cover
Contact Name
Maryani
Contact Email
maryani@fish.upr.ac.id
Phone
+6285234531763
Journal Mail Official
maryani@fish.upr.ac.id
Editorial Address
urusan Perikanan Fakultas Pertanian Universitas Palangka Raya Jl. H. Timang Palangka Raya Kalimantan Tengah 73111 Indonesia
Location
Kota palangkaraya,
Kalimantan tengah
INDONESIA
Journal of Tropical Fisheries
ISSN : 1907736X     EISSN : 29870151     DOI : https://doi.org/10.36873/jtf.v18i1
Ruang Lingkup dari Jurnal JTF adalah : hasil-hasil kajian ilmiah dan penelitian aspek-aspek perikanan tropis, meliputi bidang-bidang limnologi (ekologi perairan tawar) secara teoritis dan aplikasi, oseanologi (kelautan dan pesisir), manajemen sumberdaya perairan dan sosial ekonomi perikanan, budidaya perikanan, teknologi hasil perikanan dan isu-isu lingkungan perairan.
Articles 103 Documents
ANALISIS KUALITAS AIR AKIBAT BUANGAN LIMBAH CAIR KELAPA SAWIT DI SUNGAI KALI MANGKATIP DESA DADAHUP KABUPATEN KAPUAS Ahmad Suwandi; Ummi Suraya; Mustaqiim Pangestu; Tutwuri Handayani
JOURNAL OF TROPICAL FISHERIES Vol. 21 No. 2 (2026): Journal of Tropical Fisheries (In Progress)
Publisher : Jurusan Perikanan Fakultas Pertanian, Kehutanan dan Perikanan, Universitas Palangka Raya (UPR)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36873/jtf.v21i2.27626

Abstract

Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Februari tahun 2026 di Sungai Kali Mangkatip untuk mengetahui kualitas air Sungai Kali Mangkatip akibat buangan limbah cair kelapa sawit di Desa Dadahup Kabupaten Kapuas dengan membandingkan hasil uji kualitas air dengan PP RI No. 22 Tahun 2021, dan mengetahui stastus mutu air Sungai Kali Mangkatip dengan metode deskriptif kuantitatif. Penentuan titik sampling dilakukan dengan teknik purposive sampling. Parameter kualitas air yang diukur meliputi suhu, debit air, kecepatan arus, kedalaman, Total Suspended Solids (TSS), derajat keasaman (pH), Dissolved Oxygen (DO), Chemical Oxygen Demand (COD), Biochemical Oxygen Demand (BOD), minyak dan lemak, serta nitrogen total. Pengukuran kualitas air dilakukan langsung di lapangan pada 3 titik pengamatan dan sampel air di analisis di Laboratorium Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Kabupaten Kapuas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai parameter suhu air pada seluruh stasiun masih memenuhi baku mutu air kelas 3 dengan deviasi suhu yang masih berada dalam kisaran normal. Parameter pH pada seluruh stasiun memiliki nilai yang sangat asam (1,4 ± 0,03 – 2,9 ± 0,14) dan secara umum tidak memenuhi baku mutu yang ditetapkan. Namun demikian, kondisi ini masih dapat dianggap wajar karena Sungai Kali Mangkatip merupakan perairan rawa gambut yang secara alami memiliki pH rendah. Parameter DO pada seluruh stasiun tidak memenuhi baku mutu kelas 3, yang menunjukkan rendahnya kadar oksigen terlarut di perairan. Sementara itu, parameter TSS, COD, BOD, minyak dan lemak, serta nitrogen total pada seluruh stasiun memenuhi baku mutu air untuk kelas 3. Berdasarkan hasil perhitungan Indeks Pencemaran status mutu air Sungai Kali Mangkatip pada Stasiun I sampai III sesuai baku mutu kelas 3 tergolong dalam kategori tercemar ringan.
UJI ANGKA LEMPENG TOTAL SEBAGAI INDIKATOR MUTU UDANG WINDU (Penaeus monodon) Norhayani Norhayani; Rario Rario; Retoselino Retoselino
JOURNAL OF TROPICAL FISHERIES Vol. 21 No. 2 (2026): Journal of Tropical Fisheries (In Progress)
Publisher : Jurusan Perikanan Fakultas Pertanian, Kehutanan dan Perikanan, Universitas Palangka Raya (UPR)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36873/jtf.v21i2.27640

Abstract

Udang windu (Penaeus monodon) merupakan komoditas hasil perikanan yang rentan mengalami penurunan mutu karena kandungan air dan nutrisinya yang tinggi sehingga mendukung pertumbuhan mikroba. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pembuatan media Plate Count Agar (PCA), kulturisasi bakteri, dan jumlah koloni bakteri pada udang windu sebagai indikator mutu. Pengujian dilakukan di Badan Pengendalian dan Pengawasan Mutu Hasil Kelautan dan Perikanan (BPPMHKP) Palangka Raya. Sampel udang windu sebanyak 25 g dihomogenisasi dengan 225 ml larutan BFP, kemudian dilakukan pengenceran bertingkat hingga 10⁻⁵. Sampel ditanam pada media PCA menggunakan metode agar tuang (pour plate) dan diinkubasi pada suhu 35 ± 1°C selama 48 ± 2 jam. Hasil menunjukkan bahwa seluruh jumlah koloni berada di bawah rentang koloni yang dapat dihitung, yaitu 25–250 koloni. Oleh karena itu, hasil uji Angka Lempeng Total (ALT) dikategorikan sebagai Too Few To Count (TFTC), sehingga nilai ALT secara kuantitatif tidak dapat ditentukan. Hasil tersebut menunjukkan bahwa sampel menghasilkan jumlah koloni mikroba yang relatif rendah
IDENTIFIKASI PARASIT IKAN LELE DUMBO (Clarias gariepinus) YANG DIPELIHARA PADA KOLAM BETON DAN KOLAM TERPAL Rosita; Mohamad Rozik; Kartika Bungas; Ahmad Rijani; Toto Fransisco
JOURNAL OF TROPICAL FISHERIES Vol. 21 No. 2 (2026): Journal of Tropical Fisheries (In Progress)
Publisher : Jurusan Perikanan Fakultas Pertanian, Kehutanan dan Perikanan, Universitas Palangka Raya (UPR)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36873/jtf.v21i2.27652

Abstract

Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui jenis dan jumlah parasit yang menginfeksi ikan Lele Dumbo (Clarias gariepinus) pada sistem budidaya kolam terpal dan kolam beton. Selain itu, juga untuk mengetahui tingkat prevalensi dan intensitas infeksi parasit pada ikan lele dumbo di masing-masing jenis kolam budidaya. Serta membandingkan perbedaan jenis parasit antara kolam terpal dan kolam beton. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian deskriptif, dengan hasil penelitian dari 100 ekor ikan yang diperiksa, ditemukan sebanyak 31 ekor ikan yang terinfeksi parasit. Terdapat pada kolam terpal sebanyak 20 ekor dan 11 ekor di kolam beton, sedangkan 69 ekor lainnya tidak terinfeksi. Terdapat satu jenis Ektoparasit parasit yang ditemukan Dactylogyrus sp dengan organ target insang sebanyak 40 Ind. Yang terdapat pada kolam terpal sebanyak 27 Ind dan 13 Ind di kolam beton. Prevalensi parasit pada bagian ektoparasit kolam tarpal lebih tinggi, yaitu mencapai 40%, dibandingkan dengan ektoparasit yang dikolam beton hanya 22%. Demikian juga intensitas di kolam terpal lebih tinggi mencapai 1,35 Ind/ekor dibandikan dengan kolam beton hanya 1,18 Ind/ekor, tetapi tidak ada endoparasit di dua kolam tersebut. Dari dua jenis kolam yang di teliti hanya di temukan satu jenis parasit yang menginfeksi.

Page 11 of 11 | Total Record : 103