cover
Contact Name
Dewi Yunita
Contact Email
dewi_yunita@usk.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jimfp@usk.ac.id
Editorial Address
Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala Jl. Tgk Hasan Krueng Kalee No. 3 Darussalam Banda Aceh, Indonesia 23111
Location
Kab. aceh besar,
Aceh
INDONESIA
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian
ISSN : 26152878     EISSN : 26146053     DOI : http://dx.doi.org/10.17969/jimfp
Core Subject : Agriculture,
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian (JIMFP) diterbitkan oleh Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala. Merupakan media jurnal elektronik sebagai wadah untuk penyebaran dan publikasi hasil penelitian dari skripsi/tugas akhir dan atau sebagian dari skripsi/tugas akhir mahasiswa strata satu (S1) Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala yang merupakan kewajiban setiap mahasiswa untuk mengunggah karya ilmiah sebagai salah satu syarat untuk yudisium dan wisuda sarjana. Artikel ditulis bersama dosen pembimbingnya serta diterbitkan secara online setelah melewati proses review oleh 2 orang reviewer dan editor JIMFP. JIMFP menerbitkan artikel ilmiah mahasiswa dari delapan Program Studi (Prodi), yaitu Prodi Agribisnis, Prodi Agroteknologi, Prodi Peternakan, Prodi Teknologi Hasil Pertanian, Prodi Teknik Pertanian, Prodi Ilmu Tanah, Prodi Proteksi Tanaman dan Prodi Kehutanan. JIMFP terbit satu volume dan empat nomor dalam setahun, yaitu setiap bulan Februari, Mei, Agustus dan November.
Articles 1,028 Documents
Performans Rumput Setaria (Setaria spahcelata) yang Diberi Mikoriza Arbuskula dengan Level Berbeda Cut Purnama; Mira Delima; Asril Asril
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian Vol 2, No 4 (2017): November 2017
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17969/jimfp.v2i4.5208

Abstract

Abstrak.  Suatu penelitian tentang efektivitas mikoriza arbuskula terhadap performans rumput  setaria (Setaria sphacelata) telah dilakukan di Laboratorium Lapangan Peternakan (LLP) yang terletak di Jalan Utama Gampong Rukoh dan Laboratorium Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan Prodi Peternakan, Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala mulai dari bulan Februari 2017 hingga April 2017. Penelitian bertujuan untuk mengetahui performans rumput setaria yang diberi mikoriza arbuskula. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri atas 4 perlakuan dengan 5 ulangan. Perlakuan L0 adalah perlakuan kontrol/tanpa pemberian mikoriza arbuskula, perlakuan L1 adalah perlakuan dengan pemberian 5 gr mikoriza arbuskula per rumpun, perlakuan L2 adalah perlakuan dengan pemberian 10 gr mikoriza arbuskula per rumpun, sedangkan  perlakuan L3 adalah perlakuan dengan pemberian 15 gr mikoriza arbuskula per rumpun. Parameter yang diukur adalah tinggi tanaman, lebar daun, jumlah anakan, berat segar akar dan berat kering akar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aplikasi mikoriza arbuskula tidak berpengaruh (P0,05)  terhadap tinggi tanaman, lebar daun, jumlah anakan, berat segar akar dan berat kering akar.The Performance of Setaria sphacelata on Different Level of Arbuscular Mycorrhizal Abstract. A reaserch concerning effectivity ofarbuscular mycorrhizal applied on setaria (Setaria sphacelata) grass was conducted at Field Laboratory Peternakan (LLP) located on Utama Street Gampong Rukoh andat Nutritional Science dan Feed Technology Laboratory,Department of Animal Husbandry Faculty of Agriculture, Syiah Kuala University from February to April 2017. The objective of this research was to find setaria grass performance applied with arbuscular mycorrhizal. Completely Randomized Design was used in this research with 4 treatments (L0 = control/0 gr arbuscular mycorrhizal applied per clumps, L1 = 5 gr arbuscular mycorrhizal applied per clumps, L2 = 10 gr arbuscular mycorrhizal applied per clumps, and L3 = 15 gr arbuscular mycorrhizal applied per clumps. Plant height, leaf width, number of tillers, fresh root weight and dry root weight were the parameter determined. The statistical analisisindicated that there was no significant effect (P0.05) caused by treatments on plant height, leaf width, number of tillers, fresh root weight and dry rootweight. The results revealed that all level of arbuscular mycorrhizal applied showed no effectiveness on setaria grass performance. Abstract. A reaserch concerning effectivity ofarbuscular mycorrhizal applied on setaria (Setaria sphacelata) grass was conducted at Field Laboratory Peternakan (LLP) located on Utama Street Gampong Rukoh andat Nutritional Science dan Feed Technology Laboratory,Department of Animal Husbandry Faculty of Agriculture, Syiah Kuala University from February to April 2017. The objective of this research was to find setaria grass performance applied with arbuscular mycorrhizal. Completely Randomized Design was used in this research with 4 treatments (L0 = control/0 gr arbuscular mycorrhizal applied per clumps, L1 = 5 gr arbuscular mycorrhizal applied per clumps, L2 = 10 gr arbuscular mycorrhizal applied per clumps, and L3 = 15 gr arbuscular mycorrhizal applied per clumps. Plant height, leaf width, number of tillers, fresh root weight and dry root weight were the parameter determined. The statistical analisisindicated that there was no significant effect (P0.05) caused by treatments on plant height, leaf width, number of tillers, fresh root weight and dry rootweight. The results revealed that all level of arbuscular mycorrhizal applied showed no effectiveness on setaria grass performance.
Pengaruh Pemberian Limbah Feses Sapi dan Probiotik sebagai Bahan Pembuatan Pakan Pelet terhadap Pertambahan Berat Badan Ikan Nila Hitam (oreochromis niloticus) Mulyadi Sagala; M. Aman Yaman; Dzarnisa Dzarnisa
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian Vol 1, No 1 (2016): November 2016
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17969/jimfp.v1i1.1242

Abstract

Abstark. Penelitian ini telah dilakukakan di Station Riset II Ie Seum, UPT. University Farm, Universitas Syiah Kuala, Aceh Besar. Penelitian berlangsung selama 90 hari, mulai tanggal 22 Mei sampai 14 Agustus 2016. Tujuan dari penelitian ini ialah untuk memanfaatkan limbah feses sapi sebagai pakan alternatif pengganti pakan pelet pabrikan, mengurangi produksi pakan yang tinggi dalam budidaya ikan Nila, dan dalam hal ini memacu pertambahan berat badan ikan Nila. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan terdiri dari 4 ulangan. Perlakuan pemberian subsitusi dari pakan komersial dengan pakan pelet organik sebanyak 0, 10, 20 dan 30%. Parameter yang diamati dalam penelitian ini adalah berat badan, pertambahan berat badan, konsumsi pakan, efisiensi pakan, konversi pakan, kelansungan hidup, pH dan suhu air. Pemberian subtitusi pakan komersial dengan pakan pelet organik berpengaruh sangat nyata (P0,01) terhadap semua parameter yang diamati, yaitu berat badan, pertambahan berat badan, konsumsi ransum, efisiensi ransum, dan konversi ransum. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa subtitusi pakan komersial dengan pakan pelet organik 10-20% dapat digunakan untuk memacu laju pertumbuhan ikan Nila hitam.  Effect of Feeding Cow Waste and Probiotics Feed Manufacturing Natural Materials as for Added Weight of Black Nile Tilapia Fish (Oreochromis Niloticus)Abstract. Research has been dane in Research Station II Ie Seum, UPT. University Farm, Syiah Kuala University, Aceh Besar. The was conducted for 90 days, starting on May 22 until August 14, 2016. The purpose of this study was to use waste as feed for cow dung cost and promote the growth and production of Nile Tilapia. This research used completely randomized design (CRD) with 4 treatments and each replication. The treatment was subtitution of commercial diets with organic pellt feed (OPF) with the level of 0, 10, 20, and 30%, respeetively. The parameters observed were final weight, weight gain, feed consumption, feed efficiency, feed conversion, mortality/ life sustainability, pH and water temperature. Results study shwed that feeding organic pellet feed highly significant (P 0.01) affeted on all parameters, sach as final body weight, body weight gain, feed consumption, feed efficiency, and the feed conversion. The results of the study concluded that feeding organic pellet feed with a percentage of 10-20% was betterfor the growth rate of Nile Tilapia
Soil Water Status On Some Type Of Soil On Coffee Farm Of Central Aceh khairun Purgawa; Darusman Darusman; Syamaun A. Ali
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian Vol 1, No 1 (2016): November 2016
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (263.671 KB) | DOI: 10.17969/jimfp.v1i1.965

Abstract

Abstract The district of Central Aceh is one of district located in the highlands of Gayo. The land and environtmant are very promising which is really potential to development of farming sector primarily coffee plant. Information on moisture groundwater is necessary to improve the potential ground for the coffee plant. Coffee plants are already known suitable developed in the district of Central Aceh. But, information on the status of groundwater in certain kind of soil unavailable, although the availability of water can be done with the irrigation. The results showed that among 3 types of studied soils are that andisol, ultisol and inceptisol and the highest water available is ultisol dominated by a non cultivation. Even andisol having value the availability of water is more stable, this can be seen from the water available that is not very different between land cultivation and non cultivation. While other land types that Ultisol and Inceptisol only have water available on of non cultivation only. If it is associated with the availability of water in the coffee plant is then the Andisol is most suitable because soil water on the two different locations aren’t different .
Karakteristik Petani Perempuan Kepala Rumah Tangga di Kecamatan Lhoong Kabupaten Aceh Besar Silvia Zahara; Mujiburrahmad Mujiburrahmad; Elly Susanti
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian Vol 8, No 2 (2023): Mei 2023
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (322.253 KB) | DOI: 10.17969/jimfp.v8i2.24129

Abstract

Abstrak. Petani Perempuan Kepala Rumah Tangga (P-PKRT) adalah salah satu anggota keluarga yang bertanggung jawab atas kebutuhan sehari-hari di rumah sebagai Kepala Rumah Tangga (KRT), dimana sumber pendapatan utamanya adalah pertanian, baik sebagai petani pemilik lahan, buruh, atau penyewa tanah. Sampel penelitian ini adalah 60 petani perempuan yang menjadi kepala rumah tangga. Karakteristik responden dalam penelitian ini meliputi umur, tingkat pendidikan, jumlah tanggungan, luas tanah, dan status kepemilikan tanah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar petani perempuan kepala keluarga berusia paruh baya (50–65 tahun), rata-rata terdiri dari 2-3 tanggungan dengan tingkat pendidikan SD, dengan luas lahan rata-rata berkisar antara 0–0,25 hektar dan status tanah terluas milik bukan anggota rumah tangga dan anggota rumah tangga lainnya (56,7%). Dengan kata lain, setengah dari responden tidak memiliki tanah sendiri; mereka bekerja di tanah asing dengan sistem bagi hasil dan sewa tanah.Characteristics of Women-Headed Household Farmers in Lhoong District, Aceh Besar RegencyAbstract. Women-Headed Household Farmers (P-PKRT) are one of the family members who are responsible for daily needs at home as the Head of the Household (KRT), where the main source of income is agriculture, either as a farmer who owns land, a laborer, or a land tenant. The sample for this research is 60 female farmers who are heads of households. The characteristics of the respondents in this study included age, education level, number of dependents, land area, and land ownership status. The results showed that most of the female farmer heads of households were middle-aged (50–65 years), on average consisting of 2-3 dependents with an elementary school education level, with an average land area ranging from 0–0.25 hectares and the status of the largest land belonging to non-household members and other household members (56.7%). In other words, half of the respondents do not own their own land; they work on foreign land with a sharing system and land rent.
Patogenisitas Cendawan Entomopatogen Beauveria bassiana terhadap Serangga Nezara viridula (L.) pada Stadia yang Berbeda Mega Mahrani Nasution; Muhammad Sayuthi; Hasnah Hasnah
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian Vol 8, No 1 (2023): Februari 2023
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (437.7 KB) | DOI: 10.17969/jimfp.v8i1.21966

Abstract

Abstrak. Beauveria bassiana merupakan salah satu cendawan entomopatogen yang sering dimanfaatkan sebagai bioinsektisida dalam mengendalikan serangga hama pada tanaman budidaya. Nezara viridula merupakan salah satu hama utama pada tanaman polong-polongan yang merusak tanaman dengan menusukkan stiletnya pada buah atau biji kemudian menghisap cairannnya sehingga mengakibatkan penurunan hasil hingga 80% bahkan dapat mengalami puso apabila tidak dilakukan pengendalian. Pengendalian hama dengan memanfaatkan cendawan entomopatogen diharapkan dapat mengendalikan serangga hama N. viridua pada stadia yang berbeda. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendapatkan konsentrasi cendawan B. bassiana yang efektif dalam mengendalikan hama serangga N. viridula. Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak Lengkap faktorial yang terdiri dari 2 faktor yaitu kerapatan konidia cendawan B. bassiana dengan 4 taraf yaitu K1 (102 cfu), K2 (104 cfu), K3 (106 cfu), dan K4 (108 cfu), serta stadia perkembangan serangga yaitu: S1 (Nimfa instrar 2), S2 (Nimfa instrar 4), S3 (imago), sehingga diperoleh 12 kombinasi perlakuan dengan 2 ulangan serta didapat 24 unit percobaan. Peubah yang diamati meliputi masa inkubasi cendawan B. bassiana pada N. viridula (hari), gejala yang ditimbulkan pada N. viridula akibat terinfeksi cendawan B. bassiana, dan Mortalitas N. viridula (%). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kerapatan konidia cendawan B. bassiana berpengaruh nyata terhadap masa inkubasi pada N. viridula tetapi berpengaruh tidak nayata terhadap stadia perkembangan serangga. Semakin tinggi tingkat kerapatan konidia cendawan B. bassiana yang diaplikasikan, maka semakin cepat timbulnya gejala white muscardine pada serangga N. viridula di laboratorium. Kerapatan konidia  108 cfu pada 2 hari setelah aplikasi (HSA) serangga sudah mati dan tubuh sudah ditumbuhi cendawan B. bassiana. Stadia perkembangan serangga dan tingkat kerapatan konidia cendawan berpengaruh nyata terhadap mortalitas. Mortalitas tertinggi terjadi pada kerapatan konidia 108 cfu yaitu 71,13% pada pengamatan 5 hari HSA. Cendawan B. bassiana berpotensi sebagai agens hayati dalam mengendalikan serangga hama N. viridula yang berwawasan lingkungan.Pathogenicity of Entomopathogenic Fungus Beauveria bassiana to Insect Nezara viridula (L.) at Different StagesAbstract. Beauveria bassiana is one of the entomopathogenic fungi that is often used as a bioinsecticide in controlling insect pests in cultivated plants. Nezara viridula is one of the main pests on legumes that damage plants by sticking the stylet into the fruit or seed and then sucking the liquid, resulting in a decrease in yield of up to 80% and can even experience puso if not controlled. Pest control using entomopathogenic fungi is expected to control the insect pest N. viridua at different stadia. The purpose of this study was to obtain a concentration of the fungus B. bassiana which was effective in controlling the insect pest N. viridula. The design used in this study was a factorial completely randomized design consisting of 2 factors, namely the conidia density of the fungus B. bassiana with 4 levels, namely K1 (102 cfu), K2 (104 cfu), K3 (106 cfu), and K4 (108 cfu). ), and the developmental stages of insects, namely: S1 (Nymph instrar 2), S2 (Nymph instrar 4), S3 (imago), so that 12 treatment combinations were obtained with 2 replications and 24 experimental units were obtained. The observed variables included the incubation period of  the fungus B. bassiana on N. viridula (days), the symptoms caused in N. viridula due to infection with the fungus B. bassiana, and the mortality of N. viridula (%). The results showed that the conidia density of the fungus B. bassiana had a significant effect on the incubation period of N. viridula but had no significant effect on the developmental stage of insects. The higher the conidia density of the fungus B. bassiana applied, the faster the symptoms of white muscardine in N. viridula insects appeared in the laboratory. Conidia density of 108 cfu at 2 days after application (HSA) the insects were dead and the body was overgrown with B. bassiana fungus. Insect developmental stadia and fungal conidia density had a significant effect on mortality. The highest mortality occurred at conidia density of 108 cfu, which was 71.13% at 5 days of HSA observation. The fungus B. bassiana has the potential as a biological agent in controlling the insect pest N. viridula in an environmentally sound manner.
Analisis Kebutuhan Energi Listrik pada Proses Penyangraian Menggunakan Mesin Sangrai Kopi Tipe Silinder Ibaadurrohmaan Ihsan Hasni; Indera Sakti Nasution; Syafriandi Syafriandi
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian Vol 7, No 4 (2022): November 2022
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (301.083 KB) | DOI: 10.17969/jimfp.v7i4.22241

Abstract

Abstrak. Kopi adalah salah satu komoditas andalan sektor perkebunan di Indonesia yang memiliki nilai ekspor penyumbang devisa negara. Penanganan kopi dari proses pra panen hingga pasca panen sangat menentukan kualitas dari biji kopi. Proses penyangraian merupakan salah satu proses yang harus dilewati sebelum mendapatkan nikmatnya rasa secangkir kopi. Proses penyangraian biasanya dilakukan oleh petani secara manual, sehingga kurang efisien karena suhu sulit untuk terkontrol dan proses pengadukan yang tidak merata. Penggunaan energi listrik pada alat penyangraian kopi bentuk silinder merupakan salah satu alternatif yang dapat dilakukan untuk mengatasi permasalah dalam proses penyangraian kopi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kebutuhan energi listrik dan panas pada proses penyangraian kopi menggunakan mesin sangrai biji kopi silinder. Metode pengambilan data dilakukan untuk mendapatkan kebutuhan energi listrik. Pengambilan data dilakukan pada saat mesin sangrai kopi telah aktif dan bersuhu 215℃, hal ini dilakukan agar mendapatkan biji kopi dengan tingkat penyangraian dark roast. Biji kopi robusta dimasukkan dalam mesin sangrai dan dilakukan pengamatan pada nilai tegangan (V), kuat arus (I), dan durasi penyangraian (t), dilakukan sebanyak 3 kali ulangan. Pada penelitian ini juga dilakukan analisis kadar air biji kopi sebelum dan sesudah proses sangrai. Hasil penelitian didapatkan kebutuhan total energi listrik rata-rata sebesar 5,88 KWh. Kebutuhan energi listrik rata-rata pada heater 1,45 KWh dan pada motor listrik 1,43 KWh. Kebutuhan energi rata-rata panas total dari tiga kali ulangan sebesar 3,121 MJ. Efisiensi mesin sangrai kopi diperoleh sebesar 14,740%, sehingga dimungkinkan panas yang hilang masih cukup tinggi. Hasil rata-rata kadar air sebelum sangrai sebesar 13% dan setelah sangrai 2,51%. Hasil ini sudah sesuai dengan SNI-01-2983-2014
Aplikasi Berbagai Dosis Campuran Herbisida Clomazone, Oksifluorfen dan Pendimethalin pada Tanaman Kedelai (Glycine max L. Merril) Andita Salsabila Washfa; Erida Nurahmi; Hasanuddin Hasanuddin
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian Vol 7, No 4 (2022): November 2022
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (181.21 KB) | DOI: 10.17969/jimfp.v7i4.22401

Abstract

Abstrak. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui pengaruh campuran herbisida clomazone, oksifluorfen dan pendimethalin pada pertumbuhan dan hasil tanaman kedelai. Dengan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) non faktorial dan terdiri atas 9 perlakuan dan 3 ulangan. Beberapa faktor yang diamati adalah jumlah polong per tanaman, bobot biji per tanaman, bobot 100 butir, jumlah biji per tanaman dan hasil biji kering. Hasil penelitian menyatakan aplikasi dari pencampuran herbisida clomazone, oksifluorfen dan pendimethalin memberikan pengaruh terhadap bobot 100 butir. Aplikasi campuran clomazone, oksifluorfen dan pendimethalin masing-masing sebanyak 0,3 kg b.a ha-1 mampu meningkatkan bobot 100 butir.Application of Various Doses of Mixed Clomazone, Oxyfluorfen and Pendimethalin Herbicides on Soybean (Glycine max L. Merril)Abstract. The purpose of this study was to determine the effect of a mixture of herbicides clomazone, oxyfluorfen and pendimethalin on the growth and yield of soybeans. By using a non-factorial Randomized Completely Block Design (RCBD) and consisting of 9 treatments and 3 replications. Several factors observed were the number of pods per plant, seed weight per plant, weight of 100 grains, number of seeds per plant and dry seed yield. The results showed that the application of the herbicide mixing clomazone, oxyfluorfen and pendimethalin affected the weight of 100 grains. The application of a mixture of clomazone, oxyfluorfen and pendimethalin each as much as 0.3 kg b.a ha-1 was able to increase the weight of 100 grains.
Mutu Kimia dan Sensori Nugget Jamur Tiram Putih (Pleurotus ostreatus) dengan Penambahan Wortel Yunisa Safrila; Normalina Arphi; Martunis Martunis
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian Vol 7, No 2 (2022): Mei 2022
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (193.089 KB) | DOI: 10.17969/jimfp.v7i2.20025

Abstract

Abstrak. Penelitian ini bertujuan untuk mengolah jamur tiram putih menjadi produk nugget dengan variasi penambahan wortel dan tepung, serta menentukan mutu kimia dan sensori nugget yang dihasilkan. Penelitian ini menggunakan rancangan acak kelompok (RAK) pola faktorial yang terdiri dari 2 faktor, yaitu rasio jamur tiram putih:wortel (K) yang terdiri dari tiga taraf yaitu K0= 100:0 (kontrol), K1= 80:20 dan K2= 60:40. Selain itu perlakuan lainnya berupa rasio terigu:maizena (T) terdiri dari tiga taraf yaitu T1= 100:0, T2= 50:50 dan T3= 0:100. Uji kimia yang dilakukan meliputi kadar air, abu, lemak dan protein serta dilakukan juga analisis kadar serat kasar dan DPPH (antioksidan). Pengujian sensori yang dilakukan berupa uji hedonik terhadap warna, aroma, rasa dan tekstur pada nugget jamur tiram putih.Hasil penelitian menunjukkan rasio jamur:wortel (K) hanya berpengaruh (P≤0.05) terhadap kadar lemak dengan nilai kadar lemak paling baik yaitu 8,70% yang diperoleh pada rasio jamur:wortel 60:40 (K2). Selain itu rasio terigu:maizena (T) hanya berpengaruh (P≤0.05) terhadap nilai hedonik rasa dan tekstur. Nilai terbaik yang diperoleh pada hedonik rasa yaitu 4,11-4,21 (suka), dan nilai hedonik tekstur yaitu 4,14 (suka) dari nugget dengan rasio terigu:maizena 0:100 (T3). Sedangkan perlakuan rasio jamur:wortel (K), rasio terigu:maizena (T), dan interaksi kedua perlakuan (KT), berpengaruh tidak nyata (P≥0.05) terhadap kadar air, abu, protein, serat kasar, persentase inhibisi DPPH, nilai hedonik warna dan aroma nugget jamur tiram putih. Perlakuan terbaik berdasarkan uji rangking berupa analisis kimia dan sensori diperoleh pada perlakuan K2T3 yaitu pada rasio jamur:wortel 60:40 dan rasio terigu:maizena 0:100, dengan kadar lemak 10,51%, rasa 4,18 (suka) dan tekstur 4,06 (suka).
Pengaruh Media Perbanyakan Berbasis Bahan Organik terhadap Produksi Inokulan Fungi Mikroriza Arbuskula Malisha Azra Pratiwi; Hifnalisa Hifnalisa; Fikrinda Fikrinda
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian Vol 7, No 2 (2022): Mei 2022
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (569.443 KB) | DOI: 10.17969/jimfp.v7i2.20127

Abstract

Abstrak. Fungi mikoriza arbuskula (FMA) merupakan mikroorganisme yang berperan sebagai pupuk hayati, karena kemampuannya dalam meningkatkan serapan hara, serapan air dan daya tahan tanaman terhadap kekeringan. Media perbanyakan yang sesuai mempengaruhi kualitas inokulan FMA. Tujuan  penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh kombinasi media perbanyakan berbasis kompos  terhadap produksi inokulan FMA Acaulospora tuberculata. Penelitian ini menggunakan rancangan acak kelompok non faktorial dengan tiga ulangan. Perlakuan yang diuji adalah zeolit 100% + NPK, zeolit+10% kompos, zeolit+20% kompos, zeolit+10% kompos yang diinokulasi fungi selulolitik (FS) Talaromyces pinophilus strain MR107, zeolit+ 20% kompos yang diinokulasi FS T. pinophilus strain MR107, zeolit +10% kompos yang diinokulasi FS Penicillium sp. isolate SR18, zeolit +20% kompos yang diinokulasi FS Penicillium sp. isolate SR18, zeolit+10% kompos yang diinokulasi FS Purpureocillium lilacinum, dan zeolit+20% kompos yang diinokulasi FS P. lilacinum. Hasil penelitian menunjukkan bahwa media perbanyakan berbasis kompos memberikan pengaruh sangat nyata terhadap jumlah spora FMA dan kolonisasi FMA pada akar tanaman inang. Perlakuan zeolit+20% kompos FS P. lilacinum menghasilkan jumlah spora FMA terbanyak sedangkan media zeolit + 10% kompos yang diinokulasi FS T. pinophilus strain MR107, zeolit + 20% kompos yang diinokulasi FS Penicillium sp. isolate SR18, zeolit + 10% kompos dan zeolit + N P K memberikan pengaruh yang sama terhadap tingkat kolonisasi FMA yang tertinggi. Hasil ini menunjukkan bahwa media kombinasi zeolit dan kompos dengan atau tanpa diperkaya fungi selulolitik efektif sebagai media perbanyakan dalam memproduksi spora FMA.Pengaruh Media Perbanyakan Berbasis Kompos Terhadap Produksi Inokulan Jamur Mikorhiza ArbuskularAbstract. Arbuscular mycorrhizal fungi (AMF) are microorganisms that act as biological fertilizers, because of their ability to increase nutrient uptake, water uptake and plant resistance to drought. Appropriate propagation media affects the quality of AMF inoculants. The purpose of this study was to determine the effect of a combination of compost-based propagation media on the production of Acaulospora tuberculata inoculants. This study used a non-factorial randomized block design with three replications. The treatments tested were zeolite 100% + NPK, zeolite + 10% compost, zeolite + 20% compost, zeolite + 10% compost inoculated with cellulolytic fungi (CS) Talaromyces pinophilus strain MR107, zeolite + 20% compost inoculated with CS T. pinophilus strain MR107, zeolite + 10% compost inoculated with CS Penicillium sp. isolate SR18, zeolite +20% compost inoculated with CS Penicillium sp. isolate SR18, zeolite+10% compost inoculated with CS Purpureocillium lilacinum, and zeolite + 20% compost inoculated with CS P. lilacinum. The results showed that compost-based propagation media had a very significant effect on the number of AMF spores and AMF colonization on host plant roots. Treatment of zeolite+20% compost inoculated with CS P. lilacinum produced the highest number of AMF spores while zeolite + 10% compost inoculated with CS T. pinophilus strain MR107, zeolite + 20% compost inoculated with CS Penicilliumsp. isolat SR18, zeolit +10% kompos dan zeolit + NPK memberikan pengaruh yang sama pada tingkat kolonisasi FMA tertinggi. Hasil ini menunjukkan bahwa kombinasi media zeolit dan kompos dengan atau tanpa pengayaan jamur selulolitik efektif sebagai media perbanyakan spora FMA.
Kehilangan Air Akibat Cuci Tangan pada Berbagai Tingkatan Pengguna Ridhofa Hafira Afriza; Syahrul Syahrul; Devianti Devianti
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian Vol 7, No 1 (2022): Februari 2022
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (402.15 KB) | DOI: 10.17969/jimfp.v7i1.18691

Abstract

Abstrak. Kehilangan air yaitu perbedaan antara volume air yang didistribusikan dengan volume air yang dikonsumsi yang tercatat. Semua perkantoran, pasar, sekolah, universitas dan lainnya sudah menyediakan fasilitas untuk mencegah Covid-19 seperti tersedianya hand sanitizer, pengecekan suhu tubuh dan juga wastafel yang digunakan untuk mencuci tangan. Sehingga penelitian ini dilakukan untuk mengetahui jumlah air yang hilang saat mencuci tangan dan beberapa faktor penyebabnya. Penelitian ini diawali dengan pengambilan data pengambilan data pemakaian air cuci tangan dan juga wawancara di beberapa lokasi seperti Universitas Syiah Kuala, SDN 16 Banda Aceh, SMPN 8 Banda Aceh, SMAN 5 Banda Aceh, Pasar Lampulo, Pasar Aceh dan beberapa rumah tangga. Hasil pengambilan data tersebut dapat digunakan sebagai rata-rata kehilangan air saat melakukan cuci tangan tiap orangnya. Penelitian ini dilakukan dari bulan Desember 2020 sampai Februari 2021. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, didapatkan hasil rata-rata kehilangan air saat mencuci tangan dari semua lokasi tersebut sebesar 0,000972 m3.  WATER LOSS FROM HAND WASHING AT VARIOUS LEVELS OF USERSAbstract. Water loss is the difference between the volume of water distributed and the recorded volume of water consumed. All offices, markets, schools, universities and others have provided facilities to prevent Covid-19 such as the availability of hand sanitizers, checking body temperature and also a sink used for washing hands. So this study was conducted to determine the amount of water lost when washing hands and some of the factors causing it. This research begins with collecting data on the use of hand washing water and also interviews in several locations such as Syiah Kuala University, SDN 16 Banda Aceh, SMPN 8 Banda Aceh, SMAN 5 Banda Aceh, Lampulo Market, Aceh Market and several households. The results of the data collection can be used as the average water loss when washing each person's hands. This research was conducted from December 2020 to February 2021. Based on the results of the study, the average water loss when washing hands from all these locations was 0.000972 m3.

Page 32 of 103 | Total Record : 1028