cover
Contact Name
Ami Abdullah Fahmi
Contact Email
jazirah@stiabiru.ac.id
Phone
+6282334466664
Journal Mail Official
jazirah@stiabiru.ac.id
Editorial Address
Jl. Pesantren Condong, Setianagara, Kec. Cibeureum, Tasikmalaya, Jawa Barat 46196
Location
Kab. tasikmalaya,
Jawa barat
INDONESIA
JAZIRAH: JURNAL PERADABAN DAN KEBUDAYAAN
ISSN : 27164454     EISSN : 27743144     DOI : https://doi.org/10.51190/jazirah
Jazirah: Jurnal Peradaban dan Kebudayaan publishes articles that can be accepted in this journal are History, Language, Literature, and Culture. Study in the field of scientific history, world history, the history of Indonesia, and the history of Islamic civilization. Scientific development studies discuss historical studies, theories, and assessments, historiography. The field of Language and Literature studies discusses the study of Literature, Language Studies, Language Learning (Educational Research), Theoretical Linguistics, Applied Linguistics, within the scope of Arabic, Indonesian and Local Languages. The Cultural Study complements various socio-cultural themes in Indonesia and the local region.
Articles 148 Documents
TEACHING STRATEGIES AND METHODS IN THE ARABIC LANGUAGE CURRICULUM Ahmad Sobri Maulana; Acep Hermawan; Eva Lathifah Fauzia; Yoza Andi Putra
Jazirah: Jurnal Peradaban dan Kebudayaan Vol 7 No 1 (2026): Jazirah: Jurnal Peradaban dan Kebudayaan (Agustus 2026)
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Adab dan Budaya Islam Riyadul 'Ulum

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51190/jazirah.v7i1.390

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh stagnasi metodologi konvensional dan rendahnya integrasi teknologi dalam kurikulum bahasa Arab yang menghambat kompetensi komunikatif abad ke-21. Masalah utama terletak pada kesenjangan antara teori kurikuler dan praktik kelas yang kaku. Tujuan penelitian ini adalah merumuskan model strategi pengajaran integratif untuk menyelaraskan tuntutan teoretis kurikulum dengan kebutuhan praktis di ruang kelas. Menggunakan metodologi kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi pustaka, penelitian ini menganalisis berbagai literatur pedagogi dan dokumen kurikulum terkait secara mendalam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa formulasi “Strategi Adaptif-Integratif” yang menggabungkan Differentiated Instruction, kearifan lokal, dan literasi digital mampu mentransformasikan materi tekstual menjadi langkah instruksional yang fleksibel dan kontekstual bagi siswa. Temuan ini menegaskan bahwa sinkronisasi antara aspek gramatikal dan fungsional secara holistik dapat menjawab tantangan keberagaman kompetensi linguistik siswa serta keterbatasan sarana prasarana. Implikasi penelitian ini memberikan panduan strategis bagi pendidik untuk menciptakan ekosistem pembelajaran bahasa Arab yang lebih inklusif, efektif, dan bermakna guna meningkatkan daya saing lulusan di kancah komunikasi internasional.
THE USE OF THE MASS MEDIA IN THE CONFLICT BETWEEN THE PKI AND THE HMI: PROPAGANDA CALLING FOR THE DISSOLUTION OF THE HMI IN 1965 Putri Yasmin Azzahra; Imas Emalia
Jazirah: Jurnal Peradaban dan Kebudayaan Vol 7 No 1 (2026): Jazirah: Jurnal Peradaban dan Kebudayaan (Agustus 2026)
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Adab dan Budaya Islam Riyadul 'Ulum

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51190/jazirah.v7i1.403

Abstract

Penelitian ini menganalisis pemanfaatan media massa sebagai alat propaganda dalam konflik antara Partai Komunis Indonesia (PKI) dan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) pada tahun 1965, khususnya terkait kampanye pembubaran HMI di akhir masa Orde Lama. Menggunakan metode sejarah dengan tahapan heuristik, kritik sumber, interpretasi, dan historiografi, penelitian ini mengkaji 13 artikel surat kabar dari 6 penerbit berbeda, terutama Harian Rakjat sebagai corong resmi PKI, serta dokumen-dokumen sezaman seperti pidato Soekarno, AD/ART HMI, dan Keputusan Presiden. Dengan kerangka teori propaganda Harold Lasswell, penelitian ini menemukan bahwa PKI secara sistematis melakukan manajemen simbol melalui pelabelan negatif terhadap HMI sebagai "onderbouw Masyumi", "kontra-revolusioner", "teroris", dan "setan perguruan tinggi" untuk menciptakan justifikasi publik bagi tuntutan pembubaran. Propaganda ini disebarluaskan secara masif melalui media massa afiliasi PKI untuk menstandarisasi opini publik dan memobilisasi reaksi massa yang direkayasa. Namun, upaya propaganda ini gagal total setelah peristiwa Gerakan 30 September (G30S/PKI) yang mengubah secara drastis peta kekuasaan politik. Penelitian ini menyimpulkan bahwa propaganda tanpa ditopang oleh dukungan kekuasaan yang kokoh dan kesesuaian dengan fakta sejarah akan menemui kegagalan ketika realitas itu sendiri bangkit melawan propaganda tersebut. Penelitian ini memberikan kontribusi baru dalam kajian sejarah politik Indonesia dengan mengalihkan fokus analisis dari lobi elite politik ke pertarungan hegemoni wacana di ruang publik yang dimediasi oleh pers sezaman.
THE CHARISMATIC LEADERSHIP OF ABDULLAH BIN RAWAHAH IN THE BATTLE OF MU’TAH, 8 AH/629 CE Nisrina Izzati; Aip Aly Arfan
Jazirah: Jurnal Peradaban dan Kebudayaan Vol 7 No 1 (2026): Jazirah: Jurnal Peradaban dan Kebudayaan (Agustus 2026)
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Adab dan Budaya Islam Riyadul 'Ulum

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51190/jazirah.v7i1.405

Abstract

Penelitian ini mengkaji kepemimpinan Abdullah bin Rawahah dalam Perang Mu’tah. Tema ini dianggap penting, karena meski Abdullah bin Rawahah memiliki peran dalam sejarah awal Islam, penelitian mengenai sosoknya masih terbatas di Indonesia. Artikel ini akan menjelaskan biografi singkat Abdullah bin Rawahah, latar belakang terjadinya Perang Mu’tah, serta kepemimpinan Abdullah bin Rawahah dalam Perang Mu’tah. Metode yang digunakan adalah metode sejarah, yang meliputi heuristik, kritik sumber, interpretasi, dan historiografi, dengan memanfaatkan tiga sumber primer utama, yaitu Sirah Nabawiyah karya Ibnu Hisyam, kitab Al-Maghazi karya Al-Waqidi. dan kitab Tarikh al-Rusul wal Muluk karya Al-Tabari. Penelitian ini menggunakan teori kepemimpinan karismatik dari Max Weber sebagai kerangka analisis. Hasil penelitian ini mengungkapkan bahwa Abdullah bin Rawahah merupakan salah satu sahabat Rasulullah saw. yang pandai baca-tulis dan bersyair, serta sering dipercaya dalam berbagai tugas penting, seperti terlibat dalam berbagai peperangan. Perang Mu’tah menjadi perang terakhir yang diikutinya, karena ia mati syahid dalam perang ini. Perang Mu'tah dilatarbelakangi oleh terbunuhnya utusan Rasulullah saw., Al-Harits bin 'Umair Al-Azdi, serta peristiwa lainnya, sehingga Rasulullah saw. mengerahkan 3.000 pasukan menghadapi 200.000 prajurit Romawi di bawah tiga panglima, yaitu Zaid bin Haritsah, Ja'far bin Abi Thalib, dan Abdullah bin Rawahah. Melalui analisis teori kepemimpinan karismatik dari Max Weber, kepemimpinan Abdullah bin Rawahah menunjukkan corak kepemimpinan yang bersumber dari kualitas pribadi, kemunculannya di tengah situasi krisis, serta pembuktian nyata hingga mati syahid, meskipun otoritasnya berawal dari penunjukan oleh Rasulullah saw. Temuan ini menunjukkan bahwa kepemimpinan karismatik dapat bertransformasi dari otoritas lain, sehingga memperkaya kajian mengenai model kepemimpinan dalam sejarah awal Islam.
THE RECCA HAT IN THE KINGDOM OF BONE: ITS SYMBOLISM AND FUNCTIONS Ilham Firman; Awalia Rahma; Zakiya Darojat; Jajang Jahroni; Nurul Azizah
Jazirah: Jurnal Peradaban dan Kebudayaan Vol 7 No 1 (2026): Jazirah: Jurnal Peradaban dan Kebudayaan (Agustus 2026)
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Adab dan Budaya Islam Riyadul 'Ulum

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51190/jazirah.v7i1.406

Abstract

Songkok Recca, penutup kepala anyaman serat lontar (Borassus flabellifer) yang dikenakan laki-laki Bugis, dikenal luas sebagai warisan budaya Bugis-Makassar dan dipakai di berbagai wilayah Sulawesi Selatan, namun fungsi historisnya sebagai penanda hierarki sosial pada masa kerajaan, khususnya di Kerajaan Bone, relatif belum banyak ditelusuri secara khusus melalui pendekatan sejarah. Penelitian-penelitian terdahulu lebih banyak menyoroti aspek etnobotani bahan bakunya atau fungsi kontemporernya sebagai identitas budaya dan sumber penghidupan pasca-1950, sementara fungsi politik dan simboliknya pada masa kerajaan, terutama interaksinya dengan kebijakan kolonial Belanda, belum mendapat perhatian khusus. Artikel ini secara spesifik membatasi lokusnya pada Kerajaan Bone dan menelusuri fungsi Songkok Recca sejak aturan pemakaiannya dibakukan secara rinci pada masa pemerintahan Raja Bone ke-32, La Mappanyukki, hingga pembubaran kerajaan pada 1950, dengan memadukan empat tahapan metode sejarah (heuristik, kritik sumber, interpretasi, dan historiografi) bersama kerangka antropologi interpretif Clifford Geertz, khususnya thick description, untuk membaca arsip kolonial dan foto koleksi KITLV Leiden (sekitar 1910–1938) bukan sekadar sebagai data faktual, melainkan sebagai teks yang menyimpan lapisan makna sosial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Songkok Recca berfungsi sebagai instrumen kontrol sosial yang diatur secara rinci berdasarkan proporsi lilitan benang emas untuk setiap strata bangsawan, bahwa maknanya sudah plural sejak sebelum era modern melalui koeksistensi dengan varian Songko Guru bagi golongan religius-intelektual, dan bahwa pemerintah kolonial Belanda pasca-1905 turut mendokumentasikan serta memanfaatkan simbol ini untuk melegitimasi sistem zelfbestuur sejak 1931. Kontribusi penelitian ini adalah menghadirkan pembacaan historis-antropologis yang mengintegrasikan arsip kolonial dengan tradisi lisan Bugis-Bone, sekaligus menegaskan bahwa Songkok Recca, sebelum menjadi produk budaya-komersial seperti dikenal saat ini, pernah berfungsi sebagai penanda hierarki yang diatur nyaris birokratis oleh istana.
THE HISTORICAL DEVELOPMENT OF THE UNDERSTANDING OF AHLUSSUNNAH WAL JAMAAH AQIDAH IN THE COMMUNITY OF TANJUNG MULIA VILLAGE, MEDAN DELI DISTRICT Winda Rizki Yanti Harahap; Maraimbang Daulay
Jazirah: Jurnal Peradaban dan Kebudayaan Vol 7 No 1 (2026): Jazirah: Jurnal Peradaban dan Kebudayaan (Agustus 2026)
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Adab dan Budaya Islam Riyadul 'Ulum

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51190/jazirah.v7i1.408

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh pentingnya mengkaji perkembangan historis pemahaman akidah Ahlussunnah Wal Jamaah di tengah dinamika sosial dan perubahan kehidupan keagamaan masyarakat Desa Tanjung Mulia Kecamatan Medan Deli. Perubahan pola pendidikan Islam, aktivitas dakwah, serta interaksi masyarakat dengan berbagai sumber informasi keagamaan telah memengaruhi proses pewarisan dan penguatan pemahaman akidah dari masa ke masa. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis sejarah perkembangan pemahaman akidah Ahlussunnah Wal Jamaah, mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi perkembangannya, serta menjelaskan peran tokoh agama dan lembaga keagamaan dalam mempertahankan nilai-nilai Ahlussunnah Wal Jamaah di masyarakat. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan historis dan penelitian lapangan. Data diperoleh melalui observasi, wawancara mendalam dengan tokoh agama, tokoh masyarakat, dan warga setempat, serta dokumentasi terhadap berbagai aktivitas keagamaan dan sumber pendukung lainnya. Analisis data dilakukan melalui reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan dengan menghubungkan fakta-fakta historis yang ditemukan di lapangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perkembangan pemahaman akidah Ahlussunnah Wal Jamaah di Desa Tanjung Mulia berlangsung secara bertahap melalui peran keluarga, lembaga pendidikan Islam, masjid, majelis taklim, serta pembinaan yang dilakukan oleh para ulama dan tokoh agama. Nilai-nilai Ahlussunnah Wal Jamaah terus diwariskan melalui pengajian, wirid yasin, peringatan hari besar Islam, dan tradisi keagamaan yang berkembang di masyarakat. Perkembangan tersebut membentuk karakter masyarakat yang moderat, toleran, menjunjung tinggi semangat gotong royong, serta mampu menjaga keharmonisan sosial di tengah perubahan zaman. Temuan penelitian menegaskan bahwa keberlangsungan pemahaman akidah Ahlussunnah Wal Jamaah tidak hanya dipengaruhi oleh faktor historis dan budaya lokal, tetapi juga oleh kesinambungan pendidikan, dakwah, dan keteladanan tokoh agama dalam membimbing kehidupan keagamaan masyarakat.
A SAUSSUREAN SEMIOTIC ANALYSIS OF THE VISUAL AND VERBAL CONSTRUCTION OF RACIAL IDENTITY IN SPIKE LEE'S BLACKKKLANSMAN (2018) Dendy Abyaz Rusmawan; Irman Nurhapitudin; R Myrna Nur Sakinah
Jazirah: Jurnal Peradaban dan Kebudayaan Vol 7 No 1 (2026): Jazirah: Jurnal Peradaban dan Kebudayaan (Agustus 2026)
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Adab dan Budaya Islam Riyadul 'Ulum

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51190/jazirah.v7i1.409

Abstract

This study examines the construction of racial identity in Spike Lee's BlacKkKlansman (2018) through Ferdinand de Saussure's semiotic theory. While previous studies have primarily focused on discourse, language, or the thematic portrayal of racism, this research investigates how verbal and visual signs work together to construct meanings of white supremacy and Black identity. Employing a qualitative approach, the study analyzes 20 scenes selected based on the research criteria, consisting of verbal and visual representations, using Saussure's concepts of the signifier and the signified. Data were collected through repeated viewing, scene segmentation, documentation, and note-taking, and analyzed using Miles and Huberman's interactive model. The findings reveal that verbal and visual signifiers collectively construct racial identity by representing white supremacy, institutional racism, Black identity, and resistance. The study concludes that BlacKkKlansman functions as a cultural text in which interconnected systems of signs construct ideological meaning, demonstrating the relevance of Saussure's semiotic framework for literary and film studies.
THE HIJAB ISSUE IN FRANCE, 1989–2004: BETWEEN GOD’S COMMANDMENTS AND THE PRINCIPLE OF LAÏCITÉ Afifah Ilma Zein; Faizal Arifin; Jajang Jahroni; Nurul Azizah; Zakiya Darojat
Jazirah: Jurnal Peradaban dan Kebudayaan Vol 7 No 1 (2026): Jazirah: Jurnal Peradaban dan Kebudayaan (Agustus 2026)
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Adab dan Budaya Islam Riyadul 'Ulum

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51190/jazirah.v7i1.410

Abstract

Penelitian ini mengkaji perkembangan isu hijab di sekolah negeri Prancis pada periode 1989-2004, mulai dari insiden College Gabriel-Havez di Creil hingga pengesahan Loi n° 2004-228 du 15 mars 2004. Berbeda dari sebagian besar kajian yang berfokus pada kebijakan negara, perdebatan intelektual, atau aspek hukum, penelitian ini menelusuri perkembangan polemik hijab melalui pengalaman para siswi Muslim, dinamika kebijakan sekolah, dan perubahan kebijakan negara selama periode tersebut. Penelitian menggunakan pendekatan sejarah sosial dengan metode sejarah yang meliputi heuristik, kritik sumber, interpretasi, dan historiografi. Sumber penelitian mencakup arsip audiovisual Institut National de l'Audiovisuel (INA), laporan media sezaman, terutama Le Monde, dokumen hukum, serta karya-karya akademik yang relevan. Hasil penelitian memperlihatkan empat temuan utama. Pertama, para siswi memaknai hijab sebagai bagian dari identitas keagamaan yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan mereka, sedangkan pihak sekolah menempatkannya dalam kerangka penerapan prinsip laïcité. Kedua, penyelesaian polemik pada periode 1989–1992 berlangsung melalui dialog, negosiasi, dan penafsiran yang berbeda di setiap sekolah, sehingga pengalaman para siswi tidak bersifat seragam. Ketiga, sejak terbitnya Circulaire Bayrou pada 1994 hingga pembentukan Komisi Stasi pada 2003, perdebatan bergeser dari persoalan yang berkembang di lingkungan sekolah menuju perdebatan politik nasional mengenai laïcité, integrasi, dan identitas republik. Keempat, pengesahan Loi n° 2004-228 du 15 mars 2004 menggantikan penyelesaian kasus per kasus di tingkat sekolah dengan kerangka hukum nasional yang berdampak pada pendidikan dan cara sebagian siswi Muslim mempertahankan identitas keagamaannya. Penelitian ini menunjukkan bahwa perkembangan isu hijab di Prancis tidak hanya berkaitan dengan perubahan kebijakan negara, tetapi juga dengan pengalaman para siswi Muslim yang menjadi bagian penting dari sejarah polemik tersebut.
FRAMING OF THE 1919 CIMAREME INCIDENT: AN ANALYSIS OF H. HASAN ARIF’S REPORTING IN DUTCH NEWSPAPERS Siti Hanifah Firdaus; Amung Ahmad Syahir Muharam; Agung Purnama
Jazirah: Jurnal Peradaban dan Kebudayaan Vol 7 No 1 (2026): Jazirah: Jurnal Peradaban dan Kebudayaan (Agustus 2026)
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Adab dan Budaya Islam Riyadul 'Ulum

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51190/jazirah.v7i1.413

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pemberitaan tewasnya H. Hasan Arif dalam surat kabar Belanda tahun 1919 serta mengungkap strategi wacana yang digunakan oleh media kolonial dalam membingkai peristiwa tersebut. Peristiwa Cimareme tahun 1919 terjadi akibat penolakan masyarakat terhadap kebijakan wajib penjualan padi secara paksa yang memberatkan petani di tengah krisis pangan akibat dampak Perang Dunia I. Penelitian ini menggunakan metode sejarah yang meliputi tahap heuristik, kritik sumber, interpretasi, dan historiografi, yang diperkuat dengan teori pembingkaian Robert Entman, konsep orientalisme Edward Said, dan perspektif komunikasi politik Herbert Schiller. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat pola pembingkaian yang sistematis dan seragam: surat kabar membagi pemberitaan menjadi tiga tahap, yaitu penyederhanaan masalah, pembenaran tindakan represif, dan reduksi peristiwa menjadi kasus hukum semata. Media secara konsisten melabeli H. Hasan Arif sebagai pemberontak dan fanatik agama, sekaligus menutup akses terhadap narasi pihak lain untuk membenarkan kekuasaan kolonial. Penelitian ini memberikan kontribusi baru dengan mengungkapkan mekanisme kerja media kolonial sebagai alat hegemoni, sehingga memperkaya pemahaman sejarah mengenai bagaimana narasi perlawanan dikonstruksi untuk kepentingan penguasa.