eczema in infants aged 0-12 months. Method: Descriptive research with a quantitative approach to determine the relationship between environmental sanitation and the incidence of eczema in infants aged 0-12 months in 2003 in Endut Hamlet, Batu Mekar Village, Lingsar District, West Lombok Regency. The population in this study were 30 mothers who had babies aged 0-12 months. Sampling used total sampling method so that 30 babies became respondents. The dependent variables consisted of hair cleanliness, hand-nail-toenail cleanliness, clothing cleanliness, skin cleanliness, towel cleanliness and bed and bed linen cleanliness. While environmental sanitation consisted of clean water facilities, waste disposal facilities and healthy toilet facilities. The independent variable was the incidence of eczema in babies aged 0-12 months, which was assessed by subjective observation. Data were analyzed using the chi square test with an alpha value of 0.05 (95%). Results: Respondent data shows that most of the environmental cleanliness and sanitation levels are in the poor category. The significance of hair cleanliness levels on eczema cases obtained pValue=0.023. The significance of respondents' hand, foot and nail cleanliness levels with eczema cases obtained pValue=0.023. While the significance of respondents' skin cleanliness levels with eczema cases obtained pValue=0.042. The significance of respondents' clothing cleanliness levels with eczema cases obtained pValue=0.023. While the significance of towels cleanliness levels with eczema cases obtained pValue=0.002. While the significance for bed cleanliness levels with eczema cases and obtained pValue=0.042. And with a p value of 0.023 for clean water facilities and a p value of 0.010 for waste disposal facilities/healthy toilet facilities, it shows that there is a significant relationship between clean water facilities, waste disposal facilities, and healthy toilet facilities and the occurrence of eczema in Endut Hamlet, Batu Mekar Village, Lingsar District, West Lombok Regency. Conclusion: Environmental sanitation, cleanliness of equipment and supporting facilities for cleanliness are factors that influence the incidence of eczema in infants aged 0-12 months. Healthy lifestyles and supporting facilities for cleanliness are dominant factors in preventing the occurrence of eczema. Suggestions: This activity and research is expected to provide increased knowledge, especially regarding the implementation of a healthy lifestyle and maintaining environmental sanitation to prevent eczema and the results of this study can be a reference in further research by adding other variables in testing such as other variables such as eye hygiene, nose hygiene, oral and dental hygiene and genital hygiene. Keywords: Eczema; Environmental sanitation; Infants; Personal hygiene; Skin Pendahuluan: Eksim merupakan penyakit kulit kronik, inflamatif dan dapat muncul kembali, yang ditandai kulit seseorang menjadi merah, meradang, dan terasa gatal. Penyakit eksim salah satu jenis penyakit yang sering terjadi pada usia anak-anak mulai dari usia anak 6 bulan pertama sampai 5 tahun. Pada tahun 2021 penyakit Eksim meningkat lagi sekitar 59.395 kasus dan masuk ke dalam peringkat ke-5 di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB). Di Dusun Endut sebanyak 30 kasus bayi yang terkena eksim mulai dari usia 0-12 bulan. Tujuan: Untuk mengetahui hubungan antara sanitasi lingkungan dengan kejadian panyakit eksim pada bayi berusia 0-12 bulan. Metode: Penelitian deskriptif dengan pendekatan kuantitatif untuk mengetahui hubungan sanitasi lingkungan dengan kejadian penyakit eksim pada bayi usia 0-12 bulan pada tahun 2003 di Dusun Endut Desa Batu Mekar Kecamatan Lingsar Kabupaten Lombok Barat..  Populasi dalam penelitian ini adalah 30 ibu yang memiliki bayi berusia 0-12 bulan. Pengambilan sampel menggunakan cara total sampling sehingga mendapatkan 30 bayi menjadi responden. Variabel dependen terdiri atas kebersihan rambut, kebersihan tangan-kuku-kaki, kebersihan pakaian, kebersihan kulit, kebersihan handuk dan kebersihan tempat tidur serta sprei. Sedangkan sanitasi lingkungan terdiri atas sarana air bersih, sarana pembuangan sampah dan sarana jamban sehat. Variabel independennya adalah kejadian eksim pada bayi usia 0-12 bulan, yang dinilai dengan observasional subyektif. Data dianalisa dengan uji chi square dengan nilai alpha 0.05 (95%).   Hasil: Data responden menunjukkan sebagian besar tingkat kebersihan dan sanitasi lingkungan dalam kategori buruk. Signifikansi  tingkat kebersihan rambut terhadap kejadian eksim mendapatkan pValue=0.023. Signifikansi tingkat kebersihan tangan, kaki dan kuku responden dengan kejadian eksim mendapatkan pValue=0.023. Sedangkan signifikansi tingkat kebersihan kulit responden dengan kejadian eksim mendapatkan pValue=0.042. Signifikansi tingkat kebersihan pakaian responden dengan kejadian eksim mendapatkan pValue=0.023. Sedangkan signifikansi tingkat kebersihan handuk dengan kejadian eksim mendapatkan pValue=0.002. Sedangkan signifikansi untuk tingkat kebersihan tempat tidur dengan kejadian dan mendapatkan pValue=0.042. Dan dengan nilai p value sebesar 0.023 untuk sarana air bersih dan p value sebesar 0.010 untuk sarana pembuangan sampah/sarana jamban sehat menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara sarana air bersih, sarana pembuangan sampah, dan sarana jamban yang sehat terhadap timbulnya pernyakit eksim di Dusun Endut Desa Batu Mekar Kecamatan Lingsar Kabupatan Lombok Barat. Simpulan: Sanitasi lingkungan, kebersihan perlengkapan dan sarana penunjang kebersihan adalah faktor yang berpengaruh terhadap kejadian eksim pada bayi berusia 0-12 bulan. Pola hidup sehat dan sarana penunjang kebersihan adalah faktor yang dominan dalam mencegah timbulnya kejadian eksim. Saran: Kegiatan dan penelitian ini diharapkan dapat memberikan peningkatan pengetahuan khususnya mengenai penerapkan pola hidup sehat dan menjaga sanitasi ligkungan untuk mencegah terjadinya eksim dan hasil dari penelitian ini dapat menjadi rujukan di penelitian lanjutan dengan menambahkan variabel lain dalam pengujian seperti variabel lainnya seperti  kebersihan mata, kebersihan hidung, kebersihan mulut dan gigi serta kebersihan genetalia.
Peningkatan kemampuan kader dalam perawatan luka dan kegawatdaruratan pada ibu pasca melahirkan Marlina, Yani; Anri, Anri; Megawati, Sri Wulan; Situmorang, Roganda; Lengga, Vivop Marti
JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 4 No. 5 (2025): JOURNAL OF Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v4i5.602

Abstract

Background: Postpartum mothers often face problems such as perineal wounds, surgery, and conditions that need to be watched out for. Lack of knowledge about wound care and emergency risks can lead to serious complications that affect maternal health and infant care. Health cadres have an important role in disseminating health information, but are often under-trained in providing appropriate education and support to postpartum mothers. This hinders the dissemination of accurate information, which can lead to inappropriate wound and emergency care, risking postpartum hemorrhage, infection, and embolism. Purpose: To improve the knowledge and skills of health cadres (Posyandu cadres) in providing education on wound care and emergency care for postpartum mothers to reduce the risk of complications. Method: The activity was carried out on November 15, 2024 in Cileunyi Wetan Village, Bandung Regency, attended by 32 cadres. The methods used included lectures, questions and answers, and demonstrations with ppt, leaflet, and video media. Results: Shows that the majority of cadres, 84.4%, managed to achieve a good category after participating in education. The increase from 59.4% before education to 84.4% after receiving education reflects the success of the program in improving cadre competence, educational activities ran smoothly, effectively and conducively. Participants were able to answer questions correctly. It is hoped that cadres who have participated in this activity can pass on information to the wider community, especially postpartum mothers. Conclusion: Community service activities by providing direct education are very effective and have a significant influence on increasing the knowledge, abilities, skills, and self-confidence of posyandu cadre mothers regarding wound care and emergency handling for postpartum mothers. Keywords: Emergency; Health education; Postpartum mothers; Wound care Pendahuluan: Ibu pasca melahirkan sering menghadapi masalah seperti luka perineum, bedah, dan kondisi yang perlu diwaspadai. Kurangnya pengetahuan tentang perawatan luka dan risiko kegawatdaruratan dapat mengakibatkan komplikasi serius yang mempengaruhi kesehatan ibu dan perawatan bayi. Kader kesehatan memiliki peran penting dalam menyebarkan informasi kesehatan, namun seringkali kurang terlatih dalam memberikan edukasi dan dukungan yang tepat kepada ibu pasca melahirkan. Hal ini menghambat penyebaran informasi akurat, yang dapat menyebabkan penanganan luka dan kegawatdaruratan yang kurang tepat, berisiko menimbulkan perdarahan postpartum, infeksi, dan emboli.   Tujuan: Untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan kader kesehatan (kader Posyandu) dalam memberikan edukasi perawatan luka dan penanganan kegawatdaruratan pada ibu pasca melahirkan untuk mengurangi resiko komplikasi. Metode: Kegiatan dilaksanakan pada 15 November 2024 di Desa Cileunyi Wetan, Kabupaten Bandung, dihadiri oleh 32 kader. Metode yang digunakan meliputi ceramah, tanya jawab, dan demonstrasi dengan media ppt, leaflet, dan video. Hasil: Menunjukkan mayoritas kader sebesar 84.4% berhasil mencapai kategori baik setelah mengikuti edukasi. Peningkatan dari sebesar 59.4%% pada sebelum edukasi menjadi sebesar 84.4% pada sesudah mendapatkan edukasi mencerminkan keberhasilan program dalam meningkatkan kompetensi kader, kegiatan edukasi berjalan lancar, efektif dan kondusif. Peserta dapat menjawab pertanyaan dengan benar. Diharapkan kader yang telah mengikuti kegiatan ini dapat meneruskan informasi kepada masyarakat luas, khususnya ibu pasca melahirkan. Simpulan: Kegiatan pengabdian masyarakat dengan pemberian edukasi langsung sangat efektif dan memiliki pengaruh yang signifikan terhadap peningkatan pengetahuan, kemampuan, keterampilan, dan kepercayaan diri ibu kader posyandu mengenai perawatan luka dan penanganan kegawatdaruratan pada ibu pasca melahirkan.
Faktor yang mempengaruhi rendahnya minat ibu terhadap pemilihan alat kontrasepsi Intra Uterine Device (IUD) di PMB Bidan Turinah Sukabumi Anggraeni, Reni; Fatimah, Siti; Panduwita, Panduwita; Hayati, Yulianti
JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 4 No. 5 (2025): JOURNAL OF Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v4i5.684

Abstract

Background: Contraception is an important component in reproductive health services so that it can reduce the risk of death and morbidity in pregnancy. The family planning (KB) program is an effort to regulate the birth of children, the ideal birth distance and age, regulate pregnancy, protection and assistance in accordance with reproductive rights to create a quality family. Intra Uterine Device (IUD) is one of the most effective and safest long-term contraceptives. Purpose: To determine the factors that influence the low choice of intrauterine device (IUD) contraceptives. Method: Analytical descriptive research with a cross-sectional approach conducted at PMB Bidan Turinah, Sukabumi City in January-May 2023. The population of this study was 350 mothers who were active family planning acceptors, with samples taken using a purposive sampling technique of 78 mothers who met the inclusion criteria and exclusion to become a respondent. The instrument used was a questionnaire and the data was processed using SPSS. Univariate and bivariate analysis using the Chi-square test with a significance level of 5% (α=0.05) to observe the relationship between the independent variables (knowledge, attitudes, education and husband's support) and the dependent variable (choice of IUD contraception. Results: Most of the respondents who did not choose IUD had less knowledge, namely 20 (55.6%) with pvalue=0.028. Meanwhile, for the attitude of respondents who did not choose IUD with pvalue=0.033, the majority were in the negative category, 24 (66.7%). Most of the respondents who did not choose the IUD had elementary-middle school education, namely 25 (69.4%) with pvalue=0.061 and the majority of respondents who did not choose the IUD also did not receive support from their husbands, namely 23 (63.9%) with pvalue=0.037. Conclusion: The factors of knowledge, attitude, education and husband's support have a significant influence on mothers' interest in choosing an IUD contraceptive at PMB Bidan Turinah, Sukabumi City. Insufficient knowledge, negative attitudes, low education, and lack of husband's support tend to reduce mothers' interest in choosing IUD as a contraceptive method. Suggestion: Relevant parties can increase public knowledge by providing education about IUD contraception which is part of the success of government programs through the family planning program. Keywords: Husband's Support; Intrauterine device (IUD); Knowledge Pendahuluan: Kontrasepsi merupakan komponen penting dalam pelayanan kesehatan reproduksi sehingga dapat mengurangi resiko kematian dan kesakitan dalam kehamilan. Program keluarga berencana (KB) adalah upaya mengatur kelahiran anak, jarak dan usia ideal melahirkan, mengatur kehamilan, perlindungan, dan bantuan sesuai dengan hak reproduksi untuk mewujudkan keluarga yang berkualitas. Intra Uterine Device (IUD) adalah salah satu alat kontrasepsi jangka panjang yang paling efektif dan aman. Tujuan: Untuk Mengetahui faktor yang mempengaruhi rendahnya pemilihan alat kontrasepsi intra uterine device (IUD). Metode: Penelitian deskriptif analitik dengan pendekatan cross-sectional yang dilakukan di PMB Bidan Turinah Kota Sukabumi pada Januari-Mei 2023. Populasi penelitian ini adalah 350 ibu akseptor KB aktif, dengan sampel yang diambil menggunakan teknik purposive sampling sebanyak 78 ibu yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi untuk menjadi responden Instrument yang digunakan kuesioner dan data diolah dengan SPSS. Analisis univariat dan bivariat dengan uji Chi-square dengan tingkat kemaknaan sebesar 5% (α=0.05) untuk mengamati hubungan antara variabel independen (pengetahuan, sikap, pendidikan, dan dukungan suami) dan variabel dependen (pemilihan alat kontrasepsi IUD. Hasil : Sebagian besar responden yang tidak memilih IUD memiliki pengetahuan kurang yaitu sebanyak 20 (55.6%) dengan pvalue=0.028. Sedangkan untuk sikap responden yang tidak memilih IUD dengan pvalue=0.033, mayoritas berada dalam kategori negatif sebanyak 24 (66.7%). Sebagian besar responden yang tidak memilih IUD memiliki pendidikan SD-SMP yaitu sebanyak 25 (69.4%) dengan pvalue=0.061 dan sebagian besar responden yang tidak memilih IUD juga tidak mendapatkan dukungan dari suami yaitu sebanyak 23 (63.9%) dengan pvalue=0.037. Simpulan: Faktor pengetahuan, sikap, pendidikan, dan dukungan suami memiliki pengaruh signifikan terhadap minat ibu dalam memilih alat kontrasepsi IUD di PMB Bidan Turinah Kota Sukabumi. Pengetahuan yang kurang, sikap negatif, pendidikan rendah, dan tidak adanya dukungan suami cenderung mengurangi minat ibu untuk memilih IUD sebagai metode kontrasepsi. Saran: Pihak terkait dapat memberikan peningkatan pengetahuan masyarakat dengan mengadakan penyuluhan tentang alat kontrasepsi IUD yang merupakan bagian dalam menyukseskan program pemerintah melalui program keluarga berencana (KB).

Page 1 of 1 | Total Record : 5


Filter by Year

2025 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 5 No. 12 (2026): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 11 (2026): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 10 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 9 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 8 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 7 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 6 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 5 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 4 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 2 (2025): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 5 No. 1 (2025): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 4 No. 6 (2025): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 4 No. 5 (2025): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 4 No. 4 (2024): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 4 No. 3 (2024): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 4 No. 2 (2024): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 4 No. 1 (2024): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 3 No. 4 (2024): PHC Vol. 3 No. 4 (2023): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 3 No. 3 (2023): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 3 No. 3 (2023): PHC Vol. 3 No. 2 (2023): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 3 No. 1 (2023): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 2 No. 3 (2022): Penatalaksanaan Diabetes Melitus Tipe 2 Vol. 2 No. 4 (2022): Promosi Dan Perilaku Hidup Bersih Sehat (PHBS) Vol. 2 No. 2 (2022): Penatalaksanaan Hipertensi Pada Lansia Vol. 2 No. 1 (2022): Promosi Kesehatan Pada Remaja Vol. 1 No. 4 (2021): Perawatan Lansia Secara Umum Dan Pertolongan Pertama Pada Keadaan Darurat Vol. 1 No. 3 (2021): Terapi Komplementer Dalam Keperawatan Vol. 1 No. 2 (2021): Penanganan dan Perawatan Penyakit Asma Vol. 1 No. 1 (2021): Promosi Kesehatan dalam penanganan penyakit Rematik, Gastritis, Hipertensi dan More Issue