cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
jurnalfikom@yahoo.co.id
Editorial Address
Jalan Raya Kaligawe Km.4 Semarang 50112
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Ilmiah Komunikasi Makna
ISSN : 20872461     EISSN : 23374616     DOI : 10.30659/jikm
Core Subject : Education,
Jurnal Ilmiah Komunikasi Makna (E-ISSN: 2337-4616, P-ISSN 2087-2461) is a Scientific Journal published by the Department of Communication Science, Faculty of Language and Communication Science, Universitas Islam Sultan Agung (UNISSULA) Semarang. Jurnal Ilmiah Komunikasi Makna is intended to the national and international scholarly community. The aim of this journal is to publish high-quality articles dedicated to all aspects of the latest outstanding developments in the field of communication. Articles published are the results of research, bringing the new sights (scope) on Cultural Studies, Public Relations, and Media.
Articles 148 Documents
BARBIE SEBAGAI IKON GAYA HIDUP WANITA MODERN Kheyene Molekandella Boer
Jurnal Ilmiah Komunikasi Makna Vol 2, No 2 (2012): Jurnal Komunikasi Makna Vol. 2 No. 2 Agustus 2011 - Januari 2012
Publisher : Program Studi Ilmu Komunikasi FBIK Unissula

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30659/jikm.2.2.125-131

Abstract

Barbie sebagai ikon budaya konsumerisme yang telah mendunia hingga mampu menjamah konsumen dewasa. Barbie kini tak identik bagi kalangan anak anak dibawah umur yang menjadikan boneka sebagai hiburan dan mediator berkomunikasi dengan imajinasi yang dimiliki anak anak pada umumnya, tetapi barbie dapat memberikan makna rasa kecantikan yang sesungguhnya bagi kaum wanita dewasa. Barbie sebagai piranti yang menggerakan dan mengendalikan komponen komponen pikiran manusia dengan menjajali pemaknaan dunia sesuai tujuan dan standart yang mereka miliki. Fantasi nilai kecantikan tertinggi bagi perempuan menjadikan barbie sebagai kiblat bagi hampir semua perempuan dunia. Barbie adalah ikon rasisme, seksisme, konsumerisme dan materialisme merupakan produk kapitalisme dunia barat yang mengajarkan ideologi kemanusiaan yang salah.Kata kunci: Barbie, Feminis, Rasisme, Pop Culture
KONSTRUKSI KOMENTAR PADA MEDIA DETIK.COM TERHADAP PENCITRAAN JOKOWI Mariko Rizkiansyah; Ica Wulansari
Jurnal Ilmiah Komunikasi Makna Vol 4, No 1 (2013): Februari 2013
Publisher : Program Studi Ilmu Komunikasi FBIK Unissula

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30659/jikm.4.1.36-49

Abstract

Era komunikasi berbasis internet digunakan oleh semua media massa. Di Indonesia, detik.com adalah media massa pertama berdasarkan internet untuk menyebarkan berita. Namun, detik. com telah diubah dua cara komunikasi yang mengakomodasi penonton `komentar sebelum berita. Tulisan ini bertujuan untuk menganalisis komentar terkait dengan citra Jokowi `s di detik.com. Makalah ini menggunakan metode penelitian deskriptif dan teknik analisis isi. Penelitian ini menggunakan jumlah komentar terkait dengan berita pada gambar Jokowi `s di detik.com mulai dari 24 Juni 2012 sampai 8 Maret 2013.Kata kunci: Jokowi, Detik.com, Berita, Komentar dan Image
PENGARUH PERUBAHAN NAMA TERHADAP CITRA PADA TELKOM UNIVERSITY Felesia Ekafaya Kirianawati; Roro Retno Wulan; Kharisma Nasionalita
Jurnal Ilmiah Komunikasi Makna Vol 6, No 1 (2015)
Publisher : Program Studi Ilmu Komunikasi FBIK Unissula

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30659/jikm.6.1.1-12

Abstract

Telkom University adalah salah satu peruguruan tinggi swasta di Bandung, disahkan pada tanggal 14 Agustus 2013. Telkom University merupakan transformasi dari STT Telkom yang telah berdiri pada tahun 1990. Berdasarkan hasil observasi awal yang dilakukan peneliti, menunjukkan bahwa mayoritas masyarakat menganggap Telkom University masih sama sebagai STT Telkom. Padahal Telkom University dengan STT Telkom memiliki identitas yang berbeda. Hal ini tentu akan berpengaruh terhadap citra Telkom University. Penelitian ini dimaksudkan untuk mengetahui bagaimana pengaruh perubahan nama STT Telkom menjadi Telkom University terhadap citra Telkom University. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori public relation sebagai grand theory, teori rebranding sebagai middle theory, kemudian teori renaming dan teori corporate image sebagai applied theory. Penelitian ini menggunakan metode assosiatif kausal yaitu untuk mengetahui pengaruh antara variabel bebas terhadap variabel terikat. Dilakukan survey kepada 200 masyarakat Kota Bandung yang terpilih menggunakan teknik multistage cluster sampling. Untuk mengetahui hubungan kedua variabel tersebut, menggunakan teknik deskriptif, korelasi pearson product moment dan regresi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan dan pengaruh yang positif dan signifikan antara perubahan nama Telkom University terhadap citra Telkom University pada masyarakat Kota Bandung. Kata kunci: renaming, brand name, corporate image
Pengaruh strategi komunikasi pemasaran Starbucks Card terhadap loyalitas konsumen (Studi Pada Konsumen Berstatus Mahasiswa PT. Starbucks Coffee di Kota Bandung) Kartika Sari; Nurhayati I K
Jurnal Ilmiah Komunikasi Makna Vol 7, No 2 (2019): Agustus 2019
Publisher : Program Studi Ilmu Komunikasi FBIK Unissula

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30659/jikm.7.2.1-22

Abstract

Loyalitas memiliki peranan penting demi majunya suatu perusahaan khususnya dalam persaingan industri kedai kopi saat ini. Perusahaan menerapkan berbagai strategi komunikasi pemasaran demi mempertahankan konsumennya dalam menggunakan produk dan jasa. Penelitian ini dilakukan untuk menguji pengaruh strategi komunikasi pemasaran Starbucks Card terhadap loyalitas konsumen berstatus mahasiswa di kota Bandung. Penelitian ini melakukan teknik sampling yang akan digunakan yaitu dengan cara non-probability sampling dikarenakan tidak adanya data sekunder yang menjelaskan secara tepat jumlah konsumen yang menggunakan Starbucks Card sehingga jumlah sampel yang dimiliki yaitu 105 responden. Berdasarkan dari hasil data pengolahan, dapat dilihat bahwa sub variabel yang paling berpengaruh positif terhadap loyalitas konsumen yaitu promosi penjualan, personal selling serta direct marketing dan pemasaran via internet yang berada pada kategori baik. Strategi komunikasi pemasaran yang telah dilakukan oleh Starbucks Coffee guna meningkatkan loyalitas konsumen dalam menggunakan kartu member Starbucks telah berjalan dengan baik dan memiliki respon yang baik oleh para penggunanya sehingga saran yang dapat diberikan yaitu mempertahankan hal tersebut agar dapat mempertahankan konsumen yang loyal maupun untuk menarik konsumen baru.Kata Kunci: Loyalitas Konsumen, Strategi Komunikasi Pemasaran, Starbucks Card,  PT. Starbucks Coffee, Mahasiswa.  ABSTRACTLoyalty has an important role for the sake of growth in a company, especially in the competitive coffee industry nowadays. A company implements variety of marketing communications strategy in order to maintain their customers in using products and services. This research is conducted to examine the influence of the marketing communication strategy of Starbucks Card toward customer loyalty in college student in Bandung. This research's sampling technique uses non-probability sampling due to the lack of secondary data specifying exactly the number of consumers who use the Starbucks Card so the sample sizes are 105 respondents. Based on the results of data processing, it can be seen that the sub-variables that have the most positive effect on customer loyalty are sales promotion, personal selling, direct marketing and marketing via the internet which are among good categories..Marketing communications strategy that has been done by Starbucks Coffee to increase consumer loyalty in using Starbucks Card has gone well and has a good response by the users so the suggestion that can be given is to retain it in order to maintain loyal customers and to attract new customers.Keywords: Consumer Loyalty, Marketing Communications Strategy, Starbucks Card, PT. Starbucks Coffee, College Student.
PEMILIHAN BAHASA DALAM IKLAN “ORANG PINTAR MINUM TOLAK ANGIN” VS “ORANG BEJO MINUM BITANG TOEJOEH MASUK ANGIN” DALAM ETIKA PERIKLANAN Zahra Nabila Alfira Insyraa
Jurnal Ilmiah Komunikasi Makna Vol 8, No 2 (2020): Agustus 2020
Publisher : Program Studi Ilmu Komunikasi FBIK Unissula

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30659/jikm.v8i2.10650

Abstract

Banyak prespektif tentang pemilihan Bahasa dalam etika periklanan , dan juga penonton harus bisa membedakan dan mengkritisi iklan tersebut. Iklan dengan tagline “Orang pintar minum tolak angin” di luncurkan Perusahan PT SIDOMUNCUL yang berdiri dari sebuah industri  rumah tangga pada tahun  1940. Dan sudah di tanyangkan pertama kali di televisi tahun 2000, dan sudah menghipnotis masyrakat dengan obat herbal yangbentuk cairan yang mudah di bawa kemana mana untuk mengatasi masuk angin. Sedangkan Iklan dengan tagline “Orang bejo minum bintang toejoeh masuk angin”yang di mana di produksi oleh PT BINTANG TOEJOEH yang berdiri pada tahun 1946 di garut dan di tanyangkan pada tahun 2012. Dan yang menjadi banyak pertimbangan itu dengan menjadi ciri khas tagline masing masing yaitu dan salah satunya kalimat pada “Orang bejo lebih untung dari orang pintar” yang menyinggung iklan pada kalimat “Orang pintar minum tolak angin” yang di gunakan PT Sidomuncul. Pembahasan dua iklan ini di lihat dari presfektif masyrakat dan Undang-undang Nomor 32 Tahun 2002 tentang penyiaran dan juga di lihat dari etika yang seharusnya di lakukan perusahaan dan dengan pemilihan Bahasa dalam periklanan yang benar dalam mengiklankan produknya. Kata kunci: Pemilihan Bahasa, etika periklanan televisi
MEDIA DAN KRISIS POLITIK (Analisis Wacana Terhadap Pemberitaan KOMPAS mengenai Krisis Politik Thailand, Edisi Maret-Mei 2010) Agus Triyono; Joni Rusdiana
Jurnal Ilmiah Komunikasi Makna Vol 2, No 2 (2012): Jurnal Komunikasi Makna Vol. 2 No. 2 Agustus 2011 - Januari 2012
Publisher : Program Studi Ilmu Komunikasi FBIK Unissula

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30659/jikm.2.2.1-8

Abstract

This study aims to examine the preaching of KOMPAS will be Thailand’s political crisis. Questions to be answered in this study is how KOMPAS preach political crisis in Thailand. For this purpose, the researchers used a method of discourse analysis. Researchers analyzed at the level of textual and contextual KOMPAS news articles about Thailand’s political crisis of 2010 for the March-May 2010. The  rst  ndings are at the beginning of Thailand’s political crisis took place, KOMPAS does not cover the event directly. News about the crisis KOMPAS is taken from the source media and foreign news agencies such as: Bangkok Post, Reuters, The Nation, BBC, AP, AFP and fro. Only when the escalation of the crisis began peaking KOMPAS send reporters to cover the event directly. When the crisis began to subside KOMPAS pull back and re-use media journalists and foreign news agencies as sources of news. Second, related to the role of the media, in the context of Thailand’s political crisis was initially KOMPAS acts as a transmitter, reported the news in an objective, accurate, neutral, and balanced. Then when the crisis began to escalate, it looks KOMPAS started giving appraisals. Lastly, KOMPAS gradually began to show partiality to the protesters commonly referred to as the “Red Shirt”.
PERILAKU POLITIK LEGISLATOR PEREMPUAN DALAM MEMPERJUANGKAN KEPENTINGAN PEREMPUAN Rahmi Nuraini
Jurnal Ilmiah Komunikasi Makna Vol 3, No 2 (2013): Jurnal Ilmiah Komunikasi Makna
Publisher : Program Studi Ilmu Komunikasi FBIK Unissula

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30659/jikm.3.2.105-115

Abstract

 AbstractThe lack of handling on issues related with woman as well as discriminative local regulations make woman’s representativeness in politics becomes very important to influence the policy-making process becoming more sensitive towards issues on woman needs.This research, therefore, examines the political behaviors performed by legislative women in struggling for woman’s interests, mainly the ones in the Provincial House of Representative of Central Java. Based on a basic assumption of “muted group theory” by using a method of critical ethnographic analysis, it has been resulted that the struggle for women’s interests cognitively, affectively and behaviorally faces barriers coming from patriarchic cultural construction that humiliates women through verbal and non-verbal political language.The research finding shows that in terms of political language use, women apparently do not need to transform it into the men’s accepted model (i.e. masculine model). Women can develop an alternative of communication model that combined masculine and feminine models to express experiences or codes in messages as a women’s way and to decrease the men’s oppressions.Masculine model in women’s political language is done by adopting the values within masculine language, i.e. distinctive intonation, joke responding and sexual connotation. Meanwhile, feminine model is applied by changing the women’s weaknesses, which are regarded feminine, into a power verbally and non-verbally.  AbstrakMasih kurangnya penanganan isu-isu yang berkenaan dengan perempuan serta peraturan daerah yang diskriminatif, membuat keterwakilan perempuan di bidang politik sangat penting demi terciptanya kebijakan yang lebih sensitif terhadap kebutuhan perempuan. Untuk itu, penelitian ini bermaksud mengkaji perilaku politik legislator perempuan dalam memperjuangkan kepentingan perempuan di Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Jawa Tengah.Dengan mendasarkan diri pada asumsi dasar ”muted group theory” dengan menggunakan metoda analisis etnografi kritis, dihasilkan bahwa perjuangan kepentingan perempuan baik secara kognisi, afeksi dan behavioral  menemui hambatan yang berasal dari kontruksi budaya patriarki yang memberikan opresi melalui bahasa politik verbal dan nonverbal yang merendahkan perempuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam bahasa politiknya, perempuan tidak harus mentransformasikan bahasa politik dalam model yang diterima oleh laki-laki (model maskulin). Perempuan dapat mengembangkan model alternatif untuk mengekspresikan pengalaman dan kode dalam pesan sebagai upaya mendefinisikan bahasa yang lebih dapat diterima. Model alternative yang menggabungan model maskulin dan feminine ini merupakan solusi terbaik legislator perempuan untuk mengurangi opresi yang dilakukan oleh laki-laki.Model maskulin dalam bahasa politik perempuan dilakukan mengadopsi nilai-nilai bahasa maskulin yaitu intonasi yang tegas, membalas guyonan dan konotasi seksual. Sementara model feminin dilakukan dengan mengubah kelemahan perempuan yang dianggap feminin menjadi kekuatan secara verbal dan nonverbal.  
Sosialita di Era Internet Muna Madrah
Jurnal Ilmiah Komunikasi Makna Vol 2, No 2 (2012): Jurnal Komunikasi Makna Vol. 2 No. 2 Agustus 2011 - Januari 2012
Publisher : Program Studi Ilmu Komunikasi FBIK Unissula

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30659/jikm.2.2.194-199

Abstract

Banyak ahli telah melihat bahwa melalui teknologi informasi yang cepat (superhighway information) telah menepiskan batas-batas kelas, kekuasaan dan jender dan bentuk lain dari segregasi sosial pada era sebelumnya di dominasi oleh kelas elit (Nasikun : 2005). Tidak dapat dipungkiri pula bahwa kemajuan teknologi yang telah membawa kita ke “dunia global yang” dalam banyak sisi manfaat. Misalnya, informasi ilmu pengetahuan dapat dengan mudah diakses  tanpa perlu tergantung pada guru atau seseorang untuk memberikan penjelasan.             Perkembangan teknologi informasi juga menciptakan kelas baru dan dominasi baru yang mengarah ke kapitalisme, hanya mereka yang merupakan lapisan yang mempunyai akses informasi dan teknologi yang memiliki kekuatan (power)  sebagaimana digambarkan Foucoult dalam  pengetahuan dan kekuasaan (Ritzer: 2003:79 ). Nasikun selanjutnya (2005) mengkhawatirkan bahwa alih-alih membuat elite kekuasaan menjadi cairan karena kemampuan teknologi untuk mengubah masyarakat lebih terbuka, secara tidak terkendali hal ini dapat membuat nilai-nilai budaya dan sosial tidak memiliki kemampuan untuk menghormati kemanusiaan.             “Informasi dan transparansi di masyarakat kita telah melampaui titik batas, yang ekstasi permanen (massa), tubuh (obesitas), jenis kelamin , kekerasan sosial (teror), dan informasi (simulasi ) “(Baudriallard: 1987)Kata kunci : teknologi informasi, humanity, sosialita.
DISKURSUS CYBERBULLYING FLORENCE SIHOMBING (Analisis Wacana Kritis Teun A. Van Dijk Tentang Florence Sihombing di Dunia Maya) Syntia Balina Dewi; Syarif Maulana
Jurnal Ilmiah Komunikasi Makna Vol 5, No 2 (2015): Volume 5 No. 2 tahun 2015
Publisher : Program Studi Ilmu Komunikasi FBIK Unissula

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30659/jikm.5.2.114-127

Abstract

Cyberbullying is closely related to technology and social media. Dissemination of information via the Internet and social media is much faster than the oral way. Cyberbullying is often done through social media and headlines news portals, which make the reader interested in reading, usually used excessive sentences that can make someone cornered. This research study is entitled «Discourse Cyberbullying of Florence Sihombing (Critical Discourse Analysis Teun A. van Dijk about Florence Sihombing in Cyberspace)». The purpose of this study was to determine the discourse on cyberbullying in the case of Florence Sihombing based on critical discourse analysis Teun A. Van Dijk. The methodology used in this research is the analysis of discourse, in which the author collects screenshots of cyberbullyer tweets on Twitter and headlines on online news portals that are associated with the case of Florence Sihombing, then associated with critical discourse analysis van Dijk. The results of this study showed the cyberbullying that happened to Florence Sihombing through the online news headlines and cyberbullyer’s tweets on Twitter can be explained through nine elements contained in the critical discourse analysis of van Dijk.Keywords : cyberbullying, social media, news headline, Twitter’s tweets, critical discourse Teun A. Van Dijk
IMPLEMENTASI KONSEP DIRI PADA KELOMPOK GEMES (GEMUK MENAWAN SEMARANG) Genta Maghvira
Jurnal Ilmiah Komunikasi Makna Vol 6, No 2 (2016)
Publisher : Program Studi Ilmu Komunikasi FBIK Unissula

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30659/jikm.6.2.140-149

Abstract

Implementasi Konsep Diri Pada Kelompok Gemes (Gemuk Menawan Semarang), Kajian Teoritis Psikologi Komunikasi tentang Konsep Diri Pada Kelompok Gemes (Gemuk Menawan Semarang). Jurnal Makna. Fakultas Ilmu Komunikasi. Universitas Islam Sultan Agung, Semarang. Orang dengan berat badan yang lebih, sering disebut dengan gemuk atau gendut. Umumnya orang gemuk sering dipandang sebelah mata dan sering dijadikan bahan candaan dan tertawaan. Namun, sekarang orang gemuk bisa eksis dan mulai membuka diri dalam pergaulan sosial. Terbukti dengan banyaknya komunitas orang gemuk yang ada di Indonesia, salah satunya yaitu Komunitas Gemes (Gemuk Menawan Semarang) kota Semarang. Komunitas Gemes atau Gemuk Menawan Semarang ini merupakan komunitas yang menampung orang-orang gemuk khususnya yang berada di kota Semarang. Komunitas ini didirikan sebagai wadah untuk saling berbagi informasi dengan tujuan utama yaitu untuk meningkatkan kepercayaan diri. Dalam komunitas Gemes, tidak ada kriteria atau syarat tertentu ketika ingin bergabung dengan komunitas tersebut. Komunitas ini terbuka untuk semua kalangan masyarakat bagi kepada siapa saja yang merasa dirinya gemuk. Komunitas Gemes ini cukup eksis melakukan kegiatan sosial dan terliput oleh media Tribun Jateng. Penelitian kajian teoritis ini mencoba melihat fenomena terbentuknya komunitas Gemes melalui sudut pandang psikologi komunikasi khususnya konsep diri. Dalam psikologi komunikasi, kajian lebih menekankan pada aspek interaksi antarpersonal dan perilaku manusia dalam kehidupan sosial, termasuk implikasi sosial terhadap kejiwaan seorang manusia. Sedangkan konsep diri merupakan bagian dari psikologi komunikasi subbab komunikasi interpersonal. Konsep diri diartikan sebagai pemahaman tentang diri sendiri yang timbul akibat interaksi dengan orang lain. Konsep diri terbagi dua yakni konsep diri positif dan konsep diri negatif. Implementasi konsep diri dalam penelitian kajian teoritis ini dimaksudkan untuk melihat bagaimana konsep diri diterapkan dalam komunitas Gemes, bagaimana kemudian orang gemuk bisa tampil secara lebih percaya diri dalam kehidupan sosial adalah bentuk dari penerapan konsep diri yang positif.

Page 8 of 15 | Total Record : 148