cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Sain Veteriner
ISSN : 012660421     EISSN : 24073733     DOI : -
Core Subject : Health,
Arjuna Subject : -
Articles 796 Documents
Efisiensi ekstraksi metabolit steroid asal feses dengan proses pengeringbekuan dan tanpa proses pengeringbekuan untuk persiapan analisis hormone= Extraction efficiency of fecal metabolite steroid using lyophilization ... Hera Maheshwari; Puji Astuti; Luthfiralda Syahfirdi; Rivany Widjajakusuma
Jurnal Sain Veteriner Vol 24, No 1 (2006): JUNI
Publisher : Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada bekerjasama dengan PB PDHI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1369.968 KB) | DOI: 10.22146/jsv.342

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk membandingkan efisiensi ekstraksi steroid asal feses yang didahului dengan proses pengeringbekuan dan tanpa proses pengeringbekuan (feses basah). Sebanyak 10 contoh feses babirusa (Babyrousa babyrussa) betina dari Taman Margasatwa Surabaya yang dikoleksi setiap hari. Ekstraksi feses dalam metanol dilakukan dengan 2 metoda, yaitu ekstraksi feses yang didahului proses pengeringbekuan terlebih dahulu dan ekstraksi feses basah. Efisiensi ekstraksi dari masing-masing contoh ditentukan dengan menghitung perolehan kembali (recovery) [3H]-estron terkonjugasi ([3F1]-EIC). Dari hasil perhitungan perolehan kembali [31-1]-EIC, diperoleh rerata efisiensi ekstraksi 79.60 + 4.82 % untuk ekstraksi yang didahului proses pengeringbekuan dan 79.03 + 6.47 % untuk ekstraksi feses basah. Hasil tersebut menunjukkan bahwa proses penyiapan contoh feses sebelum digunakan untuk analisis hormon dapat dilakukan balk dengan proses pengeringbekuan terlebih dahulu maupun ekstraksi langsung terhadap feses basah. Namun, berdasarkan pertimbangan kepraktisan, maka proses ekstraksi feses basah adalah yang lebih baik karena memerlukan waktu yang lebih cepat, biaya yang lebih murah dan ketrampilan yang tidak begitu tinggi dibandingkan dengan proses ekstraksi feses yang dikeringbekukan terlebih dahulu.
Kasus Ankilostomiasis Pada Pasten Anjing di Klinik Penyakit Dalam, Rumah Sakit Hewan FKH.UGM Selama Tahun 2005 = Case of Ancylostomiasis in Dog Patiens in Department of Internal Medicine, Animal Hospital, ... Ida Tjahajati; Hary Purnamaningsih; Guntari Titik Mulyani; Yuriadi .
Jurnal Sain Veteriner Vol 24, No 1 (2006): JUNI
Publisher : Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada bekerjasama dengan PB PDHI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2225.469 KB) | DOI: 10.22146/jsv.343

Abstract

Ancylostoma caninum rnerupakan cacing tarnbang yang banyak irenyeriuig pada manusia dan hewan kesayangan seperti anjing. Meskipun kasus ankilostomiasis banyak ditemukan namun angka kejadian penyakit ankilostomiasis pada pasien anjing di Klinik Penyakit Dalam RSH FKH-UGM belurn pernah diteliti secara final dan dipublikasikan. Kajian bertujuan untuk mengungkap angka kejadian ankilostomiasis pada pasien anjing yang ada di Klinik Penyakit Dalam RSH selama tahun 2005. Kajian dilakukan dengan metode retrospektif, dengan menggunakan data dari medical record pasien yang ada di Klinik Penyakit Dalam, RSH FKH-UGM selama tahun 2005. Data ankilostomiasis pada anjing didasarkan pada adanya telur cacing Ancylostoma sp pada pemeriksaan tinja. Data yang diperoleh diolah sehingga diperoleh angka juinlah penderita ankilostomiasis per bulan, dan persentase penderita ankilostomiasis dibanding dengan penyakit lainnya tiap bulannya dalam periode sate tahun. Hasi! penelitian menunjukkan bahwa kasus ankilostomiasis pada pasien anjing di Klinik Penyakit Dalarn RSH FKH-UGM selalu ada sepanjang tahun 2005. Dibanding dengan penyakit lainnya kasus ankilostomiasis anjing merupakan penyakit yang paling dominan, dan mencapai puncaknya (23,33%) pada bulan Oktober. Berdasar pada banyaknya kasus di sepanjang tahun dan dominannya penyakit ankilostomiasis pada anjing yang punya risiko untuk menular pada manusia, maka penyuluhan kepada pemilik anjing dan kewaspadaan untuk pencegahan penularan ke manusia sangat penting untuk diupayakan.
Antibody of goat zona pellucida-3 (gzp3) protein of mice(Mus musculus) block in vitro fertilization of mice as an animal model= Antibodi protein zona pelusida-3 kambing (gZP3) asal mencit(Mus musculus) mencegah ... Imam Mustofa; Laba Mahaputra; Yoes Priyatna Dachlan; Fedik Abdul Rantam; Suwarno .; Widjiati .; Aucky Hinting
Jurnal Sain Veteriner Vol 24, No 1 (2006): JUNI
Publisher : Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada bekerjasama dengan PB PDHI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2056.388 KB) | DOI: 10.22146/jsv.344

Abstract

The researchs of immunocontraception have done in ZP3 of several species, but have not been done in ZP3 of goat. In preliminary study, gZP3 protein was effective prohibited of graviditation of mice. The aim of this study was to prove the potency of gZP3 protein to prohibit in vitro fertilization of mice as an animal model. Antibody of gZP3 produced on mice. Immunized mice serum was analyzed using Elisa and Dot blotting method. Antibody of gZP3 supplemented into M-16 media for oocyte incubation, continued with in vitro fertilization. The result showed that antibody titer of immunized mice serum was higher (p
Respon Neutrofil, Adesi Pada Sel Epitel, Aglutinasi Eritrosit Terhadap Staphylococcus aureus : Kajian Hidrofobisitas In Vitro = Response of neutrophils, epithelial cells adhesion, erythrocytes agglutination of Staphyloco Khusnan .; Siti Isrina Oktavia Salasia
Jurnal Sain Veteriner Vol 24, No 1 (2006): JUNI
Publisher : Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada bekerjasama dengan PB PDHI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2690.953 KB) | DOI: 10.22146/jsv.345

Abstract

Staphylococcus aureus merupakan salah satu bakteri potensial sebagai penyebab utama mastitis pada sapi perah. Mastitis dapat menyebabkan kerugian ekonomi peternak akibat turunnya produksi susu. Infeksi bakteri dapat terjadi melalui kemampuan bakteri memasuki hospes, berkembang biak, merusak jaringan inang dan mampu bertahan dalam tubuh hospes. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan sifat hidrofobisitas S. aureus dan kemampuannya terhadap aglutinasi eritrosit, pelekatan dengan sel epitel dan kemampuan bertahan terhadap fagositosis sel polimorfonuklear. Dari 10 isolat S. aureus yang digunakan dalam penelitian ini, terdapat 8 isolat bersifat hidrofob dan 2 isolat bersifat hidrofil. Diantara isolat yang bersifat hidrofob terdapat 2 isolat mempunyai kemampuan mengaglutinasi eritrosit sapi perah, kambing, domba. Staphylococcus aureus yang bersifat hidrofob dan hemaglutinasi positif, lebih banyak melekat pada sel-sel epitel bukalis dan lebih banyak difagosit oleh sel-sel PMN dibanding isolat yang bersifat hidrofob tetapi hemaglutinasi negatif maupun isolat yang bersifat hidrofil. Isolat yang bersifat hidrofil tidak mampu mengaglutinasi eritrosit dan lebih sedikit melekat pada sel-sel epitel dan lebih sedikit difagosit oleh sel-sel PMN.
Isolasi dan Identifiicasi Serologis Virus Avian Influenza Dari Sampel Unggas Yang Diperoleh di D.I. Yogyakarta dan Jawa Tengah = Isolation and Serological Identification of Avian Influenza Virus From Poultry Sample ... Michael Haryadi Wibowo; Widya Asmara; Charles Rangga Tabbu
Jurnal Sain Veteriner Vol 24, No 1 (2006): JUNI
Publisher : Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada bekerjasama dengan PB PDHI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3152.733 KB) | DOI: 10.22146/jsv.346

Abstract

Avian Influenza (AI) merupakan penyakit penting pada unggas, karena dapat menyebabkan kerugian ekonomi secara signifikan, dengan tingkat morbiditas dan mortalitas penyakit sangat tinggi. L,ebih dan itu potensi penularan penyakit AI dari hewan ke manusia, memberikan dampak ekonomi tersendiri. Beberapa kasus yang diduga sebagai AI banyak mewabah di beberapa daerah di Indonesia. Penyakit tersebut cukup membingungkan peternak dan sangat dikacaukan dengan penyakit Newcastle (ND) karena kedua penyakit mempunyai kemiripan karakter dan gejala klinis. Penelitian ini bertujuan untuk mengkonfirmasi apakah wabah penyakit tersebut disebabkan oleh virus AI atau virus ND. Sampel isolasi diambil dari paru atau trakhea, kemudian diproses lebih lanjut untuk diisolasi, dipropagasi secara in ovo menggunakan telur ayam berembrio umur 9 sampai 12 hari, spesific pathogen free atau telur yang setidaknya bebas antibodi terhadap virus AI. Teknik isolasi menurut standar prosedur Office International des Epizooties (01E) dan kemungkinan adanya pertumbuhan virus diuji terhadap kemampuan mengaglutinasi sel darah merah ayam atau hemaglutinasi (HA). Uji HA positif, mengindikasikan ada pertumbuhan virus ND atau virus AL Kedua jenis virus tersebut dapat dibedakan dengan uji hemaglutinasi inhibisi (HI) menggunakan serum anti dari masing-masing virus yang diuji. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat diambil suatu kesimpulan bahwa beberapa sampel unggas, yaitu: ayam petelur, ayam broiler, ayam kampung, dan burung puyuh, yang di peroleh dari beberapa daerah di D.I. Yogyakarta dan Jawa Tengah dan secara klinis menunjukkan gejala tersifat maupun tidak tersifat AI, secara serologis dapat dikonfirmasi sebagai virus avian influenza sub-tipe 145Ni.
Fertilitas Semen Beku Hasil Ejakulasi dan Spermatozoa Beku Asal Cauda Epididimis Domba Garut= Fertility of Frozen-Thawed Semen From Ejaculation and Frozen-Thawed Spermatozoa From Cauda Epididymis of Garut Ram. Muhammad Rizal
Jurnal Sain Veteriner Vol 24, No 1 (2006): JUNI
Publisher : Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada bekerjasama dengan PB PDHI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2975.346 KB) | DOI: 10.22146/jsv.347

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk menguji clan membandinglcan kualitas dan fertilitas antara semen beku hasil ejakulasi (SHE) dan spermatozoa beku asal cauda epididimis (SCE) domba Garut melalui inseminasi buatan (IB). Semen diencerkan dengan modifikasi pengencer Tris yang mengandung 5% gliserol dan 20% kuning telur. Semen dikemas di dalam straw mini (0,25 ml) dengan konsentrasi 200 juta spermatozoa motif. Semen diekuilibrasi pada suhu 5°C selama tiga jam, kemudian dibekukan dan disimpan di dalam konteiner nitrogen cair selama tujuh hari. Kualitas semen meliputi persentase spermatozoa motif, spermatozoa hidup, tudung akrosom utuh (TAU), dan membran plasma utuh (MPU) dievaluasi masing-masing setelah tahap pengenceran, ekuilibrasi, dan thawing. Sebelum IB, betina-betina diserentakkan estrusnya dengan cara mengimplan CIDR-G® di dalam vagina selama 13 hari. Inseminasi secara intracervical dilakukan 53 jam setelah pencabutan implan CIDR-G® dan diulangi tujuh jam kemudian, masing-masing dengan satu dosis (satu straw). Kebuntingan didiagnosis dengan ultrasonografi (USG) 35, 83, dan 120 hari setelah IB. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kualitas spermatozoa SHE lebih balk daripada SCE. Persentase spermatozoa motif, spermatozoa hidup, TAU, dan MPU setelah thawing perlakuan SHE (52,78%, 58,78%, 54,22%, dan 56,22%) nyata (P
Kaji Banding Morfometri Spermatozoa Sapi Bali (Bos sondaicus) Menggunaican Pewarnaan Williams, Eosin, Eosin Nigrosin dan Formol-Saline= Comparative Study of Bali Bull Cattle (Bos sondaicus) Sperm Morphometry... RI Arifiantini .; T. Wresdiayati; EF. Retnani
Jurnal Sain Veteriner Vol 24, No 1 (2006): JUNI
Publisher : Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada bekerjasama dengan PB PDHI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2089.162 KB) | DOI: 10.22146/jsv.348

Abstract

ujuan dari penelitian ini adalah untuk mengkaji morfometri spermatozoa sapi bali dengan pewarnaan Williams (W), eosin (E), eosin nigrosin (EN) dan fiksasiformol-saline (FS) sebagai data dasar yang sampai scat ini belum dilaporkan. Semen dikoleksi dengan teknik vagina buatan dari sepuluh ekor sapi di Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Baturiti, Bali. Semen yang diperoleh dievaluasi secara makroskopis dan mikroskopis. Morfometri spermatozoa dilakukan dengan menggunakan mikrometer dengan bagian yang diukur adalah panjang dan lebar kepala; panjang ekor bagian tengah dan utama; serta panjang total sperma pada 50 sel untuk setiap sampel sebanyak 3 ulangan. Morfometri spermatozoa pada bagian panjang kepala dengan pewarnaan W (10,0510,05 pm) dan FS (10,0810,04 Rm) nyata lebih panjang (P
Kajian Penanda Genetik Gen Cytochrome B Pada Tarsius sp. =Study of Genetic Marker on Cytochrome B Gene of Tarsius sp. Rini Widayanti; Dedy Duryadi Solihin; Dondin Sajuthi; RR. Dyah Perwitasari
Jurnal Sain Veteriner Vol 24, No 1 (2006): JUNI
Publisher : Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada bekerjasama dengan PB PDHI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1938.625 KB) | DOI: 10.22146/jsv.349

Abstract

Tarsius merupakan salah satu satwa endemik Indonesia yang keberadaannya mulai memprihatinkan. Konservasi sebagai salah satu cara untuk pelestarian satwa ini akan lebih terarah dan berhasil guna apabila karakteristik dan keragaman sumber genetiknya diketahui dengan pasti. Tujuan dari penelitian ini adalah mengkaji penanda genetik spesifik gen cyt b pada Tarsius sp. Pengurutan hasil PCR menggunakan primer H 15149 pada gen cyt b didapatkan urutan basa sebesar 276 pb (menyandi 92 asam amino. Fragmen cyt b hash! pengurutan disejajarkan berganda dengan primata lain dari data Genbank dengan bantuan perangkat lunak Genetyx-Win versi 3.0 dan Clustal W, kemudian dianalisis dengan menggunakan program MEGA versi 3.1. Dari hasil analisis diperoleh 14 situs asam amino yang berbeda. Tarsius dianae memiliki 12 situs asam amino (asam amino ke 2, 6, 9, 22, 23, 29, 39, 41, 42, 45, 55 dan 85), T. spectrum memiliki 7 situs asam amino (asam amino ke 2, 6, 9, 41, 45, 55 dan 85) dan T bancanus memiliki 2 situs asam amino ( ke 23 dan 45) yang dapat digunakan sebagai penanda genetik. Lima asam amino unik ditemukan pada T dianae, yaitu pada situs asam amino ke 6 (valina), ke 22 (alanina), ke 29 (alanina), ke 39 (serina) dan ke 42 (valina). Jarak genetik berdasar nukleotida cyt b yang dihitung menggunakan model 2 parameter Kimura ditemukan nilai paling kecil sebesar 0,7%, nilai paling besar 22,3% dan rata-rata 13,1%. Filogram menggunakan metode neighbor joining berdasar hasil urutan nukleotida dan asam amino cyt b tersebut dapat dijadikan pembeda masing-masing spesies Tarsius.
Uji Lapang Vaksin Mycoli Untuk Pencegahan CRD Pada Ayam Potong = Field Trial of Mycoli Vaccine for CRD Protection in Broiler Chickens. Soeripto .; Andriani .
Jurnal Sain Veteriner Vol 24, No 1 (2006): JUNI
Publisher : Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada bekerjasama dengan PB PDHI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3128.673 KB) | DOI: 10.22146/jsv.350

Abstract

Field trial of Mycoli vaccine was carried out on a commercial broiler farm in West Java, Indonesia. The number of vaccinated chickens was 3.000 heads and another 3.000 heads were used as control. The route of vaccination was done via subcutaneous tissue behind the head with a dose of 0.2 mIthead. The vaccination was given at 4 days of age concurrently with ND vaccine adminitration. As a field control, a number of 50 vaccinated chickens designated as Group I and another 50 non vaccinated chickens designated as Group II taken from the field trial were kept in Balitvet pens. Each of the Group was then divided again into 10 subgroups of 5 heads, kept in wire cages. At 4 weeks of age, chickens in 5 subgroups of Group I and of Group II were challenged with wild strain of Mycoplasma gallisepticum (MG) R980 via abdominal airsacs. Blood samples were collected from all chickens before challenged and before termination day for serology MG antibody. Feed and body weight gain were measured every week. All simulated chickens at Balitvet were killed at 42 days of age and examined for pathological lesions. The results of field trial showed that vaccinated chickens had produced body weight gain of 510g and feed conversion of 0.04 per head better than non-vaccinated groups, but statistically no difference between vaccinated and control chickens. The simulated chickens at Balitvet showed that chickens of Group I had shown better protection against MG challenge than chickens of Group H. The vaccinated chickens produced body weight gain of 39g and rate of feed conversion of 0.35 per head better than control chickens, and the vaccinated challenged chickens had body weight gain and feed conversion of 48g and 0.34, respectively better than the control challenged chickens.
Profil titer antiserum-inhibin hasil induksi inhibin 32 kDa pada kelinci sebagai kandidat vaksin untuk induksi superovulasi= Profile of antibody titre against inhibin in rabbit following induction of inhibin 32 KDA ... T.N.Siregar .; Aulanni'am .; Y. Linggi; G. Riady; Hamdan .; T. Armansyah
Jurnal Sain Veteriner Vol 24, No 1 (2006): JUNI
Publisher : Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada bekerjasama dengan PB PDHI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2821.946 KB) | DOI: 10.22146/jsv.351

Abstract

ujuan penelitian ini adalah mempelajari profil anti-inhibin hasil induksi inhibin 32 kDa dari sel granulosa folikel ovarium kambing pada kelinci. Penelitian ini dilakukan dilakukan dalam 2 tahap yaitu 1) isolasi dan karakterisasi inhibin dari sel granulosa folikel ovarium kambing dan 2) karakterisasi anti-inhibin sebagai respon imun akibat induksi oleh inhibin. Karakterisasi inhibin dilakukan menggunakan teknik sodium dodecyl sulphonat polyacrylamide gel electrophoresis (SDS-PAGE) dan anti-inhibin dikarakterisasi menggunakan teknik blotting (dot blot dan Western blot) dan enzyme-linked immunosorbent assay (ELISA). Imunisasi 200 p.1 inhibin dilakukan dengan penambahan ill 200 Complete Freund's Adjuvant (CFA) dan 200111 Incomplete Freund's Adjuvant (IFA) masing-masing untuk imunisasi primer dan booster. Serum dikoleksi setiap minggu selama 10 kali setelah booster I. Hasil SDS-PAGE menunjukkan bahwa inhibin sel granulosa folikel ovarium kambing mempunyai BM 32 kDa. Imunisasi primer yang diikuti 2 kali booster menginduksi respon imun humoral yang ditandai dengan biosintesis anti-inhibin. Titer optimum dicapai pada pengambilan darah ke-8 (65 hari pasca imunisasi primer).

Page 7 of 80 | Total Record : 796


Filter by Year

1995 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 43, No 2 (2025): Agustus Vol 43, No 1 (2025): April Vol 42, No 3 (2024): Desember Vol 42, No 2 (2024): Agustus Vol 42, No 1 (2024): April Vol 41, No 3 (2023): Desember Vol 41, No 2 (2023): Agustus Vol 41, No 1 (2023): April Vol 40, No 3 (2022): Desember Vol 40, No 2 (2022): Agustus Vol 40, No 1 (2022): April Vol 39, No 3 (2021): Desember Vol 39, No 2 (2021): Agustus Vol 39, No 1 (2021): April Vol 38, No 3 (2020): Desember Vol 38, No 2 (2020): Agustus Vol 38, No 1 (2020): April Vol 37, No 2 (2019): Desember Vol 37, No 1 (2019): Juni Vol 36, No 2 (2018): Desember Vol 36, No 1 (2018): Juni Vol 35, No 2 (2017): Desember Vol 35, No 1 (2017): Juni Vol 34, No 2 (2016): Desember Vol 34, No 1 (2016): Juni Vol 33, No 2 (2015): Desember Vol 33, No 1 (2015): JUNI Vol 32, No 2 (2014): DESEMBER Vol 32, No 1 (2014): JUNI Vol 31, No 2 (2013): DESEMBER Vol 31, No 1 (2013): JULI Vol 30, No 2 (2012): DESEMBER Vol 30, No 1 (2012): JUNI Vol 29, No 2 (2011): DESEMBER Vol 29, No 1 (2011): JUNI Vol 28, No 2 (2010): DESEMBER Vol 28, No 1 (2010): JUNI Vol 27, No 2 (2009): DESEMBER Vol 27, No 1 (2009): JUNI Vol 26, No 2 (2008): DESEMBER Vol 26, No 1 (2008): JUNI Vol 25, No 2 (2007): DESEMBER Vol 25, No 1 (2007): JUNI Vol 24, No 2 (2006): DESEMBER Vol 24, No 1 (2006): JUNI Vol 23, No 2 (2005): DESEMBER Vol 23, No 1 (2005): JUNI Vol 22, No 2 (2004): DESEMBER Vol 22, No 1 (2004): Juli Vol 21, No 2 (2003): DESEMBER Vol 21, No 1 (2003): JULI Vol 20, No 2 (2002): Desember Vol 20, No 1 (2002): Juli Vol 19, No 2 (2001): DESEMBER Vol 18, No 1&2 (2000) Vol 18, No 2 (2000) Vol 18, No 1 (2000) Vol 17, No 1 (1999) Vol 16, No 2 (1999) Vol 16, No 1 (1998) Vol 15, No 1&2 (1996) Vol 14, No 2 (1995) More Issue