cover
Contact Name
-
Contact Email
journal@mail.unnes.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
journal@mail.unnes.ac.id
Editorial Address
Sekaran, Gunung Pati, Semarang, Provinsi Jawa Tengah, 50229
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Prosiding Seminar Nasional Pascasarjana
ISSN : -     EISSN : 26866404     DOI : -
Core Subject : Education,
Seminar nasional Pascasarjana merupakan kegiatan rutin yang dilakasanakan oleh Pascasarjana UNNES. Tahun 2018 adalah kali ke 5 pelaksanan yang diselenggarakan oleh Kampus yang telah berubah alamat dari lokasi di Kampus Bendan Ngisor berpindah di Kampus Kelud Utara III Kecamatan Gajahmungkur kota Semarang. Kegiatan akademik ini merupakan kerjasama yang sinergi antar enam Kampus Pascasarjana LPTK di Indonesia.
Articles 830 Documents
Persepsi Mahasiswa dengan Kecenderungan Gaya Belajar Kinestetik Terhadap Perkuliahan Virtual Kunjung Ashad; Laily Mita Andrian; I Nengah Sandi
Prosiding Seminar Nasional Pascasarjana Vol. 4 No. 1 (2021)
Publisher : Pascasarjana Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak. Kebijakan physical distancing mempengaruhi banyak aspek khususnya pada bidang pendidikan. Metode perkuliahan secara virtual dinilai efektif namun tidak semua mahasiswa memiliki kemampuan dalam memahami materi perkuliahan dengan mudah karena setiap individu memiliki kecepatan pemahaman, kecepatan kinerja dan gaya belajar yang berbeda-beda. Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis persepsi mahasiswa dengan kecenderungan gaya belajar kinestetik terhadap perkuliahan virtual. Metode penelitian yang digunakan adalah cross-sectional design yang melibatkan sebanyak 213 mahasiswa fakultas ilmu olahraga di Universitas Negeri Surabaya. Instrumen yang digunakan adalah kuesioner gaya belajar mahasiswa dan persepsi mahasiswa terhadap perkuliahan virtual. Teknik analisis data yang digunakan adalah mean, standar deviasi, dan persentase. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebanyak 46% mahasiswa memiliki kecenderungan gaya belajar kinestetik, mahasiswa memiliki persepsi yang cukup baik terhadap pembelajaran mata kuliah senam aerobik ditinjau dari aspek sarana prasarana, sumber daya manusia, media dan sistem pembelajaran serta kompetensi mahasiswa. Berdasarkan hasil penelitian disimpulkan bahwa perkuliahan praktek senam aerobik secara virtual dinilai efektif untuk mahasiswa dengan gaya belajar kinestetik. Abstract. The physical distancing during covid-19 pandemic affects many aspects, especially in education. The virtual lecture method is considered effective but not all students have the ability to understand lecture material easily because each individual has a different speed of understanding and learning style. The purpose of this study was to analyze the perceptions of students with a kinesthetic learning style tendency towards virtual lectures. The research method used is a cross-sectional design involving 213 students of the sports science faculty at the Universitas Negeri Surabaya. The instrument used is a questionnaire on student learning styles and student perceptions of virtual lectures. The data analysis technique used is the mean, standard deviation, and percentage. The results showed that as many as 46% of students had a kinesthetic learning style tendency, students had a fairly good perception of learning aerobics in terms of infrastructure, human resources, media and learning systems and student competencies. Based on the results of the study, it was concluded that the practical aerobic exercise lecture was considered effective for students with kinesthetic learning styles.
Ekowisata Arung Jeram Poduwoma sebagai Wisata Olahraga Minat Khusus di Suwawa Timur Bone Bolango Mirdayani Pauweni; Tandiyo Rahayu; M.E Winarno; Zainudin Amali; Heny Setyawati
Prosiding Seminar Nasional Pascasarjana Vol. 4 No. 1 (2021)
Publisher : Pascasarjana Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak. Ekowisata atau ekoturisme atau wisata ekologi adalah kegiatan wisata ke tempat-tempat yang masih alami. Arung jeram Poduwoma merupakan ekowisata yang ada di Desa Poduwoma Suwawa Timur Bone Bolango. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis potensi ekowisata arung jeram Poduwoma sebagai wisata olahraga minat khusus. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif, dengan teknik observasi dan wawancara dengan pihak terkait. Temuan dalam hasil penelitian ini adalah arung jeram Poduwoma memenuhi 10 dari 12 komponen daya tarik bagi pasar wisata olahraga minat khusus. Komponen yang tidak terpenuhi adalah 1) terselenggaranya even, dan 2) jaminan keselamatan, diakibatkan pandemi Covid-19. Dengan demikian disimpulkan potensi ekowisata arung jeram Poduwoma dapat dikembangkan sebagai wisata olahraga minat khusus. Abstract. Ecotourism or ecotourism or ecotourism is tourism activities to unspoiled places. Poduwoma rafting is ecotourism in Poduwoma Village, East Suwawa, Bone Bolango. The purpose of this study was to analyze the ecotourism potential of Poduwoma white water rafting as a particular interest in sports tourism. The research method used is descriptive qualitative, with observation and interviews with related parties. The findings in this study are that Poduwoma white water rafting fulfils 10 of the 12 attractiveness components for the unique interest sports tourism market. The components that are not fulfilled are 1) holding an event and 2) guaranteeing safety due to the Covid-19 pandemic. Thus, it can be concluded that Poduwoma white water rafting ecotourism potential can be developed as a particular interest in sports tourism.
Peningkatan Literasi Teknologi Informasi dan Komunikasi dalam Pembelajaran Bahasa Secara Daring Mahda Haidar Rahman; Subyantoro Subyantoro; Tommy Yuniawan; Rahayu Pristiwati
Prosiding Seminar Nasional Pascasarjana Vol. 4 No. 1 (2021)
Publisher : Pascasarjana Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak. Selama pandemi covid-19 pembelajaran dilakukan secara daring atau jarak jauh. Berbagai aplikasi teknologi informasi dan komunikasi digunakan, namun banyak kendala yang terjadi, mulai dari ketersediaan sarana, jaringan dan sumber daya manusia. Dari total guru yang ada di Indonesia, baru 40% guru yang melek teknologi informasi dan komunikasi. Berdasarkan hal tersebut, penelitian ini memfokuskan apa yang dimaksud literasi TIK, bagaimana TIK digunakan dalam pembelajaran dan bagaimana meningkatkan literasi TIK bagi guru dan peserta didik. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah literatur review. Hasil dari penelitian ini adalah penggunaan teknologi informasi dan komunikasi dalam pembelajaran harus mempertimbangkan lima kriteria, yakni kemudahan akses, lingkungan belajar, penggunaan Learning Management System (LMS), user experience aplikasi, dan interaksi antara pengajar dan peserta didik. Peningkatan literasi TIK bagi guru dapat dilakukan dengan cara memberikan pelatihan, penyediaan sarana dan melakukan studi banding. Adapun bagi siswa dapat dilakukan dengan cara memberikan video tutorial yang dibuat oleh guru dan memberikan arahan bagaimana menggunakan teknologi informasi dan komunikasi secara positif. Abstract. During the COVID-19 pandemic, learning is carried out online. Various information and communication technology applications are used, but many obstacles occur, ranging from the availability of facilities, networks and human resources. Moreover, of all teachers in Indonesia, only 40% of teachers are literate in information and communication technology. This research focuses on what ICT literacy is, how ICT is used in learning and how to improve ICT literacy for teachers and students. The method used in this research is literature review. The results of this study are that the use of information and communication technology in learning must consider five criteria, namely ease of access, learning environment, use of Learning Management System (LMS), application user experience, and interaction between teachers and students. Improving ICT literacy for teachers can be done by providing training, providing facilities and conducting comparative studies. As for students, this can be done by providing video tutorials made by teachers and providing directions on how to use information and communication technology positively.
Tuntutan Kompetensi 4C Abad 21 dalam Pendidikan di Perguruan Tinggi untuk Menghadapi Era Society 5.0 Meilan Arsanti; Ida Zulaeha; Subiyantoro Subiyantoro; Nas Haryati S
Prosiding Seminar Nasional Pascasarjana Vol. 4 No. 1 (2021)
Publisher : Pascasarjana Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak. Makalah ini ditulis berdasarkan hasil kajian pustaka tentang tuntutan kompetensi abad 21 dalam proses pendidikan di Perguruan Tinggi untuk menghadapi era society 5.0. Pada era society 5.0 Perguruan Tinggi memiliki tanggung jawab yang penting untuk menghasilkan lulusan yang kompeten. Agar dapat menghasilkan lulusan yang kompeten maka proses pendidikan di Perguruan Tinggi harus dilakukan berdasarkan tuntutan kompetensi abad 21. Kompetensi abad 21 yang diperoleh tersebut menjadi bekal lulusan Perguruan Tinggi untuk menghadapi era society 5.0. Kompetensi abad 21 tersebut disebut 4C, yaitu keterampilan berpikir kreatif (creative thinking), berpikir kritis dan pemecahan masalah (critical thinking and problem solving), berkomunikasi (communication), dan berkolaborasi (collaboration). Kompetensi 4C tersebut dapat ditanamkan baik dalam proses pembelajaran di kelas dengan berbagai model perkuliahan maupun di luar kelas melalui unit kegiatan mahasiswa. Dalam makalah ini diuraikan tentang tuntutan kompetensi abad 21 dalam pendidikan di Perguruan Tinggi dan model-model pembelajaran yang dapat mengasah kompetensi abad 21. Melalui makalah ini penulis berharap dapat menambah wawasan bagi pembaca khususnya dosen maupun praktisi pendidikan. Selain itu, penulis berharap dapat menginspirasi dosen maupun para praktisi pendidikan untuk menciptakan pembelajaran yang inovatif yang dapat memberikan keterampilan atau kompetensi sesuai dengan tuntutan kompetensi abad 21 sehingga lulusan Perguruan Tinggi lebih siap dalam menghadapi era society 5.0. Abstract. This paper was written based on the results of a literature review on the demands of eternal competence in the educational process in higher education to face the era of society 5.0. In the era of society 5.0, universities have an important responsibility to produce competent graduates. In order to produce competent graduates, the education process in higher education must be carried out based on the demands of 21st century competencies. The 21st century competencies obtained are the provisions for university graduates to face the era of society 5.0. These 21st century competencies are called 4Cs, namely creative thinking skills, critical thinking and problem solving, communication, and collaboration. These 4C competencies can be instilled both in the learning process in the classroom with various lecture models and outside the classroom through student activity units. In this paper, topics are described, namely the demands of 21st century competence in higher education and learning models that can hone 21st century competencies. Through this paper, the author hopes to add insight to readers, especially lecturers and education practitioners. In addition, the author hopes to inspire lecturers and education practitioners to create innovative learning that can provide skills or competencies in accordance with the demands of 21st century competencies so that university graduates are better prepared to face the era of society 5.0.
Evaluasi Hasil Belajar pada Awal, Proses, dan Akhir Mata Kuliah Psikolinguistik di Universitas Muria Kudus Mila Roysa; Fathur Rokhman; Rustono Rustono; Hari Bakti Mardikantoro
Prosiding Seminar Nasional Pascasarjana Vol. 4 No. 1 (2021)
Publisher : Pascasarjana Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak. Tujuan penelitian ini untuk mendeskripsikan evaluasi hasil belajar pada awal, proses, dan akhir mata kuliah psikolinguistik di program studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Muria Kudus. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian evaluatif dengan sumber data kartu data kriteria evaluasi hasil belajar. Berdasarkan pada hasil analisis data evaluasi hasil belajar pada awal, proses, dan akhir mata kuliah psikolinguistik di Universitas Muria Kudus diperoleh informasi bahwa aspek ketepatan perumusan indikator pencapaian kompetensi diperoleh persentase sebanyak 90% dengan kategori sangat baik. Pada aspek ketepatan penyusunan kisi-kisi penilaian hasil belajar diperoleh sebanyak 90% dengan kategori sangat baik. Aspek kualitas perangkat instrumen penilaian hasil belajar sebanyak 80% dengan kategori baik. Pada tahap-tahap pencapaian hasil belajar yang mencakup aspek sikap, pengetahuan, dan keterampilan secara berkelanjutan mendapat nilai 80 dengan kategori baik. Aspek kaidah pengelolaan dan pemanfaatan hasil belajar dan aspek kaidah analisis butir soal masing-masing mendapat 90%. Berdasarkan pada data diatas, maka dapat diberikan rekomendasi untuk meningkatkan persentase menjadi 98% aspek penilaian hasil belajar. Rekomendasi yang perlu ditindaklanjuti dalam evaluasi hasil belajar pada awal pembelajaran adalah perlunya mencantumkan hirarki kompetensi sesuai dengan Bloom yang disesuaikan dengan kemampuan berpikir kritis. Dapat dilakukan dengan cara meminta mahasiswa untuk memberikan masukan atau mencari sumber rujukan yang tepat. Rekomendasi yang dapat diberikan dalam evaluasi hasil belajar pada proses pembelajaran adalah sebaiknya dosen memperhatikan sepuluh kriteria evaluasi hasil belajar pada proses pembelajaran dengan baik. Kualitas perangkat instrumen penilaian harus dirancang dengan sebaik- baiknya memenuhi unsur komprehensif, valid, reliabel, fokus pada kompetensi, objektif, mendidik, terpadu, keterlibatan peserta didik, umpan balik, dan tindak lanjut. Berikut ini akan disajikan tabel evaluasi hasil belajar pada akhir pembelajaran. Rekomendasi yang dapat diberikan pada evaluasi hasil belajar pada akhir pembelajaran adalah hendaknya dosen dapat melakukan penilaian dengan baik dan memberikan umpan balik dengan tujuan memantik semangat belajar mahasiswa pada perkuliahan yang akan datang. Butir soal sebaiknya dianalisis dengan konsisten. Tidak hanya pada posttest tetapi juga saat pretest. Abstract. The purpose of this study is to describe the evaluation of learning outcomes at the beginning, process, and end of the psycholinguistics course in the Indonesian Language and Literature Education study program, Muria Kudus University. The research method used is evaluative research with data source card data of learning outcomes evaluation criteria. Based on the results of the data analysis on the evaluation of learning outcomes at the beginning, process, and end of the psycholinguistics course at Muria Kudus University, information was obtained that the accuracy aspect of the formulation of competency achievement indicators obtained a percentage of 90% with very good categories. In the aspect of the accuracy of the preparation of the learning outcomes assessment grid, it was obtained as much as 90% with a very good category. Aspects of the quality of the instrument for assessing learning outcomes as much as 80% with good categories. At the stages of achieving learning outcomes that include aspects of attitudes, knowledge, and skills on an ongoing basis, they get a score of 80 with a good category. Aspects of the rules of management and utilization of learning outcomes and aspects of the rules of item analysis each got 90%. Based on the data above, it can be given a recommendation to increase the percentage to 98% aspects of learning outcomes assessment. Recommendations that need to be followed up in evaluating learning outcomes at the beginning of learning are the need to include a competency hierarchy according to Bloom which is adapted to critical thinking skills. This can be done by asking students to provide input or look for appropriate reference sources. Recommendations that can be given in evaluating learning outcomes in the learning process are that lecturers should pay close attention to the ten criteria for evaluating learning outcomes in the learning process. The quality of the assessment instruments must be designed as well as possible to meet the elements of comprehensive, valid, reliable, focus on competence, objective, educating, integrated, student involvement, feedback, and follow-up. The following table will present the evaluation of learning outcomes at the end of the lesson. Recommendations that can be given to the evaluation of learning outcomes at the end of the lesson are that lecturers should be able to assess well and provide feedback with the aim of sparking students' enthusiasm for learning in future lectures. Items should be analyzed consistently. Not only in the posttest but also during the pretest.
Retorika Komunikasi Verbal Calon Guru melalui Literasi Digital Mukhlis Mukhlis; Fathur Rokhman; Ida Zulaeha; Hari Bakti Mardikantoro
Prosiding Seminar Nasional Pascasarjana Vol. 4 No. 1 (2021)
Publisher : Pascasarjana Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak. Latar belakang penelitian ini bahwa kegagalan komunikasi karena orang tidak memahami retorika. Banyak orang salah paham karena apa yang disampaikan pembicara tidak dipahami sama oleh pendengar tentang apa yang dimaksudkan dan diinginkan pembicara. Tujuan penelitian ini ada dua; pertama memberikan jawaban atas pentingnya pembelajaran retorika bagi calon guru, kedua memberikan jawaban atas pentingnya retorika komunikasi verbal bagi calon guru. Metode penelitian menggunakan mixed methods, menggunakan desain penelitian explanatory yang terdiri dari dua fase. Fase pertama ini diikuti dengan bagian pengumpulan dan analisis data kuantitatif. Fase kedua, fase penelitian kualitatif dirancang mengikut hubungan atau hasil kuantitatif pada fase pertama. Karena, desain explanatory ini dimulai dengan kuantitatif, maka para peneliti menempatkan penekanan yang lebih besar pada metode kuantitatif daripada metode kualitatif. Tujuan desain explanatory ini secara keseluruhan adalah bahwa data kuantitatif membantu menjelaskan atau membangun hasil penelitian kuantitatif. Varian atau model desain explanatory ini terdiri dari dua model, yaitu 1) Follow-up Explanation Model (menekankan kuantitatif), 2) Participant Selection Model (menekankan kualitatif). Hasil dan simpulan; retorika komunikasi verbal guru harus terus dilatih dan dikembangkan sesuai dengan kondisi peserta didik di jamannya. Retorika komunikasi verbal guru melalui literasi digital terus perlu dikembangkan. Abstract. This research is motivated by the failure of communication because people do not understand the rhetoric. Many people misunderstand because what the speaker conveys is not understood by the listener. This study aims to 1) provide answers to the importance of learning rhetoric for prospective teachers, 2) provide answers to the importance of rhetorical verbal communication for prospective teachers. The research method used is mixed methods. This research is an explanatory type which consists of two phases. The first phase is the collection and analysis of quantitative data. The second phase, the qualitative research phase, is designed according to the relationship or quantitative results in the first phase. Because this explanatory design begins with quantitative, the researchers place a greater emphasis on quantitative methods than qualitative methods. The overall purpose of this explanatory design is to help explain or build on the results of quantitative research. This variant or explanatory design model consists of two models, namely 1) Follow-up Explanation Model (emphasizing quantitative), 2) Participant Selection Model (emphasizing qualitative). The results of this study indicate that the teacher's verbal communication rhetoric must continue to be trained and developed in accordance with the conditions of the students at that time. In addition, the rhetoric of teachers' verbal communication through digital literacy also needs to be developed.
Pengembangan Aplikasi SAC sebagai Media Pembelajaran Menulis Kosakata Baku Bahasa Indonesia Sutarsih Sutarsih
Prosiding Seminar Nasional Pascasarjana Vol. 4 No. 1 (2021)
Publisher : Pascasarjana Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak. Artikel ini merupakan bagian awal dari penelitian pengembangan atau Research and Development (R&D) hanya dengan 2 tahapan, yaitu 1) penelitian dan pengumpulan data dan 2) desain produk. Sesuai rumusan masalah, tujuan penelitian adalah memaparkan prosedur mengembangkan dan wujud produk awal media pembelajaran SAC menulis kosakata baku bahasa Indonesia. Namun, artikel ini hanya sampai pengembangan produk awal media SAC. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh fenomena masih banyak pembelajar bahasa Indonesia yang tidak dapat menulis kosakata baku bahasa Indonesia dengan tepat. Sementara di sisi lain, bahasa Indonesia adalah bahasa negara, sebagai mata pelajaran wajib, dan didukung oleh banyak pedoman penulisan kosakata baku bahasa Indonesia. Penelitian ini memaparkan prosedur pengembangan dan menghasilkan SAC kosakata baku bahasa Indonesia yang dapat digunakan di semua jenjang pendidikan. Media SAC Produk awal ini terdiri atas materi dan latihan yang dilengkapi dengan skor perolehan. SAC produk awal ini praktis dan menarik. Abstract. This article is the initial part of Research and Development (R&D) with only 2 stages, namely 1) research and data collection and 2) product design. In accordance with the formulation of the problem, the purpose of the study is to describe the procedure for developing and creating the initial product for SAC learning media to write standard Indonesian vocabulary. However, this article is only up to the initial product development of SAC media. This research is motivated by the phenomenon that there are still many Indonesian language learners who cannot write standard Indonesian vocabulary correctly. While on the other hand, Indonesian is the state language, as a compulsory subject, and is supported by many guidelines for writing standard Indonesian vocabulary. This study describes the procedure for developing and producing SAC standard Indonesian vocabulary that can be used at all levels of education. Media SAC this initial product consists of materials and exercises that are accompanied by an acquisition score. This early product SAC was practical and attractive.
Kearifan Lokal sebagai Penunjang Pendidikan Literasi Budaya Tri Pujiatna
Prosiding Seminar Nasional Pascasarjana Vol. 4 No. 1 (2021)
Publisher : Pascasarjana Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak. Kearifan lokal dapat diartikan tentang pemikiran hidup. Pemikiran tersebut dilandasi pada logika jernih, budi pekerti baik, dan memuat hal-hal positif. Kearifan lokal dapat ditafsirkan sebagai perasaan mendalam, perilaku, dan aturan yang dianggap baik untuk kehidupan manusia. Kurikulum 2013 mata pelajaran Bahasa Indonesia merupakan kurikulum berbasis teks. Teks digunakan sebagai sarana pembelajaran. Peserta didik diharapkan memiliki kemampuan untuk mengenali, memahami, sampai dengan memproduksi teks. Dalam konteks kearifan lokal sebagai penunjang literasi budaya dalam pelajaran Bahasa Indonesia, pendidik dapat memfasilitasi kegiatan pembelajaran dengan menyediakan dan atau mengarahkan peserta didik dalam membaca teks berkearifan lokal. Teks kearifan lokal adalah yang berisi tentang hasil budaya yang mengarah pada nilai-nilai kebaikan. Pendidik harus benar-benar memahami penjabaran sintak pembelajaran saintifik dengan menyiapkan pertanyaan tuntunan sebagai penunjang pendidikan literasi budaya dalam pembelajaran Bahasa Indonesia. Hal ini merupakan bantuan pendidik kepada peserta didik dalam memahami teks berkearifan lokal. Abstract. Local wisdom can be interpreted as the thought of life. The thinking is based on logical logic, good character, and positive things. Local wisdom can be felt as a deep feeling, behaviour, and rules considered suitable for human life. The 2013 curriculum for Indonesian subjects is text-based—the text used as a learning tool. Students are expected to have the ability to recognize, understand, and produce texts. In the context of local wisdom as a support for cultural literacy in Indonesian, educators can facilitate learning activities by providing and directing students to read texts of local wisdom. Local texts are those that contain cultural results that lead to reasonable values. Educators must understand the elaboration of scientific learning syntax by preparing guidelines to support cultural literacy education in Indonesian language learning. This is an educator's assistance to students in understanding local wisdom texts..
Strategi Menyusun Bahan Ajar Inovatif Berbasis Mobile Learning untuk Pembelajaran Mata Kuliah Keterampilan Menulis di Abad 21 Cahyo Hasanudin; Subyantoro Subyantoro; Ida Zulaeha; Rahayu Pristiwati
Prosiding Seminar Nasional Pascasarjana Vol. 4 No. 1 (2021)
Publisher : Pascasarjana Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui strategi penyusunan bahan ajar inovatif berbasis mobile learning untuk pembelajaran mata kuliah keterampilan menulis di abad 21. Penelitian ini merupakan penelitian studi pustaka (library research) dengan data penelitian berupa data sekunder yang relevan dengan topik pembahasan. Data bersumber dari buku terbitan Indonesia dan luar negeri, serta artikel hasil penelitian yang sudah dipublikasi dalam jurnal nasional maupun internasional. Prosedur penelitian ini menggunakan teori Mary W. George. Penelitian ini menyimpulkan bahwa dalam menyusun bahan ajar inovatif berbasis mobile learning untuk pembelajaran mata kuliah keterampilan menulis di abad 21 dapat memanfaatkan strategi yang digunakan oleh Kosasih (2021) sehingga menghasilkan prototipe bahan ajar mata kuliah keterampilan menulis berbasis mobile learning yang dikembangkan berbentuk aplikasi. Aplikasi ini dimulai dengan menu untuk login, setelah tombol ‘login’ di klik maka aplikasi akan mengarahkan ke menu ajakan untuk berdoa sesuai kepercayaan masing-masing, kemudian klik tombol lanjutkan sehingga akan mengarah ke menu utama dan ke menu-menu yang lain Abstract. This study aims to investigate the strategy to create innovative teaching materials based on mobile learning for learning writing skills in the 21st century. This study is a library research with secondary data relevant to the topic of discussion. The data comes from national and international books, and the articles that have been published in national and international journals. This research procedure implements the theory of Mary W. George. This study concludes that in creating innovative teaching materials based on mobile learning for learning writing skills in the 21st century, can utilize the strategies used by Kosasih (2011) to produce a prototype of teaching materials for writing skill based on mobile learning which is developed in the form of an application . This application starts with a menu to log in, after the 'login' button is clicked, the application will direct to a menu of invitations to pray according to their religions, then click the continue button so that it will lead to the main menu and other menus.
Penguasaan Retorik Interpersonal Sebagai Strategi Kompetensi Komunikatif Guru Kelas dalam Pembelajaran Bahasa di Pendidikan Abad 21 Dina Mardiana; Fathur Rokhman; Rustono Rustono; Hari Bakti Mardikantoro
Prosiding Seminar Nasional Pascasarjana Vol. 4 No. 1 (2021)
Publisher : Pascasarjana Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak. Era digital abad 21 atau yang dikenal dengan era revolusi industri 4.0 semakin mendisrupsi banyak bidang, salah satunya bidang pendidikan. Pendidikan di abad 21 pun menyajikan banyak tantangan bagi kompetensi guru bahasa, tak terkecuali guru kelas yang juga mengajarkan bahasa untuk dapat mewujudkan pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia yang efektif di SD/MI. Kompetensi guru kelas di era digital pembelajaran abad-21 ini tak hanya dituntut untuk mampu mengaplikasikan pengetahuan teknologi dan digitalnya, tetapi juga harus mampu mengaplikasikan pengetahuan pedagogiknya dalam kelas yang diampunya, salah satunya kompetensi komunikatif dalam kegiatan belajar mengajar. Permasalahan utama yang dikaji dalam makalah ini adalah tantangan kompetensi komunikatif guru kelas dalam mewujudkan pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia di sekolah dasar yang efektif di era digital abad 21. Tantangan tersebut dapat dijawab dengan baik apabila guru memiliki pemahaman tentang teori pragmatik interpersonal yang mencakupi retorik interpersonal sebagai strategi berkomunikasi yang efektif dan santun dalam kegiatan belajar mengajar. Ruang lingkup permasalahan yang sangat luas dibatasi hanya pada tantangan guru kelas dalam menguasai kompetensi komunikatif melalui langkah-langkah dalam retorik interpersonal. Abstract. The digital era of the 21st century or well-known as the industrial revolution era 4.0 is increasingly disrupting many fields, one of which is the education field. Education in the 21st century also presents many challenges for the competence of language teachers, unexpected to classroom teachers who also teach language to be able to realize effective learning of Indonesian language and literature in the primary school (SD/MI). The competence of classroom teachers in the digital era of the 21st century is not only required to be able to apply their technological and digital knowledge, but also to be able to apply their pedagogical knowledge in the learning classroom they teach, one of which is communicative competence in teaching and learning activities. The main problem studied in this paper is the challenge of the communicative competence of classroom teachers in realizing effective learning of Indonesian language and literature at the primary schools in the digital era of the 21st century. This challenge can be answered properly if the teacher has an understanding of interpersonal pragmatic theory which includes interpersonal rhetoric as effective and polite communication strategies in teaching and learning activities. The very broad scope of the problem in this paper is limited only to the challenges of classroom teachers in mastering communicative competence through steps in the interpersonal rhetoric.