cover
Contact Name
Triawan Alkausar
Contact Email
triawanalkausar@radenintan.ac.id
Phone
+6282185372675
Journal Mail Official
triawanalkausar@radenintan.ac.id
Editorial Address
Prodi Biologi, Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung Jl. Endro Suratmin, Sukarame, Kec. Sukarame, Kota Bandar Lampung, Lampung 35131
Location
Kota bandar lampung,
Lampung
INDONESIA
Organisms: Journal of Biosciences
ISSN : 28084012     EISSN : 28084012     DOI : 10.24042/organisms
Organisms is a journal issued by Biology Department Faculty of Science and Technology, Islamic State University Raden Intan Lampung, which publish twice a year, namely May and November. Organisms Journal publishes a comprehensive and essential research articles with the following scopes: Environmental science, Biodiversity, Biotechnology, Microbiology, Ecology, Physiology (animals and plants), Genetics, Human biology, Animal science, and Plant science. Organisms Journal uses the OJS System to manage the manuscript that the editorial board, editors, and peer review (blind review) can reach the real-time status of the articles.
Articles 65 Documents
Potensi Bakteri Endofit Limbah Daun Kayu Putih (Melaleuca cajuputi Powell) Terhadap Aktivitas Enzim Selulase Ukit, Ukit; Widiana, Ana; Islamiyah, Ghina; Lugina N.S, Dina
ORGANISMS: JOURNAL OF BIOSCIENCES Vol. 2 No. 2 (2022): Organisms: Journal of Biosciences
Publisher : Pusat HKI, Paten, dan Publikasi Ilmiah Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/organisms.v2i2.14250

Abstract

This reseach aims to determine cellulolytic isolates found in waste of eucalyptus leaves (Melaleuca cajuputi), as well as knowing the activity of cellulase enzymes produced by bacterial isolates. Screening of isolates was carried out to determine isolates that formed clear zones, which were then tested for cellulase enzyme activity. The results showed that Bacillus subtilis 4K3 and Bacillus subtilis 4K1 bacteria which were 4.19 mm and 3.13 mm. Bacillus subtilis 4K3 bacteria with enzyme activity values were 9.39 U / ml and 15.82 U / ml.AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui isolat bakteri selulolitik yang terdapat pada limbah daun kayu putih (Melaleuca cajuputi), serta mengetahui aktivitas enzim selulase yang dihasilkan oleh isolat bakteri. Skrining isolat dilakukan untuk mengetahui isolat yang membentuk zona bening, yang selanjutnya dilakukan uji aktivitas enzim selulase. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bakteri Bacillus subtilis 4K3 dan Bacillus subtilis 4K1 yaitu 4,19 mm dan 3,13 mm. Bakteri yang menghasilkan aktivitas enzim selulase tertinggi yaitu bakteri  Bacillus subtilis 4K3 dengan nilai aktivitas enzim yaitu 9,39 U/ml dan 15,82 U/ml 
Tepung Umbi Gadung (Dioscorea hispida Dennst) Sebagai Alternatif Media Pengganti Media PDA (Potato Dextrose Agar) Halimah, Nur; Apriani, Ike; Sunarti, Riri Novita
ORGANISMS: JOURNAL OF BIOSCIENCES Vol. 2 No. 2 (2022): Organisms: Journal of Biosciences
Publisher : Pusat HKI, Paten, dan Publikasi Ilmiah Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/organisms.v2i2.14252

Abstract

Fungus belong to eukaryotic prosthetic organisms that are chemohypertrophic. When studying the properties of fungus, a material is needed as a nutritional source to grow or isolate fungus known as the media. The most commonly used media for fungal culture is instant PDA media. The relatively high price of instant PDA media is a common problem. That's why we need alternative media that are more economical. The aim of this research is to test whether the gadung tuber flour media can be used as an alternative to PDA. Method used in this study is the experimental method and  design used, fully randomized design with 6 treatments and 4 replicates. Concentrations of gadung tuber flour used were 5%, 10%, 15%, 20% and 25%. The data obtained was analyzed with Annova with a confidence level of 95%. The results showed that the grading tuber meal alternative media had a significant effect on the growth of Candida albicans. Fungus can grow in alternative media at a concentration of 5% to 25% with the highest number of colonies at a concentration of 25%, namely 155.3 in 100 µl.AbstrakJamur termasuk organisme prostetik eukariotik yang bersifat kemohipertrofik. Dalam mempelajari sifat-sifat jamur diperlukan suatu bahan sebagai sumber nutrisi untuk menumbuhkan atau mengisolasi jamur yang dikenal dengan media. Media yang paling umum digunakan untuk kultur jamur adalah media PDA instan. Harga media PDA instan yang relatif mahal merupakan masalah yang umum. Untuk itu diperlukan media alternatif yang lebih ekonomis. Penelitian ini bertujuan untuk menguji apakah media tepung umbi gadung dapat digunakan sebagai alternatif pengganti PDA. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimen dan desain yang digunakan, Rancangan Acak Lengkap dengan 6 perlakuan dan 4 ulangan. Konsentrasi tepung umbi gadung yang digunakan adalah 5%, 10%, 15%, 20% dan 25%. Data yang diperoleh dianalisis dengan Annova dengan tingkat kepercayaan 95%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa grading media alternatif tepung umbi berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan Candida albicans. Jamur dapat tumbuh pada media alternatif pada konsentrasi 5% sampai 25% dengan jumlah koloni tertinggi pada konsentrasi 25% yaitu 155,3 dalam 100 µl
Aktivitas Antimikroba Actinomycetes Hasil Isolasi Sedimen Mangrove Asal Kecamatan Bontoa Terhadap Sreptococcus mutans Alhidayatullah, Alhidayatullah; Putri Aziz, A. Alfiana; Wahyuni, Dwi Fitrah
ORGANISMS: JOURNAL OF BIOSCIENCES Vol. 2 No. 2 (2022): Organisms: Journal of Biosciences
Publisher : Pusat HKI, Paten, dan Publikasi Ilmiah Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/organisms.v2i2.14263

Abstract

Mangroves are one of the ecosystems that are rich in nutrients and contain a lot of organic matter used by microorganisms such as actinomycetes. Actinomycetes are gram-positive bacteria capable of producing bioactive compounds. Actinomycetes are microorganisms that produce secondary metabolites that have biological activity as antimicrobials. The purpose of this study was to determine whether there are actinomycetes in Bontoa District and the potential for actinomycetes in Bontoa District which have antibacterial activity against Streptococcus mutans. Isolation of actinomycetes was carried out using HVA media, then purified on YMEA media and tested the inhibition of actinomycetes using the diffusion method using MEA media. The results showed that the isolation results obtained 7 isolates of actinomycetes, namely AC1, AC2, AC3, AC4, AC5, AC6 and AC7. The inhibitory activities from the largest to the smallest were 10 mm, 9.5 mm, 9 mm, 8.5 mm and 8 mm, respectively. Actinomycetes found in Bonto Bahari Village, Bontoa District, Maros Regency had antimicrobial activity.AbstrakMangrove merupakan salah satu ekosistem yang kaya akan nutrisi dan memiliki banyak kandungan bahan organik yang digunakan oleh mikroorganisme seperti aktinomiset. Actinomycetes merupakan bakteri gram positif yang mampu menghasilkan senyawa bioaktif. Actinomycetes merupakan mikroorganisme penghasil metabolit sekunder yang memiliki aktivitas biologi sebagai antimikroba. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keberadaan actinomycetes pada hutan mangrove di Kecamatan Bontoa dan potensi adanya actinomycetes di Kecamatan Bontoa yang memiliki aktivitas antibakteri terhadap Streptococcus mutans. Actinomycetes diisolasi dengan dengan menggunakan media HVA, lalu dipurifikasi dengan media YMEA. Uji daya hambat actinomycetes terhadap Streptococcus mutans dengan metode difusi menggunakan media MEA. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari hasil isolasi diperoleh 7 isolat actinomycetes yaitu AC1, AC2, AC3, AC4, AC5, AC6 dan AC7. Isolat dengan aktivitas daya hambat terbesar dan terkecil berturut-turut adalah isolat AC4 (9,6 mm) dan AC1 (8,3 mm). Terdapat actinomycetes di Desa Bonto Bahari Kecamatan Bontoa Kabupaten Maros yang memiliki aktivitas antimikroba terhadap Streptococcus mutans. 
Keragaman Bryophyta di Kawasan Wisata Gunung Pandan, Kabupaten Aceh Tamiang, Provinsi Aceh Simarmata, Putriani; Muhaini, Ayuni; Ananda, Julia; Lubis, Parlindungan; Malau, Marturia; Navia, Zidni Ilman
ORGANISMS: JOURNAL OF BIOSCIENCES Vol. 2 No. 2 (2022): Organisms: Journal of Biosciences
Publisher : Pusat HKI, Paten, dan Publikasi Ilmiah Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/organisms.v2i2.14357

Abstract

Gunung Pandan Tourism is an area with waterfalls and rivers that has the potential to become a Bryophyte habitat. The aim of this study is to look into the diversity of Bryophyte in the Gunung Pandan tourist area. The exploratory method was used to collect data. The mosses discovered during the study were collected, herbarium specimens were made, and the mosses were identified. The results showed up of about 5 Bryophyte species, divided into 4 genera and 4 families. Bryophyte of all varieties can be found on rock, tree trunks, weathered wood, and soil substrates AbstrakWisata Gunung Pandan merupakan suatu kawasan yang berupa air terjun dan sungai sehingga berpotensi menjadi suatu habitat dari lumut. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji keanekaragaman lumut di kawasan wisata gunung pandan. Pengumpulan data dilakukan dengan metode eksplorasi. Lumut yang dijumpai selama penelitian dikoleksi, dibuat spesimen herbarium, dan diidentifikasi. Hasil penelitian diperoleh sebanyak 5 jenis lumut terdiri atas 4 marga dan 4 famili. Semua jenis Bryophyta ditemukan pada tipe substrat batu, batang pohon, kayu lapuk, dan tanah
Mikroba Agen Biodegradasi Lignoselulosa: Analisis Bibliometrik Widiani, Nurhaida
ORGANISMS: JOURNAL OF BIOSCIENCES Vol. 3 No. 1 (2023): Organisms: Journal of Biosciences
Publisher : Pusat HKI, Paten, dan Publikasi Ilmiah Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/organisms.v3i1.16008

Abstract

Lignocellulosic biomass is an abundant and geographically diverse source of renewable energy, with great potential for meeting energy demands. Lignocellulosic waste can be degraded and transformed into more useful products such as compost, biochar, biogas, and biofuels. Microorganisms (bacteria, fungi, and actinomycetes) are known to have the ability to degrade cellulose waste. The complex degradation intermediates and metabolic pathways require further study. This research aims to describe the research trends related to lignocellulosic biodegradation using the Web of Science database from 2008 to 2022. Data collection was done using the keywords degradation, lignocellulose, and microorganisms. VOSviewer© software was used to analyze the relationship between research topics, the most frequently researched topics, main researchers on lignocellulosic biodegradation, and countries with the highest number of scientific publications related to the field. The results show that cellulose, lignocellulose, lignin, degradation, microbial consortium, and composting are still trending topics for research. The highest number of publications occurred in 2021, with 71 scientific works (15.44%), while the lowest was in 2009, with 12 scientific works (2.61%). China produced the highest number of scientific publications.AbstrakBiomassa lignoselulosa adalah sumber energi terbarukan yang melimpah secara geografis, berpotensi besar untuk peningkatan kebutuhan energi. Residu lignoselulosa dapat didegradasi dan ditransformasi menjadi produk yang lebih bermanfaat seperti kompos, biochar, biogas, maupun biofuel. Mikroba (bakteri, fungi, maupun aktinomisetes) diketahui mempunyai kemampuan dalam mendegradasi limbah selulosa. Perantara degradasi dan jalur metabolisme yang kompleks memerlukan studi lebih lanjut. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan trend penelitian yang berhubungan dengan biodegradasi lignoselulosa dengan menggunakan database Web of Science dari tahun 2008 - 2022. Pengumpulan data dilakukan dengan kata kunci degradasi, lignoselulosa, dan mikroba.. Aplikasi VOSviewer© digunakan untuk menganalisis hubungan antara topik penelitian, topik penelitian yang paling sering diteliti, peneliti utama tentang biodegradasi lignoselulosa, maupun negara yang paling banyak melakukan publikasi ilmiah terkait dengan bidang tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Cellulose, lignocellulose, lignin, degradation, microbial consortium, dan composting masih manjadi trend untuk diteliti Publikasi terbanyak terjadi pada tahun 2021 yaitu sebanyak 71 karya ilmiah (15,44%), sedangkan publikasi terendah terjadi pada tahun 2009 sebanyak 12 karya ilmiah (2,61%). China sebagai negara yang paling banyak menghasilkan publikasi ilmiah. 
Pengaruh Penambahan Variasi Jumlah Isolat Monascus purpureus Pada Sifat Organoleptik Teh Kombucha Alhidayatullah, Alhidayatullah; Hadijah, Siti
ORGANISMS: JOURNAL OF BIOSCIENCES Vol. 3 No. 1 (2023): Organisms: Journal of Biosciences
Publisher : Pusat HKI, Paten, dan Publikasi Ilmiah Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/organisms.v3i1.16335

Abstract

Kombucha tea are fermentated drink of tea and sugar liquid used kombucha starter. The purpose of this study was to determine the effect of adding variations in the number of Monascus purpureus in organoleptic properties of kombucha tea.The research was used a faktorial complete random design with four treatments of isolate concentration i.e 1%, 2%, 3% and 0% (control). Organoleptic tests include taste, scent, and colour. The results showed that the addition of variations in the concentration of Monascus purpureus had an effect on scent and taste. Th highest average value based on the level of preference in organolptic test results includes the taste, scent, and colour of tea on isolate treatments respectively were 2% (3), 2% (3.6), 2% and control (3.6). The treatments with 2% isolates gave the best results on this study.AbstrakTeh kombucha adalah minuman hasil fermentasi larutan teh dan gula dengan menggunakan starter kombucha. Tujuan Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh penambahan variasi jumlah isolat Monascus purpureus pada sifat organoleptik teh kombucha. Penelitian dilakukan dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap dengan 4 perlakuan konsentrasi isolat yaitu: 1%, 2%, 3% dan 0% (kontrol). Uji organoleptik meliputi aroma, rasa, warna. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan variasi jumlah Monascus purpureus berpengaruh terhadap aroma dan rasa. Nilai rerata tertinggi berdasarkan tingkat kesukaan pada hasil uji organoleptik meliputi rasa, aroma, dan warna teh kombucha berturut-turut adalah pada perlakuan jumlah isolat 2% (3), 2% (3.6), 2% dan kontrol (3.6). Perlakuan jumlah isolat 2% memberikan hasil terbaik pada perlakuan yang diberikan
Analisis Kualitas Teh Kombucha Berdasarkan Jenis Teh Yang Digunakan Kamelia, Marlina; Winandari, Ovi Prasetya; Supriyadi, Supriyadi; Meirina, Meirina
ORGANISMS: JOURNAL OF BIOSCIENCES Vol. 3 No. 1 (2023): Organisms: Journal of Biosciences
Publisher : Pusat HKI, Paten, dan Publikasi Ilmiah Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/organisms.v3i1.16391

Abstract

Tea is a type of plant that is often used as an ingredient in functional drinks. Based on the method of processing the leaves after harvest, they are divided into black tea, white tea, green tea, yellow tea, oolong tea, and pu erh. Kombucha tea is one example of a functional tea-based drink. Kombucha tea is made by fermenting a tea solution that has been given sugar using a microbial starter in the form of SCOBY (Symbiotic Culture of Bactery and Yeast). This fermentation is generally for 8-12 days. This study aims to analyze the quality of kombucha tea with different tea base ingredients. This type of research is a quantitative experimental design with a completely randomized design (CRD) using 4 variations of tea, namely white tea, black tea, green tea, and oolong tea. The parameters analyzed included total acid (%), pH value, vitamin C content (mg/ml), antioxidant activity, thickness of nata, and organoleptic test. This study shows that different types of tea affect the quality of kombucha tea. The highest levels of vitamin C in white tea were 5,81 mg/ml; The highest total acid content in green tea was 1.44%; The lowest pH in black tea is 3.51; the highest antioxidant activity in white tea was 92,29%; the highest thickness of nata in black tea was 0.72 cm; Organoleptic test for the most preferred aroma was white tea (6.9), the most preferred color was green tea (7.54), while the most preferred flavor was green tea (7.24). AbstrakTeh merupakan salah jenis tanaman yang sering digunakan sebagai bahan minuman fungsional.  Teh berdasarkan cara memproses daunnya setelah panen dibedakan menjadi teh hitam (black tea), teh putih (white tea), teh hijau (green tea), teh kuning (yellow tea), teh oolong (oolong tea), dan teh pu erh (pu erh tea). Teh kombucha adalah salah satu contoh minuman fungsional berbahan dasar teh. Teh kombucha dibuat dengan memfermentasi larutan teh yang telah diberi gula menggunakan starter mikroba berupa SCOBY (Symbiotic Culture of Bactery and Yeast). Fermentasi ini umumnya selama 8-12 hari. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kualitas teh kombucha dengan bahan dasar teh yang berbeda. Jenis penelitian ini adalah eksperimental kuantitatif yang dirancang dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) menggunakan 4 variasi teh yaitu teh putih, teh hitam, teh hijau, dan teh oolong.  Parameter yang dianalisis meliputi total asam (%), nilai pH, kadar vitamin C (mg/ml),  aktivitas antioksidan, ketebalan nata, serta uji organoleptik.  Penelitian ini menunjukkan bahwa jenis teh yang berbeda mempengaruhi kualitas teh kombucha.  Kadar vitamin C tertinggi pada teh putih sebesar 5,81 mg/ml; kadar total asam tertinggi pada teh hijau sebesar 1,44 %; pH terendah pada teh hitam sebesar 3,51; aktivitas antioksidan tertinggi pada teh putih sebesar 92,29%; ketebalan nata tertinggi pada teh hitam sebesar 0,72 cm; uji organoleptik untuk aroma paling disukai yaitu teh putih (6,9), warna paling disukai yaitu teh hijau (7,54), sedangkan rasa  yang paling disukai yaitu teh hijau (7,24). 
Studi Pendahuluan: Kepiting Air Tawar (Parathelphusa maindroni) di Kawasan Geopark Merangin Provinsi Jambi Wulandari, Tia; Ihsan, Mahya; Suprayogi, Dawam
ORGANISMS: JOURNAL OF BIOSCIENCES Vol. 3 No. 1 (2023): Organisms: Journal of Biosciences
Publisher : Pusat HKI, Paten, dan Publikasi Ilmiah Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/organisms.v3i1.16444

Abstract

Geopark Merangin is one of the World’s Natural Heritages (Geological Heritage Site) in Jambi Province which under the auspices of UNESCO. The area has the potential to be developed into an eco-geotourism area. To support this development, monitoring is needed for geological diversity, biodiversity, and cultural diversity. One potential study that can be explored is the existence of freshwater crabs. To date, the existence of freshwater crab species in the waters of Geopark Merangin has not been reported. This study aims to collect freshwater crabs that can be found in the Geopark Merangin area as a preliminary study of freshwater crab diversity in that area. The result indicates that one of the freshwater crab can be found is Parathelphusa maidroni. The presence of P. maidroni in Geopark Merangin area can serve as bioindicator of good water quality and open up potential for the discovery of other species. Futhermore, the discovery of P. maidroni in the aquatic region of Geopark Merangin can be considered as an initial step towards the identification of various freshwater crab species in that area.  AbstrakKawasan perairan Geopark Merangin Provinsi Jambi merupakan salah satu warisan alam dunia (Geological Heritage Site) dibawah naungan UNESCO. Kawasan tersebut berpotensi untuk dikembangakan menjadi kawasan Eco-geowisata. Untuk mendukung pengembangan tersebut, perlu dilakukan monitoring baik dari keanekaragaman geologi, keanekaragaman hayati maupun keanekaragaman budaya. Salah satu kajian yang dapat digali potensinya yaitu keberadaan kepiting air tawar. Sampai saat ini belum dilaporkan keberadaan jenis-jenis kepiting air tawar yang ada di perairan Geopark Merangin. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji jenis kepiting air tawar yang dapat ditemukan di kawasan Geopark Merangin sebagai studi pendahuluan terkait keragaman kepiting air tawar yang ada di kawasan tersebut. Hasil penelitian menunjukkan salah satu jenis kepiting air tawar yang dapat ditemukan yaitu Parathelphusa maidroni. Keberadaan P. maidroni di kawasan perairan Geopark Merangin dapat menjadi bioindikator perairan yang masih baik, dan membuka potensi ditemukan jenis kepiting air tawar lainnya. Selain itu dengan ditemukannya P. maidroni di kawasan perairan Geopark Merangin dapat dijadikan sebagai langkah awal untuk dilakukannya pendataan dan eksplorasi jenis-jenis kepiting air tawar di kawasan tersebut. 
Beberapa Tumbuhan yang Berpotensi Sebagai Anti-Skabies di Indonesia Septiani, Linda; Pertiwi, Primasari; Andrifianie, Femmy; Marcellia, Selvi; Damayanti, Ervina
ORGANISMS: JOURNAL OF BIOSCIENCES Vol. 3 No. 1 (2023): Organisms: Journal of Biosciences
Publisher : Pusat HKI, Paten, dan Publikasi Ilmiah Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/organisms.v3i1.16473

Abstract

Scabies is a type of parasitic infectious disease of the skin caused by the mite Sarcoptes scabiei var hominis.  Scabies is often found in areas with high population density, low economic status, poor sanitation and hygiene. For now, medication is one of the factors inhibitors in the treatment of scabies. This happened because chemical drugs has several effects such as contraindications, irritation, toxicity, and is not effective to all mite stages. Therefore, alternative treatments are needed that come from natural ingredients by exploring various plants in Indonesia that potential to have an active compounds to eradicate mites. The aims of this study is to summarize some of the result of research on alternative plant based anti-scabies and give the information as a reference for further research. This study uses the literature study method to obtain information from several research journal. Based on the results of a literature search, it was found that 15 plant species were extracted and tested on animals and humans which contain active compounds and have the potential as anti-scabies. These fifteen plants can grow well in the territory of Indonesia, so that people can cultivate them and develop them as natural anti-scabies agents. AbstrakSkabies merupakan salah satu jenis penyakit infeksi parasit pada kulit yang disebabkan oleh tungau Sarcoptes scabiei var hominis. Skabies banyak ditemukan di daerah dengan kepadatan penduduk yang tinggi, status ekonomi rendah, sanitasi dan hygiene yang buruk. Saat ini, pengobatan dengan bahan kimia menjadi salah satu faktor yang menjadi penghambat dalam penanggulangan skabies. Hal tersebut terjadi karena obat kimia memiliki beberapa efek seperti kontraindikasi, iritasi, toksik, dan tidak efektif terhadap semua stadium tungau. Oleh karena itu, diperlukan alternatif pengobatan yang berasal dari bahan alam dengan mengeksplorasi berbagai tumbuhan di Indonesia yang berpotensi memiliki senyawa aktif untuk membasmi tungau. Tujuan studi ini adalah merangkum beberapa hasil penelitian tentang obat alternatif anti skabies berbahan dasar tumbuhan dan memberikan informasi dasar sebagai referensi penelitian lebih lanjut. Penelitian ini menggunakan metode studi literatur untuk memperoleh informasi dari beberapa jurnal penelitian. Berdasarkan hasil penelusuran pustaka diperoleh 15 jenis tumbuhan yang di ekstrak dan di uji ke hewan maupun manusia yang memiliki kandungan senyawa aktif dan berpotensi sebagai anti skabies. Kelima belas tanaman tersebut dapat tumbuh dengan baik dengan di wilayah Indonesia, sehingga masyarakat dapat membudidayakannya dan mengembangkannya sebagai bahan anti-skabies alami. 
Formulasi Dan Uji Aktivitas Antibakteri Sediaan Sabun Cair Ekstrak Bunga Cengkeh (Syzygium aromaticum L.) Dengan Variasi Konsentrasi Carbopol 940 Terhadap Bakteri Staphylococcus aureus ATCC 25923 Khatimah, Husnul; Aisiyah, Siti; Wulandari, Destik
ORGANISMS: JOURNAL OF BIOSCIENCES Vol. 3 No. 1 (2023): Organisms: Journal of Biosciences
Publisher : Pusat HKI, Paten, dan Publikasi Ilmiah Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/organisms.v3i1.16609

Abstract

Liquid soap is one of the preparations to prevent skin infections caused by bacteria. One of the bacteria that causes infection is Staphylococcus aureus. The content of flavonoids, tannins and alkaloids found in clove flowers (Syzygium aromaticum L.) can inhibit antibacterial activity. This study aims to determine the effect of varying concentrations of carbopol 940 on the physical quality of liquid soap preparations of clove flower extract, having antibacterial activity against Staphylococcus aureus bacteria and which formula has the best physical quality. The results showed that variations in carbopol 940 affected the physical quality of the liquid soap preparation, i.e. the increasing concentration of carbopol 940 affected the viscosity and free alkali. All formulas have antibacterial activity of 26.27 (F4); 25.90 (F5); 25.52 (F6). The formula with the best physical quality and antibacterial activity was formula 4 with a concentration of 0.5% carbopol 940 and had an inhibitory effect on bacteria of 26.27 mm. AbstrakSabun cair adalah salah satu persiapan untuk mencegah infeksi kulit yang disebabkan oleh bakteri. Salah satu bakteri yang menyebabkan infeksi adalah Staphylococcus aureus. Kandungan flavonoid, tanin, dan alkaloid yang ditemukan dalam bunga cengkeh (Syzygium aromaticum L.) dapat menghambat aktivitas antibakteri. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan efek variasi konsentrasi carbopol 940 pada kualitas fisik dari persiapan sabun cair ekstrak bunga cengkeh, yang memiliki aktivitas antibakteri terhadap bakteri Staphylococcus aureus, dan formula mana yang memiliki kualitas fisik terbaik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa variasi carbopol 940 mempengaruhi kualitas fisik dari persiapan sabun cair, yaitu peningkatan konsentrasi carbopol 940 mempengaruhi viskositas dan alkali bebas. Semua formula memiliki aktivitas antibakteri sebesar 26,27 (F4); 25,90 (F5); 25,52 (F6). Formula dengan kualitas fisik dan aktivitas antibakteri terbaik adalah formula 4 dengan konsentrasi carbopol 940 0,5% dan memiliki efek penghambatan bakteri sebesar 26,27 mm.