cover
Contact Name
Harianto GP
Contact Email
jurnalexcelsiorpendidikan.jep@gmail.com
Phone
+6282359496409
Journal Mail Official
jurnalexcelsiorpendidikan.jep@gmail.com
Editorial Address
Sekolah Tinggi Teologi Excelsius Jl. Tambak Oso F2 - Royal Crown Palace
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Excelsior Pendidikan
ISSN : -     EISSN : 27471675     DOI : https://doi.org/10.51730/jep.v4i1
Jurnal Excelsior Pendidikan adalah jurnal penelitian peer-review, akses terbuka berkualitas tinggi yang diterbitkan oleh Sekolah Tinggi Teologi Excelsius. Jurnal Excelsior Pendidikan menyediakan platform yang menyambut dan mengakui makalah penelitian empiris berkualitas tinggi tentang pendidikan yang ditulis oleh para peneliti, akademisi, profesional, dan staf dari seluruh dunia.
Articles 58 Documents
PARENTING BEDA GENERASI: POLA ASUH ANAK DALAM PEMBELAJARAN HOLISTIK PADA ZAMAN MILENIAL Victoria Woen
Jurnal Excelsior Pendidikan Vol. 3 No. 1 (2022): April 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Excelsius

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (301.224 KB) | DOI: 10.51730/jep.v3i1.24

Abstract

Abstract: Child abuse has occurred across borders: brawls, theft, immorality, drugs, pornography, smoking, and the like. The purpose of this newsletter is to study parenting patterns from various generations, the characteristics and functions of their own circle of relatives, and techniques for holistic parenting to be recognized in the millennial era. This study uses a literature study with the results: (1) Generational differences in parenting because generations continue to move so that generational modifications have very large variations in parenting patterns within their own relatives. Now the Alpha era (Z era) born with this generation is growing rapidly. (2) The kinship circle itself is a collection unit in which there may be the presence of different parents, children, and relatives, and have emotional ties and interrelated experiences. (4) Child Parenting Patterns in Holistic Learning in Various Generations of Parenting: Families know parenting, Christ middle nose to parent, the person knows to parent, ability knows parenting, and cyber intelligent know to parent.
PELAKSANAAN PENDIDIKAN KARAKTER TERHADAP PESERTA DIDIK DI SMK KRISTEN AGAPE PATRIA SOSOK Ambrosius Siligar
Jurnal Excelsior Pendidikan Vol. 2 No. 2 (2021): Oktober 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Excelsius

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (164.824 KB) | DOI: 10.51730/jep.v2i2.16

Abstract

Abstract: National education aims to develop the potential of students to become human beings who believe, fear Almighty God, have a noble character, are informed, capable, creative, independent, and become democratic and responsible citizens. The formulation of the research is as follows: What is the form of character education carried out at the Agape Patria Gambar Christian Vocational School? How is character education applied to student intelligence at Agape Patria Figure Christian Vocational School? This study uses a descriptive approach. Answers: (1) The form of character education provided at Agape Patria Christian Vocational High School is as follows: the honesty of students at Agape Patria Christian Vocational High School is doing well, the discipline of students at Agape Patria Christian Vocational High School school is going well and the responsibilities of the students of the Agape Patria Christian Vocational High School are good. (2) The application of character education to the intelligence of students at Agape Patria Christian Vocational School is: (a) in the character of honesty, students begin to study seriously and work hard to obtain pure grades from the results of tests and examinations carried out outside. (b) in the character of discipline, students begin to learn to live a disciplined life because it has been taught and practiced by educators and students. (c) in a responsible character by teaching and giving examples to educators on how to be responsible for something, hoping for significant changes and progress. (d) the implementation of honest, disciplined, and responsible character education for students, through a long process, will have an impact on increasing general intelligence.  Pendidikan nasional bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, berakhlak mulia, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Rumusan penelitian berikut: Bagaimanakah bentuk pendidikan karakter yang dilaksanakan di SMK Kristen Agape Patria Sosok?  Bagaimanakah penerapan pendidikan karakter terhadap kecerdasan siswa di SMK Kristen Agape Patria Sosok? Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif.  Jawaban: (1) Bentuk pendidikan karakter yang dilaksanakan di SMK Kristen Agape Patria Sosok adalah: kejujuran siswa SMK Kristen Agape Patria  berjalan dengan baik, kedisiplinan siswa SMK Kristen Agape Patria  berjalan dengan baik, dan tanggung jawab siswa SMK Kristen Agape Patria adalah baik.   (2) Penerapan pendidikan karakter terhadap kecerdasan siswa di SMK Kristen Agape Patria Sosok adalah: (a) dalam karakter kejujuran, siswa mulai belajar dengan sungguh-sungguh dan bekerja keras untuk memperoleh nilai  murni dari hasil ulangan dan ujian yang dilaksanakan. (b) dalam karakter disiplin, siswa mulai belajar menjalani kehidupan yang disiplin karena telah diajarkan dan diamalkan oleh pendidik dan siswa. (c) dalam karakter bertanggung jawab dengan mengajarkan dan memberi contoh kepada pendidik tentang bagaimana bertanggung jawab terhadap sesuatu, semoga mengalami perubahan dan kemajuan yang berarti. (d)  melaksanakan pendidikan karakter jujur, disiplin dan tanggung jawab kepada siswa, melalui  proses yang panjang, akan berdampak pada peningkatan kecerdasan secara keseluruhan.
PENGARUH PEMAHAMAN PENDIDIKAN PUJIAN PENYEMBAHAN MENURUT 2 TAWARIKH 20: 18-21 TERHADAP JEMAAT POWER OF WORSHIP MINISTRY: SEJAUHMANAKAH? Sonny Herens Umboh; Yenny Ong
Jurnal Excelsior Pendidikan Vol. 2 No. 1 (2021): April 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Excelsius

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (398.294 KB) | DOI: 10.51730/jep.v2i1.12

Abstract

 Pendidikan  Pujian Penyembahan  merupakan salah satu bagian yang tidak dapat terlepaskan dari suatu Ibadah, namun seringkali umat Tuhan tidak menyadari hal itu, sehingga Pendidikan  Pujian Penyembahan  hanya dianggap suatu kebiasaan atau suatu kegiatan rutinitas saja didalam melakukan kegiatan ibadah. Hal ini dipengaruhi oleh minimnya pemahaman akan Pendidikan  Pujian Penyembahan  sehingga berdampak bagi gaya hidup Kristiani Umat Tuhan. Penelitian ini akan melihat apakah pemahaman Pendidikan  Pujian Penyembahan  menurut 2 Tawarikh 20:18-21 berpengaruh terhadap gaya hidup Kristiani khususnya Jemaat Power of Worship Ministry di Hotel Swiss Bel Inn Manyar Surabaya dengan jumlah responden 40 orang. Untuk meneliti dan membuktikan permasalahan tersebut, peneliti melakukan pengajaran tentang 2 tawarikh 20:18-21 kepada jemaat di Power of Worship Ministry di Hotel Swiss Bel Inn Manyar Surabaya, kemudian dilakukan survey berupa angket kepada seluruh jemaat di Power of Worship Ministry di Hotel Swiss Bel Inn Manyar Surabaya. Penelitian ini meliputi rancangan kualitatif dan kuantitatif. Penelitian kualitatif dilakukan untuk menemukan arti mula-mula dari frasa “Pendidikan  Pujian Penyembahan ” dalam kitab 2 tawarikh 20:18-21. Penelitian kuantitatif dilakukan untuk membuktikan apakah pemahaman Pendidikan  Pujian Penyembahan  mempengaruhi gaya hidup Kristiani di jemaat Power of Worship Ministry di Hotel Swiss Bel Inn Manyar Surabaya. Pada rancangan penelitian kuantitatif penelitian dilakukan survey lapangan melalui angket yang berisi pernyataan tertutup. Hasilnya diolah melalui SPSS 21. Pemahaman Pendidikan  Pujian Penyembahan  akan berdampak terhadapa gaya hidup Kristiani.Bertolak dari acuan teori dan berdasarkan penelitian maka dapat di temukan bahwa: (1) Pendidikan  Pujian Penyembahan  menurut 2 Tawarikh 20:18-21 adalah sikap yang dapat di lakukan dengan merendahkan diri, Memuji Tuhan dan Bersyukur. (2) Gaya hidup Kristiani meliputi empat kategori yaitu: dalam dunia kerja, dalam hubungan sosial, dalam hidup bermasyarakat dan dalam relasi dengan Tuhan. (3) Adanya pengaruh yang kuat antara pemahaman Pendidikan  Pujian Penyembahan  terhadap gaya hidup Kristiani Jemaat Power of Worship Ministry di Hotel Swiss Bel Inn Manyar  Surabaya. (4) Pemahaman Pendidikan  Pujian Penyembahan  terhadap gaya hidup Kristiani Jemaat Power of Worship Ministry di Hotel Swiss Bel Inn Manyar Surabaya mini sangat kuat dengan  angka 64%. (5) Pengaruh bersyukur terhadap pemahaman Pendidikan  Pujian Penyembahan  adalah indikator yang  terkuat dengan angka 4,75. (6) Pengaruh bersikap professional terhadap gaya hidup Kristiani adalah indikator yang    terkuat dengan angka 4,70.Worship Praise Education is one part that cannot be separated from a worship, but God's people are not aware of it, so that the Worship Praise Education is only in a habit or a routine activity in carrying out worship activities. This is built on the lack of understanding of the Praise and Worship Education so that it has an impact on the Christian lifestyle of God's people. This research will look at whether the understanding of Worship Education according to 2 Chronicles 20: 18-21 affects the Christian lifestyle, especially the Power of Worship Ministry congregation at the Swiss Bel Inn Manyar Hotel Surabaya with 40 respondents. To test and prove this problem, the researcher built 2 chronicles 20: 18-21 to the congregation in the Power of Worship Ministry at the Swiss Bel Inn Manyar Hotel, Surabaya, then conducted a survey in the form of a questionnaire to the entire congregation at the Power of Worship Ministry at the Swiss Bel Hotel. Inn Manyar Surabaya. This research includes qualitative and quantitative designs. Qualitative research was carried out to find out the original meaning of the phrase "Praise and Worship Education" in 2 chronicles 20: 18-21. The research was conducted to prove whether the quantitative understanding of Praise of Worship influences the Christian lifestyle in the congregation of the Ministry of Worship at the Swiss Bel Inn Manyar Hotel, Surabaya. In the research design, quantitative research is carried out, field surveys through questionnaires that can state closed. The results are processed through SPSS 21. Understanding Worship Praise Education will have an impact on the Christian lifestyle. Starting from theoretical references and based on research, it can be found that: (1) Worship Education according to 2 Chronicles 20: 18-21 is an attitude that can be done by humbling oneself, Praising God and giving thanks. (2) The Christian lifestyle includes four categories, namely: in the world of work, in social relations, in social life and in relationship with God. (3) There is a strong influence between the understanding of Praise and Worship Education on the Christian lifestyle of the Power of Worship Ministry congregation at the Swiss Bel Inn Manyar Hotel, Surabaya. (4) Understanding Praise Education for the Christian lifestyle The Power of Worship Ministry at the Swiss Bel Inn Manyar Hotel in mini Surabaya is very strong with a figure of 64%. (5) The effect of gratitude on the understanding of Praise and Worship Education is the strongest indicator with the number 4.75. (6) the professional image of the Christian lifestyle is the strongest indicator with 4.70.
AGAPE SEBAGAI LANDASAN LEARNING LIVE TOGETHER UNTUK MENGEMBANGKAN KARAKTER INDIVIDU, KELUARGA, DAN MASYARAKAT Jonathan Wantoro
Jurnal Excelsior Pendidikan Vol. 2 No. 2 (2021): Oktober 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Excelsius

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (149.374 KB) | DOI: 10.51730/jep.v2i2.17

Abstract

Abstract: Love is something very vital and it's miles the primary factor of Christian teaching, first. The problem: How are Agape values taught on a foundation? How is Agape the Foundation for getting to know to stay collectively to increase individual, own circle of relatives, and network man or woman? This observation makes use of a qualitative technique with a descriptive approach. Answers: (1) Agape comes from God, God is agape, and the shape of God is agape. The traits of agape love are: patient, generous, now no longer jealous, now no longer smug and smug, now no longer rude, altruistic, forgiving, fair, questioning, and performing undoubtedly due to the fact love is capable to forgive mistakes.  (2) Agape as a foundation for getting to know to stay collectively to increase individual, own circle of relatives, and network characters as a useful resource for someone to stay with others.  The own circle of relatives turns into the right getting-to-know technique of existence. Social existence is a bigger technique wherein someone starts off evolved to take duty for the issues of society via way of means of making use of agape values to emerge as the idea for individual, own circle of relatives, and network man or woman growth.Abstrak: Kasih adalah sesuatu yang sangat penting dan merupakan pokok  ajaran Kristen, yang pertama-tama. Persoalannya: Bagaimanakah nilai-nilai Agape diajarkan dalam kehidupan sehari-hari? Bagaimanakah Agape Sebagai Landasan Learning Live Together untuk Mengembangkan Karakter Individu, Keluarga, dan Masyarakat? Penelitian literature review menghasilkan: (1) Agape berasal dari Tuhan, Tuhan adalah agape dan wujud Tuhan adalah agape.Ciri-ciri kasih agape adalah: sabar, dermawan, tidak cemburu, tidak sombong dan angkuh, tidak berbuat kasar, tidak mementingkan diri sendiri, pengampunan, keadilan, berpikir dan bertindak positif, karena kasih  mampu memaafkan kesalahan. (2) Agape sebagai dasar belajar hidup bersama untuk mengembangkan karakter individu, keluarga, dan masyarakat sebagai sumber daya seseorang untuk dapat hidup bersama  orang lain. Keluarga menjadi proses belajar hidup yang ideal. Hidup bermasyarakat merupakan proses yang lebih luas dalam dimana seseorang mulai bertanggung jawab atas masalah masyarakat dengan menerapkan nilai-nilai agape menjadi dasar  bagi pertumbuhan karakter individu, keluarga, dan masyarakat.
DAMPAK PENGAJARAN TENTANG ROH KUDUS TERHADAP PERTUMBUHAN ROHANI BAGI SISWA Apriman Wau; Belinda Mau
Jurnal Excelsior Pendidikan Vol. 2 No. 1 (2021): April 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Excelsius

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (447.53 KB) | DOI: 10.51730/jep.v2i1.8

Abstract

Pengaruh Kerohanian Siswa adalah proses melatih atau menanamkan pengetahuan serta membibing aktivitas anak dengan keteladanan seorang siswa yang ditandai dengan kejujuran dalam pengajaran, pertumbuhan rohani, kerendahan hati dan keteladanan.   Tujuan penelitian menjawab beberapa pertanyaan adalah: Apakah ada Pengaruh nilai-nilai “Pengembangan Pengajaran tentang Roh Kudus? Apakah terdapat pertumbuhan rohani Siswa Sekolah Orientasi melayani Bethany Nginden Surabaya yang ditandai dengan Roh Kudus sebagai Penghibur? Apakah terdapat pengaruh Roh Kudus dalam pengembangan pelayanan menurut Yohanes 14 : 26 bagi Siswa Sekolah Orientasi Melayani di Gereja Bethany Nginden Surabaya? Penelitian ini menggunakan pendekatan evaluasi. Hasil penelitian adalah: (1) Sekolah Orientasi Melayani harus memiliki Sumber Alkitab sebagai dasar pembahasan yang berkaitan dengan Roh Kudus. Disamping  itu buku-buku sebagai sumber informasi lain yang berkaitan dengan Roh Kudus dapat menolong mahasiswa dalam belajar Firman Tuhan Yohanens 14: 15-31 di kalangan sehinga apa yang dipelajari dapat diterapkan dalam pelayanan. (2) Jika pengembangan pengajaran Roh Kudus di Sekolah Orientasi Melayani mampu menolong siswa mengalami pertumbuhan Rohani maka Yohanes 14: 15-31 menjadi acuan siswa untuk penerapannya dalam kehidupan sehari-hari.  (3) Jika Pengembangan pengaruh pengajaran Roh Kudus memiliki banyak buku yang dapat mendidik orang dalam kebenaran, mengalami sebuah pertumbuhan dan perubahan iman, maka pengajaran Roh Kudus dapat menolong mahasiswa dalam belajar Firman Tuhan.
MODEL PENDIDIKAN KETELADANAN KEPEMIMPINAN: TANTANGAN PENGEMBANGAN SUMBER DAYA MANUSIA Render Bin Luwis
Jurnal Excelsior Pendidikan Vol. 1 No. 1 (2020): OKTOBER 2020
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Excelsius

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (588.502 KB) | DOI: 10.51730/jep.v1i1.2

Abstract

Abstract: Theoretical basis: Education (pedagogy) means science that investigates, and reflects on, the symptoms of educating. Research Objectives: To answer the following questions: (1) What is meant by exemplary leadership education? (2) How is exemplary education in teaching unity with the church based as a role model in resource development? (3) What is the model for exemplary leadership education? Methods: The research method in this article is qualitative, while the data collection techniques use interviews and observations, while the data collection technique has a data analysis process using the Husserlin phenomenology approach. Results: (1) Leadership education based on Ephesians 4: 1-16 is a model of exemplary character, exemplary teaching in church unity, and exemplary in church maturity. (2) Exemplary education in teaching unity with the congregation is based as a role model in human resource development among God's servants in GBBM that can be emulated by the congregation is an example of the character of Jesus Christ who is the only Lord and Savior for all people, ) The leadership model of "character integrity", which boils down to centering on the faith and character of Christ, is transmitted to the servants of God and then the entire church congregation. Christ's "character integration" is the human resource among the servants of God and the entire church congregation is eternal, unlimited, which will produce success in life and all ministries in the church.Abstrak: Landasan Teori: Pendidikan (pedagogi) berarti ilmu pengetahuan yang menyelidiki, dan merenungkan tentang gejala-gejala mendidik. Tujuan Penelitian: Menjawab persoalan-persoalan sebagai berikut: (1) Apakah yang dimaksud dengan pendidikan keteladanan kepemimpinan? (2) Bagaimanakah pendidikan keteladanan dalam pengajaran kesatuan dengan jemaat berdasarkan sebagai Role Model dalam Pengembangan Sumber Daya? (3) Bagaimanakah model pendidikan keteladanan kepemimpinan? Metode: Metode penelitian dalam artikel ini adalah Kualitatif, sedangkan teknik pengumpulan data menggunakan wawancara dan observasi sedangkan teknik pengumpulan data mempunyai proses analisis data menggunakan pendekatan Fenomenologi Husserlin. Hasil: (1) Pendidikan kepemimpinan berdasarkan Efesus 4:1-16 adalah model keteladanan dalam karakter, keteladanan dalam pengajaran kesatuan jemaat, dan keteladanan dalam pendewasaan jemaat.  (2)  Pendidikan keteladanan  dalam pengajaran kesatuan dengan jemaat berdasarkan sebagai Role  Model  dalam Pengembangan Sumber Daya  Manusia di antara para hamba Tuhan di GBBM yang dapat dicontoh oleh jemaat adalah teladan karakter Yesus Kristus yang merupakan satu-satunya Tuhan dan Juruselamat untuk semua orang, (3) Model kepemimpinan “integritas karakter”, yang bermuara dari berpusat pada iaman dan karakter Kristus, tertular kepada para hamba Tuhan  dan kemudian seluruh jemaat gereja. “integrase karakter” Kristus adalah sumber daya manusia di natara para hamba Tuhan dan seluruh jemaat gereja bersifat kekal, tidak terbatas, yang akan membuahkan keberhasilan dalam hidup dan segala pelayanan dalam gereja.
MODEL PEMBELAJARAN BLENDED-CYBER: INOVASI PROBLEM SOLVING DALAM PENGAJARAN, PENELITIAN, SUMBER BELAJAR, DAN PERANAN ETIKA SETELAH PASCA COVID-19 Harianto GP
Jurnal Excelsior Pendidikan Vol. 2 No. 2 (2021): Oktober 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Excelsius

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (265.494 KB) | DOI: 10.51730/jep.v2i2.18

Abstract

Abstract: The rapid development of technology that goes beyond human thought has now entered the Industrial Revolution 5.0: a metaverse life (a world of unlimited virtual communication) driven by the power of the internet, digitization, computers, and the like. Blended learning has become indispensable in the development of learning strategies in educational institutions even after Covid19. This study elaborates on the meaning, structure, and types of blended-cyber learning as a problem-solving innovation in teaching, research, learning resources, and the application of ethics in post-secondary education. Literature Review with the results: (1) Cyber Blended Learning is an online learning environment that focuses on students to facilitate learning activities via the Internet. The online learning environment is not only a website as a place to transfer paper materials into electronic files, but can also use e-mail. e-mail or other electronic means. The blended-cyber learning model always requires different work tools depending on the needs of each educational institution, therefore Blended Cyber is designed according to the needs of the objectives of the teaching and learning process. (2) Blended CyberLearning is the right and relevant solution to solve various cases of learning processes and resources. It is basically a combination of the benefits of learning that occurs in person and virtually. BlendedCyber Learning Model: (a) Innovation in problem-solving in teaching as a designer of various BlendedCyber Learning models. (b) Innovation in solving research problems by placing learning resources, latest research, and publications in various journals around the world (c) Innovation in solving problems in very effective learning resources. (d) Problem-Solving Innovation in solving ethical problems in the use of learning resources. It is recommended to adjust the use of the blended-Cyber learning model with the objectives of each teaching and learning process of educators.Abstrak: Perkembangan teknologi yang pesat yang melampaui pemikiran manusia kini memasuki Revolusi Industri 5.0: kehidupan metaverse (dunia komunikasi virtual tanpa batas) yang didorong oleh kekuatan internet, digitalisasi, komputer dan sejenisnya. Pembelajaran Blended telah menjadi sangat diperlukan dalam pengembangan strategi pembelajaran di lembaga pendidikan bahkan setelah Covid19. Kajian ini mengelaborasi pengertian, struktur dan jenis-jenis pembelajaran blended-cyber dan sebagai inovasi pemecahan masalah dalam pengajaran, penelitian, sumber belajar dan penerapan etika pasca pendidikan menengah. Tinjauan Pustaka dengan hasil: (1) Pembelajaran Blended Cyber adalah lingkungan belajar online yang berfokus pada siswa untuk memfasilitasi kegiatan belajar melalui Internet.Lingkungan belajar online tidak hanya berupa website sebagai tempat untuk mentransfer bahan kertas ke dalam file elektronik, tetapi juga dapat menggunakan e-mail atau sarana elektronik lainnya. Model pembelajaran blended-cyber selalu membutuhkan perangkat kerja yang berbeda-beda tergantung kebutuhan masing-masing institusi pendidikan, oleh karena itu Blended Cyber dirancang sesuai dengan kebutuhan tujuan dari proses belajar mengajar. (2) Pembelajaran Blended Cyber adalah solusi yang tepat dan relevan untuk menyelesaikan berbagai kasus proses dan sumber belajar. Ini pada dasarnya merupakan kombinasi dari manfaat pembelajaran yang terjadi secara langsung dan virtual. Model Pembelajaran BlendedCyber: (a) Inovasi dalam pemecahan masalah dalam pengajaran sebagai perancang berbagai model Pembelajaran BlendedCyber.(b) Inovasi dalam memecahkan masalah penelitian dengan menempatkan sumber belajar, penelitian terbaru dan publikasi di berbagai jurnal di seluruh dunia (c) Inovasi dalam memecahkan masalah dalam sumber belajar sangat efektif. (d) Problem Solving Inovasi dalam memecahkan masalah etika dalam penggunaan sumber belajar. Disarankan untuk menyesuaikan penggunaan model pembelajaran blended-Cyber dengan tujuan dari setiap proses belajar mengajar pendidik.Kata kunci: model pembelajaran Blended-Cyber; problem solving, pengajaran, penelitian, sumber belajar; etika
PENDIDIKAN KUALIFIKASI DAN FUNGSI SEORANG PENATUA: SEJAUH BAGAIMANAKAH PARA HAMBA TUHAN MELAKUKANNYA? Mariduk Tambun
Jurnal Excelsior Pendidikan Vol. 2 No. 1 (2021): April 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Excelsius

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (344.317 KB) | DOI: 10.51730/jep.v2i1.10

Abstract

Peranan seorang Penatua untuk pemberitaan dan perluasan Firman Tuhan ke segala aspek kehidupan berjemaat dalam suatu gereja adakalanya terabaikan. Persoalan yang timbul: Apakah kualifikasi penatua berdasarkan Titus 1:5-9? Apakah fungsi penatua berdasarkan Titus 1:5-9? Bagaimanakah pendidikan kualifikasi dan fungsi penatua berdasarkan Titus 1:5-9 diaplikasikan di POUK Dian Kasih Sukatani, Tapos, Depok? Penelitian ini menggunakan kualitatif deskriptif. Jawaban penelitian: (1) kualifikasi seorang penatua berdasarkan Titus 1:5-9 adalah seorang yang suci, tidak bercacat, bukan orang yang angkuh, bukan pemarah, bukan peminum, tidak kasar, tidak serakah, ramah, mencintai kebaikan, bijaksana, adil, kudus, dapat mengontrol diri, menaati kebenaran, dapat dipercaya. (2) fungsi sebagai penatua untuk menjalankan fungsinya sebagai seorang penilik (uskup) atau pengawas dalam rumah Allah. Fungsi sebagai seorang penilik atau pengawas rumah Allah. Fungsi untuk menasihati setiap jemaat dengan ajaran sehat. Fungsi menunjukan kesalahan dan menegor (memperbaiki) setiap para penentang Injil. (3) responden setuju menuju sangat setuju (700-80%)  dengan adanya pendidikan kualifikasi dan fungsi penatua di Gereja  POUK Dian Kasih Sukatani, Tapos, Depok.
PERAN FUNDAMENTAL GURU PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN SEBAGAI GEMBALA DAN PEMIMPIN ROHANI BAGI PESERTA DIDIK Sri Wahyuni
Jurnal Excelsior Pendidikan Vol. 4 No. 1 (2023): April 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Excelsius

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51730/jep.v4i1.37

Abstract

Guru Pendidikan Agama Kristen memiliki peran yang sangat fundamental bagi pertumbuhan iman dan pembentukan karakter peserta didik. Indikator keberhasilan seorang Guru Pendidikan Agama Kristen bukan terletak pada kepiawaian dalam mengajar dan menghasilkan murid yang pintar, namun bagaimana membawa peserta didik bertumbuh dalam pengenalan akan Allah dan firman-Nya, sehingga menjadi pribadi yang beriman dan berkarakterkan Kristus. Persoalan yang muncul adalah: Apa peran fundamental guru Pendidikan Agama Kristen dalam bagi Peserta didik? Apa peran Guru Pendidikan Agama Kristen sebagai Gembala Bagi peserta didik?  Apa peran Guru Pendidikan Agama Kristen sebagai pemimpin Rohani bagi peserta didik?   Metode penelitian ini menggunakan metode kualitatif, yang mengacu kepada studi pustaka dengan pendekatan analisis isi.  Hasil penelitian: 1) Sebagai gembala guru Pendidikan Agama Kristen berperan untuk membimbing dan menuntun peserta didik ke jalan yang benar.  2) Sebagai pemimpin rohani guru pendidikan Agama Kristen berperan untuk memimpin peserta didik dengan kasih dan dengan keteladanan
MAKNA PERCAYA DIRI BERDASARKAN MAZMUR 27:1-3 TERHADAP HASIL BELAJAR SISWA KRISTEN SMA KEMALA BHAYANGKARI II SURABAYA Setiya Ajie Sukma
Jurnal Excelsior Pendidikan Vol. 3 No. 2 (2022): Oktober 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Excelsius

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51730/jep.v4i2.30

Abstract

Percaya diri adalah kemampuan yang perlu dimiliki oleh siswa/i kristen guna untuk mengembangkan nilai-nilai postif dalam diri. Dengan adanya kepercayaan diri tentu saja mampu untuk meningkatkan kemampuan belajar baik secar formal mau nonformal. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah makna percaya diri berdasarkan Mazmur 27:1-3, kedua, untuk mengetahui bagaimanakah hasil belajar siswa Kristen SMA Kemala Bhayangkari II Surabaya. Metode yang digunakan yaitu literatur rivew yang merupakan motode yang sistematis dalam melakukan identifikasi, evaluasi terhadap hasil penelitian dan pemikiran. Hasil dari penelitian ini ditemukan bahwa: pertama, mengenai pengertian percaya diri berdasarkan Mazmur 27:1-3 adalah yakin, optimis, dan berani, beriman teguh yang diwujudkan melalui komitmen untuk tekun berdoa dan tetap percay kepada Tuhan; dan kedua, Hasil belajar dapat berupa nilai maupun perubahan yang diperoleh siswa setelah terjadinya proses pembelajaran. Tidak hanya berupa nilai saja, tetapi dapat berupa perubahan perilaku yang menuju pada perubahan positif. Dari kegagalan, seseorang belajar untuk tidak melakukan kesalahan yang sama.