cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Sain Veteriner
ISSN : 012660421     EISSN : 24073733     DOI : -
Core Subject : Health,
Arjuna Subject : -
Articles 796 Documents
IDENTIFIKASI GLIKOKONJUGAT PENGHANTAR BAU DAN DISTRIBUSINYA PADA EPITELIUM OLFAKTORIUS HIDUNG KALONG KAPAUK (Pteropus vampyrus) DAN LASIWEN DEIGNAN (Myotis horsfieldii) Yosephine Nicolory Paula; Teguh Budipitojo
Jurnal Sain Veteriner Vol 27, No 1 (2009): JUNI
Publisher : Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada bekerjasama dengan PB PDHI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3755.25 KB) | DOI: 10.22146/jsv.310

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi jenis-jenis residu gula dalam glikokonjugat menggunakan 4 jenis lektin yaitu wheat germ agglutinin (WGA), soybean agglutinin (SBA), concanavalin A (Con A), Rhicinus communis Agglutinin (RCA) dan distribusinya pada epitelium olfaktorius tunika mukosa hidung kelelawar pemakan buah (Pteropus vampyrus) dan kelelawar pemakan serangga (Myotis horsfieldii). Sebanyak 3 ekor Kalong betina dewasa dan 2 ekor Lawabetina dewasa digunakan dalam penelitian. Preparat histologinelitian dari 3 ekor kalong betina dewasa dan 3 ekor lawa betina dewasa dicat dengan pewamaan Alcian Blue-Periodic Acid Solution (AB-PAS). Analisis preparat histologi dilakukan secara deskripstif. Dapat disimpulkan bahwa residu gula pada glikokonjugat epithelium Kalong adalah mannose, N-acetylgalactosamine dan N-acetylglucosamine. Jenis-jenis residu gula pada glikokonjugat epitelium olfaktorius lasiwen adalah mannose dan N-acetylglucosamine. Distribusi residu gula tersebut terdapat pada lapisan mukus permukaan, dendrit, zona supranuklear badan sel saraf olfaktorius, duktus kelenjar Bowman, kelenjar Bowman dan sel basal, sedangkan distribusi residu gula pada epitelium olfaktorius lasiwen tersebar di lapisan mukus permukaan dan zona supranuklear badan sel saraf olfaktorius.Kata kunci: Residu gula, glikokonjugat, epitelium olfaktorius, kalong, lasiwen
PENGARUH SUHU PENYIMPANAN TERHADAP TITER IIEEMAGLUTINASI VIRUS INFECTIOUS BRONCHITIS GALUR MASSACHUSETTS H-120 = EFFECT OF THE TEMPERATUR STORAGE FOR HEMAGLLUTINATION TITER OF INFECTIOUS BRONCHITIS VIRUS MASSACHUSETTS Tri Untari, Farinton Nainggolan Untari; Farinton Nainggolan
Jurnal Sain Veteriner Vol 20, No 2 (2002): Desember
Publisher : Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada bekerjasama dengan PB PDHI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (554.685 KB) | DOI: 10.22146/jsv.312

Abstract

Telah dilakukan penelitian tentang pengaruh suhu penyimpanan terhadap titer hemaglutinasi virus Infectious BrOnchitis (IB) galur Massachusetts H 120. Virus 113 yang digunakan berupa vaksin hidup sebanyak 0,1 (103EID50/m1) yang diinokulasikan pada ruang allantois telur ayam berembrio umur 10 hari dan diinkubasi selama 30 jam. Cairan alantois dipanen dan diputar 2500 g selam 15 menit. Supematan diambil dan diputar 39.000 g selama 45 menit. Pelet virus diresuspensikan dalam bufer Tris hidroklorida dan diberi 0,5 unit/ ml enzym fosfolipase C tipe I dan diinkubasi 37°C selam 2 jam. Hasil penelitian mentutjulckan bahwa titer HA virus LB lebih stabil pada penyimpanan suhu 4° C dan pada suhu –20° C.      : Tri Untari, Farinton Nainggolan
EFEK EKSTRAK BUAH MERAH (Pandanus conoideus Lam.) TERHADAP AKTIVITAS ENZIM DAN mSTOPATOLOGIK HATI TIKUS PUTIH (Rattus norvegicus) YANG DIINDUKSI CCl4 Y. Sanata Lingga; Oky Yosianto Christiawan; Bambang Hariono
Jurnal Sain Veteriner Vol 27, No 1 (2009): JUNI
Publisher : Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada bekerjasama dengan PB PDHI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4619.401 KB) | DOI: 10.22146/jsv.313

Abstract

Dua puluhekor tikus putih jantan (Rattus norvegicus) dibagi dalam lima kelompok. Kelompok I merupakan kelompok kontrol, kelompok II, III, IV dan V adalah kelompok perlakuan. Senyawa CC14 dengan dosis 0,125 mL/200 g bb diberikan peroral pada kelompok tikus perlakuan sebanyak 10 kali (hari ke-l sampai hari ke-19) dengan interval 2 hari, dan kelompok kontrol diberi akuades dengan volume yang sama. Mulai hari ke-21 sampai hari ke-35 tikus kelompok IV dan V diberi ekstrak buah merah sebanyak 0,54 mL, dan kelompok I, II dan III diberi akuades dengan volume yang sarna. Pada hari ke 21,23,27 dan 35, tikus kelompok III dan V masing-masing dibunuh satu ekor untuk pemeriksaan histopatologik hati. Pada akhir penelitian (hari ke-35) semua tikus penelitian yang tersisa dibunuh untuk kemudian dilakukan pemeriksaan histopatologik hati. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian CC14 dengan dosis 0,125 mL/200 g bb sebanyak 10 kali dengan interval 2 hari menyebabkan peningkatan aktivitas enzim ALT(p<0,05) dibandingkan kelompok kontrol. Selanjutnya pada hari ke-35 terjadi penurunan aktivitas enzim ALT pada kelompok tikus perlakuan II dan IV (p<0,05) dibandingkan pada hari ke-21. Pemeriksaan histopatologik terlihat kongesti, susunan radier hepatosit tidak jelas, degenerasi hidropik dan nekrosis sentrolobuler hati. Regenerasi hati tikuskelompok perlakuan yang diberi ekstrak buah merah memperlihatkan proses regenerasi yang lebih cepat ditandai dengan susunan radier hepatosit dibandingkan kelompok tikus yang hanya diberi CC14 saja.Kata kunci : Ekstrak buah merah, enzim ALT, CC14
ISOLATION OF VT1 AND/OR VT2 GENE-BEARING Escherichia coif FROM CATTLE, SWINE AND SHEEP AND GOAT = ISOLASI Escherichia coli PEMBAWA GEN VT1 DAN VT2 DART SAPI, BABI DAN DOMBA/KAMBING Yatri Drastini; Setyawan Budiharta; Widya Asmara
Jurnal Sain Veteriner Vol 20, No 2 (2002): Desember
Publisher : Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada bekerjasama dengan PB PDHI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1493.612 KB) | DOI: 10.22146/jsv.314

Abstract

Dewasa ini dikenal adanya lima kelas EScherichia coli enterovirulen, termasuk E. coli verositotoksigenik (VTEC). Nama VTEC berhubungan dengan verositotoksin yang dihasilkan, yang disandi oleh gen VT dalam kromosom E. coli. Identifikasi VTEC pada awalnya selalu dikaitkan dengan serotipe 0157:H7. Tulisan ini melaporkan isolasi E. coli pembawa gen VT1 dan/atau VT2 dari sapi, babi, dan domba/kambing. Oles rekturn diambil dari hewan, dan adanya E. coli dideteksi dengan BGA, EMBA dan SMAC. Uji aglutinasi lateks digunakan untuk mendeteksi antigen 0157, dan adanya gen VT1 dan VT2 dideteksi dengan PCR. Paling tidak 44% isolat E. coli dari sapi tidak inernfermentasi sorbitol dengan 1,5% di antaranya adalah serotipe 0157. Isolat E. coil pembawa gene VTI danlatau VT2 paling banyak berasal dari babi. Namun, tidak semua E. coil pembawa gen tersebut adalah 0157.
DISTRIBUSI Culicoides spp. (DIPTERA: CERATOPOGONIDAE) PADA PETERNAKAN AYAM PETELUR DI KABUPATEN SLEMAN YOGYAKARTA = A DISTRIBUTION OF Culicoides spp. (Dag bRA: CERATOPOGONIDAE) ON THE LAYER POULTRY FARMS IN SLEMAN REGEN Ana Sahara; Dwi Priyowidodo
Jurnal Sain Veteriner Vol 20, No 1 (2002): Juli
Publisher : Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada bekerjasama dengan PB PDHI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (5330.004 KB) | DOI: 10.22146/jsv.315

Abstract

Telah diteliti distribusi spesies Culicoides yang ada di kitar peternakan ayam petelur di Kabupaten Sleman Daerah Istimewa Yogyakarta. Penelitian ini ditujukan untuk mengetahui spesies-spesies Culicoides yang mempunyai peranan dalam menyebarkan penyakit leukositozoonosis pada ayam petelur. Sebanyak 762 ekor Culicoides (Diptera: Ceratopgonidae) dikumpulkan dari dua belas peternakan ayam petelur di wilayah Kabupaten Sleman dengan menggunakan perangkap serangga Pirbright type rniniatur light trap. Culicoides yang diperoleh dikelompokkan dan diidentiflkasi berdasarkan karakter morfologis menurut Wirth den Hubert. Basil penelitian menunjukkan tidal( ada perbedaan populasi Culicoides dari petemakan ayam petelur yang ada di wilayah Kabupaten Sleman pada dataran rendah maupun dataran tinggi. Ada delapan spesies Culicoides yang diperoleh dari petenakan ayam petelur di Kabupaten Sleman yang berhasil diidentifikasi yaitu: C. lye, C. guttifer, C. arakawae, C. oxystoma, C. parahumeralis, C. peregrinus, C. sumatrae dan C. clavipalpis. Spesies Culicoides yang dicurigai sebagai penyebar penyakit leukositozoonosis di Kabupaten Sleman adalah C. huffi, C. guitifer , dan C.arakawae .
EFEKTIVITAS IVERMECTIN DAN FIPRONIL DALAM MENGATASI SERANGAN CAPLAK PADA ANJING = THE EFFECTIVENESS OF IVERMECTIN AND F1PRONIL FOR TICK ERADICATION IN DOG Hary Purnamaningsih; Ida Tjahajati
Jurnal Sain Veteriner Vol 20, No 1 (2002): Juli
Publisher : Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada bekerjasama dengan PB PDHI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3795.156 KB) | DOI: 10.22146/jsv.316

Abstract

Penelitian bertujuan untuk mengetahui efektivitas ivermectin dan fipronil dalam mengatasi serangan caplak pada anjing. Penelitian. menggunalcan 16 ekor anjing dengan !criteria bebas parasit, baik ektoparasit maupun endoparasit. Anjing dibagi secara acak menjadi 4 kelompok, masing-masing 4 ekor. Kelompok I dan 11 dibuat sebagai kelompok infestasi ringan, dan kelompok dan IV sebagai kelompok berat. Kelompok I dan m diberi pengobatan injeksi subkutan ivermectin 1% dengan dosis 400 µg/kg BB. Kelompok II dan IV diberi pengobatan fipronil 3 ml/kg BB dengan cara disemprotkan pada anjing dan diratakan dengan telapak tangan. Pengobatan diulang selang 4 minggu untuk menghindari terjadinya infestasi ulang. Waktu hilangnya caplak terns diikuti, dengan jalan menghitung jumlah caplak dewasa setiap hari sekali, sejak pemberian obat pertama. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) pengobatan denganfipronil lebih efektif dibandingkan dengan ivermectin, untuk infestasi caplak ringan, (2) pengobatartfiprond pada infestasi caplak ringan, akan lebih efektif dengan pemberian dua kali selang 4 minggu.
EFEKTIVITAS DORAMECTIN UNTUK PENGOBATAN SKABIES PADA KUCING = THE EFFECTIVENESS OF DORAMECTIN FOR SCABIES TREATMENT IN CAT Ida Tjahajati
Jurnal Sain Veteriner Vol 20, No 1 (2002): Juli
Publisher : Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada bekerjasama dengan PB PDHI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (5039.204 KB) | DOI: 10.22146/jsv.317

Abstract

Penelitian bertujuan untuk mengetahui efektivitas doramectin dalam pengobatan skabies pada kucing. Penelitian menggunakan kucing yang menderita skabies dengan infestasi terbatas pada daerah kepala sebanyak 15 ekor, dibagi dalam 3 kelompok masing-masing 5 ekor. Kelompok I, II dan HI berturut-turut diinjeksi subkutan doramectin dengan dosis 150 [tg, 200 pg dan 250 ug/kg berat badan. Pengobatan diulang apabila kucing masih menunjukkan positif adanya tungau pada pemeriksaan mikroskopis. Perkembangan penyakit diamati sampai 2 minggu setelah pengobatan. Peng,amata.n meliputi perubahan lesi pada kulit, hasil pemeriksaan kerokan kulit secara mikroskopis, dan gambaran darah sebelum dan sesudah pengobatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dosis 150 µg/kg BB tidak efektif mengatasi skabies pada kucing, sedang dosis 200 p.g/kg dan 250 ug efektif membasmi skabies pada kucing. Doramectin dosis 200 1./g/kg berat badan dapat digunakan sebagai alternatif untuk pengobatan skabies pada kucing.
PENENTUAN DAN ANALISIS SECARA MOLEKULER DAM STRAIN Schistosoma japonicum (TREMATODA) DI INDONESIA = DETERMINATION AND MOLECULAR ANALYSIS OF STRAIN OF Schistosoma japonicum (TREMATODA) IN INDONESIA Kurniasihl .; F.A. Sudjadi; Bambang Sumiarto; Susan M. Noor
Jurnal Sain Veteriner Vol 20, No 1 (2002): Juli
Publisher : Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada bekerjasama dengan PB PDHI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (6422.735 KB) | DOI: 10.22146/jsv.318

Abstract

Schistosomiasis adalah penyakit endemik yang dapat menyerang manusia dan hewan di sekitar danau Lindu dan lembah Napu, Sulawesi Tengah, Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kemungkinan adanya variasi intra-spesies dari cacing dewasa Schistosoma japonicwn berasal dari Indonesia. Tikus liar dan siput, Oncomelania hupensis lindoensis, diambil dari danau Lindu dan lembah Napu, Sulawesi Tengah. Serkaria S. japonicum yang keluar dari siput kemudian di infeksikan ke lima ekor mencit untuk pengamatan cacing dewasa dan perubahan histopatologi semua organ. Serkaria dan owing dewasa diamati morfologinya, sebagian cacing dewasa di fiksasi dengan larutan ethanol absolut untuk dilakukan ekstraksi rDNA, amplifikasi dengan PCR, atau analisis restriction length fragment polymorphism (RFLP) dengan enzim digesti dan elektrophoresis pada agarose. Ekstraksi rDNA caring jantan dan betina secara individual dengan metoda phenol chloroform dan amplifikasi rDNA. menunjukkan hasil band yang baik. Hasil analisis RFLP dengan menggunakan 3 enzim Windifi, EcoRI dan menunjukkan perbedaan strain S. japonicum yang berasal dari Napu dan Lindu. Variasi intra-spesies rDNA cacing dewasa dijumpai pula di lembah Napu.
PENGARUH PEMBERIAN AIR PERASAN DALIN PEPAYA PADA AYAM: II. RESPON PATOFISIOLOGIK HEPAR = THE EFFECTS OF PAPAYA LEAF EXTRACT ON CHICKENS: II. PATHOPHYSIOLOGIC AL CHANGES OF LIVER Mufti Kamaruddin; M. Nur Sabo
Jurnal Sain Veteriner Vol 20, No 1 (2002): Juli
Publisher : Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada bekerjasama dengan PB PDHI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3117.884 KB) | DOI: 10.22146/jsv.319

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk melihat pengaruh pemberian air perasan dam pepaya dengan berbagai tingkatan dosis terhadap respon patofisiologik hepar ayam buras. Penelitian menggunakan 20 ekor ayam buras yang berumur 3 bulan dengan berat badan rata-rata (± SD) adalah 577 ± 69,97 gram. Hewan percobaan dikelompokkan secara acak merata dalam lima kelompok perlakuan, tiap-tiap kelompok terdiri dari empat ekor. Kelompok pertama sebagai kontrol hanya diberikan aquades (P0); kelompok kedua sampai kelompok lima diberi air perasaan daun pepaya dosis tunggal sebagai berikut: 1,5 ml (P1), 2,0 ml (P2), 2,5 nil (P3) dan 3,0 ml (P4). Untuk pembuatan perasan daun pepaya digunakan 400 g daun pepaya yang diekstraksi secara sederhana. Empat hturi setelab perlakuan ayam dikorbankan, dinekropsi dan dilakukan pemeriksaan hepar. Pemeriksaan dilakukan secara makroskopik dan mikroskopik. Preparat mikroskopik dibuat dengan metode parafin dan diwarnai dengan hematoksilineosin (HE). Hasil penelitian menunjukkan perubahan patologik pada hepar pada kelompok perlakuan P2„ P3 dan P4. Secara makroskopik pada hepar terlihat membengkak dan hiperemik, sedangkan secara mikroskopik struktur hepatositus teijadi degenerasi dengan gambaran inti pucat, hiperemi, hemoragi, dan koloni sel polimorfonuklear. Pada kelompok Po dan Pl tidak terlihat adanya perubahan makroskopik dan mikroskopik pada hepar ayam. Dari basil penelitian dapat disimpulkan bahwa dosis air perasan daun papaya 1,5 ml tidak menimbulkan perubahan patofisiologik, sedangkan pemberian pada dosis 2,0 nil, 2,5 ml dan 3,0 mi memperlihatkan perubahan patofisiologik pada hepar ayam buras. Semakin tinggi dosis pemberian air perasan daun pepaya yang diberikan pada ayam semakin besar perubahannya. Kata kunci: Air perasan daun pepaya; patofisiologik hepar
PENGARUH PEMBERIAN AIR PERASAN DAUN PEPAYA PADA AYAM: RESPON TERHADAP PATOFISIOLOGIK GINJAL = THE EFFECTS OF PAPAYA LEAF EXTRACT ON CHICKENS: III. KIDNEY PATHOPHYSIOLOGICAL RESPONSE Mufti Kamaruddin; M. Nur Salim
Jurnal Sain Veteriner Vol 20, No 1 (2002): Juli
Publisher : Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada bekerjasama dengan PB PDHI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4994.734 KB) | DOI: 10.22146/jsv.320

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk melihat pengaruh pemberian air perasan daun pepaya dengan berbagai tingkatan dosis terhadap respon patofisiologik ginjal ayam buras. Penelitian menggunakan 20 ekor ayam buras yang berumur 3 bulan dengan berat badan rata-rata (± SD) adalah 577 ± 69,97 gram. Hewan percobaan dikelompokkan secara acak merata dalam lima kelompok perlakuan, tiap-tiap kelompok terdiri dari empat ekor. Kelompok pertama sebagai kontrol hanya diberikan aquades (Po); kelompok kedua sampai kelompok lima diberi air perasaan daun pepaya dosis tunggal sebagai berikut: 1,5 ml (P1), 2,0 ml (P2), 2,5 nil (P3) dan 3,0 ml (P4). Untuk pembuatan perasan daun pepaya digunakan 400 g daun pepaya yang diekstraksi secara sederhana. Empat hari setelah perlakuan ayam dibedah bangkai, dinekropsi dan dilakukan pemeriksaan ginjal. Pemeriksaan dilakukan secara makroskopik dan mikroskopik. Preparat mikroskopik dibuat dengan metode parafin dan diwamai dengan hematoksilin-eosin (HE). Hasil penelitian menunjukkan perubahan patologik pads ginjal pada kelompok perlakuan P2, P3 dan P4. Secara makroskopik pada ginjal terlihat membengkak dan hiperemik, dan secara mikroskopik struktur ginjal terjadi degenerasi epitel tubulus, hiperemi, hemoragi, dan koloni sel polimorfonuklear. Pada kelompok Po dan P1 tidak terlihat adanya perubahan makroskopik dan mikroskopik pada ginjal ayam. Dan basil penelitian dapat disinapulkan bahwa dosis air perasan daun pepaya 1,5 ml tidak menirnbulkan perubahan patofisiologik, sedangkan pemberian pada dosis 2,6 ml; 2,5 ml dan 3,0 ml memperlihatkan perubahan patofisiologik pada ginjal ayam buras. Semakin tinggi dosis pemberian air perasan daun pepaya yang diberikan pada ayam semakin besar perubahan pada ginjal. Kata kunci: Air perasan daun pepaya; patofisiologik ginjal

Page 5 of 80 | Total Record : 796


Filter by Year

1995 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 43, No 2 (2025): Agustus Vol 43, No 1 (2025): April Vol 42, No 3 (2024): Desember Vol 42, No 2 (2024): Agustus Vol 42, No 1 (2024): April Vol 41, No 3 (2023): Desember Vol 41, No 2 (2023): Agustus Vol 41, No 1 (2023): April Vol 40, No 3 (2022): Desember Vol 40, No 2 (2022): Agustus Vol 40, No 1 (2022): April Vol 39, No 3 (2021): Desember Vol 39, No 2 (2021): Agustus Vol 39, No 1 (2021): April Vol 38, No 3 (2020): Desember Vol 38, No 2 (2020): Agustus Vol 38, No 1 (2020): April Vol 37, No 2 (2019): Desember Vol 37, No 1 (2019): Juni Vol 36, No 2 (2018): Desember Vol 36, No 1 (2018): Juni Vol 35, No 2 (2017): Desember Vol 35, No 1 (2017): Juni Vol 34, No 2 (2016): Desember Vol 34, No 1 (2016): Juni Vol 33, No 2 (2015): Desember Vol 33, No 1 (2015): JUNI Vol 32, No 2 (2014): DESEMBER Vol 32, No 1 (2014): JUNI Vol 31, No 2 (2013): DESEMBER Vol 31, No 1 (2013): JULI Vol 30, No 2 (2012): DESEMBER Vol 30, No 1 (2012): JUNI Vol 29, No 2 (2011): DESEMBER Vol 29, No 1 (2011): JUNI Vol 28, No 2 (2010): DESEMBER Vol 28, No 1 (2010): JUNI Vol 27, No 2 (2009): DESEMBER Vol 27, No 1 (2009): JUNI Vol 26, No 2 (2008): DESEMBER Vol 26, No 1 (2008): JUNI Vol 25, No 2 (2007): DESEMBER Vol 25, No 1 (2007): JUNI Vol 24, No 2 (2006): DESEMBER Vol 24, No 1 (2006): JUNI Vol 23, No 2 (2005): DESEMBER Vol 23, No 1 (2005): JUNI Vol 22, No 2 (2004): DESEMBER Vol 22, No 1 (2004): Juli Vol 21, No 2 (2003): DESEMBER Vol 21, No 1 (2003): JULI Vol 20, No 2 (2002): Desember Vol 20, No 1 (2002): Juli Vol 19, No 2 (2001): DESEMBER Vol 18, No 1&2 (2000) Vol 18, No 2 (2000) Vol 18, No 1 (2000) Vol 17, No 1 (1999) Vol 16, No 2 (1999) Vol 16, No 1 (1998) Vol 15, No 1&2 (1996) Vol 14, No 2 (1995) More Issue