cover
Contact Name
Anna Fauziah
Contact Email
p3m.pkps@gmail.com
Phone
+62318911380
Journal Mail Official
p3m.pkps@gmail.com
Editorial Address
Jl. Raya Buncitan Kotak Pos 1, Sedati, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur 61253
Location
Kab. sidoarjo,
Jawa timur
INDONESIA
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol 23, No 2 (2025): CHANOS CHANOS" : 5 Documents clear
PENGALENGAN IKAN LEMURU DI PT. XYZ MENGGUNAKAN GOOD MANUFACTURING PRACTICES (GMP) DAN STANDARD SANITATION OPERATION PROCEDURE (SSOP) Triyastuti, Meilya Suzan; Putri, Ni Luh Sintya; Wijaya, Novie; Ticoalu, Fidel; Tumanduk, Nova M; Ondang, Hetty M. P.; Wewengkang, Itje D.
Chanos Chanos Vol 23, No 2 (2025): CHANOS CHANOS
Publisher : Politeknik Kelautan dan Perikanan Sidoarjo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/chanos.v23i2.14360

Abstract

Pemanfaatan ikan lemuru perlu diproses pengolahan dengan cepat untuk menghindari kerusakan. Untuk menghindari hal ini, ikan lemuru diproses menjadi ikan kaleng. Pengalengan merupakan metode pengawetan pada produk pangan untuk memperpanjang umur simpan. Kelayakan dasar unit pengolahan merupakan persyaratan pada unit pengolahan dalam mengembangkan dan menerapkan Hazard Analysis Critical Control Point (HACCP). GMP dan SSOP merupakan dua komponen utama persyaratan kelayakan dasar yang diperlukan untuk menerapkan HACCP. Tujuan penerapan HACCP yaitu untuk memastikan bahwa produsen memenuhi persyaratan yang telah ditetapkan untuk menghasilkan produk makanan berkualitas tinggi yang sesuai dengan permintaan konsumen.Good Manufacturing Practice (GMP) adalah pedoman untuk proses produksi makanan yang dirancang untuk memastikan bahwa semuanya dilakukan dengan benar. Pedoman untuk persyaratan kebersihan pada fasilitas pemrosesan ikan adalah Standard Sanitation Operating Procedure (SSOP). Salah satu persyaratan yang harus dipenuhi oleh industry perikanan yaitu sanitasi dan higienitas. Pengolahan ikan dalam kaleng di PT. XYZ terdiri dari 19 alur proses yaitu menerima bahan baku, menyimpan ikan sementara, memotong, mencuci di mesin rotary, pencucian ikan dan pengisian ikan ke dalam kaleng, pemasakan awal, penirisan, pemasakan media, pengisian media, penutupan kaleng, pencucian kaleng pada can washer, mencuci kaleng di holding tanks, sterilisasi dan pendinginan, pengelapan, pengkodean, inkubasi, pengemasan, penyimpanan dan pengiriman yang telah sesuai dengan SNI 8222:2022. PT. XYZ telah menerapkan 8 kunci prosedur SSOP dengan baik pada setiap tahap proses pengalengan ikan yaitu keamanan air dan es, sanitasi kondisi permukaan yang kontak langsung dengan produk, pencegahan kontaminasi silang, sanitasi tempat pencuci tangan, pencegahan dan pencemaran, penandaan bahan-bahan berbahaya, Kesehatan pekerja, pengendalian hama. Penerapan GMP dan SSOP yang telah ada sudah diterapkan dengan baik dan benar memenuhi standar pedoman persyaratan dan tata cara berproduksi yang baik pada alur proses pengalengan ikan lemuru (Sardinella longiceps).The utilization of lemuru fish requires rapid processing to avoid spoilage. To prevent this, the lemuru fish is processed into canned fish. Canning is a method of preserving food products to extend their shelf life. Basic processing unit feasibility is a requirement for processing units in developing and implementing the Hazard Analysis Critical Control Point (HACCP) system. GMP and SSOP are two main components of basic feasibility requirements needed to implement HACCP. The purpose of implementing HACCP is to ensure that producers produce high-quality food products that meet consumer demand. Good Manufacturing Practice (GMP) is a guideline for food production processes designed to ensure that all processes are carried out correctly. The hygiene guideline for fish processing facilities is the Standard Sanitation Operating Procedure (SSOP). One of the requirements the fishing industry must meet is sanitation and hygiene. Fish processing in cans at PT. XYZ consists of 19 process flows, namely receiving raw materials, temporarily storing fish, cutting, washing in a rotary machine, washing fish and filling fish into cans, initial cooking, draining, cooking the medium, filling the medium, sealing the cans, washing the cans in a can washer, washing the cans in holding tanks, sterilization and cooling, wiping, coding, and incubation.
EFEKTIVITAS IMUNOSTIMULAN EKSTRAK Gracillaria sp. TERHADAP BAKTERI Aeromonas salmonicida SECARA IN VIVO Jayanti, Shara; Asmarany, Anja; Yudana, IGP Gede Rumayasa
Chanos Chanos Vol 23, No 2 (2025): CHANOS CHANOS
Publisher : Politeknik Kelautan dan Perikanan Sidoarjo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/chanos.v23i2.15474

Abstract

This study was determining the effect of immunostimulant from Gracillaria sp. on Aeromonas salmonicida bacteria in vivo. The parameters were the survival rate, total leukocytes (Cyprinus carpio) and IC50 of Gracillaria sp. as an immunostimulant for koi that infected with Aeromonas salmonicida. Gracillaria sp. extract can improve the immune system, as seen from immune parameters such as leukoocytes and health. Gracillaria sp. extract with 70% ethanol has a flavonoid content of 1.9 mg QE/g. Flavonoids are antioxidant that can increase the immune system to against pathogen. The application of immunostimulant is given orally by mixing with the cellulase enzyme as much as 7.2 mg/g then added to koi feed at a dose based on IC50 Gracillaria sp. which is 18.6 mg/ml. he study was conducted using 6 treatments where the results showed that the highest total of leukocytes was in fish fed with immunostimulants at a dose of 2IC50 and infected with Aeromonas sp (P2) of 37.12 x 104 cells/mm3. While the lowest total leukocytes were in P5 fish, which was 16.08 x 104 cells/mm3. The lowest survival rate was in P5 (Fish fed commercial feed infected with Aeromonas salmonicida) 80% and in addition the survival value of the fish was 100%. In P5 fish, the fish fins became soft, the fish scales fell out, the surface of the fish skin produced a lot of mucus and there were wrinkles on the fish's tail fins.Penelitian ini dilaksanakan untuk mengetahui pengaruh pemberian imunostimulan dari Gracillaria sp. terhadap bakteri Aeromonas salmonicida secara in vivo. Parameter yang diuji adalah tingkat kelangsungan hidup, total leukosit ikan koi (Cyprinus carpio) serta dosis efektif dari ekstrak Gracillaria sp. sebagai immunostimulan untuk ikan koi yang terimfeksi bakteri Aeromonas salmonicida. Ekstrak Gracilaria sp. cukup efektif digunakan sebagai bahan imunostimulan untuk meningkatkan sistem imun ikan, terlihat dari parameter imun seperti lekosit dan kesehatan ikan. Ekstark Gracillaria sp.dengan pelarut etanol 70 % terbukti memiliki kandungan flavonoid sebesar 1,9 mg QE/g. Flavonoid merupakan senyawa bioaktif yang dapat meningkatkan sistem imun terhadap infeksi patogen. Aplikasi imunostimulan diberikan secara per oral dengan pemberian enzim selulase sebanyak 7,2 mg/g yang ditambahkan pada pakan ikan koi dengan dosis berdasarkan IC50 Gracillaria sp. yaitu 18,6 mg/ml. Penelitian dilakukan menggunakan 6 perlakuan dimana hasil menunjukkan bahwa jumlah total sel leukosit tertinggi adalah pada ikan yang diberikan pakan berimunostimulan dengan dosis 2IC50 dan diinfeksi dengan Aeromonas sp (P2) sebesar 37,12 x 104 sel/mm3. Sedangkan total leukosit terendah pada ikan P5 yaitu sebesar sebesar 16,08 x 104 sel/mm3. Tingkat kelangsungan hidup paling rendah adalah pada P5 (Ikan diberikan pakan komersil dengan diinfeksi Aeromonas salmonicida) 80% dan selain itu nilai kelangsungan hidup ikan adalah 100%. Pada ikan P5 mengalami kelembekan sirip ikan, kerontokan sisik ikan, permukaan kulit ikan mengeluarkan lendir yang banyak serta geripis pada sirip ekor ikan.
ANALISIS AKAR PENYEBAB CACAT PRODUK PADA PENGOLAHAN RAJUNGAN KALENG: STUDI KASUS PT ABC Pamaharyani, Luchiandini Ika; Afrianty, Tesya; Rakhmayeni, Dyah Ayu
Chanos Chanos Vol 23, No 2 (2025): CHANOS CHANOS
Publisher : Politeknik Kelautan dan Perikanan Sidoarjo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/chanos.v23i2.17713

Abstract

Canned swimming crab is an export fishery product with large market potential, but often experiences defects that affect quality and production costs. This study aims to evaluate the causes of product defects in the swimming crab canning process at PT ABC. The evaluation of the causes used root cause analysis methods such as fishbone diagrams and 5 Why Analysis. The results showed that the main defect was rust on the cans, which was caused by inadequate supervision, operator ignorance, and inconsistent implementation of SOPs. Identification of problems through fishbone diagrams revealed factors such as machines, people, methods, materials, and the environment as the main causes. Based on the 5 Whys analysis, the root cause of the problem was identified as human factors, specifically the lack of operator supervision and insufficient training. To address this problem, the study recommends increased supervision, regular training for operators, and consistent implementation of SOPs. This study concluded that the implementation of the root cause analysis method can identify problems from production quality defects on an ongoing basis, although the addition of other methods is needed to strengthen the analysis and further improvements.Rajungan kaleng merupakan produk perikanan ekspor dengan potensi pasar yang besar, namun sering mengalami masalah kecacatan yang mempengaruhi kualitas dan biaya produksi. Studi ini bertujuan untuk mengevaluasi penyebab kecacatan produk dalam proses pengalengan rajungan di PT ABC. Evaluasi penyebab menggunakan pendekatan metode analisis akar masalah seperti diagram fishbone dan 5 Why Analysis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kecacatan utama adalah karat pada kaleng, yang disebabkan oleh pengawasan yang tidak memadai, ketidaktahuan operator, dan penerapan SOP yang tidak konsisten. Identifikasi masalah melalui diagram fishbone mengungkapkan faktor-faktor seperti mesin, manusia, metode, material, dan lingkungan sebagai penyebab utama. Berdasarkan analisis 5 Why, akar masalah ditemukan pada faktor manusia yaitu kurangnya pengawasan dan pelatihan operator. Untuk mengatasi masalah ini, penelitian merekomendasikan peningkatan pengawasan, pelatihan rutin bagi operator, dan penerapan SOP yang konsisten. Penelitian ini menyimpulkan bahwa implementasi metode akar penyebab masalah (Root Cause Analysis) dapat mengetahui masalah dari cacat kualitas produksi secara berkelanjutan, meskipun diperlukan penambahan metode lain untuk memperkuat analisis dan perbaikan lebih lanjut.
PENAMBAHAN BETAINE PADA PAKAN BUATAN TERHADAP PERFORMA PERTUMBUHAN, SINTASAN, DAN PEMANFAATAN PAKAN PADA BENIH IKAN KAPIAT (Barbonymus schwanenfeldii) Ihtifazhuddin, Muhammad Ikhwan; Rahmadani, Amanda; Isriansyah, Isriansyah; Pagoray, Henny
Chanos Chanos Vol 23, No 2 (2025): CHANOS CHANOS
Publisher : Politeknik Kelautan dan Perikanan Sidoarjo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/chanos.v23i2.17190

Abstract

Penelitian ini difokuskan untuk mengevaluasi dampak suplementasi betaine pada pakan buatan terhadap performa biologis benih ikan kapiat (Barbonymus schwanenfeldii), meliputi tingkat kelangsungan hidup, laju pertumbuhan, serta efisiensi pakan, sekaligus menentukan dosis yang paling efektif. Riset berlangsung selama 30 hari di Laboratorium Kolam Percobaan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Mulawarman, menggunakan metode eksperimen Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan empat variasi perlakuan dan tiga ulangan. Variasi dosis betaine yang diuji meliputi 0%, 1%, 2%, dan 3% dari total berat pakan. Temuan riset memperlihatkan bahwa suplementasi betaine dalam berbagai konsentrasi tidak memberikan dampak signifikan secara statistik (P>0.05) terhadap parameter kelangsungan hidup maupun pertumbuhan ikan. Meski demikian, perlakuan dengan dosis betaine 2% mencatatkan tren positif tertinggi pada aspek panjang total, berat mutlak, laju pertumbuhan spesifik, dan efisiensi pakan. Tingkat kelangsungan hidup mencapai 100% pada seluruh perlakuan, mengindikasikan bahwa betaine aman dan tidak berdampak negatif pada viabilitas ikan kapiat mutlak, laju pertumbuhan harian, dan efesiensi pakan tertinggi. Tingkat sintasan benih ikan kapiat mencapai 100% pada seluruh perlakuan, yang mengindikasikan bahwa penambahan betaine ke dalam ransum ternyata tidak menghasilkan perbedaan nyata pada angka kelangsungan hidup subjek penelitian.This research aimed to evaluate the impact of betaine supplementation in artificial feed on the biological performance of tinfoil barb (Barbonymus schwanenfeldii) fingerlings, specifically focusing on survival rate, growth rate, and feed efficiency, while also determining the most effective dosage. The research was conducted for 30 days at the Experimental Pond Laboratory, Faculty of Fisheries and Marine Sciences, Mulawarman University, utilizing a Completely Randomized Design (CRD) with four treatments and three replications. The tested betaine dosages included 0%, 1%, 2%, and 3% of the total feed weight. The findings indicated that betaine supplementation at various concentrations did not have a statistically significant effect (P>0.05) on the survival or growth parameters of the fish. However, the treatment with a 2% betaine dosage recorded the highest positive trend in terms of total length, absolute weight, daily growth rate, and feed efficiency. The survival rate reached 100% across all treatments, suggesting that the addition of betaine to the diet did not result in a significant difference in the survival rate of the research subjects.
COMPARATIVE STUDY OF WATER CONTENT AND SENSORY QUALITY OF SALTED LEMURU FISH (Sardinella lemuru) WITH DIFFERENT SALTING METHODS Dewi, Resti Nurmala; Iksan, Muhammad
Chanos Chanos Vol 23, No 2 (2025): CHANOS CHANOS
Publisher : Politeknik Kelautan dan Perikanan Sidoarjo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/chanos.v23i2.18382

Abstract

Salting is one of the most widely used traditional preservation methods for producing salted fish, including lemuru (Sardinella lemuru). However, scientific information regarding the effect of different salting techniques on the water content and sensory characteristics of salted lemuru remains limited. This study aims to compare the water content and sensory quality of salted lemuru processed using wet salting (50% and 100%) and dry salting (5% and 10%) with different drying durations (5, 7, and 9 hours). The production process followed the Indonesian National Standard SNI 8273:2023, while moisture analysis referred to SNI 2354.2:2015. Sensory evaluation was conducted by 30 untrained panelists assessing appearance, odor, and texture. Results showed that dry salting produced lower moisture content (7.22-8.27%) compared to wet salting (9.52-11.41%). In contrast, the highest appearance and texture sensory scores were obtained from wet salting, particularly treatment B100-9 (score 8.60), whereas dry salting with high salt concentration and prolonged drying (K10-9) resulted in decreased texture and odor quality due to excessive dehydration. Overall, the findings confirm that salting method significantly affects the final quality of salted lemuru, and wet salting with an optimal salt concentration provides the best balance between moisture reduction and desirable sensory characteristics.

Page 1 of 1 | Total Record : 5