cover
Contact Name
Velma Herwanto
Contact Email
Velmah@fk.untar.ac.id
Phone
+628161820408
Journal Mail Official
jmmpk@untar.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Muara Medika dan Psikologi Klinis
ISSN : -     EISSN : 27978320     DOI : 10.24912/jmmpk
Core Subject : Health, Science,
Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Tarumanagara Kampus 1 Jl. Letjen S. Parman No.1 Jakarta 11440 021-5671747 Ext. 215
Articles 121 Documents
KORELASI ANTARA PROFIL LIPID DAN KOMPOSISI TUBUH PADA DEWASA DI JAKARTA BARAT DAN TIMUR DENGAN KONTROL VARIABEL USIA Robert Kosasih; Alexander Halim Santoso; Fernando Nathaniel
Jurnal Muara Medika dan Psikologi Klinis Vol. 5 No. 2 (2025): Jurnal Muara Medika dan Psikologi Klinis
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmmpk.v5i2.35083

Abstract

Profil lipid dan komposisi tubuh merupakan indikator penting status kesehatan, yang keduanya saling berinteraksi dan berkontribusi terhadap risiko penyakit kardiovaskular. Hubungan antara keduanya pada populasi dewasa di Jakarta masih jarang diteliti. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui korelasi antara profil lipid dan komposisi tubuh pada orang dewasa di Jakarta Barat dan Timur, dengan mengendalikan variabel usia. Metode penelitian ini merupakan studi potong lintang pada 218 responden dewasa (≥20 tahun) yang direkrut di tiga lokasi di DKI Jakarta. Komposisi tubuh diukur menggunakan bioelectrical impedance analysis (BIA) dan profil lipid diperoleh dari analisis darah vena. Analisis korelasi Pearson dan korelasi parsial digunakan untuk mengevaluasi hubungan antara parameter lipid (kolesterol total, HDL, LDL, trigliserida) dengan komponen komposisi tubuh (lemak viseral, subkutan, IMT, otot rangka), dengan kontrol terhadap usia. Kadar trigliserida menunjukkan korelasi positif signifikan dengan lemak viseral (r=0,284; p<0,001) dan IMT (r=0,265; p<0,001). Sebaliknya, kadar HDL berkorelasi negatif signifikan dengan lemak viseral (r=−0,382; p<0,001) dan IMT (r=−0,293; p<0,001). Kolesterol total dan HDL juga berkorelasi negatif dengan massa otot, khususnya otot kaki (p<0,05). Korelasi ini tetap signifikan setelah dikendalikan oleh usia. Terdapat korelasi signifikan antara profil lipid dan komposisi tubuh pada populasi dewasa di Jakarta, yang relatif independen dari usia. Temuan ini mendukung pentingnya pengelolaan komposisi tubuh untuk memperbaiki profil lipid dan menurunkan risiko kardiovaskular. Studi longitudinal lebih lanjut disarankan untuk mengklarifikasi hubungan kausal.
Interkorelasi Indikator Sindrom Metabolik pada Dokter Muda: Studi Potong Lintang di Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Fenny Yunita; Alexander Halim Santoso; Fiona Valencia Setiawan
Jurnal Muara Medika dan Psikologi Klinis Vol. 5 No. 2 (2025): Jurnal Muara Medika dan Psikologi Klinis
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmmpk.v5i2.35086

Abstract

Pendahuluan: Sindrom metabolik (MetS) merupakan kumpulan kondisi yang mencakup obesitas sentral, dislipidemia, dan gangguan metabolisme glukosa, yang secara kolektif meningkatkan risiko penyakit kardiometabolik. Meskipun dokter muda secara klinis sering dianggap sehat, tingginya stres, pola makan yang tidak teratur, serta kurangnya aktivitas fisik dalam lingkungan pendidikan klinis dapat meningkatkan kerentanan terhadap gangguan metabolik. Metode: Studi potong lintang ini dilakukan pada sekelompok dokter muda, dengan pengumpulan data meliputi pengukuran antropometri (lingkar perut dan indeks massa tubuh) serta pemeriksaan biomarker metabolik melalui analisis laboratorium. Uji korelasi digunakan untuk mengevaluasi hubungan antar variabel. Hasil: Ditemukan korelasi signifikan antara lingkar perut dan indeks massa tubuh dengan berbagai biomarker metabolik. Obesitas sentral secara konsisten muncul sebagai faktor dominan yang berasosiasi dengan perubahan metabolik awal. Temuan ini menegaskan bahwa meskipun secara klinis belum menunjukkan gejala, populasi ini telah mengalami pergeseran fisiologis yang mengarah pada risiko metabolik. Kesimpulan: Hasil penelitian ini menekankan pentingnya deteksi dini dan pemantauan berkala terhadap indikator metabolik pada dokter muda. Pemanfaatan pemeriksaan antropometrik sederhana yang dikombinasikan dengan analisis biokimia dasar dapat menjadi alat skrining yang efektif. Intervensi gaya hidup berbasis institusional perlu segera diterapkan untuk mencegah progresivitas MetS di kalangan tenaga medis muda.
WELAS ASIH DIRI DAN STRESS PADA PEREMPUAN PENGGUNA MEDIA SOSIAL Muhammad Hudzaifah
Jurnal Muara Medika dan Psikologi Klinis Vol. 5 No. 2 (2025): Jurnal Muara Medika dan Psikologi Klinis
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmmpk.v5i2.36270

Abstract

Penggunaan media sosial telah sering dikaitkan dengan stres dan masalah kesehatan mental pada perempuan, sementara belakangan ini welas asih diri (self-compassion) telah diidentifikasi sebagai faktor protektif yang berpotensi mengurangi tingkat stres. Oleh karena itu penelitian ini bertujuan untuk meneliti hubungan antara welas asih diri dan tingkat stres pada perempuan pengguna media sosial di Indonesia. Partisipan terdiri dari 363 perempuan yang direkrut melalui kuesioner daring menggunakan teknik accidental sampling. Pengukuran tingkat stres dilakukan menggunakan subskala stres dari Depression Anxiety Stress Scales (DASS-42) versi Indonesia yang diadaptasi oleh Widyana, Safitri, dan Sumiharso (2020). Sementara itu, tingkat welas asih diri diukur dengan Skala Welas Asih versi Indonesia yang diadaptasi oleh Sugianto, Suwartono, dan Sutanto (2020). Analisis korelasi Pearson menunjukkan adanya hubungan negatif yang signifikan antara welas asih diri dan stres (r = -0.727; p < 0.01), yang berarti semakin tinggi welas asih diri, semakin rendah tingkat stres yang dialami. Analisis tiap aspek welas asih diri menunjukkan bahwa aspek positif (self-kindness, common humanity, dan mindfulness) berkorelasi negatif dengan stres, sedangkan aspek negatif welas asih diri (self-judgment, isolation, dan over-identification) berkorelasi positif dengan stres. Analisis tambahan menggunakan independent sample t-test menunjukkan bahwa perempuan dengan pendidikan tinggi memiliki welas asih diri yang lebih tinggi dan tingkat stres yang lebih rendah dibandingkan dengan perempuan yang tidak berpendidikan tinggi. Penelitian ini menegaskan pentingnya welas asih diri sebagai faktor protektif dalam manajemen stres pada perempuan pengguna media sosial, serta implikasinya terhadap pengembangan intervensi psikologis berbasis welas asih diri.
BRIEF PSYCHOLOGICAL INTERVENTION FOR A CLIENT WITH SCHIZOAFFECTIVE DISORDER, BIPOLAR TYPE: CASE REPORT Mariana Foo; Willy Tasdin
Jurnal Muara Medika dan Psikologi Klinis Vol. 5 No. 2 (2025): Jurnal Muara Medika dan Psikologi Klinis
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmmpk.v5i2.36271

Abstract

Gangguan Skizoafektif adalah masalah kesehatan mental kronis yang merupakan campuran dari gejala skizofrenia dan gangguan suasana hati. Tingkat kekambuhan yang tinggi semakin diperburuk oleh ketidakpatuhan terhadap pengobatan dan kekurangan dalam kemampuan regulasi emosional. Hal ini merugikan menyebabkan prognosis yang buruk dan kualitas hidup pasien serta menambah beban pada sistem di dalam keluarga dan sistem. Tujuan dari laporan kasus ini adalah untuk melaporkan proses perawatan pasien MR (wanita, 40 tahun), yang dirawat di rumah sakit "RSSH", yang mengalami berbagai kekambuhan akibat penggunaan obat yang tidak teratur. Intervensi didasarkan pada 3 sesi psikologis singkat. Evaluasi psikologis dilakukan dengan menggunakan tes berikut seperti MSE, DASS-21, ETISR-SF, BSL-23, SSCT, WZT dan ERQ. Intervensi yang distandarisasi disesuaikan menurut hasil penilaian selama tiga sesi konseling yang mencakup psikoedukasi, keterampilan regulasi emosi, dan peningkatan koping adaptif. Hasil pasca-intervensi menunjukkan bahwa ketidakpatuhan terhadap terapi terutama disebabkan oleh ketidakstabilan suasana hati, kecemasan berat, dan trauma sebelumnya yang belum terselesaikan. Pasien mengalami kemajuan yang mengesankan dalam gejala, mencakup berkurangnya gejala afektif, peningkatan pengetahuan tentang faktor-faktor yang memicu kekambuhan, dan peningkatan motivasi untuk mematuhi pengobatan farmakologis. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa intervensi psikologis yang berfokus pada regulasi emosi dalam jangka waktu singkat dapat berfungsi sebagai strategi efektif untuk mencegah kekambuhan serta meningkatkan kepatuhan terhadap pengobatan pada individu dengan Gangguan Skizoafektif. Diperlukan metode yang lebih ketat dengan ukuran sampel yang lebih besar untuk memastikan validitas eksternal dan generalisasi temuan.
COVER JMMPK V5N2 JMMPK
Jurnal Muara Medika dan Psikologi Klinis Vol. 5 No. 2 (2025): Jurnal Muara Medika dan Psikologi Klinis
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmmpk.v5i2.36289

Abstract

Kata Pengantar JMMPK V5N2 JMMPK
Jurnal Muara Medika dan Psikologi Klinis Vol. 5 No. 2 (2025): Jurnal Muara Medika dan Psikologi Klinis
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmmpk.v5i2.36290

Abstract

Daftar Isi V5N2 2025 JMMPK
Jurnal Muara Medika dan Psikologi Klinis Vol. 5 No. 2 (2025): Jurnal Muara Medika dan Psikologi Klinis
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmmpk.v5i2.36291

Abstract

HUBUNGAN ANTARA FATHERLESS DENGAN RESILIENSI PADA DEWASA MUDA Dindi Maulysa Rahmat; Denrich Suryadi
Jurnal Muara Medika dan Psikologi Klinis Vol. 5 No. 2 (2025): Jurnal Muara Medika dan Psikologi Klinis
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmmpk.v5i2.37346

Abstract

Fatherless merupakan kondisi dimana individu mengalami minimnya keterlibatan ayah, baik secara fisik maupun emosional, sehingga dukungan pengasuhan tidak terpenuhi secara optimal. Fenomena ini berpotensi memengaruhi kemampuan individu dalam mengatasi tekanan hidup. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara fatherless dan resiliensi pada dewasa muda. Partisipan pada penelitian ini berjumlah 200 orang berusia 18-25 tahun yang memiliki pengalaman fatherless, baik karena kematian ayah, perceraian, pekerjaan ayah di luar kota, maupun ayah yang tinggal serumah namun tidak terlibat dalam pengasuhan. Teknik sampling yang digunakan adalah purposive sampling. Instrumen penelitian yang digunakan adalah Skala Fatherless (α = 0,965) dan Connor-Davidson Resilience Scale atau CD-RISC (α = 0,977). Analisis data menggunakan korelasi Pearson menunjukkan nilai sig 0,001 (<0,05) dan koefisien korelasi r = 0,757. Hasil ini menunjukkan adanya hubungan positif signifikan antara fatherless dan resiliensi, hal ini mengidentifikasikan bahwa semakin rendah keterlibatan ayah maka semakin rendah pula resiliensi dewasa muda. Temuan ini menekankan pentingnya dukungan keluarga dan penguatan peran ayah dalam proses pengasuhan.
PENGARUH KECEMASAN TERHADAP DISPEPSIA PADA MAHASISWA FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TARUMANAGARA Naufal Rayhan; Alfianto Martin
Jurnal Muara Medika dan Psikologi Klinis Vol. 5 No. 2 (2025): Jurnal Muara Medika dan Psikologi Klinis
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmmpk.v5i2.37350

Abstract

Dispepsia merupakan salah satu gangguan pada sistem pencernaan yang sering dijumpai dan sering dikaitkan dengan kondisi psikologis seperti kecemasan. Dispepsia dapat disebabkan oleh berbagai faktor, seperti peningkatan produksi asam lambung, pola makan yang tidak sehat, infeksi bakteri Helicobacter pylori, ulkus peptikum, dan gangguan psikologis. Kondisi ini ditandai dengan rasa nyeri atau ketidaknyamanan di daerah epigastrium seperti perut kembung, mual hingga muntah, rasa cepat kenyang, perut terasa penuh, dan sering bersendawa. Mahasiswa kedokteran diketahui memiliki tingkat kecemasan yang lebih tinggi dibandingkan mahasiswa dari fakultas lain, hal ini disebabkan oleh beban akademik yang berat. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi hubungan antara kecemasan dengan dispepsia pada mahasiswa Fakultas Kedokteran program studi sarjana kedokteran. Penelitian ini menggunakan desain studi analitik observasional dengan pendekatan potong lintang. Data dikumpulkan melalui dua instrumen kuesioner, yaitu Nepean Dyspepsia Index (NDI) untuk mengukur gejala dispepsia dan Hamilton Anxiety Rating Scale (HARS) untuk menilai tingkat kecemasan. Jumlah responden yang terlibat pada penelitian ini sebanyak 170 orang yang dipilih berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi. Hasil analisis menunjukkan bahwa 62,4% responden mengalami dispepsia dan 68,8% mengalami kecemasan dengan berbagai tingkat keparahan. Uji statistik menggunakan Mann-Whitney menunjukkan adanya hubungan yang bermakna antara kecemasan dengan dispepsia (p < 0,002). Berdasarkan temuan ini, dapat disimpulkan bahwa kecemasan berkontribusi terhadap peningkatan risiko terjadinya dispepsia pada mahasiswa Fakultas Kedokteran.
GAMBARAN FEAR OF INTIMACY PADA DEWASA AWAL DI JAKARTA Runi Michiko
Jurnal Muara Medika dan Psikologi Klinis Vol. 5 No. 2 (2025): Jurnal Muara Medika dan Psikologi Klinis
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmmpk.v5i2.37351

Abstract

Dewasa awal (18–29 tahun) merupakan tahap perkembangan, saat individu mulai membangun hubungan intim dengan individu lain. Pada satu sisi, tidak semua individu mampu menjalani tahap ini dengan optimal. Sebagian individu mengalami ketidaknyamanan ketika harus dekat secara emosional, kondisi ini disebut sebagai fear of intimacy. Fear of intimacy adalah kondisi saat individu merasa takut untuk menjalin kedekatan emosional dengan individu lain (Descutner & Thelen, 1991). Individu dengan kondisi ini cenderung menghindari situasi yang menuntut kedekatan atau menjauhi hubungan yang berpotensi menjadi intim. Pola tersebut biasanya berakar pada pengalaman awal bersama pengasuh di masa kanak-kanak (Bowlby, 1969). Ketakutan ini juga terlihat dalam berbagai fenomena, salah satunya adalah ghosting pada dewasa awal. Ghosting adalah fenomena ketika pelaku menghilang tanpa alasan yang jelas. Penelitian ini bertujuan menggambarkan fear of intimacy pada dewasa awal di Jakarta. Penelitian ini memperoleh jumlah responden sebanyak 153 partisipan dengan jumlah 62 laki-laki dan 93 perempuan. Instrumen penelitian menggunakan Fear of Intimacy Scale (FIS) dan pengambilan data melalui google form. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dewasa awal di Jakarta berada pada tingkat fear of intimacy kategori sedang (69.7%). Dimensi tertinggi adalah emotional valence (65.6), kedua vulnerability (28.9), dan content (10.8). Temuan ini mengindikasikan adanya hambatan dalam membangun kedekatan, meskipun tidak pada taraf yang tinggi.

Page 12 of 13 | Total Record : 121