cover
Contact Name
Elan Ardri Lazuardi,
Contact Email
humaniora@ugm.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
humaniora@ugm.ac.id
Editorial Address
Humaniora Office d.a. Fakultas Ilmu Budaya UGM, Gedung G, Lt. 1 Jalan Sosiohumaniora, Bulaksumur, Yogyakarta 55281 Indonesia
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Humaniora
ISSN : 08520801     EISSN : 23029269     DOI : 10.22146/jh
Core Subject : Humanities,
Humaniora focuses on the publication of articles that transcend disciplines and appeal to a diverse readership, advancing the study of Indonesian humanities, and specifically Indonesian or Indonesia-related culture. These are articles that strengthen critical approaches, increase the quality of critique, or innovate methodologies in the investigation of Indonesian humanities. While submitted articles may originate from a diverse range of fields, such as history, anthropology, archaeology, tourism, or media studies, they must be presented within the context of the culture of Indonesia, and focus on the development of a critical understanding of Indonesia’s rich and diverse culture.
Articles 950 Documents
BEBERAPA RUMUSAN MASALAH SOSIOLOGI SASTRA Sangidu Sangidu
Humaniora No 1 (1994)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1152.878 KB) | DOI: 10.22146/jh.2029

Abstract

Pendekatan terhadap sastra yang mempertimbangkan segi-segi kemasyarakatan oleh beberapa penulis disebut "sosiologi sastra". Istilah itu pada dasarnya tidak berbeda pengertiannya dengan sosiosastra, pendekatan sosiologis, atau pendekatan sosiokultural terhadap sastra. Pendekatan terhadap sastra secara sosiologis dicurigai sebagai pendekatan pseudoilmiah", karena tidak memiliki pijakan yang rigid (kokoh) dalam hal datanya. Secara metodologia pun terkadang juga lemah, karena wilayah penelitiannya tidak pasti dan objek analisisnya gamang (tidak mantap). Untuk menghilangkan (setidak-tidaknya mengurangi) anggapan bahwa pendekatan sastra sosiologis dieungaise baga i pendekatan pseudo-ilmiah dan untuk menjelaskan bahwa pendekatan sastra sosiologis merupakan pendekatan "ilmiah", maka perlu dirumuskan beberapa permasalahan yang akan dibahas pada tulisan ini.
SOCIO-ECONOMIC HISTORY: THE TREND IN THE STUDY ON INDONESIAN HISTORY 1950-1980S Soegijanto Padmo
Humaniora No 1 (1994)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2164.608 KB) | DOI: 10.22146/jh.2030

Abstract

In the early years of Indonesian independence, the study of Indonesia's recent history tended to be dominated by scholars who emphasized political and cultural themes in their studies. There was a need to explain those developments of the colonial period which underlay some of the most important features of newly independent Indonesia. About two decades ago a new dimension began be opened up in the Indonesia social sciences when a group of historians and social scientists carried out studies of socioeconomic history of certain localities on Indonesia. The development of the social sciences in Indonesia was also leading to a better understanding of rural society. This new focus on Indonesian historical and socio-economic studies, directed especially at agricultural and socialaspects, was very appropriate.
MITOS HIROGAMI LANGIT DAN BUMI DI DALAM CERITA PELIPUR LARA Sudibyo Sudibyo
Humaniora No 1 (1994)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (508.288 KB) | DOI: 10.22146/jh.2031

Abstract

Cerita pelipur lara memiliki tempat tersendiri di dalam kehidupan masyarakat Melayu. Di kalangan kelompok masyarakat yang masih sederhana cerita pelipur lara merupakan sarana hiburan yang dapat dinikmati sehabis menunaikan pekerjaan sehari harI. Oleh sebeb itu, materi cerita pelipur lara, sebagaimana lazimnye cerita rakyat, berisi cerita -cerita ringan yang kaya fantasi dan hal-hal yang mempesonakan, misalnya kehidupan istana, putri- putri yang tampan dan cantik rupawan, para wirawan yang gagah berani, perkawinan tokoh utama cerita dengan putri kayangan, lukisan alam adikodrati yang fantastis, dan sebagainya. Di dalam tulisan ini akan dicoba ditelusuri secara singkat kaitan cerita pelipur lara terutama episode perkawinan manusia bumi dngan putri kayangan dengan mitos kosmogoni mengenai perkawinan suci (hirogami) langit dan bumi. Pertanyaan yang akan dicoba dijawab adalah mengapa kenyataan di dalam cerita pelipur lara bertolak belakang dengan kenyataan di dalam mitos kosmogoni atau mengapa cerita pelipur lara mendemitefikasikan mitos kosmogoni tersebut. Untuk keperluan ini, dipergunakan tiga buah cerita pelipur lara, Hikayar Malim Deman, Hikayat Raja Muda, dan Hikayat Malim Dewa yang ketiganya mengandung episode perkawinan manusia bumi dengan putri kayangan.
WANITA DALAM DUA NOVEL PANDIR KELANA: KRITIK OBJEKTIF Sugihastuti Sugihastuti
Humaniora No 1 (1994)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1239.8 KB) | DOI: 10.22146/jh.2032

Abstract

Kali ini, diketengahkan kritik obejktif; kritik objektif itu hanya dikenakanpada dua novel karya Pandir Kelana, yaitu Kadarwati Wanita dengan Lima Nama dan Ibu Sinder. Alasan dipilihnya topik ini karena dari segi struktur novel, terutama mengenai protagonisnya, kedua novel ini menarik. Ada kesatuan antarunsur novel itu. Sebenarnya, yang juga menarik untuk dibicarakan adalah masalah intertekstualitas novel-novel Pandir Kelana; karena seperti diketahui para tokoh dalam serangkaian novel itu saling herhubungan dalam aneka konfliknya. Bukan hanya tokoh, fakta cerita lainpun, seperti alur dan latar, juga berinterteks antarnovel; apalagi masalah dan temanya, yang berkisar pada masalah yang berlatar revolusi kemerdekaan RI. Penekanan pembicaraan makalah ini adalah pada unsur penokohan. Kritik objektif yang menganggap karya sastra sebagai totalitas, idealnya diterapkan pada objek sasaran dalam tataran semua unsur yang membangun karya sastra, maka dari itu, pembicaraan tentang penokohan tidak dipisahkan dengan pembicaraan unsur lain sebagai kesatuan. Pembicaraan penokohan mempertimbangkan semua unsurnya sesuai dengan fungsinya.
Bangsawan Jawa dalam Struktur Birokrasi di Majapahit Ahmad Adaby Darban
Humaniora No 9 (1998)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (5078.309 KB) | DOI: 10.22146/jh.2033

Abstract

Pandangan kosmogoni yang berasal dan doktrin Hinduisme dan doktrin Budhisme pada dasamya mempunyai kesamaan bahwa jagad raya ini berbentuk lingkaran yang dikelilingi oleh beberapa wilayah dan mempunyai titik pusat yang disebut Gunung Meru. Pandangan kesmogoni ini berkembang mempengaruhi pola berpikir manusia dan kemudian melahirkan konsep tentang hubungan manusia dengan jagad raya. Konsep hubungan manusia dengan jagad raya ini berpengaruh pula pada akhvitas kehidupan manusia khususnya pada bidang politik dan kebudayaan. Hal ini dapat dibuktikan bahwa hampir semua kerajaan dan pemerintahan Asia Kuno terpengaruhi oleh kosmogoni itu. Gambaran kosmogonis dapat dilihat secara nyata dan merupakan sebuah gambaran dan makro kosmos (jagad raya). Di samping itu raja dan kerajaan menjadi titik pusatnya. Konsep kepemimpinan suatu pemerintahan yang dikenal dengan sebutan "Dewa Raja- memandang raja selain sebagai kepala negara juga menganggapnya sebagai keturunan atau wakil dewa; hal ini telah telah membudaya di kalangan masyarakat Jawa sejak dahulu kala. Lebih lanjut dapat dikatakan bahwa kekuasaan raja didukung oleh suatu predikat religious magis, yang kemudian rakyat mempunyai anggapan magis terhadap kekuasaan raja. Anggapan magis itu menyebabkan adanya suatu penghormatan yang sakral dan ketaatan tanpa reserve kepada raja. Di samping itu keturunan raja beserta lingkaran keluarga raja ikut mendapat penghormatan yang sakral danterjunjung martabatnya sehingga terciptalah sebuah lapisan masyarakat elite yang disebut dengan bangsawan.
Pembauran Identitas Etnik di Kalangan Mahasiswa Universitas Gadjah Mada Bambang Hudayana
Humaniora No 9 (1998)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1775.358 KB) | DOI: 10.22146/jh.2034

Abstract

Universitas Gadjah Mada (UGM) merupakan perguruan tinggi terbesar di Indonesia. UGM memiliki 18 fakultas untuk program sarjana, satu fakultas untuk program pascasarjana, dan 15 pusat penelitian. UGM juga memiliki beberapa program studi D3. Pada tahun 1997, jumlah mahasiswa UGM adalah sekitar 35.000 orang. Sebagai universitas nasional, jumlah mahasiswa ini tidak hanya berasal dan Jawa yang umumnya beridentitas etnik Jawa, tetapi berasal pula dari luar Jawa yang memiliki latar belakang etnik ber1ainan. Pembauran identitas etntk pada mahasiswa UGM merupakan fenomena yang menarik untuk dikaji. Dalam studinya tentang stereotipe etnik dan jarak sosial di kalangan mahasiswa UGM, Scnawetzer (1979) tidak melihat adanya proses pembauran antaretnik ke dalam suatu identitas sosiat-budaya milik bersama. Hal ini karena ia melihat bahwa setiap etnik mempunyai suatu kepribadian kelompok yang tidak berubah. Akan tetapi, tulisan ini melihat bahwa identitas etnik itu akan mengalami perubahan ketika individu berinteraksi sosial dengan kelompok etnik lain (out-group). Hal ini karena untuk melakukan interaksi sosial antaretnik dipel1ukan suatu bentuk adaptasitertentu yang mendorong munculnya gejala perubahan identitas etnik. Tulisan ini mengungkapkan hasil penelitian pembauran identitas etnik antarmahasiswa dalam komunitas akademik. Secara rinci penelitian ino mempunyai tiga pertanyaan pokok. Pertama, mengetahui pendapat mahasiswa UGM tentang identitas etniknya (in group) dan identitas etnik bukan kelompoknya (out group). Kedua, mengetahui bentuk interaksi sosial antarmahasiswa dengan fokus perhatian pada usaha memahami jarak sosial antarmahasiswa yang berlainan etnik. Ketiga, memahami pembauran budaya di kalangan mahasiswa yang berlainan etnik di kampus dan di Yogyakarta pada umumnya.
Sistem Kedefinitan Bahasa Indonesia B.R. Suryo Baskoro
Humaniora No 9 (1998)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1228.024 KB) | DOI: 10.22146/jh.2043

Abstract

Secara semantis, nomina atau NP didefinisikan sebagai kata yang mengacupada manusia. binatang, dan konsep atau pengertian (Moeliono, 1988: 152).Definisi flu sebenarnya baru mengacu pada isinya. Adapun secara semantis-pragmatis, yakni mengenai bagaimana isi itu disampaikan, NP dapat memiliki kandungan (packaging) bermacam-macam yang menentukan status NP itu. Status-status referen itu adalah (status) lama/baru, sebagai fokus kontras, status definit/takdefinit, sebagai subjek kalimat, topik kalimat, dan status sebagai sudut pandang (Chafe, 1976: 28). Status definit/takdefinit NP yang dibahas dalam tulisan ini memilikl hubungan yang erat dengan status lama/baru: NP (yang mengandung informasi) lama senantiasa definit, meskipun yang (mengandung lnformasi) baru tidak selamanya tak definit. Bahasa Indonesia (bI) mengenal pula kata sandang (si. sang. hang. dang), namun perilakunya tidak sama dengan artikel dalam bahasa Inggris dan Perancis, di samping pemakaiannya yang semakin tidak efektif atau demi tujuan penggayaan bahasa. Masalah yang kemudlan muncul ialah bahwa kedua jenis pemarkah itu tidak selamanya hadir/tersurat. Dengan perkataan lain, NP definit maupun takdefinit dalam bl acapkali dipergunakan tanpa pemarkah, atau berpemarkah nol.
Indonesian Learners' Requests in English: A Speech-Act Based Study F.X. Nadar
Humaniora No 9 (1998)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1374.36 KB) | DOI: 10.22146/jh.2045

Abstract

This paper investigates requests by Indonesian learners based on speech act theories. It attempts to find the charaderistics of the requests, and discuss the findings from the view points of forms and politeness strategy. This essay consists of five main parts. They are the introduction, brief theoretical aspects of making requests, methodology, result and discussion and conclusion. Language is a means of communication, and people use language for various reasons, Finegan, et al.(1992:3) state that language has been viewed as a vehicle of thought, a system of expression that mediates the transfer of thought from one person to another. They also claim (p.305) that "language is principally a tool for doing things" and describe that through language people do things such as: propose marriage, impose a life sentence, swear to tell the truth, fire an employee and so on. Learning how language is used is commonly associated with the study of speech acts. Speech acts are "actions that are carried out through language- (Finegan, et 81.,1992:307). Various tasks are accomplished by means of language, and linguists have different ways of explaining about speech acts.
Suku Bangsa dan Ekspres Kesukubangsaan Hari Poerwanto
Humaniora No 9 (1998)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1864.278 KB) | DOI: 10.22146/jh.2046

Abstract

Jauh sebelum masa kolonial, tidak ada satu istilah kata pun yang mencakup wilayah kepulauan negara Republik Indonesia. Pada awal kedatangan Belanda untuk berdagang, kawasan ini disebut Indie atau India, yang diterjemahkan dan bahasa Inggns Indies. Serupa dengan kata tersebut, muncul pula istilah lain ialah Achter-India (Hindia-Belakang) yang berbeda dengan Voor-Indie, (Hindia Muka) atau India sekarang. Akan tetapi, sampai dengan abad XVII, sebutan Achter-Indie mencakup wilayah lebih luas dibandingkan dengan kawasan Asia Tenggara dewasa ini, yaitu ditambah Tibet di barat laut dan wilayah Cina Selatan di bagian timur-laut; termasuk seruruh wilayah di Laut Cina dan Teluk Bengali. Sampai dengan akhir abad XIX, istilah yang lazim dipakat adalah Indische Archipel atau Kepulauan Indie. Secara resmi, baru pada 1910 seluruh wilayah daerah jajahan Belanda di Indonesia disebut dengan Nederlandsch-lndie. Penduduk pribumi yang berada di sana disebut dengan Inlanders atau bumiputera.Bagi kaum nasionalis, istilah Inlanders dinilai mengandung konotasi menghina karena seolah-olah orang Jawa atau Sunda merupakan natives atau aborigines dan Negeri Belanda. Sebelum muncul kata Indonesia yang disetujui oleh kaum nasionalis, Eduard Douwes Dekker pernah mengusulkan 'Insulinde', yaitu sebagai alternatif pengganti kata Inlanders, dan sebulan tersebut juga kurang dapat diterima. Akhirnya, pada 1920-an ditemukan istilah yang dapat diterima, ialah 'Indonesia'. Seiring dengan itu, muncul juga istilah 'Nusantara".
Dari Hikayat Sahi Mardan ke Syeh Bagenda Mardan, Sebuah Transformasi: Penyimpangan atau Kewajaran? Kun Zachrun Istanti
Humaniora No 9 (1998)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (829.389 KB) | DOI: 10.22146/jh.2047

Abstract

Hasil kesusastraan lama Indonesia, sebelum agama Islam masuk ke kawasan Nesantara. sebagian besar bertemakan cerita Hindu. Setelah agama Islam masuk ke kawasan Nusantara, masuk pula perbendaharaan kata-kata Arab sertabertambahlah perbendaharaan nama-nama makhluk halus, seperti: malaikat, setan, dan jin. Motif cerita Hindu masih dipakai untuk menyelamatkan cerita-cerita Hindu, tetapi unsur-unsur Islam memberikan corak baru pada kesusastraan Indonesia lama itu. Cerita yang semula banyak pengaruh Hindu lalu disisipi unsur-unsur Islam. 'Hero'nya diberi nama Islam dan Hindu. Hikayat-hikayat yang mempunyai ciri-ciri seperti itu digolongkan ke dalam sastra zaman peralihan dan Hindu ke Islam (Yock Fang, 1982:22-23). Contoh hikayat zaman peralihan itu adalah Hikayat Syahi Mardan (selanjutnya disingkat HSM), Hikayat Indraputra, dan Hikayat Si Miskin. Di antara kesusastraan yang telah dihasilkan dalam berbagai bahasa di Nusantara, khazanah sastra Melayu dan Jawa adalah terbesar. Keduanya telah saling mengambil manfaat, masing-masing mengintegrasikan dan mantransformasikanunsur-unsur asing menjadi miliknya. Adaptasi dan Jawa ke Melayu dan sebaliknya dengan transformasi berdasarkan budaya yang berbeda, telah terjadi dalam berbagai cerita, di antaranya cerita Rama, cerita Amir Hamzah. Arus yang diikuti oleh sastra Hindu sebagian besar dari bahasa Jawa ke bahasa Melayu, sedangkan arus sastra Islam adalah sebaliknya atau merupakan perkembangan tersendiri.

Filter by Year

1989 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 37, No 1 (2025) Vol 36, No 2 (2024) Vol 36, No 1 (2024) Vol 35, No 2 (2023) Vol 35, No 1 (2023) Vol 34, No 2 (2022) Vol 34, No 1 (2022) Vol 33, No 3 (2021) Vol 33, No 2 (2021) Vol 33, No 1 (2021) Vol 32, No 3 (2020) Vol 32, No 2 (2020) Vol 32, No 1 (2020) Vol 31, No 3 (2019) Vol 31, No 2 (2019) Vol 31, No 1 (2019) Vol 30, No 3 (2018) Vol 30, No 2 (2018) Vol 30, No 1 (2018) Vol 29, No 3 (2017) Vol 29, No 2 (2017) Vol 29, No 1 (2017) Vol 28, No 3 (2016) Vol 28, No 2 (2016) Vol 28, No 1 (2016) Vol 27, No 3 (2015) Vol 27, No 2 (2015) Vol 27, No 1 (2015) Vol 26, No 3 (2014) Vol 26, No 2 (2014) Vol 26, No 1 (2014) Vol 25, No 3 (2013) Vol 25, No 2 (2013) Vol 25, No 1 (2013) Vol 24, No 3 (2012) Vol 24, No 2 (2012) Vol 24, No 1 (2012) Vol 23, No 3 (2011) Vol 23, No 2 (2011) Vol 23, No 1 (2011) Vol 22, No 3 (2010) Vol 22, No 2 (2010) Vol 22, No 1 (2010) Vol 21, No 3 (2009) Vol 21, No 2 (2009) Vol 21, No 1 (2009) Vol 20, No 3 (2008) Vol 20, No 2 (2008) Vol 20, No 1 (2008) Vol 19, No 3 (2007) Vol 19, No 2 (2007) Vol 19, No 1 (2007) Vol 18, No 3 (2006) Vol 18, No 2 (2006) Vol 18, No 1 (2006) Vol 17, No 3 (2005) Vol 17, No 2 (2005) Vol 17, No 1 (2005) Vol 16, No 3 (2004) Vol 16, No 2 (2004) Vol 16, No 1 (2004) Vol 15, No 3 (2003) Vol 15, No 2 (2003) Vol 15, No 1 (2003) Vol 14, No 3 (2002) Vol 14, No 2 (2002) Vol 14, No 1 (2002) Vol 13, No 3 (2001) Vol 13, No 1 (2001) Vol 12, No 3 (2000) Vol 12, No 2 (2000) Vol 12, No 1 (2000) Vol 11, No 3 (1999) Vol 11, No 2 (1999) Vol 11, No 1 (1999) Vol 10, No 1 (1998) No 9 (1998) No 8 (1998) No 6 (1997) No 5 (1997) No 4 (1997) No 3 (1996) No 2 (1995) No 1 (1995) No 1 (1994) No 3 (1991) No 2 (1991) No 1 (1989) More Issue