cover
Contact Name
Dewi Yunita
Contact Email
dewi_yunita@usk.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jimfp@usk.ac.id
Editorial Address
Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala Jl. Tgk Hasan Krueng Kalee No. 3 Darussalam Banda Aceh, Indonesia 23111
Location
Kab. aceh besar,
Aceh
INDONESIA
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian
ISSN : 26152878     EISSN : 26146053     DOI : http://dx.doi.org/10.17969/jimfp
Core Subject : Agriculture,
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian (JIMFP) diterbitkan oleh Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala. Merupakan media jurnal elektronik sebagai wadah untuk penyebaran dan publikasi hasil penelitian dari skripsi/tugas akhir dan atau sebagian dari skripsi/tugas akhir mahasiswa strata satu (S1) Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala yang merupakan kewajiban setiap mahasiswa untuk mengunggah karya ilmiah sebagai salah satu syarat untuk yudisium dan wisuda sarjana. Artikel ditulis bersama dosen pembimbingnya serta diterbitkan secara online setelah melewati proses review oleh 2 orang reviewer dan editor JIMFP. JIMFP menerbitkan artikel ilmiah mahasiswa dari delapan Program Studi (Prodi), yaitu Prodi Agribisnis, Prodi Agroteknologi, Prodi Peternakan, Prodi Teknologi Hasil Pertanian, Prodi Teknik Pertanian, Prodi Ilmu Tanah, Prodi Proteksi Tanaman dan Prodi Kehutanan. JIMFP terbit satu volume dan empat nomor dalam setahun, yaitu setiap bulan Februari, Mei, Agustus dan November.
Articles 1,028 Documents
Nilai pH dan Intensitas Warna Antosianin Buah Jamblang (Syzygium cumini) yang Diekstrak dengan Metode Ultrasonik Muhammad Mesa Tamamy; Nida El Husna; Novi Safriani
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian Vol 3, No 4 (2018): November 2018
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (376.263 KB) | DOI: 10.17969/jimfp.v3i4.5485

Abstract

Abstrak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh suhu serta waktu ekstraksi terhadap total antosianin ekstrak buah jamblang menggunakan metode ultrasonik. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) Faktorial yang terdiri dari 2 faktor. Faktor pertama yaitu Suhu ekstraksi (T) yang terdiri dari 3 taraf yaitu, T1= Suhu ruang (300C) T2= Suhu 400C dan T3= Suhu 500C. Faktor kedua yaitu Waktu Ekstraksi (W) yang terdiri dari 3 taraf yaitu W1= 30 menit, W2= 45 menit dan W3= 60 menit. Hasil penelitian menunjukkan suhu ekstraksi (T) dan waktu ekstraksi (W) tidak berpengaruh (P0,05) terhadap pH ekstrak antosanin. Sedangkan interaksi antara suhu dan waktu (TW) berpengaruh nyata (P≤0,05) terhadap pH ekstrak antosianin buah jamblang. Suhu ekstraksi (T), waktu ekstraksi (W) maupun interaksi antara suhu dan waktu ekstraksi (TW) tidak berpengaruh nyata (P0,05) terhadap intensitas warna ekstrak antosianin buah jamblang. Abstract. This study aims to determine the effect of temperature and time of extraction on total anthocyanin extract of jamblang fruit using ultrasonic method. The research used Randomized Block Design (RAK) Factorial consisting of 2 factors. The first factor is the temperature of extraction (T) consisting of 3 levels ie, T1 = Room temperature (300C) T2 = Temperature 400C and T3 = Temperature 500C. The second factor is the Extraction Time (W) consisting of 3 levels ie W1 = 30 minutes, W2 = 45 minutes and W3 = 60 minutes. The results showed that the extraction temperature (T) and the extraction time (W) had no significant effect (P 0.05) on the pH of antosanin extraction. While the interaction between temperature and time (TW) significantly (P ≤ 0.05) to the pH of anthocyanin extract of jamblang fruit. The extraction temperature (T), the extraction time (W) and the interaction between temperature and extraction time (TW) have no significant effect (P 0.05) on the intensity of anthocyanin extract color of the jamblang fruit.
Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Produksi Pepaya Di Kecamatan Krueng Barona Jaya Kabupaten Aceh Besar Satria Satria; Zakiah Zakiah; Romano Romano
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian Vol 3, No 4 (2018): November 2018
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (228.133 KB) | DOI: 10.17969/jimfp.v3i4.9472

Abstract

Abstrak. Dalam upaya meningkatkan produksi pepaya di Kecamatan Krueng Barona Jaya.Maka tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor luas lahan, modal dan tenaga kerja dapat mempengaruhi produksi pepayadi Kecamatan Krueng Barona Jaya Kabupaten Aceh Besar. Metode penelitian yang digunakan adalah metode survey secara sengaja kepada seluruh populasi sampel (total sampling). Pengumpulan data dalam penelitian ini diperoleh dari dua sumber yaitu data primer dan data sekunder.Hasil penelitian menunjukkan analisis koefisiensi determinasi (R²) diperoleh nilai sebesar 0,989 yang berarti bahwa luas lahan , modal, tenaga kerja mempengaruhi produksi pepaya sebesar 98,9%, sedangkan sisanya 1,1% dipengaruhi oleh faktor lain. Hasil analisis secara serempak (uji-f) bahwa faktor luas lahan , modal, tenaga kerja berpengaruh nyata terhadap produksi pepaya di Kecamatan Krueng Barona Jaya Aceh Besar. Analisis secara parsial (uji-t) menyatakan bahwa faktor luas lahan, modal, dan tenaga kerja berpengaruh nyata terhadap produksi pepaya.Analysis Affecting Factors Production of Papaya In District Krueng Barona Jaya Aceh BesarAbstract. In order to increase production of papaya in district Krueng Barona Jaya. The purpose this study is to find some factors of their land, capital and labor can affect to papaya production in district Krueng Barona Jaya of Aceh Besar. The methodology used is the method intentional survey to the entire sample of population (total sampling). Data collection in this research obtained from two sources of the primary and secondary data. The result showed analysis of  determination coefisien (R²) obtained value of 0,989 which means that their land, capital and labor affect production of 98,9% papaya, the remaining 1,1% influenced by other factors. The result of the analysis in union (test-f) factor that the same area of land, capital and labor had real impact on the production of papaya in district Krueng Barona Jaya Aceh Besar. In full analysis of (test-t) said that factors the same area of  land, capital and labor had real impact on the production of papaya
Pengaruh Konsentrasi Gula dan Pektin Kulit Kopi terhadap Mutu Organoleptik Selai Terung Belanda Putri Wulandari; Murna Muzaifa; Ismail Sulaiman
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian Vol 2, No 3 (2017): Agustus 2017
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (342.945 KB) | DOI: 10.17969/jimfp.v2i3.3734

Abstract

 Abstrak. Pektin merupakan salah satu senyawa polisakarida yang sangat komplek dan biasanya pektin digunakan untuk bahan pengental, pengeras atau pemadat dalam proses pengolahan bahan pangan. Pektin didapat dari berbagai sumber salah satunya yang palung sering adalah kulit jeruk, namun pektin dari limbah kulit kopi masih sangat kurang informasi dan penelitian yang dilakukan.Penggunaan kulit kopi dalam proses efek samping kulit kopi menjadi pektin serta aplikasinya terhadap produk pangan. Adapun tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui pengaruh konsentrasi konsentrasi gula (G) dan pektin kulit kopi (P) terhadap mutu selai terung belanda. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengap (RAL) dengan 2 faktor yaitu konsentrasi gula (G1= 55%, G2= 65%, dan G3= 75%) dan konsentrasi pektin kulit kopi (P1= 20%, P2= 25%, dan P3= 30%). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa konsentrasi gula (G) pektin kulit kopi (P), dan interaksi gula dan pektin berpengaruh tidak nyata terhadap aroma, rasa dan tekstur. Konsentrasi gula berpengaruh nyata terhadap mutu selai terung belanda. Interaksi gula (G) dan pektin kulit kopi (P) berpengaruh nyata terhadap mutu selai terung belanda. Abstract. There is no further study about the use of side product of coffee peel and its application to the product.  The aim of this study was to know the effect of sugar (G) and coffee pectin (P) concentration on the quality of terung belanda (Solanum betaceum Cav.) jam.  This study used a complete randomised design (CRD) consisting of two factors namely sugar concentration (G1 = 55 %. G2 = 65 %. G3 = 75 %) and coffee pulp pectin concentration (P1 = 20%, P2 = 25 %, P3 = 30 %).  The results showed that sugar concentration (G) affects significantly (P) ≥ 0.01) the sugar total of terung belanda (Solanum betaceum Cav.) jam. Pectin concentration (P) affects significantly (P ≥ 0.01) the sugar viscosity of terung belanda jam. Interaction between two groups (P and G) affects significantly to the acid total of terung belanda jam.
Evaluasi Kecernaan In Vitro Pakan Komplit Fermentasi Berbahan Dasar Ampas Sagu dengan Lama Pemeraman Berbeda Zubaili Zubaili; Sitti Wajizah; Yunasri Usman
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian Vol 2, No 2 (2017): Mei 2017
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (269.683 KB) | DOI: 10.17969/jimfp.v2i2.3123

Abstract

Ringkasan : Salah satu bahan pakan alternatif limbah agroindustri yang dapat digunakan sebagai bahan pakan untuk ternak ruminansia adalah ampas sagu. Secara keseluruhan batang sagu hanya 18,50% merupakan pati, sementara selebihnya 81,50% adalah ampas sagu. Namun kandungan nutrisi yang terdapat pada ampas sagu sangat rendah dengan kandungan serat kasar ampas sagu mencapai 28,30% dan kandungan protein kasar hanya berkisar 1,36%.Penelitian ini telah dilaksanakan di Laboratorium Ilmu Nutrisi dan Makanan Ternak Program Studi Peternakan Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala dan dilanjutkan dengan pengiriman sampel penelitian ke Laboratorium Ternak Perah Institut Pertanian Bogor (IPB) untuk pengujian kecernaan secara in vitro. Tujuan dari penelitian ini adalah mengevaluasi kecernaan secara in vitro pakan komplit berbahan dasar ampas sagu yang difermentasi dengan menggunakan saus burger pakan (SBP) pada lama pemeraman yang berbeda. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan berupa lama pemeraman yaitu P0 (0 hari), P7 (7 hari), P14 (14 hari) dan P21 (21 hari). Setiap perlakuan diulang sebanyak 4 kali sehingga diperoleh 16 unit perlakuan. Parameter yang diamati dalam penelitian ini adalah pH, Bahan Kering (BK), Bahan Organik (BO), Koefisien Cerna Bahan Kering (KCBK), dan Koefisien Cerna Bahan Organik (KCBO). Pakan komplit berbahan dasar ampas sagu dengan lama pemeraman berbeda berpengaruh nyata (P0.05) terhadap  kandungan bahan kering (BK) in vitro dan kandungan bahan organik (BO) in vitro, namun tidak berpengaruh nyata (P0.05), terhadap kecernaan bahan kering (KCBK), kecernaan bahan organik (KCBO) dan pH. Peningkatan kecernaan bahan kering (KCBK) dan kecernaan bahan organik (KCBO) masing-masing terjadi peningkatan setelah 7 hari sampai 21 hari pemeraman. Berdasarkan hasil tersebut maka lama pemeraman yang direkomendasikan adalah 21 hari, karena pada perlakuan tersebut kecernaan bahan kering (KCBK), kecernaan bahan organik (KCBO)  pakan compete fermentasi masih cukup tinggi, sedangkan kandungan bahan kering (BK) dan kandungan bahan organik (BO) menurun secara nyata dibandingkan lama pemeraman 0 hariEvaluation of In Vitro Digestibility of Fermented Complete Feed Based on Sago Residues as Main Diet  by Different Incubation Time
Pengaruh Perbedaan Konsentrasi Pelarut (Solvent) terhadap Daya Tahan secara Sensori Cut Fanny Maudhy; Ismail Sulaiman; Eva Murlida
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian Vol 8, No 2 (2023): Mei 2023
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (186.163 KB) | DOI: 10.17969/jimfp.v8i2.24395

Abstract

Abstrak. Atsiri Research Center (ARC) Pusat Unggulan Iptek Perguruan Tinggi (PUI-PT) Nilam Aceh Universitas Syiah Kuala (USK) merupakan pusat riset (pengembangan) khusus mengenai minyak atsiri tanaman nilam Aceh. Atsiri Research Center (ARC) juga merupakan salah satu Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) yang memiliki tujuan melahirkan inovasi-inovasi produk turunan sehingga meningkatkan hasil dan produksi minyak nilam Aceh. Salah satu produk turunan yang dihasilkan Atsiri Research Center (ARC) adalah parfum dengan nama produk Nilam parfum. Pada produk Nilam parfum digunakan alkohol 96% sebagai pelarut, sesuai dengan fungsi dari etanol adalah dapat melarutkan berbagai senyawa organik yang tidak dapat larut dalam air. Pada pengujian warna/kejernihan parfum diperoleh hasil sampel I dan II memiliki warna kuning jernih. Uji organoleptik warna parfum sampel I dan II diperoleh hasil bahwa tingkat kesukaan warna berkisar antara 3,1 sampai dengan 3,0 yang berarti mengindikasikan suka. Uji organoleptik aroma diperoleh hasil sampel I memiliki aroma yang paling banyak disukai oleh panelis dengan kisaran angka 3,4 sedangkan sampel II memiliki aroma yang paling tidak disukai oleh panelis dengan kisaran angka 3,0. Pada uji ketahanan aroma diperoleh bahwa sampel I memiliki ketahanan aroma selama 12 jam dan sampel II memiliki ketahanan aroma 5 jam. The Effect of Solvent Type on Sensory DurabilityAbstract. Atsiri Research Center (ARC) Center for Higher Education Science and Technology (PUI-PT) Nilam Aceh Syiah Kuala University is a special research (development) center on essential oils of Aceh plants. Atsiri Research Center (ARC) is also one of the Research and Community Service Institutions (LPPM) which has the aim of giving birth to derivative product innovations so as to increase the yield and production of Aceh patchouli oil. One of the derivative products produced by Atsiri Research Center (ARC) is perfume. Patchouli perfume products use 96% alcohol as a solvent, in accordance with the function of ethanol is to dissolve various organic compounds that cannot dissolve in water. In the color/clarity of perfume test, samples I and II have a clear yellow color. Organoleptic tests of perfume colors samples I and II obtained results that the level of color liking ranged from 3,1 to 3,0 which means indicating liking. The organoleptic aroma test obtained the results of sample I having the most preferred aroma by panelists with a range of number 3,4 while sample II had the aroma least liked by panelists with a range of number 3,0. In the aroma resistance test, it was obtained that sample I had an aroma resistance of 12 hours.
Keanekaragaman Jenis Burung di Rainforest Lodge Kedah Kabupaten Gayo Lues Humairah Nahrifar; Arif Habibal Umam; Irma Dewiyanti
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian Vol 8, No 1 (2023): Februari 2023
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (273.299 KB) | DOI: 10.17969/jimfp.v8i1.23291

Abstract

Abstark. Gayo Lues merupakan salah satu Kabupaten yang berada di Provinsi Aceh dengan ketinggian 500 – 2000 m dpl, dengan luas wilayah 5.719,58 km². Rainforest Lodge Kedah merupakan kawasan hutan lindung yang diberi izin kelola sebagai kegiatan kerjasama antara Kesatuan Pengelola Hutan (KPH) Wilayah V dengan masyarakat setempat (Bpk.Jali). Burung merupakan salah satu komponen dalam ekosistem kehidupan terutama hutan, burung berperan penting dalam membantu regenerasi hutan secara alami seperti penyebar biji, penyerbukan bunga dan pengontrol hama. Tujuan untuk mengetahui struktur komunitas burung yang meliputi indeks terindeks, keseragaman, dominasi dan kepadatan serta mengetahui status konservasi burung yang terdapat di Rainforest LodgeKedah Kabupaten Gayo Lues. Pada hasil pengamatan terdapat 30 jenis burung yang tergolong ke dalam 21 famili. Indeks indeks tinggi H' = 3.0501, indeks keseragaman tinggi E = 0.8968, dan dominasi rendah C = 0.0643, nilai kepadatan populasi yang didapat dari seluruh titik pengamatan adalah 727.8, nilai kepadatan tertinggi adalah burung Kacamata Biasa ( Zosterops palpebrosus ) dengan 111.1 individu/ Ha. Dari 30 jenis burung yang ditemukan di Rainforest Lodge Kedah terdapat 6 jenis burung yang statusnya dilindungi berdasarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Republik Indonesia No. P.106/MENLHK/SETJEN/KUM.1/12/2018. Status keterancaman menurut daftar merah IUCN Vulnerable(Rentan) terdapat 2 jenis. Status NT ( Hampir Terancam ) terdapat 1 jenis dan status NE ( Not Evaluated ) terdapat 1 jenis.Keanekaragaman Burung Di Rainforest Lodge, Kabupaten Gayo LuesAbstrak. Gayo Lues merupakan sebuah kabupaten di Provinsi Aceh dengan ketinggian 500 – 2000 m dpl, dengan luas wilayah 5.719,58 km². Rainforest Lodge Kedah merupakan kawasan hutan lindung yang diberikan izin pengelolaan sebagai kegiatan kerjasama antara Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Wilayah V dengan masyarakat setempat (Bpk.Jali). Burung merupakan salah satu komponen dalam ekosistem kehidupan khususnya hutan, burung berperan penting dalam membantu regenerasi hutan secara alami seperti penyebar benih, penyerbukan bunga dan pengendalian hama. Tujuannya untuk mengetahui struktur komunitas burung yang meliputi indeks keanekaragaman, keseragaman, dominasi dan kerapatan serta menentukan status konservasi burung di Rainforest Lodge Kedah Kabupaten Gayo Lues.Berdasarkan pengamatan, terdapat 30 jenis burung yang termasuk dalam 21 famili. Indeks indeks tinggi H' = 3,0501, indeks keanekaragaman tinggi E = 0,8968, dan indeks dominansi rendah C = 0,0643, nilai kepadatan populasi yang diperoleh dari seluruh titik pengamatan adalah 727,8, nilai kepadatan tertinggi adalah burung Common Glass (Zosterops palpebrosus) dengan nilai 111,1 individu/Ha. Dari 30 jenis burung yang ditemukan di Rainforest Lodge Kedah, 6 jenis burung dilindungi berdasarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Republik Indonesia No. P.106/MENLHK/SETJEN/KUM.1/12/2018. Menurut daftar merah IUCN Rentan (Rentan), ada 2 jenis. Terdapat 1 jenis status NT (Near Threatened) dan 1 jenis status NE (Not Evaluated).nilai kerapatan tertinggi adalah burung Kacamata Biasa (Zosterops palpebrosus) dengan 111,1 individu/Ha. Dari 30 jenis burung yang ditemukan di Rainforest Lodge Kedah, 6 jenis burung dilindungi berdasarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Republik Indonesia No. P.106/MENLHK/SETJEN/KUM.1/12/2018. Menurut daftar merah IUCN Rentan (Rentan), ada 2 jenis. Terdapat 1 jenis status NT (Near Threatened) dan 1 jenis status NE (Not Evaluated). nilai kerapatan tertinggi adalah burung Kacamata Biasa (Zosterops palpebrosus) dengan 111,1 individu/Ha. Dari 30 jenis burung yang ditemukan di Rainforest Lodge Kedah, 6 jenis burung dilindungi berdasarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Republik Indonesia No. P.106/MENLHK/SETJEN/KUM.1/12/2018.Menurut daftar merah IUCN Rentan (Rentan), ada 2 jenis. Terdapat 1 jenis status NT (Near Threatened) dan 1 jenis status NE (Not Evaluated).
Pendugaan Analisis Keanekaragaman Hayati Hutan Pinus di Desa Leme Kecamatan Blangkejeren Kabupaten Gayo Lues Sebin Herman; Triaty Handayani; Ashabul Anhar
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian Vol 7, No 4 (2022): November 2022
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (287.229 KB) | DOI: 10.17969/jimfp.v7i4.22737

Abstract

Abstrak. Keanekaragaman Hayati atau Biodiversity merupakan variasi atau perbedaan bentuk-bentuk makhluk hidup, yang meliputi perbedaan-perbedaan pada tumbuhan, hewan dan mikroorganisme. Nilai INP merupakan salah satu indeks yang dihitung berdasarkan jumlah yang didapatkan untuk menentukan tingkat dominansi dari suatu komunitas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui nilai INP dan jenis keanekaragaman hayati, yang dilakukan di Desa Leme Kecamatan Blangkejeren Kabupaten Gayo Lues. Pengambilan data yaitu dengan metode purvosive sampling dengan luas wilayah 10 ha yang diambil luas sample 0,5 ha dengan IS 5% sehingga terdapat jumlah 12 plot sample, masing-masing plot dengan luas 400 m2. Berdasarkan hasil penelitian di lapangan, keanekaragaman jenis tumbuhan yang terdapat di hutan pinus yaitu tumbuhan Pinus, Temung, Jambu Biji dan Mangga, dengan tingkat keanekaragaman lebih kecil dari 1 masuk dalam kategori rendah, sedangkan nilai INP menunjukan tumbuhan jenis Pinus lebih besar nilainya dibandingkan tumbuhan jenis lainnya, yaitu dengan nilai 277,13 dengan kategori sangat tinggi.Estimation of Biodiversity Analisis of Pine Forests in Leme Village Blangkejeren District Gayo LuesAbstract: Biodiversity is a variation or difference in the forms of living things, which includes differences in plants, animals and microorganisme. INP value is an index that is calculated based on the amount obtained to determine the level of dominance in a community. This study aims to determine the INP value and types of biodiversity. Which was carried out in Leme village Blangkejeren District Gayo Lues regency. Data collection is by purposive sampling method with an area of 10 ha which is taken with a sample area of 0,5 ha with an IS of 5% so that there are a total of 12 sample plots, each plot with an area of 400 m2. based on the results of research in the field, the diversity of plant species found in pine forests, namely pine, temung, guava and mango plants, with a diversity level of less than 1 is in the low category. While the INP value of 277,13 with a very high category.
Penilaian Sensori Kopi Arabika Gayo Pada Berbagai Ketinggian Menggunakan Seduhan V60 Sri Maryuna; Sri Hartuti; Rahmat Fadhil
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian Vol 7, No 4 (2022): November 2022
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (137.303 KB) | DOI: 10.17969/jimfp.v7i4.22005

Abstract

Abstrak. Kopi arabika merupakan salah satu jenis kopi yang memiliki kualitas cita rasa tinggi dan kadar kafein lebih rendah dibandingkan dengan kopi robusta, sehingga harganya lebih mahal. Ketinggian penanaman kopi arabika yang lebih tinggi akan menghasilkan citarasa kopi terbaik. Oleh karena itu, artikrl ini membahas tentang berbagai macam ketinggian penanaman kopi arabika. Ringkasan studi kajian ini menggunakan analisi data sekunder yang diperoleh dari berbagai referensi untuk mendapatkan informasi-informasi yang lebih akurat. Secara umum hasil kajian ini menunjukkan bahwa ketinggian penanaman 1.000 mdpl, 1.000-1.200 mdpl, 1.200-1.400 mdpl, 1.400-1.600 mdpl dan 1.600 mdpl yang paling dominan digunakan oleh penikmat kopiSensory Assessment of Gayo Arabica Coffee at Various Heights Using V60Abstract. Arabica coffee is one type of coffee that has a high taste uality and lower caffeine content than robusta coffe so the price is more expensive. The higher altitude af arabica coffee cultivation will produce the best coffee taste. Therefore, this article discusses the various heights of growing arabica coffee. Sumariy of study uses secondary data analysis abtained from various references to obtain more accurate information. In general, the results of this study indicate that palnting heights 1,000 mdpl, 1,000-1,200 mdpl, 1,200-1,400 mdpl, 1,400-1,600 mdpl and 1.600 mdpl are the most dominantly used by coffee connoisseurs.
Tingkat Kematangan dan Kedalaman pada Lahan Gambut yang Terkonversi Menjadi Perkebunan Kelapa Sawit di PT. Nafasindo Kabupaten Aceh Singkil Nelli Sandra; Manfarizah Manfarizah; Syakur Syakur
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian Vol 7, No 3 (2022): Agustus 2022
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (557.628 KB) | DOI: 10.17969/jimfp.v7i3.20094

Abstract

Abstrak. Gambut terbentuk dari tumpukkan sisa tumbuhan yang sudah mati, baik sudah melapuk maupun belum. Tumpukkan akan terus meningkat karena proses dekomposisi terhambat oleh keadaan anaerob serta keadaan lingkungan lainnya yang mengakibatkan rendahnya tingkat perkembangan biota pengurai. Tingkat kematangan gambut sangat menentukan tingkat produktivitas lahan gambut, karena sangat berpengaruh terhadap tingkat kesuburan tanah gambut dan ketersediaan hara. Selain kematangan, kedalaman gambut merupakan faktor penentu untuk dapat tidaknya suatu gambut dijadikan lahan pertanian dan perkebunan serta menjadi salah satu pertimbangan dalam pengelolaan lahan gambut untuk pengembangan pertanian. Penelitian ini dilakukan di PT. Nafasindo dengan menggunakan metode survei deskriptif melalui survei lapangan dan pengamatan lapangan.  Pengambilan sampel di lapangan berdasarkan perbedaan tahun tanam yaitu tahun 2004, 2006, 2008, 2010 dan 2013 pada setiap tahun tanam diambil tiga sampel tanah. Hasil penelitian menunjukkan terdapat dua tingkat kematangan gambut yaitu tingkat hemik dan saprik. Lahan yang ditanami gambut tahun 2008, 2010, dan 2013 tergolong dalam tingkat kematangan hemik dan lahan yang ditanami tahun 2004 dam 2006 tergolong ke dalam tingkat kematangan saprik. Kedalaman gambut di PT. Nafasindo tergolong dalam tingkat kedalaman sedang dan dalam. Lahan yang ditanam pada tahun 2004, 2006, 2008 dan 2013 tergolong dalam kedalaman sedang dengan kisaran kedalaman 103,00 ± 7,94 cm sampai 133,33 ± 4,62 cm, sedangkan lahan yang ditanami  pada tahun 2010 tergolong ke tingkat kedalaman dalam dengan kedalaman 280,00 ± 0,00 cmMaturity Level and Depth of Peatland Converted to Oil Palm Plantations at PT. Nafasindo Aceh Singkil RegencyAbstract. Peat soil is formed from piles of dead plant residues, whether decomposed or not. The pile will continue to increase because the decomposition process is hampered by anaerobic conditions and other environmental conditions, which result in a low level of development of decomposing biota. The level of peat maturity greatly determines peatlands productivity because it greatly affects the level of peat soil fertility and nutrient availability. In addition to maturity, peat thickness is a determining factor for whether or not peat can be used as agricultural land and plantations and is one of the considerations in peatland management for agricultural development. This research was conducted at PT. Nafasindo uses a descriptive survey method through field surveys and field observations. Sampling in the field based on differences in planting years, namely 2004, 2006, 2008, 2010, and 2013, three soil samples were collected in each planting year. The results showed two levels of peat maturity, namely the hemic and sapric. Land planted in 2008, 2010 and 2013 was classified as hemic maturity level, and land planted in 2004 and 2006 was classified as sapric maturity level. Peat thickness at PT. Nafasindo classifiedas medium and deep thickness levels. The land planted in 2004, 2006, 2008, and 2013 was classified as medium thickness with a depth range of 103.00 ± 7.94 cm to 133.33 ± 4.62 cm, while the land planted in 2010 was classified as deep thickness with depth 280.00 ± 0.00 cm.
Klasifikasi Mutu Fisik Biji Kopi Beras Robusta menggunakan Pengolahan Citra Digital Dwi Anindea Putri; Agus Arip Munawar; Indera Sakti Nasution
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian Vol 7, No 2 (2022): Mei 2022
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (365.851 KB) | DOI: 10.17969/jimfp.v7i2.19797

Abstract

Abstrak. Standar mutu biji kopi di Indonesia menggunakan sistem nilai cacat yang diatur dalam standar Nasional Indonesia (SNI) 01-2907-2008. Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan mutu kopi beras robusta dengan menggunakan Pengolahan citra digital dan metode Support Vector Machine (SVM) serta untuk mendapatkan tingkat akurasi tertinggi. Linear Discriminant Analysis (LDA) dan Support Vector Machine (SVM) diimplementasikan untuk merancang pengklasifikasian otomatis mutu biji kopi beras robusta. Fitur yang digunakan yaitu fitur warna, fitur tekstur dan fitur bentuk. Berdasarkan hasil klasifikasi menggunakan metode Linear Discriminant Analysis (LDA) untuk mendapatkan fitur terbaik yaitu fitur warna yang terdiri dari  G, B, L*, a*, b*. Selanjutnya fitur bentuk yang terdiri dari area, perimeter. Kemudian tekstur yang terdiri dari energi, kontras, korelasi dan homogeneity.  Metode Support Vector Machine (SVM) mampu mengklasifikasi biji kopi beras robusta dengan tingkat akurasi training sebesar 93.56% dan tingkat akurasi testing sebesar 80.75%. Physical Quality Classification Of Robusta Rice Coffee Beans Using Digital Image ProcessingAbstract. Coffee bean quality standards in Indonesia use the defect value system regulated in the Indonesian National Standard (SNI) 01-2907-2008. The purpose of this study was to determine the quality of robusta rice coffee using digital image processing and the Support Vector Machine (SVM) method and to obtain the highest level of accuracy. Linear Discriminant Analysis (LDA) and Support Vector Machine (SVM) were implemented to design an automatic classification of the quality of Robusta coffee beans. The features used are color features, texture features and shape features. Based on the results of the classification using the Linear Discriminant Analysis (LDA) method to get the best features, namely the color features consisting of G, B, L*, a*, b*. Next features a shape consisting of area, perimeter. Then the texture which consists of energy, contrast, correlation and homogeneity. The Support Vector Machine (SVM) method is able to classify Robusta coffee beans with a training accuracy rate of 93.56% and a testing accuracy rate of 80.75%.

Page 30 of 103 | Total Record : 1028