cover
Contact Name
Husnul Hidayat
Contact Email
husnulhidayat@ft.unsri.ac.id
Phone
+62895603960330
Journal Mail Official
archvisual@ft.unsri.ac.id
Editorial Address
Jalan Srijaya Negara, Bukit Besar, Palembang 30139
Location
Kab. ogan ilir,
Sumatera selatan
INDONESIA
Archvisual: Jurnal Arsitektur dan Perencanaan
Published by Universitas Sriwijaya
ISSN : 28095766     EISSN : 28095014     DOI : 10.55300
Core Subject : Art, Engineering,
Archvisual is national journal to facilitate all of researchers from universities, academies, and institutions; as well as students in relevance with architecture and planning; Architecture, Digital of Architecture, Urban Design, Traditional Architecture and Vernacular, Archeology, Local Wisdom, Psychology in Architecture, Theory Method and Critics in Architecture, Building Structure and Utility System, Housing and Settlement, Sustainable Architecture, Urban Planning and Design, Urban and Rural Planning, Building Science and Technology, History and Theory of Architecture, Urban and Rural Infrastructure System. Archvisual journal will publish first edition in the end of the year 2021, both in online (e-journal) and printed. The journal is published in twice a year in June and December. The journal is managed and published by the Department of Architecture Engineering, Faculty of Engineering, Sriwijaya University.
Articles 39 Documents
Rethinking and Reconnecting Urban River Corridor: Studi Kasus DAS Garang, Semarang Yohana Aneke; Cornelius Gea
Archvisual: Jurnal Arsitektur dan Perencanaan Vol 1 No 2 (2022): Archvisual
Publisher : Program Studi Teknik Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1078.525 KB) | DOI: 10.55300/archvisual.v2i1.1002

Abstract

Koridor sungai perkotaan memiliki peran penting dalam perkembangan kota. Sejak peradaban awal sungai telah memiliki peran penting, seperti sebagai navigasi, irigasi, pasokan air domestik dan industri, pertahanan, dan produksi energi. Secara umum sungai memiliki fungsi hidrologis dan ekologis sebagai penyangga keseimbangan alam. Hubungan antara hulu, tengah, dan hilir memiliki konektivitas sebab-akibat yang akan saling mempengaruhi. Sungai yang melewati ruang kota akan menimbulkan masalah jika tidak dikelola dengan baik. Proyek rekayasa terhadap dinamika alami sungai telah mencapai pada titik kritis. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif, melalui pengamatan fenomena di lapangan, mengumpulkan data primer dan data sekunder untuk menghasilkan temuan-temuan baru. Penelitian ini menemukan bahwa berbagai tekanan dari perubahan iklim, perubahan tata ruang, dan peningkatan jumlah kejadian banjir membuat semua upaya mengatasi persoalan sungai tersebut perlu dipikirkan kembali. Berbagai proyek pemerintah seperti pencegahan banjir dan proyek normalisasi sungai masih berlanjut hingga saat ini. Namun, belum bisa sepenuhnya menjawab permasalahan sungai. Oleh karena itu, diperlukan strategi untuk memulai transisi ke pendekatan yang lebih tangguh dan berkelanjutan.
Efektifitas Pemakaian Material Akustik pada Gereja Bethel Indonesia (GBI) Musi Palem Indah Palembang Anta Sastika; Sandra Eka Febrina
Archvisual: Jurnal Arsitektur dan Perencanaan Vol 1 No 2 (2022): Archvisual
Publisher : Program Studi Teknik Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (866.706 KB) | DOI: 10.55300/archvisual.v2i1.1007

Abstract

Penggunaan material akustik pada bangunan Gereja Bethel Indonesia Musi Palem Indah Palembang sangat dibutuhkan untuk menunjang fungsi sebagai ruang ibadah. Penggunaan sound system dan peralatan audio visual serta suara yang berasal dari jemaah memberikan berpengaruh terhadap tingkat kebisingan di dalam ruang gereja, yaitu sebesar 80 - 85 dB, dimana ambang batas normalnya hanya 30 – 50 dB. Faktor bising internal juga dipengaruhi oleh bising eksternal yang dihasilkan dari kendaraan dan kegiatan-kegiatan yang berlangsung di sekitar bangunan. Pemilihan material akustik yang digunakan dapat efektif apabila sesuai dengan jumlah produksi suara atau tingkat kebisingan yang timbul. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui efektifitas penggunaan material akustik yang digunakan di Gereja Bethel Indonesia Musi Palem Indah Palembang melalui pengukuran dan dianalisis menggunakan metode kuantitatif deskriptif. Penelitian ini menghasilkan kesimpulan utama bahwa material karpet yang dipakai di lantai Gereja Bethel Indonesia Musi Palem Indah Palembang ini kurang efektif dalam meredam tingkat kebisingan khususnya pada saat berlangsungnya proses ibadah, serta rekomendasi pemilihan dan penggunaan material dan metode reduksi, kebisingan pada bangunan.
Peletakan Dapur: Bentuk Ketertiban dalam Ketidakteraturan pada Kampung Kota Farrah Eriska Putri; Adinda Christina
Archvisual: Jurnal Arsitektur dan Perencanaan Vol 2 No 1 (2022): Archvisual
Publisher : Program Studi Teknik Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (988.309 KB) | DOI: 10.55300/archvisual.v2i1.1081

Abstract

Secara umum, hunian informal pada Kampung Kota sering mengalami adaptasi dan perubahan untuk mengakomodasi kegiatan penghuninya. Masyarakat pada permukiman informal secara alamiah mengubah atau menambahkan ruang pada huniannya tanpa adanya aturan baku yang mengikat, hal ini kerap memunculkan ketidakteraturan dan kekacauan dalam tatanan ruang. Pada kasus Kampung Muka, adaptasi ruang yang bebas semacam ini juga terjadi. Namun dalam beberapa hal seperti perletakan dan penambahan ruang servis ditemukan kecenderungan yang seragam pada pola adaptasi ruangnya. Masyarakat seolah memiliki aturannya sendiri dalam menata ruang servis, seperti dapur pada bagian luar hunian mereka. Adanya aturan atau kesepakatan yang muncul di masyarakat ini sangat menarik untuk didalami, mengingat masyarakat informal cenderung dianggap bebas dari aturan. Memahami fenomena kemunculan aturan yang mengikat adaptasi ruang kemudian menjadi penting, untuk melihat sejauh apa batasan dan fleksibilitas yang bisa diterapkan pada hunian padat penduduk dan masyarakat yang datang dari lingkungan informal. Studi ini menggunakan metode pengumpulan data kualitatif berupa observasi terhadap perletakan spasial ruang dan kegiatan, serta interview mendalam terhadap responden. Pada akhirnya, studi berhasil mengidentifikasi bagaimana terjadinya dapur sebagai bentuk adaptasi ruang, serta faktor yang secara tersirat mengaturnya seperti luasan hunian, posisi hunian terhadap jalan, alasan keamanan, pertimbangan sirkulasi publik, dan kebutuhan penanda usaha. Sikap fleksibel masyarakat mengenai aturan ruang milik pribadi dan ruang publik, menunjukkan bahwa masyarakat perlu dilibatkan dalam perencanaan untuk meningkatkan efektifitas ruang hunian dan ruang publik.
Kajian Arsitektur Kontekstual sebagai Dasar Perancangan Pusat Informasi Wisata Kabupaten Pacitan Yoni Prasetyo; Endah Tisnawati
Archvisual: Jurnal Arsitektur dan Perencanaan Vol 2 No 2 (2023): Archvisual
Publisher : Program Studi Teknik Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (958.205 KB) | DOI: 10.55300/archvisual.v2i2.1105

Abstract

Kabupaten Pacitan memiliki keragaman potensi wisata baik alam maupun budaya. Saat ini pemasaran potensi wisata baru dilaksanakan melalui fasilitas yang seadanya di Kantor Dinas Pariwisata Kabupaten Pacitan. Pembangunan Pusat Informasi Wisata merupakan salah satu rencana pencapaian target bidang kepariwisataan di Kabupaten Pacitan. Naskah ilmiah ini membahas mengenai perancangan pusat informasi wisata di Kabupaten Pacitan dengan menggunakan pendekatan arsitektur kontekstual. Arsitektur Kontekstual digunakan sebagai dasar pendekatan dengan tujuan agar mampu memberikan nilai tambah secara visual pada desain Pusat Informasi Wisata. Kontekstualisme, sebagaimana diketahui, muncul dari keinginan untuk menyelesaikan persoalan-persoalan keselarasan desain bangunan baru dengan lingkungan kota dan struktur alam serta budaya sekitarnya (Çizgen, 2012). Implementasi konsep yang diterapkan pada desain, disesuaikan dengan teori arsitektur kontekstual yang berkesinambungan terhadap kondisi lingkungan kota dan budaya sekitar. Pertimbangan desain berpedoman pada prinsip desain arsitektur kontekstual, yaitu penyesuaian terhadap modul, tipologi, dan lansekap bangunan sekitar, serta aspek klimatologi, budaya, dan permasalahan pengguna bangunan. Karya tulis ilmiah ini merumuskan arahan desain pusat informasi wisata dengan menerapkan konsep arsitektur kontekstual, pada desain zoning dan denah, fasade atau pelingkup bangunan serta elemen pola lansekap.
Sense of Place Pasar 16 Ilir Palembang Tutur Lussetyowati; Almira Ulfa
Archvisual: Jurnal Arsitektur dan Perencanaan Vol 2 No 2 (2023): Archvisual
Publisher : Program Studi Teknik Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1172.538 KB) | DOI: 10.55300/archvisual.v2i2.1458

Abstract

Sense of place atau kesan tempat merupakan elemen penting yang dapat memperkuat hubungan antara pengguna dan tempat. Karakter tempat sangat berpengaruh terhadap bagaimana seseorang menilai sebuah tempat dan memaknainya. Pasar 16 Ilir, salah satu pasar lama di Kota Palembang, menjadi salah satu kawasan yang dari dulu hingga sekarang memiliki peran penting di kota Palembang. Namun saat, ini pasar tersebut mulai menghadapi banyak permasalahan, seperti masalah kemacetan dan bentuk fisik bangunan. Selain itu, interior bangunan menjadi kurang menarik. Hal-hal ini mempengaruhi sense of place dari Pasar 16 Ilir tersebut. Tujuan dari penelitian ini adalah melihat sense of place Pasar 16 Ilir pada saat ini yang dipengaruhi beberapa aspek. Analisis akan mengacu pada beberapa aspek yang dapat menimbulkan adanya sense of place kepada pengguna tempat, yaitu: aktivitas (activity); makna (meaning); dan bentuk fisik (physical setting). Metode yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif, yang terdiri dari pengumpulan data lapangan dan wawancara terhadap pengelola, pedagang dan pengunjung. Data diolah menggunakan metode analisis deskriptif. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa sense of place Pasar 16 Ilir bukan hanya dibentuk oleh pasarnya saja, tetapi juga oleh kawasan di sekitarnya. Menariknya, justru kawasan sekitar pasar yang memiliki peran lebih besar dalam pembentukan sense of place tersebut.
Perbedaan Kebutuhan Ruang Terbuka dan Fasilitas Penunjangnya Sesuai Kebutuhan Warga Permukiman Tepian Sungai Musi, Kota Palembang, Sumatera Selatan Listen Prima; Harrini Mutiara Hapsari; Sindy Daisy Cahyany; Nurhasanah Nurhasanah; Indah Nurlia Afiyah; Chiquita Mutiara Ananda; Rayhan Haris Maulana; Syamsul Maarif
Archvisual: Jurnal Arsitektur dan Perencanaan Vol 2 No 2 (2023): Archvisual
Publisher : Program Studi Teknik Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1099.054 KB) | DOI: 10.55300/archvisual.v2i2.1459

Abstract

Ruang terbuka merupakan elemen penting yang melekat di masyarakat tepian Sungai Musi, dalam kegiatan atau aktivitas kehidupan sehari-hari sebagai tempat berkumpul, bercerita, bermain, belanja, atau hanya sekedar duduk. Kebutuhan akan ruang terbuka dipengaruhi oleh berbagai aspek, salah satunya perbedaan kebutuhan sesuai dengan kelompok masyarakat (usia). Pentingnya kebutuhan jenis ruang terbuka dan fasilitas penunjang ruang terbuka melatarbelakangi penelitian ini, untuk mengetahui perbedaan jenis ruang terbuka dan fasilitas penunjang yang dibutuhkan masyarakat sebagai penunjang kegiatan atau aktivitas sehari-hari berdasarkan kelompok masyarakat (usia). Penelitian ini dilakukan dengan metode kuantitatif untuk mengolah tiga jenis data yang merupakan hasil dari kuesioner dan survey, yaitu: jenis ruang terbuka yang sering digunakan; fasilitas yang dibutuhkan; dan jenis ruang terbuka yang dibutuhkan. Ketiga jenis data tersebut diolah melalui aplikasi JMP. Metode deskriptif dilakukan untuk menjelaskan hasil analisa mengenai jenis ruang terbuka dan fasilitas yang dibutuhkan masyarakat tepian Sungai Musi. Hasil penelitian menunjukan bahwa ada pengaruh kelompok masyarakat (usia) yang lebih mengarah pada fasilitas ruang terbuka yang dibutuhkan dan didukung dengan kebutuhan yang cukup kompleks, serta situasi dan kondisi permukiman yang ditempati sesuai kelompok usia yaitu anak-anak, remaja, dan dewasa.
Potensi Ruang Terbuka di Sepanjang Bantaran Sungai Batang Lembang Kota Solok Listen Prima; Abdurrachman Arief; Mutiara Winanda; Siti Saskia Adela
Archvisual: Jurnal Arsitektur dan Perencanaan Vol 2 No 2 (2023): Archvisual
Publisher : Program Studi Teknik Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1181.429 KB) | DOI: 10.55300/archvisual.v2i2.1460

Abstract

Secara geografis Sungai Batang Lembang terletak pada Kabupaten Solok dan Kota Solok, dan merupakan sungai terbesar dan terpanjang di Kabupaten dan Kota Solok. Selain itu, terdapat beberapa ruang terbuka di sepanjang bantaran Sungai Batang Lembang Kota Solok yang berpotensi dalam pengembangan kota; lokasi pertama lapangan merdeka, lokasi kedua bantaran samping rumah sakit tentara, lokasi ketiga bantaran samping Masjid Al-Hidayah, dan lokasi keempat Taman Syech Kukut Kota Solok. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan survey lokasi dan analisa data dengan aplikasi Arcgis dan aplikasi JMP dengan tujuan untuk mengetahui jenis potensi atau fungsi dari Ruang Terbuka Hijau (RTH) di kawasan penelitian sehingga dapat dikembangkan berdasarkan fungsi untuk menciptakan lingkungan kota yang berkelanjutan. Berdasarkan hasil survey dan analisis data dari empat lokasi RTH, maka dapat diketahui jenis potensi atau fungsi dari RTH tersebut dengan fungsi sosial budaya, lalu tiga lokasi RTH yakni lokasi pertama, kedua, dan keempat dapat dimanfaatkan dengan fungsi estetika, dan juga lokasi keempat dapat dimanfaatkan dengan fungsi ekonomi untuk mewadahi aktivitas atau kegiatan jual beli masyarakat sekitar. Dengan demikian, hasil penelitian dapat dijadikan masukan bagi pemerintah setempat dan pihak terkait dalam program pengembangan wilayah setempat.
Lalu dan Kini: Identifikasi Tatanan Kawasan Heritage di Kawasan Talang Semut Kota Palembang Listen Prima; Almira Ulfa; Indah Nurlia Afiyah; Chiquita Mutiara
Archvisual: Jurnal Arsitektur dan Perencanaan Vol 2 No 1 (2022): Archvisual
Publisher : Program Studi Teknik Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1708.721 KB) | DOI: 10.55300/archvisual.v2i1.1461

Abstract

Heritage dimaknai sebagai sejarah, tradisi, dan nilai-nilai yang dimiliki suatu bangsa atau negara selama bertahun-tahun serta sebagai bagian penting dari karakter mereka. Kawasan Talang Semut merupakan salah satu kawasan heritage Kota Palembang yang perlu dijadikan perhatian pemerintah dalam analisis lingkungan dan dampak sejarahnya, khususnya terkait perkembangannya atau keaslian unsur-unsur heritage tersebut. Dalam penelitian yang dilakukan digunakan metode kualitatif berupa survei langsung guna mengumpulkan data yang kemudian diolah dan dipetakan melalui aplikasi ArcGIS. Hasil kajian digambarkan dengan menggunakan metode deskriptif melalui berbagai olah data survei dan referensi jurnal terkait. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kawasan heritage di Talang Semut pada masa lalu dan masa kini terkait satu sama lain dalam perkembangannya dengan tidak menghilangkan ciri khas kawasan tersebut. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi sebuah acuan informasi untuk memperkuat karakteristik heritage Kota Palembang dan juga sebagai referensi dalam pengembangan kawasan heritage lainnya di Kota Palembang.
Penataan Ruang Terbuka Publik sebagai Wadah Aktivitas Warga pada Permukiman di Tepian Sungai Musi, Palembang Maya Fitri Oktarini; Rahma D Kesman; Aulyandini Amalia Zahra Putri; Maulisa Nuari; M Raihan Fahreza; Albert Subari; Nur Azizah
Archvisual: Jurnal Arsitektur dan Perencanaan Vol 2 No 1 (2022): Archvisual
Publisher : Program Studi Teknik Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1228.945 KB) | DOI: 10.55300/archvisual.v2i1.1480

Abstract

Perencanaan kawasan bantaran sungai dapat menjadi solusi penyediaan ruang terbuka publik. Perencanaan harus mempromosikan karakter khusus lanskap dan sosial budaya masyarakat. Ruang terbuka di permukiman padat digunakan untuk perluasan rumah yang sempit untuk kegiatan sehari-hari dan bersosialisasi antar warga. Lokasi penelitian berada di pemukiman sekitar Jembatan Ampera di Palembang. Kajian ini bertujuan untuk menyajikan alternatif desain ruang terbuka bantaran sungai berdasarkan kekhususan kondisi fisik dan aktivitas permukiman bantaran sungai. Pengamatan meliputi jumlah jenis pengguna, kegiatan, luas, dan fasilitas. Hasil penelitian menunjukkan titik aktif ditemukan pada tujuh ruang terbuka. Intensitas dan jenis kegiatan dipengaruhi oleh luas wilayah, panorama, dan fasilitas. Akses ke sungai merupakan elemen terpenting dalam mendesain ruang terbuka di bantaran sungai. Kegiatan warga seringkali berhubungan dengan sungai. Akses tersebut akan menghidupkan kembali pemanfaatan ruang terbuka sebagai penghubung sungai dengan aktivitas sehari-hari warga. Penataan tersebut juga perlu dilengkapi dengan tambahan fasilitas kebutuhan sehari-hari sebagai alasan penghuni untuk mengunjungi ruang terbuka.
Kekayaan Arsitektural Kampung Arab di Palembang Johannes Adiyanto; Anjuma Perkasa Jaya; Dessa Andriyali Armarieno
Archvisual: Jurnal Arsitektur dan Perencanaan Vol 2 No 1 (2022): Archvisual
Publisher : Program Studi Teknik Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1227.049 KB) | DOI: 10.55300/archvisual.v2i1.1500

Abstract

Palembang merupakan salah satu kota di Indonesia yang mempunyai sejarah panjang. Selain itu Palembang juga berperan sebagai kota bandar atau kota perdagangan. Salah satu golongan pedagang yang kemudian berhuni di Palembang adalah Kaum Hadrami yang datang dari Hadramaut. Dua kampung tua tempat warga pedatang Hadrami ini tinggal adalah Kampung Al Munawar dan Kampung Assegaf. Paper ini menggunakan metode penelitian semotika dalam arsitektur yang menempatkan elemen bangunan di kedua kampung ini sebagai tanda yang dibaca secara makna denotasi dan kontasi. Paper ini menunjukkan bahwa wujud bangunan di kedua kampung ini terkait dengan kedekatan sosial ekonomi warga dengan penguasa saat itu, yaitu Kesultanan Palembang Darussalam dan juga pemerintah Hindia Belanda. Hasil dari penelitian dapat menjadi rujukan bagi penelitian lanjutan dan program pengembangan kota khususnya Kota Palembang.

Page 2 of 4 | Total Record : 39