cover
Contact Name
Dewi Yunita
Contact Email
dewi_yunita@usk.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jimfp@usk.ac.id
Editorial Address
Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala Jl. Tgk Hasan Krueng Kalee No. 3 Darussalam Banda Aceh, Indonesia 23111
Location
Kab. aceh besar,
Aceh
INDONESIA
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian
ISSN : 26152878     EISSN : 26146053     DOI : http://dx.doi.org/10.17969/jimfp
Core Subject : Agriculture,
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian (JIMFP) diterbitkan oleh Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala. Merupakan media jurnal elektronik sebagai wadah untuk penyebaran dan publikasi hasil penelitian dari skripsi/tugas akhir dan atau sebagian dari skripsi/tugas akhir mahasiswa strata satu (S1) Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala yang merupakan kewajiban setiap mahasiswa untuk mengunggah karya ilmiah sebagai salah satu syarat untuk yudisium dan wisuda sarjana. Artikel ditulis bersama dosen pembimbingnya serta diterbitkan secara online setelah melewati proses review oleh 2 orang reviewer dan editor JIMFP. JIMFP menerbitkan artikel ilmiah mahasiswa dari delapan Program Studi (Prodi), yaitu Prodi Agribisnis, Prodi Agroteknologi, Prodi Peternakan, Prodi Teknologi Hasil Pertanian, Prodi Teknik Pertanian, Prodi Ilmu Tanah, Prodi Proteksi Tanaman dan Prodi Kehutanan. JIMFP terbit satu volume dan empat nomor dalam setahun, yaitu setiap bulan Februari, Mei, Agustus dan November.
Articles 1,028 Documents
Keanekaragaman Jenis Meranti (Shorea spp.) di Hutan Arul Relem Kecamatan Pining Kabupaten Gayo Lues Farida Husna; Iqbar Iqbar; Ashabul Anhar
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian Vol 6, No 4 (2021): November 2021
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (590.483 KB) | DOI: 10.17969/jimfp.v6i4.18255

Abstract

Abstrak. Hutan Arul Relem merupakan salah satu hutan lindung di Kecamatan Pining, Kabupaten Gayo Lues yang memiliki flora dan fauna. Salah satu flora yang terdapat di Hutan Arul Relem adalah meranti. Keanekaragaman jenis meranti di Hutan Arul Relem belum diketahui. Oleh karena itu perlu dilakukan penelitian mengenai keanekaragaman jenis meranti (Shorea spp.) yang bertujuan untuk mengidentifikasi, mengetahui indeks nilai penting, mengetahui indeks keanekaragaman, dan menentukan status konservasi jenis meranti berdasarkan Peraturan Perundang-undangan Indonesia dan IUCN (International Union for Conservation of Nature) di Hutan Arul Relem. Metode yang digunakan dalam penelitian ini metode garis berpetak. Terdapat 4 transek dengan panjang 180 m, jarak antar transek 50 m. pada setiap transek terdapat 5 plot contoh dengan ukuran 20 m x 20 m yang diletakkan pada masing-masing transek, jarak antarplot dalam transek 20 m. Berdasarkan hasil penelitian ditemukan 4 jenis meranti di Hutan Arul Relem yaitu Shorea platyclados, Shorea leprosula, Shorea sumatrana dan Shorea parvifolia. Indeks nilai penting jenis meranti paling tinggi tingkat semai terdapat pada Shorea sumatrana (INP: 77,71%), tingkat pancang yaitu Shorea platyclados (INP: 125%), tingkat tiang yaitu Shorea sumatrana (INP: 221,75%), tingkat pohon yaitu Shorea platyclados (INP: 112,42%). Indeks keanekaragaman jenis meranti di Hutan Arul Relem pada tingkat semai 1,33, pancang 0,56, tiang 0,56 dan tingkat pohon 1,16. Hal ini menunjukkan bahwa keanekaragaman jenis meranti pada tingkat semai dan pohon dikategorikan sedang melimpah, sedangkan pada tingkat pancang dan tiang dikategorikan rendah. Empat jens meranti di Hutan Arul Relem, Kecamatan Pining tercantum dalam red list IUCN dengan kategori endangered, least concern, dan near threatened.Abstract. Arul Relem Forest is a protected forest in Pining Sub-Regency, Gayo Lues Regency which has a flora and fauna. One of the flora in Arul Relem Forest is meranti. The diversity of meranti species in the Arul Relem Forest is not yet known. Therefore, it is necessary to conduct a research on the diversity meranti species (Shorea spp.) in the Arul Relem Forest with the aim of identifying, knowing the importance value index, knowing the diversity of index, and determining the conservation status of meranti species based on Indonesian laws and regulations and IUCN (International Union for Conservation of nature) in the Arul Relem Forest. The method used in this research is the line-transect method. There are 4 transects with a length of 180 m with the distance between transects of 50 m. On each transects there are 5 sample plots with a size of 20 m x 20 m which are placed on each transects with 20 m distance between plots in the transect. Based on the result of the study, 4 types of meranti are found in the Arul Relem Forest, namely Shorea platyclados, Shorea leprosula, Shorea sumatrana, and Shorea parvifolia. The highest importance index of meranti species at the seedling level was found in Shorea sumatrana (IVI:77,71%), at the sapling level was found in Shorea platycaldos (IVI:125%), at the pole level was Shorea sumatrana (IVI:221,75%), and at tree level was Shorea platyclados (IVI:112,42%). Meranti species diversity index in Arul Relem Forest was 1,33 at the seedling level, 0,56 at the sapling level, 0,56 at the pole level, and 1,16 at the tree level. This shows that the diversity of meranti species at the seedling and tree levels is categorized as moderately abundant, while the sapling and pole level are categorized as low. Four of meranti species in Arul Relem Forest, Pining Sub-Regency are listed on the IUCN red list with the categories of endangered, least concern, and near threatened.
Pengaruh Ukuran Partikel Biochar Bambu Terhadap Sifat Fisika Tanah, Kadar Hara N, P, K dan Produksi Tanaman Kedelai (Glycine max L.) Selama Dua Musim Tanam (Jagung - Kedelai) Putri Fadilah; Manfarizah Manfarizah; Darusman Darusman
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian Vol 6, No 3 (2021): Agustus 2021
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (373.116 KB) | DOI: 10.17969/jimfp.v6i3.17590

Abstract

Abstrak. Bambu merupakan salah satu bahan baku yang dapat digunakan untuk memproduksi arang aktif karena mempunyai daya adsorbsi dan kapasitas tukar kation yang tinggi. Biochar dengan ukuran partikel yang berbeda memberikan pengaruh yang berbeda terhadap tanah. Penelitian ini menggunakan rancangan acak kelompok (RAK) non faktorial dengan empat perlakuan ukuran partikel biochar yang diulang sebanyak tiga kali sehingga menghasilkan 12 satuan plot percobaan dengan dosis biochar sebanyak 15 ton ha-1. Perlakuannya yaitu P0: Kontrol, P1: Biochar berukuran 5.00 - 2.00 mm, P2: Biochar berukuran 2.00 - 1.00 mm, P3: Biochar berukuran 1.00 - 0.5 mm.Tiga parameter yang diteliti dalam penelitian ini yaitu parameter sifat fisika tanah meliputi Berat volume tanah, Porositas, Permeabilitas, Kapasitas menyimpan air (WHC), Daya hantar listrik (DHL), dan pH tanah (H2O); parameter kadar hara tanah meliputi N-total, P-total, dan K-total; dan parameter produksi meliputi polong berisi, polong hampa, total polong, berat biji kering, berat 100 biji dan produksi tanaman kedelai ton ha-1. Penelitian ini dilaksanakan pada kebun percobaan ACIAR Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala sejak bulan Juli sampai November 2020, analisis tanah dan kadar hara dilaksanakan di Laboratorium Fisika Tanah dan Laboratorium Penelitian Tanah dan Tanaman, Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala. Hasil penelitian ini didapatkan bahwa kadar hara N-total dan berat 100 biji berpengaruh sangat nyata pada taraf 1%. Ukuran biochar bambu yang baik secara keseluruhan dalam memperbaiki sifat fisika tanah, kadar hara tanaman, dan produksi tanaman kedelai adalah biochar yang berukuran 1.00 – 0.5 mm (P3).Influence of Different Sizes of Bamboo Biochar on Soil Physical Properties, Nutrient Uptace N, P, K and Soybean Crop Yield During Two Growing Season (Corn -Soybean)Abstract. Bamboo is one of the raw materials that can be used to produce activated biochar because it has high adsorption and cation exchange capacity. Biochar with different particle sizes has different effects on the soil. This study used a non-factorial randomized block design (RBD) with four treatments of biochar size which were repeated three times so as to produce 12 experimental plot units with a biochar dose of 15 tons ha-1. the treatments were P0: Control, P1: Biochar measuring 5.00 - 2.00 mm, P2: Biochar measuring 2.00 - 1.00 mm, P3: Biochar measuring 1.00 - 0.5 mm. Three parameters studied in this study were of soil physical properties including Bulk density, Porosity, Permeability, Water holding capacity (WHC), Electrical conductivity (DHL), and soil pH (H2O); soil nutrient content parameters include N-total, P-total, and K-total; and production parameters include filled pods, empty pods, total pods, dry seed weight, weight of 100 seeds and soybean crop production ton ha-1. This research was carried out at the ACIAR experimental garden, Faculty of Agriculture, Syiah Kuala University from July to November 2020, soil analysis and nutrient content were carried at the Soil Physics Laboratory and Soil and Plant Research Laboratory, Faculty of Agriculture, Syiah Kuala University. The results of this study showed that the total N-nutrient content and weight of 100 seeds had a very significant effect at the 1% level. The overall good size of bamboo biochar in improving soil physical properties, plant nutrient content, and soybean production is biochar measuring 1.00 – 0.5 mm (P3).
Identifikasi Tutupan Lahan Menggunakan Citra Satelit di Kawasan Taman Buru Lingga Isaq, Kabupaten Aceh Tengah Putri Tawarnate; Ryan Moulana; Muhammad Rusdi
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian Vol 5, No 1 (2020): Februari 2020
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (614.483 KB) | DOI: 10.17969/jimfp.v5i1.13752

Abstract

Abstrak.Taman Buru Lingga Isaq merupakan habitat bagi banyak satwa liar potensi yang ada didalam kawasan tersebut mulai dari hasil hutan kayu dan hasil hutan bukan kayu. Keberlangsungan kawasan Taman Buru Lingga Isaq dipengaruhi oleh keadaan tutupan lahan. Untuk mengidentifikasi tutupan lahan yang berada dikawasan Taman Buru dengan menggunakan citra satelit bing maps atau foto udara. Penelitiaan ini bertujuan untuk mengidentifikasi tutupan lahan dan memetakan tutupan lahan. Metode yang digunakan yaitu interpretasi citra secara visual. Hasil klasifikasi tutupan lahan di kawasan Taman Buru Lingga Isaq didapati enam kelas tutupan lahan. Identification Of Land Cover Using Satellite Imagery In The Area Of The Lingga Isaq Park, Central Aceh DistrictAbstract. Lingga isaq park is a habitat for many potential wildlife in the area ranging from timber forest products and non-timber forest products. The sustainability of the isaq phallus hunting park area is influenced by the state of land cover. To identifty land cover within the hunting park area using satellite maps of bing maps or aerial photographs. This study aims to odentify land cover and map land cover. The method used is visual image interpretation. The results of the classification of land cover in area of the hurry lingga isaq park found six classes of land cover 
Kajian Variasi Lama Perendaman Dalam Larutan Natrium Metabisulfit (Na2S2O5) Terhadap Kualitas Tepung Pisang Kepok (Musa Paradisiaca) Ade Rika Marsita; Ratna Ratna; Bambang Sukarno Putra
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian Vol 4, No 4 (2019): November 2019
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (807.46 KB) | DOI: 10.17969/jimfp.v4i4.12670

Abstract

Abstrak.Pisang merupakan buah yang sering dikonsumsi oleh masyarakat dibandingkan dengan buah yang lain. Buah pisang memiliki kandungan gizi yang tinggi, diantaranya mengandung vitamin C, vitamin B, sejumlah serat dan berbagai mineral yang penting untuk tubuh. Penelitian ini Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh larutan natrium metabisulfit 3000 ppm terhadap variasi lama perendaman terhadap kualitas tepung pisang kepok. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) non faktorial dengan variasi lama perendaman 0, 20, 40, dan 60 menit. Parameter penelitian meliputi rendemen, kadar air, kadar pati, derajat keasaman (pH), uji hedonik warna, aroma dan rasa. Hasil penelitian kajian variasi lama perendaman dalam larutan natrium metabisulfit pada pengolahan tepung pisang kepok terhadap rendemen berkisar antara 12,12%-12,63%, kadar air berkisar antara 6,28%-6,96%, kadar pati pisang berkisar antara 22,52%-25,96%, pH berkisar antara 6,20-6,40, uji organoleptik warna berkisar antara 3,87-4,4, aroma berkisar antara 2,67-3,73, dan rasa berkisar antara 3,43-3,71. Berdasarkan analisis sidik ragam lama perendaman dalam larutan natrium metabisulfit 3000 ppm berpengaruh nyata terhadap uji kesukaan hedonik warna dengan skor tertinggi 4 (suka) pada lama perendaman 60 menit, dan berpengaruh nyata terhadap uji organoleptik hedonik aroma dengan skor tertinggi 3 (netral) pada perendaman 0 menit. Namun lama perendaman dalam larutan natrium metabisulfit 3000 ppm berpengaruh tidak nyata terhadap rendemen, kadar air, kadar pati, derajat keasaman, dan uji hedonik rasa. Berdasarkan hasil uji lanjut BNT dapat disimpulkan bahwa perlakuan terbaik terdapat pada lama perendaman 20 menit mendapatkan penilaian organoleptik pada warna dengan skor 4,23 dan aroma dengan skor 3,57 serta pada rasa dengan skor 3,67. Pada perendaman 20 menit ini didapatkan hasil rendemen dengan persentasi 12,50 % dan kadar air 6,41 % serta didapatkan kadar pati sebesar 22,85 %, adapun derajat keasaman yang didapat 6,31 .Study Of Variation During The Immersion In Sodium Metabisulfite Solution (Na2S2O5)  On Quality Of Flour Banana Kepok(Musa Paradisiaca)Abstract. Banana is a fruit that is often consumed by the public compared to other fruits. Banana fruit has a high nutritional content, including vitamin C, vitamin B, a number of fiber and various minerals that are important for the body. This study aims to determine the effect of 3000 ppm sodium metabisulfite solution on variations in soaking time on the quality of Kepok banana flour. This study uses a non-factorial Complete Randomized Design (RAL) with variations of immersion time 0, 20, 40, and 60 minutes. Research parameters include yield, water content, starch content, acidity (pH), hedonic test of color, aroma, and taste. The results of research studies the variation of immersion time in sodium metabisulfite solution in the processing of Kepok banana flour to yields ranged from 12.12% -12.63%, water content ranged from 6.28% -6.96%, banana starch levels ranged between 22, 52% -25.96%, pH ranged from 6.20 to 6.40, organoleptic test colors ranged from 3.87-4.4, aromas ranged from 2.67 to 3.73, and flavors ranged from 3.43 -3.71. Based on the analysis of various immersion length immersion in sodium metabisulfite solution 3000 ppm significantly affected the color hedonic preference test with the highest score of 4 (likes) on the 60 minute immersion time, and significantly affected the organoleptic aroma hedonic test with the highest score of 3 (neutral) on immersion 0 minute. However, soaking time in 3000 ppm sodium metabisulfite solution did not significantly affect yield, water content, starch content, acidity, and taste hedonic test. Based on the results of BNT further tests, it can be concluded that the best treatment found in the 20 minute soaking time received organoleptic assessment of color with a score of 4.23 and aroma with a score of 3.57 and on taste with a score of 3.67. In this 20 minute immersion, the yield was 12.50% and the water content was 6.41% and the starch content was 22.85%, while the degree of acidity was 6.31.
Pemilihan Teknik Akuisisi Spektrum NIRS untuk Membedakan Kopi Arabika dan Kopi Robusta Gayo dengan Metode PCA (Principal Component Analysis) Almizan Almizan; Rahmat Fadhil; Zulfahrizal Zulfahrizal
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian Vol 5, No 1 (2020): Februari 2020
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1014.965 KB) | DOI: 10.17969/jimfp.v5i1.13635

Abstract

Abstrak. Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah menentukan teknik akuisisi spektrum NIRS untuk membedakan kopi Arabika Gayo dan kopi Robusta Gayo dengan menggunakan metode PCA. Penelitian ini menggunakan sampel biji Kopi Arabika dan Robusta Gayo dalam tiga bentuk, yaitu biji kopi beras, biji kopi sangrai dan bubuk. Jumlah sampel yang digunakan pada penelitian ini sebanyak 90 sampel. perlakuan yang dilakukan diantaranya klasifikasi kopi arabika murni dan robusta murni, dan klasifikasi Arabika dan Robusta murni dengan campuran diantara keduanya. Untuk persentase pencampuran yang dilakukan yaitu 25% Arabika dan 75% Robusta. Alat yang dipakai untuk penelitan ini adalah self developed FT-IR IPTEK T-1516. Penelitian ini menghasilkan (1) teknik akuisisi yang baik untuk spektrum NIRS kopi  dengan ketentuan alat bekerja melakukan pemindaian sebanyak 32 kali, optical gain 8 kali, resolusi 8,0 cm-1 pada rentang 1000-2500 nm dengan interval 0,4 nm dan akuisisi dapat dilakukan baik dalam bentuk biji beras,biji sangrai dan bubuk. (2) NIRS dengan metode PCA mampu mengklasifikasi ketiga bentuk sampel dengan baik dimana tingkat keberhasilan di atas 90%.Selection of NIRS Spectrum Acquisition Technique for Differentiating Gayo Arabica and Robusta Gayo Coffee by PCA MethodAbstract. This research aims to determine the technique of NIRS spectrum acquisition to differentiate Gayo Arabica coffee and Gayo Robusta coffee using PCA method. This study uses samples of Gayo Arabica and Gayo Robusta coffee beans in three forms, namely green beans, roasted beans and coffee powder. Total samples  used in this study were 90 samples. Treatment for the classification included pure Arabica coffee and pure Robusta coffee, and pure Arabica and Robusta coffee with a mixture between the two. The mixture percentage consist of 25% Arabica and 75% Robusta. The tool used for this research was self-developed FT-IR IPTEK T-1516. The results of the research obtained as follows: (1) NIRS Spectrum Acquisition Technique for the best results was obtained by green beans, roasted beans and coffee powder at scan number 32 times, optical gain 8 times, resolution of 8 cm-1, and at wavenumber 1000 nm-2500 nm with intervals of 0.4 nm; (2) NIRS technology combined with PCA method are able to classify all three sample forms well where the success rate is above 90%. 
Kajian Pengering Kopi Gayo Semi Basah Menggunakan Alat Pengering Tipe Hohenheim Antoni Hardi; Ichwana Ichwana; Rita Khathir
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian Vol 4, No 4 (2019): November 2019
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (837.751 KB) | DOI: 10.17969/jimfp.v4i4.12803

Abstract

Abstrak. Sebagai produsen kopi Arabica, masyarakat Gayo terkendala pada suhu lokal di Aceh Tengah yang relatif dingin dan teknologi sederhana yang digunakan untuk proses pengeringan kopi. Suhu rata-rata harian adalah 23-29°C. Bahan yang digunakan pada penelitian ini yaitu biji kopi yang diolah dengan metode semi basah sebanyak 9kg. Parameter penelitian meliputi suhu pengeringan, kelembaban relatif, kadar air dan rendemen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa suhu pengeringan menggunakan alat pengering Hohenheim jauh lebih tinggi sekitar 10-20°C dari suhu pengeringan secara penjemuran. Proses pengeringan kopi labu sampai bisa digiling membutuhkan waktu selama 12 jam yaitu 8 jam pada hari pertama dan 4 jam pada hari ke-2. Sedangkan proses pengeringan tahap 2 membutuhkan waktu selama 16 jam sampai menghasilkan kopi beras dengan kadar air 9,32%. Kualitas kopi beras yang dihasilkan sudah baik dengan kadar air  yang sudah memenuhi standar SNI, tidak berbau busuk, dan tidak terkontaminasi. Nilai rendemen kopi beras berbasis kopi labu adalah 35%.Study of Drying Semi Washed Gayo Coffee Use Dryer Type Hohenheim Abstrack. As an Arabica coffee producer, the Gayo community is constrained by the relatively cold local temperatures in Central Aceh and the simple technology used for the coffee drying process. The average daily temperature is 23-29 ° C. The material used in this study was coffee beans which were processed by the semi-wet method of 9kg. Research parameters include drying temperature, relative humidity, moisture content and yield. The results showed that the drying temperature using a Hohenheim dryer is much higher around 10-20 ° C than the drying temperature by drying. The process of drying pumpkin coffee until it can be ground needs 12 hours, which is 8 hours on the first day and 4 hours on the second day. While the process of drying stage 2 takes 16 hours to produce rice coffee with a moisture content of 9.32%. The quality of rice coffee produced is good with water content that meets SNI standards, does not smell bad, and is not contaminated. The yield of pumpkin coffee-based rice coffee is 35%.
Analisis Tata Letak Fasilitas Pabrik Pengolahan Kopi Menggunakan Systematic Layout Planning Yanda Putri Aulia; Raida Agustina; Rita Khathir
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian Vol 3, No 3 (2018): Agustus 2018
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17969/jimfp.v3i3.8072

Abstract

Abstrak. Penelitian ini bertujuan menganalisis tata letak fasilitas pabrik kopimenggunakan Systematic Layout Planning (SLP). Penelitian dilakukan pada pabrik pengolahan kopi arabika PT. Ketiara Takengon Aceh Tengah. Evaluasi tata letak, dilakukan dengan membandingkan momen perpindahanbahan dan efesiensinya terhadap layout awal. Data yang digunakan adalah volume produksi per tahun, jumlah dan dimensi mesin, tipe kemasan, luas ruangan dan layout awal. Proses pengolahan kopi terdiri dari penimbangan, penggilingan, penjemuran, sortasi, cupping test, blending, dan pengemasan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa frekuensi perpindahan bahan adalah 2.496 kali per tahun. Momen perpindahan proses pengolahan kopi pada PT. Ketiara berdasarkan layout awal adalahsebesar 596.818,56 m/tahun. Momen perpindahan berdasarkan layout alternatif A sebesar 512.628,48 m/tahun atau memiliki efesiensi 14,11%, sedangkan momen perpindahan berdasarkan layout alternatif B sebesar 291.233,28 m/tahun atau memiliki efesiensi sebesar 51,20 %. Dengan demikian pabrik pengolahan kopi PT. Ketiara direkomendasikan untuk menggunakan layout alternatif B.Analysis Facility’s Layout of Coffee Factory by Using Systematic Layout PlanningAbstract. This research aimed to analyze the facility layout of coffee factory by using Systematic Layout Planning (SLP). The study was conductedat coffee factory of PT. Ketiara located in Takengon, Central Aceh Regency. The layout analysis was done by evaluating the material handling moment and efficiency to the recent layout production.  The data used were production volume, number and dimension of machines, packaging types, area for facilities and recent layout.   The coffee processing consisted of weighing,milling, drying, sorting, cupping test, blending, and packaging. The material handling monent based on recent layout was 596,818.56 m/year. The material handling moment based on the first alternative layout (A) was 512,628.48 m/year or with eficiency of 14.11%, whereas  the handling moment based on the second alternative layout (B) was 291,233.28 m/year or with effeciency of 51.20%. Therefore, it is strongly recommended to PT. Ketiara to use  the second alternative layout (B).
Peranan Panglima Laot Lhok Dalam Pengelolaan Sumberdaya Laut Berbasis Adat Di Kecamatan Mesjid Raya Kabupaten Aceh Besar Zaitun Munar; agussabti agussabti; irwan. A Kadir
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian Vol 3, No 4 (2018): November 2018
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (285.171 KB) | DOI: 10.17969/jimfp.v3i4.8726

Abstract

Abstrak. Panglima Laot lhok adalah pemimpin nelayan yang secara hukum adat laut (hukum adat laot) bertugas mengkoordinasikan satu atau lebih wilayah operasional nelayan, dan minimal satu pemukiman nelayan. Panglima Laot lhok mempunyai fungsi untuk mengatur pengaturan penangkapan ikan dan mempunyai kewenangan untuk menyelesaikan sengketa, perselisihan dan pelanggaran yang terjadi diantara nelayan dan memberikan sanksi kepada si pelanggar sesuai dengan ketentuan hukum adat laut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kondisi eksisting panglima laot lhok, untuk mengetahui peranan panglima laot lhok dalam pengelolaan sumberdaya laut berbasis adat dan mengidentifikasi faktor –faktor yang mempengaruhi persepsi nelayan terhadap peran panglima laot lhok. Lokasi penelitian  yaitu di Kecamatan Masjid raya Kabupaten Aceh Besar . Jumlah sample ditentukan secara purposive sampling yaitu 40 sampel. Penelitian ini menggunakan metode Skala Likert, deskriptif dan analisis  regresi linier berganda. Hasil penelitian didapat bahwa keradaan Panglima Laot Di Kecamatan Masjid Raya masih aktif, dapat kita lihat hukum adat masih dijalani oleh para nelayan. Peranan panglima laot lhok di kecamatan masjid raya berada pada kategori berperan . Faktor yang mempengaruhi persepsi nelayan terhadap peran Panglima Laot Lhok yaitu variabel Kapasitas panglima laot lhok (X1), kepribadian (X2), hubungan sosial (X4) dan lingkungan (X5), secara simultan semua faktor-faktor tersebut mempengaruhi peran panglima laot lhok.The Role Of Panglima Laot Lhok In The Management Marine Resources Based On Custom In Kecamatan Mesjid Raya Kabupaten Aceh BesarAbstract. Panglima Laot lhok is a fisherman leader who is legally marine (laot customary law) in charge of coordinating one or more fishermen's operational areas, and at least one fisherman's settlement. Panglima Laot lhok has a function to regulate fishing arrangements and has the authority to resolve disputes, disputes and violations that occur between fishermen and sanction the offenders in accordance with the provisions of customary law of the sea. This study aims to determine the existing condition of commander laot lhok, to know the role of commander laot lhok in the management of marine resources based on adat and identify factors influencing perception of fisherman to role of commander of laot lhok. The research location is in kecamatan Masjid raya kabupaten Aceh Besar. The number of samples is determined by purposive sampling that is 40 samples. This research uses Likert Scale method, descriptive and multiple linear regression analysis. The results obtained that the presence of Panglima Laot In kecamatan Masjid Raya is still active, we can see the customary law is still undertaken by the fishermen. The role of commander of laot lhok in sub-district of mosque is in the role category. Factors influencing the perception of fishermen on the role Panglima Laot Lhok are the variables Capacity panglima laot lhok (X1), personality (X2), social relations (X4) and environment (X5), simultaneously all these factors affect the role of panglima laot lhok.  
Uji masa simpan pelet Trichoderma harzianum dan kemampuannya dalam menghambat perkembangan penyakit Layu Fusarium pada bibit tomat. Rizka Musfirah; Rina Sriwati; Tjut Chamzurni
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian Vol 3, No 2 (2018): Mei 2018
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (719.204 KB) | DOI: 10.17969/jimfp.v3i2.7439

Abstract

Abstrak. Tomat (Solanum lycopersicum) merupakan salah satu komoditas pertanian yang ditanam secara luas di seluruh dunia, termasuk di Indonesia, karena memiliki rasa yang khas dan enak, juga memiliki nilai gizi seperti sumber vitamin A dan C yang sangat baik. Produksi tomat mengalami penurunan setiap tahun, salah satunya diakibatkan oleh organisme penganggu tanaman (OPT) yaitu patogen Fusarium oxysporum sehingga perlu dilakukan pengendalian hayati yaitu menggunakan Trichoderma harzianum dalam bentuk formulasi pelet yang praktis, efektif, dan efesien. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) non faktorial yang terdiri dari 6 perlakuan dengan 3 ulangan, setiap perlakuan terdiri dari 10 unit bibit tomat. Penelitian ini terdiri dari 6 perlakuan yaitu perlakuan A (masa simpan pelet T. harzianum  4 minggu), B (masa simpan pelet T. harzianum 3 minggu), C (masa simpan pelet T. harzianum 2 minggu), D (masa simpan pelet T. harzianum 1 minggu), E (masa simpan pelet T. harzianum 0 minggu), F (tanpa perlakuan pelet T. harzianum). Peubah yang diamati yaitu pre-emergence damping off, post-emergence damping off, masa inkubasi, persentase tanaman layu, tinggi tanaman, dan jumlah daun. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelet T. harzianum yang disimpan 4 minggu efektif dalam menghambat perkembangan penyakit layu fusarium seperti menunda masa inkubasi sampai 7 HSI, menekan pre-emergence damping off sampai 90%, post-emergence damping off 92,95%, serta mampu meningkatkan tinggi tanaman sampai 19,63 cm dan meningkatkan jumlah daun rata-rata 7 helai pada 35 HSI. (Storing Period of Trichoderma harzianum Pellets and its ability to Inhibit the development of Fusarium Wilt Disease on Tomato Seeds)Abstract. Tomato (Solanum lycopersicum) is one of the most widely grown commodities in the world, including Indonesia. It has a distinctively good taste and many nutritional value such as vitamin A and C. However, tomato production has decreased every year. One of the main cause is the attacks by pathogens, named Fusarium oxysporum. A Biological control is necessary and the use of Trichoderma harzianum in the form of pellets is recommended because of its effectiveness, efficiency and practical use. This research used a Completely Randomized Design (RAL) non-factorial consisted of 6 treatments with 3 replications, each treatment consisted of 10 units of tomato seedlings. The 6 treatments are named as treatment A (T. harzianum pellet saving 4 weeks), B (T. harzianum pellet saving period 3 weeks), C (shelf life of 2 weeks T. harzianum pellet), D (shelf life of pellet T harzianum 1 week), E (shelf life of pellet T. harzianum 0 weeks), and F (without T. harzianum pellet treatment). The variables observed in this study are pre-emergence damping off, post-emergence damping off, incubation period, the percentage of wilted plants, plant height, and the number of leaves. The results showed that pellets of T. harzianum stored 4 weeks effectively inhibiting the development of fusarium wilt disease such as delaying incubation period up to 7 HSI (Days After Incubation), suppressing the pre-emergence damping off up to 90% and post-emergence damping off to 92.95%, also able to increase the plant height up to 19.63 cm and increase the average leaf number of 7 strands at 35 HSI.
Pemanfaatan Ampas Tahu dan Ikan Tongkol Sebagai Substitusi Protein dengan Penambahan Tepung Maizena dalam Pembuatan Nugget Eva Dewi; Dian Hasni; Rasdiansyah Rasdiansyah
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian Vol 1, No 1 (2016): November 2016
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (598.17 KB) | DOI: 10.17969/jimfp.v1i1.1253

Abstract

Abstract. Ampas tahu adalah limbah padat hasil indsutri pembuatan tahu. Ampas tahu masih layak dijadikan bahan pangan karena masih mengandung nutrisi seperti protein, lemak dan serat kasar. Salah satu pemanfaatan ampas tahu sebagai produk pangan adalah bahan pembuatan nugget. Bahan pengisi dalam pembuatan nugget ini adalah tepung meizena dan berfungsi sebagai bahan pengikat. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) Faktorial dengan dua (2) faktor yaitu perbandingan ampas tahu dan ikan tongkol  P1 = 0 : 1, P2 = 1,5 : 1, dan P3 = 3 : 1) dan konsentrasi tepung meizena (K1 = 30%, K2 = 40%, dan K3 = 50%) dengan tiga ulangan. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa perlakuan perbandingan ampas tahu dan ikan tongkol berpengaruh terhadap rendemen, protein dan organoleptik aroma nugget. Jika dibandingkan dengan SNI, penelitian ini secara umum belum memenuhi standar mutu nugget yang telah ditentukan dalam SNI. Abstract. Pulp tofu is a solid waste product in tofu industry. However, it could be consumed as a food because it contains nutrition such as protein, fat and fiber. One of pulp tofu utilizations is as an ingredient in the production of nugget. Corn starch was used as a filler ingredient. A Completely Randomnized Design (CRD) was used in this experiment consisted of two factors with 3 replicates. The first factor was pulp tofu and tuna ratio which consisted of 3 levels (P1 = 0:1, P2 = 1.5:1 and P3 = 3 : 1). The second factor was corn starch concentration which consisted of 3 levels (K1 = 30%, K2 = 40% and K3 = 50%). The results showed that the ratio between pulp tofu and tuna had highly significant effects (P≤0,05) on yield, protein and aroma organoleptic of tofu nugget. Compared to SNI (Indonesian National Standard), the nugget had fulfilled the SNI standard.

Page 81 of 103 | Total Record : 1028