cover
Contact Name
Ami Abdullah Fahmi
Contact Email
jazirah@stiabiru.ac.id
Phone
+6282334466664
Journal Mail Official
jazirah@stiabiru.ac.id
Editorial Address
Jl. Pesantren Condong, Setianagara, Kec. Cibeureum, Tasikmalaya, Jawa Barat 46196
Location
Kab. tasikmalaya,
Jawa barat
INDONESIA
JAZIRAH: JURNAL PERADABAN DAN KEBUDAYAAN
ISSN : 27164454     EISSN : 27743144     DOI : https://doi.org/10.51190/jazirah
Jazirah: Jurnal Peradaban dan Kebudayaan publishes articles that can be accepted in this journal are History, Language, Literature, and Culture. Study in the field of scientific history, world history, the history of Indonesia, and the history of Islamic civilization. Scientific development studies discuss historical studies, theories, and assessments, historiography. The field of Language and Literature studies discusses the study of Literature, Language Studies, Language Learning (Educational Research), Theoretical Linguistics, Applied Linguistics, within the scope of Arabic, Indonesian and Local Languages. The Cultural Study complements various socio-cultural themes in Indonesia and the local region.
Articles 138 Documents
PERAN PUTRI BAYAN DALAM PROSES ISLAMISASI LOMBOK: ANALISIS BERBASIS NASKAH BABAD LOMBOK Ghifari, Haekal; Sopian, Pepep Ipan; Supriadi, Dedi; Hidayat, Asep Achmad; Sakinah, Syahidah Qolbiya; Nurcahya, Yan
Jazirah: Jurnal Peradaban dan Kebudayaan Vol 6 No 3 (2026): April 2026
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Adab dan Budaya Islam Riyadul 'Ulum

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51190/jazirah.v6i3.335

Abstract

Traditional historiography such as Babad Lombok contains many cultures, one of which is about women. Babad Lombok contains the genealogy of the Prophet, the Menak in Lombok, and Islamization in Lombok. Through a philological and hermeneutic approach, the interpretation of Babad Lombok is mainly through the perspective of Muslim women. Islamization which was first carried out by Sunan Prapen made the Lombok Kingdom an Islamic Kingdom. Islam or not is shown through women who embrace Islam or not in this region. As a result of the women who did not convert to Islam, there was a war between Sunan Prapen and the Lombok community who had not embraced Islam until finally Lombok was divided into three parts. Furthermore, Islamization was carried out by Rangkesari as the king of Selaparang. Furthermore, Selaparang was made the capital of the Lombok Kingdom which had embraced Islam. Prabu Anom, Rangkesari's successor, made the Selaparang Kingdom in this case Lombok reach the peak of its glory. Princess Bayan became the person behind the glory carried out by Prabu Anom by doing good deeds by accepting polygamy carried out by her husband. Good deeds were carried out after there was a policy within oneself. This acceptance uses faith with knowledge so that the evidence speaks of the virtues he carried out for the Islamization carried out in the Kingdom of Lombok in the glory days of his time.
RECONQUISTA DAN INKUISISI DALAM PERSPEKTIF KEKUASAAN (STUDI ATAS DE-ISLAMISASI SEJARAH SPANYOL) Masykuroh, Siti; Setiawan, Agus Mahfudin
Jazirah: Jurnal Peradaban dan Kebudayaan Vol 6 No 3 (2026): April 2026
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Adab dan Budaya Islam Riyadul 'Ulum

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51190/jazirah.v6i3.338

Abstract

Penelitian ini berangkat dari pertanyaan mendasar tentang bagaimana Reconquista dan Inkuisisi beroperasi bukan sekadar sebagai peristiwa militer atau institusi keagamaan, melainkan sebagai proyek kekuasaan yang terstruktur untuk mengeliminasi identitas Islam dari lanskap sosial, kultural, dan historis Semenanjung Iberia. Dengan menggunakan pendekatan historis-kritis yang dipadukan dengan analisis wacana kekuasaan dalam produksi narasi sejarah, kajian ini menunjukkan bahwa proses de-Islamisasi pasca-1492 merupakan strategi politik yang dijalankan secara sistematis melalui penghapusan simbol-simbol visual Islam, pemusnahan khazanah intelektual berbahasa Arab, serta penulisan ulang sejarah dalam kerangka narasi hegemonik Kristen. Temuan penelitian mengindikasikan bahwa Inkuisisi tidak hanya berfungsi sebagai lembaga keagamaan yang mengawasi ortodoksi iman, tetapi juga sebagai mekanisme ideologis negara untuk mengatur ulang batas-batas identitas, keyakinan, dan ingatan kolektif masyarakat. Melalui praktik represif terhadap komunitas Morisco dan sensor budaya yang terlembaga, Inkuisisi memperkuat agenda Reconquista dalam mengonsolidasikan kekuasaan monarki Katolik dan menyingkirkan warisan Islam dari ruang publik maupun historiografi resmi. Dengan demikian, penghilangan jejak Islam di Spanyol tidak dapat dipahami sebagai dampak sekunder dari konflik agama, melainkan sebagai inti dari rekayasa historis dan kultural yang dirancang secara sadar. Kesimpulan ini menegaskan bahwa sejarah Spanyol pasca-Reconquista perlu dibaca dalam kerangka relasi kuasa yang tidak hanya mengonstruksi masa lalu, tetapi juga membentuk fondasi identitas nasional modern.
THE ROLE OF BAZNAS CITY OF BANDUNG IN EMPOWERING THE ECONOMY OF THE PEOPLE DURING COVID-19 (2019-2021) Rifqi, Muhammad Aufa; Hasbullah, Moeflich; Supendi, Usman
Jazirah: Jurnal Peradaban dan Kebudayaan Vol 6 No 3 (2026): April 2026
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Adab dan Budaya Islam Riyadul 'Ulum

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51190/jazirah.v6i3.344

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dinamika peran BAZNAS Kota Bandung dalam merespons krisis sosial pada masa pandemi COVID-19 tahun 2019–2021, khususnya dalam pemberdayaan ekonomi umat melalui program zakat. Penelitian ini menggunakan metode sejarah dengan pendekatan deskriptif-analitis, melalui tahapan heuristik, kritik sumber, interpretasi, dan historiografi. Sumber data diperoleh dari dokumen resmi, laporan program, arsip kelembagaan, serta hasil wawancara dengan pihak terkait dan penerima manfaat. Analisis dilakukan dengan menggunakan kerangka teori AGIL Talcott Parsons dan konsep stratifikasi sosial untuk memahami fungsi sosial lembaga zakat dalam kondisi krisis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa BAZNAS Kota Bandung mengalami dinamika peran yang signifikan selama pandemi. Pada tahap awal krisis, lembaga lebih berfokus pada bantuan sosial darurat seperti sembako, bantuan tunai, dan layanan kesehatan guna menjaga keberlangsungan hidup mustahik. Selanjutnya, pendistribusian ZIS dilakukan secara sistematis dengan penyesuaian mekanisme digital untuk memastikan ketepatan sasaran. Pada tahap berikutnya, BAZNAS mengembangkan program pemberdayaan ekonomi seperti Z-Mart dan Z-Chicken sebagai upaya pemulihan jangka panjang. Program Z-Mart menunjukkan hasil yang lebih berkelanjutan dibandingkan Z-Chicken, yang cenderung bersifat sementara karena keterbatasan pendampingan dan adaptasi usaha. Secara keseluruhan, penelitian ini menyimpulkan bahwa kombinasi antara bantuan sosial, pendistribusian ZIS, dan pemberdayaan ekonomi mampu memberikan dampak komplementer dalam menjaga stabilitas dan meningkatkan kapasitas ekonomi mustahik. Namun, keberhasilan program sangat bergantung pada kesesuaian desain program dan keberlanjutan pendampingan.
THE DYNAMICS OF PALEMBANG MALAY CULTURE IN THE DIGITAL AGE Pertiwi, Hana; Cholidi; Syawaludin, Mohammad; Hariyono, Andy; Nilawati
Jazirah: Jurnal Peradaban dan Kebudayaan Vol 6 No 3 (2026): April 2026
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Adab dan Budaya Islam Riyadul 'Ulum

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51190/jazirah.v6i3.346

Abstract

Budaya Melayu merupakan identitas yang mencerminkan nilai-nilai, tradisi, serta cara pandang hidup masyarakat. Seiring dengan kemajuan teknologi informasi dan komunikasi, masyarakat Melayu kini menghadapi tantangan baru dalam menjaga dan mempertahankan nilai-nilai tradisionalnya terutama di wilayah palembang Sumatera Selatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji dinamika identitas, budaya, dan adat masyarakat Melayu Sumatera Selatan di tengah era digital, serta menelusuri bagaimana proses penyesuaian berlangsung antara unsur tradisi dan modernitas. Metode penelitian yang digunakan bersifat deskriptif-analitis dengan pendekatan kualitatif, dengan melalui mesin pencarian google dan beberapa literature lainnya, serta analisis terhadap berbagai sumber sekunder yang membahas kebudayaan Melayu, perubahan sosial, dan pengaruh digitalisasi. Hasil kajian menunjukkan bahwa perkembangan digital telah membawa perubahan signifikan terhadap pola interaksi, komunikasi, dan cara masyarakat Melayu mengekspresikan identitas budayanya. Kemudian ada teknologi digital berperan penting dalam upaya pelestarian budaya melalui dokumentasi, promosi wisata budaya, serta pembelajaran daring berbasis kearifan lokal. Namun di sisi lain, muncul pula tantangan berupa pergeseran nilai, komersialisasi budaya, dan menurunnya minat generasi muda dalam mewarisi tradisi. Masyarakat Melayu di Sumatera Selatan memperlihatkan kemampuan adaptasi yang kuat dengan memanfaatkan media digital sebagai sarana pelestarian adat, bahasa, dan seni tradisional. Inisiatif seperti revitalisasi bahasa Melayu, penyelenggaraan festival budaya berbasis hybrid, serta digitalisasi arsip adat menjadi wujud nyata dari upaya rekonstruksi budaya di era modern. Oleh karena itu, digitalisasi tidak semata-mata dipandang sebagai ancaman, tetapi juga sebagai peluang strategis untuk memperkuat identitas dan mempertahankan eksistensi budaya Melayu di tengah arus globalisasi.
PERAN DAKWAH KH. IDUN SYARIFUDDIN DI SUKABUMI TAHUN 1953-2004 Syamsuriani, Waode Andini; Suparman; Marliana, Dina
Jazirah: Jurnal Peradaban dan Kebudayaan Vol 6 No 3 (2026): April 2026
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Adab dan Budaya Islam Riyadul 'Ulum

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51190/jazirah.v6i3.354

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk merekonstruksi sejarah dan peran dakwah KH. Idun Syarifuddin di Sukabumi dalam rentang waktu 1953–2004. Sebagai salah satu tokoh ulama lokal yang berpengaruh, KH. Idun Syarifuddin memiliki kontribusi besar dalam pembentukan kehidupan keagamaan masyarakat melalui pendirian Pondok Pesantren Al-Islamiyyah pada tahun 1953. Penelitian ini menggunakan metode sejarah yang terdiri dari empat tahapan utama, yaitu heuristik melalui pengumpulan sumber primer dan lisan, kritik sumber untuk menguji autentisitas data, interpretasi untuk menyintesiskan fakta sejarah, serta historiografi sebagai tahap penulisan akhir. Penelitian ini menggunakan metode penelitian sejarah untuk menelusuri peran dakwah KH. Idun Syarifuddin di Sukabumi pada periode 1953–2004. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa KH. Idun Syarifuddin menjalankan dakwah yang moderat, adaptif, dan sistematis di tengah dinamika sosial politik Indonesia dari masa Orde Lama hingga awal Reformasi. Strategi dakwah beliau mencakup tiga dimensi utama: bil-lisan melalui ceramah dan pengajian rutin, bil-hal melalui keteladanan akhlak dalam kehidupan sehari-hari, serta bil-amal melalui aksi nyata seperti program santunan yatim piatu dan dhuafa. Kiprah beliau tidak hanya terbatas di lingkungan pesantren, tetapi juga meluas melalui peran formalnya sebagai Kepala KUA dan Ketua Komisi Fatwa MUI Kabupaten Sukabumi. Dampak dakwah beliau sangat signifikan dalam mentransformasi kondisi sosial keagamaan masyarakat Sukabumi. Beliau berhasil mengubah wilayah yang semula dikenal dengan praktik kemaksiatan dan pengaruh ideologi tertentu menjadi lingkungan yang religius dan harmonis. Warisan dakwah beliau tetap eksis hingga saat ini melalui keberlanjutan institusi pesantren, kaderisasi santri yang menjadi dai di berbagai daerah, serta nilai-nilai tawadhu dan kesabaran yang terus hidup di tengah masyarakat. Dapat disimpulkan bahwa keteladanan dan konsistensi merupakan kunci utama keberhasilan dakwah KH. Idun Syarifuddin dalam membina umat selama lebih dari lima dekade
IMPLEMENTASI NILAI PENDIDIKAN LINGKUNGAN HIDUP BERBASIS KEARIFAN LOKAL TRADISI SADRANAN KALI DI TLOGOMULYO TEMANGGUNG Fatmawati, Azzahra; Sriyanto
Jazirah: Jurnal Peradaban dan Kebudayaan Vol 6 No 3 (2026): April 2026
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Adab dan Budaya Islam Riyadul 'Ulum

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51190/jazirah.v6i3.357

Abstract

Permasalahan degradasi lingkungan dan menurunnya kesadaran ekologis masyarakat memerlukan pendekatan pendidikan yang kontekstual, aplikatif, dan berkelanjutan. Integrasi Pendidikan Lingkungan Hidup berbasis kearifan lokal, seperti tradisi Sadranan Kali di Desa Tlogomulyo, menjadi salah satu solusi. Tradisi ini tidak hanya bersifat spiritual, tetapi juga mengandung nilai pelestarian lingkungan, khususnya sumber daya air. Namun, adanya modernisasi menyebabkan pergeseran makna ekologisnya, sehingga perlu dikaji kembali nilai-nilai Pendidikan lingkungan yang terkandung didalamnya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis implementasi nilai-nilai Pendidikan Lingkungan Hidup dalam tradisi Sadranan Kali serta menguji pengaruh kearifan lokal terhadap pembentukan nilai-nilai pendidikan lingkungan pada masyarakat. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan teknik purposive sampling terhadap 91 responden yang terlibat dalam pelaksanaan tradisi. Data diperoleh melalui observasi dan penyebaran kuesioner skala Likert, kemudian dianalisis menggunakan pendekatan Partial Least Squares–Structural Equation Modeling (PLS-SEM). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kearifan lokal Sadranan Kali berpengaruh kuat dan signifikan terhadap pembentukan nilai-nilai pendidikan lingkungan. Seluruh indikator memenuhi kriteria validitas dan reliabilitas, serta model penelitian dinyatakan layak dan memiliki kemampuan prediktif yang baik.
POLYSEMY ANALYSIS IN THE TRANSLATION OF SURAH AL-WAQIAH BY DR. MUSTAFA KHATTAB Awaludin Firdaus, Feri; M.Hikmat, Mahi; Abqoriyyah, Fourus Huznatul
Jazirah: Jurnal Peradaban dan Kebudayaan Vol 6 No 3 (2026): April 2026
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Adab dan Budaya Islam Riyadul 'Ulum

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51190/jazirah.v6i3.378

Abstract

This study aims to identify the types of polysemy, analyze the process of meaning change, and describe the contextual interpretation of polysemous words in the English translation of Surah Al-Waqiah by Dr. Mustafa Khattab. The primary focus of this research is to explore how complex sacred text meanings are transferred into English without losing their theological essence through precise lexical choices. This research employs a qualitative textual analysis method with a semantic analysis approach. Data were collected through a documentation study of The Clear Quran translation and analyzed using the lexical relations theory by John I. Saeed and cognitive semantic theory. Especially the polysemy theory. John I. Saeed defines polysemy as a universal human language that words have a certain plasticity of meaning that allows speakers to change their meanings to suit different usage contexts. The data analysis process followed Miles and Huberman’s interactive model, including data reduction, data display in analysis tables, and conclusion drawing. The results reveal 10 significant polysemous data points, classified into two types: Regular Polysemy (9 data) and Irregular Polysemy (1 data). The dominance of Regular Polysemy indicates that the translator tends to use words with systematic and productive patterns of meaning shift in English, such as spatial and vertical metaphors. The identified processes of meaning change are dominated by metaphorical extension through image schemas of position and direction, such as right, left, foremost, and elevate, as well as metonymical shifts in describing natural phenomena. Regarding translation strategy, Dr. Mustafa Khattab utilizes a literal translation method supported by explicitation techniques through the use of brackets to maintain theological accuracy and minimize the risk of semantic loss. These findings confirm that the use of appropriate semantic devices can bridge the limitations of human language in describing the transcendental reality of Judgment Day. This research contributes to the semantic study of the Quran and provides insights into linguistic strategies for translating sacred texts into English for modern readers.
TRANSFORMASI PENGGUNAAN JILBAB OLEH ARTIS INDONESIA (2001-2017) Alfakhruji, Syahid Wizdan; Sulasman; Lestari, Fathia
Jazirah: Jurnal Peradaban dan Kebudayaan Vol 6 No 3 (2026): April 2026
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Adab dan Budaya Islam Riyadul 'Ulum

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51190/jazirah.v6i3.382

Abstract

This research analyzes the transformation of hijab usage among Indonesian celebrities from 2001 to 2017. The primary issue addressed is the deconstruction of the hijab's image, which was initially perceived as rigid and a hindrance to professionalism during the New Order era, into a modern and emancipatory popular identity through the strategic role of public figures. The objective of this study is to map the phases of changes in hijab aesthetics and identify the driving factors that transformed this religious attribute into a symbol of international achievement. The methodology employed is the historical research method, encompassing four stages: heuristics through the collection of primary sources in the form of contemporary media clippings (Pikiran Rakyat, Galamedia) and oral sources (interview documentation), source criticism, interpretation, and historiography. The analysis was conducted using Homi K. Bhabha’s theory of cultural hybridity to observe the emergence of a "Third Space" as a realm of negotiation between spiritual values and the aesthetics of the entertainment industry. The results indicate that the transformation was initiated by the pioneering actions of celebrities such as Inneke Koesherawati and Nella Regar in 2001, who navigated their identities amidst professional career risks. This development culminated in 2017 with Dian Pelangi’s achievements at New York Fashion Week, which historically marked the phase of the hijab's establishment as a globally recognized popular identity. This research concludes that celebrities act as agents of hybridity who create a 'Third Space,' a negotiation zone that successfully converges popular culture with religious values. The presence of this space destabilizes old narratives regarding the hijab, transforming it from marginal attire into a symbol of progress and professionalism for modern Muslim women in Indonesia’s public sphere.