cover
Contact Name
Triawan Alkausar
Contact Email
triawanalkausar@radenintan.ac.id
Phone
+6282185372675
Journal Mail Official
triawanalkausar@radenintan.ac.id
Editorial Address
Prodi Biologi, Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung Jl. Endro Suratmin, Sukarame, Kec. Sukarame, Kota Bandar Lampung, Lampung 35131
Location
Kota bandar lampung,
Lampung
INDONESIA
Organisms: Journal of Biosciences
ISSN : 28084012     EISSN : 28084012     DOI : 10.24042/organisms
Organisms is a journal issued by Biology Department Faculty of Science and Technology, Islamic State University Raden Intan Lampung, which publish twice a year, namely May and November. Organisms Journal publishes a comprehensive and essential research articles with the following scopes: Environmental science, Biodiversity, Biotechnology, Microbiology, Ecology, Physiology (animals and plants), Genetics, Human biology, Animal science, and Plant science. Organisms Journal uses the OJS System to manage the manuscript that the editorial board, editors, and peer review (blind review) can reach the real-time status of the articles.
Articles 65 Documents
Karakterisasi Bioetanol dari Kulit Buah Naga Merah Berdasarkan Variasi Kadar Yeast (Saccharomyces cerevisae) dan Waktu Fermentasi Satiyarti, Rina Budi; Yuliana, Sofia; Sugiharta, Iip
ORGANISMS: JOURNAL OF BIOSCIENCES Vol. 4 No. 1 (2024): Organisms: Journal of Biosciences
Publisher : Pusat HKI, Paten, dan Publikasi Ilmiah Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/organisms.v4i1.22018

Abstract

Red dragon fruit peel waste is a potential source for making bioethanol because it contains carbohydrates in the form of cellulose. The bioethanol production process involves several stages, including pretreatment, delignification, hydrolysis, fermentation and distillation. The aim of this research is to analyze variations in the amount of bread yeast (Saccharomyces cerevisae) on the amount of bioethanol produced. This research used variations in the amount of bread yeast (Yeast Saccharomyces cerevisiae) of 10%, 15%, and 20%, as well as fermentation times of 1 day (24 hours), 2 days (48 hours), and 3 days (72 hours). Qualitative testing of hydrolysis results is carried out through phytochemical tests using the Benedict and Molish tests, while quantitative testing of distillation results uses an alcohol meter to determine the level of bioethanol produced from the fermentation process. Qualitative test results showed positive results in the hydrolysis of red dragon fruit skin, indicated by color changes in the Benedict and Molish tests. Quantitative tests using an alcohol meter produced the highest bioethanol content of 6% from a bread yeast volume of 20% in day two fermentation. These results indicate that the optimum fermentation time is on the second day, where bioethanol production reaches its peak.ABSTRAK  Limbah kulit buah naga merah merupakan salah satu sumber yang potensial untuk dijadikan bioetanol karena mengandung karbohidrat dalam bentuk selulosa. Proses pembuatan bioetanol melibatkan beberapa tahap, termasuk pretreatment, delignifikasi, hidrolisis, fermentasi, dan destilasi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis variasi penambahan jumlah ragi roti (Yeast Saccharomyces cerevisae) terhadap jumlah bioetanol yang dihasilkan. Penelitian ini menggunakan variasi jumlah ragi roti (Saccharomyces cerevisiae) sebanyak 10%, 15%, dan 20%, serta lama waktu fermentasi selama 1 hari (24 jam), 2 hari (48 jam), dan 3 hari (72 jam). Uji kualitatif hasil hidrolisis dilakukan melalui uji fitokimia menggunakan uji benedict dan molish, sementara uji kuantitatif hasil destilasi menggunakan alkohol meter untuk menentukan kadar bioetanol yang dihasilkan dari proses fermentasi. Hasil uji kualitatif menunjukkan adanya hasil yang positif dalam hidrolisis kulit buah naga merah, ditunjukkan oleh perubahan warna pada uji benedict dan molish. Uji kuantitatif menggunakan alkohol meter menghasilkan kadar bioetanol tertinggi sebesar 6% dari volume ragi roti sebanyak 20%, dengan lama fermentasi 2 hari. Hasil ini menunjukkan bahwa waktu fermentasi optimum adalah pada hari kedua, di mana produksi biobioetanol mencapai puncaknya.
Uji Aktivitas Antibakteri Sediaan Obat Kumur Ekstrak Daun Mimba (Azadirachta indica A. Juss) terhadap Bakteri Streptococcus mutans ATCC 25175 Bila, Nabila Salsa; Fadma Sari, Ghani Nurfiana; Wulandari, Destik
ORGANISMS: JOURNAL OF BIOSCIENCES Vol. 4 No. 1 (2024): Organisms: Journal of Biosciences
Publisher : Pusat HKI, Paten, dan Publikasi Ilmiah Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/organisms.v4i1.22196

Abstract

Mouthwash is a preparation in liquid form and contains antibacterial substances. Neem leaves contain a class of compounds in the form of steroids/triterpenoids which are useful for antibacterial activity so they have the potential to be used as active substances in mouthwash preparations. The aim of this research was to determine the effect of variations in glycerin concentration on the physical quality and stability of neem leaf extract (Azadirachta indica A. Juss) mouthwash preparations. To determine the antibacterial effect and formula for mouthwash from neem leaf extract which has the most effective antibacterial effect against the bacteria Streptococcus mutans. This research uses four formulations for mouthwash from neem leaf extract (Azadirachta indica A. Juss) at 1% with variations in glycerin concentration of F1 (12%), F2 (24%), F3 (30%). Physical quality testing of the preparation includes organoleptic, homogeneity, specific gravity, pH, viscosity and stability of the preparation (cycling test). Mouthwash preparations were tested against Streptococcus mutans bacteria using the paper disc diffusion method. The research results showed that mouthwash preparations in all formulas with organoplastic physical quality, homogeneity, viscosity, pH, specific gravity and stability produced good preparations. In testing the antibacterial activity of mouthwash preparations, the diameter of the inhibition zone was obtained, namely F1 9.94 mm; F2 11.57mm; F3 8.91mm; F- (k-) 0 mm; and positive control 9.47 mm. From the third formula, the one with the best inhibition zone diameter is F2. AbstrakObat kumur merupakan sediaan yang berbentuk cairan dan memiliki kandungan zat antibakteri. Daun mimba memiliki kandungan golongan senyawa berupa steroid/triterpenoid yang  bermanfaat sebagai aktivitas antibakteri sehingga berpotensi untuk dijadika zat aktif pada sediaan obat kumur. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui pengaruh variasi konsentrasi gliserin terhadap mutu fisik dan stabilitas sediaan obat kumur ekstrak daun mimba (Azadirachta indica A. Juss). Mengetahui efek antibakteri dan formula obat kumur ekstrak daun mimba yang paling efektif efek antibateri terhadap bakteri Streptococcus mutans.Penelitian ini menggunakan empat formula sediaan obat kumur ekstrak daun mimba (Azadirachta indica A. Juss) sebesar 1% dengan variasi konsentrasi gliserin sebesar F1 (12%), F2 (24%), F3 (30%).Pengujian mutu fisik sediaan meliputi organoleptis, homogenitas, berat jenis, pH, viskositas, dan stabilitas sediaan (cycling test). Sediaan obat kumur diujikan terhadap bakteri Streptococcus mutans menggunakan metode difusi cakram kertas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sediaan obat kumur pada semua formula dengan mutu fisik organoplik, homogenitas, viskositas, pH, berat jenis dan stabilitas menghasilkan sediaan yang baik. Pada pengujian aktivitas antibakteri sediaan obat kumur didapatkan nilai diameter zona hambat yaitu F1 9,94 mm; F2 11,57 mm; F3 8,91 mm; F- (k-) 0 mm; dan kontrol positif 9,47 mm. Dari ketiga formula yang memiliki diameter zona hambat paling baik yaitu F2.
Aktivitas Harian Macaca fascicularis di Kawasan Kebun Campuran Sarti, Yili; Kamilah, Santi Nurul; Jarulis, Jarulis
ORGANISMS: JOURNAL OF BIOSCIENCES Vol. 4 No. 1 (2024): Organisms: Journal of Biosciences
Publisher : Pusat HKI, Paten, dan Publikasi Ilmiah Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/organisms.v4i1.22217

Abstract

Indonesia is the largest habitat for numerous species of primate, one of them is Macaca fascicularis. This species can live in various habitats, ranging from primary forests to residential areas. One of the habitats where M. fascicularis lives is a mixed garden area in Kepala Curup Village, Binduriang Sub-district, Rejang Lebong Bengkulu, which is adjacent to a residential area. The objective of this study was to observe the daily activities of a group of M. fascicularis in that area. Data were collected from April to June 2020. The sample objects were determined using the focal animal sampling method, which consisted of four individuals: alpha males, adult females, adolescents, and juveniles. Each individual was identified based on their physical characteristics. Data were collected using the continuous-time recording method, with a total observation of 16,800 minutes. The study revealed that M. fascicularis activity in the mixed garden area was highest in feeding (34.36%), followed by moving (26.43%), resting (25.36%), playing (7.20%), grooming (5.61%), vocalizing (0.55%), and conflict (0.50%). No mating activity was observed. The group size of the M. fascicularis in this area was limited (n = 9) and consisted of only one male. All adult females were in the period of lactation, which resulted in a low level of mating activity and conflict within the group AbstrakIndonesia merupakan habitat terbesar dari berbagai jenis primata, termasuk Macaca fascicularis. Primata ini dapat dijumpai pada berbagai tipe habitat, mulai dari hutan primer hingga Kawasan pemukiman penduduk. Salah satunya habitat ditemukannya M. fascicularis adalah di kebun campuran Desa Kepala Curup Kecamatan Binduriang Kabupaten Rejang Lebong yang berbatasan dengan pemukiman penduduk. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengamati aktivitas harian pada satu kelompok M. fascicularis pada kawasan kebun campuran ini. Pengambilan data dilakukan pada bulan April hingga Juni 2020. Penentuan objek sampel menggunakan metode focal animal sampling, terdiri dari empat individu target yaitu jantan alfa, betina dewasa, remaja dan juvenile. Masing-masing individu telah dikenali berdasarkan ciri fisiknya. Data diambil menggunakan metode continuous time recording dengan total waktu pengamatan 16.800 menit. Dari penelitian yang telah dilakukan diketahui bahwa aktivitas M. fascicularis di kebun campuran tersebut tertinggi pada aktivitas makan (34,36%), kemudian diikuti aktivitas berpindah (26,43%), istirahat (25,36%), bermain (7,20%), grooming (5,61%), bersuara (0,55%), konflik (0,50%). Tidak ditemukan aktivitas kawin. Kelompok ini termasuk kelompok dengan anggota yang sangat sedikit (9 individu), dengan hanya terdapat 1 individu jantan. Semua betina dewasa dalam masa menyusui bayi. Kondisi itu berpengaruh pada rendahnya aktivitas kawin dan konflik di dalam kelompok. 
Assessment of Noise Pollution Around Labuhan Ratu Railway Crossing: Implications for Health and Urban Development Panggabean, Siti Munawarah; Tama, Dwi Sulis; Pawhestri, Suci Wulan; Andandaningrum, Della
ORGANISMS: JOURNAL OF BIOSCIENCES Vol. 4 No. 2 (2024): Organisms: Journal of Biosciences
Publisher : Pusat HKI, Paten, dan Publikasi Ilmiah Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/organisms.v4i2.24370

Abstract

Noise pollution presents a serious challenge to community well-being, especially in rural areas, impacting health, technical functions, and psychological stability. This study aims to assess the level of noise pollution around the Labuhan Ratu railway crossing and analyze its impact on public health as well as urban development in the surrounding area. Using qualitative research methods, an exploratory survey was conducted with purposive sampling to measure disturbance intensity and its impacts. Results showed peak disturbance levels of 82.9 dB at a distance of 0-50 meters from the railway station, while the lowest disturbance measured was 55.7 dB at 100-150 meters. Both values are significantly above the SNI-03-6386-2000 threshold of 55 dB for community areas, indicating that the site is outside the standard. The findings highlight prevalent issues, including hearing impairment, communication difficulties, and psychological disorders among residents. Addressing these disturbances is crucial for improving community health and supporting SDG efforts to mitigate urban noise pollution, fostering a healthier living environment for affected populations, particularly in rural contextsAbstrakPolusi suara merupakan tantangan serius bagi kesejahteraan masyarakat, khususnya di daerah pedesaan, dengan dampak negatif terhadap kesehatan, fungsi teknis, dan stabilitas psikologis. Penelitian ini bertujuan untuk menilai tingkat polusi kebisingan di sekitar perlintasan kereta api Labuhan Ratu dan menganalisis dampaknya terhadap kesehatan masyarakat serta perkembangan perkotaan di sekitarnya. Penelitian menggunakan metode kualitatif melalui survei eksploratif dengan purposive sampling untuk mengukur intensitas kebisingan dan dampaknya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat kebisingan tertinggi mencapai 82,9 dB pada jarak 0-50 meter dari stasiun, dan terendah 55,7 dB pada jarak 100-150 meter. Kedua tingkat kebisingan tersebut jauh melebihi ambang batas SNI-03-6386-2000 sebesar 55 dB untuk wilayah pemukiman, menunjukkan bahwa area tersebut berada di luar standar. Temuan ini mengungkapkan berbagai masalah yang dialami penduduk, seperti gangguan pendengaran, kesulitan komunikasi, dan gangguan psikologis. Penanganan masalah kebisingan ini penting untuk meningkatkan kesehatan masyarakat dan mendukung upaya SDGs dalam mengurangi polusi suara perkotaan, guna menciptakan lingkungan yang lebih sehat bagi masyarakat terdampak, terutama di daerah pedesaan 
Assessment of SDG 6: Clean Water and Sanitation in Kampung Baru, Bandar Lampung Melitania, Melitania; Andandaningrum, Della; Panggabean, Siti Munawarah
ORGANISMS: JOURNAL OF BIOSCIENCES Vol. 4 No. 2 (2024): Organisms: Journal of Biosciences
Publisher : Pusat HKI, Paten, dan Publikasi Ilmiah Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/organisms.v4i2.24403

Abstract

This study aims to review the achievement of drinking water and sanitation indicators in the context of the Sustainable Development Goals (SDGs) in Kampung Baru Subdistrict, Bandar Lampung City. The study reviews the achievement of drinking water and sanitation indicators within the context of SDGs, specifically the sixth goal related to clean water and sustainable sanitation. Data were collected through interviews, observations, and documentation from 53 respondents in the subdistrict. The results showed that 49.1% of households use bottled drinking water, 41.5% use protected water sources such as drilled wells or pumps, while 37% still use unprotected wells, which have the potential to cause contamination. In terms of sanitation, only 32.1% of households have access to adequate sanitation, and 83.2% of the population has the habit of washing hands with soap before and after meals. These results indicate that access to clean water and adequate sanitation remains a challenge, even though efforts to improve infrastructure have been made. The data show that not all households can optimally access these services. Therefore, more focused policies are needed to improve the quality of safely managed drinking water and to improve sanitation systems to support public health and a better standard of living, as well as further efforts from the government and the community to achieve the SDG targets by 2030. AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk meninjau capaian indikator air minum dan sanitasi layak dalam konteks Sustainable Development Goals (SDGs) di Kelurahan Kampung Baru, Kota Bandar Lampung. Penelitian ini meninjau capaian indikator air minum dan sanitasi dalam konteks SDGs, khususnya tujuan keenam terkait air bersih dan sanitasi berkelanjutan. Data dikumpulkan melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi terhadap 53 responden di kelurahan tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 49,1% rumah tangga menggunakan air minum dalam kemasan, 41,5% rumah menggunakan sumber air terlindungi seperti sumur bor atau pompa, sementara 37% rumah masih menggunakan sumur tidak terlindung yang berpotensi menyebabkan kontaminasi. Pada bidang sanitasi, hanya 32,1% rumah yang memiliki akses sanitasi layak, dan 83,2% penduduk telah memiliki kebiasaan mencuci tangan dengan sabun sebelum dan sesudah makan. Hasil ini menunjukkan Akses terhadap air bersih dan sanitasi yang layak masih menjadi tantangan, meskipun upaya peningkatan infrastruktur telah dilakukan. Data menunjukkan bahwa belum semua rumah tangga dapat mengakses layanan tersebut secara optimal. Oleh karena itu, diperlukan kebijakan yang lebih fokus untuk meningkatkan kualitas air bersih yang dikelola secara aman dan memperbaiki sistem sanitasi guna mendukung kesehatan masyarakat dan standar hidup yang lebih baik serta memerlukan upaya lebih lanjut dari pemerintah dan masyarakat untuk mencapai target SDGs pada tahun 2030.
Masculinization of Cupang Fish (Betta splendens) Using Rujak Polo Fruit (Tribulus terrestris) Through Immersion Method Rudini, Mahmud; Hidayat, Nurul; Kuswanto, Eko; Listiana, Ika
ORGANISMS: JOURNAL OF BIOSCIENCES Vol. 4 No. 2 (2024): Organisms: Journal of Biosciences
Publisher : Pusat HKI, Paten, dan Publikasi Ilmiah Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/organisms.v4i2.24461

Abstract

Male betta fish have high commercial value, making it more effective and profitable if only males are produced and reared. The aim of this study was to determine the effect of Tribulus terrestris fruit on the masculinization of betta fish (Betta splendens) using an immersion method. This research is quantitative. The population in this study consisted of the entire larval population of betta fish. A sample of 300 seven-day-old betta fish larvae was taken from this population and divided into 5 containers, each containing 20 larvae. The sampling technique used was Probability Sampling. Data collection was conducted with 5 treatments, each with 3 repetitions. The data obtained were tested using a One Way ANOVA or analysis of variance with a 95% confidence level. The results showed that the average data obtained from each treatment group differed significantly. The best dosage concentration in this study was treatment P2 with a concentration of 2 mg/L, resulting in the highest percentage of male betta fish at 84.49%.AbstrakIkan cupang jantan memiliki nilai komersial tinggi, sehingga akan lebih efektif dan menguntungkan bila hanya diproduksi dan dipelihara jenis jantan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh buah tumbuhan rujak polo (Tribulus terrestris) terhadap maskulinisasi ikan cupang (Betta splendens) dengan metode perendaman. Jenis Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif. Populasi dalam penelitian ini adalah keseluruhan larva ikan cupang. Dari populasi tersebut diambil sampel 300 ekor larva ikan cupang berumur 7 hari, dan dibagi dalam 5 wadah setiap wadah berisi 20 ekor larva ikan cupang. Tehnik pengambilan sampel yang digunakan yaitu probability sampling. Pengambilan data sampel penelitian dilakukan sebanyak 5 perlakuan dengan 3 kali pengulangan. Data dianalisis mengunakan Uji One Way Anova dengan uji BNT dengan tingkat kepercayaan95%. Hasil penelitian bahwa maskulinisasi ikan cupang (Betta splendens) menggunakan buah rujak polo (Tribulus terrestris) melalui metode perendaman dengan dosis yang berbeda memberikan pengaruh yang nyata terhadap persentase ikan cupang.  Konsentrasi dosis terbaik yang dapat digunakan dalam maskulinisasi ikan cupang adalah pada perlakuan P2 yaitu sebanyak 2mg/L yang menghasilkan persentase ikan cupang jantan tertinggi yaitu sebesar 84,49%.
Analysis of The Antioxidant Potential of Ethanol Extracts from Pacing Plant (Costus speciosus) With DPPH Method Riany, Hesti; Wahyuningtyas, Regita Kusuma
ORGANISMS: JOURNAL OF BIOSCIENCES Vol. 4 No. 2 (2024): Organisms: Journal of Biosciences
Publisher : Pusat HKI, Paten, dan Publikasi Ilmiah Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/organisms.v4i2.24482

Abstract

Antioxidants are reducing compounds utilized to protect the body from oxidative degradation. One of the plants, Costus speciosus, commonly known as pacing, is believed to have potential as a natural source of antioxidants. The aim of this research is to determine the antioxidant content and secondary metabolite compounds present in the ethanol extracts of pacing stems, leaves, and flowers. Antioxidant measurements were conducted using the 1,1-diphenyl-2-picrylhydrazine (DPPH) method. The antioxidant content was analyzed using probit analysis and calculating the IC50 value. The content of secondary metabolite compounds was analyzed using thin-layer chromatography (TLC) tests. The research results indicate that the ethanol extracts of pacing stems, leaves, and flowers contain antioxidants. The highest antioxidant content was found in the leaves with an IC50 value of 17.8 ppm, followed by the stems with an IC50 value of 24.22 ppm, and the flowers with an IC50 value of 24.85 ppm. The secondary metabolite content in pacing plants showed the presence of flavonoids and alkaloids in the leaves, flavonoids and phenols in the stems, while only flavonoids were detected in the flowers.AbstrakAntioksidan adalah senyawa pereduksi yang digunakan untuk melindungi tubuh dari degradasi oksidatif. Salah satu tanaman yaitu Costus speciosus atau yang biasa dikenal dengan nama pacing diyakini memiliki potensi sebagai sumber antioksidan alami. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kandungan antioksidan dan senyawa metabolit sekunder yang terdapat pada ekstrak etanol batang, daun, dan bunga pacing. Pengukuran antioksidan dilakukan dengan menggunakan metode 1,1-difenil-2-pikrilhidrazil (DPPH). Kandungan antioksidan dianalisis dengan menggunakan analisis probit dan menghitung nilai IC50. Kandungan senyawa metabolit sekunder dianalisis menggunakan uji kromatografi lapis tipis (KLT). Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak etanol batang, daun, dan bunga pacing mengandung antioksidan. Kandungan antioksidan tertinggi terdapat pada bagian daun dengan nilai IC50 sebesar 17,8 ppm, diikuti oleh bagian batang dengan nilai IC50 sebesar 24,22 ppm, dan bagian bunga dengan nilai IC50 sebesar 24,85 ppm. Kandungan metabolit sekunder pada tanaman mondar-mandir menunjukkan adanya flavonoid dan alkaloid pada daun, flavonoid dan fenol pada batang, sedangkan pada bunga hanya terdeteksi adanya flavonoid
Sustainability Analysis of Beneficiaries of the Latrine Program Assistance in Pekon Negeri Ratu Ngabur Ismail, M Rizky; Ardianti, Indah Marlina; Oktarina, Depi; Pawhestri, Suci Wulan
ORGANISMS: JOURNAL OF BIOSCIENCES Vol. 4 No. 2 (2024): Organisms: Journal of Biosciences
Publisher : Pusat HKI, Paten, dan Publikasi Ilmiah Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/organisms.v4i2.24493

Abstract

Sustainable Development Goals (SDGs) are a global long-term program aimed at optimizing all potentials and resources possessed by each country. The latrine program is a derivative of the 6th SDG, which focuses on clean water and proper sanitation. Sanitation remains a public and global issue that still requires government attention. This research aims to analyze the achievement of the latrine program indicators in Pekon Negeri Ratu Ngambur and to understand the changes in healthy living behaviors among the community after the latrine program. This research employs a descriptive qualitative method with a sampling technique called purposive sampling, consisting of 17 samples, including 7 supporting samples and 10 core samples. Data collection involved document studies, interviews, observations, and documentation, with data management steps including data collection, data reduction, data presentation, data verification, and conclusion drawing. The research results show that 12 indicators of the healthy latrine program were achieved 70% overall, while 30% were not achieved. After the program was implemented by the village government, the community experienced improved cleanliness and comfort in their lives. The latrine sustainability provided by the village government to underprivileged residents is still being used in daily life, where economic factors also directly drive the sustainability of latrine development in terms of facility additions and improvements. The changes in healthy living behaviors among the community post-latrine program include greater concern for health and environmental cleanliness to prevent diseases like diarrhea. The ownership of latrines has successfully changed the community's behavior from open defecation to using healthy latrines, resulting in improved community health levels.AbstrakTujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) adalah program jangka panjang global yang bertujuan untuk mengoptimalkan semua potensi dan sumber daya yang dimiliki oleh setiap negara. Program jamban adalah turunan dari SDG ke-6, yang berfokus pada air bersih dan sanitasi yang layak. Sanitasi tetap menjadi isu publik dan global yang masih memerlukan perhatian pemerintah. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pencapaian indikator program jamban di Pekon Negeri Ratu Ngambur dan memahami perubahan perilaku hidup sehat di kalangan masyarakat setelah adanya program jamban. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan teknik pengambilan sampel purposive sampling, yang terdiri dari 17 sampel, termasuk 7 sampel pendukung dan 10 sampel inti. Pengumpulan data melibatkan studi dokumen, wawancara, observasi, dan dokumentasi, dengan langkah-langkah pengelolaan data meliputi pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, verifikasi data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 12 indikator program jamban sehat tercapai sebesar 70% secara keseluruhan, sementara 30% belum tercapai. Setelah program ini diterapkan oleh pemerintah desa, masyarakat merasakan peningkatan kebersihan dan kenyamanan dalam hidup mereka. Keberlanjutan jamban yang disediakan oleh pemerintah desa kepada warga kurang mampu masih digunakan dalam kehidupan sehari-hari, di mana faktor ekonomi juga secara langsung mendorong keberlanjutan pembangunan jamban dalam hal penambahan dan perbaikan fasilitas. Perubahan perilaku hidup sehat di masyarakat pasca-program jamban mencakup kepedulian yang lebih besar terhadap kesehatan dan kebersihan lingkungan untuk mencegah penyakit seperti diare. Kepemilikan jamban berhasil mengubah perilaku masyarakat dari buang air besar sembarangan menjadi menggunakan jamban sehat, yang berdampak pada peningkatan tingkat kesehatan masyarakat.
Analysis of the Linking Vegetation, Buildings, and Carbon Footprint to Urban Heat Island Effects in Surakarta Aktaviani, Hariza Afia; Ardianti, Indah Marlina; Hadibasyir, Hamim Zaky; Priyono, Kuswaji Dwi; Wibowo, Arif Ari
ORGANISMS: JOURNAL OF BIOSCIENCES Vol. 4 No. 2 (2024): Organisms: Journal of Biosciences
Publisher : Pusat HKI, Paten, dan Publikasi Ilmiah Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/organisms.v4i2.24496

Abstract

Surakarta City, serving as a center for government, community welfare, and economic activities, has experienced increased population density, land-use changes, and rising carbon emissions, leading to significant temperature differences with surrounding areas—identified as the Urban Heat Island (UHI) effect. This study aims to (1) map the distribution of carbon emissions, vegetation density, and building coverage in Surakarta; (2) analyze their relationship with UHI; and (3) determine UHI distribution within the city. Using Stratified Random Sampling for emissions sampling and Landsat 8 imagery for estimating NDVI, NDBI, and UHI, data analysis employed correlation and multiple linear regression. Findings reveal Surakarta’s household electricity emissions contribute 8,708 tons of CO₂ across five districts. Jebres District exhibits the highest vegetation cover (125.87 ha), while Serengan has the highest building density and non-vegetative area (55.48 ha). Moderate correlations were observed between NDBI and UHI (0.453) and NDVI and UHI (-0.434), indicating that higher NDBI values correlate with increased UHI, whereas lower NDVI values correlate with increased UHI. Serengan experiences the highest UHI levels, while Banjarsari has the lowest.AbstrakKota Surakarta, yang berfungsi sebagai pusat pemerintahan, kesejahteraan masyarakat, dan kegiatan ekonomi, mengalami peningkatan kepadatan penduduk, perubahan penggunaan lahan, dan kenaikan emisi karbon, yang menyebabkan perbedaan suhu signifikan dengan daerah sekitarnya—dikenal sebagai fenomena Urban Heat Island (UHI). Penelitian ini bertujuan untuk (1) memetakan distribusi emisi karbon, kerapatan vegetasi, dan kepadatan bangunan di Surakarta; (2) menganalisis hubungan ketiganya dengan UHI; dan (3) menentukan distribusi UHI di dalam kota. Menggunakan Stratified Random Sampling untuk pengambilan sampel emisi dan citra Landsat 8 untuk memperkirakan NDVI, NDBI, dan UHI, analisis data dilakukan dengan korelasi dan regresi linear berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa emisi listrik rumah tangga di Surakarta menyumbang 8.708 ton CO₂ di lima kecamatan. Kecamatan Jebres memiliki tutupan vegetasi tertinggi (125,87 ha), sedangkan Kecamatan Serengan memiliki kepadatan bangunan dan area non-vegetasi tertinggi (55,48 ha). Korelasi sedang diamati antara NDBI dan UHI (0,453) serta NDVI dan UHI (-0,434), yang menunjukkan bahwa nilai NDBI yang lebih tinggi berkorelasi dengan peningkatan UHI, sedangkan nilai NDVI yang lebih rendah berkorelasi dengan peningkatan UHI. Serengan mengalami tingkat UHI tertinggi, sedangkan Banjarsari memiliki tingkat UHI terendah
Morphological Study of Cocopet Euborellia arcanum (Order: Dermaptera) in the Muhammad Sabki Urban Forest Area, Jambi City Putra, Dhean Primanda; Wulandari, Tia; Sakinah, Audriella Nadine; Suhanda, Robet
ORGANISMS: JOURNAL OF BIOSCIENCES Vol. 4 No. 2 (2024): Organisms: Journal of Biosciences
Publisher : Pusat HKI, Paten, dan Publikasi Ilmiah Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/organisms.v4i2.24604

Abstract

Euborellia arcanum, an insect from the Dermaptera Order, plays a crucial ecological role as both a predator and a decomposer. However, the genus Euborellia is notoriously challenging to identify. Despite its ecological importance, studies on the genus Euborellia, particularly in Indonesia, remain limited. This study aimed to describe the morphological characteristic of E. arcanum as a reference for identification and scientific information. The study was conducted from August to September 2024 in the Muhammad Sabki Urban Forest Area, using direct sampling and morphological examination by microscopic approach. The Dermaptera Order is characterized by cerci, appendages at the abdomen's end, shaped like tweezers. E. arcanum, a wingless (apterous) species of Euborellia, measures 18–26 mm in total length, including forceps. Specimens collected in this study measured approximately 20 mm. E. arcanum has biting-chewing mouthparts, blackish-brown compound eyes for detecting light and movement, and filiform antennae with 19 antenomeres. The 12th to 15th antenomeres are yellow. The prothorax of E. arcanum is rectangular, slightly longer than wide, with a smooth surface. The mesothorax and metathorax are transverse, wider than long, and also have smooth surfaces. The abdomen consists of nine convex tergite segments, except for the last segment, which is transverse and slightly convex posteriorly. AbstrakEuborellia arcanum, serangga dari Ordo Dermaptera, memainkan peran ekologis yang sangat penting sebagai predator dan pengurai. Namun, genus Euborellia terkenal sulit untuk diidentifikasi. Meskipun memiliki peran ekologis yang penting, penelitian mengenai genus Euborellia, khususnya di Indonesia, masih sangat terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan karakteristik morfologi E. arcanum sebagai acuan identifikasi dan informasi ilmiah. Penelitian dilakukan pada bulan Agustus hingga September 2024 di Kawasan Hutan Kota Muhammad Sabki, dengan menggunakan metode pengambilan sampel secara langsung dan pemeriksaan morfologi secara mikroskopis. Ordo Dermaptera memiliki ciri khas berupa cerci, pelengkap pada ujung abdomen yang berbentuk seperti pinset. E. arcanum, spesies Euborellia yang tidak bersayap (apterous), memiliki panjang total 18-26 mm, termasuk forsep. Spesimen yang dikumpulkan dalam penelitian ini berukuran sekitar 20 mm. E. arcanum memiliki bagian mulut yang menggigit dan mengunyah, mata majemuk berwarna coklat kehitaman untuk mendeteksi cahaya dan gerakan, dan antena filiform dengan 19 antena. Antena ke-12 hingga ke-15 berwarna kuning. Prothoraks E. arcanum berbentuk persegi panjang, sedikit lebih panjang dari lebar, dengan permukaan yang halus. Mesotoraks dan metatoraks melintang, lebih lebar daripada panjang, dan juga memiliki permukaan yang halus. Abdomen terdiri dari sembilan segmen tergit cembung, kecuali segmen terakhir yang melintang dan sedikit cembung ke arah posterior.