Cakradonya Dental Journal
Cakradonya Dental Journal (CDJ) is a scientific journal publishes twice a year, on February and August. CDJ publishes conceptual articles from original research results that are relevant to the fields of medicine, dental care, oral health, general dentistry, dental materials, and public health. CDJ also publishes literature reviews and case reports.
Articles
524 Documents
PERBANDINGAN EFEKTIFITAS ANTIBAKTERI INFUSUM LENGKUAS PUTIH DAN MERAH TERHADAP STAPHYLOCOCCUS AUREUS
Aria Fransiska;
Fadil Oenzil;
Havis Dharma Rafke
Cakradonya Dental Journal Vol 9, No 2 (2017): Desember 2017
Publisher : FKG Universitas Syiah Kuala
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24815/cdj.v9i2.9747
Salah satu tanaman yang biasa dimanfaatkan masyarakat Indonesia sebagai bahan obat-obatan adalah tanaman lengkuas. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui perbandingan efektifitas antibakteri infusum lengkuas putih dan merah terhadap Staphylococcus aureus. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental laboratoris. Analisis data menggunkan independent sample t-test. Hasil penelitian menunjukkan rata-rata zona hambat yang dihasilkan oleh infusum lengkuas putih adalah sebesar 14,27 mm, sedangkan infusum lengkuas merah adalah sebesar 19,40 mm. Hasil uji Independent Sample t-test menunjukkan bahwa terdapat perbedaan signifikan antara infusum lengkuas putih dan infusum lengkuas merah terhadap daya hambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus (p0,05). Kesimpulan penelitian ini adalah efek antibakteri infusum lengkuas merah lebih tinggi dibandingkan dengan infusum lengkuas putih terhadap daya hambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus.Kata kunci: Antibakteri, infusum, Staphylococcus aureus
PERBEDAAN KADAR GULA DARAH SEWAKTU SEBELUM DAN SETELAH PENCABUTAN GIGI PADA PASIEN DI INSTALASI GIGI DAN MULUT RSUDZA BANDA ACEH
Fakhrurrazi .;
Rachmi Fanani Hakim;
Laina Ulfa
Cakradonya Dental Journal Vol 9, No 2 (2017): Desember 2017
Publisher : FKG Universitas Syiah Kuala
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24815/cdj.v9i2.9746
Pencabutan gigi merupakan suatu prosedur bedah untuk mengeluarkan gigi dari dalam soket tulang alveolar. Pencabutan gigi dapat menimbulkan respon stres. Respon stres akan meningkatkan sirkulasi katekolamin dan glukokortikoid. Hormon-hormon ini akan menyebabkan peningkatan glukoneogenesis dan penurunan uptake glukosa di dalam sel dan jaringan. Hal ini akan menyebabkan terjadinya peningkatan kadar gula darah. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui perbedaan kadar gula darah sewaktu sebelum dan setelah pencabutan gigi pada pasien di Instalasi Gigi dan Mulut RSUDZA Banda Aceh. Metode penelitian ini adalah eksperimental klinis dengan rancangan one group pretest and posttest. Subjek penelitian berjumlah 23 orang yang diambil dengan teknik purposive sampling. Hasil penelitian menunjukkan kadar gula darah sewaktu rata-rata sebelum pencabutan gigi adalah 107,35 mg/dl dan rata-rata kadar gula darah sewaktu setelah pencabutan gigi adalah 122,96 mg/dl. Analisis statistik dengan menggunakan uji t berpasangan menghasilkan nilai p=0,000 (p0,05). Hasil analisis ini menunjukkan terdapat perbedaan kadar gula darah sewaktu yang bermakna antara sebelum dan setelah pencabutan gigi pada pasien di Instalasi Gigi dan Mulut RSUDZA Banda Aceh.Kata kunci: Gula darah sewaktu, pencabutan gigi
HUBUNGAN KEBIASAAN MEROKOK DENGAN DERAJAT KEASAMAN (pH) SALIVA PADA MAHASISWA JURUSAN TEKNIK SIPIL ANGKATAN 2010 FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS ANDALAS
Murniwati .;
Fadil Oenzil;
Idson Kamal;
Minarni .
Cakradonya Dental Journal Vol 9, No 2 (2017): Desember 2017
Publisher : FKG Universitas Syiah Kuala
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24815/cdj.v9i2.9745
Saliva merupakan cairan biologis pertama yang terpapar oleh asap rokok di rongga mulut. Asap rokok mengandung berbagai macam zat kimia yang dapat menyebabkan perubahan struktural dan fungsional pada saliva. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kebiasaan merokok dengan derajat keasaman (pH) saliva. Desain penelitian ini adalah Cross Sectional Study dengan sampel 48 mahasiswa jurusan Teknik Sipil angkatan 2010 Fakultas Teknik Universitas Andalas. Data kebiasaan merokok didapat melalui kuesioner dan pH saliva diukur menggunakan dental saliva pH indikator. Analisa data menggunakan Chi-Square dengan =0,05. Penelitian menunjukkan jenis rokok yang dikonsumsi adalah rokok putih (75%) dengan konsumsi per hari sebanyak 5-14 batang (54,2%). Responden telah mengkonsumsi rokok secara rutin selama lebih dari 4 tahun (37,2%). Sebagian besar responden memiliki pH saliva berkategori asam (52,1%). Tidak terdapat hubungan yang bermakna antara jenis rokok yang dikonsumsi dengan pH saliva ( p0,05 ). Terdapat hubungan yang bermakna antara tipe perokok dengan pH saliva ( p0,05 ) dan antara lama periode merokok dengan pH saliva (p0,05). Terdapat hubungan antara tipe perokok dan lama periode merokok dengan derajat keasaman (pH) saliva. Tidak terdapat hubungan antara jenis rokok dengan derajat keasaman (pH) saliva.Kata Kunci: Saliva, merokok, derajat keasaman
PENGARUH DURASI PEMAPARAN LARUTAN FLUORIDE DENGAN KONSENTRASI 0,15% TERHADAP PERUBAHAN KEKASARAN PERMUKAAN DENTIN
Abdillah Imron Nasution;
Ridha Andayani;
Putri Disa Maulida
Cakradonya Dental Journal Vol 9, No 2 (2017): Desember 2017
Publisher : FKG Universitas Syiah Kuala
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24815/cdj.v9i2.9744
Fluoride sering digunakan sebagai bahan aktif maupun bahan desensitisasi di dalam pasta gigi. Konsentrasi standar fluoride yang boleh terkandung dalam pasta gigi di Indonesia tidak boleh lebih dari 0,15% (1500 ppm). Terpaparnya fluoride dengan dentin dapat mendukung remineralisasi dengan stabilisasi hidroksiapatit. Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat pengaruh durasi pemaparan fluoride dengan konsentrasi 0,15% terhadap perubahan kekasaran permukaan dentin. Atomic Force Microscopy digunakan untuk mengukur kekasaran permukaan dentin dan pengukuran selanjutnya menggunakan software Gwyddion v.2.30. Dua belas gigi premolar digunakan sebagai spesimen dan dipotong pada area mahkota dekat dengan cementoenamel junction kemudian permukaan dentin dihaluskan menggunakan SiC paper 600-grit. Spesimen dikelompokkan ke dalam 4 kelompok yaitu : Kontrol, Etsa, Fluoride 3 menit dan Fluoride 15 menit. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa nilai rata-rata kekasaran permukaan dentin dari yang tertinggi hingga terendah diawali pada kelompok : etsa (1.850.37 m), k ontrol (1.760.32 m), fluoride 3 menit (1.740.19 m) dan f luoride 15 menit (1.620.37 m). Hasil uji analisis statistik one-way ANOVA dan uji Post Hoc LSD menunjukkan tidak ada perbedaan yang signifikan pada tiap-tiap kelompok (p0,05). Dapat disimpulkan bahwa durasi pemaparan larutan fluoride 0,15% belum mampu mengurangi kekasaran permukaan dentin secara signifikan.Kata kunci: Fluoride, kekasaran permukaan
PERBANDINGAN PENGGUNAAN BAHAN PEMUTIH ALAMI EKSTRAK BUAH TOMAT (Lycopersicum escuclantum mill) DENGAN EKSTRAK KAYU SIWAK (Salvadora persica) TERHADAP PERBEDAAN WARNA GIGI
Dedi Sumantri Sumantri;
Nadia Sri Devi;
Defriman Djafri
Cakradonya Dental Journal Vol 9, No 2 (2017): Desember 2017
Publisher : FKG Universitas Syiah Kuala
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24815/cdj.v9i2.9743
Bahan alternatif yang biasa digunakan sebagai pemutih gigi termasuk tomat (lycopersicumesculentum mill) dan siwak (Salvadora persiica) terdiri dari hidrogen peroksida (H2O2). Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan perbedaan dari warna gigi setelah menggunakan pemutih gigi alami yangsdiestrak dati tomat (Lycopersicumesculentum mill) dan siwak (salvadora persica). Metode penelitian ini menggunakan 30 gigi premolar yang sudah di ekstraksi dibagi menjadi 5 kelompok. Kelompok 1 di rendam dalam ekstrak tomat dengan konsentrasi 100%, kelompok 2 direndam dalam ekstrak tomat dengan konsentrasi 50 % , kelompok 3 direndam dalam ekstrak siwak dengan konsentrasi 100% dan kelompok 4 direndam dalam ekstrak siwak dengan konsentrasi 50%, dan kelompok 5 kontrol direndam dalam karbamid peroksida. Pengukuran perubahan warna dilihat sebelum dan sesudah perlakuan oleh 5 pengamat menggunakan shade guide vitapan clasical. Data dianalisis menggunakan One Way ANOVA dan LSD. Hasil dari oenelitian ini menunjukan bahwa ektrak tomat dengan konsentrasi 100% lebih efektif terhadap pemutihan gig dibandingkan dengan siwak dan karbamid peroksida dengan konsentrasi 10% setelah perendaman selama 3 jam.Keywords: Ekstrak, karbamid peroksida, pemutihan gigi
DAMPAK KARAKTERISTIK MALOKLUSI GIGI ANTERIOR BERDASARKAN TINGKAT KEPARAHANNYA TERHADAP STATUS PSIKOSOSIAL
Rafinus Arifin;
Sunnati .;
Armi Amanda Daulay
Cakradonya Dental Journal Vol 9, No 2 (2017): Desember 2017
Publisher : FKG Universitas Syiah Kuala
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24815/cdj.v9i2.9741
Usia puncak pertumbuhan anak merupakan masa peralihan antara masa anak-anak hingga menuju masa dewasa yang meliputi perubahan biologis, kognitif dan sosial emosional. Maloklusi adalah suatu anomali yang menyebabkan gangguan fungsi oral dan estetika serta memerlukan perawatan jika sudah mengganggu fisik dan emosional. Berbagai penelitian telah membuktikan bahwa remaja pada usia puncak pertumbuhan yang mengalami maloklusi gigi anterior akan berdampak negatif terhadap status psikososial remaja. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui dampak karakteristik maloklusi gigi anterior terhadap status psikososial (studi kasus pada usia puncak pertumbuhan di Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri Banda Aceh dengan menggunakan indeks PIDAQ). Jenis penelitian ini adalah observasional analitik dan penelitian ini dilakukan di SMP Negeri dengan total subjek 279 siswa. Subjek diberikan kuisioner PIDAQ untuk mengetahui dampak karakteristik maloklusi gigi anterior terhadap status psikososial. Hasil uji Wilks Lamda menunjukkan dampak signifikan karakteristik maloklusi gigi anterior terhadap status psikososial pada usia puncak pertumbuhan, diperoleh nilai p=0,003 (p0,05). Kesimpulan dari penelitian ini menunjukkan adanya dampak karakteristik maloklusi gigi anterior berdasarkan tingkat keparahannya terhadap status psikososial pada usia puncak pertumbuhan.Kata kunci: maloklusi, protrusif, PIDAQ
Dampak Maloklusi Gigi Anterior Protrusif Terhadap Status Psikososial Remaja Usia 15-17 Tahun Menggunakan Indeks PIDAQ (Studi Pada 4 Sman Banda Aceh)
Rafinus Arifin;
Sunnati Sunnati;
Rizky Kurniawan Siregar
Cakradonya Dental Journal Vol 8, No 2 (2016): Desember 2016
Publisher : FKG Universitas Syiah Kuala
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Maloklusi adalah suatu anomali yang menyebabkan gangguan fungsi oral dan estetika serta memerlukan perawatan jika sudah mengganggu seseorang baik secara fisik maupun emosional. Masa remaja adalah masa dimana seseorang mencari jati diri sehingga penampilan wajah dan gigi-geligi sangat berpengaruh dengan hubungan sosial remaja tersebut. Berbagai penelitian telah menemukan maloklusi gigi anterior atas berdampak negatif terhadap status psikosial sosial remaja. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui dampak maloklusi gigi anterior protrusif terhadap status psikososial remaja di Banda Aceh. Jenis penelitian ini adalah penelitian observasional analitik dan pengambilan sampel dilakukan dengan cara purposive sampling. Sampel penelitian berasal dari empat SMA Negeri Banda Aceh yaitu SMAN 1, SMAN 2, SMAN 3 serta SMAN 4, dengan total subjek 108 siswa. Kepada subjek diberikan kuisioner PIDAQ untuk mengetahui dampak maloklusi gigi anterior protrusif terhadap status psikososial siswa tersebut. Data hasil penelitian tersebut kemudian dianalisis menggunakan SPSS dengan metode Chi-Square. Hasil penelitian menunjukkan maloklusi gigi anterior protrusif berdampak negatif terhadap status psikososial remaja, sehingga peneliti menyimpulkan bahwa semakin berat derajat keparahan maloklusi gigi anterior protrusif maka semakin besar kemungkinannya berpengaruh terhadap status psikososial.
Gambaran Penggunaan Persetujuan Tindakan Medis (Informed Consent) Oleh Dokter Gigi Muda Di RSGM Unsyiah
Herwanda Herwanda;
Liana Rahmayani;
Sarah Fadhilla
Cakradonya Dental Journal Vol 8, No 2 (2016): Desember 2016
Publisher : FKG Universitas Syiah Kuala
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Informed consent merupakan persetujuan yang diberikan oleh pasien atau keluarganya atas dasar penjelasan mengenai tindakan medis yang akan dilakukan terhadap dirinya serta resiko yang berkaitan dengannya. Pentingnya mendapatkan informed consent dalam kedokteran gigi semakin diakui untuk membuat rasa aman dalam tindakan medis pada pasien dan sebagai pembelaan diri terhadap kemungkinan adanya tuntutan atau gugatan dari pasien atau keluarganya apabila timbul akibat yang tidak dikehendaki. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui bagaimana gambaran penggunaan persetujuan tindakan medis (informed consent) oleh dokter gigi muda di RSGM Unsyiah. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan desain cross sectional. Metode pengambilan subjek dilakukan dengan teknik total sampling yang melibatkan 259 subjek yang merupakan dokter gigi muda di RSGM Unsyiah. Penelitian ini menggunakan kuesioner sebagai alat ukur untuk mengetahui gambaran penggunaan informed consern oleh dokter gigi muda di RSGM Unsyiah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa subjek penelitian yang menggunakan informed consent dengan kriteria baik adalah sebanyak 246 orang (95,0%), kriteria sedang sebanyak 12 orang (4,6%), dan kriteria buruk sebanyak 1 orang (0,4%).
Hubungan Antara Stres Akademik Dengan Gingivitis Pada Mahasiswa Program Studi Kedokteran Gigi Universitas Syiah Kuala
Rizky Darmawan;
Sunnati Sunnati;
Sri Rezeki
Cakradonya Dental Journal Vol 8, No 2 (2016): Desember 2016
Publisher : FKG Universitas Syiah Kuala
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Stres akademik didefinisikan sebagai perasaan tertekan yang disebabkan oleh keterbatasan waktu dan ketidakmampuan mahasiswa dalam menguasai suatu bidang ilmu pengetahuan. Belum ada data mengenai pengaruh stres akademik yang dialami oleh mahasiswa terhadap gingivitis di Universitas Syiah Kuala. Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat hubungan antara stres akademik dengan gingivitis pada mahasiswa Program Studi Kedokteran Gigi UniversitasSyiah Kuala. Penelitian ini merupakan penelitian analitik korelatif yang bersifat cross-sectional dengan menggunakan Educational Stress Scale for Adolescence (ESSA) untuk mengukur stres akademik pada mahasiswa dan Indeks Perdarahan Papila Dimodifikasi (IPPD) untuk mengukur derajat gingivitis. Sebanyak 140 mahasiswa Program Studi Kedokteran Gigi Universitas Syiah Kuala ikut serta dalam penelitian ini. Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan yang bermakna antara stres akademik dengan gingivitis (p0,05) dengan menggunakan uji Kendall-tau. Kekuatan hubungan antara stres akademik dengan gingivitis bersifat lemah (r=0,271) dengan arah positif. Kesimpulan penelitian ini adalah terdapat hubungan yang bermakna antara stres akademik dengan gingivitis pada mahasiswa Program Studi Kedokteran Gigi Universitas Syiah Kuala, dan kekuatan hubungan bersifat lemah dengan arah yang positif.
Evaluasi Kekasaran Permukaan Glass Ionomer Cement (GIC) Konvensional Setelah Perendaman Dalam Minuman Berkarbonasi
Viona Diansari;
Diana Setya Ningsih;
Cindy Moulinda
Cakradonya Dental Journal Vol 8, No 2 (2016): Desember 2016
Publisher : FKG Universitas Syiah Kuala
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Glass Ionomer Cement (GIC) konvensional merupakan salah satu meterial restorasi di bidang kedokteran gigi yang memiliki banyak keuntungan, karena bersifat biokompatibel, mampu berikatan dengan baik terhadap struktur gigi, dan melepaskan fluor. Namun, GIC konvensional juga memiliki kekurangan yakni brittle dan mudah terkikis apabila terpapar cairan asam sehingga menyebabkan kekasaran permukaan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengevaluasi pengaruh minuman berkarbonasi terhadap kekasaran permukaan GIC konvensional yang ditinjau dari sebelum dan setelah perendaman. Spesimen berbentuk silinder dengan diameter 10 mm dan tebal 2 mm. Jumlah spesimen 10 buah yang diberi perlakuan siklus perendaman 5 menit dalm minuman berkarbonasi dan 15 menit dalam aquades sebanyak 6 kali siklus selama 2 jam untuk 5 hari. Kekasaran permukaan sebelum dan sesudah perendaman diukur Viona Diansarimenggunakan surface roughness tester Mitutoyo SJ 201. Data dianalisis dengan paired t-test untuk mengetahui perbedaan kekasaran permukaan antara sebelum dan sesudah perendaman dalam minuman berkarbonasi. Hasil uji statistik menunjukkan terdapat perbedaan bermakna antara kekasaran permukaan sebelum (Ra = 0,5363 m) dan sesudah (Ra = 0,6368 m) perendaman. Dapat disimpulkan bahwa minuman berkarbonasi dapat meningkatkan kekasaran permukaan GIC konvensional.