cover
Contact Name
Dewi Yunita
Contact Email
dewi_yunita@usk.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jimfp@usk.ac.id
Editorial Address
Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala Jl. Tgk Hasan Krueng Kalee No. 3 Darussalam Banda Aceh, Indonesia 23111
Location
Kab. aceh besar,
Aceh
INDONESIA
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian
ISSN : 26152878     EISSN : 26146053     DOI : http://dx.doi.org/10.17969/jimfp
Core Subject : Agriculture,
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian (JIMFP) diterbitkan oleh Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala. Merupakan media jurnal elektronik sebagai wadah untuk penyebaran dan publikasi hasil penelitian dari skripsi/tugas akhir dan atau sebagian dari skripsi/tugas akhir mahasiswa strata satu (S1) Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala yang merupakan kewajiban setiap mahasiswa untuk mengunggah karya ilmiah sebagai salah satu syarat untuk yudisium dan wisuda sarjana. Artikel ditulis bersama dosen pembimbingnya serta diterbitkan secara online setelah melewati proses review oleh 2 orang reviewer dan editor JIMFP. JIMFP menerbitkan artikel ilmiah mahasiswa dari delapan Program Studi (Prodi), yaitu Prodi Agribisnis, Prodi Agroteknologi, Prodi Peternakan, Prodi Teknologi Hasil Pertanian, Prodi Teknik Pertanian, Prodi Ilmu Tanah, Prodi Proteksi Tanaman dan Prodi Kehutanan. JIMFP terbit satu volume dan empat nomor dalam setahun, yaitu setiap bulan Februari, Mei, Agustus dan November.
Articles 1,028 Documents
Pertumbuhan dan hasil tanaman cabai akibat jenis media tanam dan varietas secara hidroponik substrat Riska Andani; Marai Rahmawati; Mardhiah Hayati
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian Vol 5, No 2 (2020): Mei 2020
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (393.174 KB) | DOI: 10.17969/jimfp.v5i2.14764

Abstract

Abstrak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh jenis media tanam dan varietas serta interaksi antara keduanya terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman cabai merah yang ditanam dengan metode hidroponik substrat. Penelitian ini dilaksanakan di Rumah Kasa dan Laboratorium Hortikultura Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala dari April sampai Agustus 2019. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok pola faktorial 3 x 3 dengan 3 ulangan, sehingga terdapat 9 kombinasi perlakuan. Faktor yang diteliti yaitu jenis media tanam yang terdiri dari 3 taraf (arang sekam, petroganik + pasir, petroganik + arang sekam) dan varietas yang terdiri dari 3 taraf (Kencana, Laba dan Lado F1). Parameter yang diamati ialah tinggi tanaman dan diameter batang pada umur 14, 21, 28, 35, 42, 29 dan 56 HST, umur tanaman saat berbunga, umur panen, panjang buah, jumlah buah, berat buah per buah, berat buah per tanaman sebanyak 7 kali pemanenan dan potensi hasil. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis media tanam berpengaruh sangat nyata terhadap tinggi tanaman cabai pada umur 14, 21, 28, 35 dan 56 HST, diameter batang pada umur 21, 35, 42 dan 56 HST, panjang buah serta berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman cabai pada umur 42 dan 49 HST, diameter batang pada umur 14 dan 28 HST. Pertumbuhan tanaman cabai yang terbaik dijumpai pada jenis media tanam petroganik + arang sekam. Pertumbuhan tanaman cabai yang terbaik dijumpai pada varietas Kencana. Interaksi antara jenis media tanam dan varietas berpengaruh tidak nyata terhadap semua peubah pertumbuhan dan hasil tanaman yang diamati.Growth and yield of paper (Capsicum annuum L.) due to differences in the type of planting media and varieties in hydroponic substrates
Patogenisitas Cendawan Metarhizium anisopliae (Metsch) dalam mengendalikan Kepik Hijau (Nezara viridula L.) pada Stadia Perkembangan yang Berbeda di Laboratorium Ahmad Alwi Azhari; Muhammad Sayuthi; Hasnah Hasnah
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian Vol 4, No 2 (2019): Mei 2019
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (731.035 KB) | DOI: 10.17969/jimfp.v4i2.7424

Abstract

Abstrak. Nezara viridula (L.) (Hemiptera: Pentatomidae) adalah serangga hama yang bersifat kosmopolit dan mempunyai banyak tanaman inang (polifagus) antara lain kacang-kacangan dan kubis-kubisan. Serangan serangan hama ini dapat menurunkan kualitas dan kuantitas hasil tanaman. Salah satu metoda pengendalian hama yang ramah lingkungan yaitu penggunaan cendawan entomopatogen Metarhizium anisopliae sebagai agen pengendalian hayati yang dapat menyebabkan penyakit green muscardin fungus pada serangga. Keefektifan cendawan entomopatogen sangat dipengaruhi oleh stadia perkembangan inang dan kerapatan konidia cendawan yang diaplikasikan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendapatkan konsentrasi yang efektif dari cendawan M. anisopliae dan stadia perkembangan serangga yang paling rentan terhadap cendawan M. anisopliae. Rancangan yang digunakan dalam penelitian adalah Rancangan Acak Lengkap faktorial yang terdiri dari 2 faktor yaitu konsentrasi cendawan M. anisopliae: K1 (4g/100 ml), K2 (6g/100 ml) dan K3 (8g/100 ml) serta stadia perkembangan serangga: N1 (Nimfa instar 2), N2 (Nimfa instar 4) dan N3 (Imago). Menghasilkan jumlah kombinasi perlakuan 9 dengan 3 ulangan sehingga terdapat 27 unit percobaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aplikasi cendawan entomopatogen M. anisopliae berpengaruh nyata terhadap masa inkubasi, mortalitas, dan waktu kematian dari N. viridula. Masa inkubasi tercepat pada 8g/ 100 ml yaitu 1,33 hari dan terlama pada 4g/ 100 ml yaitu 1,44 hari. Masa inkubasi tercepat pada nimfa instar 2 yaitu 1,00 hari dan terlama pada imago yaitu 2,11 hari. Mortalitas tertinggi yaitu pada 8g/ 100 ml sebesar 97,67% dan terendah pada 4g/ 100 ml sebesar 87,78% pengamatan 8 HSA. Mortalitas tertinggi terjadi pada nimfa instar 2 sebesar 98,89% dan terendah pada imago sebesar 86,67% pengamatan 8 HSA. Waktu kematian tercepat pada perlakuan 8g/ 100 ml sebesar 4,49 hari dan terendah pada perlakuan 4g/ 100 ml sebesar 5,50 hari. Waktu kematian tercepat pada nimfa instar 2 sebesar 4,31 hari dan terendah pada imago sebesar 6,00 hari. Cendawan entomopatogen M. anisopliae efektif dalam mengendalikan N. viridula pada nimfa instar 2 dengan konsentrasi 8g/ 100 ml.Pathogenicity of Fungi Metarhizium anisopliae (Metsch) in controlling Green Stink bug (Nezara viridula L.) at Different Developmental Stages in LaboratoryAbstract. Nezara viridula (L.) (Hemiptera: Pentatomidae) is a cosmopolitan insect pest and has many host plants (polyphagus) such as beans and cabbage. Attack of the pests can reduce the quality and quantity of crops. One of the most environmentally friendly methods of pest control is the use of entomopathogenic fungus Metarhizium anisopliae as a biological control agent can cause green muscard fungus disease in insects. The effectiveness of entomopathogenic fungi is strongly influenced by the stadia of host development and the density of conidial fungi applied. The aim of this study is to obtain an effective concentration of the fungus M. anisopliae and the stages of development of the most vulnerable insects against the fungus M. anisopliae. The design used in the study was a Factorial Randomized Complete Random consisting of two factors: the concentration of fungus M. anisopliae: K1 (4g / 100 ml), K2 (6g / 100 ml) and K3 (8g / 100 ml) and stages insect development: N1 (instar nymph 2), N2 (instar nymph 4) and N3 (Adult). Produced a combined number of treatments 9 with 3 replications so that there were 27 experimental units. The result showed that the application of entomopathogenic fungi M. anisopliae had significant effect on the incubation period, mortality, and death time of N. viridula. The fastest incubation period at 8g / 100ml is 1.33 days and the longest at 4g / 100ml is 1.44 days. The fastest incubation period in nymph instar 2 is 1.00 days and the longest in adult is 2.11 days. The highest mortality is at 8g / 100 ml of 97,67% and the lowest at 4g / 100 ml equal to 87,78% observation 8 HSA. The highest mortality occurred in instar nymph 2 of 98.89% and the lowest in adult of 86,67% observation 8 HSA. The fastest death time in the 8g / 100 ml treatment was 4.49 days and the lowest in the 4g / 100 ml treatment was 5.50 days. The fastest death time in instar nymph 2 is 4.31 days and the lowest is adult at 6.00 days. The entomopathogenic fungus M. anisopliae is effective in controlling N. viridula in instar nymph 2 with a concentration of 8g / 100 ml.
Perubahan Penggunaan Lahan Tahun 2005/2019 setelah Tsunami Studi Kasus di Pulau Bunta Sartika Musliani; Abubakar Karim; Muhammad Rusdi
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian Vol 5, No 1 (2020): Februari 2020
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (594.684 KB) | DOI: 10.17969/jimfp.v5i1.13819

Abstract

Abstrak. Pulau Bunta menjadi salah satu kawasan dengan kerusakan terparah pasca bencana tsunami, hingga merusak semua bangunan pemukiman warga, fasilitas seperti dermaga dan jalan, serta lahan perkebunan warga dan sebagian vegetasi hutan pesisir. Pasca tsunami lahan di Pulau Bunta yang terkena bencana perlahan dilakukan rehabilitasi kembali. Pemanfaatan lahan tersebut dipengaruhi oleh kondisi alamiah maupun kebijakan Pemerintah terkait dengan potensi yang ada, termasuk pemanfaatan lahan pada kawasan pulau-pulau kecil seperti halnya Pulau Bunta.  Adapun perencanaan tata guna lahan pada kawasan pulau-pulau kecil diatur dalam Pasal 27 ayat (2) UU No. 27 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (Peraturan Pemerintah Republik Indonesia, 2010). Perubahan pada tata guna lahan Pulau Bunta dapat diamati dengan metode digitasi visual on screen terhadap peta Pulau Bunta tahun 2005 dan 2019. Hasil deskripsi digitasi peta Pulau Bunta tahun 2005 dan 2019 menunjukkan terdapat banyak perubahan dari kerusakan semua bangunan dan vegetasi pada tahun 2005 hingga terdapat rumah-rumah warga, kantor desa, beberapa fasilitas seperti balai, toilet umum, dermaga, bangunan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS), serta vegetasi Pulau Bunta yang sudah banyak berkembang sesuai dengan formasi vegetasi pantai berpasir.Kata kunci: Pulau Bunta, Penggunaan lahan, Tsunami. Land Use Changes in 2005/2019 after the Tsunami on Case Study at Bunta IslandAbstract. Bunta Island became one of the areas with the most severe damage after the tsunami, to damage all residential buildings, facilities such as docks and roads, as well as residents' plantations and some coastal forest vegetation. After the tsunami the land on the affected island of Bunta was slowly rehabilitated. Land use is influenced by natural conditions and government policies related to existing potential, including land use in small island areas such as Bunta Island. The land use planning in the area of small islands is regulated in Article 27 paragraph (2) of Law no. 27 of 2007 concerning Management of Coastal Areas and Small Islands (Government Regulation of the Republic of Indonesia, 2010). Changes to the land use of Bunta Island can be observed by visual digitizing method on the map of Bunta Island in 2005 and 2019. The results of the digitization map of Bunta Island in 2005 and 2019 show that there are many changes from damage to all buildings and vegetation in 2005 until there are houses residents' houses, village offices, several facilities such as halls, public toilets, jetties, solar power building (PLTS), and vegetation of Bunta Island which has developed in accordance with the formation of sandy beach vegetation.                                                                                   Keywords: Bunta Island, land use, Tsunami.
Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Permintaan Daging Ayam Broiler di Kota Banda Aceh. Syarifah Qonita; Irwan A Kadir; Teuku Makmur
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian Vol 4, No 1 (2019): Februari 2019
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (270.88 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi permintaan daging ayam broiler di Kota Banda Aceh. Penelitian ini menggunakan model Ordinary Least Square (OLS) dalam metode analisis regresi linear berganda. Menggunakan data tahunan dari periode 2009 hingga 2016. Hasil penelitian diperoleh bahwa harga daging ayam broiler, harga daging sapi, pertumbuhan penduduk dan pendapatan perkapita secara serempak mempengaruhi permintaan daging ayam broiler. Dimana 82,9 persen nilai masing-masing variabel dalam model dapat menjelaskan jumlah permintaan daging ayam broiler di Kota Banda Aceh, sedangkan 17,1 persen lagi dipengaruhi oleh variabel lain. Faktor – faktor yang mempengaruhi permintaan daging ayam broiler di kota Banda Aceh adalah harga daging sapi dan pendapatan perkapita. Dimana harga daging sapi menjelaskan bahwa kenaikan harga barang lain memberikan pengaruh terhadap permintaan daging ayam broiler di Kota Banda Aceh, serta daging sapi bukanlah barang substitusi dan pendapatan perkapita menjelaskan bahwa semakin bertambahnya pendapatan seseorang maka ia akan meningkatkan konsumsinya. Fakor-faktor yang tidak mempengaruhi permintaan daging ayam broiler di Kota Banda Aceh yaitu harga daging ayam broiler dan pertumbuhan penduduk. Dimana tidak berpengaruhya harga daging ayam broiler itu sendiri dikarenakan masyarakat akan tetap mengkonsumsi daging ayam broiler sebab pertimbangan harga yang terjangkau dibanding harga barang lain salah satunya harga daging sapi dan pertumbuhan penduduk disebabkan karena bertambahnya penduduk maka terdapat berbagai tingkat ragam selera konsumen dalam memilih barang konsumsi lain. Dan faktor yang paling mempengaruhi permintaan daging ayam broiler di Kota Banda Aceh yaitu variabel pendapatan perkapita dimana dengan taraf kepercayaan 1 persen. Nilai koefisien yang positif menunjukkan bahwa tingginya pendapatan suatu individu akan cenderung meningkatkan pengeluaran konsumsi atau permintaan daging ayam broiler.
Pengaruh Konsentrasi Ekstrak Umbi Bit (Beta vulgaris L.) dan Gelatin Terhadap Karakteristik Marshmallow Cut Betari Arhandhi; Yuliani Aisyah; Rasdiansyah Rasdiansyah
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian Vol 3, No 4 (2018): November 2018
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (599.573 KB) | DOI: 10.17969/jimfp.v3i4.9522

Abstract

Abstrak. Umbi bit merupakan salah satu bahan pangan yang dapat digunakan sebagai pewarna alami pada pembuatan soft candy seperti rshmallow. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan pola faktorial yang terdiri atas dua faktor. Faktor pertama yaitu konsentrasi ekstrak umbi bit (B) yang terdiri dari 3 taraf yaitu B1 = 5% B2 = 10% dan B3 = 15%. Faktor kedua adalah konsentrasi gelatin (G) yang terdiri dari 3 taraf yaitu G1 = 3% G2 = 5% dan G3 = 8%. Ulangan dilakukan sebanyak 3 kali sehingga diperoleh 27 satuan percobaan. Hasil penelitian menunjukkan bawa konsentrasi ekstrak umbi bit berpengaruh sangat nyata terhadap kadar air, vitamin C dan aktivitas antioksidan serta uji deskrpsi aroma, rasa, warna buram, tekstur, dan mouthfeel marshmallow umbi bit. Adapun konsentasi gelatin berengaruh nyata terhadap kadar vitamin C dan uji deskripsi tekstur marshmallow umbi bit. Marshmallow umbi bit memiliki kadar air yaitu sebesar 22,06%, kadar vitmin C 80,67 Mg dan aktivitas antioksidan sebesar 30%.Abstract: Beetroot is one of food that can be used as natural dyes in making of soft candy like marshmallows. This research was conducted using a Completely Randomized Design (CRD) with a factorial pattern consisting of two factors. The first factor is the concentration of beet tuber extract (B) which consists of 3 levels, namely B1 = 5% B2 = 10% and B3 = 15%. The second factor is the concentration of gelatin (G) which consists of 3 levels, namely G1 = 3% G2 = 5% and G3 = 8%. Tests were carried out 3 replications so that 27 trial units were obtained. The results showed that the concentration of coffee extract had a very significant effect on water content, vitamin C and antioxidant activity, as well as the description of aroma, flavor, opaque color, texture, and mouthfeel marshmallow tuber content. The concentration of gelatin significantly affected vitamin C levels and test description of marshmallow tuber tuber texture. Marshmallow beetroot has a water content of 22.06%, vitamin C content of 80.67 Mg and antioxidant activity of 30%.
Dampak Alih Fungsi Lahan Sawah Terhadap Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat Kecamatan Baitussalam Kabupaten Aceh Besar Yasfir Ma'arif; Teuku Fauzi; Safrida Safrida
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian Vol 3, No 4 (2018): November 2018
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (361.862 KB) | DOI: 10.17969/jimfp.v3i4.9411

Abstract

Abstrak  Pertumbuhan  penduduk dan dinamika pembangunan telah menggeser pemanfaatan lahan yang akhirnya menimbulkan kompleksitas permasalahan lahan yang semula berfungsi sebagai media bercocok tanam (pertanian), berangsur-angsur berubah menjadi multifungsi pemanfaatan. Berubahnya pemanfaatan lahan pertanian ke non pertanian dapat disebut juga sebagai alih fungsi lahan. Kabupaten Aceh Besar adalah salah satu kabupaten yang terus menghadapi permasalahan alih fungsi lahan, khususnya lahan sawah. Alih fungsi lahan ini mengakibatkan luas lahan sawah di Aceh Besar terus menurun. Lahan yang paling banyak mengalami alih fungsi lahan adalah jenis lahan sawah yang menjadi lahan non pertanian. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya alih fungsi lahan sawah dan mengidentifikasi dampak sosial dan ekonomi yang dialami petani mantan pemilik lahan akibat alih fungsi lahan sawah menjadi lahan non pertanian. Berdasarkan hasil regresi secara parsial dari analisis regresi faktor harga jual, kebutuhan hidup dan kondisi lahan berpengaruh nyata terhadap konversi lahan sawah di  Kecamatan Baitussalam Kabupaten Aceh Besar. Bedasarkan hasil regresi secara serempak dari hasil regresi didapatkan bahwa harga jual, kebutuhan hidup dan kondisi lahan secara serempak mempengaruhi konversi lahan sawah di Kecamatan Baitussalam Kabupaten Aceh Besar. Berdasarkan isu dampak sosial sebagai akibat alih fungsi lahan di lihat dari keinginan kondisi lama, meningkatkan rasa kerjasama dan kekeluargaan, serta kemampuan memenuhi kebutuhan keluarga mendapatkan hasil yang positif dengan nilai ≥ 50%. Berdasarkan isu dampak ekonomi sebagai akibat alih fungsi lahan di lihat dari peningkatan pendapatan mendapatkan hasil yang positif dengan nilai ≥ 50%.Impact Of Paddy Fields Function  On Community Socio-Economic Conditions Of Baitussalam District, Aceh Besar RegencyAbstract  Population growth and the dynamics of development have shifted land use which eventually led to the complexity of the problem of land that used to function as a farming medium (agriculture), gradually becoming a multifunctional use. Changing the use of agricultural land to non-agriculture can also be referred to as land conversion. Aceh Besar District is one of the districts that continues to face the problem of land conversion, especially rice fields. The conversion of this land function has caused the area of paddy fields in Aceh Besar to continue to decline. The land that has experienced the most land use change is the type of rice field that becomes non-agricultural land. This study aims to identify the factors that cause the conversion of paddy fields and identify the social and economic impacts experienced by farmers former landowners due to the conversion of paddy fields to non-agricultural land. Based on the partial regression results from the regression analysis, the factors of selling price, life necessity and land conditions have a significant effect on the conversion of paddy fields in Baitussalam District, Aceh Besar District. Based on the simultaneous regression results from the regression results, it was found that the selling price, life needs and land conditions simultaneously affected the conversion of paddy fields in Baitussalam District, Aceh Besar District. Based on the issue of social impacts as a result of land use change seen from the desires of the old conditions, increasing the sense of cooperation and kinship, as well as the ability to meet family needs get positive results with a value of ≥ 50%. Based on the issue of economic impact as a result of the transfer of land functions, it can be seen from the increase in income that has a positive result with a value of ≥ 50%.
Analisis Faktor-Faktor Yangberhubungandengan Motivasi Petani Dalam Berusahatani Lada Di Kabupaten Aceh Besar Zainuddin Zainuddin; Safrida Safrida; Elvira Iskandar
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian Vol 1, No 1 (2016): November 2016
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (372.029 KB) | DOI: 10.17969/jimfp.v1i1.1293

Abstract

ABSTRACTOne of the commodities that became the mainstay of Indonesia's exports is commodities pepper. In Indonesia, many pepper plants grown in the provinces of Lampung, Bangka, West Kalimantan and Aceh. Pepper plants in several regencies / cities in Aceh province. However, the development of commodity pepper planting area tends to decrease in almost every district. Aceh Besar district as a granary, pepper production in Aceh province also decreased acreage planting area. This condition is very contradictory because demand and prices of pepper are high but has not been used optimally. This is a reflection of the low motivation of farmers in pepper farming. The purpose of this study was to determine the level of motivation pepper farmers and determine the factors related to the motivation of farmers. The data analysis method used is Likert measurement scale systems and Spearman rank correlation. The data used are primary data time series period 2008-2013. Based on test results using a Likert scale of measurement that the level of motivation of farmers in pepper farming in Aceh Besar district in the high category. Based on the factors that have been tested using Spearman rank correlation, it is known that factors related to the level of motivation of farmers in pepper farming is the motivation of farmers with the availability of inputs, farmers motivated by cosmopolitan nature of farmers, and the motivation of farmers by supporting institutions. While revenue and service agencies there are not to relation with the motivation of pepper farmers. Keywords: Pepper Farm, Farmer Motivation Levels, External Factors, Spearman Rank Correlation
Pembuatan Mi Kering dari Tepung Labu Kuning (Cucurbita moscata Durch) dengan Variasi Hidrokoloid Cut Evi Nurjanah; Yanti Meldasari Lubis; Yusriana Yusriana
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian Vol 2, No 3 (2017): Agustus 2017
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (413.946 KB) | DOI: 10.17969/jimfp.v2i3.4053

Abstract

Abstrak  Penggunaan tepung labu kuning sebagai bahan dasar pada pembuatan mi dapat dijadikan sebagai sumber pangan fungsional karena mengandung betakaroten yang berfungsi sebagai antioksidan. Tujuan penelitian yaitu untuk mengetahui mutu fisiko kimia dan organoleptik, dengan penambahan tepung kacang hijau dan tepung kacang kedelai sebagai sumber protein terhadap jenis dan konsetrasi hidrokoloid pada pembuatan mi kering tepung labu kuning. Penelitian ini menggunakan Rangcangan Acak Lengkap (RAL) faktorial dengan dua faktor yang pertama adalah jenis hidrokoloid (H): CMC, Karagenan, Xanthan gum dan Guar gum. Faktor kedua yaitu konsetrasi hidrokoloid (K): 1%, 1,5% dan 2% dari total adonan mi. Mi yang dihasilkan selanjutnya dianalisis kadar air, kadar abu, daya serap air, cooking loss, cooking time, uji organoleptik. Untuk sampel terbaik dilanjutkan analisis kadar lemak, karbohidrat, protein, dan serat kasar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan terbaik pada penelitian ini yaitu dengan perlakuan xanthan gum 1% dengan kadar abu 0,26%, kadar air 2,61%, karbohidrat 47,28%, serat kasar 16,50% kadar protein 8,23% dan lemak 22,70%, daya serap air 256,14 %, cooking loss 17,16% dan cooking time 11,15 menit dan organoleptik warna, rasa, aroma dan tekstur, semuanya netralAbstract. The use of pumpkin flour as a base ingredient in the manufacture of noodles can be used as a functional food source because it contains beta-carotene that serves as an antioxidant. The purpose of this research was to know the quality of chemical and organoleptic physiology, with the addition of green bean flour and soybean flour as a source of protein to the type and concenttration hidrokoloid on the manufacture of dry noodle flour pumpkin. This study used Completely randomized design (RAL) with factorial. the first factor were hydrocolloid (H): CMC, Carrageenan, Xanthan gum and Guar gum. The second factor was the hydrocolloid concentration (K): 1%. 1.5% and 2% of the total batter noodle. The no resulted from process noodle then analyzed the water content, ash content, water absorption, cooking loss, cooking time, organoleptic test. For the best samples continued analysis of fat content, carbohydrates, protein, and crude fiber. The result of this research showed that the best treatment in this research was 1% xanthan gum treatment with ash content 0.26%. water content 2.61%. carbohydrate 47.28%. crude fiber 16.50% protein content 8.23% and Fat 22.70%. water absorption 256.14%. cooking loss 17.16% and cooking time 11.15 minutes and organoleptik color, flavor, aroma and texture, all neutral. Keywords: Pumpkin, the type of hydrocolloid, the concentration of hydrocolloid, dry noodle
Pengendalian Erosi secara Vegetatif Menggunakan Rumput Pait (Axonopus compressus) dan Rumput Alang-alang (Imperata cylindrica) pada Tanah Ordo Ultisols Safriani Safriani; Dewi Sri Jayanti; Syahrul Syahrul
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian Vol 2, No 2 (2017): Mei 2017
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (453.364 KB) | DOI: 10.17969/jimfp.v2i2.3085

Abstract

Abstrak. Perubahan penggunaan lahan pada lahan miring menyebabkan tanah lebih mudah tererosi. Salah satu upaya penanganan erosi dapat dilakukan dengan metoda vegetatif yaitu menggunakan rumput pait (Axonopus compressus) dan rumput alang-alang (Imperata cylindrical) pada tanah ordo ultisols. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan rumput pait dan rumput alang-alang dalam mengurangi erosi tanah pada kemiringan yang berbeda. Penelitian  ini dilakukan di Laboratorium Konservasi Tanah dan Air Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala dengan menggunakan Rainfall Simulator yang ditata dalam kotak uji. Faktor yang digunakan pada penelitian ini adalah kemiringan (main plot factor) dan jenis rumput (sub plot factor). Perlakuan dalam penelitian ini terdiri dari 3 taraf kemiringan, yaitu 5º, 10º, serta 15º dan 3 taraf vegetasi, yaitu tanpa rumput, rumput pait dan rumput alang-alang. Hasil penelitian diperoleh besar erosi yang terjadi pada kemiringan 5º dengan vegetasi tanah tanpa rumput (0,425 ton/ha/tahun), rumput pait (0,375 ton/ha/tahun), dan rumput alang-alang (0,125 ton/ha/tahun). Pada kemiringan 10º dengan vegetasi tanah tanpa rumput (1,102 ton/ha/tahun), rumput pait (0,305 ton/ha/tahun), dan rumput alang-alang (0,414 ton/ha/tahun). Pada kemiringan 15º dengan vegetasi tanah tanpa rumput (2,217 ton/ha/tahun), rumput pait (0,451 ton/ha/tahun), dan rumput alang-alang (0,858 ton/ha/tahun). Hasil pengujian dengan analisis sidik ragam (Ansira) bahwa terdapat perlakuan yang berpengaruh nyata. Perlakuan yang berpengaruh nyata tersebut diantaranya kemiringan, vegetasi, dan kombinasi antara kemiringan dan vegetasi. Sedangkan hasil dari uji lanjut BNT (Beda Nyata Terkecil) menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan pada beberapa perlakuan. Vegetative Erosion Control Using Carpet Grass (Axonopus compressus) and Reed Grass (Imperata cylindrica) in Ordo of Ultisols Abstract. Land use change in the sloping land cause soil erosion easier. One efforts for erosion countermeasure can be made with a vegetative method using carpet grass (Axonopus compressus) and reed grass (Imperata cylindrical) in ordo of ultisols. Therefore this research aim to determine the ability of carpet grass and reed grass in overcoming soil erosion at different slope of land. This research was done in Soil and Water Conservation Laboratory Faculty of Agriculture, University of Syiah Kuala using with Rainfall Simulator arranged in a test box. Factors used in this research is the slope (main plot factor) and type of grass (sub plot factor). The treatment of this research consist of 3 levels slope, namely 5º, 10º and 15º and 3 levels vegetation, namely land without grass, carpet grass and reed grass. The research results are erosion in the slope of 5º with land without grass (0.425 ton/hectare/year), with carpet grass (0.375 ton/hectare/year), and reed grass (0.125 ton/hectare/year). In the slope of 10º with land without grass (1.102 ton/hectare/year), with carpet grass (0.305 ton/hectare/year), and reed grass (0.414 ton/hectare/year). In the slope of 15º with land without grass (2.217 ton/hectare/year), with carpet grass (0.451 ton/hectare/year), and reed grass (0.858 ton/hectare/year). The result of variance  analysis (Anova) show that there are treatments with significant effect. The treatment with significant effect are slope, vegetation, and combination of slope and vegetation. Results from continued test with LSD (Least Significant Difference) show significant difference among treatments.
Analisis Keputusan Pembelian Konsumen Terhadap Cita Rasa Produk dan Suasana Toko Pada Sabi Coffee Space Langsa Amarullah Ambiya; Yusriana Yusriana; Rasdiansyah Rasdiansyah
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian Vol 8, No 2 (2023): Mei 2023
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (340.739 KB) | DOI: 10.17969/jimfp.v8i2.24379

Abstract

Abstrak. Coffee shop merupakan sebuah tempat yang menyediakan minuman kopi dan beberapa varian minuman lainnya dengan nuansa yang lebih modern. Tujuan dari penelitian adalah untuk menganalisis dan mengetahui pengaruh cita rasa produk dan suasana toko terhadap keputusan pembelian konsumen pada Sabi Coffee Space Langsa, baik secara parsial maupun simultan. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Agustus 2022 di Sabi Coffee Space Langsa. Sampel yang diambil dalam penelitian ini sebanyak 100 responden dengan teknik non probability sampling menggunakan metode accidental sampling. Data dianalisis menggunakan metode analisis regresi linier berganda dengan bantuan program Statistical Package for Social Science (SPSS). Hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel suasana toko (X2) memiliki pengaruh paling besar dengan nilai 6,661 terhadap keputusan pembelian dan variabel cita rasa produk (X1) sebesar 3,302. Secara bersama-sama, seluruh variabel bebas berpengaruh secara signifikan terhadap keputusan pembelian dengan nilai sebesar 70,016. Berdasarkan nilai koefisien determinasi, didapatkan hasil sebesar 0,591 atau 59,1% sedangkan sisanya 40,9% dipengaruhi oleh faktor-faktor lain di luar variabel penelitian.Analysis of Consumer Purchasing Decisions on Product Taste and Store Atmosphere at Sabi Coffee Space LangsaAbstract. Coffee shop is a place that provides coffee drinks and several other beverage variants with more modern feel. The purpose of the research is to analyze and determine the effect from product taste, price, service and store atmosphere on consumer purchasing decisions at Sabi Coffee Space Langsa, both partially and simultaneously. This research was conducted in August 2022 at Sabi Coffee Space Langsa. The sample taken in this research was 100 respondents with non probability sampling technique using accidental sampling method. The data were analyzed using multiple linear regression analysis methods with the help of the Statistical Package for Social Science (SPSS) program. The results showed that the store atmosphere variable (X2) had the greatest effect with a value of 6,661 on purchasing decisions and the product taste variable (X1) is 3,302. Simultaneously, all independent variables have a significant effect on purchasing decisions with a value of 70,016. Based on the coefficient of determination, the result is 0.591 or 59,1%, while the remaining 40,9% is influenced by other factors outside the research variables.

Page 63 of 103 | Total Record : 1028