cover
Contact Name
Yudi Hendrilia
Contact Email
lenteranusantara405@gmail.com
Phone
+6282138755314
Journal Mail Official
lenteranusantara405@gmail.com
Editorial Address
Jln. Kyai Sono, No. 2, Kelurahan Genuk-Ungaran - Kabupaten Semarang, Prov. Jawa tengah
Location
Kab. semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Lentera Nusantara
ISSN : -     EISSN : 28296281     DOI : https://doi.org/10.59177/jls.v2i2.177
Jurnal Lentera Nusantara adalah jurnal ilmiah yang diterbitkan oleh STT Kanaan Ungaran. Jurnal Lentera mempublikasikan artikel ilmiah dalam bidang Teologi dan Pendidikan Agama Kristen baik hasil penelitian lapangan maupun kajian konseptual yang berkaitan dengan teologi dan Pendidikan Agama Kristen. Jurnal Lentera Nusantara juga telah memiliki nomor e-ISSN yakni 2829-6281. Jurnal ini terbuka untuk penulis dari akademisi, praktisi, mahasiswa yang relevan dengan lingkup jurnal ini dengan rasio minimum 60% eksternal dan maksimum 40% internal STT Kanaan. Jurnal ini terbit dua kali dalam 1 tahun yaitu bulan Juni dan Desember. Lingkup jurnal ini adalah Pendidikan Kristen (Gereja, Sekolah, dan Keluarga) Teologi Biblika Teologi Kontekstual Teologi Sistematika
Articles 55 Documents
Praksis Teologi Digital dalam Pelayanan Pastoral Gembala Menghadapi Fintech dan Pinjol Jemaat Sumual, Elisa Nimbo; Rahayu, Yohana Fajar
Jurnal Lentera Nusantara Vol 5, No 1 (2025): Lentera Nusantara: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen - Desember 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kanaan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59177/jln.v5i1.455

Abstract

The massive and significant development of digital technology has fundamentally changed the social, economic and spiritual patterns of congregations, particularly through the presence of fintech and online lending. In practice, easy access to digital finance is often not balanced with adequate ethical and theological understanding in church life. This condition poses new challenges for pastoral ministry, which is required to respond to digital financial issues in a contextual and transformative manner. The phenomenon of increasing online lending practices has an impact on economic crises, psychological pressure, and vulnerability of faith, which requires ongoing pastoral guidance. This study aims to formulate a digital theology praxis relevant to pastoral ministry in dealing with fintech and online lending among congregations. Using qualitative research methods with a literature study approach, it can be concluded that digital theology from a biblical perspective affirms the church's calling to bring Christian values into the digital space of congregational life. Digital theology functions as a framework for pastoral ministry practices that help pastors interpret and respond to the reality of the digital economy in a theological and contextual manner. The phenomena of fintech and online lending have emerged as real pastoral challenges because they have an impact on the vulnerability of the congregation's faith, ethics, and welfare. Therefore, the role of pastors through the practice of digital theology is key in transformative and sustainable pastoral care for congregations in the era of digital finance.AbstrakPerkembangan teknologi digital yang massif dan signifikan telah mengubah secara mendasar pola kehidupan sosial ataupun ekonomi serta spiritual jemaat, khususnya melalui kehadiran fintech dan pinjaman online. Dalam praktiknya, kemudahan akses finansial digital sering kali tidak diimbangi dengan pemahaman etis dan teologis yang memadai dalam kehidupan bergereja. Kondisi ini menimbulkan tantangan baru bagi pelayanan pastoral gembala yang dituntut merespons persoalan finansial digital secara kontekstual dan transformatif. Fenomena meningkatnya praktik pinjol berdampak pada krisis ekonomi, tekanan psikologis, dan kerentanan iman yang memerlukan pendampingan pastoral berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan merumuskan praksis teologi digital yang relevan bagi pelayanan pastoral gembala dalam menghadapi fintech dan pinjol jemaat. Menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan studi literature, maka dapat disimpulkan bahwa Teologi digital dalam perspektif alkitabiah menegaskan panggilan gereja untuk menghadirkan nilai kekristenan di ruang digital kehidupan jemaat. Teologi digital berfungsi sebagai kerangka praksis pelayanan pastoral yang menolong gembala menafsirkan dan merespons realitas ekonomi digital secara teologis dan kontekstual. Fenomena fintech dan pinjol muncul sebagai tantangan pastoral yang nyata karena berdampak pada kerentanan iman, etika, dan kesejahteraan jemaat. Oleh karena itu, peran gembala melalui praksis teologi digital menjadi kunci dalam pendampingan pastoral yang transformatif dan berkelanjutan terhadap jemaat di era keuangan digital.
Pembaharuan Konsep Diri sebagai Pondasi Perubahan Tingkah Laku Peserta Didik Kristen Magai, Obeth; Wahjutristyanto, Juddi
Jurnal Lentera Nusantara Vol 5, No 1 (2025): Lentera Nusantara: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen - Desember 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kanaan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59177/jln.v5i1.380

Abstract

Self-concept is a fundamental factor that influences the character and behaviour of Christian students. However, in practice, many students experience a crisis of self-concept due to environmental pressures, past experiences, and a weak understanding of their identity in Christ. This condition results in behaviour that is not in line with Christian values and teachings. This study aims to examine the renewal of self-concept as the foundation for behavioural change in Christian students. The research method used is a qualitative approach through a review of theological and Christian education literature with descriptive analysis. The results of the study show that self-concept renewal based on a biblical understanding of identity as God's creation and a person redeemed by Christ can form a healthy self-view. With a renewed self-concept, students are more motivated to display responsible, loving behaviour that reflects the character of Christ in their daily lives.AbstrakKonsep diri merupakan faktor fundamental yang memengaruhi pembentukan karakter dan perilaku peserta didik Kristen, namun dalam praktiknya banyak peserta didik mengalami krisis konsep diri akibat tekanan lingkungan, pengalaman masa lalu, serta lemahnya pemahaman identitas diri dalam Kristus. Kondisi ini berdampak pada munculnya perilaku yang tidak sejalan dengan nilai dan ajaran Kristen. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pembaharuan konsep diri sebagai fondasi perubahan tingkah laku peserta didik Kristen. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif melalui kajian literatur teologis dan pendidikan Kristen dengan analisis deskriptif. Hasil kajian menunjukkan bahwa pembaharuan konsep diri yang berlandaskan pemahaman Alkitabiah tentang identitas sebagai ciptaan Allah dan pribadi yang ditebus oleh Kristus mampu membentuk pandangan diri yang sehat. Dengan konsep diri yang diperbarui, peserta didik lebih terdorong untuk menampilkan perilaku yang bertanggung jawab, penuh kasih, dan mencerminkan karakter Kristus dalam kehidupan sehari-hari.
Kemurahan Hati Jemaat sebagai Praktik Iman dalam Pelayanan Sosial di Gereja Baptis Indonesia Candi Semarang Pudjiastuti, Hendi; Suseno, Aji
Jurnal Lentera Nusantara Vol 5, No 1 (2025): Lentera Nusantara: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen - Desember 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kanaan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59177/jln.v5i1.453

Abstract

Social service is a tangible manifestation of Christian faith that requires the active involvement of the congregation in responding to social needs in their community. In the context of the local church, the generosity of the congregation is often understood in a limited sense as an act of giving, without sufficient reflection on its theological meaning and pastoral implications. This condition raises problems when the church's social service practices develop, but the congregation's awareness of generosity as an expression of faith has not been fully internalised. The phenomenon of the involvement of the congregation of the Indonesian Baptist Church of Candi Semarang in various social service programmes shows that there are various dynamics of faith in the practice of generosity. This study aims to examine how the congregation's generosity is interpreted as a practice of faith and manifested in the church's social services. This study uses a qualitative approach with in-depth interviews and participatory observation methods. The results show that the congregation's generosity is understood as a response of faith to God's love that encourages social involvement. This practice contributes to the formation of an integrative spirituality among the congregation between faith and social action. In addition, social services rooted in generosity strengthen the church's witness in the community and broaden the understanding of practical theology in the context of the local church.AbstrakPelayanan sosial merupakan salah satu wujud nyata dari iman Kristen yang menuntut keterlibatan aktif jemaat dalam menjawab kebutuhan sosial di sekitarnya. Dalam konteks gereja lokal, kemurahan hati jemaat sering kali dipahami secara terbatas sebagai tindakan memberi, tanpa refleksi iman yang memadai mengenai makna teologis dan implikasi pastoralnya. Kondisi ini menimbulkan persoalan ketika praktik pelayanan sosial gereja berkembang, namun kesadaran jemaat terhadap kemurahan hati sebagai ekspresi iman belum sepenuhnya terinternalisasi secara mendalam. Fenomena keterlibatan jemaat Gereja Baptis Indonesia Candi Semarang dalam berbagai program pelayanan sosial menunjukkan adanya dinamika pemaknaan iman yang beragam dalam praktik kemurahan hati. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji bagaimana kemurahan hati jemaat dimaknai sebagai praktik iman dan diwujudkan dalam pelayanan sosial gereja. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode wawancara mendalam, observasi partisipatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemurahan hati jemaat dipahami sebagai respons iman atas kasih Allah yang mendorong keterlibatan sosial. Praktik tersebut berkontribusi pada pembentukan spiritualitas jemaat yang integratif antara iman dan tindakan sosial. Selain itu, pelayanan sosial yang berakar pada kemurahan hati memperkuat kesaksian gereja di tengah masyarakat dan memperluas pemahaman teologi praktis dalam konteks gereja lokal.
Multiplikasi Murid sebagai Dasar Pendirian Jemaat Baru Menurut 2 Timotius 2:2 Suwondo, Victorio Emmanuela Sammy; Dewantari, Shinta; Baskoro, Paulus Kunto
Jurnal Lentera Nusantara Vol 5, No 1 (2025): Lentera Nusantara: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen - Desember 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kanaan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59177/jln.v5i1.456

Abstract

This study examines the principle of disciple multiplication as a theological foundation for establishing new congregations based on 2 Timothy 2:2. The main issue addressed is the tendency of contemporary churches to prioritize structural growth over spiritual growth through reproductive discipleship. This research employs a qualitative theological approach using biblical exegesis and missiological analysis. The findings indicate that the layered transmission of faith taught by Paul to Timothy provides a biblical foundation for healthy and sustainable church growth. Disciple multiplication is not merely a ministry strategy but the very essence of the church’s mission, producing new faith communities through continuous processes of spiritual transformation.The important thing in this principle is that the discipleship that is carried out will have an impact on the disciples produced for the establishment of new congregations.AbstrakPenelitian ini mengkaji prinsip multiplikasi murid sebagai dasar teologis bagi pendirian jemaat baru berdasarkan 2 Timotius 2:2. Permasalahan utama yang dikaji adalah kecenderungan gereja masa kini yang lebih menekankan pertumbuhan struktural dibandingkan pertumbuhan spiritual melalui pemuridan yang reproduktif. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif teologis dengan metode eksegesis biblika dan analisis teologi misi. Hasil kajian menunjukkan bahwa prinsip pewarisan iman secara berlapis yang diajarkan Paulus kepada Timotius merupakan fondasi alkitabiah bagi gereja yang sehat dan berkelanjutan. Multiplikasi murid bukan sekadar strategi pelayanan, melainkan hakikat misi gereja itu sendiri, yang melahirkan komunitas iman baru melalui proses transformasi rohani yang terus-menerus. Hal penting dalam prinsip ini adalah pemuridan yang dilaksanakan akan membawa dampak murid yang dihasilkan bagi pendirian jemaat baru.
Transformasi Komunitas Rohani menuju Gereja Lokal melalui Praktik Pemuridan: Sebuah Studi Teologi Praktis Tanhadi, Billy Pebrio; Arifianto, Yonatan Alex; Boiliu, Esti Regina
Jurnal Lentera Nusantara Vol 5, No 1 (2025): Lentera Nusantara: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen - Desember 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kanaan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59177/jln.v5i1.428

Abstract

The transformation of spiritual communities into local churches is a strategic challenge in the development of the church today, particularly in forming congregations that are mature in faith and active in ministry. Many spiritual communities experience obstacles in transferring spiritual experiences in a structured manner, resulting in uneven growth in the faith of their members. In addition, technological advances and social changes demand more adaptive, contextual, and congregation-oriented discipleship methods. Various phenomena show that planned and mentoring-based discipleship practices can encourage spiritual growth among members and strengthen community bonds. This study aims to analyse how discipleship practices can transform spiritual communities into mature, resilient, and sustainable local churches. The method used is practical theological study with a qualitative approach through analysis of theological literature, pastoral practices, and the experiences of spiritual communities. The results reveal that systematic discipleship increases individual faith maturity, strengthens spiritual culture, and prepares spiritual communities to become local churches. Mentoring practices, applied Bible teaching, and effective Christian leadership are key factors in the success of this transformation. The integration of contextual strategies and the use of digital technology also expand congregational involvement and increase the effectiveness of discipleship. Thus, discipleship can serve as a strategic tool in building an inclusive, adaptive, and sustainable local church.AbstrakTransformasi komunitas rohani menuju gereja lokal merupakan tantangan strategis dalam perkembangan gereja masa kini, khususnya dalam membentuk jemaat yang matang secara iman dan aktif dalam pelayanan. Banyak komunitas rohani mengalami kendala dalam mengalihkan pengalaman spiritual secara terstruktur, sehingga pertumbuhan iman anggotanya menjadi tidak merata. Selain itu, kemajuan teknologi dan perubahan sosial menuntut hadirnya metode pemuridan yang lebih adaptif, kontekstual, dan sesuai kebutuhan jemaat. Berbagai fenomena menunjukkan bahwa praktik pemuridan yang terencana dan berbasis mentoring mampu mendorong pertumbuhan spiritual anggota serta memperkuat ikatan komunitas. Penelitian ini bertujuan menganalisis bagaimana praktik pemuridan dapat mentransformasi komunitas rohani menjadi gereja lokal yang dewasa iman, tangguh, dan berkelanjutan. Metode yang digunakan adalah studi teologi praktis dengan pendekatan kualitatif melalui analisis literatur teologis, praktik pastoral, serta pengalaman komunitas rohani. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa pemuridan yang sistematis meningkatkan kedewasaan iman individu, memperkokoh budaya spiritual, dan mempersiapkan komunitas rohani menjadi gereja lokal. Praktik mentoring, pengajaran Alkitab yang aplikatif, serta kepemimpinan Kristen yang efektif menjadi faktor utama keberhasilan transformasi tersebut. Integrasi strategi yang kontekstual dan penggunaan teknologi digital turut memperluas keterlibatan jemaat serta meningkatkan efektivitas pemuridan Novelty penelitian ini terletak pada pemetaan pemuridan sebagai mekanisme transisional, bukan sekadar program rohani yang menjembatani relasi komunitas cair menuju institusionalisasi gereja lokal yang berkelanjutan.