cover
Contact Name
Eka Indra Setyawan
Contact Email
ekaindrasetyawan@unud.ac.id
Phone
+6281364892853
Journal Mail Official
indrasetyawan@ymail.com
Editorial Address
Department of Pharmacy Udayana University
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Prosiding Workshop dan Seminar Nasional Farmasi (WSNF)
Published by Universitas Udayana
ISSN : -     EISSN : 29861772     DOI : https://doi.org/10.24843/WSNF.2022.v01.i01
Workshop dan Seminar Nasional Farmasi (WSNF) adalah sebuah kegiatan bertaraf nasional yang menyelenggarakan kegiatan workshop dan seminar kefarmasian untuk mengembangkan intelektualitas, softskill, wawasan, dan pengalaman peserta. Program ini merupakan program kerja Himpunan Mahasiswa Prodi Farmasi (HIMAFARMA) Prodi Farmasi Fakultas MIPA Universitas Udayana. Kegiatan ini juga didukung dengan adanya seminar prosiding yang memungkinkan peserta untuk mempublikasikan penelitiannya yang orisinal, kreatif, dan inovatif dalam bidang kefarmasian dan kesehatan ke masyarakat.
Articles 100 Documents
Evaluasi Zona Hambat Berbagai Sediaan Topikal Anti Jerawat Dari Ekstrak Daun Beluntas (Pluchea indica L.) Ni Ketut Sri Anggreni; Sagung Chandra Yowani
Prosiding Workshop dan Seminar Nasional Farmasi Vol. 1 (2022): Prosiding Workshop dan Seminar Nasional Farmasi 2022
Publisher : Program Studi Farmasi Fakultas MIPA Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/WSNF.2022.v01.i01.p11

Abstract

Jerawat merupakan gangguan peradangan kronis pada kulit yang dapat mempengaruhi unit folikel kelenjar sebaceous. Munculnya jerawat disebabkan oleh adanya pertumbuhan bakteri yang menginfeksi kulit sehingga terjadi peradangan pada kulit. Umumnya infeksi bakteri pada penyakit jerawat diobati dengan antibiotik. Namun, apabila penggunaan antibiotik tidak rasional maka akan menyebabkan resisten. Dari hal tersebut diperlukan pengobatan alternatif dengan memanfaatkan bahan alam. Salah satu tanaman yang banyak dimanfaatkan untuk pengobatan adalah tanaman beluntas (Pluchea indica L.). Bagian dari tanaman beluntas yang dimanfaatkan untuk pengobatan tradisional yaitu daunnya yang mana kandungan senyawa aktif dari daun beluntas yakni flavonoid, alkaloid, natrium, tannin, kalium, aluminium, kalsium, saponin, minyak atsiri, magnesium, polifenol, dan fosfor. Beberapa dari kandungan daun beluntas memiliki aktivitas anti jerawat sehingga berpotensi besar untuk dimanfaatkan pada kosmetika. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui jenis sediaan yang efektif dengan konsentrasi ekstrak daun beluntas terbaik dan menghasilkan nilai zona hambat yang besar dalam menghambat pertumbuhan bakteri penyebab jerawat (Propionibacterium acnes). Pada penelitian ini menggunakan metode literature review dengan menggunakan jurnal nasional dan jurnal internasional terindeks. Artikel yang membahas mengenai sediaan topikal ekstrak daun beluntas seperti krim, losion, sabun wajah, serum wajah, dan gel serum sebagai anti jerawat kemudian dikaji secara utuh dan disajikan dalam bentuk review studi literatur ilmiah. Diperoleh kesimpulan dari hasil yang didapatkan bahwa sediaan dari ekstrak daun beluntas yang paling efektif dalam menghambat pertumbuhan bakteri penyebab jerawat (Propionibacterium acnes) yaitu sediaan gel serum dengan konsentrasi ekstrak sebesar 1% dengan zona hambat 20,73 mm.
Review: Studi Kandungan Fitokimia dan Aktivitas Antimikroba Daun Buas Buas (Premna cordifolia) Gusti Ngurah Trisna; Ni Putu Eka Leliqia
Prosiding Workshop dan Seminar Nasional Farmasi Vol. 1 (2022): Prosiding Workshop dan Seminar Nasional Farmasi 2022
Publisher : Program Studi Farmasi Fakultas MIPA Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/WSNF.2022.v01.i01.p12

Abstract

Tumbuhan buas buas (Premna cordifolia L.) yang termasuk ke dalam famili Lamiaceae dilaporkan aktif sebagai agen antimikroba. Narrative review ini bertujuan untuk mengkaji penelitian terbaru mengenai kandungan senyawa fitokimia dan aktivitas antimikroba dari daun buas buas. Artikel ini merupakan narrative review dari artikel-artikel ilmiah yang dikumpulkan melalui situs internet. Hasil studi literatur menunjukkan bahwa berbagai macam ekstrak daun buas buas mengandung golongan senyawa flavonoid, saponin, fenolik, alkaloid, tanin, terpenoid, triterpenoid, steroid, dan polifenol. Buas buas terbukti dapat menghambat pertumbuhan bakteri Gram positif yaitu, Staphylococcus aureus, Bacillus cereus, Streptococcus pyogenes, Streptococcus mutans, Streptococcus salivarius, dan Lactobacillus acidophilus, dan juga terhadap bakteri Gram negatif seperti Pseudomonas aeruginosa, Pseudomonas marginalis, Pseudomonas syringae, Escherichia coli, Xanthomonas campestries, dan Salmonella typhi. Selain itu, buas buas juga memiliki aktivitas antifungi terhadap jamur Candida albicans, Aspergillus niger, Penicillium expansum, dan Fusarium oxysporum. Senyawa fitokimia yang terkandung dalam daun buas buas diduga berperan penting dalam aktivitasnya sebagai antimikroba. Hasil studi literatur ini dapat dijadikan sebagai dasar untuk penelitian selanjutnya dengan bahan daun buas buas sebagai agen antimikroba yang bersumber dari bahan alam.
Efek Penambahan Minyak Jahe Sebagai Antioksidan Alami Dalam Mempertahankan Stabilitas Minyak Ikan Patin (Pangasius hypophthalmus) Yan Hendrika; Azlaini Yus Nasution; Vonny Kurnia Utama; Fatiha Ulfa
Prosiding Workshop dan Seminar Nasional Farmasi Vol. 1 (2022): Prosiding Workshop dan Seminar Nasional Farmasi 2022
Publisher : Program Studi Farmasi Fakultas MIPA Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/WSNF.2022.v01.i01.p13

Abstract

Ikan patin (Pangasius hypopthalamus) merupakan salah satu komoditas unggulan di Provinsi Riau dengan kandungan minyak yang tingga sehingga berpotensi untuk diekstrak menjadi sumber asam lemak yang bisa bermanfaat bagi kesehatan. Penambahan antioksidan mampu menghambat kerusakan asam lemak pada minyak ikan patin. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kualitas minyakikan patin setelah penambahan minyak jahe sebagai antioksidan alami. Metode yang digunakan adalah metode titrasi untuk menentukan angka peroksida dari minyak ikan patin setelah penambahan minyak jahe dibandingkan dengan penambahan antioksidan alami TBHQ setelah penyimpanan selama 0, 7, dan 14 hari. Hasil yang diperoleh dari pengujian angka peroksida untuk minyak patin dengan penambahan minyak jahe untuk hari ke 0, 7, dan 14 adalah 1,58 meq/kg; 1,58 meq/kg dan 2,18 meq/kg. Sedangkan hasil yang diperoleh dari pengujian angka peroksida minyak ikan patin dengan penambahan antioksidan sintetik TBHQ untuk hari ke 0, 7, dan 14 adalah 0,90 meq/kg; 1,88 meq/kg; dan 2,11 meq/kg. Berdasarkan hasil yang diperoleh dapat disimpulkan angka peroksida minyak ikan patin yang disimpan selama 0, 7 dan 14 hari memenuhi persyaratan menurut Internasional Fish Oil Standard (IFOS) yaitu < 3,75 meq/kg.
Potensi Isokuersitrin Sebagai Agen Antihiperpigmentasi Secara In Silico Dengan Metode Molecular Docking Ni Luh Ari Krisma Anjani; Ni Putu Linda Laksmiani
Prosiding Workshop dan Seminar Nasional Farmasi Vol. 1 (2022): Prosiding Workshop dan Seminar Nasional Farmasi 2022
Publisher : Program Studi Farmasi Fakultas MIPA Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/WSNF.2022.v01.i01.p14

Abstract

Prevalensi hiperpigmentasi di Asia cukup tinggi, salah satunya di Indonesia. Iklim tropis Indonesia dan pajanan sinar matahari yang intens berdampak pada peningkatan kejadian hiperpigmentasi. Hiperpigmentasi merupakan peningkatan produksi melanin yang berakibat pada penggelapan warna kulit. Hiperpigmentasi ini cenderung mengganggu penampilan dan mengurangi kepercayaan diri sehingga mencerahkan warna kulit sering diupayakan banyak orang. Pengatasan terhadap hiperpigmentasi dapat dilakukan dengan menghambat proses sintesis melanin (agen antihiperpigmentasi). Salah satu enzim yang mengatur produksi melanin adalah D-dopachrome tautomerase. Isokuersitrin merupakan flavonoid yang memiliki aktivitas antioksidan kuat. Hiperpigmentasi dapat dicegah dengan antioksidan melalui mekanisme penghambatan ROS (Reactive Oxygen Species). Isokuersitrin umumnya ditemukan dalam tanaman obat, buah-buahan, dan sayuran. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui potensi isokuersitrin secara in silico sebagai agen antihiperpigmentasi terhadap D-dopachrome tautomerase melalui metode molecular docking. Tahapan yang dilakukan dalam penelitian ini adalah preparasi dan optimasi isokuersitrin menggunakan Hyperchem 8, preparasi D-dopachrome tautomerase menggunakan Chimera 1.11.1, validasi metode dan docking menggunakan AutoDockTools 1.5.6. Metode molecular docking telah dinyatakan valid karena RMSD yang diperoleh sebesar 0,12 Å (tidak lebih dari 3 Å). Energi ikatan menggambarkan afinitas senyawa uji terhadap protein target. Berdasarkan hasil penelitian, energi ikatan isokuersitrin dengan Ddopachrome tautomerase sebesar -7,66 kkal/mol sedangkan native ligand energi ikatannya sebesar -6,48 kkal/mol. Hal tersebut menunjukkan nilai energi ikatan senyawa isokuersitrin lebih rendah dibandingkan dengan native ligand, sehingga secara in silico isokuersitrin berpotensi dikembangkan sebagai antihiperpigmentasi.
Potensi dan Aktivitas Antibakteri Madu, Bee Pollen, dan Propolis dari Lebah Kele (Trigona sp.) terhadap Bakteri Penyebab Jerawat Sang Ayu Made Dwi Ariesta Putri; Ni Putu Ariantari
Prosiding Workshop dan Seminar Nasional Farmasi Vol. 1 (2022): Prosiding Workshop dan Seminar Nasional Farmasi 2022
Publisher : Program Studi Farmasi Fakultas MIPA Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/WSNF.2022.v01.i01.p15

Abstract

Jerawat merupakan peradangan yang terjadi di bagian tubuh seperti wajah, dada, leher, dan punggung yang lumrah dialami pada usia remaja hingga dewasa. Jerawat dikarakterisasi dengan adanya papula, komedo hitam dan putih, pustula, nodul, dan jerawat batu. Infeksi jerawat dakibatkan dari berlebihnya aktivitas kelenjar minyak serta diperburuk oleh adanya infeksi bakteri. Salah satu sumber daya lokal yang berpotensi sebagai antibakteri adalah lebah Trigona atau yang di Bali lebih dikenal dengan istilah kele. Lebah kele merupakan lebah yang memiliki karakteristik hitam pekat, tidak bersengat, dan menghasilkan rasa madu yang lebih asam dibandingkan madu lainnya. Tujuan review artikel ini adalah untuk mengkaji informasi mengenai potensi dan aktivitas antibakteri dari lebah kele dalam bentuk produk hasilnya berupa madu, bee pollen, dan propolis terhadap bakteri penyebab jerawat serta mengetahui kandungan senyawa kimia yang berperan dalam aktivitasnya sebagai antibakteri. Metode penelitian yang dilakukan ialah studi literatur menggunakan artikel penelitian dari jurnal nasional dan internasional dalam 10 tahun terakhir. Hasil review artikel ini melaporkan produk hasil dari kele memiliki potensi dan aktivitas sebagai antibakteri dalam menghambat bakteri penyebab jerawat yaitu Propionibacterium acnes, Staphylococcus epidermidis, dan Staphylococcus aureus. Aktivitas antibakteri dari kele diduga karena mengandung antioksidan yang tinggi. Hal ini didukung dengan adanya total fenolik dan flavonoid yang berperan penting dalam membenahi stres oksidatif. Oleh karenanya, madu, bee pollen, dan propolis dari lebah kele berpotensi untuk dijadikan terapi alternatif sebagai antibakteri pada infeksi jerawat. Melalui review artikel ini, diharapkan bagi peneliti selanjutnya untuk meneliti lebih lanjut mengenai kandungan antibakteri yang terdapat dalam sumber daya lokal dari lebah kele.
Review: Studi Kandungan Fitokimia dan Aktivitas Antimikroba Kecombrang (Etlingera elatior) Ni Putu Gayatri Dewi Dasi; Ni Putu Eka Leliqia
Prosiding Workshop dan Seminar Nasional Farmasi Vol. 1 (2022): Prosiding Workshop dan Seminar Nasional Farmasi 2022
Publisher : Program Studi Farmasi Fakultas MIPA Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/WSNF.2022.v01.i01.p16

Abstract

Kecombrang (Etlingera elatior) merupakan tanaman yang telah banyak digunakan untuk pangan dan pengobatan tradisional. Tanaman ini termasuk ke dalam famili zingiberaceae yang diketahui mengandung berbagai metabolit sekunder yang berpotensi sebagai agen antimikroba. Review artikel ini bertujuan untuk mengkaji beberapa penelitian mengenai kandungan fitokimia dan aktivitas antimikroba kecombrang. Artikel ini merupakan narrative review berdasarkan artikel ilmiah dari jurnal nasional dan internasional. Hasil studi menunjukkan bahwa kandungan fitokimia yang terdapat dalam kecombrang diantaranya flavonoid, tanin, alkaloid, steroid/triterpenoid, kuinon, saponin, glikosida, dan minyak atsiri. Bagian tanaman kecombrang yang dilaporkan memiliki aktivitas antimikroba adalah batang, daun, bunga, dan buah. Kecombrang telah terbukti dapat menghambat pertumbuhan mikroba, yaitu Staphylococcus aureus, Candida albicans, Klebsiella pneumoniae, Escherichia coli, Propionibacterium acnes, Salmonella typhimurium, dan Streptococcus mutans. Dari semua mikroba tersebut, aktivitas antimikroba paling tinggi diperoleh pada fraksi polar bunga kecombrang konsentrasi 30% dalam menghambat Staphylococcus aureus (Ø 18,50 ± 0,76 mm). Berdasarkan studi literatur, tanaman kecombrang mengandung berbagai senyawa metabolit sekunder dan hampir seluruh bagian tanaman memiliki aktivitas antimikroba.
Studi Literatur Kandungan Fitokimia, Aktivitas Farmakologi, dan Toksisitas Cempedak (Artocarpus integer (Thunb.) Merr.) Ni Made Mirah Satya Kanti; Ni Putu Eka Leliqia
Prosiding Workshop dan Seminar Nasional Farmasi Vol. 1 (2022): Prosiding Workshop dan Seminar Nasional Farmasi 2022
Publisher : Program Studi Farmasi Fakultas MIPA Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/WSNF.2022.v01.i01.p17

Abstract

Cempedak (Artocarpus integer) dari famili Moraceae cukup dikenal oleh masyarakat Indonesia. Buah ini satu famili dengan buah nangka, sehingga memiliki penampilan mirip dengan buah nangka namun tekstur buahnya berbeda. Tanaman ini dilaporkan terbukti secara ilmiah memiliki berbagai efek farmakologis. Review artikel ini bertujuan untuk merangkum penelitian ilmiah mengenai kandungan fitokimia, aktivitas farmakologi, dan toksisitas dari A. integer. Metode penulisan artikel ini berupa narrative review dari jurnal-jurnal ilmiah baik nasional maupun internasional. Hasil review menunjukkan bahwa A. integer mengandung senyawa flavonoid, fenol, tannin, steroid/triterpenoid, saponin, alkaloid, karbohidrat, dan protein. Bagian kulit buah, buah, dan daun A. integer dilaporkan memiliki aktivitas sebagai antioksidan. Bagian kayu, akar, dan biji buah dilaporkan memiliki aktivitas antijamur. Sedangkan, bagian tanaman A. integer yang dilaporkan memiliki aktivitas antibakteri yaitu kulit batang, kayu batang, biji buah, kulit buah, dan daun. Metode ekstraksi yang digunakan umumnya maserasi dengan menggunakan pelarut yang bervariasi, diantaranya etanol, metanol, kloroform, dan n-heksana. Hasil uji toksisitas ekstrak etanol biji buah A. integer termasuk dalam kategori praktis tidak toksik dan ekstrak etanol kulit buah A. integer termasuk dalam kategori toksik sedang. Review ini dapat digunakan sebagai informasi awal terkait aktivitas farmakologi dan keamanan dari A. integer.
Potensi Biji Kopi Hijau (Green Bean Coffee) Sebagai Suplemen Penurun Berat Badan Ni Luh Wayan Sita Pujasari; Ni Made Widi Astuti
Prosiding Workshop dan Seminar Nasional Farmasi Vol. 1 (2022): Prosiding Workshop dan Seminar Nasional Farmasi 2022
Publisher : Program Studi Farmasi Fakultas MIPA Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/WSNF.2022.v01.i01.p18

Abstract

Obesitas adalah penyakit yang bersifat multifaktorial terjadi akibat ketidakseimbangan asupan kalori dengan pengeluaran energi sehingga terjadi akumulasi berlebihan jaringan adiposa atau lemak yang dapat mengganggu kesehatan. Pasien diklasifikasikan dalam obesitas jika memiliki body mass index (BMI) lebih besar atau sama dengan 30 kg/m2 dan kelebihan berat badan jika memiliki BMI antara 25 dan 29,9 kg/m2 . Obesitas dapat terjadi karena ketidakseimbangan hormon adiponektin dan leptin atau dapat juga terjadi karena meningkatnya stres oksidatif (OS) dalam tubuh. Biji kopi hijau merupakan kopi yang tidak disangrai berpotensi untuk digunakan sebagai alternatif untuk menurunkan berat badan. Penulisan review artikel ini dilakukan untuk mengetahui kandungan dan potensi biji kopi hijau sebagai agen penurun berat badan. Metode yang digunakan adalah literature review menggunakan jurnal internasional dan jurnal nasional. Artikel yang memenuhi kriteria kemudian dianalisis dan dikaji secara utuh, dan disajikan dalam bentuk review studi literatur ilmiah. Hasil review artikel menunjukkan bahwa ekstrak biji kopi hijau berpotensi digunakan untuk menurunkan badan terkait dengan tingginya kandungan asam klorogenat yang memiliki aktivitas antioksidan. Suplementasi ekstrak biji kopi hijau mampu menurunkan massa organ, kadar lipid, absorbsi glukosa, serta mempengaruhi kadar hormon yang meregulasi jaringan adiposa seperti menurunkan kadar leptin dan meningkatkan kadar adiponektin yang selanjutnya akan berpengaruh terhadap penurunan nilai berat badan dan BMI pada subjek hewan dan manusia. Simpulan menunjukkan bahwa asam klorogenat dalam biji kopi hijau berpotensi sebagai bahan aktif dalam pembuatan suplemen penurun berat badan. Studi lebih lanjut perlu dilakukan untuk mengetahui efek samping dan toksisitas dari suplementasi biji kopi hijau.
Potensi Amorphophallus sp. sebagai Pangan Fungsional untuk Pasien Diabetes Melitus Fiorenza Jocelyn Thelmalina; I Made Agus Gelgel Wirasuta
Prosiding Workshop dan Seminar Nasional Farmasi Vol. 1 (2022): Prosiding Workshop dan Seminar Nasional Farmasi 2022
Publisher : Program Studi Farmasi Fakultas MIPA Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/WSNF.2022.v01.i01.p19

Abstract

Diabetes Melitus termasuk penyakit metabolik yang dikenal dengan ketidakmampuan sel tubuh dalam menggunakan insulin hasil produksi pankreas secara efisien untuk mengubah glukosa menjadi energi. Diabetes Melitus dapat disebut sebagai the silent killer karena penyakit ini dapat menghantam semua organ tubuh sehingga menimbulkan berbagai macam penyakit lainnya. Menurut International Diabetes Federation (IDF), Indonesia menepati peringkat ke-7 dalam 10 negara dengan jumlah penderita diabetes terbanyak, yaitu sebesar 10,7 juta yang mana angka ini diprediksi akan terus meningkat pada tahun 2030 dan 2045 menjadi 13,7 juta dan 16,6 juta. Salah satu upaya untuk pencegahan dan penurunan gula darah akibat diabetes melitus adalah dengan mengonsumsi pangan fungsional dari tanaman. Salah satu tanaman yang memiliki aktivitas sebagai antidiabetes adalah Amorphophallus sp. Penulisan review artikel ini bertujuan untuk mengetahui kandungan dan potensi Amorphophallus sp. dalam menurunkan gula darah sehingga dapat dimanfaatkan sebagai pangan fungsional untuk pasien diabetes melitus. Metode yang digunakan dalam penulisan ini adalah literature review menggunakan jurnal internasional dan nasional yang sesuai dengan tujuan penulisan. Dari hasil penulisan, diperoleh hasil bahwa Amorphophallus sp. mengandung glukomanan yang mampu menurunkan kadar glukosa darah secara signifikan hingga lebih dari 50% pada subjek uji. Simpulan menunjukkan bahwa Amorphophallus sp. berpotensi sebagai pangan fungsional untuk pasien diabetes melitus karena mengandung senyawa dengan aktivitas antidiabetes secara in vivo.
Review: Studi Kandungan Fitokimia, Aktivitas Antibakteri dan, Toksisitas Karamunting (Melastoma malabathricum L.) Luhde Manik Sugiantina; Ni Putu Eka Leliqia
Prosiding Workshop dan Seminar Nasional Farmasi Vol. 1 (2022): Prosiding Workshop dan Seminar Nasional Farmasi 2022
Publisher : Program Studi Farmasi Fakultas MIPA Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/WSNF.2022.v01.i01.p21

Abstract

Karamunting (Melastoma malabatchricum L.) mempunyai manfaat bagi kesehatan, diantaranya sebagaii aktivitas antibakteri. Artikel ini disusun guna memberikan informasi tentang kandungan fitokimia, aktivitas antibakteri, dan toksisitas dari karamunting. Metode yang digunakan adalah studi literatur dari beberapa artikel ilmiah yang telah diterbitkan, baik secara nasional dan internasional. Bagian tanaman karamunting yang dilaporkan memiliki aktivitas antibakteri adalah daun, ranting, bunga, batang, dan akar, kemudian dilakukan ekstraksi menggunakan metode maserasi. Adapun pelarut yang digunakan seperti, nbutanol, metanol, etil asetat, etanol, dan n-heksan. Dari hasil kajian menunjukkan bahwa karamunting mengandung metabolit primer dan sekunder, yaitu: karbohidrat, alkaloid, fenol, steroid, flavonoid, triterpenoid, tanin, dan saponin. Karamunting terbukti menghambat pertumbuhan Propionibacterium acnes, Escherichia coli Staphylococcus aureus, Salmonella typhi, Salmonella dysenteriae, Shigella sp, dan Pseudomonas aeruginosa. Senyawa yang terkandung dalam karamunting terutama flavonoid, saponin, dan tanin, dianggap bertanggung jawab atas aktivitas antibakterinya. Hasil penelitian uji toksisitas in vitro menyatakan bahwa, ekstrak daun dan batang karamunting termasuk dalam kategori toksik. Sedangkan uji toksisitas in vivo pada daun karamunting dikategorikan toksik ringan.

Page 2 of 10 | Total Record : 100