cover
Contact Name
Dewi Yunita
Contact Email
dewi_yunita@usk.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jimfp@usk.ac.id
Editorial Address
Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala Jl. Tgk Hasan Krueng Kalee No. 3 Darussalam Banda Aceh, Indonesia 23111
Location
Kab. aceh besar,
Aceh
INDONESIA
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian
ISSN : 26152878     EISSN : 26146053     DOI : http://dx.doi.org/10.17969/jimfp
Core Subject : Agriculture,
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian (JIMFP) diterbitkan oleh Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala. Merupakan media jurnal elektronik sebagai wadah untuk penyebaran dan publikasi hasil penelitian dari skripsi/tugas akhir dan atau sebagian dari skripsi/tugas akhir mahasiswa strata satu (S1) Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala yang merupakan kewajiban setiap mahasiswa untuk mengunggah karya ilmiah sebagai salah satu syarat untuk yudisium dan wisuda sarjana. Artikel ditulis bersama dosen pembimbingnya serta diterbitkan secara online setelah melewati proses review oleh 2 orang reviewer dan editor JIMFP. JIMFP menerbitkan artikel ilmiah mahasiswa dari delapan Program Studi (Prodi), yaitu Prodi Agribisnis, Prodi Agroteknologi, Prodi Peternakan, Prodi Teknologi Hasil Pertanian, Prodi Teknik Pertanian, Prodi Ilmu Tanah, Prodi Proteksi Tanaman dan Prodi Kehutanan. JIMFP terbit satu volume dan empat nomor dalam setahun, yaitu setiap bulan Februari, Mei, Agustus dan November.
Articles 33 Documents
Search results for , issue "Vol 2, No 4 (2017): November 2017" : 33 Documents clear
Pengaruh Pembenah Tanah Terdahap Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Kedelai (Glycine max L.) Dengan Berbagai Pola Tanam Pada Tanah Podsolik Ridha Arjuna; Syafruddin Syafruddin; Zaitun Zaitun
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian Vol 2, No 4 (2017): November 2017
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (173.475 KB) | DOI: 10.17969/jimfp.v2i4.5408

Abstract

Abstrak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pembenah tanah terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman kedelai dengan berbagai pola tanam pada tanah podsolik. Penelitian ini dilakukan di Gampong Teureubeh, Mukim Jantho, Kecamatan Kota Jantho, Kabupaten Aceh Besar dari bulan Agustus sampai Desember 2016. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan pola faktorial 5 x 2 dengan 3 ulangan sehingga diperoleh 30 satuan percobaan. Faktor yang diteliti adalah pembenah tanah (A) dan pola tanam (S). Faktor pembenah tanah terdiri dari A0=NPK 400 kg ha-1, A1=biochar 10 ton ha-1, A2=pupuk kandang 10 ton ha-1, A3=biochar 10 ton ha-1 + NPK 400 kg ha-1 dan A4=pupuk kandang 10 ton ha-1 + NPK 400 kg ha-1. Faktor pola tanam terdiri dari S1=monokultur kedelai dan S3=tumpangsari jagung-kedelai. Penggunaan pembenah tanah belum mempengaruhi pertumbuhan dan hasil tanaman kedelai. Penggunaan pola tanam monokultur secara umum menghasilkan pertumbuhan tanaman kedelai yang lebih baik dan penggunaan pola tanam tumpangsari menghasikan hasil tanaman kedelai yang lebih baik. Terdapat interaksi antara pembenah tanah dan pola tanam terhadap bobot brangkasan basah dengan yang terberat yaitu kandang 10 ton ha-1 pada pola tanam monokultur kedelai.The Effect of Soil Amandement on Soybean (Glycine max L.) Growth and Yield with Multiple Cropping at Podsolic SoilAbstract. This research aims to determine the effect of soil amandement on soybean growth and yield multiple cropping at podsolic soil. This research take a place at Gampong Teureubeh, Mukim Jantho, Jantho Town District, Aceh Besar from August to December 2016. This research used Randomized Block Design (RAK) with 5 x 2 factorial pattern with 3 replications to obtain 30 experimental units. The factors studied were soil amandement (A) and multiple cropping (S). The soil amandement factor consisted of A0=NPK 400 kg ha-1, A1=biochar 10 ton ha-1, A2=pupuk kandang 10 ton ha-1, A3=biochar 10 ton ha-1 + NPK 400 kg ha-1 and A4=pupuk kandang 10 ton ha-1 + NPK 400 kg ha-1. Factor of multiple cropping consist of S1 = soybean monoculture and S3 = intercropping of corn-soybean. The application of soil amandement has not affected the growth and yield of soybean crops. The general results of application monoculture multiple cropping is better in soybean crop growth and the result of application intercropping multiple cropping is better in soybean crop yields. There is an interaction between soil amandement and multiple cropping on wet weighted weights with the heaviest cage of 10 ton ha-1 in soybean monoculture multiple planting.
Pengaruh Perlakuan Benih Dengan Menggunakan Agens Biokontrol Terhadap Pengendalian Penyakit Rhizoctonia solani Pada Pertumbuhan Bibit Cabai Merah Dody Aswar; Hasanuddin Hasanuddin; Syamsuddin Syamsuddin
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian Vol 2, No 4 (2017): November 2017
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (281.578 KB) | DOI: 10.17969/jimfp.v2i4.5436

Abstract

Abstrak.  Perlakuan benih menggunakan rizobakteri sebagai  alternatif  pengganti penggunaan bahan kimia untuk mengendalikan penyakit tanaman. Penelitian ini bertujuan (1) mempelajari  pengaruh beberapa jenis isolat rizobakteri dalam menghambat pertumbuhan Rhizoctonia solani terhadap pertumbuhan bibit tanaman cabai merah, dan (2) pengaruh perlakuan benih menggunakan rizobakteri sebagai pemacu pertumbuhan tanaman. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) non faktorial. Faktor yang diteliti adalah rizobakteri sebagai agens biokontrol terhadap patogen Rizoctonia solani yang terdiri dari 18 isolat rizobakteri yaitu : Pseudomonas capasia (A1) , Bacillus megaterium (A2), Pseudomonas dimuta (A3), Bacillus bodius (A4), Bacillus laterophorus (A5), Bacillus larvae (A6), Bacillus alvei (A7), Bacillus coagulans (A8), Bacillus firmus (A9), Bacillus pilymixa (A10), Bacillus lichiniformis (A11), Bacillus stearothermophillus (A12), Actinobacillus suis (A13), Actinotorbacter sp. (A14), Azotobacter sp. INA8 (A15), Azotobacter sp. (A16), Necercia sp. (A17), Flavobacterium sp. (A18). Sebagai kontrol (A0) juga dikecambahkan benih yang tidak diberi isolat rizobakteri. Terdapat 6 rizobakteri dari 18 isolat yang diuji yang memberikan penurunan nilai gejala serangan patogen Rhizoctonia solani yaitu Pseudomonas dimuta, Bacillus bodius, Bacillus laterophorus, Bacillus lichiniformis, Bacillus stearothermophillus, dan Azotobacter sp. Perlakuan benih dengan rizobakteri Flavobacterium sp sangat nyata meningkatkan vigor benih pada tolok ukur indeks vigor. Perlakuan benih terbaik dalam meningkatkan pertumbuhan tanaman terhadap parameter tinggi tanaman dan diameter batang umur 4 MSP adalah Bacillus bodius dan parameter jumlah daun pada perlakuan jenis rizobakteri Pseudomonas capasia. Influence of Seed Treatment Using Agens Bio-Control Against Rhizoctonia solani Disease and Seedling Growth of Red Chili Pepper Abstract. Seed treatment using rizobakteri as an alternative to substitute the use of chemicals to control plant disease.. This study aims to (1) study the influence of several types of rizobacterial isolates in inhibiting the growth of Rhizoctonia solani on the growth of red chili seedlings, and (2) the influence of seed treatment using rhizobacteria as a trigger for plant growth. This study used a complete randomized design (RAL) non factorial. The factors studied were rizobacteria as a biocontrol agent against Rizoctonia solani pathogen consisting of 18 rizobacterial isolates: Pseudomonas capacia (A1), Bacillus megaterium (A2), Pseudomonas dimuta (A3), Bacillus bodius (A4), Bacillus laterophorus (A5) Bacillus larvae (A6), Bacillus alvei (A7), Bacillus coagulans (A8), Bacillus firmus (A9), Bacillus pilymixa (A10), Bacillus lichiniformis (A11), Bacillus stearothermophillus (A12), Actinobacillus suis (A13), Actinotorbacter sp . (A14), Azotobacter sp. INA8 (A15), Azotobacter sp. (A16), Necercia sp. (A17), Flavobacterium sp. (A18). As control (A0) also added seeds that were not given rizobacterial isolates. There were 6 rhizobacteria of 18 isolates tested which decreased the symptom value of pathogenic attack of Rhizoctonia solani ie Pseudomonas dimuta, Bacillus bodius, Bacillus laterophorus, Bacillus lichiniformis, Bacillus stearothermophillus, and Azotobacter sp. Treatment of seeds with rizobacteria Flavobacterium sp very significantly increases the vigor of seeds on the benchmark vigor index. The best seed treatment in improving plant growth on plant height parameters and stem diameter of 4 MSP was Bacillus bodius and leaf number parameters in the treatment of rhizobacteria Pseudomonas capacia.
Kandungan Protein Kasar dan Serat Kasar Rumput Setaria (Setaria sphacelata) dengan Aplikasi Mikoriza Arbuskula pada Level Berbeda Ria Sagita; Asril Asril; Mira Delima
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian Vol 2, No 4 (2017): November 2017
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17969/jimfp.v2i4.5118

Abstract

Abstrak.Suatu penelitian tentang efektivitas mikoriza arbuskula terhadap kandungan nutrisi rumput setaria (Setaria sphacelata) telah dilakukan di Laboratorium Lapangan Peternakan (LLP) yang terletak di Jalan Utama Gampong Rukoh dan Laboratorium Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan Prodi Peternakan, Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kualamulai dari bulan Januari 2017 hingga Juli 2017. Penelitian bertujuan untuk mengetahui kandungan protein kasar dan serat kasar rumput setaria yang diberi mikoriza arbuskula. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri atas 4 perlakuan dengan 5 ulangan. Perlakuan L0 adalah perlakuan kontrol/tanpa pemberian mikoriza arbuskula, perlakuan L1 adalah perlakuan dengan pemberian 5 gr mikoriza arbuskula per rumpun, perlakuan L2 adalah perlakuan dengan pemberian 10 gr mikoriza arbuskula per rumpun, sedangkan perlakuan L3 adalah perlakuan dengan pemberian 15 gr mikoriza arbuskula per rumpun. Parameter yang diukur adalah kadar protein kasar dan serat kasar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aplikasi mikoriza arbuskula berpengaruh sangat nyata (P0,01)  terhadap kandungan protein kasar dan serat kasar rumput setaria.The Crude Protein and Crude Fiber Content of Setaria sphacelata with Different Level of Arbuscular Mychorrizal ApplicationAbstract. A research regarding the effectivity of arbuscular mycorrhizal applied on setaria (Setaria sphacelata) grass was conducted at Field Laboratory Peternakan (LLP) located onJalan UtamaGampong Rukoh and at Nutritional ScienceandFeed Technology Laboratory, Department of Animal Husbandry Faculty of Agriculture Syiah Kuala University. The research had been conducted from January to July 2017. The objective of the research was to findthe crude protein and crude fiber content of Setaria sphacelataforage plant on which applied with different level of arbuscular mychorrizal. Completely Randomized Design was used in this research consists of four treatments (L0 = control/0 gr arbuscular mycorrhizal applied per clumps, L1 = 5 gr arbuscular mycorrhizal applied per clumps, L2 = 10 gr arbuscular mycorrhizal applied per clumps, and L3 = 15 gr arbuscular mycorrhizal applied per clumps), and five replications. Crude protein and crude fiber content were the parameter estimated. Statistical analysis showed that there was highly significant effect (P0,01) caused bythe treatments on crude protein and crude fiber content. The conclusion was that the different level of arbuscular mycorrhizal applied on setaria grass indicated to different result.
Pembuatan Serbuk Antosianin Ubi Jalar Ungu (Ipomoea batatas L.) dengan Variasi Konsentrasi Maltodekstrin dan Suhu Pengeringan Munirayati Munirayati; Ryan Moulana; Nida El Husna
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian Vol 2, No 4 (2017): November 2017
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (507.111 KB) | DOI: 10.17969/jimfp.v2i4.1271

Abstract

Abstrak.  Ubi jalar ungu (Ipomoea batatas L.) merupakan salah satu komoditas pertanian yang banyak di Indonesia. Ubi jalar ungu kaya akan pigmen antosianin dan tersebar merata di seluruh umbinya. Pembuatan serbuk antosianin ubi jalar ungu merupakan salah satu solusi untuk memperluas aplikasi pewarna alami dan praktis dalam penggunaannya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh konsentrasi maltodekstrin dan suhu pengeringan terhadap kualitas sifat kimia serbuk antosianin hasil ekstraksi ubi jalar ungu. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) Faktorial dengan 2 faktor. Faktor I adalah konsentrasi maltodekstrin yang terdiri dari 4 taraf (0%, 2%, 4% dan 6%) dan faktor II adalah suhu pengeringan yang terdiri dari 2 taraf (500C dan 600C). Penambahan maltodekstrin pada pembuatan serbuk antosianin ubi jalar ungu menghasilkan penurunan intensitas warna tetapi meningkatkan rendemen dan pH. Semakin tinggi suhu pengeringan cenderung menyebabkan penurunan intensitas warna tetapi meningkatkan pH serbuk antosianin ubi jalar ungu. Berdasarkan intensitas warna, kombinasi perlakuan terbaik diperoleh pada perlakuan penambahan maltodekstrin 4% dan suhu pengeringan 500C yang menghasilkan rendemen 21,71%, intensitas warna (Absorbansi) 0,472, dan pH 3,60.
Pembuatan Kue Bhoi dengan Substitusi Tepung Mocaf (Modified Cassava Flour) dan Penambahan Bubuk Kopi (Production of Bhoi with MocafAs A Substituional Material and Ground Coffee As A Flavour Agent) Mustaqim Mustaqim; Novia Mehra Erfiza; Heru Prono Widayat
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian Vol 2, No 4 (2017): November 2017
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (378.866 KB) | DOI: 10.17969/jimfp.v2i4.1328

Abstract

Abstrak. Tepung terigu banyak digunakan dalam pengolahan kue, salah satunya kue bhoi. Pada penelitian ini dikaji pembuatan kue bhoi dengan substitusi tepung mocaf, juga dilakukan variasi kue bhoi dengan penambahan bubuk kopi.  Rancangan penelitian yang digunakan pada penelitian adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) faktorial, terdiri dari dua faktor, yaitu perbandingan tepung mocaf dan tepung terigu (M) dan penambahan bubuk kopi (K). Perbandingan tepung Mocaf dan tepung terigu terdiri dari 4 taraf, yaitu: M1 = 75 : 25, M2 = 50 : 50, M3 = 25 : 75, M4 = 0 : 100. Faktor penambahan bubuk kopi (K) terdiri dari dua taraf yaitu: K1 = penambahan bubuk kopi (3%) dan K2 = tanpa penambahan bubuk kopi. Banyaknya perlakuan adalah 8 dan diulang 3 kali sehingga diperoleh 24 satuan percobaan. Parameter yang dianalisis yaitu karakteristik organoleptik (hedonik warna, aroma, tekstur, dan rasa) terhadap semua perlakuan, dengan skala 1 (sangat suka), 2 (suka), 3 (netral), 4 (tidak suka) dan 5 (sangat tidak suka). Karakteristik kimia yang diuji yaitu kadar air, abu,  protein,  lemak, dan karbohidrat  terhadap sampel dengan perlakuan terbaik dari hasil uji organoleptik dan uji ranking. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbandingan tepung mocaf dan tepung terigu (M) serta penambahan bubuk kopi (K) berpengaruh sangat nyata (P ≤ 0,01) terhadap hedonik warna, aroma, tekstur dan rasa dari kue bhoi. Adapun interaksi antara perbandingan tepung mocaf dan tepung terigu dengan penambahan bubuk kopi (MK) berpengaruh sangat nyata terhadap hedonik rasa. Kue bhoi yang dihasilkan memiliki tingkat kesukaan warna berkisar dari 1,83 (suka)–3,51 (tidak suka), aroma 2,11 (suka)–3,06 (netral), tekstur 2,00 (suka)–3,43 (netral) serta rasa 2,11 (suka)–2,86 (netral). Bhoi dengan perlakuan terbaik terdapat pada perlakuan perbandingan tepung mocaf dan tepung terigu 25:75 dan tanpa penambahan bubuk kopi, dimana bhoi memiliki kadar abu 1,40%, kadar air 11,79%, kadar protein 0,74%, kadar lemak 17,30% serta kadar karbohidrat 68,77%. Abstract. Wheat flour is frequently used in variousfood processing, including in Bhoi production. In this study, mocaf (modified cassava flour) was introduced as a substituion material to wheat and ground coffee as a flavour agent. A complete randomized design was applied as an experimental design with two factors; ratio of mocaf and what flour (M) and addition of ground coffee (K), consisted of two factors, ratio of mocaf and what flour (M) and addition of coffee powder (K). Ratio of mocaf and wheat flour (M) consisted of 4 levels(M1 = 75 : 25, M2 = 50 : 50, M3 = 25 : 75, M4 = 0 : 100) and addition of ground coffee consisted of 2 levels(K1 = with addition of coffee powder, K2 = without addition of coffee powder). There were 8 levels and 3 replicates, so that it consisted of 24 units of experimental trials. Food quality analyzed includedorganoleptic (colour, aroma, texture, and taste) for all of trial units and chemical charactristics such as water content, ash, protein, fat, and carbohydrate for sample with the best organoleptic characteristics. A “5-point hedonic scale” was used to describe the organoleptic characteristics; 1 (like very much), 2 (like), 3 (neutral/neither like nor dislike), 4 (dislike), and 5 (dislike very much). The result showed that ratio of mocaf and wheat flour (M) and also addition of ground (K) very significantly affected on colour, aroma, texture, and taste of Bhoi. Interaction of mocaf and wheat flour and addition of ground (MK) was very significantonly on organoleptic character of taste. Bhoi had a scale of colour in range of 1.83 (like)–3.51 (dislike), aroma 2.11 (like)–3.06 (neutral), texture 2.00 (like)–3.43(neutral) and taste 2.11 (like)–2.86 (neutral). The best treatment was Bhoi with ratio of mocaf and wheat of 25:75 and without addition of ground, which contained ash 1.40%, water 11.79%, protein 0.74%, and carbohydrate 68.77%.
Analisis Kebusukan Sie Balu Daging Kerbau dengan Pemberian Persentase Bawang Putih (Allium sativum) yang Berbeda Aulia Dinamika; Cut Aida Fitri; Amhar Abubakar
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian Vol 2, No 4 (2017): November 2017
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17969/jimfp.v2i4.5458

Abstract

Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Ilmu dan Tehnologi Pengolahan Daging Program Studi Peternakan Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala Banda Aceh. Penelitian ini berlangsung selama dua bulan dari Maret sampai April 2016. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengamati Analisis Kebusukan Sie Balu Daging Kerbau Dengan Pemberian Persentase Bawang Putih (Allium Sativum)  Yang Berbeda. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan 5 ulangan. Perlakuan P0 adalah pada pemberian 0% (kontrol); perlakuan P1 adalah pemberian 10% bawang putih dari berat daging; perlakuan P2 adalah pemberian 15% bawang putih dari berat daging; perlakuan P3 adalah pemberian 20% bawang putih dari berat daging. Parameter yang diamati dalam penelituian ini adalah uji Postma, uji H2S dan uji Eber. Hasil penelitian menunjukkan bahwa uji Postma menunjukkan bahwa sampel sie balue daging kerbau tanpa perlakuan menunjukkan hasil negatif. Pada sampel yang telah diberi persentase bawang putih 10 % ternyata juga tidak terjadi pembusukan, uji H2S juga tidak ada tanda kebusukan, sedangkan pada uji Eber menunjukkan hasil yang positif.The Analysis of Cured Buffalo Meat Rottenness by Giving Different Percentage of Garlic (Allium Sativum)The objective of this study was to observe the Analysis of Cured Buffalo Meat Rottenness by Giving Different Percentage of Garlic (Allium sativum). This study used Completely Randomized Design (CRD) with 4 treatment of 5 replications. Treatment P0 was given 0% garlic (control); P1 treatment was given 10% garlic of the meat weight; P2 treatment was given 15% garlic of the meat weight; P3 treatment was given 20% garlic of meat weight. The parameters observed in this study were Postma test, H2S test, and Eber test. The results indicated that the sample of Postma test of cured buffalo meat without treatment showed negative result. Moreover, the sample that has been given percentage of 10% garlic was not getting rotten as well, and H2S test was also not giving the sign of rottenness, while the Eber test showed the positive result.
Pengaruh Lama Fermentasi Alami Pati Sagu terhadap Mutu Sensori Mi Basah dengan Substitusi Tepung Non Terigu (Mocaf, Tepung Ubi Jalar Kuning Terfermentasi, Tepung Kacang Hijau) Mulizani Mulizani; Yanti Meldasari Lubis; Normalina Arpi
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian Vol 2, No 4 (2017): November 2017
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (459.701 KB) | DOI: 10.17969/jimfp.v2i4.5487

Abstract

Abstrak. Pemanfaatan pangan lokal sagu dapat mengurangi konsumsi terigu dalam  pembuatan mi. Tujuan penelitian ini untuk mempelajari pembuatan mi basah dari pati sagu terfermentasi dan substitusi tepung (MOCAF, tepung ubi jalar fermentasi, dan tepung kacang hijau).  Penelitian pembuatan mi basah menggunakan  Rancangan Acak Kelompok  (RAK) faktorial dengan 2 faktor. Faktor pertama, lama fermentasi pati sagu yang terdiri atas tiga taraf yaitu FI= 7 hari, F2=14 hari, dan F3= 21 hari. Faktor ke dua adalah substitusi pati dengan tepung (80%:20%), dengan  tiga  taraf yaitu S1=pati sagu fermentasi:MOCAF, S2=pati sagu fermentasi:tepung ubi jalar kuning fermentasi, dan S3=pati sagu fermentasi:tepung kacang hijau. Analisis yang dilakukan adalah  uji organoleptik secara deskriftif  yaitu kelengketan, elastisitas,warna, aroma, dan overall mi basah. Pembuatan mi basah menunjukkan bahwa perlakuan lama fermentasi pati sagu F1(7 hari) menghasilkan  nilai elastisitas mi basah yang lebih tinggi (lebih baik) (P≤0,05), dibandingkan mi basah dari pati sagu F2 (14 hari) dan F3 (21 hari), walaupun kelengketan, dan aroma asam mi basahnya rendah (kurang baik) (P≤0,05).  Produk mi basah terbaik  yaitu mi  yang  terbuat dari pati sagu yang difermentasi 7 hari (F1) dengan substitusi tepung ubi jalar fermentasi, kelengketan 2,05 (lengket), elastisitas 2,43 (tidak elastis), warna 2,30  (tidak cerah) aroma asam 2,80 (tidak asam), rasa asam 2,88 (tidak asam), overall  2,60 (baik).Effectts of  Natural Sago Starch Fermentation  Quality Sensory of  Wet Noodles Made by Substituted no wheat  Flour (Mocaf, Fermented Sweet Potato Flour, Mung Bean)Abstract. Utilization of local food sago can reduce the consumption of wheat in the manufacture of noodles. The purpose of this research was to study making wet noodles of fermented sago starch and the use of flour substitution (mocaf, fermented sweet potato flour, and mung bean flour) in the manufacture of wet noodles. A randomized block design with 2 factors was use in the manufacture of wet noodles. First factor is sago starch fermentation period consist of three levels ie FI = 7 days, F2 = 14 days, and F3 = 21 days. Second factor is the substitution of sago starch with flour (80%: 20%), there are three levels ie S1 = fermented sago starch : mocaf, S2 = fermented sago starch : fermented yellow sweet potato flour, and S3 = fermented sago starch: mung bean flour. Analysis of the sago starch and substituted flour include descriptive organoleptic tests  stickiness, elasticity, color, flavor, and overall of wet noodles. Manufacture of wet noodles showed that sago starch fermentation time F1 resulted in higher (better) (P≤0,05) breaking test and elasticity wet noodles compared to wet noodles from sago starch F2 and F3, although the adhesiveness and the sour aroma of the wet noodles were low (worse) (P≤0,05). descriptive organoleptic values of stickiness 2.05 (sticky), elasticity 2.43 (inelastic), color 2,30 (not bright), sourness aroma 2.80 ( not sour), sourness taste 2.88 (not sour), overalls 2.60 (good). 
Penampilan Produksi Telur Ayam ALPU yang Diberi Bahan Pakan Fermentasi Berbasis Indigofera (Indigofera sp) Maghfira Daini; Zufan Zulfan; M. Aman Yaman
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian Vol 2, No 4 (2017): November 2017
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17969/jimfp.v2i4.5297

Abstract

Abstrak.  Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui penampilan produksi telur Ayam Lokal Petelur Unggul (ALPU) yang diberi bahan pakan fermentasi  yang tersusun dari indigofera (Indigofera sp),  dedak padi, dedak jagung, dan bungkil kedelai sebagai substitusi sebagian ransum komersil.  Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Lapangan Peternakan (LLP), Univeritas Syiah Kuala tanggal 16 Februari‒30 Mei 2017.  Penelitian ini menggunakan 48 ekor ALPU.  Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap terdiri dari 4 perlakuan dan 4 ulangan. Ransum perlakuan adalah ransum komersil yang disubstitusi dengan bahan pakan fermentasi berbasis 15% indigofera sebanyak  0, 5, 10, dan 15%.   Berdasarkan hasil penelitian  disimpulkan bahwa bahan pakan fermentasi berbasis indigofera dapat digunakan sampai 15%  tanpa berpengaruh nyata (P0,05) terhadap produksi   dan massa telur ayam ALPU. Performances of Egg Production of  ALPU Chickens  Fed Fermented Feed Based on Indigofera spAbstract.   The objective of this study was to determine effect of inclusion of fermentation feed constituted of 15%  Indigofera sp + 40% rice bran+ 25% corn bran + 20% soybean meal as partial substitution of commercial diet  on egg production of selected native chickens.   As many as 48 selected native pullets were used in this study.  The study was performed in to completely randomized design, consisted of  4 treatments and 4 replications.  Replication was an experimental unit consisted of 3 birds.   The results of study indicated that including of 15% fermentation feed based on 15% Indigofera sp could be used up to 15% to  substitute commercial diet without adverse effect on egg production of selected native chickens.  It was supposed that using fermentation feed based on 15% Indigofera sp had no adverse effect on egg production and egg mass. 
Strategi Pengembangan Usaha Kopi Arabika (Studi Kasus: Usaha "Kampung Kupi Gayo", Kabupaten Aceh Tengah) Ari Arsyadi Fattarani; Elvira Iskandar; Fajri Fajri
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian Vol 2, No 4 (2017): November 2017
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (325.097 KB) | DOI: 10.17969/jimfp.v2i4.5405

Abstract

Abstrak.  Dalam perekonomian Indonesia, kopi memiliki peranan penting baik sebagai sumber perolehan devisa maupun sebagai sumber penghidupan petani yang tersebar di seluruh Indonesia. Salah satu sentra produksi kopi nasional yang terkenal di Indonesia berada di Kabupaten Aceh Tengah yang terletak di Provinsi Aceh. Menghadapi persaingan usaha yang semakin ketat, perlu menerapkan strategi-strategi pengembangan yang dapat mendukung pengembangan industri tersebut. Penelitian ini dilakukan pada “Kampung Kupi Gayo”. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi faktor internal dan eksternal yang dihadapi usaha “Kampung Kupi Gayo” serta menentukan strategi pengembangan usaha tersebut dengan menggunakan analisis faktor strategis Internal/ IFAS, analisis faktor strategis eksternal/ EFAS, dan analisis SWOT (Strength, Weakness, Opportunity, and  Threat). Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor strategis internal yang menjadi faktor kekuatan dan kelemahan usaha Kampung Kupi Gayo ada tujuh faktor. Adapun faktor yang menjadi kekuatan dominan usaha Kampung Kupi Gayo yaitu Lokasi usaha strategis, dan harga produk bersaing. Sedangkan yang menjadi kelemahan dominan usaha Kampung Kupi Gayo yaitu Jenis produk yang dihasilkan masih kurang. Faktor-Faktor Strategis Eksternal yang menjadi faktor peluang dan ancaman bagi usaha "Kampung Kupi Gayo" ada lima faktor. Adapun faktor yang menjadi peluang dominan usaha Kampung Kupi Gayo yaitu pangsa pasar kopi olahan masih sangat besar. Sedangkan yang menjadi ancaman dominan bagi usaha "Kampung Kupi Gayo" yaitu persaingan usaha sejenis. Strategi yang dapat digunakan Kampung Kupi Gayo yang diperoleh dari analisis SWOT adalah strategi agresif, yaitu strategi yang memungkinkan usaha ini untuk terus mengembangkan usahanya, meningkatkan pertumbuhan, melakukan ekspansi dan meraih kemajuan secara maksimal.Business Development Strategies Arabica Coffee Processing (Case Study: "Kampung Kupi Gayo", Aceh Tengah RegencyAbstract. In the Indonesian economy, coffee has an important role both as a source of foreign exchange gain and as a source of livelihood of farmers spread throughout Indonesia. One of the most famous national coffee production centers in Indonesia is located in Aceh Tengah district located in Aceh Province. In the face of increasingly fierce business competition, it is necessary to implement development strategies that can support the development of the industry. This research was conducted on "Kampung Kupi Gayo". The purpose of this study is to identify internal and external factors facing the "Kampung Kupi Gayo" business as well as to determine the business development strategy using Internal / IFAS strategic factor analysis, external strategic factor analysis / EFAS, and SWOT analysis (Strength, Weakness, Opportunity , and Threat). The result of the research shows that internal strategic factors which become the strength and weakness factor of "Kampung Kupi Gayo" are seven factors. The factors that become the dominant strength of "Kampung Kupi Gayo" business is the location of strategic business, and the price of competing products. While the dominant weakness business "Kampung Kupi Gayo" that type of product produced is still lacking. External Strategic Factors that become the opportunity and threat factors for the "Kampung Kupi Gayo" business are five factors. The factors that become the dominant opportunity of Kupi Gayo Village business is the market share of processed coffee is still very large. While the dominant threat to the "Kampung Kupi Gayo" business is a similar business competition. The strategy that can be used "Kampung Kupi Gayo" obtained from the SWOT analysis is an aggressive strategy, a strategy that allows this business to continue to expand its business, increase growth, expand and achieve maximum progress.
Penggunaan Pakan Fermentasi Berbasis Azolla sp Sebagai Substitusi Sebagian Ransum Komersil terhadap Berat Akhir dan Penampilan Karkas Ayam Lokal Pedaging Unggul (ALPU) Shaella Rahma; Yunasri Usman; Muhammad Daud
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian Vol 2, No 4 (2017): November 2017
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17969/jimfp.v2i4.3710

Abstract

Abstrak.Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh substitusi sebagian ransum komersil periode finisher dengan pakan fermentasi berbasis Azolla sp terhadap berat akhir dan persentase karkas ALPU.   Penelitian dilakukan  diLaboratorium Lapangan Peternakan (LLP),  Program Studi Perternakan,  Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala, tanggal 14 Februari‒23 April 2017.  Penelitian menggunakan 80 ekor DOC Unsexed, produksiLembaga Breeding Agripet Perkasa (LBAP). Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK),  terdiri dari 4perlakuan dan 4 kelompok.   Tiap kelompok merupakan unit percobaan, masing-masing terdiri dari lima ekor ayam.Perlakuan yang  dicobakan adalah pemberian pakan fermentasi berbasis Azolla sp sebanyak 0%, 5%, 10%, dan 15%. Parameter yang diamati meliputi bobot akhir, bobot karkas, persentase karkas, bobot dan persentase potongan karkas. Hasil penelitian ini memperlihatkan bahwa subsitusi sebagian ransum komersil dengan bahan pakan fermentasi berbasis Azolla sp tidak berpengaruh nyata  terhadap berat dan persentase karkas, berat potongan karkas dan persentase potongan karkas ALPU umur 10 minggu. Meskipun tidak berbeda nyata, berat karkas ALPU yang diberikan ransum komersil dengan substitusi 5 %, 10 %, 15 %  pakan fermentasi Azolla sp (P1 sampai P3) lebih tinggi daripada tanpa pakan fermentasi berbasis Azolla sp (P0). ALPU yang diberikan pakan fermentasi berbasis Azolla sp  (P1sampai P3) memiliki bobot dan persentase dada, sayap, paha dan punggung lebih tinggi dibandingkan dengan ALPU yang diberikan 100% ransum komersil (P0). Hasil analisis statistik terhadap kelompok ALPU umur 10 minggu berpengaruh nyata (P0,05) terhadap berat hidup, berat dan persentase potongan karkas (dada, sayap, paha dan punggung), namun tidak menunjukkan perbedaan  yang nyata pada berat dan persentase karkas. Disimpulkan bahwa ransum komersil N511 dapat disubsitusikan dengan pakan fermentasi berbasis Azolla sp selama periode pemeliharaan 3-10 minggu tanpa berpengaruh negatif terhadap berat hidup, berat,  persentase karkas dan  potongan karkas ayam ALPU umur 10 minggu.  The Use of Azolla Sp of Fermented Feed As Substitution of Most Commercial Weighted Commercial Rations and Appearance of Superior Local Chicken Carcasses (ALPU)Abstract. The purpose of this study was to determine the effect of substitution of some commercial rations finisher period with Azolla sp's fermented feed on the final weight and percentage of ALPU carcass. The research was conducted at Field Laboratory of Animal Husbandry (LLP), Livestock Breeding Program, Faculty of Agriculture, Syiah Kuala University, 14 February-23April, 2017. The study used 80 DOC Unsexed, Breeding Agripet Perkasa (LBAP), Binjai. The design used was Randomized Block Design (RAK), consisting of 4 treatments and 4 groups. Each group is an experimental unit, each consisting of five chickens. The treatments were Azolla sp. Fermentation based on 0%, 5%, 10%, and 15%. Parameters observed include final weight, weight, percentage of carcass, weight and percentage of carcass. The results of this study show that the substitution of some commercial rations with fermented feed ingredients based on Azolla sp has no significant effect on the weight and percentage of carcass, carcass weight and percentage of 10 weeks of ALPU carcass. Although not significantly different, ALPU carcass weight given commercial ration with 5% substitution, 10%, 15% fermented Azolla sp feed (P1 to P3) was higher than without Azolla sp (P0) based fermentation feed. ALPU given fermented feed based on Azolla sp (P1 to P3) has higher weight and percentage of chest, wings, thighs and back than ALPU given 100% commercial ration (P0). The result of statistical analysis on ALPU group age 10 weeks had significant effect (P 0,05) to live weight, weight and percentage of carcass (chest, wings, thighs and back) but did not show significant difference in weight and percentage of carcass. It was concluded that commercial N511 ration could be substituted with Azolla sp-based fermentation feed during maintenance period of 3-10 weeks without negatively affecting weight of life, weight, carcass percentage and 10 weeks of ALPU chicken carcass.

Page 3 of 4 | Total Record : 33