cover
Contact Name
Rudy Budiatmaja
Contact Email
rudyatmaja12398@gmail.com
Phone
+6285928918217
Journal Mail Official
rudyatmaja12398@gmail.com
Editorial Address
https://e-journal.usd.ac.id/index.php/Divinitas/about/editorialTeam
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Divinitas Jurnal Filsafat dan Teologi Kontekstual
ISSN : 29885434     EISSN : 29882311     DOI : 10.24071
Divinitas: Jurnal Filsafat dan Teologi Kontekstual develops contextual Philosophical and Theological discourses in dialogue with sociological, anthropological, comparative religion, religious studies, historical, cultural and psychological perspectives and takes the diversity of Asian societies and cultures as its context. The journal is open to undergraduated student, graduated student and scholars from all religious backgrounds.
Articles 10 Documents
Search results for , issue "Vol 2, No 2 (2024): Divinitas July" : 10 Documents clear
Interelasi Argumen-Argumen dan Kritik Tentang Eksistensi Tuhan dengan Religiositas Manusia Muhtar, Mohamad Khusnial
Divinitas Jurnal Filsafat dan Teologi Kontekstual Vol 2, No 2 (2024): Divinitas July
Publisher : Fakultas Teologi, Universitas Sanata Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/div.v2i2.8034

Abstract

Humans as Homo religiosus, driven by their intellectual instincts, often revisit questions about the existence of God. The presence of religious doctrines that encourage humans to contemplate more about God’s creation rather than His essence raises the question of whether there is still an interrelation between discussions on divinity and human religiosity when that is pursued. This study investigates the arguments for God’s existence, the critiques of these arguments, and their interrelation with human religiosity. The aim is to clarify the understanding of human religiosity while creating a space for critical and in-depth dialogue. This research employs a library research method, gathering data from books, journal articles, and other relevant literature. A philosophical approach and qualitative analysis techniques are used. The findings of this article, include: First, the arguments for God’s existence, whether apriori or aposteriori, each face unavoidable criticisms. These arguments are efforts to justify faith within religiosity. Second, the critiques, in the context of Homo religiosus, provide opportunities to reflect and reassess understanding of God and related beliefs. Third, the inconsistencies or incompleteness in arguments for God’s existence reflect the nature of knowledge and reality that can be understood as consistent and complete at the same time if only at a higher level of infinity. The limitations within each available argument can be understood as something that drives self-awareness toward a more inclusive and profound level of religiosity.Abstrak Eksistensi Tuhan merupakan salah satu topik dalam kajian filsafat yang tak pernah selesai diperbincangkan. Terdapat berbagai macam argumen dari para filsuf tentang eksistensi Tuhan. Artikel ini bertujuan untuk mengulas kritik atas argumen-argumen yang berkaitan dengan eksistensi Tuhan yang datang kemudian. Pertanyaan menarik seputar kajian tentang Tuhan mencakup: bagaimanakah argumen-argumen terkait eksistensi Tuhan? Apakah argumen-argumen tersebut dapat menunjukkan atau bahkan membuktikan eksistensi Tuhan? Seiring berkembangnya zaman, adakah kritik yang menyangga argumen-argumen tersebut? Artikel ini menggunakan metode library research dengan pendekatan filosofis untuk membahas hal tersebut. Data yang diperoleh dianalisis secara kualitatif. Hasil dari penelitian ini mencakup: (1) argumen ontologis yang menjelaskan eksistensi Tuhan berdasarkan definisinya tidak lebih dari akrobat logika, (2) argumen kosmologis yang menunjukkan bahwa penciptaan alam semesta serta gerak alam bermula dari satu muasal mengandung inkonsistensi dan tidak koresponden, (3) argumen teleologis didasarkan pada Tuhan sebagai pengatur dan perencana yang luar biasa merupakan over generalisasi, (4) argumen moral yang menjelaskan bahwa Tuhan harus adanya, mengandung asumsi yang dipaksakan terhadap realitas dan inkoheren dengan makna eksistensi. Kemudian, (5) argumen taruhan hanya didasarkan pada upaya pragmatis menghadapi problem Tuhan dan (6) argumen pengalaman religius didasarkan pada subjektivitas yang tidak dapat diuji dan diverifikasi. Semua argumen yang ada cenderung berupa simplifikasi atau over generalisasi, sehingga belum menunjukkan dan membuktikan secara kuat akan eksistensi Tuhan.
Memahami Pluralitas Kemanusiaan dalam Pandangan Axel Honneth dan Y.B. Mangunwijaya Nale, Alexius
Divinitas Jurnal Filsafat dan Teologi Kontekstual Vol 2, No 2 (2024): Divinitas July
Publisher : Fakultas Teologi, Universitas Sanata Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/div.v2i2.8811

Abstract

Indonesia’s rich tapestry of religion, culture, tribe, race, and ethnicity has led to a diverse and pluralistic society. However, over time, this diversity has been scrutinized, and instances of radicalism and violence in the name of religion and belief have become more frequent. To address these issues, the perspectives of Axel Honneth and Y.B. Mangunwijaya offer valuable insights into fostering humanitarian attitudes through the adaptation process. This study employs literature review and comparative analysis methods. Findings indicate that embracing plurality with a focus on human values is crucial for cultivating personal awareness of individual dignity. This awareness is essential for bridging divides and dismantling barriers that threaten national unity. Continuous conflict will persist if differences are always viewed with suspicion rather than as a source of richness. As Mangunwijaya noted, a nation cannot mature if it perceives differences as problems rather than assets. To advance towards a mature society, human values must underpin religious teachings, as this is the path to unity and peace. Similarly, Axel Honneth emphasizes the importance of recognition in overcoming social injustices and achieving liberation.AbstrakKehadiran agama, budaya, suku, ras, dan etnis di Indonesia telah menghasilkan keragaman dan pluralitas kehidupan berbangsa. Namun seiring berjalannya waktu, keragaman dan pluralitas itu dipertanyakan, manakala radikalisme dan kekerasan dengan mudahnya terjadi atas nama agama dan kepercayaan. Isu-isu tersebut bisa ditanggapi dengan pemikiran Axel Honneth dan Romo Mangunwijaya yang pada pokoknya menawarkan perspektif solutif terkait proses adaptasi demi membangun sikap kemanusiaan. Untuk itu, metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi literatur dan analisis komparatif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pluralitas perlu disikapi dengan keutamaan nilai kemanusiaan untuk menumbuhkan kesadaran pribadi akan harkat dan martabat hidup setiap orang. Kesadaran ini menjadi kunci untuk menjembatani ‘jarak’ dan merobohkan ‘sekat’ ataupun ‘tembok’ yang seringkali menjadi ancaman bagi persatuan dan kesatuan bangsa. Bangsa ini akan terus berada dalam konflik apabila perbedaan selalu dipersoalkan demi mencari pembenaran. Seperti yang dikatakan Romo Mangunwijaya, negara ini tidak akan dewasa jika perbedaan dilihat sebagai masalah dan bukan sebagai kekayaan. Oleh karena itu, dalam menuju negara yang dewasa, nilai kemanusiaan harus menjadi dasar ajaran bagi setiap agama karena hanya inilah yang mampu membawa kita pada persatuan dan kedamaian. Dalam nada yang sama dengan menekankan aspek kemanusiaan, Axel Honneth pun hadir dengan konsepnya tentang pengakuan. Di sini Honneth mau menunjukan betapa pentingnya aspek pengakuan dalam upaya pemerdekaan – mengatasi bentuk-bentuk ketidakadilan yang menimpa manusia sebagai subjek dalam tatanan sosial.
Penerapan Teori Kebenaran dalam Evaluasi Pendidikan Iman Katolik: Studi Kasus Ujian Doa-Doa Dasar pada Calon Penerima Komuni Pertama Dengan Difabilitas Mental Wardani, Yohana Ari
Divinitas Jurnal Filsafat dan Teologi Kontekstual Vol 2, No 2 (2024): Divinitas July
Publisher : Fakultas Teologi, Universitas Sanata Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/div.v2i2.8808

Abstract

The evaluation of Catholic religious education requires an inclusive and fair approach, especially in the context of preparing for first communion. The aim of this paper is to review such evaluations through the lens of truth theory, highlighting the challenges faced by children with cognitive conditions such as dyslexia, ADHD, and intellectual disabilities. The method of memorizing basic prayers in first communion exams is considered to not always reflect a true understanding of faith, especially for children with cognitive conditions. The ethical implications of assessments that do not consider these special needs result in injustice towards children with cognitive disabilities. To ensure inclusivity, the research recommends modifications in the evaluation process, including the use of more flexible and holistic alternative evaluation methods. Although this paper provides relevant insights into the issue, further research involving participants of religious education and Catholic practitioners is needed to develop a more inclusive evaluation approach. In conclusion, the evaluation of Catholic religious education needs to consider the needs of individuals with cognitive disabilities to achieve inclusivity and justice in line with the teachings of the Catholic Church.AbstrakEvaluasi pendidikan iman Katolik memerlukan pendekatan yang inklusif dan adil, terutama dalam konteks persiapan penerimaan komuni pertama. Tujuan dari makalah ini adalah meninjau evaluasi tersebut melalui lensa teori kebenaran, dan menyoroti tantangan yang dihadapi anak-anak dengan kondisi kognitif seperti disleksia, ADHD, dan keterbelakangan mental. Metode hafalan doa-doa dasar dalam ujian komuni pertama dianggap tidak selalu mencerminkan pemahaman yang benar tentang iman, terutama bagi anak-anak dengan kondisi kognitif. Implikasi etis dari penilaian yang tidak mempertimbangkan kebutuhan khusus ini adalah ketidakadilan terhadap anak-anak dengan disabilitas kognitif. Untuk memastikan inklusivitas, penelitian merekomendasikan modifikasi dalam proses evaluasi, termasuk penggunaan metode evaluasi alternatif yang lebih fleksibel dan holistik. Meskipun makalah ini memberikan wawasan yang relevan dengan permasalahan, perlu dilakukan penelitian lanjutan yang melibatkan peserta pendidikan iman dan praktisi Katolik untuk pengembangan pendekatan evaluasi yang lebih inklusif. Kesimpulannya, evaluasi pendidikan iman Katolik perlu memperhatikan kebutuhan individu dengan disabilitas kognitif untuk mencapai inklusivitas dan keadilan yang sesuai dengan ajaran Gereja Katolik
Arti Persaudaraan Menurut Paus Fransiskus dan Gus Dur Widiasena, Stefanus Albert Putra
Divinitas Jurnal Filsafat dan Teologi Kontekstual Vol 2, No 2 (2024): Divinitas July
Publisher : Fakultas Teologi, Universitas Sanata Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/div.v2i2.8828

Abstract

In the midst of the weakening of fraternal relations between people, there are two important figures who write their ideas related to "brotherhood". These two figures are Pope Francis and Gus Dur. According to Pope Francis, brotherhood means treating all beings as brothers and sisters. The language used by Pope Francis is the call to be a neighbor to others. Meanwhile, according to Gus Dur, brotherhood means loving the different (plurality) in human life. Gus Dur strongly emphasizes the importance of tolerance and respect for differences between human beings, especially religions. In this article, the author wants to compare the thoughts of the two figures on the theme of "brotherhood". In addition, this paper also aims to contribute thoughts for everyone to increase the spirit of building brotherhood that is able to transcend existing boundaries.AbstrakDi tengah arus merenggangnya relasi persaudaraan antar manusia, ada dua tokoh penting yang menuliskan gagasannya berkaitan dengan “persaudaraan”. Kedua tokoh tersebut ialah Paus Fransiskus dan Gus Dur. Menurut Paus Fransiskus, persaudaraan berarti memperlakukan segenap makhluk sebagai saudara dan saudari. Bahasa yang digunakan oleh Paus Fransiskus ialah panggilan menjadi sesama bagi yang lain. Sementara itu menurut Gus Dur, persaudaraan berarti sikap menyayangi yang berbeda (pluralitas) dalam kehidupan umat manusia. Gus Dur sangat menekankan pentingnya toleransi dan sikap menghargai perbedaaan antar umat manusia, khususnya agama. Dalam artikel ini, penulis hendak membandingkan pemikiran kedua tokoh mengenai tema “persaudaraan”. Selain itu, tulisan ini juga hendak memberikan kontribusi pemikiran bagi setiap orang untuk meningkatkan semangat membangun persaudaraan yang mampu melampaui batas-batas yang ada.
Inkulturasi dalam Pertunjukan Wayang Wahyu: Katekese Iman Melalui Seni Faisal, Stephanus Agus; Wahyudi, Rifqi; Dwi Setiawan, Edwin Wahyu
Divinitas Jurnal Filsafat dan Teologi Kontekstual Vol 2, No 2 (2024): Divinitas July
Publisher : Fakultas Teologi, Universitas Sanata Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/div.v2i2.8286

Abstract

After the Second Vatican Council, the Church showed an open attitude towards local cultural influences as an integral part of its pastoral mission. In Indonesia, the Church responded to this current by adopting various forms of inculturation that went beyond ritual and worship aspects. Br. L. Timotius Wignyosubroto, FIC, responded to this challenge by developing the concept of Wayang Wahyu as an innovative means of faith catechesis through art. Through the establishment of the Ngajab Rahayu group in Surakarta, Wayang Wahyu became a medium that combines elements of traditional Wayang Kulit art with biblical narratives from the Old and New Testaments, as well as religious figures such as the founder of the Order and saints. In every Wayang Wahyu performance, theological dimensions are manifested, such as the Trinity, Christology, Pneumatology, Ecclesiology, and Anthropology. Wayang Wahyu is not just a performing art, but also a creative instrument to instill Christian values and deepen faith catechesis in the local cultural context.AbstrakPasca Konsili Vatikan II, Gereja menunjukkan sikap terbuka terhadap pengaruh budaya lokal sebagai bagian integral dari misi pastoralnya. Di Indonesia, Gereja merespon arus ini dengan mengadopsi berbagai bentuk inkulturasi yang melampaui aspek ritual dan peribadatan. Br. L. Timotius Wignyosubroto, FIC, merespons tantangan ini dengan mengembangkan konsep Wayang Wahyu sebagai sarana inovatif katekese iman melalui seni. Melalui pendirian kelompok Ngajab Rahayu di Surakarta, Wayang Wahyu menjadi medium yang menggabungkan unsur seni tradisional Wayang Kulit dengan narasi Alkitab dari Perjanjian Lama dan Baru, serta tokoh-tokoh keagamaan seperti pendiri Tarekat dan santo-santa. Dalam setiap pertunjukan Wayang Wahyu, terwujud dimensi-dimensi teologis, seperti Trinitas, Kristologi, Pneumatologi, Eklesiologi, dan Antropologi. Wayang Wahyu bukan hanya sekadar seni pertunjukan, tetapi juga menjadi instrumen kreatif untuk menanamkan nilai-nilai Kristen dan memperdalam katekese iman dalam konteks budaya lokal
Pengaruh Enuma Elish dalam Penafsiran Kitab Daniel 7:2-14 Sili, Adrianus Musu
Divinitas Jurnal Filsafat dan Teologi Kontekstual Vol 2, No 2 (2024): Divinitas July
Publisher : Fakultas Teologi, Universitas Sanata Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/div.v2i2.7810

Abstract

This research examines the influence of Enuma Elish, a Babylonian creation myth, on the interpretation of Daniel 7:2-14. Enuma Elish, as an ancient mythological literary work, contains cosmological elements and symbolism that may have influenced the understanding of the symbols found in the Book of Daniel. Through textual and contextual analysis, this study explores the possible relationship between the narratives of Enuma Elish and Daniel 7:2-14. The purpose of this research is to understand the meaning of the symbol of the 'Son of Man' (a similarity between the two texts). This Son of Man has a similar vision in both Enuma Elish and Daniel 7:1-14, namely to destroy evil and restore the earth to its original state. The author uses the literature review method to determine the similarities and the extent of the influence of the Enuma Elish text on Daniel 7:1-14. Finally, the author explains the meaning of these similarities and differences, namely the hope in the Son of Man and Anshar.AbstrakPenelitian ini mengkaji pengaruh Enuma Elish, sebuah mitos penciptaan Babilonia , terhadap penafsiran terhadap penafsiran Kitab Daniel 7:2-14. Enuma Elish, sebagai karya sastra mitologis kuno, memiliki unsur-unsur kosmologi dan simbolisme yang kemungkinan dapat mempengaruhi pemahaman terhadap simbol-simbol yang ditemukan dalam kitab Daniel. Melalui analisis tekstual dan kontekstual, penelitian ini mengeksplorasi kemungkinan hubungan antara narasi Enuma Elish dan Kitab Daniel 7:2-14. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui secara pemaknaan simbol anak manusia (kesamaan dari kedua teks). Anak manusia ini mempunyai visi yang sama dari teks Enuma Elish dan Daniel 7:1-14, yakni  menghancurkan yang jahat dan merestorasi kembali keadaan bumi agar normal kembali seperti mulanya. Penulis menggunakan metode Pustaka untuk menganalisa terlebih dahulu untuk mengetahui persamaan dan sejauh mana pengaruh teks Enuma Elish dalam kitab Daniel 7: 1-14. Penulis menjelaskan makna dari persamaan dan perbedaan tersebut, yakni pengharapan dalam anak manusia dan Anshar.
Menjadi Sahabat bagi yang Terbully: Implementasi Konsep Persahabatan Menurut Etika Nikomakean Aristoteles Gio, Badri
Divinitas Jurnal Filsafat dan Teologi Kontekstual Vol 2, No 2 (2024): Divinitas July
Publisher : Fakultas Teologi, Universitas Sanata Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/div.v2i2.8751

Abstract

This research aims to explore the application of the concept of friendship in Aristotle's Nicomachean Ethics in the context of supporting victims of bullying. The problem raised is how the concept of ideal friendship according to Aristotle can help overcome and reduce the negative impacts of bullying. The method used in this research is a qualitative approach with literature analysis and case studies of individuals who experience bullying and find support through friendly relationships in accordance with Aristotelian principles. The findings suggest that friendships based on virtue, as described by Aristotle, can provide significant emotional support, increase victims' self-confidence, and promote a more positive social environment. The conclusion of this research is that the implementation of the Aristotelian concept of friendship is not only relevant, but also effective in providing assistance and recovery for victims of bullying, and has the potential to reduce bullying incidents themselves.AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi penerapan konsep persahabatan dalam Etika Nikomakea Aristoteles dalam konteks mendukung korban bullying. Masalah yang diangkat adalah bagaimana konsep persahabatan yang ideal menurut Aristoteles dapat membantu mengatasi dan mengurangi dampak negatif bullying. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan analisis literatur dan studi kasus terhadap individu yang mengalami bullying dan menemukan dukungan melalui hubungan persahabatan yang sesuai dengan prinsip-prinsip Aristotelian. Hasil temuan menunjukkan bahwa persahabatan berdasarkan kebajikan, seperti yang dijelaskan oleh Aristoteles, dapat memberikan dukungan emosional yang signifikan, meningkatkan rasa percaya diri korban, dan mempromosikan lingkungan sosial yang lebih positif. Simpulan dari penelitian ini adalah bahwa implementasi konsep persahabatan Aristotelian tidak hanya relevan, tetapi juga efektif dalam memberikan bantuan dan pemulihan bagi korban bullying, serta berpotensi mengurangi insiden bullying itu sendiri.
Tradisi Mangongkal Holi sebagai Penegasan Identitas Suku Batak Cristianingsih, Antonia; Elan, Anjelita; Agnesia, Desima Erlinda; Mulyatno, Carolus Borromeus
Divinitas Jurnal Filsafat dan Teologi Kontekstual Vol 2, No 2 (2024): Divinitas July
Publisher : Fakultas Teologi, Universitas Sanata Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/div.v2i2.7762

Abstract

The Toba Batak community resides in various regions of Indonesia, yet they share traditions that unite their identity as Batak people. One such emblem of unity is the Mangongkal Holi tradition. The purpose of this research is to describe the Mangongkal Holi ceremony as an expression to affirm the identity of the Toba Batak people. The method employed to gather data for this study was through literature review. Three essential questions served as instruments in this research. First, what is the significance of the Mangongkal Holi ceremony? Second, how and when is this ceremony conducted? Third, what is the meaning behind this ceremony? The research findings reveal that despite the dispersion of Toba Batak people across different regions, after the passing of their relatives, they bring the ancestral bones to be unified at a place called the Monument. The process of collecting these bones at a monument is referred to as Mangongkal Holi. This ceremony is conducted based on family agreements, considering this tradition as a means of reunion among families. The ceremony holds significance as a gesture of reverence to the ancestors and as a symbol of kinship.AbstrakMasyarakat Batak Toba hidup tersebar di berbagai wilayah Indonesia, namun ada tradisi yang menyatukan identitas mereka sebagai orang Batak. Salah satu tanda kesatuan tersebut adalah tradisi Mangongkal Holi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan upacara Mangongkal Holi sebagai ungkapan untuk menegaskan identitas orang batak. Metode yang digunakan untuk mengumpulkan data-data penelitian ini adalah melalui studi Pustaka. Tiga pertanyaan penting yang menjadi instrumen dalam penelitian ini. Pertama, apa yang dimaksud dengan upacara Mangongkal Holi? Kedua, bagaimana dan kapan upacara ini dilaksanakan? Ketiga, apa makna dari upacara ini? Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun orang Batak Toba tersebar di berbagai daerah, namun setelah meninggal para kerabatnya membawa tulang-tulang leluhur mereka untuk disatukan di tempat yang disebut Tugu. Proses pengumpulan tulang-tulang di sebuah tugu itulah yang disebut sebagai Mangongkal Holi. Upacara ini dilaksanakan sesuai kesepakatan keluarga mengingat tradisi ini sebagai sarana perjumpaan antar keluarga. Upacara ini memiliki makna sebagai upaya penghormatan kepada para leluhur dan tanda kekeluargaan.
Perspektif Iman Remaja akan Keselamatan tentang Pacaran dan Pernikahan Beda Agama Budiatmaja, Rudy; Djojosuroto, Kinayati
Divinitas Jurnal Filsafat dan Teologi Kontekstual Vol 2, No 2 (2024): Divinitas July
Publisher : Fakultas Teologi, Universitas Sanata Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/div.v2i2.7892

Abstract

Many teenagers say that love can be blind and that love can be carried out by men and women of different religions because of the wrong understanding which states that it is just a momentary pleasure and only satisfies a man's lust without following the current rules or norms of decency. The aim of the current research is to prioritize Soteriology as a spiritual provision for teenagers to face changes in their attitudes and face the wider social circle of all teenagers who are entering the transition period from childhood to adulthood, which includes all growth and development in relationships because of this the church and family are present. to teach the truth about the realities of life. Qualitative literature study methods are used to obtain accurate data related to this scientific work, the sources are the Bible, books and other articles related to the title discussed. The research results show the doctrine of soteriology and the role of the church as a teaching "agent" in teaching the Word of God because Soterology is the certainty of salvation in the Lord Jesus and is the basis for Christian teenagers to face changes in growth and development including dating up to marriage and refusing to date up to interfaith marriages . The conclusion of this research states that the church and family play a full role in being responsible for the future of teenagers so that they do not choose the wrong boyfriend or girlfriend as their lifelong companion and the church and family advise against choosing a boyfriend who has a different belief, let alone until marriage.AbstrakBanyak kalangan remaja mengatakan cinta itu bisa buta dikarenakan adanya pemahaman yang keliru yang menyebutkan bahwa hanya sekedar nikmat sesaat dan hanya memuaskan hawa nafsu seorang laki-laki tanpa mengikuti aturan atau norma kesusilaan yang berlaku saat ini. Tujuan riset saat ini mengutamakan Soteriologi sebagai pembekalan secara rohani kepada remaja untuk menghadapi perubahan sikapnya dan menghadapi pergaulan yang semakin luas kepada semua remaja yang memasuki masa peralihan dari masa anak ke masa dewasa, yang meliputi semua pertumbuhan dan perkembangan dalam pergaulan karena itu gereja dan keluarga hadir untuk mengajarkan tentang kebenaran atas kenyataan hidup. Metode kualitatif studi pustaka digunakan untuk memperoleh data yang akurat berhubungan dengan karya ilmiah ini, sumbernya dari Alkitab, buku-buku dan artikel artikel lainnya yang sehubungan dengan judul yang dibahas. Hasil riset menunjukkan doktrin soteriologi dan peran gereja sebagai “agen” pengajar dalam mengajarkan Firman Tuhan sebab Soterologi sebagai kepastian keselamatan dalam Tuhan Yesus dan menjadi dasar bagi anak remaja Kristen menghadapi perubahan pertumbuhan dan perkembangan termasuk berpacaran sampai pada pernikahan. Simpulan riset ini menyatakan Gereja dan keluarga berperan penuh atas tanggung jawab masa depan para remaja agar tidak salah memilih pacar sebagai pendamping hidupya seumur hidup dan pihak gereja dan keluarga menyarankan agar tidak memilih pacar yang berbeda keyakinan apalagi sampai pernikahan.
Muslihat Yakub dalam Mendapatkan Hak Kesulungan Dari Esau Siprianus Leu, Kornelius
Divinitas Jurnal Filsafat dan Teologi Kontekstual Vol 2, No 2 (2024): Divinitas July
Publisher : Fakultas Teologi, Universitas Sanata Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/div.v2i2.8653

Abstract

The lives of Jacob and Esau, Isaac's twin sons, were filled with tension and competition. Genesis 25:23 tells how the competition between the two was even prophesied by God himself from the time they were conceived. The rivalry between the two continued in the event of Jacob taking away the blessing and birthright from Esau through "deception". Through literature study, this research will attempt to understand the "deceptive" actions carried out by Jacob in taking over the blessing and birthright from Esau, thus making Jacob the ancestor of the Israelites. This research proves that Jacob's action of deceiving Esau was the writers' strategy to explain one of the laws followed by the Israelites, namely the law of retribution. Jacob who "cheated" would receive the same treatment, namely from Laban, his uncle and father-in-law and also by his own children in the event of the sale of Joseph by his own brother (Gen. 37:12-36).AbstrakKehidupan Yakub dan Esau, kedua putra kembar Ishak diwarnai dengan ketegangan dan persaingan. Kejadian 25:23 mengisahkan bagaimana persaingan antara keduanya bahkan telah dinubuatkan oleh Allah sendiri sejak keduanya dikandung. Persaingan keduanya berlanjut pada peristiwa perampasan berkat dan hak kesulungan oleh Yakub dari Esau lewat “penipuan”. Melalui studi kepustakaan, penelitian ini akan berusaha memahami tindakan “penipuan” yang dilakukan oleh Yakub dalam mengambil alih berkat dan hak kesulungan dari Esau, hingga menjadikan Yakub sebagai leluhur Bangsa Israel. Penelitian ini membuktikan bahwa tindakan Yakub yang menipu Esau adalah strategi para penulis untuk menerangkan salah satu hukum yang dianut Bangsa Israel yakni hukum retribusi. Yakub yang “menipu” akan mendapat perlakuan yang sama yakni dari Laban, paman sekaligus ayah mertuanya dan juga oleh anak-anaknya sendiri dalam peristiwa penjualan Yusuf oleh saudaranya sendiri (Kej. 37:12-36).

Page 1 of 1 | Total Record : 10