cover
Contact Name
Dewi Yunita
Contact Email
dewi_yunita@usk.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jimfp@usk.ac.id
Editorial Address
Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala Jl. Tgk Hasan Krueng Kalee No. 3 Darussalam Banda Aceh, Indonesia 23111
Location
Kab. aceh besar,
Aceh
INDONESIA
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian
ISSN : 26152878     EISSN : 26146053     DOI : http://dx.doi.org/10.17969/jimfp
Core Subject : Agriculture,
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian (JIMFP) diterbitkan oleh Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala. Merupakan media jurnal elektronik sebagai wadah untuk penyebaran dan publikasi hasil penelitian dari skripsi/tugas akhir dan atau sebagian dari skripsi/tugas akhir mahasiswa strata satu (S1) Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala yang merupakan kewajiban setiap mahasiswa untuk mengunggah karya ilmiah sebagai salah satu syarat untuk yudisium dan wisuda sarjana. Artikel ditulis bersama dosen pembimbingnya serta diterbitkan secara online setelah melewati proses review oleh 2 orang reviewer dan editor JIMFP. JIMFP menerbitkan artikel ilmiah mahasiswa dari delapan Program Studi (Prodi), yaitu Prodi Agribisnis, Prodi Agroteknologi, Prodi Peternakan, Prodi Teknologi Hasil Pertanian, Prodi Teknik Pertanian, Prodi Ilmu Tanah, Prodi Proteksi Tanaman dan Prodi Kehutanan. JIMFP terbit satu volume dan empat nomor dalam setahun, yaitu setiap bulan Februari, Mei, Agustus dan November.
Articles 1,028 Documents
Kombinasi Waktu Pemasakan dan Suhu Penyimpanan terhadap Kualitas Produk Minuman Sari Buah Belimbing Wuluh (Averrhoa bilimbi L) Noerycho Okta Harizal; Rahmat Fadhil; Zalniati Fonna Razali
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian Vol 7, No 2 (2022): Mei 2022
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (280.651 KB) | DOI: 10.17969/jimfp.v7i2.20158

Abstract

ABSTRAK Tanaman belimbing wuluh dikenal sebagai tanaman belimbing sayur. Buah belimbing wuluh mengandung vitamin C dan E yang cukup tinggi, yaitu 35 mg dan 0,15 mg, selain itu juga mengandung sejumlah vitamin B dan beragam jenis antioksidan, seperti flovonoid, lutein dan zeaxhantin, namun pemanfaatan buah belimbing wuluh masih dilakukan secara terbatas. Oleh karena itu, perlu dilakukan pengolahan untuk memanfaatkan potensi gizi yang terkandung di dalamnya. Salah satunya yaitu dengan mengolah buah belimbing wuluh menjadi minuman sari buah. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) pola faktorial untuk mencari nilai pH, Vitamin C dan Total Padatan terlarut. Faktor P adalah waktu pemasakan yang terdiri dari tiga taraf yaitu P1 = 5 menit, P2 10 menit, dan P3 15 menit. Faktor T adalah suhu penyimpanan yang terdiri dari 2 taraf yaitu: T1 = suhu ruang 27 C dan T2 = suhu dingin 4 C. Setiap perlakuan diulang sebanyak 3 kali, sehingga didapat 18 satuan percobaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan waktu pemasakan (P) berpengaruh nyata (P≤0,05) terhadap nilai pH, Vitamin C dan Total Padatan Terlarut, tapi tidak berpengaruh nyata terhadap suhu penyimpanan (T) dan begitu juga dengan nilai antara perlakuan waktu pemasakan dan suhu penyimpanan (PT). Rata-rata pH minuman sari belimbing wuluh berkisar antara 2.80-3.07, total padatan terlarut (TPT) berkisar antara 5.167-5.683 Brix, dan Vitamin C berkisar antara 0.533-0.433 mg. Dari hasil uji sensori yang telah dilakukan, panelis lebih menyukai minuman sari buah belimbing wuluh di suhu ruang selama 1 jam. Pada suhu ruang skor yang didapat berkisar antara 0.88-0.98 sedangkan pada suhu dingin penyimpanan selama 1 jam nilai skor yang didapatkan berkisar antara 0.84-0.95. Nilai skor disuhu ruang mendapatkan skor tertinggi yaitu 0.98 dari pada disuhu dingin. Minuman belimbing wuluh lebih disukai pada penyimpanan di suhu ruang dibandingkan di suhu dingin. ABSTRACT The plant (Averrhoa bilimbi L.) contains vitamins C and E which are quite high, namely 35 mg and 0.15 mg. Bilimbi wuluh also contains B vitamins and various types of antioxidants, such as flavonoids, lutein and zeaxhantin, but the use of star fruit is still limited. Therefore, it is necessary to carry out processing to take advantage of the nutritional potential contained in it. One of them is by processing wuluh starfruit into fruit juice drinks. This study used a factorial completely randomized design (CRD) to find the value of pH, Vitamin C and Total Dissolved Solids. The P factor is the cooking time which consists of three levels, namely P1 = 5 minutes, P2 10 minutes, and P3 15 minutes. The T factor is the storage temperature which consists of 2 levels, namely: T1 = room temperature 27°C and T2 = cold temperature 4°C. Each treatment was repeated 3 times, so 18 experimental units were obtained. The results showed that the treatment cooking time (P) had a significant effect (P≤0.05) on the value of pH, Vitamin C and Total Dissolved Solids, but did not significantly affect the storage temperature (T) and so was the value between treatment and temperature ( PT). The result of further test was that the pH value ranged from 2.80-3.07, the value of Total Dissolved Solids (TPT) ranged from 5.167-5.683°Brix, and the value of Vitamin C ranged from 0.533-0.433mg. From the results of the sensory tests that have been carried out, the panelists prefer to drink star fruit juice at room temperature for 1 hour. At room temperature the scores obtained ranged from 0.88-0.98 while at cold temperatures storage for 1 hour the scores obtained ranged from 0.84-0.95. The score at room temperature got the highest score, which was 0.98 than at cold temperature. Wuluh starfruit drink is preferred for storage at room temperature compared to cold temperatures.
Pengaruh Penggunaan Biochar Embedded Terhadap Pertumbuhan Dan Hasil Tanaman Selada Merah (Lactuca sativa var.red rapids) Nailus Sa'dah; Agus Halim; Zaitun Zaitun
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian Vol 7, No 2 (2022): Mei 2022
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (230.566 KB) | DOI: 10.17969/jimfp.v7i2.20072

Abstract

Abstrak. Biochar adalah arang hayati yang diperoleh dari hasil pembakaran biomassa dari limbah pertanian, kemudian dibakar dalam kondisi oksigen terbatas dan mengandung senyawa karbon C tinggi. Biochar dapat memperbaiki sifat fisik, kimia, dan biologi tanah dapat pula sebagai sumber utama bahan untuk konservasi karbon organik di dalam tanah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan biochar embedded dan perbedaan antara biochar dan biochar embedded terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman selada merah. Penelitian ini dilaksanakan di Biochar Research Station Universitas Syiah Kuala pada bulan Maret sampai Agustus 2021 menggunakan Rancangan Acak Kelompok non faktorial dengan 8 perlakuan yaitu, kontrol (B0), pupuk anorganik (B1), biochar sekam padi 10 ton ha-1 + pupuk anorganik (B2), biochar tempurung kelapa 10 ton ha-1 + pupuk anorganik (B3), biochar limbah serutan kayu 10 ton ha-1 + pupuk anorganik (B4), biochar sekam padi embedded 10 ton ha-1 (B5), biochar tempurung kelapa embedded 10 ton ha-1 (B6) dan biochar limbah serutan kayu embedded 10 ton ha-1 (B7) diulang sebanyak 3 kali ulangan. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan pupuk anorganik, biochar sekam padi embedded, biochar tempurung kelapa embedded, dan biochar limbah serutan kayu embedded memberikan hasil yang sangat nyata pada tinggi tanaman 14 HST. Perlakuan biochar embedded memberikan hasil yang baik terhadap pertumbuhan tanaman The Effect of Embedded Biochar Application on Growth and Yield of Red Lettuce (Lactuca sativa var.red rapids)Abstract. Biochar is the result of heating organic biomass under limited oxygen conditions containing high C carbon. Biochar can improve the physical, chemical, and biological properties of soil and can also be the main source of material for conserving organic carbon in the soil. This study aimed to find out the effect of embedded biochar aplication and the difference between biochar and embedded biochar on the red lettuce growth and yield. The research was conducted at Biochar Research Station, Universitas Syiah Kuala on March to August 2021 using randomize block design non factorial consist of 8 treatments were control (B0), inorganic fertilizer (B1), rice husk biochar 10 t ha-1 + inorganic fertilizer (B2), coconut shell biochar 10 t ha-1 + inorganic fertilizer (B3), wood shaving waste biochar 10 t ha-1  + inorganic fertilizer (B4), embedded rice husk biochar 10 t ha -1 (B5), embedded coconut shell biochar 10 t ha -1 (B6), embedded wood shaving waste biochar 10 t ha -1  (B7) and 3 replication. The results showed that the treatment of inorganic fertilizers, embedded rice husk biochar, embedded coconut shell biochar, and embedded wood shavings waste biochar gave very significant results at a plant height of 14 DAP. Biochar embedded treatment gives good results on plant growth. 
Desain Mesin Penyangrai Kopi Menggunakan Elemen Pemanas Listrik (Heater) dan Tenaga Penggerak Motor Listrik Farman Nazura; Muhammad Dhafir; Syafriandi Syafriandi
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian Vol 7, No 1 (2022): Februari 2022
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (458.116 KB) | DOI: 10.17969/jimfp.v7i1.19024

Abstract

Abstrak. Penyangraian merupakan proses menggoreng kopi tanpa minyak menggunakan suhu tinggi yang bertujuan untuk mempercepat proses penggorengan biji kopi. Di sisi lain, penyangraian dengan alat sangrai bahan bakar gas juga banyak dilakukan dan berkembang di masyarakat. Alat sangrai ini memiliki kendala dalam pengoperasian jika terjadinya kekurangan pasokan gas di masyarakat. Selain itu juga akan mempengaruhi aroma kopi jika terjadi pembakaran gas yang tidak sempurna, oleh karena itu perlunya energi panas lain dalam proses penyangraian kopi. Tujuan dari penelitian ini adalah mendesain mesin penyangrai kopi menggunakan elemen pemanas listrik dan motor listrik. Hasil analisis perancangan mesin penyangrai biji kopi yang didapatkan adalah volume tabung penyangrai 39.311 cm3, torsi 357 Nm, kebutuhan daya 0,78 HP. Hasil pengujian pada penyangraian dark roast dengan suhu 205⁰C diperoleh kebutuhan energi listrik dengan rata-rata yaitu 4,46 KWh, dengan kadar air 3,27%.Design Coffee Roasting Machine Using an Electric Healing Source and An Electric MotorAbtract. Roasting is a process of frying coffee without oil using high temperatures which aims to speed up the process of frying coffee beans. On the other hand, roasting with a gas fuel roaster is also widely practiced and developed in the community. This roaster has problems in operation if there is a shortage of gas supply in the community. In addition, it will also affect the aroma of coffee in the event of incomplete gas combustion, therefore the need for other heat energy in the coffee roasting process.  The purpose of this research is to design a coffee roaster using an electric heating element and an electric motor. The results of the analysis of the design of the coffee bean roaster obtained are the volume of the roasting tube 39,311 cm3, torque of 357 Nm, power requirement of 0.78 HP. The test results on dark roast roasting with a temperature of 205⁰C obtained an average electrical energy requirement of 4.46 KWh, with a water content of 3.27%.
Studi Etnobotani Tumbuhan Hutan Sebagai Bahan Pangan (Studi Kasus Kecamatan Terangun Kabupaten Gayo Lues) Sartika Sartika; Arif Habibal Umam; Iqbar Iqbar
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian Vol 6, No 4 (2021): November 2021
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (437.016 KB) | DOI: 10.17969/jimfp.v6i4.18376

Abstract

Abstrak. Masyarakat suku Gayo sebagian besar memiliki pemahaman tentang pemanfaatan tumbuhan hutan yang dapat dikonsumsi baik untuk bahan pangan maupun sebagai obat-obatan. Atas dasar ini penting diteliti agar dapat memberikan informasi kepada masyarakat maupun pemerintah bahwa terdapat jenis-jenis tumbuhan hutan yang dapat dikonsumsi untuk bahan pangan non pokok yang hidup secara liar dan dikonsumsi oleh suku Gayo yang berdomisili di Terangun. Penelitian ini menggunakan metode wawancara dan observasi. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa terdapat 34 jenis tumbuhan liar yang terdiri dari 22 suku tumbuhan masih dimanfaatkan oleh suku Gayo di Terangun sebagai bahan pangan non pokok. Jenis tumbuhan yang paling banyak digunakan yaitu ranti (rukut) dengan penggunaan sebesar 97,50% sehingga dikategori sangat tinggi. Bagian atau organ tumbuhan hutan yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan pangan yaitu buah, batang, daun, tunas dan bunga. Organ tumbuhan yang paling sering digunakan yaitu buah sebanyak 47%. Meskipun penggunaan organ buah paling tinggi dari organ lainnya namun penggunaan organ ini masih masuk ke dalam katergori rendah. Tumbuhan hutan tersebut dimanfaatkan dengan cara dimasak, dikupas lalu dimakan, dimakan secara langsung dan dikeringkan kemudian dimakan. Cara pengolahan tumbuhan yang paling sering dilakukan adalah dengan cara dimasak  dan pengolahan dengan cara ini dilakukan sebesar 45% dari penggunaan lainnya. Penggunaan dengan cara dimasak juga masih termasuk ke dalam kategori  rendah.Abstract. Most of the Gayo people have an understanding of the use of forest plants that can be consumed both for food and as medicine. On this basis, it is important to research in order to provide information to the public and the government that there are forest plant species that can be consumed for non-staple foods that live wild and are consumed by the Gayo tribe who live in Terangun. This research uses interview and observation method. The results of the study indicate that there are 34 types of wild plants consisting of 22 plant tribes that are still used by the Gayo tribe in Terangun as non-staple food. The most widely used plant species is black nightshade with a usage of 97.50% so that it is categorized as very high. Parts or organs of forest plants that can be used as food are fruits, stems, leaves, shoots and flowers. The most frequently used plant organ is fruit as much as 47%. Although the use of fruit organs is higher than other organs, the use of these organs is still in the low category. The forest plants are used by cooking, peeling and then eating, eaten directly and dried and then eaten. The method of processing plants that is most often done is by cooking and processing in this way is carried out for 45% of other uses. The use by cooking is also still included in the low category.
Pengaruh Penggunaan Limbah Cair Pabrik Kelapa Sawit Terhadap Perubahan Sifat Kimia Ultisol dan Pertumbuhan Bibit Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq) Hasbi Hasbi; Zainabun Zainabun; Yadi Jufri
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian Vol 6, No 4 (2021): November 2021
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (430.542 KB) | DOI: 10.17969/jimfp.v6i4.18282

Abstract

Abstrak.Kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq.) merupakan salah satu tanaman penghasil minyak nabati yang sangat penting. Produksi minyak kelapa sawit perhektar merupakan produksi paling tinggi dibandingkan denganseluruh tanaman penghasil minyak nabati lainnya.Perindustrian di bidang kelapa sawit banyak mengeluarkan serat dan residu hasil pengolahan seperti limbah cair dan limbah padat. Limbah cair yang dihasilkan berupa Palm oil mill Effluent (POME) air buangan kondensat (8-12%) dan air hasil pengolahan (13-23%). Dalam1 ton hasil kelapa sawit dapa tmengeluarkan limbah yang tidak bisa di pakai atau beracun mencapai 600-700 kg limbah cair. Meningkatnya kualitas tanah dan sifat-sifat Ultisol seperti sifat fisik, biologi dan kimia tanah memerlukan suatu pengelolaan tanah dengan memberikan bahan organic seperti limbah cair kelapa sawit (sludge) yang tepat dan efisien sehingga dapat meningkatkan produktifitas tanah, karena bahan organic  yang terkandung dalam limbah cair pabrik kelapa sawit baik untuk sifat kimia tanah dan dapat dipergunakan sebagai pengganti pupuk kimia untuk pupuk bibit kelapa sawit. Dalam penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian kuantitatif dan didapatkan bahwa Pemberian limbah cair kelapa sawit dapat mempengaruhi sifat kimia tanah Ultisol dengan adanya peningkatan beberapa parameter kimia tanah baik dari pH dari 4,94 menjadi 5,26  setelah pemberian limbah cair kelapa sawit dengan pemberian 2400 ml per polibag (L4) dan Adapun parameter lainnya.Effect of Palm Oil Mill Liquid Waste Use on Changes in Chemical Properties of Ultisols and Growth of Oil Palm Seeds (Elaeis guineensis Jacq)Abstract. Oil palm (Elaeisguineensis Jacq.) is one of the most important vegetable oil-producing plants. Palm oil production per hectare is the highest production compared to all other vegetable oil producing plants. The industry in the palm oil sector emits a lot of fiber and residues from processing such as liquid waste and solid waste. The liquid waste produced is in the form of Palm oil mill Effluent (POME), condensate waste water (8-12%) and treated water (13-23%). In 1 ton of palm oil products can produce waste that can not be used or toxic up to 600-700 kg of liquid waste. Improving soil quality and Ultisol properties such as soil physical, biological and chemical properties requires a soil management by providing appropriate and efficient organic matter such as palm oil waste (sludge) so as to increase soil productivity, because of the organic matter contained in liquid waste. Palm oil mills are good for the chemical properties of the soil and can be used as a substitute for chemical fertilizers for fertilizers for oil palm seeds. In this study using a quantitative research approach and it was found that the application of palm oil effluent can affect the chemical properties of Ultisol soil with an increase in several soil chemical parameters, both from pH from 4.94 to 5.26 after administration of palm oil effluent by giving 2400 ml per polybag (L4) and other parameters.
Kemasaman Tanah dan Sifat-sifat Pertukaran Kation pada Mollisols dan Ultisols di Lahan Kering Kabupaten Aceh Besar Sahbudin Sahbudin; Khairullah Khairullah; Sufardi Sufardi
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian Vol 5, No 3 (2020): Agustus 2020
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (417.357 KB) | DOI: 10.17969/jimfp.v5i3.15407

Abstract

Abstrak. Kemasaman tanah dan pertukaran kation merupakan indikator penting terhadap kesuburan tanah terutama pada lahan kering suboptimal. Kemasaman tanah dan pertukaran kation erat kaitannya dengan bahan induk tanahnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji tingkat kemasaman tanah dan pertukaran kation pada dua ordo tanah di lahan kering Kabupaten Aceh Besar yaitu pada Mollisols Krueng Raya dan Ultisols Jantho. Kedua ordo tanah tersebut terbentuk dari bahan induk yang berbeda. Mollisols Krueng Raya terbentuk dari bahan induk batuan sedimen gampingan, sedangkan Ultisols Jantho dari bahan induk batuan sedimen liat tua. Penelitian dilakukan dengan menggunakan metode survai deskriptif yaitu melalui pengamatan di lapangan dan analisis di laboratorium. Identifkasi profil dan ordo tanah dilakukan dengan menggunakan sistem klasifikasi tanah USDA (Soil Survey Staff, 2014). Pengambilan sampel tanah dilakukan pada setiap lapisan horizon dari setiap profil pewakil ordo tanah yang diamati di lapangan. Sampel-sampel tanah tersebut selanjutnya dibawa ke laboratorium untuk dianalisis pH (H2O), kapasitas tukar kation (KTK) dan kation dapat ditukar (Ca, Mg, K, dan Na) ditetapkan dengan metode 1N NH4COOCH3 pH7, sedangkan Al- dan H-dapat ditukar diekstrak dengan 1M KCl. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedua ordo tanah yang diteliti memiliki tingkat kemasaman dan pertukaran kation yang berbeda. Mollisols Krueng Raya mempunyai pH agak masam hingga agak alkalis (6,48-8,2) dan KTK tinggi, sedangkan Ultisols Jantho bereaksi masam (pH 6,50) dan mempunyai KTK dan kejenuhan basa yang rendah.Soil Acidity and Cation Exchange Properties in Mollisols and Ultisols in Dryland of Aceh Besar DistrictAbstract. Soil acidity and cation exchange is an important indicator of soil fertility especially on suboptimal drylands. Soil acidity and cation exchange closely related to the parent materials of soil. This study aims to assess soil acidity level and cation exchange in two soil orders of dryland in Aceh Besar District namely Mollisols Krueng Raya and Ultisols Jantho. The two soil orders are formed from different parent materials. The Mollisols of Krueng Raya are formed from limestone sedimentary rock, while Ultisols Jantho are formed from the parent material of the old clay sedimentary rock. The research is conducted using a descriptive survey method that is through field observations and analysis in the laboratory. Identification of soil profile and soil orders were conducted using USDA's soil classification system (Soil Survey Staff, 2014). Soil sampling is taken from each layer of the horizon of the soil orders that are observed in the field. These soil samples were subsequently brought to the laboratory for analysis of pH (H2O), cation exchange capacity (CEC) and exchangeable cations (Ca, Mg, K, and Na) are extracted by 1N NH4COOCH3 pH7, while exchangeable Al and H were extracted with 1M KCl. The results of analysis showed that both the soils orders being researched had a different level of acidity and exchange of cations. Mollisols of Krueng Raya has a moderately alkaline pH that is slighty alkalis (6.48-8.2) and high CEC, while the Ultisols Jantho has an acid pH (pH 6.50) and has low CEC and low base saturation.
Distribusi spasial lahan kopi eksisting berdasarkan ketinggian dan arahan fungsi kawasan di kabupaten Aceh Tengah Uda Chandra; Yulia Dewi Fazlina; Muhammad Rusdi
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian Vol 3, No 4 (2018): November 2018
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (218.447 KB) | DOI: 10.17969/jimfp.v3i4.9587

Abstract

Abstrak. Data  spasial  adalah data yang bereferensi geografis atas representasi obyek di bumi. Data  spasial  pada  umumnya  berdasarkan  peta  yang  berisikan  interprestasi  dan  proyeksi seluruh fenomena yang berada di bumi, kopi merupakan salah satu komoditi perkebunan yang memiliki nilai ekonomis yang cukup tinggi di antara tanaman perkebunan lainnya dan berperan penting sebagai sumber devisa negara. Kopi juga   merupakan sumber penghasilan bagi tidak kurang dari 1,5 juta jiwa petani kopi di Indonesia, sejak tahun 1992 petani kopi Arabika Gayo telah  terlibat  dalam  program  sertifikasi  produk yang  berprinsip  pada  sistem  pertanian berkelanjutan. Tanaman kopi diperkirakan berasal dari hutan-hutan tropis di kawasan Afrika. Coffea arabica dianggap berasal dari kawasan pegunungan tinggi di barat Ethiopia  maupun  di  kawasan  utara  Kenya, di dunia perdagangan dikenal beberapa golongan kopi, tetapi yang paling sering dibudidayakan hanya kopi Arabika, Robusta, dan Liberika. Data spasial merupakan representasi dari objek spasial yang ada pada dunia nyata. Data  spasial  merupakan  salah  satu  item  dari  informasi,  dimana  didalamnya terdapat   informasi   mengenai   bumi   termasuk   permukaan   bumi,   dibawah permukaan bumi, perairan, kelautan dan bawah atmosfir. Data spasial dapat dihasilkan dari berbagai macam sumber, diantaranya: citra satelit, peta analog, foto udara dan data survei lapangan. Sebaran spasial perkebunan kopi arabika di Kabupaten Aceh Tengah seluas 1080,88 Ha. Rata – rata sebaran perkebunan kopi arabika di tiap kecamatan berada pada ketinggian 125 – 2000 mdpl. Seluas 1012 Ha berada pada ketinggian 1000 – 2000 mdpl, sedangkan 68,88 Ha berada diketinggian 125 – 1000 mdpl. Seluas 1040,70 Ha lahan kopi berada pada kawasan Areal Penggunaan Lain (APL) yang tersebar di 13 kecamatan sedangkan seluas 40.18 Ha berada dikawasan Hutan Lindung (HL) yang tersebar di 6 kecamatan.Abstract. Spatial data is data that refers to object representation on earth. Spatial data generally refers to maps that contain interpretations and projections of all phenomena that exist on the earth, coffee is one of the commodities that have high economic value among other plants and as a source of foreign exchange. Coffee also becomes no less than 1.5 million people of coffee farmers in Indonesia, since 1992 Gayo Arabica coffee farmers have been involved in principled product certification programs on sustainable farming systems. Coffee plants are thought to originate from tropical forests in the African region. Coffea arabica also comes from a high area in western Ethiopia or in the northern region of Kenya, in the world of trade is known for some coffee, but the most commonly cultivated only Arabica, Robusta, and Liberika coffee. Spatial data is a representation of spatial objects in the real world. Spatial data is one of the items of information, in which there is information about the earth including the earth's surface, base, oceanic and undersea atmosphere. Spatial data can be generated from a variety of sources, namely: satellite imagery, analog maps, aerial photographs and field survey data. Spatial distribution of Arabica coffee plantations in Central Aceh Regency covering 1080.88 Ha. The average distribution of Arabica coffee governance in each district is at an altitude of 125-2000 masl. An area of 1012 Ha is at an altitude of 1000 - 2000 masl, while 68.88 Ha is at an altitude of 125-1000 masl. Covering an area of 1040.70 Ha of coffee land is in the area of Other Use Areas (OUA) which are scattered in 13 temporary sub-districts covering an area of 40.18 Ha located in the Protected Forest (PF) area spread over 6 districts.
Penerimaan Konsumen Terhadap Kopi Arabika – Jahe Celup pada Beberapa Ukuran Partikel Bubuk Kopi dan Konsentrasi Jahe Anggun Pratiwi; Martunis Martunis; Yusya Abubakar
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian Vol 5, No 1 (2020): Februari 2020
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (464.506 KB) | DOI: 10.17969/jimfp.v5i1.13853

Abstract

Abstrak:Kopi adalah salah satu minuman yang paling populer dan banyak dikonsumsi karena rasanya yang unik. Penambahan jahe pada bubuk kopi dapat memberikan tambahan citarasa pada seduhan kopi dan dapat meningkatkan manfaat kesehatan bagi yang mengkonsumsinya. Pembuatan kopi celup beraroma jahe merupakanupaya untuk mengenalkan altenatif minuman kopi celup dengan citarasa dan sensasi yang berbeda. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendiversifikasi produk kopi arabika yang khas yang dikombinasikan dengan jahe dalam bentuk kopi celup yang mudahuntukdigunakan. Juga, untukmempelajaripengaruh ukuran partikel dan persentase penambahan jahe terhadap kesukaankonsumenterhadapproduk kopi-jahe celup. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) Faktorial. Faktor pertamaadalah ukuran partikel kopi arabika (K) yang terdiri dari tiga taraf, yaitu 40 mesh (K1), 60 mesh (K2) dan 80 mesh (K3). Faktor kedua adalah konsentrasi penambahan jahe (J) yang terdiri dari 3 taraf, yaitu 10% (J1), 20% (J2) dan 30% (J3). Hasil sidik ragam menunjukkan bahwa ukuran partikel bubuk kopi Arabika (K) dan konsentrasi penambahan bubuk jahe (J) serta interaksi antara keduanya (KJ) berpengaruh tidak nyata (P ≤ 0,05) terhadap hedonik warna dan hedonik aroma kopi Arabika-jahe celup. Adapun pada uji hedonik rasa, hasil sidik ragam menunjukkan bahwa penambahan jahe (J)berpengaruh nyata (P ≤ 0,05) terhadap rasa kopi arabika-jahe celup, sedangkan interaksi antar keduanya (KJ) tidak berpengaruh nyata (P 0,05) terhadap hedonik rasa.Perlakuan terbaik yang diperoleh adalah bubuk kopi denganukuranpartikel 40 mesh danpenambahanjahe 10% (K1J1) dengan nilai kadar air (2,91%), kadar abu (4,80%), pH (5,25%) dan total padatan terlarut (3,53%).Consumer Preference On Ginger Coffee Bag Prepared at Different Coffee Powder Particle Size and Ginger ConcentrationAbstract: Coffee is one of the most popular and widely consumed drinks because of its unique taste. The distinctive aroma of ginger can increase the attractiveness and health benefit of a beverage, including coffee. The making of ginger-coffee bag aims to introduce alternative coffee drink with different flavors and sensations. The purpose of this study is to diversify typical Arabica coffee products combined with ginger in the form of coffee bagsthat can be accepted by consumers. The study also aimed to explore the effect of particle size and percentage of ginger on consumer preference of ginger-coffee product. This research uses factorial randomized block design. The pertama faktor kopi bubuk ukuran partikel (K) terdiri dari tiga tingkat, yaitu 40 mesh (K1), 60 mesh (K2) dan 80 mesh (K3). Faktor kedua adalah konsentrasi jahe (J) terdiri dari 3 tingkat, yaitu 10% (J1), 20% (J2) dan 30% (J3). Hasil penelitian menunjukkan bahwa ukuran partikel , konsentrasi jahe dan interaksi antara kedua factorsdid tidak signifikan mempengaruhi preferensi pada warna dan aroma. Sementara itu, konsentrasi jahe secara signifikan mempengaruhi rasa preferensi onginger-kopi. Pengobatan terbaik diperoleh adalah K1J1 dengan nilai kadar air (2,91%), kadar abu (4,80%), pH (5,25) dan padatan terlarut (3,53%).
Analisis Pendapatan Petani Kakao Sebagai Sumber Penghasilan Utama Dan Penghasilan Sampingan Di Kecamatan Babussalam Kabupaten Aceh Tenggara Putri Deva; Irwan A. Kadir; Sofyan Sofyan
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian Vol 4, No 4 (2019): November 2019
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (396.229 KB)

Abstract

Abstrak. Kakao merupakan salah satu komoditas ekspor dari subsektor perkebunan yang merupakan komoditas unggulan nasional di mana komoditas ini memberikan sumbangan devisa ketiga terbesar setelah kelapa sawit dan karet (Hasibuan, et.al. 2012). Pada tahun 2016, produksi kakao di Provinsi Aceh tinggi berada di Aceh Tenggara yang mencapai sebesar 9.242ton/ha (BPS, 2017). Salah satu kecamatan di Kabupaten Aceh Tenggara yang memiliki potensi dan peluang yang cukup besar untuk budidaya kakao ialah Kecamatan Babussalam. Berdasarkan hasil survey yang dilakukan Kecamatan ini rata-rata penduduknya bekerja sebagai petani kakao namun ada pula beberapa petani kakao yang pekerjaan utamanya adalah sebagai pedagang, petani komoditi lain ataupun pekerja di kebun milik orang lain. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perbandingan pendapatan petani yang budidaya kakao sebagai sumber  penghasilan  utama  dengan  yang  budidaya  kakao sebagai penghasilan sampingan. Model analisis yang digunakan dalam penelitian ini yaitu dengan metode analisis deskriptif kualitatif, tabel frekuensi dan uji hipotesis dua sampel saling bebas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan rata-rata pendapatan utama dan pendapatan sampingan  petani   kakao yang di analisis dengan  uji sampel dua  arah,  diperoleh  df  =  28 dengan α = 10 %, maka nilai ttabel  1,313 serta dari hasil uji Independen T-test diperoleh thitung 1,5. Dari data tersebut dapat di analisis bahwa thitung 1,5 ttabel  1,313, maka Ho ditolak dan terima Ha dengan tingkat kepercayaan 90%. Berdasarkan data tersebut dapat dinyatakan bahwa terdapat perbedaan rata-rata pendapatan petani dengan penghasilan utama dan pendapatan petani dengan penghasilan sampingan. Rata - rata pendapatan utama petani kakao lebih tinggi dibandingkan dengan rata-rata pendapatan sampingan petani kakao. Rata-rata pendapatan utama petani kakao sebesar Rp 9.030.955/Ha dalam satu tahun terakhir.   Sementara  itu, rata-rata pendapatan sampingan petani kakao sebesar Rp 1.238.777/Ha dalam satu tahun terakhir.
Prediksi Keberadaan Air Tanah Secara Geolistrik pada Areal Sawah Tadah Hujan di Kabupaten Simeulue Mahfuddin Mahfuddin; Mustaqimah Mustaqimah; Muhammad Yasar
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian Vol 3, No 4 (2018): November 2018
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (570.011 KB) | DOI: 10.17969/jimfp.v3i4.9133

Abstract

Abstrak. Sawah tadah hujan merupakan sawah yang sepenuhnya mengandalkan air hujan yang jatuh pada areal saawh sebagai pengatur kebutuhan air, akibatnya sawah tadah hujan sering mengalami kekeringan. Oleh karena itu dimanfaatkan air tanah sebagai sumber irigasi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi potensi air tanah berdasarkan resistivitas batuan dibawah permukaan sebagai potensi air irigasi dalam menunjang ketahanan pangan. Pendugaan potensi air tanah dilakukan dengan menggunakan alat ARES konfigurasi wenner-schlumberger. Data yang diperoleh selanjutnya diolah dengan menggunakan program Res2Dinv untuk mendapatkan gambar penampang dua dimensi. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa hasil pencitraan resistivitas pada lintasan Situbuk adalah 5 meter sampai 86 meter dan hasil nilai resistivitas 2.54 Ωm sampai dengan 93,8 Ωm dengan RMS error 44,2% yang terdiri dari susunan pasir dan lempung. Potensi air tanah diduga berada pada kedalaman antara 18 – 80 m dengan nilai resistivitas 2,54 – 10 Ωm. Prediction of Groundwater Existence in the Rainwater Rice Field with Geoelectric in Simeulue RegencyAbstract. Rainwater rice field is fully rely on rainwater that falls on the acreage of rice fields as a regulator of water needs, as result of rice field rainwater often drought. Therefore utilized groundwater as a source of irrigation water. The purpose of this study was to identify potential groundwater based on rock resistivity as irrigation water to support food security. Groundwater potential prediction is using ARES with Wenner-Schlumberger configuration. Processed data obtained by using Res2Dinv program to obtain image of 2 dimensional cross section. The result of this research show that resistivity imaging on the path Situbuk is 5-86 meters and resistivity values yield 2.54 Ωm-93,8 Ωm with RMS error 44,2% consisting of the arrangement of sand and clay. The potential groundwater alleged at a depth 18-80 meters with  2,54 – 10 Ωm resistivity value.

Page 13 of 103 | Total Record : 1028