cover
Contact Name
Dian Adhe Bianggo Naue
Contact Email
anggonaue@poltekkespalembang.ac.id
Phone
+6281373770318
Journal Mail Official
jmls@poltekkespalembang.ac.id
Editorial Address
Sekretariat Journal of Medical Laboratory and Science Politeknik Kesehatan Kemenkes Palembang Jalan Sukabangun 1 KM 6,5 Kelurahan Sukajaya Kecamatan Sukarami Palembang
Location
Kota palembang,
Sumatera selatan
INDONESIA
JMLS: Journal of Medical Laboratory and Science
ISSN : -     EISSN : 28291158     DOI : https://doi.org/10.36086/medlabscience.v2i2
Core Subject : Health, Science,
This journal encompasses original research articles, review articles, and short communications, including: Parasitology Immunology Serology Virology Bacteriology Toxicology Clinical Chemistry Haematology Food and beverage chemistry
Articles 94 Documents
EFEK KONSUMSI SUPLEMEN VITAMIN C TERHADAP KADAR GLUKOSA DARAH PUASA MAHASISWA TEKNOLOGI LABORATORIUM MEDIS POLTEKKES PALEMBANG Handayani Handayani; Nurhayati Nurhayati; Erwin Edyansyah; Dewi Angraini
Journal of Medical Laboratory and Science Vol 2 No 2 (2022): JMLS: Journal of Medical Laboratory and Science
Publisher : Jurusan Teknologi Laboratorium Medis, Poltekkes Kemenkes Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (149.921 KB) | DOI: 10.36086/medlabscience.v2i2.1211

Abstract

ABSTRAK Latar Belakang: Antioksidan adalah zat yang diperlukan tubuh untuk menetralisir radikal bebas dan mencegah kerusakan yang ditimbulkannya serta menghambat terjadinya reaksi berantai dari pembentukan radikal bebas yang menyebabkan stress oksidatif. Vitamin C merupakan antioksidan yang baik dan bermanfaat dalam menghambat aktivitas radikal bebas. Vitamin C memiliki struktur yang sama seperti glukosa sehingga vitamin C dapat menggantikannya dalam proses glikolisis nonenzimatik sehingga dapat menurunkan kadar glukosa. Tujuan penelitian untuk mengetahui efek konsumsi suplemen vitamin C terhadap kadar glukosa darah puasa mahasiswa Teknologi Laboratorium Medis Poltekkes Palembang. Metode:Penelitian ini bersifat analitik observasional dengan pendekatan Cross Sectional. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Kimia Klinik Jurusan Teknologi Laboratorium Medis Poltekkes Palembang. Sampel penelitian sebanyak 31 sampel yang mana responden diberikan suplemen vitamin C dengan dosis 1000 mg/hari selama 14 hari. Teknik sampling yang digunakan adalah simple random sampling. Analisis data menggunakan T-dependen. Hasil:Rata – rata kadar glukosa darah puasa sebelum konsumsi suplemen vitamin C sebesar 75 mg/dL sedangkan rata – rata kadar glukosa darah puasa setelah konsumsi suplemen vitamin C sebesar 78 mg/dL. Dari hasil uji T-dependen didapat hasil p > α (0,05), yaitu p value = 0.225. Kesimpulan:Tidak ada pengaruh konsumsi suplemen vitamin C terhadap kadar glukosa darah puasa Mahasiswa Teknologi Laboratorium Medis Poltekkes Palembang. Kata kunci : Glukosa darah puasa, suplemen vitamin c ABSTRACT Background: Antioxidant is required by the body to neutralize free radicals and prevent the damage caused by them. Besides, it also inhibits chain reactions from forming free radicals that cause oxidative stress. Vitamin C (ascorbic acid) is a good antioxidant for inhibiting free radical activities. Vitamin C has the same structure as glucose so that vitamin C can replace it in the non-enzymatic glycolysis process to reduce glucose levels. Objective: To determine the effect of vitamin C supplement consumption on fasting blood glucose levels in medical laboratory technology students of Palembang Health Polytechnic in 2021. Methods: This study was observational analytic research with a cross-sectional approach. The research was conducted at the Clinical Chemistry of Laboratory Medical Laboratory Technology, Health Polytechnic of Palembang. Thirty serum samples of the students were taken as research samples. Respondents were given vitamin C supplements at a dose of 1000 mg/day for 14 days. The sampling technique used was simple random sampling. The data were analyzed by a T-dependent test. Results: The average fasting blood glucose level before taking vitamin C supplements was 75 mg / dL, and the average fasting blood glucose level after taking vitamin C supplements was 78 mg / dL. From the results of the T-dependent test, it was found that p> (0.05), namely p-value = 0.225, which means there is no effect of vitamin C supplement consumption on fasting blood glucose levels of the students of Medical Laboratory Technology, Health Polytechnic of Palembang. Conclusion: There is no effect of vitamin C supplement consumption on fasting blood glucose levels of the students of Medical Laboratory Technology, Health Polytechnic of Palembang. Keywords : Fasting Blood Glucose, Vitamin C Supplements
KUALITAS SPUTUM DALAM PEMERIKSAAN BTA METODE ZIEHL NELSSEN DAN TEST CEPAT MOLEKULER Herry Hermansyah; Karneli Karneli; Refai Refai; Handayani Handayani; Fandianta Fandianta
Journal of Medical Laboratory and Science Vol 2 No 1 (2022): JMLS: Journal of Medical Laboratory and Science
Publisher : Jurusan Teknologi Laboratorium Medis, Poltekkes Kemenkes Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (221.384 KB) | DOI: 10.36086/medlabscience.v2i1.1216

Abstract

Diagnostik tuberculosis dapat ditegakkan melalui pemeriksaan mikroskopis Bakteri Tahan Asam metode Zihel Nelseen (ZN) pada sputum penderita. Selain itu ada juga pemeriksaan Metode Test Cepat Molekuler (TCM) tetapi karena metode tersebut memerlukan peralatan yang sangat mahal sehingga sulit untuk dapat dilaksanakan di sarana kesehatan dengan fasilitas sederhana. Pada penelitian Eka Kurniwan, dkk (2016) dari hasil pemeriksaan 40 sampel dengan metode RT-TCM GeneXpert, didapatkan positif 40%. Tujuan penelitian ini diketahui Mycobacterium tuberculosis melalui pemeriksaan sputum melalui Pengecatan Bakteri Tahan Asam metode Zihel Nelseen (ZN) dan Test Cepat Molekuler (TCM) berdasarkan Volume, Bau, Warna dan Konsistensi. Jenis penelitian yang digunakan adalah uji diagnostik dengan pendekatan cross sectional study. Populasi dan sampel sebanyak 42 pasien. Teknik pengambilan sampel pada penelitian ini yaitu menggunakan metode total sampling. Sumber Data diambil secara langsung (primer) dan tidak langsung (data skunder). Hasil penelitian volume <5 ml dengan metode ZN hasil positif 38%, P-value 0,637 > 0,05 metode TCM hasil positif 38,5%, P-value 0,859 > 0,05 disimpulkan tidak ada pengaruh. Berdasarkan Bau dengan ZN positif 41,2%, P-value 0,026 < 0,05 TCM positif 41,2% P-value 0,000<0,05 disimpulkan ada pengaruh. Warna Kuning Kehijauan dengan ZN hasil positif 68,8%, P-value 0,000<0,05 TCM Rifamfisin positif 68,8%, P-value 0,000 <0,05 disimpulkan ada pengaruh. Konsistensi Mucopurulen dengan ZN hasil positif 73,7% P-value 0,000 <0,05 TCM positif 73,7% P-value 0,000<0,05 disimpulkan ada pengaruh. Kesimpulan tidak ada pengaruh berdasarkan volume, ada pengaruh berdasarkan bau, warna dan konsistensi sputum. Terdapat perbedaan hasil Mycobacterium tuberculosis melalui pemeriksaan sputum melalui metode ZN dan metode TCM. Sarannya bagi pasien untuk memeriksakan sputum harus memenuhi apa yang diminta oleh petugas laboratorium dan bagi petugas laboratorium agar melakukan konfirmasi hasil pemeriksaan ke method TCM.
SERA POOLED STABILITY AS A SGPT CONTROL MATERIAL WITH STORAGE TIME AND TEMPERATURE VARIATION Wuni Sri Lestari; Witi Karwiti; Aminahtun Latifah; Yenni Listiani; Sri Hartini Harianja
Journal of Medical Laboratory and Science Vol 2 No 1 (2022): JMLS: Journal of Medical Laboratory and Science
Publisher : Jurusan Teknologi Laboratorium Medis, Poltekkes Kemenkes Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (156.474 KB) | DOI: 10.36086/medlabscience.v2i1.1255

Abstract

To improve the quality of laboratory examination results, it is absolutely necessary to carry out quality assurance and these activities usually require control materials. The price of expensive commercial control materials is an obstacle to carrying out laboratory quality control. Efforts to maintain quality control are using pooled sera as control material. One of the examinations that is often done is the examination of SGPT (Serum Glutamic Pyruvate Transaminase) blood. The choice of SGPT parameter is expected to represent the type of enzyme assay. The purpose of this study was to determine the stability of pooled sera used as control material for SGPT examination with time and temperature variations. Methods: This research is an experimental study, which was carried out using a collection of serum found in the TLM Clinical Chemistry Laboratory of the Health Ministry of Health, Jambi. By using 2 treatments, the samples were stored at a temperature of 20-25oC and -5oC. Data analysis using ANOVA and coefficient of variation value. Results: The results showed a significant value (p-value) of SGPT of p = 0.008. A significant value (p-value) which is greater than the value of = 0.05, indicates that there is an effect of storage time and temperature variations. Conclusion : There is a significant effect of storage time and temperature variation of pooled sera control material on the stability of SGPT examination.
HUBUNGAN KECACINGAN STH DENGAN KADAR HEMOGLOBIN PADA PENAMBANG PASIR DI CEMPAKA KOTA BANJARBARU Siti Husniar; Rifqoh Rifqoh; Tini Elyn; Jujuk Anton
Journal of Medical Laboratory and Science Vol 2 No 1 (2022): JMLS: Journal of Medical Laboratory and Science
Publisher : Jurusan Teknologi Laboratorium Medis, Poltekkes Kemenkes Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (142.773 KB) | DOI: 10.36086/medlabscience.v2i1.1263

Abstract

Latar Belakang: Penambang pasir merupakan profesi pekerjaan yang kaitannya erat dengan tanah dan sangat mudah terkena penyakit infeksi kecacingan. Jika infeksi kecacingan dibiarkan cacing-cacing yang menginfeksi ini memberikan kontribusi besar terhadap kejadian anemia sehingga kadar hemoglobin menjadi turun. Tujuan penelitain ini untuk mengetahui adanya hubungan kecacingan STH (Soil Transmitted Helminth) dengan kadar hemoglobin pada penambang pasir di cempaka kota Banjarbaru. Jenis penelitian ini yaitu Survey Analitik dengan rancangan penelitian cross sectional, jumlah populasi sebanyak 21 orang dengan sampel sebanyak 21 sampel dan cara pengambilan menggunakan Teknik Total Sampling. Data kecacingan didapat dari pemeriksaan telur cacing dengan pemeriksaan mikroskopis metode Kato-Katz, sampel yang digunakan yaitu feses segar. Variabel kadar hemoglobin ditentukan dari pemerikasaan darah dengan metode Hematologianalyzer sampel yang digunakan yaitu darah EDTA. Hasil menunjukkan dari 21 responden ditemukan telur Ascaris lumbricoides 28,57% dengan intensitas ringan serta telur hookworm 9,52% dengan intensitas ringan dan Kadar hemoglobin yang normal 76,17%, Kadar Hemoglobin kurang dari normal sebanyak 23,80%. Berdasarkan uji statistik didapatkan (p= 0,364) bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara kecacingan STH (Soil Transmitted Helminth) dengan kadar hemoglobin pada penambang pasir di cempaka kota Banjarbaru.
HUBUNGAN KEJADIAN KECACINGAN STH DENGAN PERSONAL HYGIENE PADA PENAMBANG PASIR DI CEMPAKA KOTA BANJARBARU Zahratannujhah -; Rifqoh Rifqoh; Ahmad Muhlisin; Erfan Roebiakto
Journal of Medical Laboratory and Science Vol 2 No 2 (2022): JMLS: Journal of Medical Laboratory and Science
Publisher : Jurusan Teknologi Laboratorium Medis, Poltekkes Kemenkes Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (238.054 KB) | DOI: 10.36086/medlabscience.v2i2.1264

Abstract

Latar Belakang: Infeksi kecacingan merupakan salah satu infeksi yang masih menjadi masalah kesehatan di indonesia, salah satunya infeksi kecacingan Soil Transmitted Helminths. Pekerja yang beresiko terinfeksi adalah pekerja yang sehari-hari kontak langsung dengan tanah seperti penambang pasir dengan faktor Sanitasi lingkungan dan personal hygiene yang buruk. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya hubungan kejadian kecacingan STH dengan personal hygiene pada penambang pasir di Cempaka kota Banjarbaru. Metode: metode penelitian ini adalah survey analitik dengan rancangan cross sectional, jumlah populasi dan sampel sebanyak 21 orang menggunakan teknik total sampling. Dengan memberikan kuesioner dan pemeriksaan telur cacing menggunakan metode kato katz. Hasil: Ditemukan sebanyak 14 orang (66,7%) negatif kecacingan STH dan 7 orang (33,3%) positif kecacingan STH, dengan EPG spesies cacing tambang sebanyak (96-192/gr feses) dan EPG Ascaris lumbricoides (24-48/gr feses). Responden dengan personal hygiene kurang baik sebanyak 13 orang (61,9%) dan baik sebanyak 8 orang (38,1%). Responden yang memiliki personal hygiene kurang baik sebanyak 7 orang (33,3%) positif kecacingan STH. Kesimpulan: ada hubungan antara personal hygiene dengan kecacingan STH berdasarkan analisa uji Fisher’s Exact dengan nilai p-value<α (0,018<0,05).
GAMBARAN Candida albicans PADA URIN PENDERITA DIABETES MELLITUS DI PUSKESMAS NEGLASARI Venny Patricia; Ahmad Yani; Nadia Putri Haifa
Journal of Medical Laboratory and Science Vol 2 No 1 (2022): JMLS: Journal of Medical Laboratory and Science
Publisher : Jurusan Teknologi Laboratorium Medis, Poltekkes Kemenkes Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (183.814 KB) | DOI: 10.36086/medlabscience.v2i1.1274

Abstract

Latar Belakang: Kandidiasis merupakan penyakit jamur yang sering disebabkan oleh spesies Candida sp, terutama Candida albicans. Candida albicans biasanya menginfeksi genetalia serta daerah perigenital wanita. Sifat saprofit Candida albicans dapat berubah menjadi patogen akibat faktor predisposisi salah satunya Diabetes Mellitus. Diabetes Mellitus dapat menyebabkan hiperglikemia yang membuat kadar glukosa darah puasa diatas 110 mg/dl. Ketika kadar serum melebihi 160-180 mg/dL maka konsentrasi glukosa yang pekat akan keluar bersama urin sehingga menyebabkan risiko invasi mikroba. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui ada tidaknya Candida albicans pada urin penderita diabetes mellitus berdasarkan usia dan jenis kelamin. Metode Penelitian ini bersifat deskriptif, dengan populasi pasien di Puskesmas Neglasari sebanyak 18 orang. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling. Sampel yang digunakan yaitu urin diabetes mellitus. Dari penelitian ini diperoleh kesimpulan bahwa dari 18 sample urin yang diperiksa, terdapat 2 (11%) sampel yang terinfeksi jamur Candida albicans pada rentang usia (60-74th) dengan jenis kelamin perempuan dan hasil pengamatan secara mikroskopik pada pewarnaan Lactophenol Cotton Blue (LPCB) ditemukan struktur seperti ragi atau yeast dan juga menunjukkan pseudohifa dan blatospora yang berbentuk bulat, sedangkan 16 (89%) sample tidak terindikasi adanya jamur Candida albicans.
CEMARAN BAKTERI SALMONELLA SP DAN HIGIENIS SANITASI PADA DAGING AYAM DIRUMAH AYAM POTONG UD BERKAH PUTRI MANDIRI Yazit Albustomi; Dian Rachma Wijayanti; Septiani Septi
Journal of Medical Laboratory and Science Vol 2 No 1 (2022): JMLS: Journal of Medical Laboratory and Science
Publisher : Jurusan Teknologi Laboratorium Medis, Poltekkes Kemenkes Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (136.689 KB) | DOI: 10.36086/medlabscience.v2i1.1288

Abstract

Kesehatan adalah hal mutlak yang harus dijaga yaitu dengan memenuhi kebutuhan pokok manusia salah satunya adalah makanan. Dengan makanan nutrisi yang tercukupi upaya untuk menjaga tubuh tetap sehat dan terjaga, kemudian makanan yang mudah terjangkau dan relative murah dengan protein , lemak dan mineral yang cukup didapatkan adalah daging ayam. Namun pada aspek mikrobiologi seuatu pangan aman dikonsumsi jika produk tersebut aman dari mikroba pathogen salah satunya bakteri Salmonella Sp. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui status higienis sanitasi dan cemaran bakteri Salmonella Sp. Metode penelitian yang digunakan untuk penelitian ini adalah observasional, menggunakan sampel sesuai dengan kriteria peneliti sebanyak 7 sampel serta mewawancarai pengelola RPA terkait dengan pertanyaan higienis dan sanitasi. Hasil penelitian yang menggunakan uji bakteri Salmonella sp (SNI 2897 : 2008) tidak didapatkan cemaran bakteri Salmonella Sp pada media serta pada hasil pengolahan data wawancara dari pengelola Rumah Pemotongan Ayam didapatkan hasil pada wawancara tentang higienis karyawan dan peralatan sebesar 80 %, Persyaratan peralatan 87,5%, persyaratan sarana 80% dan Persyaratan pengolahan daging 60 % keseluruhan hasil dari wawancara RPA hampir memenuhi syarat dari SNI 01-6160-1999. Kesimpulan dari tugas akhir ini adalah Sebanyak 7 sampel dinyatakan tidak tercemar bakteri Salmonella Sp, kemudian pada beberapa sampel ditemukan dugaan bakteri lain yang tumbuh disalah satu media serta kuisioner yang didapat berdasarkan wawancara hampir memenuhi persyaratan.
CREATININE LEVELS IN THE ELDERLY WHO SUFFERING HYPERTENSION AT BHAYANGKARA PALEMBANG HOSPITAL Nurhayati Nurhayati; Hamril Dani; Yusneli Yusneli; Erwin Edyansyah; Aura Maulina
Journal of Medical Laboratory and Science Vol 2 No 1 (2022): JMLS: Journal of Medical Laboratory and Science
Publisher : Jurusan Teknologi Laboratorium Medis, Poltekkes Kemenkes Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (111.319 KB) | DOI: 10.36086/medlabscience.v2i1.1290

Abstract

Lanjut usia adalah seseorang yang memiliki usia lebih atau sama dengan 55 tahun Komplikasi lansia dengan hipertensi akan berpengaruh ginjal, jumlah nefron ginjal akan berkurang karena mengalami kerusakan. Oleh karena itu, fungsi ginjal akan menurun. Tujuan Penelitian : Untuk mengetahui hasil pemeriksaan Kadar Kreatinin pada Lansia yang Menderita Hipertensi di RS Bhayangkara Palembang. Metode Penelitian Jenis penelitian adalah deskriptif dengan pendekatan secara cross sectional. Penelitian dilaksanakan pada bulan Febuari-Mei 2021. Popolasi penelitian ini adalah Semua data yang terdokumentasi lengkap dalam rekam medik dari pasien lansia yang menderita hipertensi yang menjalani pengobatan dan melakukan pemeriksaan kreatinin di Laboratorium RS Bhayangkara Palembang (151 data). Hasil Penelitian : Didapatkan hasil 69 pasien (45,7%) yang memiliki kadar kreatinin normal dan yang memiliki kadar kreatinin tinggi sebanyak 82 pasien (54,3%). Pasien Lanjut usia sangat tua (>90 tahun) didapatkan hasil kadar kreatinin tinggi sebanyak 3 pasien (100%) .laki-laki didapatkan hasil kadar kreatinin lebih tinggi sebanyak 35 pasien (53,8%). sedangkan pada perempuan didapatkan hasil kadar kreatinin tinggi sebanyak 42 pasien (48,8%). Berdasarkan Lama Menderita Hipertensi, kadar kreatinin tinggi pada kategori berisiko (>2tahun) yaitu 64,6% dan pada kategori tidak berisiko(<2tahun) kadar kreatinin tinggi yaitu 42,0%. Kesimpulan : 69 pasien (45,7%) yang memiliki kadar kreatinin normal sebanyak dan yang memiliki kadar kreatinin tinggi sebanyak 82 pasien (54,3%). Saran : Bagi Lansia yang Menderita Hipertensi disarankan untuk mengontrol tekanan darah dan melakukan pemeriksaan rutin sehingga dapat memperkecil risiko komplikasi ke organ lainnya
A URINE GLUCOSE LEVELS AND URINE SPECIFIC GRAVITY IN TYPE 2 DIABETES MELLITUS PATIENTS IN BUDHI ASIH HOSPITAL Arigayota Darwin Mahara Kala; Dian Rachma Wijayanti; Mohamad Syafaat
Journal of Medical Laboratory and Science Vol 2 No 2 (2022): JMLS: Journal of Medical Laboratory and Science
Publisher : Jurusan Teknologi Laboratorium Medis, Poltekkes Kemenkes Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (155.792 KB) | DOI: 10.36086/medlabscience.v2i2.1338

Abstract

Background: Diabetes mellitus is caused by the pancreas not being able to produce the insulin hormone that regulates glucose in the body, resulting in hyperglycemia which is associated with long-term damage, dysfunction, failure of various organs (eyes, kidneys, nerves, heart, and blood vessels). Diabetes is included as a non-communicable disease but has a priority for follow-up because the number of cases and its prevalence has continued to increase over the last few decades. Examination of diabetes mellitus can be done with blood samples and urine samples. Examination of diabetes mellitus with urine samples was carried out using the dipstick method to determine the parameters of urine glucose and urine specific gravity. Objective: To determine the correlation of urine glucose and urine specific gravity in patients with type 2 diabetes mellitus. Methods: Correlative analytic study with a cross-sectional approach. This study was conducted in January-September 2021 with samples of type 2 diabetes mellitus patients who examined urine glucose and urine specific gravity with the dipstick method. Results: The results of the correlation test of urine glucose and urine specific gravity in patients with type 2 diabetes mellitus are 0.065 (> 0.05) which means that there is no correlation between urine glucose and urine specific gravity in patients with type 2 diabetes mellitus. The results of the correlation coefficient of urine glucose and specific gravity urine in patients with type 2 diabetes mellitus is 0.189 which is included in the range of weak correlation coefficients. Conclusion: Based on these results, it can be concluded that there is no significant correlation between urine glucose and urine specific gravity in patients with type 2 diabetes mellitus.
BLOOD PRODUCT SAFETY Widaninggar Rahma Putri
Journal of Medical Laboratory and Science Vol 2 No 2 (2022): JMLS: Journal of Medical Laboratory and Science
Publisher : Jurusan Teknologi Laboratorium Medis, Poltekkes Kemenkes Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (298.209 KB) | DOI: 10.36086/medlabscience.v2i2.1357

Abstract

Background: Blood transfusion services are attempted to utilize human blood as a basic element for humanitarian purposes. Both blood and blood products are playing a crucial role in health services. Blood transfusion is a medical procedure that contains risks due to the possible risk of Blood-transfusion related infectious disease. Each blood product is requisite to be screened for blood-transfusion related infectious disease at least in 4 parameter such as Hepatitis B Surface Antigen (HBsAg), HIV 1/ HIV 2 Antibody, Hepatitis C antibody (anti-HCV) and Syphilis. Blood-transfusion related Infectious disease can be detected through antibody or antigen detection by various methods such as Chemiluminescence Immuno Assay (CLIA). Methods: This paper is a literature review, Results: CLIA has been developed in various field including clinical diagnosis of various disease due to its selective, sensitive, speedy and short time analysis time consuming. Conventional immunoassay methods requires longer incubation time, longer turnaround time and shorter detection range. Conclusion:CLIA can be used to reduce examination time while increasing its sensitivity and spesificity.

Page 2 of 10 | Total Record : 94