cover
Contact Name
Heni Indrayani
Contact Email
al-misykah@radenfatah.ac.id
Phone
+6285369830773
Journal Mail Official
Al-misykah@radenfatah.ac.id
Editorial Address
Program Studi Al-Quran dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin and Pemikiran Islam, Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang
Location
Kota palembang,
Sumatera selatan
INDONESIA
Al-Misykah: Jurnal Studi Al-qur'an dan Tafsir
ISSN : -     EISSN : 28093305     DOI : https://doi.org/10.19109/almisykah
Kajian Al-Qur’an, Ilmu Al-Qur’an, Living Qur’an, dan Metodologi Kajian Al-Qur’an dan Tafsir.
Articles 71 Documents
KONSEP ADIL POLIGAMI DALAM AL QURAN Elpa Nurjanah; Pathur Rahman; Anggi Wahyu Ari
Al-Misykah: Jurnal Studi Al-qur'an dan Tafsir Vol 1 No 2 (2020): Al-Misykah: Jurnal Studi Al-Quran dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al quran dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam, Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (270.375 KB) | DOI: 10.19109/almisykah.v1i2.9035

Abstract

Dalam aspek perkawinan, poligami termasuk suatu persoalan klasik yang menarik untuk dibahas. Bahkan sampai saat pembahasan poligami selalu mengundang kontroversi. Berbicara tentang poligami, hal yang sering mengundang perdebatan yaitu tentang “keadilan” permasalahan ini merupakan persoalan yang cukup panjang tidak saja di kalangan ahli hukum tetapi juga di masyarakat, lebih dekat lagi jika dikaitkan kondisi sosial di era modern ini yang cenderung tidak seperti zaman dulu, yang dilatarbelakangi kemoderenan dan kemajuan yang dicapai perempuan dalam berbagai aspek kehidupan. Berangkat dari permasalahan yang diangkat dan data yang akan di himpun, maka tampak jelas penelitian ini adalah penelitian kepustakaan (library research) dengan subyek dan objeknya berasal dari bahan-bahan kepustakaan (literatur) berupa kitab-kitab tafsir, kitab-kitab hadis, jurnal-jurnal, dan semua buku yang berkaitan dengan permasalahan yang diteliti. Adapun subyek atau pokok permasalahannya adalah semua ayat-ayat yang membahas tentang poligami khususnya terdapat di surah An-Nisa’ ayat tiga. Dan yang menjadi objek penelitian ini bukan susunan kalimat atau redaksi yang digunakan ayat-ayat tersebut, tetapi membahas tentang komparatif penafsiran antara tafsir Al-Mishbah dan Al-Azhar tentang ayat-ayat poligami. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan argumentasi hukum berpoligami menurut Quraish Shihab dan Buya Hamka serta untuk mengkomparasikan konsep adil poligami dalam Tafsir Al-Mishbah dan Al-Azhar. Dari penelitian tersebut terdapat kesimpulan bahwa dalam ayat ketiga surat An-Nisa’ terlihat jelas anjuran menikah lebih dari satu istri adalah awalnya dikarenakan untuk melindungi anak yatim, bukan semata-mata tentang poligami. Dalam ayat ini Buya Hamka menjelaskan adanya keizinan Allah swt untuk melakukan poligami, berbeda dengan Quraish Shihab yang berpendapat dalam tafsir Al-Mishbahnya, bahwa ayat ini menjelaskan tidak adanya anjuran atau kewajiban dalam melakukan poligami.
RELEVANSI PENDIDIKAN WANITA PERSPEKTIF QASIM AMIN TERHADAP PENDIDIKAN DALAM AL-QUR’AN Dewi Tri Yulianti; Muhajirin Muhajirin; Almunadi Almunadi
Al-Misykah: Jurnal Studi Al-qur'an dan Tafsir Vol 1 No 2 (2020): Al-Misykah: Jurnal Studi Al-Quran dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al quran dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam, Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (358.035 KB) | DOI: 10.19109/almisykah.v1i2.9037

Abstract

Dalam Masyarakat, khususnya di Mesir pada masa Qasim Amin, tradisi seklusi (pemingitan) wanita masih gencar ditegakkan dengan dalih menjaga kesucian wanita, bahkan mengejek wanita yang keluar rumah untuk mendapatkan intelektualitas. Maka Qasim Amin merasa perlu menyuarakan pentingnya pendidikan bagi wanita. Selain itu, diturunkannya al-Qur’an sebagai pedoman kehidupan manusia merupakan berkah untuk mencapai kebahagiaan sejati di dunia dan akhirat. Selain menegaskan pembebasan dan kesetaraan antara wanita dan laki-laki, al-Qur’an juga memuat persoalan pendidikan yang diangkat baik secara implisit maupun eksplisit, mulai dari proses pendidikan hingga materi pendidikan itu sendiri. Dengan menggunakan pendekatan tafsir tarbawi dan kombinasi antara metode maudhu’i dan tahlili, ditemukan bahwa pendidikan yang dikemukakan oleh Qasim Amin relevan dengan pendidikan yang terkandung dalam al-Qur’an.
PERKEMBANGAN MATERIAL AL QURAN HINGGA KE INDONESIA Zaki Faddad SZ; Anggi Wahyu Ari
Al-Misykah: Jurnal Studi Al-qur'an dan Tafsir Vol 2 No 1 (2021): Al-Misykah: Jurnal Studi Al-Quran dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al quran dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam, Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19109/almisykah.v2i1.9046

Abstract

Artikel ini membahas tentang proses bentuk material Al Quran dari mula hingga mushaf al Quran dalam bentuk kertas yang ada saat ini. Dengan metode pustaka, ditemukan bahwa mushaf quran terbuat dari kertas yang kita kenal saat ini dianggap suci, sesuci Al Quran itu sendiri. Ada adab tersendiri dalam membacanya, menyimpannya, hingga memegangnya, bahkan material pembuatannya pun harus diperhatikan kesuciannya. Dari semesta pemikiran itulah mengapa al Quran memerlukan waktu yang cukup lama dari turunnya kepada Nabi Muhammad untuk menjadi Mushaf, bahkan untuk mencetaknya dalam teknologi cetak Guttenberg memerlukan waktu yang cukup panjang karena takut menciderai kesuciannya.
MAULID SIMTUD DUROR DI PONDOK PESANTREN AR RIYADH 13 ULU PALEMBANG Ghalih Prayogo; Idrus Alkaf; RA Erika Septiana
Al-Misykah: Jurnal Studi Al-qur'an dan Tafsir Vol 2 No 1 (2021): Al-Misykah: Jurnal Studi Al-Quran dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al quran dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam, Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (339.031 KB) | DOI: 10.19109/almisykah.v2i1.9049

Abstract

Penelitian ini membahas mengenai amalan bacaan Al-Quran yang lahir dari praktik-praktik komunal yang menunjukkan persepsi sosial masyarakat atau kelompok tertentu terhadap Al-Quran. Adapun rumusan masalahnya yaitu bagaimana makna shalawat dalam QS. Al-Ahzab ayat 56 dan bagaimana realisasi pembacaan maulid simtud duror dalam Qs. Al-Ahzab ayat 56 di Pondok Pesantren Ar Riyadh 13 Ulu Palembang. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui bagaimana pemahaman guru, santri serta masyarakat di lingkungan Pesantren Ar Riyadh Palembang terhadap QS. Al-Ahzab 56 serta untuk mengetahui bagaimana praktik pembacaan simtud duror dengan QS. Al-Ahzab ayat 56 di lingkungan Pondok Pesantren Ar-Riyah 13 Ulu Palembang. Penelitian ini jenis penelitian lapangan (field research), menggunakan metode deskriptif kualitatif. Sumber data peniltian ini adalah data primer dan data sekunder. Data primer yaitu guru dan para santri di Pondok Pesantren Ar Riyadh 13 Ulu Palembang, sedangkan data sekunder yaitu masyarakat. Teknik pengumpulan data yaitu observasi, wawancara, dan dokumentasi. Penulis menggunakan metode living Qur’an, yaitu bagaimana al-Qur’an itu dipahami, dipraktekkan, dibaca dalam kehidupan. Hasil dari penelitian ini yaitu adanya perintah shalawat dalam Al-Quran yaitu pada QS. Al-Ahzab ayat 56 yang menjelaskan bahwasannya Allah Swt memerintahkan hambanya agar senantiasa bershalawat kepada Nabi Muhammad Saw. Realisasi pembacaan maulid simtud duror dengan QS. Al-Ahzab ayat 56 di Pondok Pesantren Ar Riyadh 13 Ulu Palembang, merupakan paktek pembaacan yang dilaksanakan pada mingguan, bulanan, dan tahunan yang diliakukan secara berjamaah. Adapun fungsi pembacaannya terhadap kehidupan sehari-hari yaitu sebagai bukti rasa cinta terhadap Nabi Saw, mengharapkan keberkahan, memperoleh ilmu, tempat menjalin silaturahmi, saling tolong-menolong sesama manusia, dan juga mendapatkan rezeki.
ETIKA MENUNTUT ILMU DALAM AL QURAN SURAH AL-KAHFI AYAT 60-78 Dedeh Kusmiyati
Al-Misykah: Jurnal Studi Al-qur'an dan Tafsir Vol 2 No 1 (2021): Al-Misykah: Jurnal Studi Al-Quran dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al quran dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam, Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (492.545 KB) | DOI: 10.19109/almisykah.v2i1.9050

Abstract

Rusaknya moralitas seorang murid itu bisa disebabkan karena perkembangan teknologi internet yang semakin bebas, sehingga murid bisa mengakses apa saja yang dia mau tanpa pengawasan intensif dari guru, hal itu menjadikannya lupa terhadap kunci untuk meraih keberkahan ilmu, yaitu etika dalam menuntut ilmu. Dari berbagai macam permasalahan moralitas murid, pendidikan yang berlandaskan Al Quran sangatlah dibutuhkan untuk menghadapi tantangan modernitas. Maka penarikan nilai-nilai etika dalam Al Quran merupakan upaya untuk menumbuhkan semangat Qur’ani dalam pendidikan Nasional, seperti nilai-nilai etika yang terkandung dalam kisah nabi Musa As dan nabi Khidir As dalam surah al-Kahfi ayat 60-78. Adapun rumusan masalah : 1. Apa pengertian Etika Menuntut Ilmu ?, 2. Bagaimana Etika Menuntut Ilmu dalam Surah al-Kahfi ayat 60-78 ?, 3. Bagaimana penafsiran Syekh Nawawi al-Bantani terhadap Surah al-Kahfi ayat 60-78?, tujuan dari penelitian ini adalah : 1. Untuk mengetahui pengertian Etika Menuntut Ilmu, 2. Untuk mengetahui Etika Menuntut Ilmu dalam Surah al-Kahfi ayat 60-78, 3. Untuk mengetahui penafsiran Syekh Nawawi al-Bantani terhadap Surah al-Kahfi ayat 60-78. Jenis penelitian dalam skripsi ini adalah studi kepustakaan (library research), penelitian ini menggunakan metode analisis, sumber data primer dalam penelitian ini adalah Tafsir Marāḥ Labīd, sedangkan data sekundernya diambil dari buku-buku yang relevan dengan tema yang dibahas. Berdasarkan penelitian ini dapat ditarik kesimpulan bahwasanya pengertian etika menuntut ilmu adalah Etika menuntut ilmu adalah aturan-aturan bagaimana cara berinteraksi antara murid dan guru dalam proses pembelajaran sehingga terjadi pola harmonis antara dirinya dengan para guru, maupun dengan ilmu dan sumber ilmu itu sendiri. Point-point etika menuntut ilmu dalam Surah al-Kahfi ayat 60-78 diantaranya yaitu mempunyai semangat yang tinggi, tidak putus asa dalam menuntut Ilmu, bersikap sopan, dan mempunyai komitmen untuk belajar.
PENAFSIRAN AHMAD MUSTHAFA AL-MARAGHI TERHADAP QS. AL-MA’UN DAN RELEVANSINYA DALAM PENGENTASAN KEMISKINAN Lukman Burhanudin Al-amin; Halimatussa’diyah Halimatussa’diyah; Hedhri Nadhiran
Al-Misykah: Jurnal Studi Al-qur'an dan Tafsir Vol 2 No 1 (2021): Al-Misykah: Jurnal Studi Al-Quran dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al quran dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam, Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (394.02 KB) | DOI: 10.19109/almisykah.v2i1.9052

Abstract

Penelitian ini mengkaji penafsiran Ahmad Musthafa al-Maraghi masalah kemiskinan dan bagaimana relevansi pengentasan kemiskinan. Dalam sejumlah literatur tafsir, masalah pendustaan terhadap agama dikupas secara mendalam sesuai dengan karakter dan kecenderungan mufasirnya. Surat al-Ma’un, di antara ayatnya ada pendusta agama yang tertuang di dalamnya. Namun, banyak juga mengandung hikmah serta nilai-nilai sosial yang dapat dijadikan rujukan untuk memecahkan masalah berupa pengentasan kemiskinan. Salah satu anjuran yang terdapat di dalam surat al-Ma’un adalah mengasihi anak yatim dan fakir/miskin, sehingga mendapatkan kasih sayang serta bentuk rasa kepedulian dari lingkungan sekitar. Islam sangat mendorong kepada umatnya agar tidak lalai dari status makhluk sosialnya yang saling membutuhkan sesama mahkluk ciptaan Allah swt, menganjurkan pemeluknya untuk memerhatikan lingkungan sekitar. Ibadah yang bersifat vertikal tidak lepas begitu saja dengan ibadah yang bersifat horizontal, bagaimana pun juga habluminaalaah dan hambluminnas harus seimbang. Al-Maraghi berbicara tentang orang-orang yang mendustakan agama menjadi persoalan. Mendustakan di sini dapat dimaknai sebagai pengingkaran dan penolakan terhadap kewajiban dalam menjalankan ajaran agama. Temuan penelitian menunjukan bahwa ciri-ciri pendusta agama menurut al-Maraghi adalah orang yang menghardik dan menolak keberadaan anak yatim, tidak memberi makan kepada fakir miskin, suka menghina dan bersikap sombong, shalatnya tidak membekas di hatinya, ingin mendapatkan pujian dan tidak memberikan apa yang dibutuhkan oleh fakir miskin. Relevansi pengentasan kemiskinan adalah seyogyanya umat Islam menumbuhkan sifat tidak bakhil/kikir, anjuran sedekah/infak, beribadah (ritual/spiritual) secara ikhlas, dan membangun etos kerja.
METODOLOGI PENAFSIRAN AYAT-AYAT ANTROPOMORFISME Muhammad Adib; Muhammad Noupal; Lukman Nul Hakim
Al-Misykah: Jurnal Studi Al-qur'an dan Tafsir Vol 2 No 1 (2021): Al-Misykah: Jurnal Studi Al-Quran dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al quran dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam, Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (393.983 KB) | DOI: 10.19109/almisykah.v2i1.9053

Abstract

Ayat-ayat antropomorfisme adalah ayat-ayat yang bila dipahami secara literal akan memberikan kesan bahwa tuhan adalah sosok yang memiliki tubuh, tersusun dari organ-organ dan mempunyai sifat-sifat yang sama dengan makhluk. Di antara para ulama yang mencoba memahami dan menjelaskan maksud dari ayat-ayat tersebut adalah Wahbah al-Zuhaili. Ia adalah seorang ulama kontemporer yang dikenal sebagai pakar hukum Islam dan tafsir. Metode penelitian yang dipakai untuk merampungkan karya tulis ini ialah metode deskriptif-analisis.Hasil dari penelitian ini adalah Wahbah al-Zuhaili cenderung lebih banyak menggunakan makna takwil untuk menjelaskan maksud dari ayat-ayat antropomorfisme tersebut agar lebih mudah dipahami oleh orang-orang awam serta menghindarkan mereka dari paham yang menyamakan Allah dengan makhluk (musyabbihah).
EPISTEMOLOGI TAFSIR NIDAA’UL QUR’AN KARYA AHMAD BIN ABDULLAH AL-HABSYI Huzaifah Huzaifah; John Supriyanto; Sulaiman M Nur
Al-Misykah: Jurnal Studi Al-qur'an dan Tafsir Vol 2 No 1 (2021): Al-Misykah: Jurnal Studi Al-Quran dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al quran dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam, Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (393.224 KB) | DOI: 10.19109/almisykah.v2i1.9056

Abstract

Tafsir Nidaa’ul Qur’an karya Ahmad bin Abdullah al-Habsyi merupakan karya tulis ulama lokal Palembang, Sumatera Selatan. Ahmad al-Habsyi adalah seorang ulama pesantren dan ulama Palembang yang sangat aktif di bidang dakwah. Karya tersebut dinamakan sebagai Tafsir Nidaa’ul Qur’an (Tafsir Surah al-Fatihah). Embrio dari lahirnya tafsir ini berawal dari kuliah atau ceramah subuh yang disampaikan Ahmad al-Habsyi di mushalla Darul Muttaqin dan disiarkan melalui radio GERSIDAM (Gerakan Syiar Dakwah Islam) Palembang. Adapun penelitian seputar tafsir di Sumatera Selatan belum banyak dilakukan oleh para peneliti. Berdasarkan alasan tersebut peneliti tertarik untuk mengkaji temaini lebih jauh. Kajian ini memfokuskan pada sisi epistemologi tafsir Nidaa’ul Qur’an yang meliputi sumber, metode dan validitas tafsir tersebut. Penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan (library research) dengan metode deskriptif-analisis. Kesimpulan penelitian ini adalah (1) Sumber yang digunakan oleh Ahmad al-Habsyi dalam melakukan penafsiran adalah (a) sumber bi al-Ma’tsur yaitu al-Qur’an, hadis, qaul sahabat, tabi’in, pendapat ulama tafsir dari berbagai literatur klasik dan modern, qira’at (variasi bacaan), syair-syair Arab, sirah (sejarah). (b) Sumber bi ar-Ra’yi yaitu analisis nahwu (gramatikal bahasa Arab), dan al-Amtsal (perumpamaan-perumpamaan) dalam kehidupan sehari-hari. (2) Metode yang digunakan dalam tafsir ini adalah metode tafsir Tahlili karena penafsiran ini menjelaskan berbagai aspek dari al-Qur’an dalam uraian yang cukup panjang untuk penafsiran surah al-Fatihah. Dan tafsir ini memiliki kecendrungan bercorak tasawuf amali (praktis). (3) Validitas kebenaran tafsir ini memuat kebenaran secara koherensi.
RESEPSI MASYARAKAT PONDOK PESANTREN SUBULUSSALAM SYARIF HIDAYATULLAH PUTRI TERHADAP TRADISI PEMBACAAN SURAT-SURAT PILIHAN cici noviana noviana; John Supriyanto; Deddy Ilyas
Al-Misykah: Jurnal Studi Al-qur'an dan Tafsir Vol 2 No 2 (2021): Al-Misykah: Jurnal Studi Al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al quran dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam, Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (929.134 KB) | DOI: 10.19109/almisykah.v2i2.10809

Abstract

This study aims to determine the basis of the arguments for reading selected chapters at the Subulussalam Syarif Hidayatullah Islamic Boarding School for Girls, in order to explain how the implementation procession and the understanding and meaning felt by the perpetors, as well as how the reception of the cottage community towards the tradition of reading these selected chapters. This type of research is field research using the living Qur'an method, so that by going to the field, data and information regarding the implementation of the tradition of reading selected chapters at the Subulussalam Syarif Hidayatullah Islamic Boarding School For Girls are collected clearly and can be responsible for, for data collection methods, namely primary and secondary data sources, using observation methods, interview methods with ethnographic approaches, and documentation methods, while for data analysis techniques in this study using description-explanatory analysis. After conducting a study in this research, it was found that the arguments for the primacy of Yasin's chapters, Al-Waqi'ah and Al-Mulk were the reasons the three chapters were chosen to be used as reading routines for the students. Technically the procession of carrying out the tradition of reading selected chapters begins with reading Surah Al Fatihah as reading hadarah or tawasul to the people who have died, which is then continued by reading selected chapters according to a predetermined schedule, and in the tradition of reading will closed by read the khotmil Qur'an prayer. As for the importance that has been felt by the leaders, administrators and students when they routinely practice the habit of reading these selected chapters from the results of previous interviews with them, namely, as a form of self-approach to Allah SWT, as a form to shape one's personality, and as a form of hope of virtue or fadhilah and blessings from Allah SWT.
KATA NAHNU SEBAGAI KATA GANTI ALLAH DALAM AL-QUR’AN (Studi Komparatif Kitab Tafsir Al-Kasysyaf dan Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim) HAFIZ HAFIZ; Moh. Isa Anshary; R.A. Erika Septiana
Al-Misykah: Jurnal Studi Al-qur'an dan Tafsir Vol 2 No 2 (2021): Al-Misykah: Jurnal Studi Al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al quran dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam, Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1136.896 KB) | DOI: 10.19109/almisykah.v2i2.10851

Abstract

This research is categorized as literature research. The primary sources of this research are the Tafsir Al-Qur'an Al-'Azhim and the Tafsir Al-Kasysyaf. Meanwhile, the secondary sources are all matters that related to this discussion. The composition of the verses of the Al-Qur'an is concise yet full of meanings that adding to the i'jaz uslub contained in it. One of the example is the pronoun or dhamir nahnu. The use of dhamir nahnu in the Qur'an is not only used as a plural for first-person pronoun, but is also used as a pronoun for Allah. Nahnu as a pronoun for Allah does not mean that Allah is numbered, because in Islamic understanding it explains that Allah is the oneness. The use of lafazh nahnu as a pronoun for Allah has its own purposes, such as a form of adoration or respect and as a show of His power. Based on this phenomenon, the researcher studied the lafazh nahnu as a pronoun for Allah in the Al-Qur'an by composing the Al-Qur'an Al-'Azhim tafsir book by Ibnu Katsir and the Al-Kasysyaf tafsir book by Az-Zamakhsyari. To study these verses, the writer uses jumlah ismiyyah, fi’liyyah and dhamir principles as analytical tools. The researcher focuses on verses that have lafazh nahnu as a pronoun for Allah in the Al-Qur'an. After analyzing the interpretation of these verses, it was found that the interpretation of verses with dhamir nahnu as a pronoun for Allah aims as a form of glorification or reinforcement of His power.