cover
Contact Name
Surya Akbar
Contact Email
jurnal.kedokteranstm@fk.uisu.ac.id
Phone
+6281370718283
Journal Mail Official
jurnal.kedokteranstm@fk.uisu.ac.id
Editorial Address
Jalan STM No. 77, Medan Johor, Medan, Sumatera Utara, Indonesia 20146
Location
Kota medan,
Sumatera utara
INDONESIA
Jurnal Kedokteran STM (Sains dan Teknologi Medik)
ISSN : 2614610X     EISSN : 26148218     DOI : https://doi.org/10.30743/stm
Jurnal Kedokteran STM (Sains dan Teknologi Medik) merupakan jurnal yang memiliki lingkup keilmuan kedokteran, terutama kedokteran dasar, biologi molekular, dan pendidikan kedokteran.
Articles 149 Documents
HUBUNGAN INTENSITAS PENGGUNAAN MEDIA SOSIAL DENGAN TINGKAT REGULASI EMOSI PADA REMAJA DI SMK NEGERI 2 MEDAN: THE RELATIONSHIP BETWEEN THE INTENSITY OF SOCIAL MEDIA USE AND THE LEVEL OF EMOTIONAL REGULATION AMONG ADOLESCENTS AT SMK NEGERI 2 MEDAN Selia Nazila; Meri Susanti; Bania Maulina; Selly Oktaria
Jurnal Kedokteran STM (Sains dan Teknologi Medik) Vol. 9 No. 2 (2026): Issue in Progress
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Islam Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30743/stm.v9i2.1215

Abstract

The use of social media among adolescents continues to increase and may influence psychological conditions, including the ability to regulate emotions. Exposure to negative content, social comparison, and high intensity of use may affect adolescents’ emotional regulation abilities. This study aimed to determine the relationship between the intensity of social media use and the level of emotional regulation among adolescents at SMK Negeri 2 Medan in 2025. This research employed a quantitative analytic method with a cross-sectional design. The sample consisted of adolescents aged 15–18 years selected using purposive sampling. Data were collected using the Social Media Use Integration Scale (SMUIS) to measure the intensity of social media use and the Emotion Regulation Questionnaire (ERQ) to assess emotional regulation. Data were analyzed using the Pearson correlation test. The results showed that the majority of respondents were male adolescents. The intensity of social media use was categorized as high, while the level of emotional regulation was categorized as low. Statistical analysis indicated that there was no significant relationship between the intensity of social media use and emotional regulation (p = 0.096; p > 0.05), with a correlation coefficient of r = 0.171, indicating a very weak positive relationship. In conclusion, there was a very weak positive relationship between the intensity of social media use and emotional regulation among adolescents at SMK Negeri 2 Medan; however, the relationship was not statistically significant. AbstrakPenggunaan media sosial pada remaja semakin meningkat dan berpotensi memengaruhi kondisi psikologis, termasuk kemampuan dalam mengatur emosi. Paparan konten negatif, perbandingan sosial, serta intensitas penggunaan yang tinggi dapat berdampak pada kemampuan regulasi emosi remaja. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara intensitas penggunaan media sosial dengan tingkat regulasi emosi pada remaja di SMK Negeri 2 Medan tahun 2025. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan analitik dan desain cross sectional. Sampel terdiri dari remaja berusia 15–18 tahun yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner Social Media Use Integration Scale (SMUIS) untuk mengukur intensitas penggunaan media sosial dan Emotion Regulation Questionnaire (ERQ) untuk mengukur regulasi emosi. Analisis data menggunakan uji korelasi Pearson. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas responden berjenis kelamin laki-laki. Intensitas penggunaan media sosial berada pada kategori tinggi, sedangkan tingkat regulasi emosi berada pada kategori rendah. Hasil analisis menunjukkan tidak terdapat hubungan yang signifikan antara intensitas penggunaan media sosial dengan regulasi emosi (p = 0,096; p > 0,05) dengan nilai koefisien korelasi r = 0,171 yang menunjukkan hubungan positif dengan tingkat kekuatan sangat lemah. Kesimpulannya, terdapat hubungan positif dengan tingkat kekuatan sangat lemah antara intensitas penggunaan media sosial dengan regulasi emosi pada remaja di SMK Negeri 2 Medan, namun hubungan tersebut tidak signifikan secara statistik.
KARAKTERISTIK HASIL PEMERIKSAAN PROFIL LIPID DAN GULA DARAH PADA PASIEN STROKE ISKEMIK DI RSU HAJI MEDAN TAHUN 2024: CHARACTERISTICS OF LIPID PROFILE AND BLOOD GLUCOSE TEST RESULTS ON THE PATIENTS OF ISCHEMIC STROKE AT RSU HAJI MEDAN IN 2024 Andhyka Kurniawan; Tezar Samekto Darungan; Dewi Pangestuti; Hardy Hasibuan
Jurnal Kedokteran STM (Sains dan Teknologi Medik) Vol. 9 No. 2 (2026): Issue in Progress
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Islam Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30743/stm.v9i2.1241

Abstract

Ischemic stroke is the most common type of stroke and contributes substantially to mortality and disability. Dyslipidemia and hyperglycemia play important roles in the pathophysiology of ischemic stroke and may influence clinical outcomes. This study aimed to describe the characteristics of lipid profile and random blood glucose levels among ischemic stroke patients at RSU Haji Medan in 2024. A descriptive retrospective design was applied using medical record data. The study included 83 eligible patients. The results showed that the largest age group was 55–62 years (28.9%) with male predominance (62.7%). Total cholesterol levels were mostly normal (49.4%), followed by borderline (33.7%) and high (16.9%). LDL levels were predominantly near optimal (31.3%) and borderline (30.1%), although high and very high levels were also observed. Low HDL levels were found in 48.2% of patients, while triglyceride levels were largely normal (62.7%). Random blood glucose levels were mainly normal (45.8%), with considerable proportions of prediabetes (27.7%) and diabetes (26.5%). In conclusion, abnormalities in lipid and glucose metabolism remain common in ischemic stroke patients, with dyslipidemia and hyperglycemia representing prominent metabolic characteristics. AbstrakStroke iskemik merupakan jenis stroke yang paling sering terjadi dan berkontribusi besar terhadap angka kematian serta kecacatan. Dislipidemia dan hiperglikemia diketahui berperan dalam patofisiologi stroke iskemik serta memengaruhi kondisi klinis pasien. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik hasil pemeriksaan profil lipid dan gula darah sewaktu pada pasien stroke iskemik di RSU Haji Medan tahun 2024. Penelitian ini menggunakan desain deskriptif dengan pendekatan retrospektif terhadap data rekam medis. Sampel penelitian terdiri dari 83 pasien yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelompok usia terbanyak adalah 55–62 tahun (28,9%) dengan dominasi laki-laki (62,7%). Kadar kolesterol total sebagian besar berada pada kategori normal (49,4%), diikuti borderline (33,7%) dan tinggi (16,9%). Kadar LDL didominasi kategori mendekati optimal (31,3%) dan borderline (30,1%), namun kadar tinggi hingga sangat tinggi tetap ditemukan. Kadar HDL rendah dijumpai pada 48,2% pasien, sementara trigliserida umumnya normal (62,7%). Kadar glukosa darah sewaktu menunjukkan kategori normal (45,8%), dengan proporsi pre-diabetes (27,7%) dan diabetes (26,5%). Kesimpulan penelitian ini adalah bahwa gangguan metabolisme lipid dan glukosa masih sering ditemukan pada pasien stroke iskemik, dengan dislipidemia dan hiperglikemia sebagai karakteristik metabolik yang menonjol.
MASSA OVARIUM REKUREN DENGAN KADAR CA-125 SANGAT TINGGI YANG MENYERUPAI KEGANASAN: LAPORAN KASUS: RECURRENT OVARIAN MASS WITH EXTREMELY ELEVATED CA-125 MIMICKING MALIGNANCY: CASE REPORT Andhika Budi Sentoso; Ronny Ajartha Tarigan; Clarissa Anastasya; Zacky Aufnouval Firja Barus
Jurnal Kedokteran STM (Sains dan Teknologi Medik) Vol. 9 No. 2 (2026): Issue in Progress
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Islam Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30743/stm.v9i2.1263

Abstract

Ovarian endometrioma is a form of endometriosis that often presents a diagnostic challenge due to its ability to mimic ovarian malignancy both clinically and biochemically. Markedly elevated CA-125 levels may further raise suspicion of malignancy, potentially leading to overdiagnosis and overtreatment. We report the case of a 39-year-old woman with a recurrent ovarian mass presenting with progressive dysmenorrhea, abdominal enlargement, and menstrual irregularities. Examination revealed a large abdominal mass with a significantly elevated CA-125 level of 1,500 U/mL. Ultrasonography demonstrated a cystic lesion with a characteristic “ground glass appearance” without solid components, suggestive of endometrioma. However, intraoperative findings of extensive adhesions raised strong suspicion of malignancy. Frozen section analysis suggested a benign lesion consistent with endometrioma, which was subsequently confirmed by final histopathological examination. The patient subsequently underwent total hysterectomy and unilateral salpingo-oophorectomy, followed by postoperative GnRH agonist therapy. This case highlights that ovarian endometrioma can closely mimic ovarian malignancy, particularly in the presence of markedly elevated CA-125 levels. Histopathological examination remains the gold standard for definitive diagnosis. A comprehensive and individualized approach is essential to avoid unnecessary aggressive management and to optimize patient outcomes. AbstrakEndometrioma ovarium merupakan salah satu bentuk endometriosis yang sering menimbulkan tantangan diagnostik karena dapat menyerupai keganasan ovarium, baik secara klinis maupun biokimiawi. Peningkatan kadar CA-125 yang sangat tinggi sering kali memperkuat kecurigaan terhadap keganasan sehingga berpotensi menyebabkan overdiagnosis dan overtreatment. Dilaporkan kasus seorang wanita berusia 39 tahun dengan massa ovarium rekuren yang disertai keluhan dismenore progresif, pembesaran abdomen, dan gangguan menstruasi. Pemeriksaan menunjukkan massa abdomen berukuran besar dengan kadar CA-125 mencapai 1.500 U/mL. Ultrasonografi memperlihatkan lesi kistik dengan gambaran khas ground glass appearance tanpa komponen solid yang mengarah pada diagnosis endometrioma. Namun, temuan intraoperatif berupa adhesi luas menimbulkan kecurigaan kuat terhadap keganasan ovarium. Pemeriksaan frozen section menunjukkan lesi jinak yang konsisten dengan endometrioma dan selanjutnya dikonfirmasi melalui pemeriksaan histopatologi definitif tanpa ditemukan tanda keganasan. Pasien menjalani histerektomi total dan salpingo-ooforektomi unilateral, diikuti terapi agonis GnRH pascaoperasi. Kasus ini menunjukkan bahwa endometrioma ovarium dapat menyerupai keganasan ovarium, terutama pada kondisi dengan kadar CA-125 yang sangat tinggi. Pemeriksaan histopatologi tetap merupakan standar emas dalam menegakkan diagnosis definitif. Pendekatan diagnostik yang komprehensif dan individual diperlukan untuk menghindari tindakan yang tidak perlu serta mengoptimalkan luaran pasien.
BERADA DI UJUNG TANDUK: MANAJEMEN ANESTESI PADA LANSIA DENGAN PERITONITIS YANG MENGALAMI GAGAL JANTUNG STADIUM AKHIR: BALANCING ON THE BRINK: ANESTHETIC MANAGEMENT IN GERIATRIC PERITONITIS WITH END-STAGE HEART FAILURE Bima Diokta Alparisi; Aisyah; Kurniaji; Ricko Yorinda Putra; Haryadi
Jurnal Kedokteran STM (Sains dan Teknologi Medik) Vol. 9 No. 2 (2026): Issue in Progress
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Islam Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30743/stm.v9i2.1271

Abstract

Anesthetic management in geriatric patients with peritonitis complicated by advanced cardiac failure represents a complex clinical challenge associated with high mortality risk. This condition is characterized by the interplay between sepsis-induced systemic inflammation and limited cardiac reserve, resulting in a fragile hemodynamic state. This study aims to explore a physiology-guided anesthetic approach to optimize perioperative hemodynamic stability. The method employed is a narrative review of recent international literature focusing on fluid management strategies, anesthetic agent selection, and vasoactive therapy in patients with severe ventricular dysfunction. The findings suggest that individualized management, supported by dynamic hemodynamic monitoring, cautious fluid resuscitation, and the use of agents that minimize myocardial depression, is essential to maintain adequate organ perfusion without exacerbating cardiac dysfunction. The discussion highlights the need to balance septic perfusion demands with the risk of fluid overload in compromised cardiac conditions. In conclusion, anesthetic management in this population should be multidisciplinary, adaptive, and guided by physiological targets to improve clinical outcomes. This approach may serve as a key strategy to reduce perioperative morbidity and mortality in high-risk geriatric patients. AbstrakManajemen anestesi pada pasien geriatri dengan peritonitis yang disertai gagal jantung lanjut merupakan tantangan klinis kompleks dengan risiko mortalitas tinggi. Kondisi ini ditandai oleh kombinasi inflamasi sistemik akibat sepsis dan keterbatasan cadangan jantung, yang menciptakan ketidakseimbangan hemodinamik yang sangat rapuh. Studi ini bertujuan untuk mengeksplorasi pendekatan anestesi berbasis fisiologi dalam mengoptimalkan stabilitas hemodinamik selama periode perioperatif. Metode yang digunakan berupa tinjauan naratif berbasis literatur internasional terkini yang menyoroti strategi manajemen cairan, penggunaan agen anestesi, serta terapi vasoaktif pada pasien dengan disfungsi ventrikel berat. Hasil menunjukkan bahwa pendekatan individualisasi dengan pemantauan hemodinamik dinamis, resusitasi cairan yang hati-hati, serta pemilihan obat yang meminimalkan depresi miokard merupakan kunci dalam menjaga perfusi organ tanpa memperburuk gagal jantung. Diskusi menekankan pentingnya keseimbangan antara kebutuhan perfusi akibat sepsis dan risiko overload cairan pada jantung yang sudah terganggu. Kesimpulannya, manajemen anestesi pada populasi ini harus bersifat multidisiplin, adaptif, dan berbasis target fisiologis untuk meningkatkan luaran klinis. Pendekatan ini berpotensi menjadi strategi utama dalam menurunkan morbiditas dan mortalitas perioperatif pada pasien berisiko tinggi.
KORELASI KADAR TROPONIN I DENGAN KADAR SERUM KALSIUM PADA SINDROMA KORONER AKUT: CORRELATION BETWEEN TROPONIN I LEVELS AND SERUM CALCIUM LEVELS IN ACUTE CORONARY SYNDROME Hadiyatur Rahma
Jurnal Kedokteran STM (Sains dan Teknologi Medik) Vol. 9 No. 2 (2026): Issue in Progress
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Islam Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30743/stm.v9i2.1289

Abstract

Acute coronary syndrome (ACS) encompasses a spectrum of clinical conditions resulting from a sudden reduction in coronary blood flow, primarily due to rupture of an atherosclerotic plaque followed by intraluminal thrombus formation. It represents a cardiovascular emergency that requires prompt diagnosis and timely management to reduce morbidity and mortality. Advances in diagnostic technology have refined cardiac troponin assays, improving their sensitivity and specificity for detecting and quantifying cardiomyocyte injury. Calcium plays a critical role in multiple biological processes associated with cardiovascular disease, including platelet adhesion and aggregation, coagulation, enzymatic activity, myocardial contractility, and cardiomyocyte apoptosis. This study aimed to evaluate the correlation between troponin I levels and serum calcium levels in patients with ACS. A cross-sectional study was conducted at H. Adam Malik General Hospital, Medan, between February and March 2024. The study included 40 patients diagnosed with ACS who met the inclusion and exclusion criteria. Troponin I and serum calcium levels were measured in all participants. Statistical analysis was performed using Spearman’s correlation test. Among the 40 participants, the majority were aged over 55 years, predominantly male (72.5%), and 67.5% had a history of smoking. The median troponin I level was 6.09 ng/mL (range 0.12–15), while the median serum calcium level was 8.86 mg/dL (range 7.4–11.5). A weak and non-significant negative correlation was observed between troponin I and serum calcium levels (r = −0.133, p = 0.415). In conclusion, no significant correlation was found between troponin I levels and serum calcium levels in patients with ACS. AbstrakSindrom koroner akut (SKA) merupakan spektrum kondisi klinis yang disebabkan oleh penurunan aliran darah koroner secara tiba-tiba akibat ruptur plak aterosklerotik dan pembentukan trombus intraluminal. Kondisi ini merupakan kegawatdaruratan kardiovaskular yang membutuhkan diagnosis dan penanganan cepat untuk menurunkan angka morbiditas dan mortalitas Kemajuan teknologi telah menyempurnakan tes Troponin dan meningkatkan akurasinya dalam mendeteksi dan mengukur cedera kardiomiosit. Kalsium memainkan peran penting dalam banyak proses biologis yang berhubungan dengan penyakit kardiovaskular, termasuk adhesi dan agregasi trombosit, pembekuan darah, aktivitas enzimatik, kontraksi jantung, dan apoptosis kardiomiosit. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis korelasi kadar troponin I dengan kadar serum kalsium pada SKA. Penelitian ini menggunakan desain cross sectional di RSUP H.Adam Malik Medan dari Februari 2024-Maret 2024. Subjek dalam penelitian ini adalah 40 pasien yang terdiagnosa SKA yang memenuhi kriteria inklusi dan ekslusi. Pasien diperiksakan troponin I dan serum kalsium. Analisa data dengan korelasi Spearman. Dari subjek penelitian 40 pasien, sebagian besar subjek penelitian berusia diatas 55 tahun, sebagian besar adalah laki-laki (72,5%), riwayat merokok sebesar 67,5%. Kadar median troponin I 6,09 ng/ml (0,12-15). Kadar median kalsium 8,86(7,4-11,5) mg/dL. Terdapat korelasi negatif lemah dan tidak signifikan antara troponin I dengan kalsium (r = -0,133 , p = 0,415). Tidak terdapat korelasi antara troponin I dengan kalsium.
STROKE ISKEMIK AKUT PASCA PPCI (PRIMARY PERCUTANEOUS CORONARY INTERVENTION) : SEBUAH LAPORAN KASUS MENGENAI STEMI ANTEROEKSTENSIF: ACUTE ISCHAEMIC STROKE POST PPCI (PRIMARY PERCUTANEOUS CORONARY INTERVENTION) : A CASE REPORT ON ANTEROSEPTAL STEMI Nisa El Hasanah; Hafiz Ahmad Ikhsanul Yannas; Putri Theresia L.A Bancin; Fikra Clara Anjelita; Gita Annisa Raditra
Jurnal Kedokteran STM (Sains dan Teknologi Medik) Vol. 9 No. 2 (2026): Issue in Progress
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Islam Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30743/stm.v9i2.1292

Abstract

Acute ischemic stroke is a serious but rare complication following primary percutaneous coronary intervention (PPCI) in patients with ST Elevation Myocardial Infarction (STEMI). The risk increases in the presence of heavy coronary thrombus and left ventricular dysfunction. A 54-year-old man presented with left chest pain radiating to the neck, accompanied by palpitations and diaphoresis. Electrocardiography showed ST segment elevation in leads V1–V6 consistent with extensive anterior STEMI. Coronary angiography revealed subtotal occlusion and thrombus in the proximal left anterior descending artery (LAD), severe stenosis of the left circumflex artery (LCX), and chronic total occlusion (CTO) of the right coronary artery (RCA). The patient received antiplatelet therapy, statins, insulin, and underwent PPCI on the LAD. Four hours post-PPCI, the patient experienced decreased consciousness and left-sided hemiparesis. Head CT scan showed a large right temporoparietal infarct. Echocardiography showed an ejection fraction of 36% with spontaneous echo contrast (SEC) supporting cardioembolic embolism. After two weeks of intensive care, hemodynamic condition improved with residual left hemiparesis and global aphasia. In conclusion, acute ischemic stroke post-PPCI in STEMI is associated with high thrombus burden, left ventricular dysfunction, and risk of systemic embolism, thus requiring close neurological monitoring post reperfusion. AbstrakStroke iskemik akut merupakan komplikasi serius namun jarang terjadi setelah primary percutaneous coronary intervention (PPCI) pada pasien ST Elevation Myocardial Infarction (STEMI). Risiko meningkat pada kondisi trombus koroner berat dan disfungsi ventrikel kiri. Dijumpai Seorang laki-laki 54 tahun datang dengan nyeri dada kiri menjalar ke leher disertai palpitasi dan diaforesis. Elektrokardiografi menunjukkan elevasi segmen ST pada sadapan V1–V6 yang sesuai dengan STEMI anteroekstensif. Angiografi koroner menunjukkan subtotal oklusi dan trombus pada left anterior descending artery (LAD) proksimal, stenosis berat left circumflex artery (LCX), serta chronic total occlusion (CTO) right coronary artery (RCA). Pasien mendapat terapi antiplatelet, statin, insulin, dan dilakukan PPCI pada LAD. Empat jam pasca-PPCI, pasien mengalami penurunan kesadaran dan hemiparesis sinistra. CT-scan kepala menunjukkan infark luas temporoparietalis kanan. Ekokardiografi menunjukkan ejeksi fraksi 36% dengan spontaneous echo contrast (SEC) yang mendukung emboli kardioembolik. Setelah dua minggu perawatan intensif, kondisi hemodinamik membaik dengan sisa hemiparesis sinistra dan afasia global. Kesimpulannya Stroke iskemik akut pasca-PPCI pada STEMI berkaitan dengan tingginya beban trombus, disfungsi ventrikel kiri, dan risiko emboli sistemik sehingga diperlukan pemantauan neurologis ketat pasca reperfusi.
FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PENGGUNAAN ALAT KONTRASEPSI DALAM RAHIM (AKDR) PADA IBU DI DESA PADANG MANINJAU TAHUN 2025: FACTORS ASSOCIATED WITH IUD USE AMONG WOMEN IN PADANG MANINJAU, INDONESIA 2025 Ronny Ajartha Tarigan; Andhika Budi Sentoso; Wilda Wahyudi Siregar
Jurnal Kedokteran STM (Sains dan Teknologi Medik) Vol. 9 No. 2 (2026): Issue in Progress
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Islam Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30743/stm.v9i2.1300

Abstract

The use of intrauterine devices (IUDs) as a long-acting contraceptive method remains relatively low in the community, despite their high effectiveness and safety. The low utilization of IUDs is presumed to be influenced by various individual and social factors. This study aimed to analyze factors associated with IUD use in Padang Maninjau Village, Aek Kuo District, North Labuhanbatu Regency in 2025. This study employed a quantitative method with a cross-sectional design. A total of 25 respondents were selected using a total sampling technique. Data were collected using structured questionnaires and analyzed using the Fisher Exact test with a significance level of α = 0.05. The results showed that there were significant associations between age, education, occupation, knowledge, and husband’s support with IUD use (p value < 0.05). Maternal knowledge and husband’s support demonstrated stronger associations with IUD use compared to other variables. In conclusion, IUD use is associated with both individual and social factors. However, these findings should be interpreted with caution due to the small sample size and uneven data distribution. Therefore, improving health education and enhancing husband involvement in family planning programs are recommended to increase IUD utilization. AbstrakPenggunaan Alat Kontrasepsi Dalam Rahim (AKDR) sebagai metode kontrasepsi jangka panjang masih tergolong rendah di masyarakat, meskipun memiliki efektivitas tinggi dan aman digunakan. Rendahnya penggunaan AKDR diduga dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik individu maupun sosial. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan penggunaan AKDR di Desa Padang Maninjau, Kecamatan Aek Kuo, Kabupaten Labuhanbatu Utara Tahun 2025. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain cross-sectional. Sampel penelitian sebanyak 25 responden yang dipilih dengan teknik total sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner terstruktur dan dianalisis menggunakan uji Fisher Exact dengan tingkat signifikansi α = 0,05. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara usia, pendidikan, pekerjaan, pengetahuan, dan dukungan suami dengan penggunaan AKDR (p-value < 0,05). Pengetahuan ibu dan dukungan suami menunjukkan keterkaitan yang lebih kuat dengan penggunaan AKDR dibandingkan variabel lainnya. Kesimpulan penelitian ini menunjukkan bahwa penggunaan AKDR berkaitan dengan faktor individu dan sosial. Namun, hasil penelitian ini perlu diinterpretasikan secara hati-hati mengingat ukuran sampel yang relatif kecil dan distribusi data yang tidak merata. Oleh karena itu, diperlukan peningkatan edukasi kesehatan serta keterlibatan suami dalam program keluarga berencana untuk meningkatkan penggunaan AKDR.
HUBUNGAN POLA ISTIRAHAT TERHADAP PRODUKSI ASI PADA IBU MENYUSUI DI KLINIK OS MEDIKA TAHUN 2025: RELATIONSHIP BETWEEN REST PATTERNS AND BREAST MILK PRODUCTION AMONG BREASTFEEDING MOTHERS AT OS MEDIKA CLINIC IN 2025 Ronny Ajartha Tarigan; Andhika Budi Sentoso; Wilda Wahyuni Siregar
Jurnal Kedokteran STM (Sains dan Teknologi Medik) Vol. 9 No. 2 (2026): Issue in Progress
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Islam Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30743/stm.v9i2.1301

Abstract

Breast milk is the primary source of nutrition for infants; however, the success of exclusive breastfeeding remains a global challenge. One factor that may be associated with breast milk production is the rest pattern of breastfeeding mothers, which is closely related to the balance of lactation hormones. Physiologically, inadequate rest may increase stress hormone levels such as cortisol, which can inhibit the action of prolactin and oxytocin, thereby disrupting the production and ejection of breast milk. This study aimed to analyze the relationship between rest patterns and breast milk production among breastfeeding mothers at OS Medika Clinic in 2025. This study employed a quantitative method with a cross-sectional design. A total of 20 breastfeeding mothers were selected using a total sampling technique. Data were collected through structured questionnaires and analyzed using the Fisher Exact test. The results showed that 60% of respondents had good rest patterns and 65% had smooth breast milk production. Bivariate analysis revealed a significant relationship between rest patterns and breast milk production (p = 0.037). Mothers with good rest patterns tended to have smoother breast milk production compared to those with poor rest patterns. In conclusion, there was a significant relationship between rest patterns and breast milk production among breastfeeding mothers. Therefore, education regarding the importance of adequate rest during the breastfeeding period should be strengthened as an effort to support optimal breast milk production. AbstrakAir Susu Ibu (ASI) merupakan sumber nutrisi utama bagi bayi, namun keberhasilan pemberian ASI eksklusif masih menjadi tantangan global. Salah satu faktor yang diduga berhubungan dengan produksi ASI adalah pola istirahat ibu menyusui, yang berkaitan dengan keseimbangan hormon laktasi. Kurangnya istirahat secara fisiologis dapat meningkatkan kadar hormon stres seperti kortisol yang menghambat kerja hormon prolaktin dan oksitosin sehingga mengganggu proses produksi dan pengeluaran ASI. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara pola istirahat dengan produksi ASI pada ibu menyusui di Klinik OS Medika Tahun 2025. Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional. Sampel penelitian berjumlah 20 ibu menyusui yang dipilih menggunakan teknik total sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner terstruktur dan dianalisis menggunakan uji Fisher Exact. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 60% responden memiliki pola istirahat yang baik dan 65% memiliki produksi ASI yang lancar. Analisis bivariat menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara pola istirahat dengan produksi ASI (p = 0,037). Ibu dengan pola istirahat baik cenderung memiliki produksi ASI yang lebih lancar dibandingkan dengan ibu yang memiliki pola istirahat kurang. Kesimpulan penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara pola istirahat dan produksi ASI pada ibu menyusui. Oleh karena itu, edukasi mengenai pentingnya pemenuhan kebutuhan istirahat selama masa menyusui perlu ditingkatkan sebagai upaya mendukung kelancaran produksi ASI.
POTRET BUDAYA KESELAMATAN KERJA: PRAKTIK APD DAN PREVALENSI GANGGUAN KULIT NELAYAN TRADISIONAL TANJUNG BALAI ASAHAN : OCCUPATIONAL SAFETY CULTURE: PPE USAGE PRACTICES AND SKIN DISORDER PREVALENCE AMONG TRADITIONAL FISHERMEN IN TANJUNG BALAI ASAHAN Aynil Paydah Harahap; Marlina Elfa Lubis; Rian Fedriko Ginting; Apriliani
Jurnal Kedokteran STM (Sains dan Teknologi Medik) Vol. 9 No. 2 (2026): Issue in Progress
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Islam Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30743/stm.v9i2.1305

Abstract

Traditional fishermen face a high risk of skin health disorders due to extreme exposure to ultraviolet radiation and sea salinity. This study aims to capture the occupational safety culture through the practice of Personal Protective Equipment (PPE) usage and the prevalence of skin disorders among traditional fishermen in Tanjung Balai Asahan. The research method used was quantitative with a cross-sectional design. A total of 110 fishermen were selected as samples using the total sampling technique. The results showed that PPE usage practices were still low and partial, with 54.5% of fishermen only wearing two types of PPE while working. The majority of fishermen prioritized the use of boots (68.2%) and hats (62.7%), but ignored long-sleeved clothing (54.5% did not use) and gloves (52.7% did not use). The prevalence of skin disorders was found to be very significant at 64.5%, with the dominant types being dermatitis (32.7%), followed by scabies (18.2%) and tinea corporis (13.6%). The conclusion of this study indicates a correlation between low comprehensive PPE compliance and high skin morbidity rates. Occupational safety education interventions focusing on changes in risk perception and improvement of personal hygiene are needed to reduce morbidity rates in the fishing community. AbstrakNelayan tradisional menghadapi risiko tinggi gangguan kesehatan kulit akibat pajanan radiasi ultraviolet dan salinitas air laut yang ekstrem. Penelitian ini bertujuan untuk memotret budaya keselamatan kerja melalui praktik penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) dan prevalensi gangguan kulit pada nelayan tradisional di Tanjung Balai Asahan. Metode penelitian yang digunakan adalah kuantitatif dengan desain potong lintang (cross-sectional). Sampel penelitian sebanyak 110 nelayan diambil menggunakan teknik total sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa praktik penggunaan APD masih rendah dan bersifat parsial, di mana 54,5% nelayan hanya menggunakan dua jenis APD selama bekerja. Mayoritas nelayan memprioritaskan penggunaan sepatu boot (68,2%) dan topi (62,7%), namun mengabaikan pakaian lengan panjang (54,5% tidak menggunakan) dan sarung tangan (52,7% tidak menggunakan). Prevalensi gangguan kulit ditemukan sangat signifikan sebesar 64,5%, dengan jenis gangguan dominan berupa dermatitis (32,7%), diikuti skabies (18,2%) dan tinea corporis (13,6%). Kesimpulan penelitian ini menunjukkan adanya keterkaitan antara rendahnya kepatuhan APD yang komprehensif dengan tingginya angka kesakitan kulit. Diperlukan intervensi edukasi keselamatan kerja yang berfokus pada perubahan persepsi risiko dan peningkatan personal hygiene untuk menekan angka morbiditas pada komunitas nelayan.