cover
Contact Name
Ami Abdullah Fahmi
Contact Email
jazirah@stiabiru.ac.id
Phone
+6282334466664
Journal Mail Official
jazirah@stiabiru.ac.id
Editorial Address
Jl. Pesantren Condong, Setianagara, Kec. Cibeureum, Tasikmalaya, Jawa Barat 46196
Location
Kab. tasikmalaya,
Jawa barat
INDONESIA
JAZIRAH: JURNAL PERADABAN DAN KEBUDAYAAN
ISSN : 27164454     EISSN : 27743144     DOI : https://doi.org/10.51190/jazirah
Jazirah: Jurnal Peradaban dan Kebudayaan publishes articles that can be accepted in this journal are History, Language, Literature, and Culture. Study in the field of scientific history, world history, the history of Indonesia, and the history of Islamic civilization. Scientific development studies discuss historical studies, theories, and assessments, historiography. The field of Language and Literature studies discusses the study of Literature, Language Studies, Language Learning (Educational Research), Theoretical Linguistics, Applied Linguistics, within the scope of Arabic, Indonesian and Local Languages. The Cultural Study complements various socio-cultural themes in Indonesia and the local region.
Articles 128 Documents
NILAI & MAKNA SIMBOL DALAM ADAT SORONG SERAH PADA SUKU SAMAWA DI KECAMATAN JEREWEH SUMBAWA BARAT Lestari, Fina; Zubair, Muh; Alqadri, Bagdawansyah
Jazirah: Jurnal Peradaban dan Kebudayaan Vol 6 No 2 (2025): Desember 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Adab dan Budaya Islam Riyadul 'Ulum

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51190/jazirah.v6i2.268

Abstract

Adat Sorong Serah merupakan salah satu rangkaian tahapan dalam upacara adat Suku Samawa. Sorong Serah yakni penghantaran barang-barang seserahan dari pihak mempelai laki-laki kepada pihak mempelai perempuan, barang tersebut hasil kesepakatan di acara Basaputis. Tujuan dalam penelitian ini untuk mendeskripsikan serta mengkaji nilai dan makna simbol yang terkandung dalam pelaksanaan adat Sorong Serah pada Suku Samawa. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis etnografi. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi. Hasil penelitian ini menunjukan rangkaian tahapan pelaksanaan adat Sorong Serah dilaksanakan melaui beberapa tahapan kegiatan yaitu, menyiapkan barang-barang yang telah disepakati, mengemas barang bawaan dengan rapi, indah, serta menarik, membentuk panitia Sorong Serah, menyiapkan dan menghiasi lokasi Sorong Serah, menyebar undangan, hari puncak pelaksanaan Sorong Serah. Setiap tahapan mengandung makna simbol serta sarat akan nilai. Makna Simbol dalam adat Sorong Serah yakni: (1) menyiapkan barang sebagai bentuk saling menghormati antara kedua keluarga, (2) mengemas barang sebagai tanggung jawab keluarga calon pengantin laki-laki yang menunjukkan kesungguhan, (3) menyiapkan lokasi dengan simbol seperti Lawang Rare dari bambu, daun kelapa, pita, dan pohon pisang yang memiliki makna tentang ketahanan, ikatan, kesetiaan, dan penutup, (4) Hari puncak sebagai ungkapan syukur kepada Allah S. A. W dan merayakan acara. Selain itu, dalam pelaksanaannya tercermin pula nilai-nilai yakni: nilai gotong royong, nilai budaya, nilai musyawarah, serta nilai keindahan. Dalam penelitian ini menunjukkan bahwa adat Sorong Serah bukan hanya warisan turun temurun, tetapi juga sumber nilai yang dapat membentuk identitas masyarakat, oleh karena itu generasi muda perlu mengetahui dan memahami makna serta nilai dari setiap tahapan dalam adat Sorong Serah sehingga tetap dilestarikan keberadaan sebagai identitas masyarakat Suku Samawa dan juga sebagai sumber utama membentuk Civic Culture.
ISLAM DAN BUDAYA KONSUMTIF: KOMODIFIKASI SIMBOL KEAGAMAAN DALAM MASYARAKAT MUSLIM URBAN Atiqahwati, Arih Inas
Jazirah: Jurnal Peradaban dan Kebudayaan Vol 6 No 2 (2025): Desember 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Adab dan Budaya Islam Riyadul 'Ulum

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51190/jazirah.v6i2.269

Abstract

The phenomenon of the commodification of religious symbols in urban Muslim societies, particularly in major Indonesian cities such as Jakarta and Bandung, has become more prominent with the growing consumerist culture. Religious symbols, once used as a means to express spiritual beliefs, have now transformed into commodities that function as tools to display social identity and individual status. This study aims to analyze the impact of the commodification of religious symbols in shaping urban society's religious perceptions, with an emphasis on the role of social media and the increasingly popular halal-labeled products among consumers. The research uses a qualitative method with a phenomenological approach. Data were analyzed through in-depth interviews with a diverse range of informants, including social media users, halal business owners, and religious figures. The interviews were transcribed and analyzed thematically to identify key themes. Focus group discussions and participatory observations at community events and halal product markets were conducted to explore collective perspectives on religious symbols in consumption. The results indicate that religious symbols have shifted from their spiritual function to become symbols of social status, which in turn diminishes the spiritual value they once held. This process of commodification is further accelerated by the role of social media, which turns religious preaching into an attractive consumer lifestyle, with social media users often showcasing religious symbols as part of their identity. The study finds that the consumption of religious symbols is more focused on seeking social prestige rather than expressing faith. Therefore, it is important to critique this phenomenon and preserve the authenticity of religious symbols to prevent them from becoming market commodities that lose their meaning, in order to maintain spiritual and social integrity amid modern capitalism.
PUISI PUJIAN MADDAH NABAWIYAH: STUDI TERHADAP KARYA KA’AB BIN ZUHAIR, Al-BUSHIRI, AS-SHASHURI, DAN Al-BARUDI Oktavia, Yola; Hariyani, Nety Novita
Jazirah: Jurnal Peradaban dan Kebudayaan Vol 6 No 2 (2025): Desember 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Adab dan Budaya Islam Riyadul 'Ulum

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51190/jazirah.v6i2.271

Abstract

Sebagai salah satu tradisi sastra paling berpengaruh dalam khazanah Islam, Madaih Nabawiyah hadir sebagai wujud cinta dan penghormatan mendalam umat kepada Nabi Muhammad SAW melalui bait-bait pujian yang terus hidup dari masa ke masa. Penelitian ini bertujuan mengkaji perkembangan tradisi syair pujian kepada Nabi Muhammad SAW melalui analisis terhadap karya-karya utama empat penyair yakni Ka’ab bin Zuhair, Al-Bushiri, Al-Shashari, dan Al-Barudi. Penelitian dilakukan dengan metode studi kepustakaan (library research) dengan pendekatan historis dan estetika sastra. Pendekatan historis dipakai untuk menelusuri latar belakang sosial, politik, dan keagamaan yang melingkupi kehidupan para penyair, sedangkan pendekatan estetika difokuskan pada pengungkapan gaya bahasa, simbolisme, dan nilai artistik dalam puisi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Ka’ab bin Zuhair menjadi figur awal yang memantapkan tradisi melalui syair Banat Su’ad, yang ditulis sebagai bentuk tobat dan pengakuan keimanannya. Karya tersebut tidak hanya mengukuhkan posisinya sebagai pelopor, tetapi juga menjadi model awal puisi pujian dalam Islam. Pada periode berikutnya, Al-Busiri menghadirkan Qasidah al-Burdah, karya yang kemudian mencapai popularitas luas dan menjadi rujukan dalam tradisi pembacaan, hafalan, dan pengajian di dunia Islam. Tradisi ini terus berkembang melalui Al-Sharshari yang memadukan spiritualitas mendalam dengan gaya Bahasa yang halus, serta Al-Barudi yang memberi sentuhan pembaruan dengan mengharmonikan corak klasik dan modern dalam gerakan al-ihya al-adabi.
REFRAMING CHARACTER ROLES: DEFAMILIARIZATION OF PROTAGONIST AND ANTAGONIST IN AWAL DAN AHIR BY NAGUIB MAHFOUZ Masadi, M. Anwar; Hikmah, Mei Wakhidatul; Al Humairoh, Jihan
Jazirah: Jurnal Peradaban dan Kebudayaan Vol 6 No 2 (2025): Desember 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Adab dan Budaya Islam Riyadul 'Ulum

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51190/jazirah.v6i2.278

Abstract

Defamiliarization is the study of how the literary work becomes strange and foreign, differs from the others. This qualitative descriptive study uses Victor Shklovsky’s Defamiliarization theory to see the opposition characters created by Najib Mahfudz in Awal dan Ahir. The result of this study is that Najib Mahfudz creates unique characters such as Nafisah, a mother who was abandoned by her husband in the face of social and economic situations with her four children after the revolution in Egypt. The protagonist characters such as Samirah, Hasanain, Husain, Nafisah, Bahia and Farid Affandy, represent the typical characters created by Mahfudz along with his social and psychological situations. Likewise, the Antagonist characters are so uniquely created by Mahfudz. The social situation, political economy and psychology of Egyptian society also colour the distinctive characters of the story. The characters created by Najib Mahfudz both from the antagonist and the protagonist are very interesting structurally, the characters built by both protagonist and antagonist are not directly related but meet in other forms of social relationships, which is different from other novels in terms of generally. Najib Mahfudz seems very good at making different characters so that it appears that these characters come to life in front of the reader.
GERAKAN DAN PEMIKIRAN FEMINISME NAWAL EL-SAADAWI DI MESIR TAHUN (1952-2021) Pirdaus, Ahmad Darus; Fahmi, Rezza Fauzi Muhammad
Jazirah: Jurnal Peradaban dan Kebudayaan Vol 6 No 2 (2025): Desember 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Adab dan Budaya Islam Riyadul 'Ulum

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51190/jazirah.v6i2.280

Abstract

Gerakan feminisme merupakan gerakan yang terjadi di berbagai macam belahan dunia dengan latar belakang yang berbeda-beda. Seperti faktor ekonomi, sosial, politik, dll. Karena latar belakang yang berbeda-beda maka terdapat berbagai macam aliran dan gelombang dalam gerakan feminisme. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif deskriptif dengan pendekatan litelatur. Fokus yang diangkat dalam penelitian ini adalah menganalisis latar belakang gerakan feminisme Nawal El-Saadawi. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah melalui metode historis dengan empat tahapan yaitu heuristik, kritik, interpretasi, dan historiografi. Dalam penelitian ini diperoleh hasil bahwa gerakan feminime Nawal El-Saadawi paling besar dipengaruhi oleh faktor ekonomi daripada faktor lainnya seperti misalkan patriarkhi. Gerakan feminisme Nawal tergolong kedalam feminisme sosialis karena menekankan pada faktor ekonomi namun tidak buta terhadap gender. Berbeda dengan feminisme marxsis yang menekankan pada ekonomi namun buta terhadap gender.
KONTRIBUSI KH. ACENG ZAKARIA DALAM PENDIDIKAN ISLAM DI PESANTREN PERSIS (1982-2022) Nur Hakim, Luqman; Permana, Agus; Lestari, Fathia
Jazirah: Jurnal Peradaban dan Kebudayaan Vol 6 No 2 (2025): Desember 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Adab dan Budaya Islam Riyadul 'Ulum

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51190/jazirah.v6i2.284

Abstract

Penelitian ini mengkaji kontribusi KH. Aceng Zakaria dalam pengembangan pendidikan Islam di lingkungan Pesantren Persatuan Islam (Persis) pada periode 1982–2022. Kontribusi KH. Aceng terwujud melalui produksi karya-karya keilmuan yang membentuk fondasi epistemologis pesantren. Karya seperti Al-Hidāyah fī Masā’il Fiqhiyyah Muta‘āriḍah, Al-Mabādi’ fī ‘Ilm Muṣṭalaḥ al-Ḥadīṡ, dan Al-Asāsī fī ‘Ilm al-Farā’iḍ menegaskan orientasi keilmuan yang berbasis pada dalil, analisis komparatif, serta penyajian materi fiqih, hadis, dan muamalah secara sistematis. Pada tahap ini, KH. Aceng berkontribusi dalam membangun pola nalar tekstual-kritis yang kemudian menjadi identitas epistemologis Pesantren Persis, sekaligus menyediakan perangkat rujukan yang memperkuat kurikulum dasar di berbagai lembaga pendidikan Persis. Kontribusi KH. Aceng berkembang ke tahap implementasi institusional, yang ditandai oleh penggunaan lebih dari lima puluh karyanya sebagai bahan ajar resmi di pesantren-pesantren Persis seperti Persis 99 Rancabango, Persis 106 Al-Falah Kopo, dan Persis 34 Cibegol. Karya-karya seperti Al-Muyassar fī ‘Ilm al-Naḥwi, Belajar Nahwu Sistem 40 Jam, Ilmu al-Tauhid, dan Hadyu ar-Rasūl menjadi instrumen utama dalam pembelajaran bahasa Arab, fiqih, dan akidah. Implementasi lintas generasi ini menunjukkan bahwa KH. Aceng tidak hanya berperan sebagai ulama penulis yang produktif, tetapi juga sebagai arsitek metodologi pembelajaran yang memadukan tradisi turāth dengan pendekatan tajdīd yang modern dan aplikatif. Penelitian ini menggunakan metode sejarah dengan tahapan heuristik, kritik sumber, interpretasi, dan historiografi. Data diperoleh melalui studi pustaka terhadap lebih dari 120 karya tulis KH. Aceng, dokumentasi penerbit Ibn Azka Press, serta wawancara dengan keluarga, alumni, dan pengajar pesantren Persis. Temuan penelitian menegaskan bahwa kontribusi KH. Aceng Zakaria selama empat dekade berpengaruh signifikan dalam memperkuat kurikulum, tradisi intelektual, dan struktur pendidikan Islam Persis, sehingga membentuk generasi santri yang ilmiah, berakhlak, dan adaptif terhadap tantangan zaman.
ELIT PERKEBUNAN KOLONIAL DALAM PERSAUDARAAN MASONIK: DINAMIKA ORGANISASI DAN INTELEKTUAL KRING PANGALENGAN Arifin, Faizal
Jazirah: Jurnal Peradaban dan Kebudayaan Vol 6 No 2 (2025): Desember 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Adab dan Budaya Islam Riyadul 'Ulum

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51190/jazirah.v6i2.285

Abstract

Penelitian ini mengkaji aktivitas organisasi dan intelektual Vrijmetselaar-kring Pangalengan (1934–1941), sebuah cabang yang berafiliasi dengan Loji Sint Jan Bandung. Sebagai sebuah “cabang” di pinggiran kota kolonial Bandung, anggotanya merupakan para elit perkebunan kolonial termasuk dari teknokrat dan manajer seperti J. H. W. Rüsch dan Dr. B. Vrijburg. Mereka menggunakan forum persaudaraan ini untuk mengatasi keterbatasan geografis untuk tetap menjalankan aktivitas masonik. Metode yang digunakan adalah metode sejarah yang terdiri dari heuristik, kritik, interpretasi, dan historiografi. Pendekatan sejarah sosial dilakukan berdasarkan sumber primer sejarah berupa kronik pertemuan dan laporan tahunan yang diterbitkan dalam Indisch Maçonniek Tijdschrift. Hasil penelitian menunjukkan bahwa organisasi Kring berfungsi sebagai simpul jaringan sosial yang mengatasi isolasi geografis, dengan menjaga koneksi antara anggota Freemasonry yang berasal dari berbagai loji dan perkebunan seperti Santosa, Malabar, Taloen, Wanasoeka, dan Negla. Secara institusional, Kring menunjukkan adaptasi logistik yang terkonsolidasi, menggunakan fasilitas seperti gudang bioskop perkebunan sebagai lokasi pertemuan, serta mempertahankan struktur kepengurusan yang stabil. Kring Pangalengan juga memiliki jadwal pertemuan yang teratur dan responsif terhadap berbagai isu eksternal. Aktivitas intelektual yang dilakukan meliputi diskusi etika-spiritual dan kajian ideologis, termasuk mendiskusikan berbagai gerakan sosial atau politik seperti Nazi dan gerakan Anti-Masonik. Diskusi kritis dan berorientasi refleksi moral juga dilakukan, termasuk merefleksikan kondisi dunia menjelang Perang Dunia II. Perdebatan ini merupakan bagian dari upaya pembentukan identitas kolektif yang bertujuan mendefinisikan dan memperkuat prinsip-prinsip liberal freemasonry dan refleksi moral sebagai penawar terhadap ideologi totaliter menjelang Perang Dunia II. Kajian historis mengenai Vrijmetselaar-kring Pangalengan merupakan upaya memperkaya kajian sejarah lokal yang menunjukkan aktivitas para elit Belanda di kawasan Selatan Bandung, selain kajian sejarah sosial mengenai aktivitas sosial komunitas Eropa di Hindia Belanda
KIPRAH H.MA’SOEM: FONDASI NILAI CAGEUR, BAGEUR, PINTER DALAM PERINTISAN AMIK DI JATINANGOR (1986-2001) Habibah, Alma Nada; Hidayat , Asep Achmad; Isana, Widiati
Jazirah: Jurnal Peradaban dan Kebudayaan Vol 6 No 2 (2025): Desember 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Adab dan Budaya Islam Riyadul 'Ulum

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51190/jazirah.v6i2.293

Abstract

Penelitian ini menelaah kiprah H. Ma’soem dalam perintisan pendidikan tinggi di Jatinangor melalui pendirian Yayasan Pendidikan Al-Ma’soem (1986) dan Akademi Manajemen Informatika dan Komputer (AMIK) Al-Ma’soem hingga 2001. Penelitian lain mengenai tokoh pendidikan di Sumedang umumnya berfokus pada aspek kelembagaan atau sosial-keagamaan; oleh karena itu, kajian ini menekankan peran H. Ma’soem dalam menanamkan nilai-nilai pendidikan tinggi berbasis kearifan lokal. Penelitian menggunakan metode sejarah dengan pendekatan kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa H. Ma’soem berperan sebagai penggagas, pembina, dan penentu arah pendirian AMIK Al-Ma’soem. Ia secara konsisten menanamkan nilai Cageur (ketangguhan fisik dan mental), Bageur (akhlak dan integritas), dan Pinter (kecakapan intelektual) sebagai dasar pembentukan karakter dan kebijakan pendidikan di lingkungan AMIK. Nilai-nilai tersebut membentuk budaya akademik awal lembaga dan menjadi fondasi berkelanjutan bagi pengembangan pendidikan di bawah naungan Yayasan Pendidikan Al-Ma’soem. Meskipun H. Ma’soem wafat pada 2001, warisan nilai yang dibangun tetap dipertahankan dan terus memengaruhi arah pendidikan Al-Ma’soem hingga Saat ini . Temuan ini menegaskan bahwa kontribusi utama H. Ma’soem bukan hanya pada inisiasi pendirian lembaga, tetapi terutama pada pewarisan nilai-nilai dasar yang membentuk karakter serta orientasi pendidikan tinggi berbasis kearifan lokal di Jatinangor.

Page 13 of 13 | Total Record : 128