cover
Contact Name
Ema Aenun Najib
Contact Email
mynameisnajib20@gmail.com
Phone
+6281578126825
Journal Mail Official
hikami@stkq.alhikamdepok.ac.id
Editorial Address
Jl. H. Amat no. 21, RT 06 RW 01 Kukusan - Beji - Depok - Jawa Barat - Indonesia
Location
Kota depok,
Jawa barat
INDONESIA
Hikami : Jurnal Ilmu Alquran dan Tafsir
ISSN : 29864771     EISSN : 28097262     DOI : 10.59622
HIKAMI adalah jurnal program studi Ilmu Al-Quran dan Tafsir. Jurnal ini ditujukan bagi para pembaca, peneliti, dan pengkaji yang ingin mendalami, memahami, dan mengamalkan seputar kajian Ilmu Al-Quran dan Tafsir. Beberapa artikel yang dimuat di dalamnya merupakan hasil penelitian dan artikel para ulama Al-Quran dan Tafsir. Secara khusus, jurnal ini membahas: Pertama Tafsir Al-Quran Nusantara Kedua Ad-Dakhil fi Tafsir Ketiga Ilmu Al-Quran Keempat Living Quran Kelima Kajian Al-Quran Klasik, Pertengahan, dan Kontemporer.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 75 Documents
PENAFSIRAN IBNU KATS|IR DAN AL-ZAMAKHSYARI< TENTANG KEWAFATAN DAN KEBANGKITAN NABI I Muhamamad Fadhil
Hikami : Jurnal Ilmu Alquran dan Tafsir Vol 1, No 1 (2020): edisi JUNI
Publisher : STKQ Al-Hikam Depok

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (978.212 KB)

Abstract

Kisah nabi I<sa As yang tergolong lengkap dalam al-Qur’an. Terlebih perihalkedatangannya ke dunia pada akhir zaman. Sebagian berpendapat bahwa kematian pada nabi I<sa As adalah kematian pada umumnya, sebagian lain berpendapat bahwa jasad dan ruhnya di angkat oleh Allah SWT. Begitu pula perihal kedatanngannya nanti menjelang akhir zaman, sebagian berpendapat akan muncul sebagai pertanda akan terjadinya kiamat, namun sebagian yang lainnya menyatakan bahwa bukan merupakan kepastian bahwa dia akan muncul kembali. Penilitian ini juga melihat berbagai pandangan terkait dua hal tersebut dengan argumennya masing-masing. Adapun yang menjadi sumber primer dalam penilitian ini adalah kitab Tafsir al-Qur’an al-Az}im dan al-Kassyaf Denganmetode analisis data deskriptif-analisis dengan pendekatan historis.Melalui metode tersebut untuk menjawab permasalahan terkait tentangkewafatan dan kedatangannya pada akhir zaman nanti, dan adapun hasil daripenilitian ini adalah diantaranya adalah Ibnu Kas\ir dan al-Zamakhsyari> memaknai kata tawaffa dengan konteks kewafatan dalam tidur. Dengan artian bahwa belum di wafatkan seperti halnya manusia pada umumnya, melainkan di tangguhkan hingga nanti pada akhir zaman di turunkan kembali, Kemudian nanti di wafatkan di bumi.
VALIDITAS QIRA’AT IMAM ABŪ ‘AMR DALAM KITAB TANWĪR AL-ṢADR BI QIRA’AT AL-IMĀM ABĪ ‘AMR (STUDI QS. AL-ANFĀL) Muhamad Dikron; Subur Wijaya
Hikami : Jurnal Ilmu Alquran dan Tafsir Vol 3, No 2 (2022): Edisi Desember 2022
Publisher : STKQ Al-Hikam Depok

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (627.726 KB) | DOI: 10.59622/jiat.v3i2.64

Abstract

Eksistensi praktek qira’at tujuh tidak merata di dunia Islam, dan tidak mencakup keseluruhan imam tujuh (al-qurra’ al-sab’ah). Di Indonesia, ulama nusantara yang berkhidmat di tanah haram, Muhamad Mahfudz al-Tarmasi (w. 1920 M) memberikan konsen di bidang qira’at dengan menulis karya Tanwīr al-Ṣadr Bi Qira’at al-Imām Abī ‘Amr. Karya ini, hemat penulis sebagai salah satu usaha untuk terus menghidupkan qira’at sab’ah di tengah-tengah masyarakat, khususnya bacaan Abū ‘Amr. Meskipun demikian, validitas qira’at Imam Abū ‘Amr dalam kitab Tanwīr al-Ṣadr Bi Qira’at al-Imām Abī ‘Amr masih menjadi permasalahan. Kesimpulan yang didapatkan melalui kroscek dari sampel surat al-Anfal terhadap validitas qira’at Abū ‘Amr dalam kitab Tanwīr al-Ṣadr Bi Qira’at al-Imām Abī ‘Amr, secara general valid dan memiliki konsistensi terhadap kaidah atau pola karakteristik qira’at Abū ‘Amr. Hasil validitas dan konsistensi didapatkan melalui parameter pola karakteristik qira’at Abū ‘Amr yang telah ditulis oleh al-Syāṭibiy yaitu meliputi bacaan isti’adzah, basmalah, al-Idgām, al-mad wa al-qashr, dua hamzah baik dalam satu kata atau dua kata, hamzah mufrod, al-fath, al-imālah dan al-Taqlīl, waqaf atau berhenti pada khat atau rasm utsmani, ya’ iḍāfah, ya’ zaidah dan farsy al-huruf  atau pola karakteristik khusus.
VALIDITAS METODOLOGI INTERPRETASI AL-QUR’AN Shofiuddin Shofiuddin; Mursid Adi Saputra
Hikami : Jurnal Ilmu Alquran dan Tafsir Vol 2, No 2 (2021): Edisi Desember 2021
Publisher : STKQ Al-Hikam Depok

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (418.824 KB)

Abstract

Jurnal ini berjudul “Validitas Metodologi Interpretasi Al-Qur’an (Analisis Sosio-Historis-Politik)”. Pembahasan skripsi ini berfokus pada tinjauan sosio-historis-politik dan dipertajam dengan uji validitas dari lima metode tafsir yaitu ijmȃlȋ, taḥlȋlȋ, muqȃran, maudhȗ’ȋ dan hermeneutika Fazlȗr Rahmȃn.Jenis dan pendekatan penelitian ini adalah kualitatif deskriptif yang bersifat library research. Adapun, sumber primer dari penelitian yaitu Kitab al-Bidȃyah fȋ Tafsȋr al-Maudhȗ’ȋ karya Al-Farmȃwȋ, Tafsȋr Al-Jalȃlain karya Jalȃluddȋn Al-Syuyȗthȋ dan Al-Maḥallȋ Tafsȋr Al-Qur’ȃn Al-Adhȋm karya Ibnu Katsȋr, Tafsir Al-Jȃmi’ li Ahkȃm Al-Qur’ȃn karya Al-Qurthȗbȋ, dan Jurnal Islam and Modernity karya Fazlȗr Rahmȃn. Selain itu, untuk memudahkan proses penelitian ini penulis menggunakan pendekatan sosio-historis-politik dan dipertajam dengan pendekatan filsafat ilmu yaitu teori koherensi, korespondensi dan pragmatisme. Adapun kesimpulan dari penelitian ini adalah lahirnya metodologi tafsir dilatar belakangi oleh tuntutan sosial-politik yang berkembang dan berubah dari masa ke-masa dan relevan sesuai konteks sosial dan politik masing-masing. Penelitian ini bisa dibaca melalui tinjauan ilmu sosiologi, sejarah, politik, dan filsafat ilmu.
ANALISIS AYAT-AYAT ANJURAN NIKAH DALAM TAFSIR AL JAMI LI AHKAM AL QUR’AN KARYA IMAM AL- QURTUBI Muhammad Yusron Shidqi; Dede Apandi
Hikami : Jurnal Ilmu Alquran dan Tafsir Vol 1, No 2 (2020): edisi DESEMBER
Publisher : STKQ Al-Hikam Depok

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (363.898 KB)

Abstract

Pernikahan merupakan sala satu fitrah kemanusiaan (‘garizah insaniyah) naluri kemanusiaan, karena itu islam menganjurkan menikah. Bila garizah tidak dipenuhi dengan jalan yang sah yaitu pernikahan, maka ia mencari jalan-jalan syetan yang banyak menjerumuskan ke lembah hitam. Islam telah menjadikan ikatan pernikahan yang sah berdasarkan al-Qur’an dan as-Sunah sebagai satu-satunya sarana untuk memenuhi tuntunan naluri manusia yang asasi serta sarana untuk membina keluarga yang islami.Skripsi ini ditunjukan untuk mengadakan kajian yang lebih mendalam terhadap makna yang terkandung di balik teks ayat al-Qur’an tentang anjuran menikah, sehingga dapat diketahui dengan jelas apakah suatu ayat al-Qur’an akan di maknai dengan tekstuala atau kontekstual. Adapun pembahasan ayat al-Qur’an tentang anjuran menikah ini secara rinci terumus pertanyaan berikut: Bagaimana pemahaman dan pemaknaan al- Qurtub> tentang ayat-ayat anjuran menikahSetelah dianalisa, metode yang digunakn Abu Abdilah Muhamad al-Qurtubi dalam menafsirkan ayat  al-Qur’an   beliau menggunakan metode Ijmali dan Muqaran, serta menggunakan pendekatan fiqih (bilmatsur) bi al-Ra’yi sekaligus.
MENANGKAL ISLAMOFOBIA MELALUI INTERPRETASI AYAT-AYAT MODERASI PERSPEKTIF MUFASSIR KONTEMPORER Subur Wijaya; Mirza Nursyabani
Hikami : Jurnal Ilmu Alquran dan Tafsir Vol 3, No 1 (2022): Edisi Juni 2022
Publisher : STKQ Al-Hikam Depok

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (762.837 KB)

Abstract

Tulisan ini bertujuan untuk menggali sikap wasathiyyah yang bersumber dari al-Qur’an guna menemukan jawaban atas permasalahan kontemporer. Tulisan ini menyimpulkan bahwa wasathiyyah dalam al-Qur’an menawarkan sikap keeseimbangan dalam menjalani keberagamaan di tengah kompleksitas sosial yang salah satunya adalah tidak diterimanya eksistensi umat Islam. Usaha pemberantasan Islamofobia dengan merujuk pada wasathiyyah dalam al-Qur’an dapat direalisasikan dengan menghadirkan pilar Islam moderat yang berfokus pada dialog peradaban dan upaya integrasi antar umat beragama. Penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif deskriptif yang bertumpu pada studi kepustakaan (library research). Sumber primer pada penelitian ini adalah Al-Qur’an dan 3 karya tafsir kontemporer antara lain Tafsîr Al-Marâghî, Tafsîr Al-Manâr, dan Tafsîr At-Tahrîr wa At-Tanwîr dan sekunder berupa semua karya informatif yang membahas masing-masing tema; wasathiyyah dan islamofobia. Oleh karena dua tema yang berbeda, penulis mengambil pendekatan instrumental study untuk memahami lebih jelas Islamofobia sebagai fenomena sosial dan pendekatan maudhû’î untuk menganalisis tema wasathiyyah dalam al-Qur’an.  
PENYAKIT HATI DAN OBATNYA DALAM AL-QUR’ÂN MENURUT IBNU QAYYIM AL-JAUZIYAH Adib Minanul Cholik; Muhammad Lutfan Sofa
Hikami : Jurnal Ilmu Alquran dan Tafsir Vol 2, No 2 (2021): Edisi Desember 2021
Publisher : STKQ Al-Hikam Depok

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (347.764 KB)

Abstract

Latar belakang penelitian ini berangkat dari permasalahan dalam problematika kehidupan, diantaranya adalah timbulnya berbagai macam penyakit, salah satunya mengenai penyakit hati. Dalam skripsi ini penulis mengkaji permasalahan penyakit hati dan obatnya di dalam al-Qur’ân menurut Ibnu Qayyim al-Jauziyah. Permasalahan dalam penelitian ini adalah apa saja ayat-ayat yang bekaitan dengan penyakit hati dalam al-Qur’ân dan bagaimana pandangan penyakit hati menurut Ibnu Qayyim Al-Jauziyah. serta bagaimana konsep pengobatan mengenai penyakit hati menurut beliau. Kemudian penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimna pandangan Ibnu Qayyim terhadap penyakit hati serta konsep pengobatannya menurut beliau seperti apa. Penelitian ini adalah menggunakan penelitian kepusatakaan (library research) dengan menggunakan berbagai sumber data primer berupa kitabkitab karya Ibnu Qayyim dan sekunder berupa buku-buku serta jurnal-jurnal ilmiah yang berkaitan dengan judul. Kemudian penulis menggunakan metode deskritif-analisis, dengan mengumpulkan data-data tersebut kemudian mendokumentasinya, selanjutnya menganalisis data-data tersebut untuk dijadikan sebuah hasil dan kesimpulan dalam penelitian.
PEMIMPIN PEREMPUAN PERSPEKTIF BUYA HAMKA DALAM TAFSIR AL-AZHAR Ahmad Syawqibik
Hikami : Jurnal Ilmu Alquran dan Tafsir Vol 1, No 1 (2020): edisi JUNI
Publisher : STKQ Al-Hikam Depok

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (223.532 KB)

Abstract

Skripsi ini ditulis bertujuan untuk mengetahui tentang legalitas pemimpinperempuan dalam tafsir al-Azhar karya Hamka. Hal ini sangat penting karena banyak dari kaum perempuan yang meginginkan jabatan pemimpin yang diemban laki-laki. Penelitian ini berbeda dengan penilitian yang dilakukan oleh Rohmat Sraiffudin (Tahun 2017) yang mengerucutkan pembahasannya pada status keislaman seorang pemimpin itu sendiri. Penelitian ini sama dengan penelitian Fitriyani (Tahun 2014) dalam pengangkatan temanya, yaitu Kepemimpinan perempuan. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif dengan menjadikan Tafsir Al-Azhar sebagai sumber data premier. Adapun teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian adalah metode dokumentasi. Untuk mencapai suatu kesimpulan yang konkrit maka penulis menggunakan metode deskriptif-analisis, yaitu dengan cara mengumpulkan data-data yang ada kaitannya dengan permasalahan dan memeriksa secara konseptual makna yang terkandung dalam istilah-istilah yang digunakan untuk mendapatkan kejelasan makna yang sebenarnya. Berdasarkan metode tersebut, penulis memperoleh suatu kesimpulan bahwa Hamka mengatakan seluruh manusia baik laki-laki ataupun perempuan diciptakan dari satu diri yang sama, sama-sama diturunkan ke bumi sebagaimana Adam dan Hawa, dan sama-sama mendapat tugas. Akan tetapi meskipun keduanya memikul tugas tidaklah sama masing-masing dari tugas mereka itu. Salah satunya adalah tugas memimpin yang merupakan tugas seorang laki-laki, bukanlah tugas seorang perempuan.
KONSEP WASATHIYYAH ISLAM DALAM UPAYA BELA NEGARA PERSPEKTIF AL-QUR’AN Arnawan Dwi Nugraha; Muhammad Izharuddin
Hikami : Jurnal Ilmu Alquran dan Tafsir Vol 3, No 2 (2022): Edisi Desember 2022
Publisher : STKQ Al-Hikam Depok

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (420.214 KB) | DOI: 10.59622/jiat.v3i2.66

Abstract

Wasathiyyah atau moderasi dewasa ini telah menjadi diskursus yang juga dipertegas sebagai arus utama keislaman di Indonesia. Konsep ini dinilai sebagai solusi untuk menjawab berbagai problematika keagamaan dan peradaban global, terutama terhadap ancaman ideologi tafrith dan ifrath di Indonesia. Penelitian ini merupakan upaya pengejawantahan konsep wasathiyyah dalam Al-Qur’an menggunakan jenis penelitian kualitatif yang murni bersifat kepustakaan (library research). Penelitian ini juga memberikan konsep wasathiyyah mulai dari paparan umum ihwal wasathiyyah, analisis ayat, serta manfaat. Selain itu, penelitian ini menemukan bahwa ada signifikansi dalam pengimplementasian nilai-nilai dalam konsep wasathiyyah sebagai upaya bela negara yang ditawarkan.
KONTEKSTUALISASI MAKNA JAHILIYAH PERSPEKTIF SAYYID QUTUB DALAM KITAB FI ZILAL AL-QUR’AN M Yusron Shidqi; Moh Zainuri Fauzi
Hikami : Jurnal Ilmu Alquran dan Tafsir Vol 2, No 2 (2021): Edisi Desember 2021
Publisher : STKQ Al-Hikam Depok

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (354.887 KB)

Abstract

Bermula dari pernyataan Sayyid Qutub yang mengatakan bahwa jahiliyah bukanlah kebalikan dari apa yang dinamakan ilmu pengetetahuan (‘ilm), akan tetapi Jahiliyah  yang dimaksud dalam Al-Qur’an adalah keadaan spritual yang menolak uluhiyyah Allah dan suatu aturan atau sistem yang bertolak belakang dengan hukum Allah. Boleh dikatakan bahwa Jahiliyah itu adalah kebalikan dari Islam dan bertentangan dengan Islam. Dan juga kejahiliyahan itu tidak hanya terbatas dalam waktu tertentu saja, akan tetapi Jahiliyah adalah suatu tatanan, suatu aturan, suatu sistem yang dapat dijumpai kemarin, hari ini, bahkan hari esok. Tentu pendapat ini mengejutkan mengingat hampir suluruh umat muslim mengakui bahwa jahiliyah adalah suatu masa sebelum datangnya Islam. Dengan demikan, maka penelitian ini betujuan untuk mengkaji metode-metode yang digunakan Sayyid Qutub dalam menafsirkan sebuah ayat-ayat jahiliyah sehingga menghasilkan pemaknaan yang demikian itu. Penelitian ini tergolong penelitian kualitatif dengan model study kepustakaan (library research) dengan teknik pengumpulan data melalui metode dokumentasi. Adapun yang menjadi sumber primer dalam penelitian ini adalah kitab Tafsir fi Zilal al-Qur’an dan juga literatur-literatur kepustakaan yang relevan dengan topik pembahasan. Dengan metode analisis data deskriptif-analisis diharapkan akan dapat mengetahui metode-metode yang digunakan Sayyid Qutub dalam menafsirkan sebuah ayat.Melalui metode yang telah dipaparkan di atas menghasilkan sebuah kesimpulan bahwa Sayyid Qutub dalam menafsirkan sebuah ayat al-Qur’an secara kontekstual. Adapun metode yang digunakan Sayyid Qutub dalam menafsirkan sebuah ayat secara kontekstual adalah metode doubel-movent dengan pendekatan sosio-historis, sehingga menghasilkan sebuah makna kontekstual terhadap jahiliyah. Diantara makna-maknanya adalah; perilaku-perilaku yang tidak sesuai dengan aturan-aturan Allah, sebuah ideologi tanpa disertai argumentasi yang ilmiah, dan kesombongan serta fanatisme kesukuan.           
KONSEP INTERAKSI SOSIAL DALAM AL-QUR’AN Hamzah Hamzah; Al Fajar
Hikami : Jurnal Ilmu Alquran dan Tafsir Vol 1, No 2 (2020): edisi DESEMBER
Publisher : STKQ Al-Hikam Depok

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (753.146 KB)

Abstract

Konsep interaksi sosial yang terdapat di dalam al-Qur’an mempunyai banyak karakter dan macam-macamnya, setiap ayat yang berbicara tentang interaksi memiliki makna-makna yang bisa dibilang berbeda, namun jika diteliti dengan seksama itu semua adalah satu pemahaman. Seperti yang terdapat pada surah al-Mumtahanah ayat 8 bahwasannya interaksi sosial itu adalah proses timbal balik yang dilakukan oleh seluruh belahan manusia dengan tidak membeda-bedakan antara ras, suku, ideologi, negara bahkan agama. Dan Allah SWT tidak melarang atau bahkan menganjurkan untuk berinteraksi kepada siapapun.  Dalam artian berintraksi kepada orang-orang yang tidak memerangi kalian. Dan Allah SWT juga menganjurkan untuk berbuat adil dengan mereka semuanya. Berbuat adil dalam masalah interaksi itu tidak ada batasannya, baik kepada sesama agama maupun lintas agama. Dengan syarat interaksi sosial yang terjalin itu tidak melanggar syari’at dan hukum-hukum Allah SWT.Interaksi sosial adalah suatu hubungan timbal balik yang dilakukan oleh sekelompok masyarakat. Baik antara individu dengan individu, individu dengan kelompok maupun kelompok dengan kelompok, yang mana tidak saling membedakan atara satu dengan yang lain, baik dari aspek sosial, kasta, posisi, suku, ekonomi bahkan agama.