cover
Contact Name
Elan Ardri Lazuardi,
Contact Email
humaniora@ugm.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
humaniora@ugm.ac.id
Editorial Address
Humaniora Office d.a. Fakultas Ilmu Budaya UGM, Gedung G, Lt. 1 Jalan Sosiohumaniora, Bulaksumur, Yogyakarta 55281 Indonesia
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Humaniora
ISSN : 08520801     EISSN : 23029269     DOI : 10.22146/jh
Core Subject : Humanities,
Humaniora focuses on the publication of articles that transcend disciplines and appeal to a diverse readership, advancing the study of Indonesian humanities, and specifically Indonesian or Indonesia-related culture. These are articles that strengthen critical approaches, increase the quality of critique, or innovate methodologies in the investigation of Indonesian humanities. While submitted articles may originate from a diverse range of fields, such as history, anthropology, archaeology, tourism, or media studies, they must be presented within the context of the culture of Indonesia, and focus on the development of a critical understanding of Indonesia’s rich and diverse culture.
Articles 950 Documents
Agama dan Kohesi Sosial Kuntowijoyo Kuntowijoyo
Humaniora No 9 (1998)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (945.083 KB) | DOI: 10.22146/jh.2048

Abstract

Dalam "Penjelasan tentang Undang-Undang Dasar Negara Indonesia" dikatakan bahwa "... negara berdasarkan atas Ketuhanan Yang Maha Esa menurut dasar kemanusiaan yang adil dan beradab". Apa sebabnya kata-kata "kemanusiaanyang adil beradab" petlu ditambabkan pada Ketuhanan Yang Maha Esa? Mengapa Tuhan yang abadi harus dibatasi oleh manusia yang sementara? Pertanyaan yang selalu menggoda setiap peserta penataran P-4 ini mempunyai jawaban yang mungkin menyakitkan hati peserta yang saleh. Tanpa ilustrasi empiris sakit hati "orang beriman" itu memang beralasan. Karenanya, kita perlu menengok kenyataan-kenyataan sejarah. Pada masa lalu ketidakadilan pada kawula alit dikerjakan para raja Jawa atas nama Tuhan (khalifatullah). Juga Istilah gung binathara (pengejawantahan dewa), ambaudhendha (berkuasa mutlak), dan panatagama (penata agama) sering disalahgunakan untuk kepentingan kekuasaan. Di masa kini pun "dakwah yang sejuk" sering dipakai alasan untuk  mengerem protes sosial (pemogokan, demonstrasimenuntut HAM, demonstrasi menuntut keadilan, tuntutan demokratisasi, kritik di media massa, kbotbah -kbotbah "keras'). Atas nama Tuhan orang bisa bertindak tidak adil terhadap sesamanya
Ajaran Moral dalam Fabel Prancis R.A. Siti Hariti Sastriyani
Humaniora No 9 (1998)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (762.973 KB) | DOI: 10.22146/jh.2049

Abstract

Semua bangsa di dunia ini mengenal cerita atau dongeng sejak orang mengadakan hubungan antara satu dengan lainnya. Cerita-cerita tersebut disebarkan dari mulut ke mulut. Hal ini dilakukan karena manusia sebagai mahkluk sosial ingin berkomunikasi dengan lainnya sehingga menimbulkan cerita yang beraneka ragam. Di antara cerita-centa atau dongeng, fabellah yang dikenal, baik di kalangan anak-anak maupun orang tua. Cerita binatang adalah cerita yang pelaku-pelakunya diberi jiwa seperti manusia. Kalau orang membaca fabel, seolah-olah dibawa ke satu masyarakat yang tak ada bedanyadengan masyarakat manusia, hanya pelaku-pelakunya binatang (Dipodjojo, 1966:14). Fabel adalah jenis karya sastra. Cara memahaminya, teks fabel ditempatkan dalam orientasi yang saling berkaitan dan mempunyai hubungan dengan konteks, yaitu pengarang, pembaca, dan dunia nyata. Dalam fabel, salah satu hUbungan itu dominan, yaitu hUbungan pengarang dengan pembaca, tempat pengarang ingin menyampaikan pesannya. Teks fabel merupakan teks persuasif. Melalui tokoh binatang, pengarang ingin mempengaruhi pembaca agar mencontoh yang baik dan tidak mencontoh yang tidak baik (Sugihastuti, 1996:21).
Cerpen Saran "Groot Majoor" Prakoso Karya Y.B. Mangunwijaya: antara Hegemoni dan Resistensi Sudibyo Sudibyo
Humaniora No 9 (1998)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1630.488 KB) | DOI: 10.22146/jh.2051

Abstract

Kegelisahan Y.B. Mangunwijaya mempertanyakan hal-hal yang dianggap mapan atau kanonik merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari pilihan sikapnya sebagai seorang sastrawan. Hal ini terlihat dalam sejumlah novel yang ditulisnya, seperti Burung-Burung Manyar (BBM), Rara Mendut (RM), Genduk Duku (GD), Lusi L.indri (LL), dan Durpa Umayi (DU). Melalui BBM, Mangunwijaya menggugat stigmatisasi hitam-putih dan kuasanya terhadap nasib manusia. Di samping itu, ia juga mencoba menilai kembali cara-cara para penguasa Orde Baru yang membengkokkan penuturan sejarah revolusi Indonesia ke arah suatu tafsir bercorak fasistis dan berjiwa Machiavellian. BBM mempertanyakan apakah Indonesia masih menapak di jalan yang benar serta setia kepada arah haluan revolusi yang diproklamasikan pada 17 Agustus 1945 dan keabsahan yang lazim ditarik antara kelompok Pandawa dengan Kurawa dengan perlambangan Bharatayuddha sehingga seolah-olah semua pelaku Indonesia adalah Pandawa dan semua Belanda beserta seluruh kaki tangan mereka adalah Kurawa (Mangunwijaya, 1997:57).
Antropomorfi k dan Zoomorfik dalam Seni Rupa Suku Bangsa Sumba Timur Sumijati Sumijati
Humaniora No 9 (1998)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1785.219 KB) | DOI: 10.22146/jh.2054

Abstract

Adanya simbol dalam masyarakat dapat digunakan sebagai sarana melakukan interaksi (Polama, 1984). lnteraksi itu dapat terjadi antara manusia dengan manusia atau antara manusia dengan mahluk halus atau roh nenek moyang. lnteraksi antara manusia dengan roh nenek moyang terus dibina karena roh nenek moyang diyakini dapat mendatanqkan kesuburan dan berkah bagi  keturunan-keturunannya. Keyakinan itu sesuai dengan pendapat Peursen (1976) yang menyatakan bahwa simbol dapal membuka pandangan yang transeden karena simbol dapat menunjukkan kekuatan yang berada di luar diri manusia. Simbol berwujud antropomorfik dan zoomortik dalam 111 kehidupan Suku Bangsa Sumba Timur divisualisasikan dalam seninya, seni lukis, seni pahat, maupun dalam seni patung secara naturalistis dan didistilisasi. Uraian di atas menimbulkan beberapa permasalahan, di antaranya adalah: faktor-faktor yang menyebabkan figur antropomorfik dan zoomorfik banyak divisualisasikan dalam seni rupa Sumba Timur dan kuat bertahan terhadap arus modemlsasisehingga lestari sampai kini.Sesuai dengan masalah yang diajukan maka kajian in; bertujuan untuk mengungkapkan faktor-faktor yang menyebabkan antropomorfik dan zoomorfik banyak dipilih sebagai objek dalam seni rupa, terutama seni kriya, seni lukis, seni pahat, dan seni patung, serta kuat bertahan hingga lestari sampai kini.
Aspek Pragmatik Komunikasi Sastra (Studi Kasus terhadap Penilaian Guru Bahasa Indonesia SLTP di Yogyakarta terhadap Dua Buah Cerpen Indonesia Modern) Suminto A. Sayuti
Humaniora No 9 (1998)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2063.307 KB) | DOI: 10.22146/jh.2055

Abstract

Apakah sekelompok pembaca tertentu mempergunakan sarana khusus yang memainkan peranan penting dalam pemrosesan, atau lebih spesifik lagi penilaian teks sastra. Bagaimanakah hubungan antara sarana-sarana yang dipergunakan pembaca untuk membongkar kode teks dan struktur teks itu untuk kemudian menilainya? Selanjutnya, apabila sarana-sarana tersebut dipertimbangkan sebagai kriteria penilaian ternadap teks tertentu, bagaimanakah kecenderungan yang terjadi pada kelompok pembaca tertentu dalam menggunakannya. Penelitian ini akan berupaya menjawab "sebagian keeU- dan pertanyaan-pertanyaan tersebut dengan menitikberatkan perhatian pada kasus dua buah cerpen Indonesia modern dalam hubungannya dengan kelompok pembaca tertentu, yakni para guru bahasa Indonesia SLTP di Yogyakarta yang sedang mengikuti Program Penyetaraan Tatap Muka di FPBS IKIP Yogyakarta. Perhatian utama penelitian pada kasus cerpen karena genre inilah yang dipertimbangkan paling akrab dengan pembaca yang menjadi sasaran penelitian jika dibandingkan dengan novel yang sering dianggap terlampau panjang -dan puisi- yang sering dianggap menyulitkan karena sifatnya yang begitu multiinterpretabel -serta naskah drama- yang secara hakiki sebagai karya seni baru selesai setelah dipentaskan.
Eufemisme: Referensi dan Latar Belakangnya Sunarso Sunarso
Humaniora No 9 (1998)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1129.014 KB) | DOI: 10.22146/jh.2056

Abstract

Bahasa sebenarnya bukanlah semata-mata alat untuk mengkomunikasikan informasi, tetapi bahasa juga merupakan alat yang sangat penting untuk memantapkan dan mempertahankan hubungan dengan orang lain. Penggantian suatu bentuk kebahasaan yang bernilai rasa kasar dengan bentuk kebahasaan lain yang bernilai rasa nalus disebut dengan eufemisme. (Dalam bahasa Yunani eu berarti 'baik' dan pheme berarti 'ujaran'.) Akan tetapi, eufemisme sebetulnya tidak hanya berkaitan dengan penggantian kata yang bernilai rasa kasar dengan kata yang bernilai rasa naius saja, melainkan berhubungan juga dengan kata pantang atau kata tabu, yaitu kata yang tidak boleh digunakan dalam suasana tertentu menurut norma tutur suatu masyarakat bahasa. Karena terdapat kata yang tidak boleh digunakan tersebut, penutur berusaha mencari bentuk penggantinya, yaitu bentuk eufemistik (Cf. Ullmann, 1970:205). Demikianlah, karangan singkat ini membicarakan seluk-beluk eufemisme yang dipakai di datam bahasa Indonesia. Pokok persoalan yang dibahas meliputi (1) referensi eufemisme, (2) sebab-sebab timbulnya eufemisme, dan (3) analisis bentuk eufemistik.
Ihwal (Teknik) Parafrasa Tri Mastoyo Jati Kesuma
Humaniora No 9 (1998)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1045.093 KB) | DOI: 10.22146/jh.2057

Abstract

Istilah parafrasa (paraphrase) merupakan istilah linguistik yang penerapannya dapat ditemui dalam dunia linguistik dan sastra. Dalam dunia linguistik istilah parafrasa penerapannya dijumpai dalam analisls sintaksis berdasarkan semantik, sedangkan dalam dunia sastra dijumpai dalam analisis puisi. Berhubungan dengan kenyataan itu, parafrasa menarik untuk dikutak-katik seluk-beluknya. Tulisan ini dimaksudkan untuk mengutak-ngatik seluk-beluk parafrasa itu. Yang dikutak-katik meliputi pengertian , kaitannya dengan parifrasa dan kesinoniman, dan aneka jenisnya. Dalam tulisan ini, ihwal parafrasa sebagai teknik analisis data dirambahi pula.
Kepahlawanan Pangeran Mangkubumi A. Sarman AM
Humaniora No 8 (1998)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (761.295 KB) | DOI: 10.22146/jh.2058

Abstract

Dalam Kamu Besar Bahasa Indonesia edisi kedua disebutkan bahwa pahlawan adalah orang yang menonjol karena keberanlan dan pengorbanannya dalam membela kebenaran. Pejuang yang gagah berani. Kepahlawanan berarti perihal sifat pahlawan (seperti keberanian, keperkasaan, kerelaan berkorban, kesatriaan) (Ali, 1991:751).  Oi dalam babad disebutkan bahwa Mangkubumi adalah seorang tokoh yang banyak memiliki keunggulan, misalnya wajathnya yang tampan, jiwa raganya yang sehat, gagah berani (sakti) dan sikapnyayang baik terhadap rakyat. Secara geneologis P. Mangkubumi adalah putra dari Amangkurat IV dan dilahirkan oleh Mas Ayu Tejawati, yakni salah seorang garwa paminggir dari desa Kepundhung di Surakarta. P. Mangkubumi ditinjau dari garis ibu adalah putra kedua yang ketika masa mudanya bernama AM. Sujana.
Toba Batak Progressivism and Language Maintenance Cartalyna Napitupulu
Humaniora No 8 (1998)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (877.376 KB) | DOI: 10.22146/jh.2059

Abstract

Tabs Batak people originate from Tapanuli, North Sumatra around Lake Toba. This tribe has their own language which is TB language. Compared with other tribes, TB people started their contact with other cultures later. The eastern part of Indonesia, fOr example, had been having contact with the Portuguese since the sixteenth century while the TB people only started in 1861. Later, the TB also had contact with the Dutch, the British and the Germans which resulted in the spread of Christianity amongst TB people. It was the missionaries or the Batak mission who first encouraged education amongst the TB because they wanted to encourage the TB to understand the Gospel. Thus, the formal education in the T8 areas started after the arrival of Christianity. Meanwhile, education brought by the Christian mission gave rise to the TB ambition towards progress or what they called Hamajuon Salak or 'Batak Progressivism'. These missionarires not only gave education in the TB areas but also sent the TB members overseas. Some researchers like Kruger and Peeeesen believe that TB people were cannibals in the past, even after the penetration of Christianity began. They suspected that missionaries like Lyman and Munson were eaten bv the TB (Pedersen, 1970).
Ancient Greek Influence and Imagism In H.D's Early Poems Djuhertati Imam Muhni
Humaniora No 8 (1998)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1095.087 KB) | DOI: 10.22146/jh.2060

Abstract

In 1912 in the Museum-Street-Tea Shop Ezra Pound edited H.D's poem "Hermes of the Ways," signing it "H.D.lmagiste," and by this gesture the Imagist movement exists in the literary world. This often quoted information indicates that there is a significant influence of ancient Greek Literature On Imagist poets, particularly on H.D.; for example, one might note that the first two poems that appeared bearing the name Imagist, namely "Hermes of The Ways" and "Priapus" were based on Greek dedicatory epigrams. The purpose of the paper is to trace the ancient Greek influence on H.D.'s works, especially her purest Imagist poems. Though the discussion focuses on H.D.'s poetry, it also touches upon them works of two other Imagists, namely Ezra Pound's and Aldington's. These poets were two of the most important people in H.D.'s life as well as in her poetry. Pound came early in her life, and sparked her interest in Greek literature, while Aldington appeared in her London period,contributing a share in her intensive study of ancient Greek works. Accordingly, the paper falls into two main parts of discussion: first, on the personal and literary relationships between Ezra Pound, Aldington, and H.D. (Hilda Doolitle); second, the influence of Greek literature especially that of Sappho on H.D. as the main focus.

Filter by Year

1989 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 37, No 1 (2025) Vol 36, No 2 (2024) Vol 36, No 1 (2024) Vol 35, No 2 (2023) Vol 35, No 1 (2023) Vol 34, No 2 (2022) Vol 34, No 1 (2022) Vol 33, No 3 (2021) Vol 33, No 2 (2021) Vol 33, No 1 (2021) Vol 32, No 3 (2020) Vol 32, No 2 (2020) Vol 32, No 1 (2020) Vol 31, No 3 (2019) Vol 31, No 2 (2019) Vol 31, No 1 (2019) Vol 30, No 3 (2018) Vol 30, No 2 (2018) Vol 30, No 1 (2018) Vol 29, No 3 (2017) Vol 29, No 2 (2017) Vol 29, No 1 (2017) Vol 28, No 3 (2016) Vol 28, No 2 (2016) Vol 28, No 1 (2016) Vol 27, No 3 (2015) Vol 27, No 2 (2015) Vol 27, No 1 (2015) Vol 26, No 3 (2014) Vol 26, No 2 (2014) Vol 26, No 1 (2014) Vol 25, No 3 (2013) Vol 25, No 2 (2013) Vol 25, No 1 (2013) Vol 24, No 3 (2012) Vol 24, No 2 (2012) Vol 24, No 1 (2012) Vol 23, No 3 (2011) Vol 23, No 2 (2011) Vol 23, No 1 (2011) Vol 22, No 3 (2010) Vol 22, No 2 (2010) Vol 22, No 1 (2010) Vol 21, No 3 (2009) Vol 21, No 2 (2009) Vol 21, No 1 (2009) Vol 20, No 3 (2008) Vol 20, No 2 (2008) Vol 20, No 1 (2008) Vol 19, No 3 (2007) Vol 19, No 2 (2007) Vol 19, No 1 (2007) Vol 18, No 3 (2006) Vol 18, No 2 (2006) Vol 18, No 1 (2006) Vol 17, No 3 (2005) Vol 17, No 2 (2005) Vol 17, No 1 (2005) Vol 16, No 3 (2004) Vol 16, No 2 (2004) Vol 16, No 1 (2004) Vol 15, No 3 (2003) Vol 15, No 2 (2003) Vol 15, No 1 (2003) Vol 14, No 3 (2002) Vol 14, No 2 (2002) Vol 14, No 1 (2002) Vol 13, No 3 (2001) Vol 13, No 1 (2001) Vol 12, No 3 (2000) Vol 12, No 2 (2000) Vol 12, No 1 (2000) Vol 11, No 3 (1999) Vol 11, No 2 (1999) Vol 11, No 1 (1999) Vol 10, No 1 (1998) No 9 (1998) No 8 (1998) No 6 (1997) No 5 (1997) No 4 (1997) No 3 (1996) No 2 (1995) No 1 (1995) No 1 (1994) No 3 (1991) No 2 (1991) No 1 (1989) More Issue