cover
Contact Name
Velma Herwanto
Contact Email
Velmah@fk.untar.ac.id
Phone
+628161820408
Journal Mail Official
jmmpk@untar.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Muara Medika dan Psikologi Klinis
ISSN : -     EISSN : 27978320     DOI : 10.24912/jmmpk
Core Subject : Health, Science,
Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Tarumanagara Kampus 1 Jl. Letjen S. Parman No.1 Jakarta 11440 021-5671747 Ext. 215
Articles 109 Documents
STUDI POTONG LINTANG RETROSPEKTIF PENURUNAN eGFR TERKAIT WARFARIN PADA PASIEN STROKE ISKEMIK DENGAN FIBRILASI ATRIUM Suros, Angel Sharon; Priyana, Andria
Jurnal Muara Medika dan Psikologi Klinis Vol. 4 No. 2 (2024): Jurnal Muara Medika dan Psikologi Klinis
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmmpk.v4i2.35846

Abstract

Warfarin merupakan antikoagulan yang banyak digunakan pada pasien fibrilasi atrium (AF) untuk mencegah kejadian tromboemboli, termasuk stroke iskemik. Namun, terapi ini berpotensi menyebabkan penurunan fungsi ginjal yang dikenal sebagai warfarin-related nephropathy (WRN). Beberapa penelitian retrospektif sebelumnya menunjukkan hubungan antara penggunaan warfarin dengan penurunan laju filtrasi glomerulus (eGFR), namun bukti yang tersedia masih terbatas, terutama di Indonesia. Tujuan dari penelitian ini untuk mengevaluasi hubungan antara penggunaan warfarin dan perubahan fungsi ginjal pada pasien dengan stroke iskemik dan AF. Metode Penelitian ini menggunakan desain potong lintang retrospektif dengan menelusuri rekam medis pasien stroke iskemik dengan AF di RSUD Cengkareng selama Januari–Desember 2024. Pengumpulan data menggunakan teknik toal sampling, dari 32 data awal, 29 pasien memenuhi kriteria inklusi. Fungsi ginjal dinilai berdasarkan selisih eGFR awal dan akhir dengan jarak minimal 3 bulan. Uji normalitas dilakukan dengan Shapiro-Wilk dan uji bivariat menggunakan Mann-Whitney (α = 0,05). Hasil Sebanyak 13 pasien (44,8%) menggunakan warfarin dan 16 pasien (55,2%) tidak. Kelompok warfarin mengalami penurunan median eGFR sebesar –9,20 mL/min/1,73 m², sedangkan kelompok non-warfarin menunjukkan peningkatan median sebesar +9,90 mL/min/1,73 m². Perbedaan median eGFR antara kedua kelompok signifikan (p = 0,020). Kesimpulan Pemberian warfarin berhubungan signifikan dengan penurunan fungsi ginjal pada pasien stroke iskemik dan AF. Temuan ini menguatkan perlunya pemantauan fungsi ginjal secara berkala serta mempertimbangkan alternatif terapi seperti NOAC pada pasien dengan risiko tinggi.
GAMBARAN FEAR OF INTIMACY PADA DEWASA AWAL DI JAKARTA Michiko, Runi
Jurnal Muara Medika dan Psikologi Klinis Vol. 4 No. 2 (2024): Jurnal Muara Medika dan Psikologi Klinis
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmmpk.v4i2.35848

Abstract

Dewasa awal (18–29 tahun) merupakan tahap perkembangan, saat individu mulai membangun hubungan intim dengan individu lain (Arnet 2000). Pada satu sisi, tidak semua individu mampu menjalani tahap ini dengan optimal. Sebagian individu mengalami ketidaknyamanan ketika harus dekat secara emosional, kondisi ini disebut sebagai fear of intimacy. Fear of intimacy adalah kondisi saat individu merasa takut untuk menjalin kedekatan emosional dengan individu lain (Descutner & Thelen, 1991). Individu dengan kondisi ini cenderung menghindari situasi yang menuntut kedekatan atau menjauhi hubungan yang berpotensi menjadi intim. Pola tersebut biasanya berakar pada pengalaman awal bersama pengasuh di masa kanak-kanak (Bowlby, 1969). Ketakutan ini juga terlihat dalam berbagai fenomena, salah satunya adalah ghosting pada dewasa awal. Ghosting adalah fenomena ketika pelaku menghilang tanpa alasan yang jelas. Penelitian ini bertujuan menggambarkan fear of intimacy pada dewasa awal di Jakarta. Penelitian ini memperoleh jumlah responden sebanyak 153 partisipan dengan jumlah 62 laki-laki dan 93 perempuan. Instrumen penelitian menggunakan Fear of Intimacy Scale (FIS) dan pengambilan data melalui google form. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dewasa awal di Jakarta berada pada tingkat fear of intimacy kategori sedang (69.7%). Dimensi tertinggi adalah emotional valence (65.6), kedua vulnerability (28.9), dan content (10.8). Temuan ini mengindikasikan adanya hambatan dalam membangun kedekatan, meskipun tidak pada taraf yang tinggi.
PENERAPAN FORGIVENESS THERAPY BERBASIS ART THERAPY PADA INDIVIDU SCHIZOPHRENIA PARANOID Novel, Shakira; Suryadi, Denrich
Jurnal Muara Medika dan Psikologi Klinis Vol. 4 No. 2 (2024): Jurnal Muara Medika dan Psikologi Klinis
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmmpk.v4i2.35849

Abstract

Schizophrenia paranoid merupakan gangguan psikologis yang ditandai dengan waham dan halusinasi, sehingga menurunkan fungsi sosial, kognitif, dan emosional individu. Konflik keluarga, terutama dengan figur ayah, dapat memperparah kondisi partisipan dan memicu kekambuhan. Forgiveness therapy merupakan pendekatan psikoterapi yang membantu individu mengatasi konflik emosional melalui proses pemaafan, sedangkan art therapy memberi ruang bagi partisipan untuk mengekspresikan emosi, mengurangi stres, serta meningkatkan self-efficacy. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas forgiveness therapy dengan pendekatan art therapy pada partisipan schizophrenia paranoid. Studi kasus dilakukan terhadap laki-laki berusia 41 tahun dengan diagnosis schizophrenia paranoid. Metode asesmen mencakup wawancara, observasi, serta tes psikologis (MMSE, WBIS, grafis, TAT, dan SSCT). Intervensi dilaksanakan dalam 11 sesi forgiveness therapy berbasis art therapy, termasuk aktivitas scribble, menggambar pengalaman, menulis surat, free painting, hingga tote bag painting. Efektivitas terapi juga diukur menggunakan General Self-Efficacy Scale (GSES) sebelum dan sesudah intervensi. Hasil menunjukkan adanya peningkatan skor self-efficacy dari 13/40 (rendah) menjadi 28/40 (sedang). Partisipan mengalami penurunan emosi negatif, termasuk terkait perasaan marah, kecewa, sedih, dan kecurigaan, disertai peningkatan kesadaran diri serta perbaikan relasi dengan ayah. Pada follow-up satu bulan, partisipan menunjukkan perkembangan signifikan berupa keterlibatan aktif dalam kegiatan sehari-hari, menjalankan ibadah rutin, dan interaksi positif dengan keluarga. Kesimpulannya, forgiveness therapy berbasis art therapy efektif mengurangi gejala psikologis dan meningkatkan self-efficacy pada partisipan schizophrenia paranoid, dengan dukungan keluarga dan lingkungan sebagai faktor penting keberlanjutan terapi.
KORELASI USIA DENGAN PENGETAHUAN INFEKSI MENULAR SEKSUAL PADA SUATU KOMUNITAS LGBT (LESBIAN, GAY, BISEXUAL DAN TRANSGENDER) DI JAKARTA Winata, Raymond; Chris, Arlends; Valdo, Louis; Saputera, Monica Djaja; Sidarta, Erick
Jurnal Muara Medika dan Psikologi Klinis Vol. 4 No. 2 (2024): Jurnal Muara Medika dan Psikologi Klinis
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmmpk.v4i2.35850

Abstract

Latar Belakang: Infeksi Menular Seksual (IMS) tetap menjadi ancaman serius bagi kesehatan masyarakat, terutama di kalangan populasi LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender). Pengetahuan adalah faktor protektif utama dalam pencegahan IMS, namun praktik yang tidak konsisten sering ditemukan. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui korelasi antara usia dan tingkat pengetahuan mengenai IMS pada komunitas LGBT di Jakarta. Metode: Desain cross-sectional dan teknik purposive sampling digunakan dalam penelitian ini, data dikumpulkan dari 58 responden LGBT berusia ≥ 18 tahun melalui kuesioner daring, korelasi dianalisis menggunakan Spearman’s rank correlation. Hasil: Ditemukan korelasi positif signifikan antara usia dengan pengetahuan penyakit duh tubuh (r = 0,259; p = 0,049), pengetahuan seksual umum (r = 0,296; p = 0,024), dan pengetahuan HPV (r = 0,259; p = 0,05). Temuan ini menunjukkan bahwa individu usia lebih tua cenderung memiliki tingkat pengetahuan yang lebih tinggi. Sebaliknya, tidak ditemukan korelasi signifikan antara usia dan pengetahuan tentang HIV (r = –0,037; p = 0,784), yang mungkin disebabkan oleh meratanya informasi HIV akibat intensitas kampanye global. Kesimpulan: Penelitian ini menegaskan usia berkorelasi positif dengan pengetahuan IMS secara umum pada komunitas LGBT. Intervensi edukatif berbasis usia sangat diperlukan untuk meningkatkan literasi kesehatan seksual, khususnya pada kelompok usia muda.
Cover JMMPK V4N2 JMMPK
Jurnal Muara Medika dan Psikologi Klinis Vol. 4 No. 2 (2024): Jurnal Muara Medika dan Psikologi Klinis
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kata Pengantar JMMPK V4N2 JMMPK
Jurnal Muara Medika dan Psikologi Klinis Vol. 4 No. 2 (2024): Jurnal Muara Medika dan Psikologi Klinis
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Daftar Isi JMMPK V4N2 JMMPK
Jurnal Muara Medika dan Psikologi Klinis Vol. 4 No. 2 (2024): Jurnal Muara Medika dan Psikologi Klinis
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

FAKTOR PREDIKTIF SINDROM METABOLIK TERHADAP PENURUNAN KEKUATAN GENGGAMAN OTOT TANGAN: STUDI DI TIGA KELURAHAN DKI JAKARTA Ernawati; Satyanegara, William Gilbert; Firmansyah, Yohanes
Jurnal Muara Medika dan Psikologi Klinis Vol. 5 No. 1 (2025): Jurnal Muara Medika dan Psikologi Klinis
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmmpk.v5i1.35874

Abstract

Pendahuluan: Sindrom metabolik merupakan salah satu masalah kesehatan global yang berkaitan erat dengan penurunan kekuatan otot, termasuk kekuatan genggaman tangan, yang dapat menjadi prediktor dini disabilitas, morbiditas, dan mortalitas. Namun, penelitian di Indonesia mengenai hubungan faktor metabolik dengan kekuatan otot masih terbatas. Metode: Studi ini menggunakan desain observasional potong lintang multisenter di tiga kelurahan DKI Jakarta dengan consecutive sampling terhadap 240 responden dewasa. Data antropometri, biomarker darah, dan kekuatan genggaman tangan diukur, lalu dianalisis dengan regresi linear berganda menggunakan pendekatan Backward Likelihood Ratio (Backward LR) dengan signifikansi p<0,05 Hasil: Rerata usia responden adalah 51,28 tahun dengan kekuatan genggaman tangan gabungan 22,01 kg. Analisis regresi menunjukkan bahwa usia berhubungan negatif signifikan dengan kekuatan otot (p<0,001), sedangkan hemoglobin berhubungan positif signifikan (p≈0,001–0,002). Sebaliknya, HDL (High-Density Lipoprotein) (p≈0,001–0,002) dan gula darah puasa (p≈0,014–0,041) berhubungan negatif signifikan. WHR (Waist-Hip Ratio) juga terbukti signifikan pada model akhir (p≈0,006–0,023). Model terbaik (Model 3–6) menunjukkan adjusted R² sebesar 0,333–0,337, artinya sekitar 33% variasi kekuatan genggaman tangan dapat dijelaskan oleh variabel-variabel tersebut. Kesimpulan: Kekuatan genggaman tangan masyarakat Jakarta dipengaruhi oleh usia, hemoglobin, HDL, WHR, dan gula darah puasa. Faktor metabolik terbukti berperan penting terhadap fungsi muskuloskeletal, sehingga pemeriksaan kekuatan genggaman tangan dapat dijadikan skrining sederhana dalam deteksi dini risiko penurunan fungsi otot dan intervensi preventif.
EVALUASI PARAMETER ANTROPOMETRI DAN BIOKIMIA SEBAGAI PREDIKTOR KOMPOSISI LEMAK TUBUH PADA LAKI-LAKI DEWASA Purnomo, Yonathan Adi; Santoso, Alexander Halim; Wijaya, Bryan Anna
Jurnal Muara Medika dan Psikologi Klinis Vol. 5 No. 1 (2025): Jurnal Muara Medika dan Psikologi Klinis
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmmpk.v5i1.35876

Abstract

Latar Belakang: Peningkatan prevalensi obesitas dan gangguan metabolik menekankan perlunya pendekatan skrining yang praktis, efektif, dan berbasis risiko. Peningkatan lemak subkutan berpotensi meningkatkan risiko penyakit-penyakit tidak menular seperti diabetes dan hipertensi, sehingga evaluasi parameter antropometri dan biokimia pada laki-laki dewasa memiliki nilai penting dalam memprediksi lemak subkutan  Tujuan: Evaluasi antropometri dan biokimia darah metabolik dengan komposisi lemak tubuh pada laki-laki dewasa. Metode: Penelitian ini menggunakan desain observasional analitik dengan pendekatan potong lintang. Data dikumpulkan dari laki-laki dewasa yang menjalani pemeriksaan kesehatan rutin di Ujung Menteng, Cengkareng Timur, Grogol, Duri Kosambi, Tanjung Duren Selatan, dan Menteng Dalam periode Juni 2024 – Juni 2025. Parameter yang dinilai meliputi lingkar perut, lingkar panggul, rasio pinggang-pinggul (waist-to-hip ratio/WHR), tekanan darah, serta parameter biokimia seperti trigliserida, asam urat, HDL, dan LDL. Komposisi lemak subkutan diukur berdasarkan segmentasi tubuh melalui metode antropometri standar. Analisis korelasi Pearson digunakan untuk mengevaluasi hubungan antarvariabel. Hasil: Lingkar perut menunjukkan korelasi yang sangat kuat terhadap total lemak subkutan (r = 0,783; p < 0,001), menegaskan perannya sebagai indikator utama akumulasi lemak perifer. WHR dan lingkar panggul juga menunjukkan korelasi signifikan terhadap distribusi lemak tubuh. Parameter biokimia seperti kadar trigliserida menunjukkan korelasi positif terhadap seluruh area lemak subkutan (r = 0,280; p = 0,002), sedangkan tekanan darah diastolik berasosiasi signifikan dengan semua segmen lemak subkutan. Sebaliknya, asam urat, HDL, dan LDL tidak menunjukkan hubungan bermakna. Kesimpulan: Lingkar perut dan parameter biokimia dapat digunakan sebagai prediktor praktis terhadap komposisi lemak subkutan pada laki-laki dewasa. Implementasi skrining multifaktorial berbasis antropometri dan biokimia dapat menjadi pendekatan klinis yang efektif dalam deteksi dini risiko metabolik.

Page 11 of 11 | Total Record : 109